Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pantai. Tampilkan semua postingan

Perahu Bocor, Imigran Timteng Terdampar di Tulungagung

Rabu, 17 Juli 2013 | 04.44.00 | 0 komentar

KEDIRI — Delapan imigran asal Timur Tengah terdampar di Perairan Sine, Tulungagung, Jawa Timur, setelah perahu yang mereka tumpangi bocor, Selasa (16/7/2013).

Kedelapan imigran tersebut terdiri dari dua pria, dua wanita, seorang remaja putri, serta tiga anak balita. Mereka diduga berasal dari Iran yang hendak menuju Pulau Christmas di Australia.

Kepala Polres Tulungagung Ajun Komisaris Besar Polisi Wishnu Hermawan mengatakan, para imigran itu kini diamankan di Polres Tulungagung untuk menjalani pemeriksaaan.

"Dari pemeriksaan awal, diketahui tidak ada dokumen apa pun. Kita juga belum mengetahui jalur asal usul mereka sebelum sampai di Tulungagung ini. Hanya, mereka dari Iran," kata AKBP Wishnu Hermawan.

Wishnu menambahkan, pihaknya juga masih memburu anak buah kapal yang membawa imigran. Tiga ABK itu melarikan diri sesaat sebelum penjemputan di Pantai Sine. Mereka diduga melarikan diri ke arah hutan sekitar pantai.

Wishnu mengatakan, dua imigran dalam keadaan sakit, sementara enam orang lainnya dalam kondisi kesehatan yang baik. Dua orang yang sakit itu kini dirawat di RS Bhayangkara Tulungagung.

Dari pemeriksaan medis terungkap, salah satu imigran tengah hamil muda. "Sedang hamil 2 bulan. Kini kondisinya kita pantau terus," kata Kompol Sumarsono, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Tulungagung.

Kini kepolisian masih terus berkoordinasi dengan pihak Imigrasi untuk menentukan langkah yang akan dilakukan terhadap para imigran itu. Sementara itu, kapal pengangkut itu diamankan dengan penjagaan ketat aparat kepolisian.

Sumber: KOMPAS.com | Selasa, 16 Juli 2013
Rabu, 17 Juli 2013 | 0 komentar

Pengungsi Iran Terdampar di Lepas Pantai Sine

TULUNGAGUNG - Gelombang para pengungsi dari negeri-negeri bergolak ke Australia melalui Indonesia terus terjadi.

Kali ini, giliran 8 pengungsi dari Iran terdampar di lepas Pantai Sine, Desa Sine, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, Selasa (16/7/2013).

Mereka terdiri dari dua pria dewasa, tiga perempuan dewasa dan tiga anak bawah lima tahun (balita).

Hasil pendataan petugas, 8 pengungsi itu adalah Reza (30), Said (40), Sahma (25), Khotim (9), Ali (9), Hana (30), Toha (5) dan Yasin (5).

Seorang nelayan Sine menemukan mereka terombang-ambing di tengah laut. Dugaan semula, kapal kayu yang meruka tumpangi mengalami kerusakan mesin dan lambungnya bocor.

Kepala Polres Tulungagung AKBP Whisnu Hermawan Februanto mengatakan, setelah menerima informasi dari nelayan, satu regu polisi langsung dikerahkan untuk mengevakuasi mereka.

"Sedangkan kapalnya yang mengalami kerusakan saat ini masih coba kami tarik ke tepi pantai," jelasnya.

Menurut dia, awak kapal yang mengangkut para pengungsi itu masih dalam penyelidikan dan diduga saat ini kabur ke wilayah Kecamatan Tanggunggunung, Tulungagung.

"Informasinya, ada tiga orang ABK yang kabur. Mereka sampai saat ini masih dalam pengejaran petugas," katanya. (yul)

Sumber: TRIBUNNEWS.COM | Selasa, 16 Juli 2013
| 0 komentar

Ingin Awet Muda? Mandilah di Pantai Indah Popoh

Selasa, 27 Maret 2012 | 03.25.00 | 1 komentar

SAAT berkunjung ke Taman Wisata Indah Popohati, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, sempatkan waktu menghampiri Pantai Indah Popoh. Tak hanya pemandangannya yang indah, mitos Pantai Indah Popoh pun menarik. Konon, jika membasuh muka dengan air lautnya, Anda bisa awet muda.

Jika ingin merasakan kehebatan ombak laut, berjalanlah di sepanjang jalan setapak sejauh hampir satu kilometer. Pada tebing-tebing karang terdapat goa alam di mana wisatawan bisa menyaksikan lebih dekat ikan paus yang ada di tengah lautan.

Pantai Indah Popoh terletak sekitar 27 km ke arah selatan dari Kota Tulungagung. Di sekitar pantai tersedia tempat-tempat peristirahatan sehingga pengunjung bisa menyaksikan dan memandangi ombak dengan penuh kenyamanan.

Pantai Indah Popoh bisa digapai menggunakan kendaraan pribadi atau kendaraan umum. Rute perjalanan yang dilalui mendaki perbukitan di pegunungan selatan. Selama perjalanan Anda akan disuguhkan dengan pemandangan tebing kapur.

Tepat di bawah puncak bukit menjadi lokasi Pantai Popoh, sebuah pantai alam berbentuk teluk di laut selatan. Letak geografis pantai yang menjorok ke dalam memberikan pengaruh terhadap kondisi lautnya sehingga gelombang laut selatan yang terkenal dahsyat berubah menjadi tenang. (wisatamalang.com/MI/Wrt3)

Sumber: metrotvnews.com | Selasa, 27 Maret 2012
Selasa, 27 Maret 2012 | 1 komentar

Warga Sine Syukuran Labuh Laut

Sabtu, 22 Oktober 2011 | 05.33.00 | 0 komentar

Tulungagung - Banyak cara dilakukan para nelayan dalam mewujudkan rasa syukur mereka terhadap Tuhan Yang Maha Esa, salah satunya adalah para nelayan yang berada di Pantai Sine Desa Kalibatur Kecamatan Kalidawir Tulungagung dan sekitarnya. Di daerah ujung selatan Tulungagung yang sebagaian besar penduduknya menggantungkan mata pencaharian sebagai nelayan ini menggelar upacara adat labuh laut.

Labuh laut yang digelar warga pada bulan Selo setiap tahunnya ini menurut Lamiran, salah seorang tokoh nelayan Sine, sebagai bentuk rasa syukur para nelayan Sine terhadap Tuhan Yang Maha Esa, karena setiap tahun diberi hasil panen ikan yang berlimpah.

"Acara ini ditandai dengan penyebaran berbagai boneka ikan dari bahan dasar tepung yang dibuang para nelayan di sepanjang bibir pantai Sine. Boneka ikan dari tepung yang diberi nama Harip-Harip ini dibuat oleh para nelayan selama semalam, para pembuat boneka juga harus memenuhi syarat khusus di antaranya adalah para lelaki muda yang masih belum menikah (bujangan) selain itu sebelum membuat boneka mereka diharuskan menyucikan diri terlebih dahulu dengan mandi keramas. Untuk tahun ini kegiatan labuh laut dilakukan pada hari Jum'at 21 Oktober 2011," ujarnya.

Sebelum boneka tepung ikan dibuang ke tepi pantai terlebih dahulu digelar selamatan bersama di balai pertemuan yang dipimpin oleh tetua adat nelayan. "Setelah selamatan baru kegiatan larung sesaji labuh laut berupa pembuangan boneka Harip-Harip dilakukan. Labuh laut diiringi dengan kesenian tradisional kuda lumping," imbuh Lamiran pada reporter.

Setelah kegiatan labuh laut selesai acara dilanjutkan dengan pentas wayang krucil dengan lakon tidak berubah dari tahun sebelumnya yaitu Mina Ayapan. (Nug/Humas)

Sumber: tulungagung.go.id | Jum'at, 21 Oktober 2011
Sabtu, 22 Oktober 2011 | 0 komentar

Bantuan Tujuh Kapal Gagal Diwujudkan

Sabtu, 15 Oktober 2011 | 21.30.00 | 0 komentar

SURABAYA — Bantuan sebanyak tujuh kapal senilai Rp 1,5 miliar per unit yang dianggarkan dalam APBD Jawa Timur 2011 gagal diterima oleh sekitar 100 nelayan karena bermasalah dalam proses administrasi tender.

Menurut Ketua Forum Masyarakat Kelautan dan Perikanan (FMKP) Oki Lukito, rencananya ketujuh unit kapal berbobot mati 30 ton akan diterima nelayan Kelompok Usaha Bersama (KUB) di Prigi, Kabupaten Trenggalek, sebanyak 2 unit; Bulu, Kabupaten Tuban 1 unit;, Tamperan, Kabupaten Pacitan 2 unit; Popoh, Kabupaten Tulungagung 1 unit; dan Sumberrejo, Kabupaten Blitar, 1 unit.

Tender ketujuh kapal tersebut sempat diulang dua kali karena munculnya sanggahan dari peserta lelang dan akhirnya dibatalkan karena sisa waktu yang terlalu singkat, hanya tiga bulan. Selain itu, kata Oki, hal itu diprotes karena alat tangkap kapal menggunakan jaring cantrang, yaitu modifikasi dari jaring trawl yang dilarang pemerintah sesuai Permen KP Nomor PER.14/MEN/2008.

Menurut dia, pada tahun 2010, sebanyak 6 KUB di Jatim juga gagal menerima bantuan kapal dari Kementeraian Kelautan dan Perikanan (KKP) karena pemerintah daerah setempat tidak siap. Padahal, kapal tersebut sangat diharapkan oleh nelayan anggota KUB.

"Hal ini menunjukkan Pemprov Jawa Timur setengah hati dan lalai dalam perbaikan ekonomi masyarakat pesisir yang semakin terpuruk didera kemiskinan," kata Oki, Sabtu (15/10/2011) di Surabaya.

Sumber: KOMPAS.com | Sabtu, 15 Oktober 2011
Sabtu, 15 Oktober 2011 | 0 komentar

Membelah Samudera di Pantai Popoh

Sabtu, 08 Oktober 2011 | 18.09.00 | 0 komentar

Tulungagung - Awalnya cukup lelah menempuh perjalanan panjang dari jantung kota di Tulungagung. Namun, akan sirna tatkala indahnya pemandangan bukit dan dataran tinggi mulai terasa saat melintasi jalan sempit berkelok.

Pandangan mata semakin nyaman ketika melihat sebuah keindahan dari atas, tepat di jalur menuju Pantai Popoh, Desa Besulih, di kilometer pertama.

Sama dengan pemandangan dan wisata pantai pada umumnya, hamparan laut dengan deburan kecil ombak menyapa ketika masuk area wisata.

Puluhan perahu nelayan bersandar di tepi pantai. Akar-akar pepohonan yang rindang erat mencengkeram hingga tanah, seolah melebur dalam lalu lalang pengunjung serta nelayan setempat.

Ada yang menjala ikan, berjajar memancing, membetulkan perahu, bahkan ada yang menawarkan wisata perahu bahari. Sedangkan bagi penduduk ibu-ibu setempat, mereka sibuk menawarkan ikan panggang dan ikan asin khas kampung setempat.

"Aktivitas setiap hari memang seperti ini. Nelayan laki-laki mencari ikan, dan yang perempuan berjualan. Banyak juga yang menjual manik-manik atau cendera mata sebagai buah tangan pengunjung," ujar Warsito, salah satu penduduk setempat.

Pantai Popoh ini berbentuk teluk, terletak di jalur laut selatan atau Samudera Indonesia. Tepatnya berada di Desa Besulih, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, sekitar 165 km barat daya Kota Surabaya.

Potensi alam yang ditawarkan di Pantai Popoh mulai terlihat sejak tahun 1980-an, dikelola oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Tulungagung dan ditetapkan dengan nama Pantai Indah Popoh (PIP).

Di salah satu sudut pantai, ada seseorang yang menawarkan jasa wisata perahu bahari. Dengan harga hanya Rp7 ribu, setiap pengunjung diajak berkeliling menuju laut lepas Samudera Indonesia.

"Silahkan Mas, Mbak, hanya Rp7 ribu bisa berlayar di laut lepas. 'Monggo' yang mau menikmati, sekalian berangkat sama-sama," tutur sang nelayan menawarkan jasa perahunya.

Perahunya luas terbuat dari kayu yang panjangnya hampir mencapai 10 meter dan lebar hingga 2-3 meter. Di perahu sudah ada bangku dan bisa menampung 30 penumpang.

"Sudah penuh Pak! ayo berangkat," ucap salah seorang pengunjung asal Surabaya, Martudji.

"Kalau penuh, kita siap berangkat sekarang," sahut sang nelayan bernama Rahmat sambil menarik jangkar.

Awalnya hanya mengitari puluhan perahu-perahu nelayan yang "terparkir" tak beraturan dan menyisiri sisi pantai. Hamparan pantai pasir putih merupakan pemandangan yang pertama kali terlihat. Bukit-bukit hijau masih sangat tampak jelas di sekeliling.

Pengunjung juga mendapat suguhan memandangi Pantai Sidem dan Terowongan Niyama, keduanya berada di sebelah barat Pantai Popoh. Belum lagi memandangi bukit-bukit pegunungan batu marmer.

Namun, ketika sang pengemudi perahu membelokkan perahunya, tampaklah hamparan laut lepas sangat luas. Ombaknya mulai terasa, perahu pun seolah terombang-ambing dengan gelombang yang mulai besar.

"Waduh, tambah jauh tambah besar ombaknya. Kalau tidak pegangan bisa jatuh ke laut ini," tutur Martudji kembali.

Sang pengemudi meyakinkan kalau perahu sudah dilengkapi dengan "safety" dan diyakini cukup mampu menerjang dan melawan derasnya arus gelombang.

"Tidak apa-apa, semakin lama kita akan merasakan seperti naik turun di atas perahu. Ini adalah laut lepas Samudera Indonesia. Kapan lagi kita bisa naik perahu di samudera," tandas Rahmat menjelaskan dari pengeras suara.

Di saat perahu semakin menengah, angin juga semakin kencang. Sebuah pengalaman yang tak akan terlupa, karena menaiki perahu nelayan berkekuatan mesin sederhana namun bisa membelah samudera.

Sekitar lima kilometer dari bibir pantai, pengemudi perahu membelokkan haluannya. Di sepanjang perjalanan, pengunjung disuguhkan dengan bukit-bukit berbentuk katak. Tak ayal oleh warga setempat dinamai bukit katak.

Di antara perbukitan, ada satu bukit yang sangat indah karena memancarkan air laut menjulang ke atas, mirip saat ikan paus menyemburkan air dari punggungnya. Bukit itulah yang dinamai Bukit Paus.

"Setiap ombak yang menghantam bukit itu akan mengeluarkan air ke atas, seperti air mancur. Tapi kita hanya bisa melihatnya saja, tidak sampai mendekat," ucap Rahmat kembali.

Saat perahu berputar 180 derajat, atau kembali mengarah ke bibir pantai, terlihat berjajar puluhan orang memancing ikan dari atas perbukitan. Ada yang sambil tiduran, ada juga yang sambil membakar ikan hasil memancing.

Suguhan wisata perahu bahari terakhir yakni melintas di antara ratusan perahu. Meski banyak perahu yang bersandar tak beraturan, namun dengan lihai perahu bahari mampu berkelok melewati satu per satu perahu nelayan lainnya.

"Perahu-perahu ini banyak yang dari Madura, datang ke sini untuk mencari ikan. Bentuknya besar dan banyak hiasannya," tandas Rahmat yang sudah sekitar puluhan tahun sebagai nelayan tersebut.

Perjalanan sekitar 10 kilometer menjadikan pengalaman luar biasa. Siapa saja bisa datang dan merasakan rasanya terombang-ambing seolah membelah samudera.

Oleh: Fiqih Arfani

Sumber: antarajatim.com | Jum'at, 07 Okt 2011
Sabtu, 08 Oktober 2011 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan