Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Longsor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Longsor. Tampilkan semua postingan

BPBD Tulungagung Kesulitan Evakuasi Longsor di Pagerwojo

Jumat, 17 Februari 2012 | 21.48.00 | 0 komentar

Tulungagung - Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung hingga Jumat siang masih kesulitan mengevakuasi material longsoran yang menutup satu-satunya akses jalan menuju Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo.

Sebagaimana keterangan yang disampaikan Kepala BPBD Tulungagung Agus Purwanto, proses normalisasi area yang mengalami kelongsoran parah akibat ambrolnya tebing salah satu bukit di desa terpencil itu, diperkirakan membutuhkan waktu hingga tiga hari.

"Materialnya terlalu banyak, sementara medannya sangat sulit, sehingga proses evakuasi akan butuh waktu lama," kata Agus saat dikonfirmasi wartawan melalui saluran telepon seluler.

Bencana alam yang melanda kawasan Pagerwojo itu sendiri dilaporkan terjadi pada Jumat dini hari, sekitar pukul 04.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun karena runtuhan bukit menimpa satu-satunya akses jalan menuju desa, puluhan keluarga "terisolasi".

Sebagian warga memang berhasil keluar kampung, namun mereka harus mengambil jalan memutar dengan medan sangat sulit dan jarak tempuh lebih jauh.

"Untuk menuju ke Kota Tulungagung, masyarakat terpaksa melakukan jalan memutar sejauh lima kilometer," terang Agus.

Menurut Agus, sebagian kawasan perbukitan di sepanjang desa memang dalam kondisi labil, sebab, jumlah pepohonan yang berfungsi sebagai penahan air telah habis.

Kondisi itu membuat gerusan air hujan yang turun dengan deras ditambah luapan sungai, dengan mudah meruntuhkan tanah perbukitan. "Sungai ini berada di atas perbukitan. Hujan deras membuat debit air meningkat tajam," terangnya.

Hasil pantauan BPBD, lanjut Agus, selain wilayah Kecamatan Pagerwojo, masih ada empat kecamatan lain yang rawan menjadi ancaman banjir dan longsor, yakni Kecamatan Sendang, Kecamatan Bandung, Kecamatan Besuki dan Kecamatan Kalidawir.

Agus menambahkan, secara geografis semua daerah rawan bencana tersebut berada di dataran tinggi. "Kami mengimbau kepada masyarakat untuk terus mewaspadai, sebab cuaca ekstrem sampai saat ini belum sepenuhnya berlalu," paparnya.(Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 17 Peb 2012
Jumat, 17 Februari 2012 | 0 komentar

Setahun Warga Joho Dihantui Longsor

Selasa, 01 Maret 2011 | 21.53.00 | 0 komentar

Sejak bulan Juni 2010, bukit di Desa Joho, Kecamatan Kalidawir longsor dan menutupi jalan desa. Hingga kini belum ada solusi permanen yang bisa membebaskan warga setempat dari ancaman bahaya longsor. Padahal, kondisi tanah masih sangat labil, ditambah munculnya rekahan baru yang bisa memicu longsor sewaktu-waktu.

Longsor di Desa Joho dipicu amblesnya tanah di puncak bukit yang berada di jalan desa. Material tanah lalu terdorong ke arah jalan utama, dan membuat desa sempat terisolasi antara sebelah timur dan barat longsoran. Namun, delapan bulan berlalu, kon­disi tersebut belum banyak berubah.

Menurut salah satu warga yang rumahnya di sisi jalan desa, Kuseri Widodo (53), hingga kini dirinya masih khawatir sewaktu-waktu terjadi longsor. Sebab, tanah di atas bukit nampak masih sangat labil dan selalu bergerak ke arah jalan. “Hampir setiap malam saya selalu tidur di emperan rumah. Jaga-jaga kalau terjadi longsoran lagi,” ujarnya.

Sedangkan sejak peristiwa ini terjadi, sudah empat rumah penduduk menjadi korban. Mereka terpaksa pindah, atau sekadar mengungsi ke rumah saudaranya. Jalan desa yang menjadi salah satu akses antardesa juga masih belum bisa dilalui dengan lancar.

Kabag Humas Pemkab Tulungagung, Maryani mengakui belum adanya solusi permanen mengatasi longsor di Joho. Pemkab telah menggandeng Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jatim. Pihaknya masih menunggu rekomendasi dari BMKG, untuk solusi terbaik bagi Desa Joho.

Yang bisa dilakukan pemkab saat ini hanya mengeruk setiap material yang menutup jalan, maupun tanah dan bebatuan yang potensi longsor. beberapa pihak swasta telah diizinkan melakukan pengerukan dan mengambil material secara gratis di lokasi.st37

Sumber: Surya
Selasa, 01 Maret 2011 | 0 komentar

Waspadai Tanah Longsor Sekitar Gunung Wilis

Jumat, 25 Februari 2011 | 00.02.00 | 0 komentar

Masyarakat diminta waspadai tanah longsor di Gunung Wilis dampak getaran di beberapa wilayah di sekitarnya.

AMIN WIDODO peneliti Pusat Studi Bencana ITS Surabaya seperti dilaporkan MARTHA reporter Suara Surabaya, Kamis (24/02), mengatakan tanah di sekitar lereng Gunung Wilis sekarang dalam kondisi kritis. Tanah kritis di Gunung Wilis meliputi beberapa wilayah seperti Nganjuk, Tulungagung, Madiun, Ponorogo, Trenggalek sampai Kediri.

Kata AMIN, akibat getaran tanah di Nganjuk terjadi retakan. Ini satu diantara tanda akan terjadi tanah longsor dan warga sekitar harus waspada.

AMIN menjelaskan sebagai bentuk metigasi bencana, Pemkab Nganjuk harus segera lakukan koordinasi. Ukuran getaran yang terjadi di beberapa wilayah sekitar Gunung Wilis harus terukur besaranya sehingga bisa diperkirakan dampak kerusakan yang timbul. (tin)

Sumber: suarasurabaya
Jumat, 25 Februari 2011 | 0 komentar

Longsor Pisahkan Desa Joho Jadi Dua Wilayah

Jumat, 31 Desember 2010 | 14.15.00 | 0 komentar

Seputar Tulungagung – Longsor yang menimpa Dusun Ngampel, Desa Joho, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung menjadikan desa terbelah dua. Material longsor yang menutup satu-satunya jalan utama desa memisahkan warga di sebelah barat dan timur area longsoran.

Menurut salah satu warga RT2, RW5, Sawali (57), longsor tidak sekaligus terjadi secara tiba-tiba. Namun setiap kali hujan, material longsor sedikti demi sedikit turun menutupi jalan. Puncaknya, saat hujan deras 3 hari belakangan jalan akhirnya tertutup total oleh material berupa batu dan lumpur.

Akibat longsor ini, ruas jalan desa sepanjang 200 meter tertutup total. Warga yang berada di sisi timur dan sebelah barat longsoran sama-sama terisolir.

“Yang barat tidak bisa ke timur, yang timur juga tidak bisa ke barat. Karena longsornya berupa lumpur dan batu-batu ukuran besar,” katanya.

Untuk mengatasi kendala transportasi, warga pun lalu membuat jalan kecil di pekarangan rumah warga. Itu pun hanya bisa dilewati 1 sepeda motor. Sedangkan untuk kendaraan roda 4 harus memutar ke desa tetangga.

"Kalau pakau mobil, harus memutar dulu ke desa sebelah yang jaraknya mencapai 1 kilometer,” imbuh Sawali.

Tak hanya jalan yang terputus, namun 60 rumah dalam kondisi bahaya. Rumah-rumah ini berada tepat di bawah bukit, yang saat ini terancam longsor. Salah satunya adalah rumah Sawali. Longsor telah menghantam dapur serta kandang sapi miliknya hingga roboh berantakan.

Pihak desa pun telah meminta 60 rumah yang terindikasi rawan untuk pindah. Namun Sawali mengaku bingung harus pindah ke mana. Sebab selain rumah yang saat ini ditempati, keluarganya tidak punya lokasi lain.

Sementara Humas Pemkab Tulungagung, Maryani menjelaskan, dibutuhkan perhitungan yang matang untuk mengatasi longsor Desa Joho. Sebab jika material yang saat ini menutup jalan disingkirkan, akan memicu longsor susulan dari atas bukit.

“Bisa saja kami mengerahkan alat berat untuk menyingkirkan material yang menutup jalan. Tapi itu akan memicu longsor yang lebih besar dari atas bukit,” terangnya.

Untuk itu, pihak Pemkab masih menunggu perhitungan teknis dari tenaga ahli geologi. Diharapkan daam waktu dekat akan ada solusi untuk menyelamatkan warga Desa Joho dari ancaman bahaya longsor.[vid/ted]
Sumber : beritajatim.com
Jumat, 31 Desember 2010 | 0 komentar

Bukit Retak, Puluhan Rumah Warga Terancam

Jumat, 11 Juni 2010 | 05.20.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Tanah perbukitan yang retak di Desa Joho, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur (Jatim), mengancam sedikitnya 27 rumah warga.

Kepala Desa Joho, Supingi, Kamis (10/6/2010) malam, melaporkan, perbukitan yang retak itu panjangnya mencapai satu kilometer dengan kedalaman 0,5 hingga satu meter.

“Peristiwa ini terjadi sejak tiga pekan lalu. Awalnya hanya ada satu atau dua retakan, namun hingga kini jumlahnya lebih banyak. Terlebih, beberapa hari terakhir curah hujan relatif tinggi sehingga retakan tanah di areal perbukitan semakin meluas,” ungkapnya.

Menurut Supingi, pihaknya sudah meminta warga, terutama yang tinggal di sekitar lokasi tersebut segera meninggalkan rumah karena curah hujan di kawasan pantai selatan Jawa Timur itu masih cukup tinggi sehingga dapat memicu terjadinya bencana banjir dan tanah longsor.

“Kami juga sudah meminta warga membuat kentongan dari bambu. Jika sewaktu-waktu ada kejadian, kentongan tersebut dibunyikan” ucapnya.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Tulungagung Maryani mengaku sudah meminta kepada institusi terkait, seperti Dinas Pekerjaan Umum dan Bakesbangpolinmas untuk segera melakukan antisipasi bencana.

Walaupun kondisi tanah di areal perbukitan tersebut masih belum sepenuhnya turun, pihaknya tetap meminta kepada masyarakat yang berada di lingkungan tersebut agar hati-hati.

“Dengan melakukan antisipasi yang baik, jatuhnya korban jiwa dapat dihindari pada saat bencana itu terjadi,” katanya. SURYA Online
Jumat, 11 Juni 2010 | 0 komentar

Longsor Terjang Rumah Warga

Rabu, 09 Juni 2010 | 05.23.00 | 0 komentar

Tulungagung - Tebing setinggi 10 meter menerjang rumah milit Surat, warga Dusun Beringin, Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (8/6). Akibatnya, bagian teras rumah ambruk diterjang material tanah. Sementara seluruh isi rumah Surat tertimbun tanah hingga ketinggian tiga meter.

Menurut warga, sebelum terjadi musibah longsor, hujan mengguyur wilayah pegunungan cukup deras sejak Senin petang hingga tengah malam. Beruntung, saat kejadian Surat bersama istri dan dua anaknya langsung lari keluar rumah saat terdengar suara gemuruh tanah longsor.

Selain rumah Surat, longsor juga menimpa rumah Juni dan Tarmuji. Bahkan, bongkahan batu besar nyaris menjebol tembok rumah mereka. Warga berharap Pemerintah Kabupaten Tulungagung merelokasi mereka ke tempat yang lebih aman. Namun, pemerintah belum berencana merelokasi warga meski tanah masih cukup labil.

Sementara itu, dibantu TNI, warga terus membersihkan material tanah yang menimbun teras rumah. Sementara di atas tebing tanah sepanjang 30 meter telah amblas sedalam 50 sentimeter sembari muncul rekahan tanah yang rawan longsor. (liputan6.com)
Rabu, 09 Juni 2010 | 0 komentar

Longsor Menghantam Rumah Warga

Jumat, 14 Mei 2010 | 08.09.00 | 0 komentar

Tulungagung - Tebing setinggi delapan meter longsor menimbun rumah seorang warga Desa Ngobalan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, kemarin malam. Longsor terjadi akibat hujan yang mengguyur dari petang hingga tengah malam, sehingga tanah dan batu kapur tebing ambruk menghantam tembok rumah setinggi lima meter.

Saat longsor menerjang, penghuni rumah sedang pergi. Meski tak ada korban jiwa, kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah.

Buat membantu korban, hari ini (13/5), warga bergotong-royong membersihkan timbunan tanah dan reruntuhan bata tembok yang hancur. Warga juga meruntuhkan tebing yang rawan ambruk untuk menghindari longsor susulan. Bahkan di atas tebing, terdapat tiga meter tanah yang sudah retak selebar 30 sentimeter.

Mengingat curah hujan yang masih tinggi kerap mengguyur wilayah Tulungagung, pemerintah setempat mengimbau agar warga khususnya yang berada di pegunungan untuk berhati-hati. Terutama, bila hujan deras mengguyur lebih dari tiga jam, maka rawan terjadi bencana longsor. (PAG/ANS/Liputan6.com)
Jumat, 14 Mei 2010 | 0 komentar

Delapan Rumah Rusak Diterjang Longsor di Tulungagung

Kamis, 06 Mei 2010 | 19.42.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Tanah longsor yang menimpa empat desa yaitu Desa Pagerwojo, Samar, Gambiran, dan Desa Kradenan, Kabupaten Tulungagung, Jatim, mengakibatkan sedikitnya delapan rumah warga rusak berat.

Tulus, warga Desa Samar, Kamis (6/5)Â mengungkapkan musibah tersebut terjadi pada Rabu (5/5) sore. Tebing setinggi 10 meter di belakang rumahnya runtuh dan menimpa rumahnya. "Saya dengan anak-anak sedang berada di rumah karena hujan. Saya tidak tahu, secara tiba-tiba tebing longsor," ucapnya.

Beruntung, lanjut dia, setelah terdengar suara gemuruh, ia dengan angggota keluarga langsung keluar rumah sehingga tidak ada yang terluka.

Selain merusak rumah warga, musibah tanah longsor ini juga menimbun badan jalan. Seperti di Desa Pagerwojo, tanah longsor menimbun badan jalan sepanjang empat meter. Akibatnya, aktivitas warga, baik pendidikan maupun ekonomi terganggu. Terlebih jalan yang menghubungkan antara Kecamatan Pagerwojo dan Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, merupakan jalur satu-satunya ke daerah itu.

Sementara itu Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Tulungagung Maryani mengaku sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk keperluan evakuasi. "Kami sudah koordinasi dengan instansi terkait untuk evakuasi. Selain itu, kami juga sudah mengirimkan bantuan bahan pokok kepada keluarga yang terkena bencana," katanya. Media Indonesia
Kamis, 06 Mei 2010 | 0 komentar

Longsor Mengancam Setelah Tebing Ambrol

Selasa, 27 April 2010 | 17.36.00 | 0 komentar

Blitar - Ambrolnya tebing Sungai Jimbe di jalan utama penghubung Blitar-Tulungagung, mengakibatkan jembatan dan puluhan rumah warga terancam longsor, jika arus sungai deras.

Tebing yang ambrol berada di sebelah barat Jembatan Jimbe, Desa Jimbe, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.

Suwarno, 45, warga yang rumahnya dekat dengan tebing longsor itu mengatakan, ambrolnya tebing sepanjang sekitar 100 meter tersebut, terjadi sekitar seminggu lalu. “Namun tidak ada upaya perbaikan, bahkan kini kalau hujan deras aliran air menggerus tebing di tepi sungai,” ujar Suwarno, Senin (26/4).

Kini kondisi tebing setinggi sekitar 4 meter yang berada di sebelah barat sungai, semakin lebar tergerus arus. Akibatnya puluhan rumah warga yang berada di sepanjang tepi sungai, sewaktu-waktu bisa longsor. “Termasuk gudang milik saya juga bias longsor sewaktu-waktu, jika hujan deras dan airnya terus menggerus tebing yang jaraknya hanya sekitar 2 meter dari perumahan warga,” ungkapnya sambil menunjukkan kondisi tebing yang tergerus air.

Tebing yang ambrol tersebut, merupakan pemecah arus air yang berujung di kaki jembatan. Kini setelah ambrol, kaki jembatan juga ikut tergerus derasnya arus sungai. Bahkan jika diamati, kaki jembatan mulai retak-retak. Padahal jembatan tersebut merupakan jembatan di jalur utama Blitar-Tulungagung, yang setiap hari dilewati kendaraan termasuk bus dan truk.

Penyebab ambrolnya tebing sungai tersebut, menurut Suwarno akibat adanya penambangan pasir yang beroperasi sekitar 200 meter di sebelah utara jembatan dekat Sungai Brantas. “Karena pasirnya terus dikeruk, akibatnya ketika hujan, air dengan deras mengalir menghantam tebing sampai ambrol,” tandasnya.

Warga diungkapkan Suwarno sudah berulang kali melaporkan hal ini ke aparat desa, tapi sampai sekarang tidak ada tanggapan. Sampai akhirnya tebing sungai ambrol, mengancam puluhan rumah warga dan jembatan Jimbe.

Pemkab Blitar melalui Kabag Humas dan Protokol Totok Subihandono ketika dikonfirmasi tentang ancaman serius terhadap permukiman warga di Jimbe mengatakan, pihak Dinas PU Bina Marga dan Pengairan akan melakukan pengecekan ke lokasi. Kemudian secepatnya akan memperbaikinya. “Untuk sementara, mungkin akan dipasang bronjong (jaring kawat) dulu sampai dilakukan perbaikan, agar kondisi tebing yang tergerus tidak semakin parah,” kata Totok.

Sumber: Surya Online
Selasa, 27 April 2010 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan