Surabaya - Sebanyak 13 hasil Ujian Nasional SMA/MA 2011 di Jawa Timur masih bermasalah. Sebagian besar karena nilai mata pelajaran yang tidak muncul atau nol. Sementara untuk tingkat SMK, nilai UN beberapa mata pelajaran 7 orang siswa juga dinyatakan nol.
Seperti yang dialami NURO ILMANIA siswa program studi IPS dari MA Asy-Syafi’iyah Tangulangin Sidoarjo yang nilai UN Bahasa Indonesianya tidak muncul. Selain itu ada juga siswa dari SMAN 1 Paciran Kabupaten lamongan, SMAN 1 Kedungpring Kabupaten Lamongan, SMAN 1 Jogorogo Kabupaten Ngawi, SMA Veteran Kejotangan Kabupaten Tulungagung, MA Al-Karomah Kabupaten Sumenep, MA Al Muslihun Tlogo Kanigoro Kabupaten Blitar, MA 2 Probolinggo Kota Probolinggo dan SMAN Jogorogo Kabupaten Ngawi dan 4 orang siswa SMA Jendral Sudirman Kabupaten Lumajang.
HARUN Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur mengatakan semula ada 24 hasil UN SMA/MA 2011 yang bermasalah. Tapi, 11 diantaranya sudah ditangani dan terselesaikan. Hampir semua masalah hasil UN karena nilai mata pelajaran yang tidak muncul atau nol.
Menurut HARUN, hal itu disebabkan kesalahan siswa yang bersangkutan. “Itu karena dia tidak mengisi kode program studi atau salah mengisi. Akibatnya, mesin scanner tidak mau membaca lembar jawaban. Sehingga nilainya tidak keluar.
“Tinggal 13 siswa yang belum terselesaikan, kita koordinasikan dengan Unair, ITS dan Unesa (perguruan tinggi negeri yang melakukan scanning, red) dan dibawa ke Puspendik Jakarta,” kata HARUN dalam konferensi pers di Kantor Dinas Pendidikan Jatim, Rabu (18/05).
Sementara itu, untuk kasus SMK dialami siswa dari SMK Budi Utomo Prambon Kabupaten Sidoarjo, SMK PGRI 3 Kota Kediri, SMKN 3 Kabupaten Jombang, SMK Telkom Darul Ulum Kabupaten Jombang, SMK Kepanjen Kabupaten Malang, SMK PGRI 3 Walikukun Kabupaten Ngawi dan SMK PGRI 3 Kabupaten Blitar. Masalahnya pun sama dengan kasus SMA/MA. Adapun kasus siswa SMK PGRI 3 Blitar, nilai matematikanya tidak muncul, kemungkinan tertukar dengan no peserta lain yang tidak ikut UN tapi nilainya keluar.
Pihak Dinas Pendidikan Jatim sudah berkoordinasi dengan perguruan tinggi yang melakukan proses scanner lembar jawaban UN. Sedangkan kasus 28 siswa SMKN 5 Surabaya yang nilainya kosong, karena memang siswa yang bersangkutan tidak naik kelas. Untuk SMKN 5 Surabaya, waktu pendidikannya memang ditempuh 4 tahun. Para siswa yang dinyatakan tidak naik kelas, sudah mengikuti UN dan lulus. Tapi karena nilai sekolahnya tidak memenuhi syarat maka harus mengulang kelas 3 di tahun pelajaran 2011-2012 (penentuan kelulusan terdiri dari 60 persen UN dan 40 persen Ujian Sekolah).
HARUN menampik jika masalah tidak keluarnya nilai karena kesalahan sistem penilaian UN. Menurutnya, dari sekian juta siswa SMA/MA/SMK yang mengikuti UN di Jawa Timur, hanya ada 31 masalah yang ditemukan. Ini berarti kesalahan ada pada siswa tersebut, ujar HARUN.(git)
Sumber: suarasurabaya.net
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Posting Komentar