Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Manten Kucing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manten Kucing. Tampilkan semua postingan

Warga Tulungagung Belum Agendakan Ritual "Manten Kucing"

Selasa, 20 September 2011 | 18.34.00 | 0 komentar

Tulungagung - Masyarakat Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, sampai saat ini belum mengagendakan digelarnya ritual manten kucing, sebuah tradisi khas daerah sebagai ritual meminta hujan di saat kemarau.

"Kami belum merasa perlu melakukan itu (ritual manten kucing), terkecuali musim kering berkepanjangan," kata Sarni (80), sesepuh Desa Pelem kepada ANTARA, Senin.

Keputusan itu menurut Sarni bukanlah sikapnya pribadi selaku sesepuh desa yang memiliki tradisi berbau magis tersebut, tetapi juga keinginan mayoritas warga Desa Pelem.

Keengganan warga untuk menggelar ritual meminta hujan melalui serangkaian prosesi pemandian sepasang kucing dewasa serta pagelaran seni tiban tersebut, setidaknya dari tidak/belum adanya permintaan langsung dari kelompok masyarakat maupun kelompok petani setempat.

Realitas tersebut jauh berbeda saat terjadinya kemarau panjang pada kisaran tahun 2007/2008 lalu. Saat itu, puluhan perwakilan kelompok warga dan petani sempat berkumpul di balai desa guna membahas rencana penyelenggaraan manten kucing.

"Kondisinya berbeda dengan saat ini. Tapi jika nanti (kemarau) juga berkepanjangan, tidak menutup kemungkinan ritual manten kucing akan kami gelar di 'coban' (air terjun setempat)," ujarnya menegaskan.

Sebenarnya, ada dua alasan pokok yang mendorong warga menunda digelarnya ritual manten kucing. Selain karena musim kering baru berlangsung sekitar dua bulan, Sarni maupun sejumlah tokoh desa berdalih mayoritas warga setempat saat ini tengah menanam tembakau.

Posisi area persawahan di Desa Pelem yang secara kontur tanah lebih rendah ketimbang saluran irigasi menyebabkan para petani khawatir guyuran hujan hanya akan menyebabkan tanaman tembakau/palawija mereka rusak terendam air.

Karena latar belakang itulah, bagi warga Desa Pelem dan sekitarnya yang sekarang bercovok tanam tembakau atau palawija, kemarau panjang justru dipandang sebagai berkah.

Sebaliknya, mereka akan menganggap turunnya hujan dalam waktu dekat, meskipun hanya gerimis, sebagai bencana lantaran perubahan cuaca ekstrem tersebut hanya akan menyebabkan tanaman tembakaunya rusak, dan itu berarti mereka bakal merugi puluhan bahkan ratusan juta rupiah.

"Biasanya, kalau hujan tak kunjung turun hingga periode bulan November-Desember, baru kami akan melakukan rembugan desa untuk memutuskan apakah perlu dilakukan ritual manten kucing atau tidak," ucap Kepala Desa Pelem, Nugroho Agus.

Sarni maupun mayoritas penduduk Desa Pelem sejauh ini masih memiliki keyakinan kuat terhadap daya magis ritual manten kucing yang telah mengakar selama puluhan tahun tersebut.

Mereka selalu menyebut, tiap kali dilakukan upacara pemandian sepasang kucing dewasa atau bahkan sekedar membakar kemenyan di sekitar coban bakal mempercepat turunnya hujan di kawasan tersebut.

Meski begitu, tokoh-tokoh adat maupun perangkat Desa Pelem berkeyakinan bahwa keputusan mengenai digelar atau tidaknya ritual unik tersebut tidak bisa diambil/dilakukan secara serampangan, tetapi harus melalui rembug desa dengan melibatkan tokoh-tokoh supranatural setempat. (Destyan)

Sumber: Antara | 19 Sept 2011
Selasa, 20 September 2011 | 0 komentar

HUT Tulungagung | Mantennya Kucing, Kok Pakai Ijab Kabul?

Jumat, 26 November 2010 | 23.50.00 | 0 komentar

SEPUTAR TULUNGAGUNG — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tulungagung, Jawa Timur, mengecam Festival Manten Kucing yang digelar pemerintah daerah setempat sebagai salah satu kegiatan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-805 Kabupaten Tulungagung.

"Bagaimana mungkin pemerintah memfasilitasi kegiatan yang berbau syirik dan melukai hati umat Islam. Masa, kucing dinikahkan layaknya menikahkan manusia secara Islam? apalagi disertai ijab kabul dan diiringi selawat hadrah segala," kata Wakil Ketua Cabang MUI Maskur Kholil, Kamis (25/11/2010).

Ia menegaskan, ritual atau Festival Manten Kucing yang diikuti 19 kecamatan se-Tulungagung beberapa waktu lalu telah melecehkan kiai dan menodai agama.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Fatah Mangunsari, Kedungwaru, itu menjelaskan, yang menjadi sorotan MUI adalah penampilan sosok kiai yang menikahkan kucing layaknya perkawinan manusia.

"Siapa pun boleh mengembangkan budaya. Tapi jangan sekali-kali mencampuradukkan agama dengan budaya. Itu (manten kucing) sama artinya melecehkan kiai," ujarnya.

Kecaman serupa juga dilontarkan Sekretaris MUI, Abu Sofyan Sirojuddin. Menurut dia, pemerintah daerah dan Bupati Heru Tjahjono tidak menghiraukan peringatan MUI sebelum kegiatan, yang tertuang dalam surat bernomor 115/DP-Kab/MUI-TA/2010.

Padahal, surat itu disampaikan secara resmi dan ditandatangani langsung oleh Ketua MUI KH Hadi Mahfud tertanggal 9 November. Ternyata, peringatan itu tidak diindahkan festival dengan menampilkan seperti sosok kiai tetap diadakan.

"Kami sudah jauh-jauh hari melayangkan surat peringatan, tapi surat itu dianggap angin lalu," kata salah satu ulama berpengaruh di Kota Marmer itu.

Di tempat terpisah, Bupati Heru Tjahjono, setelah parade dakon masuk MURI, mengatakan bahwa pihaknya menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh masyarakat Tulungagung. Ia berjanji, kegiatan yang bisa menimbulkan kontroversi di masyarakat dan kalangan ulama tidak akan digelar lagi pada tahun-tahun mendatang. "Kami minta maaf," kata Bupati.

Festival Manten Kucing sendiri berasal dari ritual serupa yang biasa digelar di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat. Namun, kemasan ritual itu hanyalah prosesi pemandian sepasang kucing yang secara simbolis dijodohkan di sebuah sumber mata air setempat yang disebut Coban Kromo.
Tradisi itu dilakukan warga Desa Pelem ketika sedang kesulitan air. (*)
Sumber : Kompas.com
Jumat, 26 November 2010 | 0 komentar

Nikahkan Kucing Secara Islam, Bupati Dikecam

SEPUTAR TULUNGAGUNG — Pagelaran budaya upacara mengawinkan sepasang kucing (manten kucing) dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Tulungagung ke-805 dinilai sejumlah kalangan alim ulama setempat sebagai penistaan agama Islam. Ratusan orang yang berasal dari sejumlah pesantren mendatangi Pendopo Kabupaten Tulungagung.

Mereka menuntut Bupati Tulungagung Heru Tjahjono dan panitia ritual manten kucing untuk meminta maaf secara terbuka. Atas desakan itu Bupati Heru mengakui pagelaran yang disuguhkanya pada 22 November 2010 lalu sebagai bentuk kekhilafan.

“Saya bersedia meminta maaf melalui sejumlah media atas kekhilafan ini,” tutur Bupati Heru Tjahjono kepada wartawan usai menemui perwakilan massa, Jumat (26/11/2010).

Sebelumnya, sekira 100 orang berpakaian lazimnya santri berunjuk rasa di depan pintu gerbang pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso. Massa melontarkan kecaman pedas kepada Bupati yang dinilai tidak tahu aturan agama. Massa juga menyuguhkan sindiran sinis dengan melakukan aksi teatrikal dua orang pendemo dengan topeng monyet dinikahkan sesuai ajaran Islam.

“Setelah kucing, monyet, sebentar lagi tentu ada lagi manten anjing,” teriak salah seorang pendemo dalam orasinya.

Sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT Tulungagung, upacara temanten kucing mendapat alokasi anggaran Rp30 juta dari APBD 2010. Bupati Heru mengakui panitia HUT Tulungagung telah kecolongan dalam menyajikan budaya temanten kucing.

Sebagai tradisi meminta hujan di wilayah Kecamatan Campur Darat, suguhan temanten kucing diharapkan bisa menarik minat para wisatawan datang ke Tulungagung. Namun ekspresi yang disampaikan pelaksana diakui Heru terlalu berlebihan. Dua ekor kucing dikawinkan di depan seorang kiai dengan menggunakan tata cara lazimnya pengantin dalam Agama Islam. “Namun semua itu dilakukan di luar kesengajaan,” terangnya.

Untuk ke depan, lanjut Heru pihaknya akan melakukan seleksi lebih ketat lagi. “Mungkin ada adegan yang harus dihilangkan biar tidak menimbulkan ketersinggungan,“ kata Heru.

Menurut Koordinator aksi Chamim Badruzzaman ritual temanten kucing yang berlangsung di pendopo Kabupaten Tulungagung 22 November 2010 lalu telah menghina umat Islam. Sebab sebagai seorang muslim, mereka seperti dipersamakan dengan seekor kucing. “Ini adalah hinaan bagi umat Islam,” tegasnya.

Sebelumnya Majelis Ulama Indonesia telah berkirim surat bernomor 115/DP-Kab/MUI-TA/2010 kepada Bupati Tulungagung, yang intinya untuk tidak melaksanakan ritual temanten kucing yang diikuti perwakilan dari 19 kecamatan di Tulungagung. Namun teguran itu tidak diindahkan.(Solichan Arif/Koran SI/teb)
Sumber : okezone.com
| 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan