Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label pagerwojo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pagerwojo. Tampilkan semua postingan

Digeruduk Massa, Bu Camat Pagerwojo Pingsan

Jumat, 21 Mei 2010 | 03.59.00 | 0 komentar

Tulungagung - Di zaman aksi unjuk rasa menjadi trend, agaknya tidak bisa lagi seenaknya mengumpulkan ibu hamil. Jika tidak, bisa-bisa berantakan seperti yang terjadi di Kantor Kecamatan Pagerwojo Kabupaten Tulungagung, Kamis (20/5/2010).

Suasana mencekam terjadi saat ratusan warga Desa Pagerwojo melurug kantor kecamatan. Mereka sebenarnya hanya bermaksud menyampaikan aspirasi agar Camat Agus Siswoyo mencopot kepala desanya, Sunardi, karena diduga telah menghamili istri orang.

Ratusan warga itu datang dengan sepeda motor meraung-raung. Saat bersamaan, di kantor kecamatan sedang berlangsung kegiatan bertajuk “Penyuluhan Ibu Hamil Beresiko Tinggi”. Kegiatan yang dihadiri sekitar 58 ibu hamil ini pun bubar. Mereka lari ketakutan, sebagian bahkan sambil menangis.

Berada di tengah situasi mencekam itu, Ny Agus Siswoyo tak kuasa menahan pedih. Istri camat Pagerwojo ini pingsan dan terpaksa dilarikan dengan ambulan menuju RSUD Dr Iskak.

Hingga menimbulkan akibat sejauh itu, aksi terus berlangsung. “80 Persen warga Desa Pagerwojo menghendaki Kades dicopot, bukan sekedar diberi peringatan tertulis,” ujar Suyatno, seorang anggota Badan Perwakilan Desa (BPD) Desa Pagerwojo.

Aksi di Kantor Kecamatan Pagerwojo itu merupakan aksi kedua, setelah warga tak puas dengan aksi sebelumnya di Kantor Pemkab Tulungagung beberapa waktu lalu. Mereka tidak terima karena Inspektorat Pemkab Tulungagung mengeluarkan surat bernomor 700/791/011/2010 tentang peringatan pertama bagi Kades Pagerwojo Sunardi.

Asisten I Sekkab Tulungagung, Drs Sarwohono, tetap pada pendirian awal bahwa tidak ada yang salah dalam surat yang dikeluarkan inspektorat. “Pemkab Tulungagung dalam hal ini inspektorat telah bersikap sesuai perundangan, utamanya Perda No 2 tahun 2006,” tandasnya.

Dijelaskan, pencopotan Sunardi dari jabatannya bisa terjadi hanya jika yang bersangkutan terbukti bersalah secara pidana atas keputusan pengadilan. Itu artinya, korban perbuatan Kades Sunardi harus melapor terlebih dulu pada polisi agar kasusnya disidangkan. Jika dalam akhir sidang ia diputuskan bersalah, barulah Pemkab Tulungagung bisa mencopotnya dari jabatan kades. (aa/ijo/zonaberita.com)
Jumat, 21 Mei 2010 | 0 komentar

Delapan Rumah Rusak Diterjang Longsor di Tulungagung

Kamis, 06 Mei 2010 | 19.42.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Tanah longsor yang menimpa empat desa yaitu Desa Pagerwojo, Samar, Gambiran, dan Desa Kradenan, Kabupaten Tulungagung, Jatim, mengakibatkan sedikitnya delapan rumah warga rusak berat.

Tulus, warga Desa Samar, Kamis (6/5)Â mengungkapkan musibah tersebut terjadi pada Rabu (5/5) sore. Tebing setinggi 10 meter di belakang rumahnya runtuh dan menimpa rumahnya. "Saya dengan anak-anak sedang berada di rumah karena hujan. Saya tidak tahu, secara tiba-tiba tebing longsor," ucapnya.

Beruntung, lanjut dia, setelah terdengar suara gemuruh, ia dengan angggota keluarga langsung keluar rumah sehingga tidak ada yang terluka.

Selain merusak rumah warga, musibah tanah longsor ini juga menimbun badan jalan. Seperti di Desa Pagerwojo, tanah longsor menimbun badan jalan sepanjang empat meter. Akibatnya, aktivitas warga, baik pendidikan maupun ekonomi terganggu. Terlebih jalan yang menghubungkan antara Kecamatan Pagerwojo dan Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, merupakan jalur satu-satunya ke daerah itu.

Sementara itu Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Tulungagung Maryani mengaku sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk keperluan evakuasi. "Kami sudah koordinasi dengan instansi terkait untuk evakuasi. Selain itu, kami juga sudah mengirimkan bantuan bahan pokok kepada keluarga yang terkena bencana," katanya. Media Indonesia
Kamis, 06 Mei 2010 | 0 komentar

Kantor Bupati Didemo Warga Pagerwojo, Dewan Diunjukrasa Mahasiswa

Senin, 03 Mei 2010 | 19.12.00 | 0 komentar

Tulungagung – Pada saat bersamaan, Senin (3/5/2010), Kantor Bupati dan Gedung DPRD Tulungagung menjadi sasaran pengunjuk rasa dari dua kelompok berbeda dengan tuntutan berbeda pula.

Sedikitnya 300 warga Desa/Kecamatan Pagerwojo mengepung Kantor Bupati di Jl A Yani Timur itu. Mereka menuntut agar Bupati Ir Heru Tjahjono MM mencopot Sunardi dari jabatan Kepala Desa setempat.

Menurut para pengunjuk rasa, ada beberapa alasan mengapa Sunardi harus dicopot dari jabatannya, di antaranya; tidak menjalankan roda pemerintahan desa sesuai visi dan misinya, tidak pernah hadir saat pertemuan lingkungan. Paling fatal, adalah Kades Sunardi mengakui, meski sebelumnya mengelak, telah berselingkuh dengan tetangganya sampai kemudian korban melahirkan.

“Apa mau, warga Pagerwojo dipimpin kepala desa yang doyan selingkuh dan ingkar janji,” teriak salah seorang di antara mereka saat berorasi di atas mobil pick up terbuka.Tentu saja, pertanyaan ini dijawab serempak dengan kata-kata tidak mau oleh pendemo lainnya tak kalah lantangnya.

Menanggapi tuntutan warga Desa Pagerwojo ini, Asisten I Sekkab Pemkab Tulungagung, Drs Sarwohono, coba melakukan dialog dengan perwakilan warga. Setelah berdialog cukup lama, akhirnya disepakati Inspektorat Pemkab akan melakukan pengusutan terhadap kasus perselingkuhan Kades Pagerwojo.

Warga terlihat cukup puas juga dengan hasil dialog. Mereka pun kemudian meninggalkan Kantor Bupati Tulungagung menuju desanya tanpa mampir ke gedung DPRD seperti yang direncanakan semula.

Sementara itu, mahasiswa STAIN Tulungagung yang tergabung dalam Laskar Peduli Pendidikan Indonesia (LPPI) disaat warga Desa Pagerwojo melakukan aksi demo, mereka juga melaukan aksi serupa di Gedung DPRD Tulungagung. Kedatangan para mahasiswa ini untuk merefleksi Hari Pendidikan Nasional.

Koordinator LPPI, Zainul Arifin, menandaskan saat ini telah terjadi apa yang dinamakan kebobrokan pendidikan nasional. “Adanya UN yang seakan menjadi hantu bagi siswa itu merupakan salah satu bobroknya dunia pendidikan kita sekarang,” ujarnya.

Selanjutnya Zainul menyataan keadaan ini diperparah lagi dengan menjamurnya sekolah RSBI. Padahal RSBI hanya mementingkan kompetisi yang sifatnya infrastruktur tanpa mementingkan mutu pendidikan dan membuat kapitalisme pendidikan terbuka lebar.

Sebelumnya, saat melakukan longmarch menuju Gedung DPRD Tulunggaung, massa LPPI sempat melakukan orasi di bundaran TT (Tulungagung Theatre). Di tempat itu mereka juga menyempatkan berorasi menolak kapitalisasi pendidikan dan mafia pendidikan. zonaberita
Senin, 03 Mei 2010 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan