Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bencana. Tampilkan semua postingan

Puting Beliung Terjang Dua Desa di Tulungagung

Sabtu, 14 Februari 2015 | 01.15.00 | 1 komentar

Tulungagung - Belasan rumah warga dua desa di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur rusak parah akibat diterjang angin puting beliung yang melanda kawasan tersebut saat turun hujan, Jumat sore sekitar pukul 15.00 WIB.

Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun 15 unit rumah, satu bangunan masjid dan sebuah tembok pabrik mi mengalami kerusakan.

"Kondisi yang paling parah tejadi di Desa Plosokandang, Kecamatan Kedungwaru. Angin bertiup kencang mengakibatkan tembok sebuah pabrik mi di desa tersebut roboh dan menimpa lima rumah warga lainnya," ungkap Juli (52), salah satu korban yang bangunan kandang ternaknya ikut ambruk total tertimpa tembok pabrik.

Selain menerjang Desa Plosokandang, angin puting beliung juga sempat bergerak hingga di Desa Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu dan menyebabkan sedikitnya 11 atap bangunan porak-poranda.

Belum diketahui kerugian akibat bencana lokal tersebut. Kepala Desa Plosokandang, Sunari yang daerahnya mengalami kerusakan paling parah akibat robohnya sejumlah bangunan warga, memgaku sudah melaporkan kejadian tersebut ke Badan Penanggulanan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

"Untuk tafsir kerugian masih dilakukan penghitungan, dan kejadian ini sudah kami laporkan ke pihak BPBD," ujarnya.

Ia memastikan, pihaknya akan memfasilitasi warga untuk berdialog dengan pemilik pabrik mi Cap Nyonya untuk mendapatkan ganti rugi.

"Warga berharap ada sedikit ganti ruigi dari pihak pabrik nanti akan kita fasilitasi," terangnya
Beberapa saksi mata dan korban yang rumahnya ikut roboh atau rusak menuturkan, saat kejadian beberapa dari mereka berada di teras depan rumah.

Menurut warga, saat itu hujan turun tidak begitu deras, namun angin betiup kencang dan berputar. Tidak lama kemudian ada suara gemuruh seperti robohnya tembok.

Juli, salah satu korban yang saat itu telah siaga mengantisipasi puting beliung, segera berlari ke belakang rumah dan melihat dinding pabrik mi roboh menimpa kandang ternaknya.

"Saya beruntung bisa menyelamatkan beberapa hewan ternak saya," ujarnya. (Ant)

Sumber: Antara Jatim | Jumat, 13/02/2015
Sabtu, 14 Februari 2015 | 1 komentar

Puting-Beliung Ancam Daerah Dataran Rendah Tulungagung

Kamis, 08 November 2012 | 03.00.00 | 0 komentar

Tulungagung - Sejumlah pemukiman yang berada di daerah dataran rendah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur rawan bencana puting-beliung, terutama selama masa pergantian musim (pancaroba) hingga datangnya musim hujan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung, Joko Purwanto, Rabu mengungkapkan, pihaknya saat ini tengah meningkatkan kesiagaan seiring keluarnya peringatan dari BMKG terkait potensi bencana angin kencang (puting beliung) di kawasan pesisir selatan.

"Bencana satu ini sulit diprediksi karena peristiwanya yang sangat cepat dan bisa terjadi dimana saja karena adanya perbedaan tekanan udara yang sangat ekstrem di satu daerah tertentu," ujarnya.

Beberapa daerah yang menjadi pusat perhatian dan kesiagaan terutama dikonsentrasikan di daerah dataran rendah, seperti di Kecamatan Pakel, Sumbergempol, Boyolangu, Ngunut, serta sebagian wilayah kota (Tulungagung).

Di empat daerah dataran tersebut, bencana puting-beliung hampir setiap tahun terjadi dengan lokasi berpindah-pindah.

Selain merobohkan pohon-pohon dan merusak bangunan yang dilaluinya, angin kencang dan berputar yang oleh orang Jawa akrab disebut leysus tersebut tidak jarang menyebabkan korban jiwa.

Terakhir bencana puting beliung melanda pemukiman penduduk Desa Doroampel dan Wonorejo, Kecamatan Sumbergempol, (18/5/2012). Saat itu seorang balita tewas dan dua lainnya luka-luka.

Tidak ada data resmi yang mencatat rentetan peristiwa puting beliung di Kabupaten Tulungagung.

Namun pihak BPBD mengkonfirmasi bahwa beberapa daerah dataran di wilayahnya selama ini memang menjadi langganan bencana angin kencang yang biasanya berputar di suatu area lokal dengan kecepatan rata-rata 63 kilometer per jam tersebut.

Sumber: antarajatim.com | 07 Nov 2012
Kamis, 08 November 2012 | 0 komentar

BPBD Tulungagung Kesulitan Evakuasi Longsor di Pagerwojo

Jumat, 17 Februari 2012 | 21.48.00 | 0 komentar

Tulungagung - Tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung hingga Jumat siang masih kesulitan mengevakuasi material longsoran yang menutup satu-satunya akses jalan menuju Desa Mulyosari, Kecamatan Pagerwojo.

Sebagaimana keterangan yang disampaikan Kepala BPBD Tulungagung Agus Purwanto, proses normalisasi area yang mengalami kelongsoran parah akibat ambrolnya tebing salah satu bukit di desa terpencil itu, diperkirakan membutuhkan waktu hingga tiga hari.

"Materialnya terlalu banyak, sementara medannya sangat sulit, sehingga proses evakuasi akan butuh waktu lama," kata Agus saat dikonfirmasi wartawan melalui saluran telepon seluler.

Bencana alam yang melanda kawasan Pagerwojo itu sendiri dilaporkan terjadi pada Jumat dini hari, sekitar pukul 04.00 WIB. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, namun karena runtuhan bukit menimpa satu-satunya akses jalan menuju desa, puluhan keluarga "terisolasi".

Sebagian warga memang berhasil keluar kampung, namun mereka harus mengambil jalan memutar dengan medan sangat sulit dan jarak tempuh lebih jauh.

"Untuk menuju ke Kota Tulungagung, masyarakat terpaksa melakukan jalan memutar sejauh lima kilometer," terang Agus.

Menurut Agus, sebagian kawasan perbukitan di sepanjang desa memang dalam kondisi labil, sebab, jumlah pepohonan yang berfungsi sebagai penahan air telah habis.

Kondisi itu membuat gerusan air hujan yang turun dengan deras ditambah luapan sungai, dengan mudah meruntuhkan tanah perbukitan. "Sungai ini berada di atas perbukitan. Hujan deras membuat debit air meningkat tajam," terangnya.

Hasil pantauan BPBD, lanjut Agus, selain wilayah Kecamatan Pagerwojo, masih ada empat kecamatan lain yang rawan menjadi ancaman banjir dan longsor, yakni Kecamatan Sendang, Kecamatan Bandung, Kecamatan Besuki dan Kecamatan Kalidawir.

Agus menambahkan, secara geografis semua daerah rawan bencana tersebut berada di dataran tinggi. "Kami mengimbau kepada masyarakat untuk terus mewaspadai, sebab cuaca ekstrem sampai saat ini belum sepenuhnya berlalu," paparnya.(Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 17 Peb 2012
Jumat, 17 Februari 2012 | 0 komentar

Puting beliung landa 11 daerah di Jatim

Jumat, 25 November 2011 | 19.49.00 | 0 komentar

Pacitan - Bencana puting beliung melanda 11 kabupaten di Jawa Timur dalam kurun dua bulan terakhir dan menyebabkan kerusakan ratusan bangunan, demikian laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur.

"Kalau berdasar laporan yang sudah masuk, saat ini sudah ada 10 daerah yang terkena puting beliung. Namun ada satu daerah lain yang sebenarnya juga mengalami bencana serupa tetapi belum melapor ke kami," kata Koordinator Pusat Informasi Bencana BPBD Jatim, Abdul Hamid, Jumat.

Daerah terakhir yang dimaksud Hamid adalah Kabupaten Blitar. Sementara 10 daerah yang telah melaporkan tingkat kerusakan dan kerugian yang dialami masing-masing adalah Kabupaten Bangkalan, Tulungagung, Mojokerto, Jombang, Ngawi, Malang, Bondowoso, Bojonegoro, Situbondo, serta Kediri.

Tidak ada penjelasan secara spesifik apakah puting beliung maupun angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Jatim tersebut masuk kategori badai yang membahayakan.

Hamid hanya menjelaskan bahwa fenomena tersebut sebagai hal yang biasa terjadi setiap memasuki masa pancaroba. Diperkirakan, bencana semacam itu akan reda setelah musim penghujan tiba. "Fenomena angin kencang terjadi secara periodik karena hanya muncul saat masa pancaroba saja," jelasnya.

Bencana angin puting beliung pada umumnya bersifat "melokal". Maksudnya, hembusan angin dengan kecepatan tinggi yang biasanya membentuk semacam pusaran tersebut terjadi pada beberapa desa yang saling berdekatan dan menimbulkan efek merusak.

Sebagaimana data di BPBD Jatim, kasus puting beliung terparah dalam kurun dua bulan terakhir, terjadi di Kabupaten Bangkalan serta Tulungagung.

Di Bangkalan, misalnya, bencana puting beliung melanda sekitar akhir bulan Oktober lalu dan menyebabkan 166 bangunan rusak. Bencana serupa menimpa Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Minggu (20/11).

Di daerah ini, angin menyapu sedikitnya enam desa, yakni Desa Aryojeding, Tugu, Buntaran, Tenggur, Banjarejo, dan Sukorejo. Kencangnya terjangan angin membuat 437 unit rumah dan tiga sekolah dasar (SD) rusak ringan.

Bencana serupa juga smepat melanda wilayah Kota Madiun dan Trenggalek, namun kerusakan tak separah dua kabupaten lain. Angin kencang yang menerjang kedua daerah yang disebut terakhir itu hanya menyebabkan puluhan pohon di beberapa titik jalan tumbang.

Dia mengungkapkan, di Jatim sendiri ada tiga bencana alam yang cukup dominan terjadi, yakni kekeringan, banjir, dan tanah longsor.(ANT-130)

Sumber: ANTARA News | Jumat, 25 November 2011
Jumat, 25 November 2011 | 0 komentar

BPBD Tulungagung Tak Miliki Data Prakiraan Cuaca

Tulungagung - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung, Jawa Timur tidak memiliki data-data penting terkait prakiraan cuaca yang biasanya mereka terima dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara rutin.

"Kami memang belum memiliki akses dengan BMKG karena masih konsentrasi pada penataan organisasi," kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Tulungagung, Kustoyo, Kamis.

Ia berdalih, BPBD Tulungagung masih terlalu "muda" sehingga apabila masih ada kekurangan di sana-sini, menurutnya itu adalah hal yang wajar, termasuk soal ketiadaan input prakriaan cuaca dari BMKG.

Namun, Kustoyo juga mengakui bahwa ketiadaan data prakiraan cuaca menjadi salah satu titik lemah BPBD. Sebab, tanpa prediksi cuaca, terutama yang menyangkut curah hujan serta kecepatan angin, hal itu menyebabkan BPBD tak mampu mendeteksi setiap potensi bencana secara dini.

Bukti nyata dari ketidaksiapan BPBD dalam menghadapi bencana adalah dua kali peristiwa angin kencang puting beliung yang melanda sebagian wilayah Kecamatan Rejotangan dan Kalidawir, beberapa waktu lalu.

Kustoyo mengatakan, yang bisa dilakukan pihaknya dalam situasi bencana hanyalah sebatas menginventarisir.

"Kalau butuh info cuaca, biasanya kami lakukan dengan melihat data prakiraan cuaca yang dirilis BMKG di internet. Itu menjadi solusi alternatif meski hasilnya tentu tidak akan maksimal," imbuhnya.

Sementara, salah seorang sumber di internal BPBD menyebut, hasil prakiraan cuaca dari BMKG sebelumnya kerap ditembuskan ke Pemkab Tulungagung melalui kantor infokom.

Namun, kerjasama itu tidak lagi berlanjut sejak kurun setahun terakhir. Pihak Infokom maupun BPBD tak menjelaskan putusnya koordinasi mereka dengan pihak BMKG selaku lembaga penyedia informasi cuaca.

Beberapa sumber di internal BPBD hanya menyebut tidak adanya lagi tembusan hasil evaluasi prakiraan cuaca dari BMKG lebih dikarenakan adanya peralihan lembaga yang menangani urusan bencana.

Jika sebelumnya masalah cuaca menjadi tanggung jawab Infokom selaku lembaga yang tergabung dalam Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB), kini semua yang berkaitan dengan bencana dan prediksi cuaca tersentral di BPBD. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 24 Nov 2011
| 0 komentar

Pemprov Jatim Siapkan Dana Cadangan Antisipasi Bencana

Kamis, 17 November 2011 | 00.28.00 | 0 komentar

Tulungagung - Pemerintah Provinsi Jawa Timur menyiapkan dana cadangan sebesar Rp300 miliar untuk kebutuhan tanggap darurat bencana di seluruh kabupaten/kota di daerah tersebut.

"Jangan menanyakan jumlahnya berapa karena saya tidak hafal, yang pasti Pemprov telah menyiapkan dana cadangan 'on-call' bila sewaktu-waktu terjadi bencana di daerah," katanya setelah meresmikan Pekan KIM (Kelompok Informasi Masyarakat) di Kabupaten Tulungagung, Rabu.

Saat berbicara mengenai kesiapsiagaan bencana, pejabat yang akrab dipanggil Pakde Karwo ini memang tidak menyebut rincian kesiapan anggaran yang disediakan.

Ia hanya mengatakan bahwa selain telah menyediakan dana cadangan, Pemprov Jatim juga telah mengalokasikan kebutuhan dana khusus penanggulangan bencana di masing-masing satuan kerja perangkat daerah (SKPD).

Angka Rp300 miliar yang disebut sebagai besaran dana cadangan yang disediakan dalam APBD justru diungkap oleh salah seorang anggota Komisi A DPRD Jatim Hasibuan Pasaribu yang saat itu mengikuti rangkaian kegiatan peresmian Pekan KIM di Kabupaten Tulungagung.

Ia menjelaskan, anggaran tersebut merupakan akumulasi dari sisa dana cadangan tahun 2011 sebesar Rp50 miliar, ditambah dana cadangan untuk tahun 2012 yang dialokasikan dalam APBD Provinsi Jatim sebesar Rp250 miliar.

"Tetapi dana cadangan ini tidak murni hanya untuk bencana. Secara aturan, anggaran cadangan diperuntukkan kegiatan yang bersifat darurat dan tidak terencana sebelumnya," jelasnya.

Salah satu fungsi dana cadangan dimaksud, menurut Hasibuan Pasaribu, adalah untuk pemilihan atau pilkada gubernur (pilgub) yang diperkirakan digelar tahun 2014.

Belum jelasnya mekanisme pemilihan gubernur mendorong Pemerintah Provinsi beserta DPRD Jatim mengalokasikan dana cadangan lebih besar, sebagai antisipasi jika pilgub masih diselenggarakan dengan sistem pemilihan langsung.

"Kalau ternyata pemilihan dilakukan tidak langsung melalui voting di DPRD, berarti dana cadangan untuk kebutuhan pilgub aman (tidak terpakai). Sebaliknya jika dilakukan pemilihan langsung, nanti dana taktis yang digunakan ya dari dana cadangan ini," tandas dia. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 16 Nov 2011
Kamis, 17 November 2011 | 0 komentar

Tulungagung Belum Miliki Alat Pendeteksi Tsunami

Senin, 14 November 2011 | 23.08.00 | 0 komentar

Tulungagung - Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung, Jawa Timur Agus Purwanto, Senin, mengemukakan bahwa Tulungagung hingga kini belum memiliki alat pendeteksi tsunami meski memiliki kawasan pesisir yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia.

"Kami belum bisa menyediakan piranti pendeteksi tsunami karena memang anggaran untuk itu belum ada. Rencana anggaran tahun depan akan kami ajukan," ujarnya.

Meski begitu Agus tidak bisa memastikan pengadaan alat deteksi tsunami tersebut kapan terealisasi.

Sebab, BPBD Tulungagung saat ini lebih memprioritaskan penguatan organisasi serta penyediaan sejumlah prasarana dan sarana mitigasi bencana berskala kecil, seperti alat komunikasi, pelampung, perahu karet, serta perlengkapan kantor di sekretariat BPBD.

"Kami belum mengetahui secara pasti kebutuhan anggaran untuk pengadaan alat tersebut. Jika memang terjangkau, seharusnya rancangan anggaran yang akan kami ajukan bisa disetujui, tapi sebaliknya, mungkin akan diupayakan dengan meminta bantuan dari pusat," katanya menjelaskan.

Hal senada juga diungkapkan Anggota Komisi A DPRD Tulungagung, Suwito yang juga politisi dari Partai Amanat Nasional (PAN). Ia yang juga terlibat dalam keanggotaan BPBD mengisyarakatkan bahwa pengadaan alat pendeteksi tsunami belum masuk skala prioritas dengan alasan keterbatasan anggaran daerah.

"Tidak mungkin kami merekomendasikan pembelian piranti itu jika harganya mencapai miliaran atau bahkan puluhan miliar rupiah. Tapi kalau memang terjangkau secara anggaran, DPRD tentu juga tidak akan mempersulit rencana itu," jawabnya

Kendati begitu, ketiadaan sarana mitigasi bencana tersebut disesalkan sejumlah pihak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar kawasan pesisir selatan Tulungagung. Sebab, daerah yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Trenggalek dan Blitar tersebut memiliki empat kawasan pesisir yang menjadi konsentrasi pemukiman nelayan yakni Pantai Popoh, Sidem, Sine, serta Dlodo.

Selain itu, tiga daerah pesisir di sekitarnya yakni Kabupaten Pacitan, Trenggalek serta Blitar, semuanya telah memiliki alat deteksi tsunami meski dengan jumlah terbatas.

"Ini memang sangat ironis mengingat potensi maupun risiko bencana tsunami di kawasan pesisir selatan Tulungagung sangat tinggi karena posisinya yang berhadapan langsung dengan Samudera Hindia," ujar Regional Officer Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Tulungagung, M Fatah. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 14 Nov 2011
Senin, 14 November 2011 | 0 komentar

BPBD Tulungagung Pantau Dua Kecamatan Rawan Longsor

Rabu, 09 November 2011 | 19.25.00 | 0 komentar

Tulungagung - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung, Jawa Timur memperketat pemantauan terhadap dua kecamatan di daerah tersebut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana tanah longsor.

"Dua kecamatan yang selama ini kerap menjadi langganan rawan longsor setiap kali musim hujan adalah Kecamatan Pagerwojo serta Sendang," kata Kepala BPBD Tulungagung, Agus Purwanto, Selasa.

Selain pengalaman tahun-tahun sebelumnya, Agus menyebut faktor berkurangnya vegetasi tanaman serta kontur tanah yang cenderung labil di salah satu kawasan lereng Gunung Wilis tersebut menjadi alasan BPBD untuk meningkatkan kewaspadaan bencana.

Sebab, pergerakan tanah di daerah tersebut ditengarai cukup tinggi, terutama ketika curah hujan tinggi.

Kekhawatiran atas bencana alam di kawasan perbukitan yang berbatasan langsung
dengan Kabupaten Trenggalek dan Kediri tersebut setidaknya terbukti saat salah satu lereng bukit di Desa Penjor, Kecamatan Pagerwojo longsor pada Kamis (3/11) dinihari hingga menutup akses utama perkampungan tersebut.

Meski tidak sampai menimbulkan korban jiwa, timbunan tanah yang ditimbulkan mencapai lebih dari enam meter dan ketebalan 1,5 meter menutupi jalan raya Desa Penjor.

Akibatnya, aktivitas warga sempat terganggu beberapa lama, sebelum akhirnya puluhan penduduk bersama aparat keamanan dari unsur TNI-Polri dan Dinas PU Tulungagung bahu-membahu menyingkirkan material longsoran tersebut.

Kabupaten Tulungagung memiliki sejumlah daerah yang rentan bencana alam baik tsunami, tanah longsor, gempa bumi, banjir bandang, angin puting beliung, hingga bencana kekeringan.

Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU Tulungagung bahkan menyebutkan, jumlah kecamatan di daerah tersebut yang memiliki potensi tinggi menjadi sasaran bencana alam ada sekitar 11 dari total 19 kecamatan yang ada.

Sejauh ini BPBD Tulungagung belum memiliki peta rawan bencana secara detail, karena belum memiliki anggaran operasional untuk menyusun database secara utuh dan komprehensif. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 08 Nov 2011
Rabu, 09 November 2011 | 0 komentar

LPBI Tulungagung Identifikasi Sebelas Kecamatan Rawan Bencana

Jumat, 28 Oktober 2011 | 14.58.00 | 0 komentar

Tulungagung - Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) Nahdlatul Ulama (NU) Tulungagung, Jawa Timur mengidentifikasi ada 11 kecamatan di daerah tersebut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana alam.

"Hasil survei kami dan berdasar pengalaman kasus yang terjadi pada tahun-tahun lalu, ada 11 kecamatan yang teridentifikasi memiliki kerawanan paling tinggi terjadi bencana alam," kata Regional Officer (RO) LPBI NU Tulungagung, M Fatah, Kamis.

Ke-11 kecamatan dimaksud adalah Kecamatan Pucanglaban, Kalidawir, Tanggunggunung, Campurdarat, Besole, Pagerwojo, Sendang, Boyolangu, Pakel, Gondang, serta Tulungagung.

Dari dua dari 11 kecamatan tersebut, yakni Pagerwojo dan Sendang, merupakan daerah yang paling memiliki risiko/intensitas paling tinggi terhadap gangguan bencana, terutama longsor.

Selebihnya potensi bencana cenderung bervariasi, mulai dari banjir, gempa bumi, tsunami, puting beliung, kekeringan, hingga dampak perubahan iklim ekstrem lainnya.

"Kalau boleh jujur, sebenarnya semua daerah di Tulungagung berpotensi mengalami bencana alam, hanya skalanya mungkin berbeda-beda," urainya.

Ia lalu mencontohkan pengalaman kasus gangguan alam yang terjadi di sejumlah wilayah dataran, seperti Tulungagung, Boyolangu, Pakel, serta Campurdarat.

Di empat daerah dataran yang disebut terakhir, potensi terjadinya bencana puting beliung sangat tinggi, terutama di daerah Boyolangu, Tulungagung, serta Pakel.

Risiko terjadinya banjir juga ada, namun skalanya relatif lebih kecil dibanding daerah dataran sebelah selatan seperti Besole dan Kalidawir.

"Kalau di daerah pesisir, risiko yang paling perlu diantisipasi adalah bencana tsunami dan gempa bumi. Maklum, beberapa kawasan di daerah kami berhadapan langsung dengan Samudera Indonesia yang menjadi jalur gempa yang berpotensi tsunami," terang Fatah.

Pihak LPBI NU Tulungagung sendiri selaku lembaga penanggulangan bencana nonpemerintah berencana untuk melakukan pemetaan lebih lanjut terhadap sejumlah kawasan yang berisiko mengalami gangguan alam.

Dua di antara program kegiatan yang saat ini telah mulai mereka rintis adalah melakukan sinergi kerja/kegiatan dengan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung serta mempersiapkan sejumlah desa tangguh bencana. (Destyan)


Sumber: ANTARA | 27 Okt 2011
Jumat, 28 Oktober 2011 | 0 komentar

BPBD Tulungagung Belum Miliki Peta Rawan Bencana

Kamis, 27 Oktober 2011 | 01.37.00 | 0 komentar

Tulungagung - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung, Jawa Timur, hingga kini belum memiliki peta rawan bencana, karena belum memiliki anggaran operasional untuk menyusun database secara utuh dan komprehensif.

"Secara tertulis kami memang belum memiliki, tapi sementara bisa berkoordinasi dengan jajaran dinas terkait yang telah lebih dulu mempunyai data dimaksud," kata Kepala BPBD Tulungagung, Agus Purwanto, saat menghadiri sosialisasi perda bencana di balai pertenmuan DPRD setempat, Rabu.

Ketidaksiapan BPBD itu, menurut Agus, lebih disebabkan pihaknya belum memiliki alokasi anggaran secara khusus. Kondisi ini bisa dimaklumi lantaran badan khusus yang dibentuk menggantikan satuan pelaksana penanggulangan bencana (satlak PB) tersebut memang baru berusia dua bulan.

Kenyataan itulah yang pada kelanjutannya membuat BPBD sampai saat ini belum memiliki plot anggaran tersendiri, termasuk melalui mekanisme APBD perubahan 2011 yang ditetapkan sekitar sebulan lalu.

"Secara kelembagaan sudah terbentuk, tapi secara operasional kami belum bisa efektif. Kami masih dalam tahap mengajukan anggaran operasional ke pemerintah daerah melalui APBD induk tahun 2012 mendatang," tandasnya.

Ketidakefektifan lembaga BPBD juga diakui oleh Koordinator Kelembagaan Bencana pada Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) NU Tulungagung, Bibid Prayoga.

Ia menggambarkan keberadaan maupun kondisi BPBD Tulungagung saat ini seperti hiasan dinding. Menurut dia, secara kelembagaan, BPBD memang telah terbentuk, namun fungsi dan misi kerja masih jauh dari harapan.

Kondisi semacam itu, menurutnya, bisa terjadi lantaran sarana maupun prasarana pendukung di kantor BPBD Tulungagung sampai saat ini memang belum ada.

Jangankan sejumlah perangkat komputer untuk kepentingan administrasi maupun penyusunan database terkait kebencanaan, sekadar meja-kursi serta mebeler perkantoran pun bahkan disebutnya sama sekali belum memadai.

"Kalau boleh memprediksi, saya kira BPBD ini baru benar-benar menjalankan fungsinya sekitar setahun mendatang," ujarnya.

Kabupaten Tulungagung memiliki sejumlah daerah yang rentan mengalami bencana alam, mulai dari tsunami, longsor, gempa bumi, banjir bandang, angin puting beliung, hingga bencana kekeringan seperti yang saat ini tengah berlangsung.

LPBI NU Tulungagung bahkan menyebut, jumlah kecamatan di daerah tersebut yang memiliki potensi tinggi menjadi sasaran bencana alam ada sekitar 11 dari total 19 kecamatan yang ada. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 26 Okt 2011
Kamis, 27 Oktober 2011 | 0 komentar

Angin Puyuh Terjang Desa Pojok Campurdarat

Minggu, 03 April 2011 | 01.43.00 | 0 komentar

Tulungagung - Hujan deras yang disertai angin kencang, yang berlangsung Jum’at (01/ 04/2011) mengakibatkan kerusakan pada sejumlah bangunan rumah penduduk di Desa Pojok Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung Jawa Timur.

Angin puyuh itu terjadi sekitar pukul 14.30 WIB, walaupun tidak menimbulkan korban jiwa namun 47 rumah warga mengalami kerusakan. Dari rumah yang mengalami kerusakan 42 rumah rusak ringan, rusak sedang 3 rumah dan rusak berat 2 rumah. Dua rumah rusak berat yaitu rumah milik Pak Sukarlan dan rumah Pak Wakit Dusun Pojok RT 04 RW 03 rumah dan dapur roboh.

Atas kejadian tersebut Tim Tanggap Bencana Kabupaten Tulungagung yang terdiri dari Dinas PU, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kesbanglinmaspol, Bagian Humas serta Muspika Campurdarat dan Kepala Desa Pojok beserta perangkatnya langsung melakukan peninjauan ke lokasi guna mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam penanganan bencana tersebut.

Sebagai langkah awal, warga setempat telah melakukan gotong-royong memperbaiki rumah yang rusak ringan, dan Pemerintah Kabupaten Tulungagung telah memberikan bantuan awal sebagai penanganan tanggap darurat berupa sembako dan air mineral. (Udin/Humas)
Sumber:tulungagung.go.id
Minggu, 03 April 2011 | 0 komentar

Sekitar 100 Rumah di Tulungagung Terendam Banjir

Senin, 20 September 2010 | 02.24.00 | 0 komentar

Tulungagung - Sedikitnya 100 rumah di Dusun Srigading, Desa Balerejo, Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung, terendam air. Banjir yang terjadi dini hari tadi sempat membuat warga panik.

Banjir yang terjadi akibat meluapnya sungai besar yang mengalir di Dusun Srigading ini mulai menggenangi rumah warga pada pukul 00.30 WIB. Sejak sore, kawasan itu diguyur hujan deras hingga meningkatkan debit air sungai. “Sungainya tak mampu menampung air,” kata Sukirman, 45 tahun, salah satu warga kepada Tempo, Minggu (19/9).

Kepanikan warga mulai terjadi ketika air yang meluap tersebut semakin besar. Sebagian warga yang bermukim di sekitar bantaran sungai bergegas mengemasi perabotan rumah tangga ketika ketinggian air mencapai setengah meter. Kondisi ini diperparah dengan minimnya alat penerangan di dusun itu hingga menyulitkan evakuasi.

Beruntung luapan air tersebut tak berlangsung lama. Memasuki azan Subuh air berangsur-angsur reda. Hingga saat ini ketinggian air masih mencapai mata kaki dan mennggalkan endapan lumpur di rumah-rumah warga. Dengan dibantu personel TNI dan Tim Tanggap Bencana (Tagana) Pemerintah Kabupaten Tulungagung, warga mulai membersihkan sisa-sisa banjir yang banyak membawa sampah dan potongan kayu hutan.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Tulungagung Mariani mengatakan banjir tersebut merupakan dampak dari pendangkalan sungai. Akibatnya badan sungai tak lagi mampu menampung volume air saat hujan deras.

Sayang pemerintah daerah mengaku tak bisa berbuat banyak untuk menanggulangi banjir tersebut. Menurut Mariani, sungai yang menghubungkan beberapa daerah itu menjadi tanggung jawab Pemerintah Propinsi, termasuk upaya pengerukannya. “Kami tak berwenang atas sungai ini,” katanya.

Saat ini pemerintah daerah hanya berupaya membantu para korban banjir dengan mengirimkan 600 kilogram beras. Logistik ini merupakan sumbangan dari Dinas Sosial dan Tenaga Kerja untuk korban musibah bencana alam.

Belum diketahui nilai kerugian materiil atas musibah ini. Warga hanya melaporkan adanya kerusakan perabotan rumah tangga seperti kasur, mebelair, dan alat elektronik tanpa korban jiwa. “Sejumlah lahan pertanian juga dipastikan rusak,” kata Mariani. HARI TRI WASONO
Sumber: TEMPO Interaktif
Senin, 20 September 2010 | 0 komentar

Tulungagung Masuk Daerah Rawan Bencana

Jumat, 27 Agustus 2010 | 02.09.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Faktor kerusakan alam dan perubahan iklim menjadikan Kabupaten Tulungagung, menjadi salah satu daerah di Jawa Timur, yang masuk kategori rawan bencana.

Seperti yang disampaikan Sekretaris Jenderal Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBPI) PB Nahdlatul Ulama, Sultanul Huda kemarin. Pernyataan tersebut diungkapkan dia, ketika memberikan materi tentang penanggulangan bencana di Gedung Prajamukti Pemkab Tulungagung kemarin.

Menurut Sultonul Huda, Kabupaten Tulungagung adalah satu diantara delapan kabupaten di Jawa Timur yang ditengarai rawan bencana. Kedelapan daerah itu, meliputi Tulungagung, Trenggalek, Malang, Lumajang, Pasuruan, Mojokerto, Bojonegoro, Lamongan. "Dari hasil survey kami sementara, delapan kabupaten itu masuk kategori kawasan yang rawan terjadi bencana," ujarnya.

Dia menambahkan, mengenai Tulungagung, secara geografis sekitar 45 persen kawasannya adalah pegunungan. Selain itu, memiliki tanah jenis Andolsoft yang mudah terjadi longsor. "Keterangan itu adalah data sementara kami,"tambahnya.

Melihat hasil survey itu, dia berharap Kabupaten Tulungagung segera memiliki tim penanggulangan bencana yang mumpuni. "Dengan terbentuknya tim penanggulangan bencana di tiap-tiap desa atau kecamatan, kami berharap pada masa pra, saat maupun paska bencana, mereka sudah terampil," harapnya.

Untuk mewujudkan itu, makanya PB NU melalui LPBPI, berupaya mencari dukungan kepada masyarakat di kawasan rawan bencana. "Dalam menyukseskan program ini, kami juga telah menjalin komitmen dengan badan nasional penanggulangan bencana atau BNPB, untuk bekerja sama dengan Australia selaku founding," terangnya.

Sultonul Huda melanjutkan, keberadaan LPBPI nantinya berfungsi sebagai media legislasi, pengembangan lembaga maupun pengembangan kapasitas masyarakat. "Harapan kami, minimal setiap warga nantinya mampu memiliki tim penagggulangan bencana. Ya minimal bisa memberikan pertolongan ketika terjadi bencana dan lain sebagainya," paparnya.

Sementara, Sekretaris Daerah Kabupaten Tulungagung, Maryoto Birowo ketika dikonfirmasi kemarin mengatakan, pemkab menyambut baik program yang ditawarkan PB NU, melalui LPBPI. Apalagi konsep program yang dibiayai Australia itu bersifat untuk penanggulangan bencana. "Intinya, Pemkab Tulungagung welcome dengan program ini," ucapnya kepada RaTu. (tri/ris)

Sumber : Jawa Pos
Jumat, 27 Agustus 2010 | 0 komentar

Longsor Menghantam Rumah Warga

Jumat, 14 Mei 2010 | 08.09.00 | 0 komentar

Tulungagung - Tebing setinggi delapan meter longsor menimbun rumah seorang warga Desa Ngobalan, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, kemarin malam. Longsor terjadi akibat hujan yang mengguyur dari petang hingga tengah malam, sehingga tanah dan batu kapur tebing ambruk menghantam tembok rumah setinggi lima meter.

Saat longsor menerjang, penghuni rumah sedang pergi. Meski tak ada korban jiwa, kerugian ditaksir mencapai jutaan rupiah.

Buat membantu korban, hari ini (13/5), warga bergotong-royong membersihkan timbunan tanah dan reruntuhan bata tembok yang hancur. Warga juga meruntuhkan tebing yang rawan ambruk untuk menghindari longsor susulan. Bahkan di atas tebing, terdapat tiga meter tanah yang sudah retak selebar 30 sentimeter.

Mengingat curah hujan yang masih tinggi kerap mengguyur wilayah Tulungagung, pemerintah setempat mengimbau agar warga khususnya yang berada di pegunungan untuk berhati-hati. Terutama, bila hujan deras mengguyur lebih dari tiga jam, maka rawan terjadi bencana longsor. (PAG/ANS/Liputan6.com)
Jumat, 14 Mei 2010 | 0 komentar

Nenek Wiji Tertimpa Atap Akibat Puting Beliung

Minggu, 09 Mei 2010 | 12.06.00 | 0 komentar

Tulungagung - Sedikitnya 27 rumah di Desa Jabon, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, porak-poranda usai diterjang angin puting beliung, Sabtu (8/5) petang. Atap rumah baik dari genteng maupun asbes hancur dan rontok menjadi puing-puing. Bahkan, tiga rumah milik warga hanya tersisa rangka atap, sementara atap dapur rumah seorang warga hilang dibawa angin.

Menurut warga, musibah angin puting beliung terjadi cukup cepat dan mengagetkan warga. Seorang nenek bernama Wiji terluka di wajah dan punggung akibat tertimpa genteng. Sementara rumahnya yang terbuat dari dinding bambu nyaris ambruk. Selain merusak rumah, jaringan listrik dari Perusahaan Listrik Negara juga terganggu.

Banyaknya rumah yang rusak membuat Pemerintah Kabupaten Tulungagung berjanji akan segera memperbaiki. Kendati tidak menimbulkan korban jiwa, kerugian ditaksir mencapai puluhan juta rupiah. (BJK/ADO/Liputan6.com)
Minggu, 09 Mei 2010 | 0 komentar

Puting Beliung Melanda Tulungagung

Sabtu, 08 Mei 2010 | 23.03.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Puluhan rumah di Dusun Jeruk, Desa Jabon, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, rusak berat setelah diterjang angin puting beliung, Sabtu (8/5/2010) sore. "Musibah ini terjadi cukup cepat. Angin secara tiba-tiba datang dengan kecepatan tinggi dan langsung menghantam rumah kami," kata Sobari (40), salah seorang korban, saat ditemui di Dusun Jeruk.
Musibah ini terjadi cukup cepat. Angin secara tiba-tiba datang dengan kecepatan tinggi.

Saat kejadian, dia dan anggota keluarganya sedang berada di dalam rumah. Dia dan keluarganya langsung ke luar rumah untuk menyelamatkan diri.

Sobari juga mengaku masih trauma dengan kejadian itu. Ia dengan keluarga berencana menginap di rumah keluarganya yang lain, mengingat hingga kini hujan disertai angin masih mengguyur daerah itu.

Selain merusak puluhan rumah warga, angin tersebut juga menumbangkan pohon-pohon sehingga menutup jalan di desa itu.

Hingga kini, warga masih bergotong-royong untuk menyingkirkan batang pohon yang bertumbangan. Sebagian warga juga masih membantu membersihkan rumah tetangganya yang porak-poranda diterjang angin puting beliung.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Tulungagung, Maryani, mengatakan pihaknya juga sudah mengirimkan bantuan berupa bahan makanan pokok pada keluarga yang terkena musibah. "Kami juga berencana mengirimkan bantuan material untuk membantu membangun rumah warga yang rusak," katanya. KOMPAS.com
Sabtu, 08 Mei 2010 | 0 komentar

Delapan Rumah Rusak Diterjang Longsor di Tulungagung

Kamis, 06 Mei 2010 | 19.42.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Tanah longsor yang menimpa empat desa yaitu Desa Pagerwojo, Samar, Gambiran, dan Desa Kradenan, Kabupaten Tulungagung, Jatim, mengakibatkan sedikitnya delapan rumah warga rusak berat.

Tulus, warga Desa Samar, Kamis (6/5)Â mengungkapkan musibah tersebut terjadi pada Rabu (5/5) sore. Tebing setinggi 10 meter di belakang rumahnya runtuh dan menimpa rumahnya. "Saya dengan anak-anak sedang berada di rumah karena hujan. Saya tidak tahu, secara tiba-tiba tebing longsor," ucapnya.

Beruntung, lanjut dia, setelah terdengar suara gemuruh, ia dengan angggota keluarga langsung keluar rumah sehingga tidak ada yang terluka.

Selain merusak rumah warga, musibah tanah longsor ini juga menimbun badan jalan. Seperti di Desa Pagerwojo, tanah longsor menimbun badan jalan sepanjang empat meter. Akibatnya, aktivitas warga, baik pendidikan maupun ekonomi terganggu. Terlebih jalan yang menghubungkan antara Kecamatan Pagerwojo dan Kecamatan Bendungan, Kabupaten Trenggalek, merupakan jalur satu-satunya ke daerah itu.

Sementara itu Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Kabupaten Tulungagung Maryani mengaku sudah berkoordinasi dengan instansi terkait untuk keperluan evakuasi. "Kami sudah koordinasi dengan instansi terkait untuk evakuasi. Selain itu, kami juga sudah mengirimkan bantuan bahan pokok kepada keluarga yang terkena bencana," katanya. Media Indonesia
Kamis, 06 Mei 2010 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan