Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Tulungagung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulungagung. Tampilkan semua postingan

Dosen Muda Ansor Deklarasikan “Piagam Tulungagung”

Rabu, 05 April 2017 | 01.33.00 | 2 komentar

Tulungagung — Setelah berjibaku dalam medan pelatihan selama empat hari, para Dosen Muda peserta Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) Dosen Muda Gerakan Pemuda Ansor menelorkan “Piagam Tulungagung”. Piagam ini ditetapkan menjelang penutupan pelatihan.

Latar belakang munculnya “Piagam Tulungagung” dilandasi keprihatinan betapa NKRI sebagai rumah bersama rakyat Indonesia sedang berada dalam ancaman. Para dosen muda itu menyoroti bahwa terdapat upaya sistematis yang merongrong dan berusaha memecah belah NKRI. Upaya-upaya itu dilatarbelakangi politik sektarian berbasis perbedaan suku, ras, agama, dan golongan. Dampaknya, benih-benih disintegrasi mulai muncul di mana-mana.

Lebih lanjut, para dosen muda itu berpandangan bahwa perbedaan adalah sebuah fakta yang tak mungkin dihilangkan. Karena sejatinya perbedaan adalah rahmat. Perbedaan bukanlah laknat. Tinggal bagaimana segenap komponen bangsa dengan beragam perbedaan itu mampu merawat persatuan dan kesatuan. Sehingga, NKRI sebagai rumah bersama rakyat Indonesia masih tetap utuh dan dapat mendatangkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Dalam “Piagam Tulungagung” itu, Dosen Muda GP Ansor menyampaikan sikap:

  1. Bangsa Indonesia harus terus merawat, memupuk dan menumbuh-kembangkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa. Perbedaan adalah rahmat dan merupakan modal sosial yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia.
  2. Mengajak segenap komponen bangsa untuk terus berperan aktif dalam mengkampanyekan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam setiap lini kehidupan.
  3. Melawan radikalisme yang mulai berkembang di berbagai lapisan masyarakat dan membahayakan bagi eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
  4. Menjadikan kampus/perguruan tinggi sebagai basis perjuangan dalam upaya melawan berkembangnya radikalisme.
  5. Mendorong pemerintah untuk menindak tegas kelompok/golongan yang melakukan gerakan merongrong kedaulatan dan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Adung Abdul Rochman, Sekjen Pimpinan Pusat GP Ansor menyampaikan apresiasi terhadap ditelorkannya “Piagam Tulungagung”. “Kami menyampaikan penghargaan terhadap para Dosen Muda yang telah menelorkan “Piagam Tulungagung”, ini merupakan upaya tepat dan langkah awal melawan radikalisme yang berkembang di perguruan tinggi”, tegas Sekjen PP GP Ansor asal Jombang tersebut.

Lebih lanjut dikatakan Adung, komitmen para civitas akademika sangat penting dalam melawan infiltrasi gerakan radikal yang hari-hari ini mengalami eskalasi di berbagai tempat. “Kampus harus menjadi pusat moderasi bagi tumbuhnya Islam yang terbuka, damai dan toleran” kata Adung Abdul Rochman

Sebagaimana diketahui, 148 Dosen Muda GP Ansor mengikuti Pelatihan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) Dosen Muda tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Pimpinan Pusat GP Ansor. Pelatihan ini dilaksanakan di Kampus IAIN Tulungagung dibuka pada Kamis, 30 Maret 2017 dan ditutup pada Ahad, 2 April 2017. (Ruchman Basori)
Rabu, 05 April 2017 | 2 komentar

Buru Peredaran Narkoba, BNN Satroni Kos-kosan di Tulungagung

Rabu, 30 Maret 2016 | 02.22.00 | 3 komentar

Tulungagung - Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Tulungagung menyatroni rumah kos yang dihuni para pemandu lagu yang bekerja di tempat karaoke. Guna memastikan tidak ada penghuni kos yang menyalahgunakan narkoba, petugas juga melakukan tes urine terhadap puluhan penghuni kos.

Sebanyak tiga rumah kos di Kelurahan Kutoanyar, Kelurahan Kepatihan, dan Kelurahan Jepun yang menjadi sasaran razia petugas.

“Kami geledah setiap kamar,“ ujar Kasi Pemberantasan BNN Tulungagung, Kompol Edi Herwiyanto kepada wartawan, Selasa (29/3/2016).

Rumah kos dengan puluhan kamar itu menerima penghuni tanpa memandang jenis kelamin. Beberapa petugas terpaksa menggedor pintu dan memaksa penghuni kamar untuk segera keluar. Sebagian besar para penghuni kos dalam kondisi tertidur. Maklum, mereka merupakan para pekerja malam.

Petugas BNN dan aparat kepolisian tidak hanya menyisir kamar. Kendaraan penghuni kos, baik roda empat maupun roda dua juga tidak luput dari pemeriksaan. Dalam penggeledahan itu, petugas juga mendapati pasangan mesum yang langsung digelandang ke kantor polisi.

“Setelah dipastikan di dalam kamar tidak ditemukan narkoba, kami langsung mengambil sampel urine penghuni kamar,“ terang Edi.

Hasil rapid tes dipastikan tidak ada penghuni kos yang positif menggunakan narkoba. Sementara, terkait pasangan mesum asal Kecamatan Kedungwaru, petugas hanya melakukan pendataan sebelum mengizinkan keduanya pulang.

Edi menegaskan, pihaknya akan terus menggencarkan razia mengingat maraknya kasus narkoba di wilayah Kabupaten Tulungagung. “Intinya pemberantasan narkoba akan terus kami lakukan,“ ujarnya.

Sementara, salah seorang penghuni kos mengeluhkan razia yang digelar petugas. Selain mengganggu kenyamanan beristirahat, razia itu juga menguatkan pandangan negatif kepada para pemandu lagu.

“Padahal pemandu lagu merupakan profesi dan tidak semuanya bisa disamaratakan berperilaku negatif,“ keluhnya. (okezone.com)
Rabu, 30 Maret 2016 | 3 komentar

Delapan Kecamatan di Tulungagung Terancam Banjir

Minggu, 14 Februari 2016 | 22.07.00 | 1 komentar

Tulungagung - Saluran air yang terlalu sempit jadi penyebab ancaman banjir di delapan kecamatan Kabupaten Tulungagung. Selain itu, limpahan air hujan dari wilayah Kabupaten Trenggalek juga akan menambah volume banjir.

Menurut Kepala Badan Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung, Jito Prayogo, kedelapan kecamatan yang terancam banjir itu di antaranya Kecamatan Kedungwaru, Besuki, Pakel, Tanggunggunung, Gondang, Karangrejo, Kalidawir, dan Ngunut.

“Kasus saluran air sempit sebagian besar terjadi wilayah Kecamatan Kalidawir dan Tanggungunung. Ukuran sempit dan tersumbat sampah membuat got (selokan) tidak mampu menampung debit air saat hujan deras mengguyur. Akibatnya banjir bandang menjadi langganan di setiap musim penghujan datang," ungkap Jito, Senin (8/2/2016).

Hutan yang semakin gundul juga diyakini sebagai penyebab banjir di sejumlah desa. Terjangan air yang melanda permukiman warga di Kecamatan Bandung dan Besuki berasal dari wilayah Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Air hujan langsung meluncur ke Tulungagung yang secara topografis berada di dataran lebih rendah.

Pihaknya, kata Jito, sudah mengimbau para perangkat desa meningkatkan kewaspadaan karena hujan yang rutin turun setiap harinya.

Aktivis Pusat Pengkajian dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (P3MD) Imam Ma’ruf berharap pemerintah tidak hanya sekedar menghimbau dan menggencarkan sosialisasi. Jika memang penyebab banjir adalah saluran air sempit dan hutan gundul, maka akar permasalahannya harus segera ditangani.

“Jadi penanganan langsung pada sumber permasalahan. Sebab bencana ini sudah menjadi langganan setiap musim penghujan dan masyarakat yang dirugikan, “ ujarnya. (okezone.com)
Minggu, 14 Februari 2016 | 1 komentar

Hamil Diluar Nikah Jadi Faktor Maraknya Pernikahan Dini di Tulungagung

Kamis, 28 Januari 2016 | 20.42.00 | 1 komentar

Tulungagung - Pernikahan usia dini atau di bawah 20 tahun di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, selama 2015 mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Beberapa faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, diantaranya hamil diluar nikah dan putus sekolah.

“Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi kasus pernikahan usia di bawah umur, di antaranya, hamil diluar nikah dan kurangnya SDM seseorang, seperti putus sekolah," kata Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Tulungagung Damanhuri di Tulungagung, Rabu (12/01/2016).

Data KUA pada kurun waktu 2015, jumlah kasus pernikahan usia dini tercatat sebanyak 220 pasangan, sedangkan pada 2014 sebanyak 205. “Ada peningkatan meski tidak mencolok,” paparnya.

"Faktornya ya itu saja. Kalau bukan karena hal itu tadi, mereka pasti menikah pada usia muda, yakni pada usia 19-25 tahun untuk laki-laki dan 16-20 tahun untuk perempuan," paparnya.

Kasi Bimbingan Masyarakat Islam (Bimais) Abdul Choliq menambahkan, data jumlah pernikahan dini tersebut diperoleh dari hasil rekapitulasi di setiap Kantor Urusan Agama (KUA) di 19 kecamatan se-Tulungagung.

Secara rinci Abdul Cholig merinci untuk pernikahan usia di bawah umur di Kecamatan Besuki ada delapan pernikahan, Bandung empat pernikahan, Pakel 11 pernikahan, Campurdarat 13 pernikahan, Tanggunggunung 11 pernikahan dan Kalidawir 16 pernikahan.

Kasus pernikahan dini juga terdeteksi di KUA Pucanglaban sebanyak empat pernikahan, Rejotangan sembilan pernikahan, Ngunut 18 pernikahan, Sumbergempol 13 pernikahan, Boyolangu 10 pernikahan, dan Gondang delapan pernikahan.

Sedangkan di Kecamatan Kauman sebanyak 11 pernikahan, Tulungagung 15 pernikahan, Kedungwaru 37 pernikahan, Ngantru tiga pernikahan, Karangrejo dua pernikahan, Sendang 10 pernikahan, dan Pagerwojo 17 pernikahan.

Choliq menjelaskan yang dimaksud pernikahan dini adalah mereka yang menikah secara agama pada usia di bawah 19 tahun untuk laki-laki dan di bawah 16 tahun untuk perempuan.

Dia melanjutkan, pernikahan usia di bawah umur hanya bisa dilakukan setelah memperoleh dispensasi nikah dari Pengadilan Agama (PA).

Selanjutnya, calon pasangan suami istri mengisi blangko N5 yakni persetujuan dari orangtua masing-masing calon pasutri.

"Tanpa dispensasi, KUA tidak diperbolehkan menikahkan karena belum waktunya menikah," ujarnya.

Untuk yang melaksanakan pernikahan di KUA, calon pasutri tidak akan dikenakan biaya (gratis), sedangkan melaksanakan pernikahan di luar KUA, misalnya di gedung, masjid atau di rumah mempelai, akan dikenakan biaya sebesar Rp600 ribu, itupun dibayarkan melalui bank yang sudah ditunjuk. {Rimanews)
Kamis, 28 Januari 2016 | 1 komentar

Puting Beliung Sapu Puluhan Rumah di Tulungagung

Tulungagung-Angin puting beliung menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Trenggalek dan Tulungagung, Jawa Timur. Akibatnya puluhan rumah serta sejumlah fasilitas umum rusak.

Tidak ada korban jiwa dalam bencana alam yang terjadi sekitar pukul 13.30 WIB tersebut, namun beberapa nelayan dan pengendara dilaporkan terluka akibat tertimpa pohon tumbang serta atap bangunan yang beterbangan diterpa puting beliung.

"Fenomena pusaran puting beliung itu sempat terekam kamera dan saat ini menyebar di media sosial. Saya dapat gambarnya juga dari grup whatsapp kantor," ungkap Mega, salah satu netizen di Tulungagung, Rabu (27/1/2016).

Menurut saksi mata, pusaran angin yang menggulung pekat dari langit sempat terlihat bergerak dari arah Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek menuju Tulungagung melalui Kecamatan Besuki yang ada di perbatasan.

Jejak kerusakan teridentifikasi di bangunan utama tempat pelelangan ikan (TPI) Prigi, wilayah perbatasan Trenggalek-Tulungagung di Desa Tanggulwelahan Kecamatan Besuki, Desa Pojok Kecamatan Campurdarat, Desa Gedangsewu Kecamatan Boyolangu, serta Desa Tugu Kecamatan Rejotangan.

"Tidak ada laporan korban jiwa. Namun, rumah yang rusak sejauh ini tercatat mencapai 45 rumah. Untuk kerugian masih kami hitung," ujar Kabid Kedaruratan dan PMK BPBD Tulungagung Nadlori Alwi.

Efek puting beliung juga menyebabkan puluhan pohon perdu peneduh jalan di sepanjang jalan raya di wilayah Besuki, Boyolangu, Tulungagung hingga Kedungwaru juga bertumbangan.

Akibatnya, sejumlah kendaraan roda dua maupun empat yang sedang melintas ataupun berteduh di pinggir jalan ikut tertimpa dan mengalami kerusakan parah.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Cipta Karya Kabupaten Tulungagung, Sutrisno mengatakan pohon tumbang terjadi di beberapa titik terutama di jalan protokol.

Laporan yang ia terima hingga pukul 15.00 WIB, pohon tumbang terjadi di wilayah Boyolongu, Sumbergempol, Tamanan dan yang paling parah di depan Kantor Dinkes Tulungagung dan menimpa sebuah mobil pikap yang sedang melintas.

"Kami akan evaluasi kondisi tegakan (pohon) di pinggir jalan yang sekiranya berisiko tumbang dan membahayakan pengendara," kata Sutrisno. [tar/inilah.com]
| 1 komentar

Tahanan Kabur Tulungagung Terancam Tembak di Tempat

Kamis, 17 Desember 2015 | 02.46.00 | 1 komentar

Tulungagung - Aparat Kepolisian Resor Tulungagung, Jawa Timur memberlakukan status tembak di tempat bagi dua buron tahanan kasus pencurian sepeda motor yang kabur dari ruang tahanan mapolres, akhir November lalu.

"Kami sudah instruksikan kepada seluruh anggota untuk melakukan tembak di tempat, jika kedua buron tidak segera menyerahkan diri," kata Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Andria D Putra di Tulungagung, Rabu.

Andria mengatakan, untuk saat ini ada tiga tim yang diterjunkan guna melakukan pengejaran terhadap kedua pelaku.

Ketiga tim dimaksud diterjunkan di wilayah Blitar dan perbatasan antara Kabupaten Blitar dengan Kabupaten Malang.

"Ada tiga tim yang diterjunkan. Petugas siap melakukan tindakan tegas kalau perlu tembak ditempat," tegasnya.

Andria menjelaskan, petugas juga sudah melakukan pendekatan melalui keluarga kedua buron tahanan kabur, agar mereka bersikap kooperatif dan mau menyerahkan diri.

Namun, hingga hampir tiga pekan sejak pelarian, kedua buron atas nama Andik Triono (26) warga Desa Batuaji Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri dan Ony Supriandoko (31) warga Desa Bendogerit Kecamatan Sanan Wetan Kabupaten Blitar, belum ada tanda-tanda bakal menyerahkan diri ke polisi.

"Kami menduga keduanya dibantu orang lain untuk bersembunyi. Mereka sangat mungkin mempunyai banyak jaringan sehingga mempersulit pengejaran," ujarnya.

Kendati rumit, Andria mengisyaratkan saat ini petugas sudah mebgidentifikasi beberapa titik tempat yang diduga menjadi lokasi persembunyian mereka.

"Sekarang tinggal menunggu waktu untuk melakukan penggerebekan," ucapnya.

Insiden tahanan kabur dari ruang tahanan Mapolres Tulungagung terjadi pada Senin (30/12), sekitar pukul 03.00 WIB.

Ada empat tahanan yang saat itu dipastikan kabur dengan cara menjebol plafon ruang penjagaan yang ditinggal petugas.

Keempat tahanan itu diidentifikasi bernama Ony Supriandoko (31) dan Andik Triono (26), serta dua lainnya kasus pencabulan atas nama Rohmad Faizal (31) dan Rendy Pratama (21).

Dua nama yang disebut terakhir sudah berhasil ditangkap kembali, namun untuk dua pelaku kriminal pencurian sepeda motor sampai saat ini belum terendus keberadaannya, ataupun menyerahkan diri.

Aksi para tahanan saat kabur melalui plafon ruang penjagaan tersebut sempat terekam kamera "CCTV" (close circuit television) yang terpasang di ruang sudut-sudut lorong selasar tahanan maupun di depan ruang Satrekoba Polres Tulungagung.

Kamis, 17 Desember 2015 | 1 komentar

Biadab! Polisi Gadungan Setubuhi Gadis Bawah Umur

Rabu, 02 Desember 2015 | 18.54.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Riki Ardiansyah, warga Desa Sumberagung, Kecamatan Rejotangan, tampaknya, punya waktu lama untuk menyesali perbuatannya. Menyaru sebagai anggota Brigade Mobil (Brimob), laki-laki 24 tahun itu mencabuli gadis di bawah umur. Kemarin (1/12) dia divonis enam tahun oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri Tulungagung. Hukuman tersebut tiga tahun lebih ringan dari tuntutan jaksa.

Terdakwa juga diharuskan membayar denda Rp 500 juta. Jika dia tidak membayar, hukuman bertambah tiga bulan. Hakim beranggapan bahwa terdakwa telah merusak masa depan korban. Tindakan terdakwa juga membuat nama baik keluarga tercoreng.

Sementara itu, terdakwa terlihat masih bingung dengan putusan hakim. ''Belum tahu Mas, banding atau tidak, lihat saja nanti,'' terang terdakwa ketika dikonfirmasi sebelum masuk ke sel ruang tunggu.

Riki Ardiansyah ditangkap anggota Buru Sergap (Buser) Tulungagung karena menyaru sebagai anggota Brimob pada Sabtu (1/8). Dia dilaporkan telah menyetubuhi gadis di bawah umur dengan inisial NL, 17, warga Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.

Dalam kurun waktu dua bulan perkenalan, pelaku menyetubuhi korban 10 kali di rumah nenek pelaku di Desa Buntaran, Kecamatan Rejotangan. Modus pelaku adalah mengaku sebagai anggota Brimob agar bisa menaklukkan hati NL sehingga bisa disetubuhi. (din/ris/c17/any)

Sumber: jpnn.com
Rabu, 02 Desember 2015 | 0 komentar

Belasan PNS Tulungagung Positif Tertular HIV/AIDS

Tulungagung - Belasan pegawai negeri sipil di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, dipastikan tertular virus HIV/AIDS akibat perilaku seks bebas maupun hubungan perselingkuhan dengan sesama PNS maupun pasangan lain di luar nikah.

"Data yang berhasil kami identifikasi sejak 2006 hingga sekarang, tercatat ada 18 dari total 1.244 ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yang telah memeriksakan diri," ujar Pengelola Program Komisi Perlindungan AIDS Kabupaten Tulungagung, Ifada, usai aksi pembagian kondom gratis di Terminal Gayatri, Tulungagung, Selasa.

Semakin banyaknya PNS yang tertular virus HIV/AIDS tersebut menjadi perhatian khusus KPA Tulungagung.

Apalagi, lanjut Ifada, dari 18 PNS yang telah teridentifikasi berstatus ODHA itu, mayoritas berlatar belakang guru.

Ifada tidak menyebut spesifik jumlah kasus ODHA berlatar belakang PNS dalam setahun terakhir, namun ia memastikan beberapa temuan kasus HIV/AIDS terakhir juga berlatar belakang guru.

Kendati tidak serta-merta memastikan penyebab penularan akibat perilaku seks bebas, Ifada menyatakan hampir semua temuan kasus HIV/AIDS, terutama di kalangan PNS atau guru, adalah akibat transmisi seksual dengan pasangan di luar nikah.

Pernyataan Ifada merujuk pada kasus-kasus perselingkuhan antara sesama PNS ataupun dengan pasangan non-PNS sehingga mereka menjadi rentan tertular HIV/AIDS.

"Memang ada yang masuk kelompok risiko tinggi karena perilaku seks bebas dengan berganti-ganti pasangan, namun sebagian lain karena hubungan dengan pasangan di luar nikah yang menjadi teman kencannya (selingkuh)," ungkap Ifada.

Menurut data KPA, jumlah temuan kasus HIV/AIDS di Tulungagung sejak lembaga penanggulangan AIDS terbentuk pada 2006 hingga saat ini tercatat sebanyak 1.244 kasus.

Tenaga nonprofesional atau karyawan mendominasi sebaran kasus HIV/AIDS dengan jumlah mencapai 328 ODHA, disusul kelompok ibu rumah tangga sebanyak 270 ODHA, kalangan pekerja seks sebanyak 210 ODHA, TKI/TKW sebanyak 108 ODHA, wiraswasta sebanyak 82 ODHA, sopir sebanyak 39 ODHA, dan anak-anak di bawah 10 tahun sebanyak 26 ODHA.

Kalangan PNS sendiri menempati urutan 10 besar dari total 15 kategori yang dikelompokkan KPA Tulungagung berdasar latar belakang pekerjaan.

Wakil Bupati Tulungagung, Maryoto Bhirowo mengaku prihatin atas besarnya angka kasus HIV/AIDS di Tulungagung.

Ia bahkan menyatakan Tulungagung saat ini berstatus siaga HIV/AIDS sehingga perlu penanganan menyeluruh, baik dari tingkat KPA, dinas kesehatan, maupun kalangan komunitas sebaya ODHA.

"Pemerintah Kabupaten Tulungagung memiliki komitmen untuk mendukung upaya penanggulangan HIV/AIDS secara menyeluruh karena saat ini jumlah ODHA Tulungagung menempati urutan kelima terbesar di Jatim," ujarnya.

Secara khusus, Maryoto mengimbau pada masyarakat Tulungagung, terutama kelompok berisiko tinggi, untuk membuka diri dan proaktif memeriksakan diri ke klinik-klinik VCT yang ada di RSUD dr Iskak, maupun 12 puskesmas tingkat kecamatan yang telah dilengkapi prasarana serta laboratorium pemeriksaan HIV/AIDS atau VCT. (Ant)
| 1 komentar

Seorang Tahanan Dibekuk saat Akan Kabur ke Jakarta

TULUNGAGUNG - Rendy Pratama Bustomi (19), satu dari empat orang tahanan kabur asal Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung berhasil ditangkap.

Rendy dibekuk di jalan raya wilayah Desa/Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Saat diringkus tersangka kasus persetubuhan anak di bawah umur itu hendak kabur ke Jakarta.

"Pelaku ditangkap di pinggir jalan sekira pukul 13.30 WIB," ujar Kasubag Humas Polres Tulungagung, AKP Saeroji kepada wartawan, Selasa (1/12/2015).

Rendy bersama tiga orang tahanan Mapolres Tulungagung berhasil kabur dengan membobol plafon ruang tahanan Senin 30 November 2015.

Rendy, Andik Triono (26), warga Desa Batuaji, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri, Ony Supriandoko (31) warga Desa Bendogerit, Kecamatan Sanan Wetan, Kabupaten Blitar, dan Rohmad Faisal (21), warga Desa/Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung berhasil memanfaatkan keteledoran empat orang petugas jaga.

Para penjaga diduga tidak berada di tempat saat keempat tersangka kasus curanmor dan asusila itu melancarkan aksinya. Menurut Saeroji, dari penangkapan Rendy petugas mengembangkan perburuan kepada tiga orang buronan lainya.

Polisi telah menyiapkan sanksi tambahan untuk keempat tahanan kabur. "Namun kita akan pastikan siapa otak dari rencana kabur itu," ujar Saeroji.

Sementara untuk empat penjaga yang dinilai lalai menjalankan prosedur jaga masih menunggu hasil penyidikan petugas propam.

Kapolres Tulungagung AKBP FX Birawa Braja Paksa sebelumnya mensinyalir adanya prosedur penjagaan (SOP) yang telah dilanggar. Selain meninggalkan tugas, penjaga memberi kelonggaran para tahanan leluasa tidak menempati ruang selnya.

Keempat buronan dan tahanan lain bebas di ruangan tempat petugas berjaga. Selain empat petugas penjaga, propam juga memeriksa seorang perwira penanggung jawab.

"Semuanya (petugas penjaga) kita serahkan pada propam. Tapi kalau mau saya dipecat saja," ujarnya.(Ari)

Sumber: okezone.com
| 1 komentar

Bobol Plafon, Empat Tahanan Polres Tulungagung Kabur

Selasa, 01 Desember 2015 | 20.18.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Empat tahanan kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan pencabulan Polres Tulungagung kabur.

Kapolres Tulungagung AKBP FX Birawa Braja Paksa langsung mengerahkan anggota untuk memburu keempatnya. "Keempatnya kabur dengan memanfaatkan kelengahan petugas penjaga," ujar Birawa kepada wartawan Senin 30 November 2015.

Insiden kaburnya tahanan ini terjadi pada Senin (30/11/2015) pukul 03.00 WIB. Keempat buronan itu adalah Andik Triono (26) warga Desa Batuaji Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri, Ony Supriandoko (31) warga Desa Bendogerit Kecamatan Sanan Wetan, Kabupaten Blitar.

Kemudian Rohmad Faisal (21) warga Desa/Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung dan Rendy Pratama Bustomi (19) warga Desa Ketanon Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung.

Andik dan Ony tersangka kasus pencurian sepeda motor. Sedangkan Rohmad dan Rendy terjerat kasus persetubuhan anak dibawah umur.

Mereka membobol plafon ruang tahanan. Aksi mereka sempat terekam kamera CCTV yang terpasang di sudut ruangan.

Birawa mengakui ada unsur keteledoran anak buahnya. Hasil penyelidikan sementara keempat pelaku tidak berada di dalam kamar selnya. Mereka berada di ruangan yang menjadi satu dengan ruang televisi dan tempat jaga petugas.

Lokasi ini berupa lorong yang disekat dengan pintu besi setinggi 2,5 meter dengan lebar 1,25 meter. Kendati masih satu komplek dengan tahanan, kelonggaran yang diberikan empat penjaga piket ditengarai menyalahi prosedur penjagaan (SOP).

Ada dugaan unsur kesengajaan, Apalagi saat insiden terjadi keempat penjaga diduga meninggalkan tugas.

"Sepertinya ada prosedur yang dilanggar. Kita serahkan masalah ini ke propam. Tapi kalau mau saya dipecat saja," tegas Birawa.

Tidak hanya keempat petugas piket. Propam juga memeriksa petugas lain yang malam itu berada di Polres. Termasuk juga seorang perwira yang dianggap sebagai penanggung jawab penjagaan.

Informasi yang dihimpun, beberapa tahanan lain juga dimintai keterangan. Total ada sebanyak 50 orang tahanan (termasuk empat buronan) yang menghuni tahanan polres Tulungagung.

Sebagian besar berada di dalam empat unit sel berukuran 3X2,5 meter. Idealnya setiap sel diisi maksimal lima orang. Beberapa tahanan yang ikut diperiksa diduga mengetahui detik-detik pelarian para buronan.

Selain memperketat penjagaan, Polres Tulungagung mengerahkan jajaran Intelijen keamanan, Satreskrim, dan Satnarkoba untuk melakukan perburuan tanpa batas waktu.

Birawa menegaskan bahwa jika terbukti membantu pelarian keempat petugas terancam pidana dan pemecatan. "Peristiwa ini telah mencoreng institusi kepolisian," tegasnya.

Imam Ma’ruf salah seorang aktivis pemuda Tulungagung menilai penjagaan para tahanan di Polres Tulungagung terkesan longgar. Para penjaga diduga sengaja memberi perlakuan beda kepada tahanan yang dinilai dekat secara emosional.

"Tak ubahnya para tahanan di lembaga pemasyarakatan. Ada istilah tamping untuk tahanan yang sudah dipercaya petugas atau sipir tahanan. Seharusnya hal hal seperti ini dihapuskan saja," pungkasnya.(nag)

Selasa, 01 Desember 2015 | 0 komentar

Arkeolog: Pemugaran Candi Sanggrahan Tulungagung Terkendala Material

Jumat, 20 November 2015 | 17.04.00 | 1 komentar

Tulungagung - Tim arkeologi Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan menyatakan kesulitan mendapat material batu dan bata merah yang sesuai dengan material situs bangunan lama, sehingga menghambat proses pemugaran Candi Sanggrahan di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

"Mendapat material batu dan bata merah yang sesuai, apalagi identik dengan fisik material situs candi memang agak susah. Karena tidak setiap batu yang ada bisa tersambung fisik candi yang lama," kata Pokja Perlindungan BPCB Trowulan, Nugroho Harjolukito kepada Antara saat dikonfirmasi melalui telepon seluler, Jumat. Read More
Jumat, 20 November 2015 | 1 komentar

Pemugaran Induk Candi Sanggarahan Ditarget Rampung November

Tulungagung - Pemugaran induk Candi Sanggrahan yang terletak di Desa Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ditarget rampung akhir November, untuk memberi kesempatan pihak Balai Pelestarian Cagar Budaya Trowulan membuat laporan pertanggungjawaban anggaran yang konon mencapai Rp450 juta.

"Proses pemugaran dilakukan bertahap dalam tiga tahun anggaran, tidak bisa sekaligus karena melibatkan dana cukup besar," terang Ketua Tim Pelaksana Pemugaran Candi Sanggrahan di Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, Iwan Tarwanto di Tulungagung, Jumat. Read More
| 1 komentar

200 Pemudik Tulungagung Gunakan Angkutan Balik Gratis

Selasa, 21 Juli 2015 | 18.48.00 | 1 komentar

Tulungagung - Sebanyak 200 pemudik di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur dengan tujuan Kota Surabaya, memanfaatkan layanan angkutan arus balik gratis yang diselenggarakan dinas perhubungan komunikasi dan informatika (dishubkominfo) setempat.

Pemberangkatan penumpang arus balik gratis menggunakan empat armada bus tersebut dilakukan di pintu Terminal Gayatri Tulungagung pada Selasa pagi dengan dipimpin oleh Kepala Unit Pelaksana Teknis Lalu Lintas Angkutan Jalan (LLAJ) Kabupaten Tulungagung, Benu Prijantoko. Read More
Sumber: antarajatim.com | Selasa, 21 Juli 2015
Selasa, 21 Juli 2015 | 1 komentar

Pemkab Tulungagung Abaikan Tawaran Investasi Sistem "BOT"

Minggu, 28 Juni 2015 | 00.11.00 | 1 komentar

Tulungagung - Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengabaikan tawaran investor untuk membangun pasar modern berskala besar (supermarker/hypermarket) dengan sistem BOT (bulid, operate, and transfer) atau pinjam pakai aset lahan daerah, karena yakin bakal terganjal di tingkat DPRD. Read More

"Sistem BOT sulit dilakukan, karena implementasinya memerlukan persetujuan dewan," kata Bupati Tulungagung, Syahri Mulyo di Tulungagung, Sabtu.

Ia tidak secara lugas menyatakan penolakan tawaran kerjasama investasi dari pihak pengusaha nasional melalui skema BOT tersebut.

Syahri hanya menyatakan bahwa prosedur pelepasan aset daerah untuk dikerjasamakan dengan sistem BOT memerlukan proses panjang dan berbelit, terutama untuk mendapat persetujuan DPRD melalui penetapan peraturan daerah (perda).

Kendati mengakui tawaran kerjasama investasi pasar modern dengan sistem BOT cukup menguntungkan karena daerah berhak atas aset bangunan setelah masa pinjam pakai lahan berdurasi 25 tahun habis, ia mengisyaratkan wacana itu rentan penolakan dari kalangan dewan.

Terlebih, isu politik terkait liberalisasi pembangunan daerah potensial menggelinding liar menjelang pilkada serentak yang diikuti Kabupaten Tulungagung pada 2018 mendatang.

"Saya belum berfikir untuk mengajukan wacana tersebut ke dewan," ujarnya.

Syahri menegaskan, pada dasarnya kebijakan ekonomi yang dia anut dalam membangun Kabupaten Tulungagung memberi "ruang terbuka" bagi masuknya arus investasi nasional maupun asing untuk masuk ke daerah, termasuk di sektor "ritel" atau pasar modern.

Komitmen itu diwujudkan Syahri dengan mempermudah seluruh proses perizinan yang diperlukan/dibutuhkan, hingga berdirinya pasar modern tersebut.

"Silahkan jika swasta ingin masuk ke Tulungagung dan membangun pasar modern besar sekalipun, tapi aset lahannya usahakan sendiri (beli putus), bukan pakai aset daerah dengan sistem BOT tadi," kata Syahri.
Sumber: @antarajatimcom | Sabtu, 27 Juni 2015
Minggu, 28 Juni 2015 | 1 komentar

Konjen AS Tawarkan Program Pertukaran Pelajar Tulungagung

Tulungagung - Konsul Jenderal Amerika Serikat di Surabaya Joaquin Monserrate menawarkan program pertukaran pelajar antara siswa SMA/SMK di Tulungagung dengan siswa-siswi SMA di negaranya, saat berkunjung ke Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Jumat. Read More

"Iya, tadi kami sudah sepakat dengan bapak bupati untuk melakukan program pertukaran pelajar," kata Joaquin usai bertemu Bupati Tulungagung Syahri Mulyo di Pendopo Kabupaten Tulungagung.

Ia tidak merinci jumlah maupun kriteria siswa yang diikutsertakan dalam program pertukaran pelajar dimaksud.

Menurut Joaquin, pada dasarnya program tersebut sudah berjalan dan akan ditingkatkan di masa mendatang guna meningkatkan pemahanan dan kesalingpengertian antara kedua negara.

"Kami bahkan sudah menempatkan beberapa relawan guru 'native' asal Amerika Serikat untuk mengajar Bahasa Inggris di beberapa sekolah dan pondok pesantren di Tulungagung," ungkapnya.

Joaquin Monserrate mengatakan, program pertukaran pelajar serta penempatan relawan guru asal Amerika Serikat di Tulungagung menjadi prioritas utama pemerintahannya saat ini.

Selain bertujuan memperkenalkan ragam budaya masing-masing, lanjut Monserrate, program tersebut diharapkan membantu generasi muda AS dan Indonesia untuk meningkatkan kualitas pendidikan maupun wawasan.

Perhatian yang sama juga diberlakukan terhadap sejumlah daerah lain yang sudah dikunjungi tim Konjen AS di 12 provinsi se-Indonesia.(Ant)

Sumber: antarajatim.com | Jumat, 26 Juni 2015
| 1 komentar

Puting Beliung Terjang Dua Desa di Tulungagung

Sabtu, 14 Februari 2015 | 01.15.00 | 1 komentar

Tulungagung - Belasan rumah warga dua desa di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur rusak parah akibat diterjang angin puting beliung yang melanda kawasan tersebut saat turun hujan, Jumat sore sekitar pukul 15.00 WIB.

Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun 15 unit rumah, satu bangunan masjid dan sebuah tembok pabrik mi mengalami kerusakan.

"Kondisi yang paling parah tejadi di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru. Angin bertiup kencang mengakibatkan tembok sebuah pabrik mi di desa tersebut roboh dan menimpa lima rumah warga lainnya," ungkap Juli (52), salah satu korban yang bangunan kandang ternaknya ikut ambruk total tertimpa tembok pabrik.

Selain menerjang Desa Plosokandang, angin puting beliung juga sempat bergerak hingga di Desa Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu dan menyebabkan sedikitnya 11 atap bangunan porak-poranda.

Belum diketahui kerugian akibat bencana lokal tersebut. Kepala Desa Plosokandang, Sunari yang daerahnya mengalami kerusakan paling parah akibat robohnya sejumlah bangunan warga, memgaku sudah melaporkan kejadian tersebut ke Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

"Untuk tafsir kerugian masih dilakukan penghitungan, dan kejadian ini sudah kami laporkan ke pihak BPBD," ujarnya.

Ia memastikan, pihaknya akan memfasilitasi warga untuk berdialog dengan pemilik pabrik mi Cap Nyonya untuk mendapatkan ganti rugi.

"Warga berharap ada sedikit ganti ruigi dari pihak pabrik nanti akan kita fasilitasi," terangnya
Beberapa saksi mata dan korban yang rumahnya ikut roboh atau rusak menuturkan, saat kejadian beberapa dari mereka berada di teras depan rumah.

Menurut warga, saat itu hujan turun tidak begitu deras, namun angin betiup kencang dan berputar. Tidak lama kemudian ada suara gemuruh seperti robohnya tembok.

Juli, salah satu korban yang saat itu telah siaga mengantisipasi puting beliung, segera berlari ke belakang rumah dan melihat dinding pabrik mi roboh menimpa kandang ternaknya.

"Saya beruntung bisa menyelamatkan beberapa hewan ternak saya," ujarnya. (Ant)

Sumber: Antara Jatim | Jumat, 13/02/2015
Sabtu, 14 Februari 2015 | 1 komentar

Mantan Bupati Tulungagung terkesan Ogah Jadi Pj Kepala Daerah

SURABAYA - Banyak pejabat eselon II di lingkungan Pemprov Jatim yang ingin menjadi Penjabat (Pj) Kepala Daerah (Bupati/Wali Kota).

Namun, tidak demikian bagi Heru Tjahjono, Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Pemprov Jatim. Mantan bupati Tulungagung dua periode ini ternyata terkesan ogah jika dirinya ditunjuk sebagai Pj Bupati/Wali Kota.

"Waduh iso loro kabeh (kalau merangkap jadi Pj)," ujar Heru spontan, Selasa (10/2/2015) sore.

Ungkapan Heru tersebut disampaikan ketika dirinya mendengar penjelasan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jatim Akmal Boedianto.

Selain untuk mengukur profesionalisme pejabat yang sistematis, assesment juga dimaksudkan sebagai seleksi bagi pejabat eselon II yang akan ditunjuk dan diberi tugas sebagai Pj Bupati/Wali Kota.

Itu disampaikan Akmal dalam pembukaan "Assesment pejabat eselon II di lingkungan Pemprov Jatim", di gedung Badan Diklat lantai III, Jalan Balongsari Tama, Surabaya.

Tak hanya Heru yang duduk di bangku belakang, sejumlah pejabat eselon II lainnya juga langsung responsif saat mendengar pernyataan Akmal tersebut. Suasana sedikit gaduh langsung terdengar dari sejumlah sisi ruangan.

Selain Heru, pejabat eselon II lain yang pernah menjadi Bupati adalah Kepala Dinas Kesehatan Jatim dr Harsono. Sebelum ditarik ke Pemprov, dia adalah Bupati dua periode di Kabupaten Ngawi.

Kemudian Kepala Bappemas Zarkasi yang juga pernah menjadi Pj Bupati Jember, ketika MZA Djalal dan Kusen Andalan selaku incumbent maju kembali berpasangan mencalonkan diri dalam Pilkada Jember.

Menurut Akmal, assesment akan berlangsung hingga Jumat (13/2/2015) dan diikuti oleh 72 orang pejabat eselon II. Mulai Asisten Setdaprov, kepala dinas, kepala biro, kepala badan, staf ahli, direktur rumah sakit, hingga wakil direktur rumah sakit.

"Yang tidak ikut adalah yang pensiunnya kurang dari enam bulan," katanya.

Sekdaprov Jatim Akhmad Sukardi membenarkan pernyataan Akmal. Menurutnya, selain untuk memetakan potensi, kemampuan, dan kompetensi setiap pejabat eselon II, assesment juga untuk seleksi calon Pj Bupati/Wali Kota.

"Makanya kalau teman-teman ingin fotonya dipasang di Kabupaten/Kota, saat inilah kesempatannya," tegasnya.

Hal itu dinilai penting, karena dari 19 daerah di Jatim yang akan menggelar Pilkada serentak, sejumlah bupati/wali kota yang saat ini menjabat sudah minta kepada Gubernur Soekarwo agar diberi Pj yang cocok.

"Dan semua pejabat eselon II punya kesempatan yang sama menjadi Pj," tandas mantan Asisten IV Bidang Administrasi Umum ini.

Sumber: SURYA.co.id | Selasa, 10/02/2015
| 1 komentar

KI Jatim Sidang Sengketa Informasi di Tulungagung

Jumat, 30 Januari 2015 | 12.53.00 | 1 komentar

Tulungagung - Komisi Informasi Jawa Timur menggelar sedikitnya delapan sidang sengketa informasi yang diajukan perorangan maupun lembaga masyarakat terhadap sejumlah badan publik di lingkup Pemkab Tulungagung dan Kota Kediri, bertempat di kantor KPU Tulungagung, Kamis.

Antara di Tulungagung melaporkan, sidang yang berlangsung dua hari sejak Rabu (28/1) itu dihadiri seluruh komisioner Komisi Informasi Jatim, serta pihak-pihak pemohon dan termohon.

"Ada delapan sengketa informasi yang kami sidangkan di Tulungagung ini, satu di antaranya kasus di Kota Kediri," terang Komisioner KI Jatim Bidang Penyelesaian Sengketa Informasi Publik, Mahbub Junaidi. Read More
Sumber: Antara Jatim | Kamis, 29/01/2015
Jumat, 30 Januari 2015 | 1 komentar

Bupati Tulungagung Bantah Kepras Anggaran Pendidikan

Kamis, 29 Januari 2015 | 01.39.00 | 0 komentar

Tulungagung - Bupati Tulungagung, Jawa Timur, Sahri Mulyo memastikan tidak ada pengurangan anggaran pendidikan di daerahnya selama 2015, kendati dalam APBD induk masih teralokasikan sebesar Rp8,5 miliar.

"Kekurangan anggaran pendidikan selama kurun 2015 tentunya akan kami tambah melalui PAK (perubahan anggaran keuangan) atau APBD perubahan (APBD-P) sekitar Juli-Agustus nanti," katanya di Tulungagung, Rabu.

Keterangan Sahri yang disampaikan ke sejumlah media lokal tersebut merupakan jawaban atas isu yang menyebut anggaran pendidikan Tulungagung dikepras. Read More
Sumber: antarajatim.com | 28 Januari 2015
Kamis, 29 Januari 2015 | 0 komentar

Polres Tulungagung Wajibkan Anggota Kenakan Peci

Tulungagung - Kepolisian Resor Tulungagung, Jawa Timur mewajibkan seluruh anggotanya yang beragama Islam mengenakan peci, khusus pada hari Jumat.

Wacana itu muncul dalam dialog silaturahmi ulama dan umaro se-Tulungagung yang digelar di Hotel Crown Victoria, Tulungagung, Senin pagi.

"Usulan ini baik, dan akan segera kami tindak lanjuti dalam waktu dekat," kata Kapolres Tulungagung, AKBP Bastoni Purnama.Read More

Menurut Bastoni, dengan mengenakan peci setiap hari Jumat, bisa membuat image polisi menjadi lebih humanis dan agamis.

Tidak hanya itu, kata Bastoni, pengenaan peci bagi polisi muslim bisa membantu mengubah kesan polisi yang "keras" menjadi lebih halus.

"Jadi fungsi polisi sebagai pengayom masyarakat bisa lebih terasa," tuturnya.

Khusus untuk Polwan, lanjut dia, pihaknya belum bisa mewajibkan untuk mengenakan jilbab.

Hal ini dikarenakan penggunaan jilbab bagi polwan masih berlaku di kawasan Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

"Untuk peci sepertinya masih bisa karena hari Jumat polisi diperkenankan mengenakan batik," imbuhnya.

Terkait pelaksanaan teknisnya, Bastoni akan melakukan konsultasi dengan Polda Jatim maupun Polri sebagai organisasi induk.

Hal ini dikarenakan seragam dinas polisi sudah diatur termasuk atributnya.

"Apakah semua polisi yang berdinas atau hanya staff saja yang akan mengenakan peci akan kami konsultasikan terlebih dahulu," pungkasnya.
Sumber: antarajatim.com | Senin, 26 Januari 2015
| 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan