Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Campurdarat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Campurdarat. Tampilkan semua postingan

Tiga Pelaku Pencuri Benda Purbakala Tertangkap Polisi

Jumat, 04 Mei 2012 | 01.26.00 | 0 komentar

Tulungagung: Tiga pelaku dari empat tersangka pencuri benda purbakala di cagar budaya purbakala Goa Tritis, Tulungagung, Jawa Timur, ditangkap aparat Kepolisian Resor setempat. Dari tangan tersangka polisi mengamankan dua buah barang bukti benda purbakala. Para tersangka terancam hukuman maksimal tujuh tahun penjara.

Para tersangka diduga mencuri benda purbakala di kawasan cagar budaya purbakala Goa Tritis, Gunung Budeg, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur, yang hilang sejak tahun 2006 lalu. Para tersangka kini telah ditahan di mapolres setempat.

Ketiga tersangka adalah Slamet asal Campurdarat, Kholil asal Yogyakarta, dan Sukron asal Jepara. Sedangkan seorang tersangka lainnya, yakni Gus Maksum ditahan di Mapolsek Campurdarat.

Terungkapnya hasil pencurian benda purbakala tersebut terjadi saat salah satu warga Campurdarat berkunjung ke rumah Gus Maksum. Warga melihat benda purbakala berupa miniatur rumah atau watujoli, serta sebuah benda yang menyerupai gapura.

Berdasarkan laporan warga, polisi langsung datang ke rumah tersangka dan mengamankan dua benda purbakala hasil curian tersebut.

Diduga dua benda purbakala tersebut menyimpan abu jenazah para Raja Majapahit. Benda purbakala tersebut telah diamankan oleh pihak Mapolres Tulungagung. Kini keempat tersangka terancam hukuman maksimal tujuh tahun penjara atas perbuatannya.(RZY)

Sumber: Metrotvnews.com | Kamis, 3 Mei 2012
Jumat, 04 Mei 2012 | 0 komentar

Wadah Abu Jenazah Raja Majapahit Nyaris Dicuri

Tulungagung - Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan menyelidiki dua benda prasejarah yang berhasil diselamatkan dari kawanan pencuri benda seni. Kawanan ini berhasil ditangkap Kepolisian Resor Tulungagung dalam penggerebekan pada Rabu, 2 Mei 2012.

Kepala BP3 Trowulan Aris Sovyani mengatakan tim arkeolog sedang memeriksa dua benda purbakala berupa miniatur rumah atau Watu Joli dan miniatur Gapura Brawijaya. Menurut fungsinya, Watu Joli itu dipergunakan sebagai wadah menyimpan abu jenazah Raja Majapahit.

Kedua benda ini berhasuil diselamatkan dari tiga pencuri benda seni, yakni Slamet warga Tulungagung, Kholil warga Yogyakarta, dan Sukron warga Jepara. Penadah benda curian, yakni Maksum warga Tulungagung, juga berhasil diamankan. "Kami bersama polisi masih melakukan pemeriksaan barang bukti," kata Aris kepada Tempo, Kamis, 3 Mei 2012.

Dua benda bersejarah itu diduga merupakan hasil curian di kawasan cagar budaya Goa Tritis, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung. Kedua benda itu dilaporkan hilang pada 2006 dan tak diketahui rimbanya.

Penemuan kembali benda-benda tersebut berawal dari kecurigaan warga yang mendapati Watu Joli dan Gapura Brawijaya di rumah Maksum di Campurdarat. Warga yang mengetahui segera melapor ke Polsek Campurdarat.

Untuk membuktikan keaslian benda tersebut, tim arkeologi BP3 Trowulan masih melakukan pemeriksaan material. Ini untuk mengetahui apakah benda tersebut benar merupakan bagian dari Goa Tritis yang hilang ataukah bukan. "Nanti akan kita umumkan hasilnya," kata Aris.

Selain menyelidiki material benda, tim arkeolog juga mengandalkan pengakuan tersangka untuk mengungkap asal-usul benda itu. Sebab, bisa saja benda tersebut asli, tetapi bukan bagian dari Goa Tritis.

Kepala Bagian Operasional Reserse Kriminal Polres Tulungagung Ajun Inspektur Satu Siswanto mengatakan, penyelidikan terhadap tiga kawanan dan satu penadah ini masih berlangsung. Mereka ditahan di tempat berbeda untuk memudahkan penyelidikan. "Pengakuan mereka akan dicocokkan dengan hasil pengujian arkeologi," katanya. Menurut keterangan polisi, kawanan ini mengakui telah mengambil benda-benda itu dari lokasi cagar budaya Goa Tritis.

HARI TRI WASONO

Sumber: TEMPO.CO | Kamis, 03 Mei 2012
| 0 komentar

Tulungagung Sudah Punya Replikasi Homo Wajakensis

Rabu, 18 April 2012 | 22.30.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, kini sudah memiliki replika tengkorak manusia purba Homo Wajakensis. Tengkorak manusia purba ditemukan Eugene Dubois, dokter berkebangsaan Belanda, di wilayah Desa Gamping, Kecamatan Campur Darat, Kabupaten Tulungagung, tahun 1889.

Replika itu didapat dari Museum Geologi Bandung dan menurut rencana bakal dijadikan bagian dari rencana menghidupkan lokasi Gua Lawa, tempat Dubois bekerja, sebagai tujuan wisata ilmiah.

Koordinator Kajian Sejarah Sosial dan Budaya (K2SB) Triyono menyatakan sudah melihat replika tengkorak tersebut. Ia yakin akan menjadi daya tarik baru bagi pembelajaran sejarah bagi siswa sekolah menengah hingga perguruan tinggi.

"Replika tengkorak ini belum akan dipamerkan, karena lokasi bakal didirikannya monumen dan museum di depan Gua Lawa dan tugu marmer tempat Dubois bekerja, kini masih berupa tanah kosong. Masih perlu waktu dalam hitungan bulan untuk akhirnya bisa dinikmati," kata Triyono, Rabu (18/4/2012) di Tulungagung.

Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pemkab Tulungagung sudah berkomunikasi dengan DPRD setempat dan berharap alokasi anggaran untuk pemanfaatan lokasi situs Homo Wajakensis, sebagai kawasan cagar budaya.

"Konsepnya sama persis dengan konsep museum di lokasi temuan tengkorak manusia purba lainnya hasil ekskavasi Dubois di Trinil (Ngawi) dan Sangiran (Solo) berupa manusia purba Pitecanthropus Erectus," kata Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Tulungagung Hendri Sugiharti.

Sumber: KOMPAS.com | Rabu, 18 April 2012
Rabu, 18 April 2012 | 0 komentar

Peni Candra Rini: Kekuatan Pesinden Kontemporer

Selasa, 17 April 2012 | 00.56.00 | 0 komentar

Oleh Ardus M Sawega

Ngambar… gandane arum sekar/ Mulata aku memanismu, hanyengsemake janggaku/ Kombang…mbrengengeng arum, angreridu sekar/ Sumilir silir maruta, hangingsep sarining sariku…// Mbang-mbang kembang, mbang-mbang kombang/ Terate bang kumambang linulad dening kombang/ Mlathi kinanthi, kanthil-kuranthil, hangujiwati kombang, mbang kembang/ Kombang-kembang wus nyawiji...

Tembang Jawa yang didahului bawa (intro) melodius itu semula mengalun empuk, lembut, lalu meniti nada tinggi, meliuk, menghanyutkan kalbu. Ditingkah ketukan perkusi dan petikan gitar yang bergairah. Tembang itu diikuti improvisasi vokal panjang bernada sopran, lengkingan tinggi, memekik, kadang mirip jeritan, ”ndremimil” seperti bernyanyi asal bunyi.

Audiens takjub dengan permainan vokal Peni Candra Rini dalam nomor ”Sekar”. Ia berkolaborasi dengan kelompok Sentana pada Parkiran Jazz di Balai Soedjatmoko, Solo, Kamis (29/3) malam.

Kekuatan teknik vokal Peni yang lentur, menggabungkan nada pentatonik dan diatonik secara terjaga, berkelindan padu dengan petikan gitar Fay Ehsan, Kiky (bas), dan perkusi oleh Plenthe. Mereka menyuguhkan repertoar jazz yang segar.

Permainan vokal Peni

membuktikan bahwa vokal memiliki kekuatan mandiri. ”Saya bukan penyanyi jazz,” tuturnya seraya mengakui ia tak terlalu tahu lagu-lagu jazz. Dengan latar belakang vokalis karawitan alias pesinden, ia melihat dalam jazz selalu ada keterhubungan dan dialog antar- instrumen.

Filosofi jazz inilah yang ditawarkan sejumlah seniman jazz di Amerika Serikat kepada Peni saat ia memperdalam pengetahuan bidang komposisi musik lewat hibah dari Asian Cultural Council di California Institute of the Arts (CalArts), September 2011-Februari 2012.

Peni adalah pengajar Jurusan Karawitan pada Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk mata kuliah vokal, notasi, dan komposisi musik. Ia menjadi dosen sejak lulus program pascasarjana di almamaternya, tahun 2008.

Atas dorongan musisi jazz Susan Allen (AS) dan Roman Stolyar (Rusia), Peni terlibat dalam forum-forum jazz seperti improvisasi ansambel jazz atau free jazz di kampus. Mereka melihat Peni sebagai vokalis solo berlatar belakang tradisi karawitan Jawa yang unik.

”Karakter pesinden berbeda dengan penyanyi sopran atau seriosa dalam musik Barat,” ungkap Peni yang membuat eksperimen vokal dengan beragam karakter vokal dari Papua, Kalimantan, Padang, dan Jawa.

Kehadiran Peni selama di AS merebut hati komunitas seniman musik negeri itu. Tak terbilang aktivitas seni kreatif yang dia lakoni. Selain berkuliah di bidang komposisi musik, ia juga diminta mengajar kelas gamelan dan vokal (sinden) di CalArts. Ia pun menjadi seniman tamu di kampus lain, seperti Cornish College of the Arts, University of Portland, dan University of Richmond.

”Saat pentas di Richmond, saya membawakan repertoar ’Lintang’ dan ’Manik Jejantung’, banyak penonton menangis. Penonton bilang, walau mereka tak tahu arti teksnya, tetapi bisa menangkap ’rasa’ dalam komposisi itu,” tuturnya.

Peni menambahkan, Meredith Monk, komposer musik klasik, mengajarinya konsep, ”Menyanyilah dengan tubuhmu dan menarilah dengan suaramu.”

Bagi Peni, konser gamelan bersama kelompok Kusuma Laras dan Rob Kapilow di Teater Lincoln Center, New York, 14 November 2011, sebagai satu puncak pencapaiannya. Perasaan serupa dia alami saat pentas di Poncho Hall, Cornish College of the Arts, dan workshop bersama Gamelan Pacifica, kelompok gamelan di AS. Di negeri itu ada lebih dari 400 kelompok gamelan.

Meluruskan

Lebih dari pesinden, Peni bisa disebut satu dari sedikit perempuan komposer berlatar belakang musik tradisi di Tanah Air. Dengan riwayat pendidikan dan vokalis karawitan, ia mungkin satu-satunya komposer yang lebih menekankan kekuatan vokal dalam komposisi musik yang dibuatnya. Instrumen lebih sebagai pengiring.

Sejak dididik ayahnya, dalang wayang kulit Wagiman Gandacarita, belajar di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKN 8) di Solo, lalu kuliah di Jurusan Karawitan ISI Surakarta, ia diposisikan sebagai pesinden. Namun, ia lulus sebagai pengrawit yang menguasai semua instrumen gamelan dan penyusun komposisi musik.

Karawitan adalah budaya tradisi yang kuat, karena itu ia mendedikasikan diri demi pelestariannya. Ia menguasai komposisi, baik karawitan yang pakem maupun kontemporer.

”Musik gamelan itu lentur, bisa digarap seperti apa pun tergantung ide kita. Eksperimen tidak merusak, tetapi kita harus bisa menempatkan karya itu sesuai kebutuhannya. Dengan begitu, kita memberikan penghargaan dan mengangkat derajat gamelan. Kalau tak disentuh, gamelan hanya menjadi barang antik,” paparnya.

Namun, ia ingin meluruskan definisi ”pesinden” yang salah kaprah. Pesinden, kata Peni, adalah vokalis dalam ansambel gamelan yang pentatonik. ”Penampilan penyanyi pada program televisi yang disebut ’pesinden’ itu salah. Itu pembodohan publik. Mereka penyanyi pop yang membawakan musik diatonik, cuma mengolah cengkok vokal ala pentatonik.”

Sejak usia 13 tahun, Peni menjadi pesinden, membantu sang ayah di Desa Ngentron, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Kemampuan nyinden dia peroleh dari proses olah rasa yang panjang. ”Tak mudah menjadi pesinden, kita harus menjalani inisiasi dan dilantik dalam suatu upacara.”

Ia hidup dalam lingkungan tradisi yang kuat. Sejak berusia 5 tahun, ia diajari ayahnya teknik vokal sinden seperti cengkok, gregel, wilet, laras pelog, dan slendro. Teknik tersulit dalam vokal sinden adalah menggabungkan suara luar dan suara dalam, atau sorogan (falsetto).

”Saya dilatih mengeluarkan suara dalam nada tinggi, sampai otot di leher keluar. Bapak menyiapkan uang Rp 100 dan lidi. Kalau saya berhasil, diberi uang, tetapi kalau tak bisa, digebuk lidi,” cerita bungsu dari tiga bersaudara ini.

Untuk belajar sinden dengan iringan gender, ia dan ayahnya menempuh dua jam perjalanan ke Tulungagung dengan sepeda motor.

Ketika duduk di kelas I SD, Peni didaftarkan ikut lomba macapat perayaan 17 Agustus, dan menang. Tradisi ikut lomba itu berulang setiap tahun dari tingkat kecamatan, kabupaten, lalu provinsi. Ia selalu meraih juara satu. Sejak SMP ia mendapat beasiswa dan tunjangan Rp 60.000 per bulan. Ini amat membantu ekonomi keluarganya.

Sejak SMP dia sering diminta sebagai pesinden, untuk mengiringi pentas wayang kulit dan klenengan. Ia membiayai sendiri pendidikannya sejak di sekolah menengah. Namun, ia lalu memilih mengeksplorasi vokal sindenan yang terbuka luas.

”Menjadi komposer sekaligus pemusik jadi pilihan hidup saya, ide-ide terus bermunculan,” ungkap Peni. Ia berharap suatu saat bisa menggelar konser yang menampilkan komposisinya.

(Ardus M Sawega Wartawan di Solo)

Sumber: kompas.com | Senin, 16 April 2012
Selasa, 17 April 2012 | 0 komentar

HUJAN SEHARI SEMALAM, RUAS JALAN CAMPURDARAT TETUTUP LUMPUR

Selasa, 20 Maret 2012 | 18.35.00 | 0 komentar

Hujan lebat yang mengguyur Tulungagung , sejak sore kemarin hingga siang tadii , berdampak jalan desa Campurdarat , tergenang lumpur.

Tak hanya Lumpur setinggi 40 centimeter, di beberapa titik ruas jalan , yang tiap jam dilalui truk – truk besar bermuatan marmer dan onik ini, juga rusak parah . Akibat genangan Lumpur , dan kerusakan itu , aktifitas kawasan sentra industri kerajinan marmer dan onik ini, tersendat .

Untuk mengurai arus kemacetan , kata kepala BPBD – Agus Purwanto . Pihaknya bersama instansi terkait , dan warga masyarakat bergotong royong , menyingkirkan Lumpur dan menandai ruas jalan yang berlubang .

Ruas jalan menuju lokasi wisata Popoh terpaksa lumpuh, dengan genangan air Lumpur sebatas lutut orang dewasa. Kepala BPBD-Agus Purwanto mengatakan, menghimbau agar warga masyarakat yang tinggal di titik rawan bencana, agar meningkatkan kewaspadaan, serta aktif menyampaikan informasi terhadap setiap tanda terjadinya bencana.

Sumber: liiur.com | 20 March 2012
Selasa, 20 Maret 2012 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan