Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label UN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UN. Tampilkan semua postingan

Juara 1 Unas SMA se-Tulungagung Jadi Buruh Toko Pakan Burung

Rabu, 05 Juni 2013 | 00.21.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG- Metta Andriani, juara 1 nilai Ujian Nasional SMA jurusan IPA se-Tulungagung terpaksa jadi buruh toko pakan burung. Siswi SMAN 1 Kedungwaru itu meraih nilai 56,45 tetapi kini tak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

"Ayah saya tukang batu, ibu menjahit di rumah, ngambil orderan dari perusahaan konveksi," kata Metta kepada SURYA.co.id di tempat kerjanya, toko pakan burung Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru, Selasa (28/5/2013).

Metta lantas melanjutkan pekerjaannya, menimbang pakan burung ocehan untuk pelanggan toko milik Parlan itu.

Gadis kelahiran 2 Maret 1995 itu sebetulnya punya angan-angan jadi guru Matematika. Nilai Matematikanya bagus dibanding Biologi, Fisika dan Kimia. Itu sebabnya, ia ingin kuliah IImu Pendidikan Matematika. "Pinginnya di Universitas Negeri Malang," ujarnya.

Tetapi Metta kini menghadapi kenyataan lain. Saat teman-temannya sibuk bersiap menghadapi ujian masuk perguruan tinggi, Metta harus menghafal harga kroto, sangkar burung, jangkrik dan aneka keperluan lain terkait ternak burung.

Anak pertama pasangan Santosa dan Emi Supangatin, Warga Desa Ngujang, Kedungwaru, itu sebenarnya juga sudah diberitahu pihak sekolahnya ihwal Bidik Misi, program pemerintah pusat membantu calon mahasiswa berprestasi tetapi kurang mampu.

Sayangnya, kata Metta, waktu ujian Bidik Misi dan Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan bersamaan. Padahal, setahu dia, agar mudah lolos Bidik Misi idealnya juga lolos SNPMTN. "Kalau diterima kedua-duanya akan lebih mudah," katanya.

Kalaupun lolos Bidik Misi, Metta juga dihantui kekhawatiran orangtuanya tak mampu membiayai kebutuhan hidupnya. "Kalau biaya kuliah sudah ringan, mungkin biaya hidup sehari-hari yang mahal bagi kami," katanya.

Apalagi, Metta masih punya adik yang belum beres sekolahnya. Pilihan praktis pun dijalani Metta. Sejak selesai Ujian Nasional SMA pada April lalu, Metta tiap hari bekerja di toko pakan burung sejauh kira-kira 1 Km dari rumahnya. "Tiap hari antar jemput, kadang oleh ayah, kadang ibu," ujarnya.

Pelajar berprestasi itu mendapat upah Rp 400.000 per bulan. Waktu kerjanya mulai pukul 13.30 sampai 21.00. Ia hanya menggeleng ketika ditanya apakah ingin tetap bekerja demikian.

Sumber: SURYA Online | Selasa, 28 Mei 2013
Rabu, 05 Juni 2013 | 0 komentar

Penyebar SMS Kunci Jawaban UN Harus Dilacak

Rabu, 25 April 2012 | 18.05.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG – Beredarnya kunci jawaban melalui pesan singkat (SMS) ternyata membuat gerah pihak sekolah. Sebab, kabar beredarnya SMS kunci jawaban tersebut ditengarai untuk merusak citra sekolah yang muridnya mendapat SMS kunci jawaban.

Di Tulungagung, kunci jawaban Ujian Nasional (UN) bahkan beredar di kalangan siswa sejak Sabtu (21/4), saat pendistribusian soal ke Polres masing-masing kabupaten.

Kunci jawaban yang beredar di kalangan siswa SMPN 1 Tulungagung adalah kunci jawaban UN selama 3 hari UN tanpa mata pelajaran Bahasa Inggris.

Kepala Sekolah SMPN 1 Tulungagung, Hariyanto Suminarso, mengatakan hingga saat ini, Selasa (24/4), belum ada laporan dari siswa adanya kunci jawaban yang beredar melalui SMS.

Namun, kasus yang terjadi setiap tahun tersebut menurutnya hanyalah perbuatan orang iseng yang bertujuan untuk merusak nama baik sekolah. Hariyanto berharap penyebar SMS kunci jawaban dapat dilacak, agar kasus seperti itu tidak terulang lagi.

Mengantisipasi beredarnya kunci jawaban melalui SMS, Hariyanto mengungkapkan pihaknya jauh-jauh hari telah mengimbau para siswa agar tidak menghiraukan jika ada SMS kunci jawaban. "Saya sudah imbau siswa untuk tidak memercayai isu seperti itu, saat pertemuan umum dan istighosah dulu," katanya, Selasa (24/4).

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung, Bambang Setyo Sukardjono, mengatakan pihaknya menjamin tidak ada kebocoran soal dalam UN kali ini. SMS kunci jawaban yang beredar di kalangan siswa bukanlah kunci jawaban soal UN untuk SMP. "Penyebar SMS kunci jawaban hanyalah orang iseng yang tidak bertanggungjawab. Jika melanggar hukum, harusnya ditangkap polisi saja," tegasnya.

Sumber: REPUBLIKA.CO.ID | Selasa, 24 April 2012
Rabu, 25 April 2012 | 0 komentar

Pilih Jadi TKI, 2 Siswa di Tulungagung Tidak Ikut UN

Rabu, 18 April 2012 | 15.16.00 | 0 komentar

Tulungagung - SMA PGRI Tulungagung yang siswanya berjumlah 52 orang, ada tujuh siswanya yang absen mengikuti Ujian Naional (UN). Dari tujuh siswa tadi, empat siswa beralasan sakit sehingga masih bisa mengikuti ujian susulan. Tetapi dua siswa terpaksa di Drop Out (DO) karena lebih memilih menjadi TKW.

Dilaporkan Bagas dari Radio Liur Tulungagung dalam jaring radio Suara Surabaya, Rabu (18/4/2012), Yuhani Haryono Kepala SMA PGRI 4 Tulungagung menegaskan, sebanyak 25 % siswanya memang nyambi sebagai pekerja. Tahun ini, sekolah yang masih nebeng di sebuah sekolah negeri ini, sebanyak 52 siswanya UN. (dwi/edy)

Sumber: suarasurabaya.net | 18 April 2012
Rabu, 18 April 2012 | 0 komentar

Di Jatim, Ada Posko Pengaduan UN 2012

Sabtu, 14 April 2012 | 17.23.00 | 0 komentar

SURABAYA - Sebanyak 26 jaringan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) se-Jawa Timur membuka Posko Pengaduan Ujian Nasional (UN) 2012. Posko untuk menampung semua permasalahan yang dihadapi siswa terkait pelaksanaan UN, khususnya mereka yang dilarang ikut karena hamil.

Posko Pengaduan UN 2012 berpusat di kantor Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim di Jalan Bendul Merisi No 2 Surabaya. Jaringannya tersebar di 26 kantor LSM di sejumlah Kabupaten/kota seperti di Surabaya, Kediri (SUAR), Lamongan (SPMAA), Gresik (PPT), Tulungagung (LPA), Jember (Rumah Perempuan), Malang (LPKP, WCC Dian Mutiara), dan Jombang (LPA).

''Kabupaten/kota yang kebetulan belum ada, dapat menghubungi atau datang ke posko di kabupaten/kota terdekat,'' kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur, Sinung D Kristanto, Sabtu (14/4/2012).

Pendirian Posko tersebut kata Sinung merespon keresahan masyarakat terkait kebijakan tidak tertulis tentang pelarangan siswi hamil untuk ikut UN 2012. ''Kami menyediakan layanan advokasi gratis bagi siswi yang dilarang ikut UN karena hamil,'' tegasnya.

Jaringan LSM Peduli Pendidikan Anak Jawa Timur tersebut sepakat menolak pelarangan siswi hamil mengikuti UN seperti yang ditegaskan Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Harun, beberapa saat menjelang pelaksanaan UN Senin (16/4/2012) depan. Menurut mereka, melarang siswi hamil ikut adalah tindakan diskriminasi yang seharusnya tidak boleh ada dalam pelaksanaan pendidikan bagi semua warga di negara ini, sekaligus bertentangan dengan UU Perlindungan Anak. Larangan siswi hamil mengikuti UN juga dianggap melanggar HAM dan hak anak yang harusnya dilindungi dan dijamin oleh negara.

''Hak atas pendidikan itu termasuk juga ikut UN, dan hak itu melekat pada anak dalam kondisi apapun,'' jelas Sinung.

Sumber: KOMPAS.com | Sabtu, 14 April 2012
Sabtu, 14 April 2012 | 0 komentar

Di Tulungagung, Siswi Hamil Boleh Ikut Ujian Nasional

Tulungagung - Dinas Pendidikan Tulungagung, Jawa Timur, memperbolehkan siswi yang sedang dalam keadaan hamil mengikuti ujian nasional. Sebab tidak ada satu pun aturan yang memuat larangan itu.

Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Tulungagung, Maryaji, mengatakan aturan tertulis pelaksanaan ujian nasional hanya mencantumkan nomor nominasi tetap sebagai prasyarat ujian. "Tak ada klausul soal hamil," katanya, Jumat, 13 April 2012.

Menurut Maryaji, polemik soal siswi hamil boleh mengikuti ujian nasional atau tidak hingga kini menjadi penafsiran yang berbeda. Dinas Pendidikan Tulungagung juga tak bisa membuat aturan khusus selain mengacu pada regulasi yang ada. Karena syarat yang dibutuhkan hanya nomor ujian, maka siapa pun pemegang nomor ujian berhak mengikuti ujian tanpa kecuali.

Kehamilan seorang siswi, menurut Maryaji, merupakan penilaian norma di luar akademik. Hal itu menjadi pertimbangan sendiri bagi sekolah untuk menentukan kelulusan siswa. "Namun tidak terkait unas," ujar Maryaji.

Ketua Dewan Pendidikan Tulungagung, Supriono, berpendapat sama. Menurut Supriono, selama aturan normatif tidak mengatur kehamilan, maka tak ada yang melarang siapa pun mengikuti ujian. Penafsiran ini cukup pas untuk menentukan sikap jika terjadi polemik tersebut. "Kalau aturan normatifnya hanya nomor ujian, ya itu saja," ucapnya.

Supriono yang juga anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Tulungagung menambahkan, pihaknya sudah melakukan rapat untuk membahas aturan itu dengan Dinas Pendidikan. Mereka bersepakat tak akan membuat aturan yang keluar dari koridor regulasi yang ada.

HARI TRI WASONO

Sumber: TEMPO.CO | Jum'at, 13 April 2012
| 0 komentar

Hasil Ujian Nasional SMP/MTs Jatim: Surabaya Dikalahkan Daerah Pinggiran

Kamis, 02 Juni 2011 | 17.23.00 | 1 komentar

Surabaya - Kota Surabaya hanya berada pada peringkat ketujuh rerata tertinggi hasil Ujian Nasional (UN) Jawa Timur dengan rerata nilai 32,43. Kabupaten Lamongan yang tempati posisi puncak dengan rerata nilai 33,57, diikuti Kabupaten Sidoarjo (33,52), Kabupaten Gresik (33,20), Kabupaten Pamekasan (32,92), Kabupaten Tulungagung (32,71), dan Kabupaten Sumenep (32,59).

Dilihat dari peringkat 10 besar sekolah dengan nilai UN tertinggi di Jawa Timur, tidak ada satupun sekolah di Surabaya yang masuk di dalamnya. Adapun sekolah yang masuk 5 besar hasil UN tertinggi di Jatim adalah : SMPN 2 Lamongan (36,29), SMPN 1 Taman (36,23), SMPN 1 Lumajang (36,17), SMPN 1 Madiun (35,97), dan SMP Muhammadiyah 25 Boarding School Lamongan (35,82).

Kota Surabaya hanya mampu menyumbangkan satu pelajarnya masuk 5 besar siswa dengan hasil UN tertinggi di Jawa Timur, yakni Fernaldy Frumentius Sutandyo dari SMP Kristen Petra 3 dengan nilai UN 38,40. Dia peroleh peringkat ketiga, di bawah Anas Jatikusuma dari SMPN 1 Tuban dengan hasil UN 39,10 dan Dwi Lia Oktaviana dari SMPN 3 Jombang dengan nilai UN 38,60.

SAHUDI Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya pada suarasurabaya.net menyatakan tidak mempermasalahkan hasil UN yang menempatkan Surabaya di bawah kabupaten-kabupaten ’pinggiran’

Menurut SAHUDI, pendidikan tidak hanya dinilai dari segi akademis. Minimal ada 2 faktor lain dalam pendidikan yang juga harus diperhatikan, yakni ketrampilan dan karakter.

”Inilah fakta pendidikan di kota metropolitan seperti di Surabaya. Dalam kebijakan pendidikan yang sudah diotonomikan, tiap daerah punya kebijakan tersendiri dan saling bersaing untuk mencapai yang terbaik. Kami di Surabaya lebih menitikberatkan pada pembangunan karakter, terutama kejujuran,” kata dia.

Di bidang ketrampilan misalnya seni dan olahraga, Surabaya terbukti lebih unggul dibandingkan daerah lainnya di kegiatan Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) Jatim. Begitu juga di bidang seni, sejumlah sekolah di Surabaya sudah unjuk kebolehan bahkan sampai tingkat nasional.

Dibandingkan tahun lalu yang hanya berada di peringkat ke-14, kata Sahudi, posisi Surabaya sekarang lebih baik. Namun ditegaskannya, hasil ini akan menjadi evaluasi jajarannya untuk diperbaiki di tahun mendatang.

Sementara itu Harun Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur mengatakan hasil evaluasi UN Jawa Timur ini tidak dimaksud untuk membandingkan kabupaten/kota satu dengan lainnya karena dari hasil ini terlihat bahwa distribusi hasil nilai UN di Jawa Timur sudah merata, tidak lagi didominasi kota-kota besar.(edy)

Sumber: suarasurabaya.net
Kamis, 02 Juni 2011 | 1 komentar

Kelulusan SMA/SMK/MA Tulungagung Capai 99,99 Persen

Jumat, 20 Mei 2011 | 08.57.00 | 0 komentar

Tulungagung - Tingkat kelulusan siswa SMA/SMK/MA di Kabupaten Tulungagung tahun ini mencapai 99,99 persen.

Akumulasi hasil rekapitulasi tingkat kelulusan di seluruh lembaga pendidikan tingkat SLTA tersebut, disampaikan Kepala Bidang Pendidikan Menengah pada Dinas Pendidikan Tulungagung, Marjadji, Kamis.

"Secara keseluruhan tingkat kelulusan tahun ini boleh dibilang hampir 100 persen," kata Marjadji dengan nada bangga.

Sebagaimana data peserta ujian nasional (UN) tahun ajaran 2010-2011 tercatat sebanyak 8.592 siswa. Rinciannya, peserta UN SMA sebanyak 3.728 siswa, SMK sebanyak 3.760 siswa, dan MA sebanyak 1.104 siswa.

Dari jumlah tersebut, siswa yang akhirnya dinyatakan tidak lulus UN "hanya" ada tiga orang siswa, yakni masing-masing satu siswa dari kelompok SMA, SMK, serta MA.

Meskipun begitu, diakui Marjadji hasil UN tingkat SLTA sederajat itu belum sepenuhnya tuntas. Hal ini dikarenakan masih ada lima siswa yang nilai UN-nya belum muncul.

Kelima siswa yang saat ini masih menunggu hasil koreksi lanjutan yang dilakukan jajaran Dinas Pendidikan Provinsi Jatim "Kami sedang mengurusnya ke Surabaya," ujarnya memastikan.

Meski belum mengetahui hasil akhir nilai UN kelima siswa tersebut, Marjadji tetap optimistis mereka lulus semua. Ia berdalih, belum munculnya hasil UN kelima siswa tersebut lebih dikarenakan adanya kesalahan pada sistem pemindai lembara jawaban soal.

"Kebanyakan nilai (UN) yang belum muncul hanya satu atau dua mata pelajaran, lainnya sudah keluar dengan hasil cukup bagus. Jadi kami tetap optimistis mereka lulus," tandasnya yakin.

Pengumuman Keluluasan SMA/SMK dan MA di Tulungagung tahun ini secara umum sangat kondusif. Hanya ada beberapa siswa yang mendatangi sekolah untuk melihat papan pengumuman.

Bahkan di SMA Negeri 1 Kauman Tulungagung, pada hari pengumuman kelulusan, tidak satupun murid yang hadir di sekolah. Hal ini karena sekolah tersebut dalam mengumumkan kelulusan mengunakan sistem kurir, yaitu melakukan pengumuman kelulusan melalui kurir ke rumah siswa yang tidak lulus hingga batas waktu tertentu.

Pasca pengumuman hasil UN memang sempat muncul arak-arakan siswa mengenakan seragam sekolah. Namun polisi telah mengantisipasinya sehingga ketertiban lalu-lintas bisa dikendalikan.

Sebanyak 15 pelajar bahkan sempat ditilang karena tidak mengenakan helem pengaman ataupun karena dianggap mengganggu arus lalu-lintas di jalan raya Kota Tulungagung.

Sementara itu, hasil nilai ujian nasional (NUN) tingkat SMA tahun ini kembali ajang
"persaingan" antardua sekolah bergengsi di Kota Marmer, yakni antara SMA Negeri 1 Boyolangu (SMABoy) dan SMA Negeri 1 Kedungwaru (Smariduta).

Hasil rekapitulasi dinas pendidikan setempat, untuk nilai rata-rata tertinggi jurusan IPA diraih SMA Negeri 1 Kedungwaru dengan NUN rata-rata 57,00.

Sedangkan untuk nilai rata-rata tertinggi jurusan IPS diraih SMA Negeri 1 Boyolangu dengan NUN rata-rata 54,00. "Khusus untuk hasil NUN tertinggi perorangan paling banyak diraih SMABoy baik untuk jurusan IPA maupun IPS," paparnya menjelaskan hasil UN se-Tulungagung.

Sumber: ANTARA
Jumat, 20 Mei 2011 | 0 komentar

Nilai UN 20 Siswa SMA/MA/SMK di Jatim Masih Bermasalah

Kamis, 19 Mei 2011 | 03.17.00 | 0 komentar

Surabaya - Sebanyak 13 hasil Ujian Nasional SMA/MA 2011 di Jawa Timur masih bermasalah. Sebagian besar karena nilai mata pelajaran yang tidak muncul atau nol. Sementara untuk tingkat SMK, nilai UN beberapa mata pelajaran 7 orang siswa juga dinyatakan nol.

Seperti yang dialami NURO ILMANIA siswa program studi IPS dari MA Asy-Syafi’iyah Tangulangin Sidoarjo yang nilai UN Bahasa Indonesianya tidak muncul. Selain itu ada juga siswa dari SMAN 1 Paciran Kabupaten lamongan, SMAN 1 Kedungpring Kabupaten Lamongan, SMAN 1 Jogorogo Kabupaten Ngawi, SMA Veteran Kejotangan Kabupaten Tulungagung, MA Al-Karomah Kabupaten Sumenep, MA Al Muslihun Tlogo Kanigoro Kabupaten Blitar, MA 2 Probolinggo Kota Probolinggo dan SMAN Jogorogo Kabupaten Ngawi dan 4 orang siswa SMA Jendral Sudirman Kabupaten Lumajang.

HARUN Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur mengatakan semula ada 24 hasil UN SMA/MA 2011 yang bermasalah. Tapi, 11 diantaranya sudah ditangani dan terselesaikan. Hampir semua masalah hasil UN karena nilai mata pelajaran yang tidak muncul atau nol.

Menurut HARUN, hal itu disebabkan kesalahan siswa yang bersangkutan. “Itu karena dia tidak mengisi kode program studi atau salah mengisi. Akibatnya, mesin scanner tidak mau membaca lembar jawaban. Sehingga nilainya tidak keluar.

“Tinggal 13 siswa yang belum terselesaikan, kita koordinasikan dengan Unair, ITS dan Unesa (perguruan tinggi negeri yang melakukan scanning, red) dan dibawa ke Puspendik Jakarta,” kata HARUN dalam konferensi pers di Kantor Dinas Pendidikan Jatim, Rabu (18/05).

Sementara itu, untuk kasus SMK dialami siswa dari SMK Budi Utomo Prambon Kabupaten Sidoarjo, SMK PGRI 3 Kota Kediri, SMKN 3 Kabupaten Jombang, SMK Telkom Darul Ulum Kabupaten Jombang, SMK Kepanjen Kabupaten Malang, SMK PGRI 3 Walikukun Kabupaten Ngawi dan SMK PGRI 3 Kabupaten Blitar. Masalahnya pun sama dengan kasus SMA/MA. Adapun kasus siswa SMK PGRI 3 Blitar, nilai matematikanya tidak muncul, kemungkinan tertukar dengan no peserta lain yang tidak ikut UN tapi nilainya keluar.

Pihak Dinas Pendidikan Jatim sudah berkoordinasi dengan perguruan tinggi yang melakukan proses scanner lembar jawaban UN. Sedangkan kasus 28 siswa SMKN 5 Surabaya yang nilainya kosong, karena memang siswa yang bersangkutan tidak naik kelas. Untuk SMKN 5 Surabaya, waktu pendidikannya memang ditempuh 4 tahun. Para siswa yang dinyatakan tidak naik kelas, sudah mengikuti UN dan lulus. Tapi karena nilai sekolahnya tidak memenuhi syarat maka harus mengulang kelas 3 di tahun pelajaran 2011-2012 (penentuan kelulusan terdiri dari 60 persen UN dan 40 persen Ujian Sekolah).

HARUN menampik jika masalah tidak keluarnya nilai karena kesalahan sistem penilaian UN. Menurutnya, dari sekian juta siswa SMA/MA/SMK yang mengikuti UN di Jawa Timur, hanya ada 31 masalah yang ditemukan. Ini berarti kesalahan ada pada siswa tersebut, ujar HARUN.(git)

Sumber: suarasurabaya.net



Kamis, 19 Mei 2011 | 0 komentar

UN SMA di Jatim Bingungkan Wartawan

Jumat, 22 April 2011 | 23.40.00 | 0 komentar

Surabaya - Ujian nasional (UN) tingkat SMA dan sederajat pada 18-21 April di Jawa Timur membingungkan wartawan, karena pelaksanaannya cukup aman dan lancar.

"Ya, pelaksanaan UN tidak ada masalah yang signifikan, sehingga wartawan hanya menulis peserta yang sakit atau terlambat," kata koordinator pengawas UN dari PTN Jatim, Muchlas Samani, kepada ANTARA di Surabaya, Jumat.

Hal itu diakui seorang wartawan dari sebuah harian lokal di Surabaya. "Iya, pelaksanaannya cukup lancar, jadi saya bingung, saya mau nulis apa, lhawong semuanya lancar jaya," katanya, tersenyum.

Menurut Prof Muchlas Samani yang juga Rektor Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu, kejadian yang menonjol selama pelaksanaan UN hampir tidak ada.

"Yang ada hanya soal UN yang kurang dan tertukar, tapi sudah terantisipasi dengan soal cadangan," katanya.

Selain itu, ada juga peserta UN yang sakit dan terlambat, tapi hal itu tidak mempengaruhi pelaksanaan UN, karena mereka yang sakit ada UN susulan.

"Di Jombang sempat ada seorang peserta UN yang membawa HP ke ruang ujian, tapi peserta itu akhirnya mendapat teguran keras dan HP-nya pun dirampas pengawas," katanya.

Hal yang justru membingungkan pengawas adalah peserta di Madura.

"Itu karena hampir sebagian besar peserta sudah selesai mengerjakan soal UN pada hari ketiga sebelum waktu habis, sehingga pengawas meminta mereka tetap berdiam di dalam kelas dan akhirnya ada yang tertidur," katanya.

Tentang proses pemindaian ("scanning") Lembar Jawaban Ujian Nasional (LJUN) UN, ia menjelaskan tiga PTN terlibat dalam proses pemindaian secara ketat.

Ketiga PTN adalah Universitas Airlangga (Unair), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

"Mereka mentargetkan bahwa proses pemindaian LJUN akan dapat terselesaikan pada 3 Mei mendatang. Setiap selesai ujian langsung dikirim ke kami, sehingga proses pemindaian berjalan cepat," katanya.

Ia menambahkan bila proses pemindaian selesai, maka hasilnya akan dibawa ke Badan Nasional Standardisasi Pendidikan (BNSP) di Jakarta.

Sumber: ANTARA
Jumat, 22 April 2011 | 0 komentar

Mengintip Upaya SMPN Tulungagung Pertahankan Prestasi Nasional

Minggu, 17 April 2011 | 20.23.00 | 0 komentar

Tulungagung- Setelah dua kali berturut-turut meraih predikat sekolah terbaik nasional berdasar nilai rata-rata ujian nasional (NUN) tahun 2009 dan 2010, SMPN 1 Tulungagung, Jawa Timur, sebenarnya tidak mau terlalu "terbebani" untuk meraih hasil capaian yang sama pada tahun ini.

Sinyalemen itu, meski tidak secara eksplisit, disampaikan Kepala SMPN 1 Tulungagung, Hariyanto Suminarso, dalam sebuah kesempatan bincang-bincang dengan ANTARA.

Ia tentu tak mengatakan sekolah yang dipimpinnya kehilangan motivasi untuk bersaing dengan sekolah-sekolah lain se-Indonesia untuk menjadi yang terbaik.

Hariyanto berdalih, fokus serta prioritas mereka dalam menghadapi ujian nasional (UN) tahun ini adalah mempertahankan nilai rata-rata NUN minimal 9,00, syukur-syukur jika bisa diatasnya atau bahkan lebih tinggi dibanding capaian tahun lalu.

"Secara kualitas, 'input' siswa (kelas IX) generasi sekarang berbeda dengan tahun lalu ataupun sebelumnya. Kami hanya ingin bersikap realistis, dan tidak ingin membebani siswa dengan capaian prestasi kolektif," ujarnya sedikit berargumentasi.

Menilik tutur bicaranya yang tidak mau muluk dalam mempertahankan prestasi nasional, sepertinya pernyataan mantan Kepala SMPN 3 Tulungagung ini lebih dimaksudkan untuk "merendah".

Kesan sangat wajar dan bisa dimaklumi. Sebab, Hariyanto belum lama menjabat sebagai Kepala SMPN 1 Tulungagung. Guru senior yang dikenal tegas dan memiliki disiplin tinggi ini baru sekitar tiga bulanan menjadi nahkoda lembaga pendidikan sekolah berstatus rintisan sekolah berstandar nasional (RSBI) tersebut.

Kontroversi yang mengiringi proses mutasi berbau politis waktu itu, tentu saja membuat Hariyanto bersikap ekstrahati-hati. Terlebih selama beberapa pekan terakhir beredar rumor yang menyebut bahwa dana "block grant" untuk program RSBI tahun 2011 senilai Rp1,3 miliar batal digelontorkan oleh Pemerintah Pusat.

Tetapi, kontroversi seputar pergeseran jabatan ini segera disanggah Hariyanto dengan bahasa yang halus. Ia berdalih, meningkatkan prestasi siswa secara keseluruhan jauh lebih penting daripada tujuan prestise menjadi nomor satu (1) di antara sekolah-sekolah lain di Jawa Timur maupun seluruh Indonesia.

"Kalau hasil ujian (UN) siswa bagus atau bahkan lebih bagus dibanding sebelumnya, tentu prestasi akan mengiringi," tuturnya, tetap tak mau mematok target terlalu muluk.

Dengan gaya bicaranya yang tenang namun pasti, Hariyanto mengaku tetap optimistis. Keyakinannya bahwa SMPN 1 Tulungagung akan mendapat hasil maksimal tidak lepas dari berbagai program kegiatan akademis "ekstra" yang mereka terapkan dalam rangka mengasah kemampuan siswa "menaklukkan" berbagai macam soal dalam proyeksi ujian nasional, 25-28 April nanti.

Salah satu program peningkatan kapasitas akademik siswa tersebut di antaranya adalah uji coba atau "try out" UN yang telah berlangsung sebanyak tujuh kali, sejak awal semester II atau sekitar November 2010 lalu.

Hasilnya cukup memuaskan. Meski grafik pada sejumlah mata pelajaran terlihat fluktuatif dari satu uji coba ke uji coba berikutnya, secara keseluruhan terus menunjukkan grafik peningkatan. Materi soal matematika dan IPA, misalnya, pada uji coba pertama yang dilakukan SMPN 1 Tulungagung bekerja sama dengan salah satu lembaga bimbingan belajar, masing-masing mendapat nilai rata-rata 73,9 dan 54,6.

Hasil uji coba selanjutnya, nilai rata-rata siswa terus membaik, kecuali pada kegiatan pengerjaan latihan soal kisi-kisi UN periode ke-4 dan 6 dimana hasil "try out" mata pelajaran matematika sedikit menurun.

"Pada 'try out' pertama hasilnya memang kurang bagus karena saat itu belum semua materi pelajaran dituntaskan melalui jam pelajaran normal. Maklum, saat itu baru awal semester genap (II)," kilah Humas SMPN 1 Tulungagung, Bambang Purwito, membela diri.

Selain itu, lanjut dia, materi soal yang diberikan saat uji coba latihan soal di sekolah biasanya memang dibuatkan lebih sulit dibanding materi UN sebenarnya. Standar soal yang diberikan saat uji coba latihan soal di internal sekolah dengan UN yang berskala umum jauh berbeda. Soal-soal UN diyakini lebih mudah karena parameternya adalah seluruh siswa di Indonesia, baik di kota, pelosok, maupun pedalaman.

"Kecenderungan grafik hasil 'try out' tahun lalu kurang lebih sama dengan tahun ini. Tapi buktinya, hasil UN kami ternyata meraih rata-rata terbaik nasional, semoga tahun ini juga (berprestasi)," cetus salah seorang guru mata pelajaran Bahasa Inggris, Leni Agustini.

Klinik
Upaya lain yang menandai betapa seriusnya SMPN 1 Tulungagung dalam membina para anak didiknya agar siap menghadapi UN adalah melalui klinik "upper-lowwer".

Klinik ini ditujukan untuk para siswa yang nilai akademisnya berada di urutan paling bawah di antara teman-teman sekelas ("lowwer") atau sebaliknya berada di urutan paling tinggi dibanding yang lain ("upper").

Untuk klinik yang disebut kedua (terakhir), pihak sekolah mengambil lima siswa peraih nilai tertinggi untuk setiap mata pelajaran yang di ujikan dalam UN.

Sedangkan klinik untuk kategori pertama ("lowwer"), pihak sekolah menentukan berdasar kebutuhan siswa. "Hanya siswa yang nilai akademisnya ("try out") masih kurang yang kami beri pelajaran ekstra di luar jam pelajaran reguler maupun tambahan (pendalaman)," terang Hariyanto.

Klinik khusus inilah yang selama ini mujarab dalam mendongkrak raihan nilai rata-rata UN pada tahun-tahun sebelumnya. Pada kelompok kelas klinik "lowwer", pihak sekolah berharap para siswa yang mendapat bimbingan khusus ini bisa menyelesaikan soal-soal rumit pada pelajaran tertentu yang mereka anggap sulit.

Sedangkan untuk program "upper", target yang ingin dicapai adalah memaksimalkan hasil NUN sehingga bisa meraih prestasi, baik secara individu di tingkat kabupaten, provinsi, maupun nasional.

"Kami menerapkan program 'upper-lowwer' ini setiap hari setelah jam pelajaran reguler maupun tambahan, yakni pada hari Senin hingga Jumat. Masing-masing kami kumpulkan dalam satu kelas untuk setiap mata pelajaran yang dibutuhkan," terangnya.

Usaha SMPN 1 Tulungagung untuk membantu prestasi akademik siswa tidak hanya berhenti di situ. Dalam beberapa kali kesempatan, baik secara formal maupun informal, pihak sekolah juga aktif berkoordinasi dengan orang tua atau wali murid.

Pendekatan secara personal ini terutama diberlakukan bagi siswa yang dinilai bermasalah dengan mata pelajaran tertentu sehingga ditemukan pola penanganan kasus secara komprehensif.

"Mustahil kami bisa membantu prestasi akademis siswa jika tidak mendapat dukungan dari pihak keluarga yang berada di luar sekolah," ujar Leni Agustini sembari memberi beberapa contoh kasus siswanya yang mendapat perhatian khusus.

Spiritualitas Siswa
Terlepas dari itu semua, ketatnya jadwal pendadaran pelajaran serta latihan soal ujian nasional selama hampir setahun penuh tak pelak membuat 394 siswa SMPN 1 Tulunggagung saat ini merasakan motivasi tinggi menghadapi UN, 25-28 April nanti.

Kesan tersebut sangat kuat terlihat setiap jam pelajaran efektif berlangsung, mulai pagi pukul 07.00 WIB hingga jam pelajaran reguler maupun tambahan rampung pukul 16.00 WIB.

Di dalam kelas, saat menunggu guru pelajaran datang, perbincangan para siswa lebih banyak didominasi masalah seputar UN yang jadwalnya kian dekat.

Sebagian juga aktif membuka-buka buku pelajaran dan mengerjakan soal-soal secara mandiri. Memang tidak semua bersikap serius. Sifat kekanak-kanakan mereka kerap muncul di setiap kesempatan waktu istirahat maupun saat menunggu sang guru datang.

"Kami hanya berusaha rileks tapi tetap fokus. Bagaimanapun, semua siswa di sini berdebar menghadapi ujian akhir nanti," ujar Septi, salah satu siswi kelas IX setempat.

Konsentrasi siswa menghadapi ujian akhir tidak hanya terlihat di dalam kelas saja. Di luar kelas, kebanyakan pelajar kelas IX ini ternyata lebih memilih menghabiskan waktu istirahat di mushola sekolah.

Intensitas spiritual itu konon meningkat seiring makin dekatnya jadwal UN. "Anak-anak yang beragama Islam biasanya memang memilih ke mushola dan menjalankan sholat dhuha bersama. Kebiasaan ini sudah berlangsung sejak lama dari generasi ke generasi," kata Leni Agustini.

Guru mata pelajaran Bahasa Inggris yang juga menjabat sebagai wakil kepala sekolah ini mengaku terkesan dengan upaya anak didiknya dalam membangun spiritualitas diri. Apalagi, selain kerap terlihat memadati mushola setiap jam istirahat maupun saat ibadah shalat wajib (dhuhur dan ashar), beberapa siswa mengaku saat ini lebih aktif menjalani ibadah sunah serta shalat malam (tahajud).

"Mereka terlihat bersemangat menghadapi ujian ini. Begitu bersemangatnya sampai-sampai mereka merasa harus membuat hitungan mundur untuk menandai banyaknya hari
menjelang UN dimulai pada 25 April nanti," kata Agustini bangga.

Kini, jadwal yang ditunggu kian dekat dan hanya menyisakan beberapa hari lagi. Meski beberapa latihan soal di dalam kelas masih dilakukan, secara keseluruhan pihak sekolah tidak lagi memforsir energi dan otak anak didiknya terlalu keras.

Sebaliknya, terapi psikologis lebih diintensifkan baik melalui serangkaian kegiatan istighatsah maupun konsultasi secara personal, baik oleh para siswa maupun guru setempat. Soal hasilnya bagaimana, tunggu saja hingga rangkaian UN selesai dan hasilnya diumumkan Mei mendatang.

Bagaimanapun, SMPN 1 Tulungagung masih layak difavoritkan sebagai kandidat peraih predikat sekolah berprestasi untuk kali ketiga secara nasional mengingat hasil "try out" mereka selalu di atas rata-rata 9,00.

Capaian hasil uji coba pada latihan soal UN yang kualitasnya lebih sulit dibandingkan UN sebenarnya ini memunculkan ekspektasi tinggi terhadap nilai rata-rata NUN yang lebih baik atau minimal sama dengan tahun 2010 lalu saat menjadi terbaik nasional, yakni 9,37.

Oleh: Destyan Su

Sumber: Antara Jatim
Minggu, 17 April 2011 | 0 komentar

Wakapolres Tulungagung Marah Pengawasan Soal UN Mengendur

Rabu, 13 April 2011 | 22.06.00 | 0 komentar

Tulungagung - Wakapolres Tulungagung,Kompol Wiyogo Pamungkas, Rabu siang, marah-marah kepada para anak buahnya setelah mengetahui pengamanan soal ujian nasional (UN) untuk siswa SMA/MA/SMK di mapolres setempat mengendur.

Pantauan ANTARA, insiden itu dipicu oleh tidak adanya personel polisi yang menjaga sekaligus mengawasi proses pengelompokan soal salah satu ruang mapolres yang dijadikan tempat penyimpanan sementara 157 kardus naskah UN se-Kabupaten Tulungagung.

"Kenapa tidak ada anggota yang mengawasi? Lalu apa gunanya ada segel ruangan kalau semua bisa keluar-masuk seenaknya?" kata Wakapolres memarahi anak buahnya.

Ia sibuk menginspeksi proses pengelompokan soal UN yang masih tersegel dalam 157 kardus berdasar rayon sekolah yang akan menjadi tempat ujian, 18-21 April mendatang.

Namun saat itu anggotanya tak satu pun terlihat berada di dalam ruang penyimpanan saat sejumlah orang dinas pendidikan yang disebut-sebut sebagai panitia ujian nasional melakukan penataan secara tertutup.

Menyadari pengawasan polisi kendur, perwira melati satu ini lantas anak buahnya yang ditugaskan berjaga di dalam ruangan namun tak kunjung ditemukan.

Namun provos juga tidak mengetahui keberadaan petugas jaga sehingga wakapolres terpaksa mencarinya sendiri hingga ke ruang satuan intelkam.

Bintara dari satuan intel yang bertugas akhirnya ditemukan. Wakapolres sempat mengomel beberapa lama sebelum kemudian memerintahkan anak buahnya itu agar kembali ke ruangan. "Masak harus saya sendiri yang melakukan pengawasan," katanya.

Ia sempat beberapa kali mengingatkan bahwa kepolisian sudah mempunyai komitmen untuk mengamankan kerahasiaan soal UN hingga sampai ke siswa saat hari pelaksanaan.

Pengawasan kepolisian diperlukan bukan karena tidak percaya kepada orang-orang dinas pendidikan, namun demi menjaga komitmen.

"Setan pun tidak boleh masuk di sini kecuali orang-orang yang ada dalam surat perintah," ujar Wiyogo, sembari memerintahkan anak buahnya kembali masuk ke ruang penyimpanan soal UN.

Orang nomor dua di Polres Tulungagung ini kemudian memanggil lagi salah seorang anggota provost setempat dan memerintahkan agar anggota yang dianggap telah lalai dalam melakukan pengawasan soal UN diberi sanksi tegas. "Kalau provos tidak mampu, saya sendiri yang akan menindak," tegasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Seksi Kurikulum Dinas Pendidikan Tulungagung yang juga Panitia Rayon UN setempat, Gusnadi enggan berkomentar banyak mengenai insiden tersebut.

Ia menganggap, tidak adanya anggota kepolisian yang mengawasi langsung saat pengelompokan soal dilakukan bukanlah kesalahan panitia UN.

"Kami hanya menjalankan tugas pengelompokan soal berdasar rayon ujian masing-masing sekolah. Kalau saat itu tidak ada polisi (yang menjaga) itu urusan internal mereka, bukan kesalahan kami," ujarnya.

Seluruh paket naskah yang masih tersegel dalam bok/paket tersebut rencananya baru akan didistribusikan ke polsek-polsek, Sabtu (16/4) atau dua hari sebelum hari "H" ujian nasional (18/4).
Sumber: antarajatim.com
Rabu, 13 April 2011 | 0 komentar

Pengiriman Nilai Sekolah SMA Dibatasi 13 April

Jakarta - Pengiriman nilai sekolah untuk jenjang Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah/Sekolah Menengah Atas Luar Biasa/Sekolah Menengah Kejuruan ke penyelenggara UN tingkat pusat dibatasi hingga 13 April.

"Nilai sekolah akan digabung dengan nilai Ujian Nasional (UN) sebagai nilai akhir untuk menentukan kelulusan," kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan Nasional (KaBalitbang Kemdiknas) Mansyur Ramly dalam jumpa pers pelaksanaan UN 2011 untuk tingkat SLTA, di Jakarta, Rabu.

Ia menyampaikan, sesuai Prosedur Operasi Standar Badan Standar Nasional Pendidikan (POS BSNP), seharusnya batas akhir pengiriman pada 11 April.

Ia menyebutkan, sebanyak 33 provinsi telah mengirimkan nilai sekolah, tetapi tidak semuanya lengkap.

"Saya sudah menyurat atas nama Pak Menteri kepada gubernur dan bupati untuk segera mengirim nilai sekolah paling lambat hari ini," katanya didampingi anggota Badan Standar Nasional Pendidikan Mungin Eddy Wibowo.

Pengiriman nilai sekolah/madrasah dikoordinasikan oleh penyelenggara UN tingkat provinsi dengan menggunakan perangkat lunak dari penyelenggara UN tingkat pusat.

Nilai sekolah/madrasah untuk jenjang Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs) dan SMP Luar Biasa diharapkan sudah diterima oleh penyelenggara UN tingkat pusat paling lambat satu minggu sebelum UN.

Kelulusan UN ditentukan berdasarkan nilai akhir diperoleh dari gabungan nilai UN dan nilai sekolah dari mata pelajaran yang diujikan dengan pembobotan 60:40.

Nilai sekolah diperoleh dari gabungan antara nilai ujian sekolah dan nilai rata-rata rapor masing-masing semester 3, 4, dan 5 untuk SMA/MA/SMALB, dan SMK dengan pembobotan 60:40.

"Pembobotan nilai dilakukan oleh pusat. Sekolah yang tidak menyetor nilai sekolah maka tidak bisa dinilai. Sekolah rugi sendiri tidak ada nilai akhir," ujar Mansyur.

Anggota Badan Standar Nasional Pendidikan Mungin Eddy Wibowo menyampaikan, UN Utama 2010/2011 jenjang Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA) akan dilaksanakan pada 18-21 April 2011 dan UN Susulan pada 25-28 April 2011.

Adapun UN Utama jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan SMA Luar Biasa (SMALB) pada 18-20 April 2011 dan UN Susulan pada 25-27 April 2011.

"UN Susulan ditujukan bagi peserta didik yang tidak bisa mengikuti UN Utama," katanya.

Sementara jadwal UN Utama jenjang Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah/Sekolah Menengah Pertama Luar Biasa (SMP/MTs/SMPLB) pada 25-28 April 2011 dan UN Susulan pada 3-6 Mei 2011. Selanjutnya, jadwal UN Utama jenjang Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah/Sekolah Dasar Luar Biasa (SD/MI/SDLB) pada 10-12 Mei 2011 dan UN Susulan 17-19 Mei 2011.

Adapun mata pelajaran yang diujikan jenjang SMA/MA Program IPA meliputi Bahasa Indonesia, Biologi, Matematika, Bahasa Inggris, Kimia, dan Fisika; Program IPS meliputi Bahasa Indonesia Sosiologi, Matematika, Bahasa Inggris, Geografi, dan Ekonomi; Program Bahasa meliputi Bahasa Indonesia, Sastra Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Sejarah Budaya/Antropologi, dan Bahasa Asing; dan Program Keagamaan meliputi Bahasa Indonesia, Fikih, Matematika, Bahasa Inggris, Hadis, dan Tafsir. Pada jenjang SMK dan SMALB akan diujikan Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris.

Sementara pada jenjang SMP/MTs/SMPLB diujikan Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan Ilmu Pengetahuan Alam, sedangkan pada jenjang SD/MI/SDLB diujikan Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPA.

Jumlah peserta UN masing-masing jenjang SMA/MA/SMK/SMALB sebanyak 2.442.599 peserta dan 25.656 sekolah, jenjang SMP/MTs dan SMPLB 3.716.596 peserta dan 47.369 sekolah, dan jenjang SD/MI/SDLB 4.249.367 peserta dan 163.490 sekolah.
Sumber: antarajatim.com
| 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan