Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Batik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Batik. Tampilkan semua postingan

Batik Bekisar Ijah dari Tulungagung

Sabtu, 31 Desember 2011 | 15.31.00 | 0 komentar

Corak batik tulis buatan Sriana juga menjadi incaran konsumen luar negeri.

Seruan memakai busana batik di hari tertentu di semua instansi ikut mendorong perubahan besar usaha batik milik Sriana. Wanita paruh baya ini menggeluti pembuatan kain baik sejak tahun 1982 silam.

Sriana mengaku, sejak pencanangan mengenakan batik, produksi batik usahanya melejit pesat. Order atau pesanan pun terus mengalir diterima wanita asal warga Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ini. Untuk mengerjakan itu, Sriana terus menambah pekerjanya hingga 45 orang. Dan semua pegawainya itu merupakan warga desa setempat.

"Dari jumlah itu, mereka tidak hanya mengerjakan di sini. Tapi juga bisa dibawa pulang, dikerjakan di rumah masing-masing," kata Sriana.

Dari sejumlah corak batik buatannya, beberapa corak menduduki nominasi tertinggi karena banyak diminati. Diantaranya diberi nama 'Bekisar Ijah', burung Bekisar jantan yang mencumbu pasangannya dengan latar dasar bercorak bunga serta motif lainnya bernama 'Satrio Manah' yang didominasi warna pekat dengan bahan sutra dan katun yang cukup halus.

Selain itu ada sejumlah corak batik lainnya, seperti Barong Gong, Gajah Mada dan lainnya. Disebutkan, untuk motif Bekisar Ijah sebulan lalu dalam lomba karya batik unggulan di Jakarta menduduki posisi nominasi final. "Motif ini, hasil kreasi paduan Tulungagung dan Trenggalek," jelasnya.

Untuk mengerjakan satu kain batik bercorak Bekisar, urai Sriana, membutuhkan waktu 20 hari. Hal itu disebabkan karena pembuatannya berbeda dengan desain batik cetak yang hanya dikerjakan satu hari. Dan yang membuat corak ini semakin terkesan istimewa, yang mengerjakan kain ini pun hanya satu orang. Tujuannya untuk memberikan corak dan hasil yang sempurna.

"Kalau dikerjakan satu orang, pola yang dihasilkan akan seirama tidak menyimpang dari pakem. Berbeda kalau dikerjakan banyak orang. Makanya, harga jual batik ini juga mahal sampai jutaan rupiah," tegasnya.

Batik yang dihasilkan Sriana tidak dikerjakan dengan mesin. Dan oleh karena itu melibatkan banyak pekerja. Usaha yang dilakoninya semula hanya membuat kain 'jarik' sederhana untuk dipasarkan di sekitar lokasi tempat tinggalnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan terus terjadi hingga kemudian ia memperbesar garapannya dengan memproduksi kain batik sebagai bahan baju dan kebaya untuk laki-laki dan perempuan. Seiring itu, nama batik Bekisar Ijah dan Satrio Manah terus digemari masyarakat umum.

Dikisahkan, salah satu yang membuat jenis buatannya beda dengan pengrajin batik lainnya adalah, karena hingga saat ini tetap bertahan dengan hanya menerima pesanan batik tulis. Ia tidak membuat batik cetak atau printing yang mulai dikerjakan banyak pengrajin batik. Proses pembuatannya juga manual, dengan tangan-tangan terampil pegawai asuhannya.

Menurutnya, itu untuk menjaga dan mempertahankan nilai tradisional kain khas yang dipakai nenek moyang di Tanah Jawa sejak dahulu.
"Itu karena untuk tetap bertahan pada nilai tradisional. Yang dilakukan nenek moyang kita kan seperti itu," ucapnya.

Sriana menjelaskan, perusahaan yang berawal jenis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tersebut terus diminati. Tidak hanya di dalam negeri seperti Jakarta, Surabaya dan sejumlah kota di Sumatera. Konsumen asal luar negeri juga terus berdatangan ke desa kecil di Tulungagung itu untuk memesan batik dengan berbagai corak.

"Luar negeri diantaranya dari Singapura, Malaysia, Hong Kong dan Belanda," sebutnya.

Laporan : Tudji Martudji | Surabaya

Sumber: VIVAnews | Senin, 3 Oktober 2011
Sabtu, 31 Desember 2011 | 0 komentar

Kunjungan Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad

Selasa, 22 November 2011 | 18.16.00 | 0 komentar

Tulungagung - Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) “Sekar Jagad” Yogyakarta yang mempunyai visi melestarikan dan mengembangkan Batik Indonesia yang bertujuan meningkatkan kecintaan dan promosi batik untuk berbagai fungsi dan keperluan, mengunjungi perajin batik Tulungagung dalam rangka penelusuran keberadaan aneka corak motif batik.

Rombongan diterima di galeri Batik Barong Gung oleh perajin Batik Tulungagung didampingi Dra. Nina Umi Hani’in, Kabid Industri Logam Aneka Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tulungagung. Setelah melihat langsung proses pembuatan batik, rombongan PPBI melihat koleksi dan berbelanja Batik Tulungagung.

Obyek kedua yang dikunjungi PPBI adalah Batik Gajah Mada, diterima langsung oleh pemiliknya, Ny. Danu Mulya. Rombongan menerima penjelasan secara detail tentang motif dan corak khas Batik Tulungagung, yang diteruskan dengan belanja Batik Tulungagung yang nantinya akan dipakai dan dibawa kunjungan dan wisata batik ke berbagai daerah di Indonesia bahkan di luar negeri, sehingga Batik Tulungagung akan lebih dikenal dan meningkatkan promosi batik, yang pada akhirnya menjadikan batik sebagai wahana untuk mensejahterakan masyarakat khususnya perajin batik.

Diakhir kunjungan ketua rombongan Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito menyerahkan buku Teknik dan Ragam Hias Batik kepada Dinas Perindustrian dan perdagangan, Batik Barong Gung, Gajah Mada, Sigit Batik, Kalang kusuma, Satrio Manah dan batik Majan.

Sumber: tulungagung.go.id | Selasa, 22 November 2011
Selasa, 22 November 2011 | 0 komentar

Batik Bekisar Ijah dari Tulungagung

Senin, 03 Oktober 2011 | 23.07.00 | 0 komentar

Corak batik tulis buatan Sriana juga menjadi incaran konsumen luar negeri.

Seruan memakai busana batik di hari tertentu di semua instansi ikut mendorong perubahan besar usaha batik milik Sriana. Wanita paruh baya ini menggeluti pembuatan kain baik sejak tahun 1982 silam.

Sriana mengaku, sejak pencanangan mengenakan batik, produksi batik usahanya melejit pesat. Order atau pesanan pun terus mengalir diterima wanita asal warga Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ini. Untuk mengerjakan itu, Sriana terus menambah pekerjanya hingga 45 orang. Dan semua pegawainya itu merupakan warga desa setempat.

"Dari jumlah itu, mereka tidak hanya mengerjakan di sini. Tapi juga bisa dibawa pulang, dikerjakan di rumah masing-masing," kata Sriana.

Dari sejumlah corak batik buatannya, beberapa corak menduduki nominasi tertinggi karena banyak diminati. Diantaranya diberi nama 'Bekisar Ijah', burung Bekisar jantan yang mencumbu pasangannya dengan latar dasar bercorak bunga serta motif lainnya bernama 'Satrio Manah' yang didominasi warna pekat dengan bahan sutra dan katun yang cukup halus.

Selain itu ada sejumlah corak batik lainnya, seperti Barong Gong, Gajah Mada dan lainnya. Disebutkan, untuk motif Bekisar Ijah sebulan lalu dalam lomba karya batik unggulan di Jakarta menduduki posisi nominasi final. "Motif ini, hasil kreasi paduan Tulungagung dan Trenggalek," jelasnya.

Untuk mengerjakan satu kain batik bercorak Bekisar, urai Sriana, membutuhkan waktu 20 hari. Hal itu disebabkan karena pembuatannya berbeda dengan desain batik cetak yang hanya dikerjakan satu hari. Dan yang membuat corak ini semakin terkesan istimewa, yang mengerjakan kain ini pun hanya satu orang. Tujuannya untuk memberikan corak dan hasil yang sempurna.

"Kalau dikerjakan satu orang, pola yang dihasilkan akan seirama tidak menyimpang dari pakem. Berbeda kalau dikerjakan banyak orang. Makanya, harga jual batik ini juga mahal sampai jutaan rupiah," tegasnya.

Batik yang dihasilkan Sriana tidak dikerjakan dengan mesin. Dan oleh karena itu melibatkan banyak pekerja. Usaha yang dilakoninya semula hanya membuat kain 'jarik' sederhana untuk dipasarkan di sekitar lokasi tempat tinggalnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan terus terjadi hingga kemudian ia memperbesar garapannya dengan memproduksi kain batik sebagai bahan baju dan kebaya untuk laki-laki dan perempuan. Seiring itu, nama batik Bekisar Ijah dan Satrio Manah terus digemari masyarakat umum.

Dikisahkan, salah satu yang membuat jenis buatannya beda dengan pengrajin batik lainnya adalah, karena hingga saat ini tetap bertahan dengan hanya menerima pesanan batik tulis. Ia tidak membuat batik cetak atau printing yang mulai dikerjakan banyak pengrajin batik. Proses pembuatannya juga manual, dengan tangan-tangan terampil pegawai asuhannya.

Menurutnya, itu untuk menjaga dan mempertahankan nilai tradisional kain khas yang dipakai nenek moyang di Tanah Jawa sejak dahulu.
"Itu karena untuk tetap bertahan pada nilai tradisional. Yang dilakukan nenek moyang kita kan seperti itu," ucapnya.

Sriana menjelaskan, perusahaan yang berawal jenis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tersebut terus diminati. Tidak hanya di dalam negeri seperti Jakarta, Surabaya dan sejumlah kota di Sumatera. Konsumen asal luar negeri juga terus berdatangan ke desa kecil di Tulungagung itu untuk memesan batik dengan berbagai corak.

"Luar negeri diantaranya dari Singapura, Malaysia, Hong Kong dan Belanda," sebutnya.

Laporan : Tudji Martudji | Surabaya

Sumber: VIVAnews | Senin, 3 Oktober 2011
Senin, 03 Oktober 2011 | 0 komentar

Kibas Temukan 14 Batik Jatim Berfilosofi

Minggu, 02 Oktober 2011 | 01.59.00 | 0 komentar

Surabaya - Komunitas Batik Jawa Timur di Surabaya (Kibas) menemukan 14 batik Jatim berfilosofi yang dilestarikan turun temurun dari generasi ke generasi.

"Setelah Kibas terbentuk pada 2008 atau setahun menjelang penetapan Batik oleh PBB pada 2 Oktober 2009, kami menelusuri batik di Jatim yang berfilosofi," kata Ketua Kibas Lintu Tulistyantoro di Surabaya, Sabtu.

Ia mengemukakan hal itu di sela-sela menjadi pembicara dalam diskusi batik di Galeri Seni "House of Sampoerna" (HoS) Surabaya untuk menyemarakkan pameran "Batik Jatim Berfilosofi" di tempat yang sama pada 16 September hingga 9 Oktober.

Menurut dosen Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya itu, komunitas yang dipimpinnya itu akan segera menerbitkan buku tentang Batik Jatim Berfilosofi pada akhir tahun 2011.

"Paling tidak, buku tentang Batik Jatim Berfilosofi akan terbit pada akhir tahun ini dan dalam buku itu tidak menutup kemungkinan akan ada tambahan untuk 14 Batik Jatim Berfilosofi yang sudah ditemukan," katanya.

Ia menjelaskan, 14 Batik Jatim Berfilosofi itu ditemukan dengan mengacu pada artefak yang masih ada, wawancara perajin yang melestarikannya, dan cara berpikir masyarakat, karena ada masyarakat kita yang sangat vulgar.

"Batik Berfilosofi itu tidak sekadar ada kaitannya dengan sejarah masa lalu, namun nilai-nilai yang terkandung dalam motif batik merupakan inspirasi menarik bagi generasi muda sekarang," katanya.

Di Jatim, Batik Berfilosofi antara lain Rawan (Tulungagung), Wahyu (Tulungagung dan Tuban), Gringsing (Tuban dan Tulungagung), Sidomukti (Tulungagung), dan Satrio Manah (Mojokerto, Tuban, dan Tulungagung).

Selain itu, Mahkota (Sidoarjo), Pring Sedapur (Sidoarjo), Kembang Malathe (Madura), Kangkung Setingkes (Banyuwangi), Per Keper (Pamekasan), Tong Centong (Pamekasan), Sabet Rante (Pamekasan), Tasek Melaya (Tanjungbumi, Bangkalan), Jung Drajat (Madura).

"Gringsing berasal dari kata 'gering' (bahasa Jawa) yang berarti kurus. Harapannya, pemakai batik gringsing tidak akan gering lagi atau dalam istilah Jawa disebut sedulur papat lima panjer (empat arah dengan lima sebagai pusat). Simbolnya lingkaran atau bulatan dengan titik di tengahnya," katanya.

Di hadapan sekitar 60 peserta diskusi dari kalangan praktisi dan pemerhati batik itu, ia menjelaskan batik dengan tema gringsing memiliki filosofi yakni keseimbangan.

"Kalau pria bertemu wanita, kalau negatif bertemu positif, maka akan terjadi keseimbangan. Keseimbangan itu kemakmuran, kesuburan," katanya.

Untuk tema pernikahan, katanya, mulai dari batik untuk lamaran hingga pasca-pernikahan. "Antara lain batik mahkota dari Sidoarjo yang menandai bahwa pemakainya yang mau menikah merupakan orang yang terpandang," katanya.(Edy M Yakub)

Sumber: Antara | Sabtu, 01 Okt 2011
Minggu, 02 Oktober 2011 | 0 komentar

Bupati Tulungagung Instruksikan Penggunaan Pakaian Batik Sepekan

Jumat, 20 Mei 2011 | 08.50.00 | 0 komentar

Tulungagung - Bupati Tulungagung Heru Tjahjono menginstruksikan kepada seluruh jajarannya dinasnya maupun instansi swasta untuk mengenakan pakaian batik, sebagai wujud kecintaan terhadap produk dalam negeri selama pekan swadesi yang ditetapkan mulai tanggal 18-24 Mei 2011.

"Instruksi ini berlaku untuk seluruh karyawan di lingkup pemerintah maupun swasta, kecuali mereka yang tugasnya memang diharuskan berpakaian khusus seperti satpol PP, perawat, serta petugas kebersihan," kata Kabag Humas Pemkab Tulungagung, Maryani, Kamis.

Sebagai tindak lanjut pekan swadesi tersebut, karyawan/karyawati di lingkup Pemda Tulungagung juga telah mengenakan pakaian batik dalam menjalankan tugas kedinasan selama sepekan.

Pemandangan itu, setidaknya terlihat setiap mereka mengikuti apel mulai kerja di halaman kantor Pemkab Tulungagung jalan Ahmad Yani Timur no. 37, Kamis pagi.

Selain mengimbau untuk berpakaian batik/lurik, Bupati Tulungagung melalui surat edaran nomor 420/414/012/2011 tertanggal 9 Mei 2011 juga menginstruksikan agar masyarakat, instansi pemerintah, maupun lembaga swasta se-Kabupaten Tulungagung untuk mengibarkan bendera merah putih satu tiang penuh pada tanggal 20 Mei 2011, mulai pukul 06.00-18.00 WIB.

Instruksi tersebut berkaitan dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional.

"Dalam surat edaran itu bupati juga mengimbau kepada seluruh badan/dinas/lembaga pemerintah maupun swasta, BUMD, PTN, dan PTS untuk menyelenggarakan upacara di lingkungan masing-masing pada hari yang sama," terang Maryani menambahkan.

Pemkab Tulungagung sendiri rencananya akan menggelar upacara bendera bersama yang dipusatkan di halaman kantor pemda setempat, Jumat (20/5) pagi.

Peringatan Harkitnas didahului dengan ziarah ke Makam Pahlawan di jalan Pahlawan Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru.

Maryani menandaskan, pelaksanaan peringatan hari kebangkitan Nasinonal di Tulungagung akan diperingati dengan sederhana tetapi tetap hikmat, dengan tidak mengurangi maksud dan makna dari peringatan itu sendiri.

"Kami juga akan menggelar kegiatan sosial berupa kerja bakti bersih-bersih di taman makam pahlawan Tulungagung yang dikoordinir oleh dinas perhubungan dan kominfo," tambahnya.

Sumber: ANTARA
Jumat, 20 Mei 2011 | 0 komentar

Angkat potensi wilayah selatan dengan batik motif ketela

Rabu, 01 September 2010 | 13.38.00 | 0 komentar

Solo --Berangkat dari keprihatinan terhadap daerah di wilayah selatan Pula Jawa yang belum banyak disentuh dan dikembangkan, dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Prof Dr Andrik Purwasito DEA, menciptakan batik motif ketela.

Adrik menjelaskan kepada wartawan, Senin (30/8), dirinya terpanggil untuk ikut mengembangkan wilayah yang itu secara budaya, yaitu mengangkat potensi wilayah selatan ke dalam motif batik ketela.

Wilayah yang dimaksud adalah Trenggalek, Tulungagung, Wonogiri, Ponorogo, Blitar, Pacitan dan wilayah lainnya yang membujur di sepanjang pantai selatan.

“Mudah-mudahan motif batik ketela ini memberi kesadaran baru bagi para pemimpin bangsa, agar pembangunan di wilayah selatan segera direalisasikan,” jelasnya di kantor Humas UNS.

Sumber : solopos.com
Rabu, 01 September 2010 | 0 komentar

Batik Tulungagung Mulai Digemari

Jumat, 06 Agustus 2010 | 03.31.00 | 0 komentar

SURABAYA – Batik Tulungagung, Jawa Timur yang dikenal dengan Baronggung, kini mulai dilirik pengusaha timur tengah. Adalah pengusaha asal Arab Saudi Talal Omar Al Yafee yang berniat memasarkan baronggung ke tanah kelahirannya.

Melalui penerjemahnya, saat ditemui di galeri Baronggung, Desa Mojosari, Kecamatan Kauman, Tulungagung, Talal mengatakan, dirinya g penggemar batik. Namun kegilaannya pada batik kian menjadi, setelah adanya pengakuan dari UNESCO. Secara khusus Talal pun mengungkapkan kekagumannya pada Baronggung, lantaran mempunyai variasi warna yang lebih beragam. Terutama warna-warna yang ngejreng atau mencolok.

Talal menambahkan, dirinya mempunyai galeri di Arab Saudi. Kini dirinya tengah melakukan upaya agar Baronggung menjadi salah satu barang dagangan di galerinya. “Batik menurut saya menjadi semacam barang antik. Saya yakin pasti akan banyak peminat Baronggung di sana (Arab Saudi),” katanya.

Suswanti Anies, pemilik usaha batik dan galeri Baronggung mengatakan, Talal menjadi pengusaha luar negeri pertama yang menyatakan ketertarikannya pada Baronggung. Anie mengaku bersyukur, sebab selama ini pemasaran produknya hanya di wilayah Jawa Timur. Jika pun ada dari luar Jawa Timur hanyalah para kolektor, dan jumlahnya pun tidak banyak. “Semoga kerja sama dengan pak Talal jadi, dan Baronggung bisa dijual di Arab Saudi,” katanya.

Untuk memenuhi selera pasar yang terus berkembang, Suswanti mengaku terus menambah variasi batiknya. Setidaknya kini sudah ada 300 jenis pola batik yang dibuat dengan cara dicap, disablon maupun digambar pakai tangan. Pola-pola tersebut bisa dibuat beragam variasi warna, sesuai dengan keinginan konsumen.

Khusus memasuki ramadhan ini, kini perusahaan batik milik Suswanti kebanjiran order. Bahkan Suswanti menyebut, terjadi kenaikan produksi hingga 50 persen. “Biasanya batik dipakai untuk sovenir saat lebaran. Makanya pesanan mulai masuk sekarang ini,” pungkas Suswanti. (nurqomar/B)

Sumber: Pos Kota
Jumat, 06 Agustus 2010 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan