Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label UKM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label UKM. Tampilkan semua postingan

Pelatihan Anyaman Bambu Pagerwojo

Sabtu, 31 Maret 2012 | 21.48.00 | 0 komentar

Tulungagung - Era Global dan krisis moneter yang berkepanjangan menyebabkan lesunya roda perekonomian dunia yang berakibat pada sektor swasta baik perusahaana besar maupun kecil banyak yang gulung tikar, karena lemahnya sumberdaya yang dimiliki oleh sebuah organiasi.

Akan tetapi kenyataan menunjukkan kelompok usaha yang tergolong lebih kecil mampu bertahan bila dibandingkan dengan kelompok lebih besar, Hal ini tidaklah berlebihan karena kelompok usaha kecil dalam hal ini pengrajin anyaman bambu khususnya di wilayah Kecamatan Pagerwojo dan sekitarnya, malah kebanjiran order pesanan (tompo, tampah dll).

Hal inilah yang melatarbelakangi Dinas Perindustrian dan Perdagangan untuk mengadakan Pembinaan dan Pelatihan Anyaman Bambu di 2 (dua) Desa yaitu Desa Segawe dan Desa Mulyosari Kecamatan Pagerwojo.

Untuk itu pada tanggal 27 s/d 29 Maret 2012 bertempat di Balai Desa Mulyosari telah dilaksanakan Pembinaan dan Pelatihan Anyaman Bambu oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tulungagung dengan mendatangkan Instruktur dari Kabupaten Trenggalek, jumlah peserta yang mengikuti pelatihan sejumlah 40 ( empat puluh ) orang terdiri dari para pengrajin 20 orang Desa Segawe dan 20 orang Desa Mulyosari.

Camat Pagerwojo dalam hal ini diwakili oleh Sekcam menyampaikan banyak-banyak terima kasih kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan yang telah memberikan bantuan peralatan anyaman bambu kepada para pengrajin sehingga dapat memperlancar usahanya dan pada akhirnya dapat meningkatkan nilai tambah.

Dalam kesempatan yang sama Kabid. IKA ( Ibu Soca ) mewakili kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan dalam pembukaannya antara lain.

Bantuan peralatan dan pelatihan yang saat ini kita laksanakan adalah untuk membantu masyarakat agar tetap melaksanakan aktifitasnya dibidang anyaman bambu agar tetap dapat memenuhi kebutuhan dasarnya.

Mencegah penurunan taraf kesejahteraan masyarakat pedesaan akibat kesulitan ekonominya.

Dapat meningkatkan Pengetahuan dan Ketrampilan di Bidang Anyaman Bambu untuk berkreasi dan berinofasi dalam produknya sehingga mampu bersaing dengan produk luar daerah.

Bantuan Peralatan terdiri dari:
Bor Listrik 10 buah
Pangot 40 buah
Gergaji 40 buah

Akhir dari sambutan Kabid IKA menekankan agar bantuan peralatan ini dapat dimanfaatkan dan dipergunakan secara maksimal sehingga menunjang hasil produksi yang dikelolanya. (IKA)

Sumber: tulungagung.go.id | Jum'at, 30 Maret 2012
Sabtu, 31 Maret 2012 | 0 komentar

Industri Keset di Tulungagung Naik di Musim Hujan

Senin, 06 Februari 2012 | 18.40.00 | 0 komentar

Tulungagung - Industri rumah tangga keset di Tulungagung naik selama musim hujan.

Nur Rohman pengrajin sekaligus pengepul keset berbahan dasar serabut kelapa asal Desa Dero Ampel Sumber Gempol seperti dilaporkan Bagas dari Radio Liur Tulungagung, Senin (6/2/2012), mengatakan, permintaan naik hingga 100%.

Kata Nur, selama musim penghujan permintaan keset mencapai 3000 per bulan. Sedangkan selama musim kemarau order keset mencapai 1500 unit.

Kenaikan hingga 100% itu, kata Nur, dipicu cuaca hujan dan hidup bersih masyarakat Tulungagung. Apalagi bahan keset dari sabut kelapa mudah didapat, harganya murah dan kualitasnya bagus. (tin)

Sumber: suarasurabaya.net | 06 Februari 2012
Senin, 06 Februari 2012 | 0 komentar

Abon Ikan Lele Dari Gondosuli - Gondang Tembus Pasar Ekspor

Sabtu, 04 Februari 2012 | 17.13.00 | 1 komentar

Tulungagung - Sektor industri kecil telah mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Tulungagung. Salah satunya adalah industri makanan olahan yang di-inovasi dan dikembangkan oleh Rusli Winardi warga desa Gondosuli Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung. Sejak 2 tahun ini Rusli memproduksi abon dengan bahan baku ikan lele, patin dan tuna. Saat ini produksi abon dari Desa Gondosuli ini menjadi komoditas ekspor ke negara Qatar.

Abon yang dibuat dari bahan baku ikan lele, tuna, dan patin ini mempunyai cita rasa yang lezat dan mampu bertahan 14 hari tanpa bahan pengawet. Setelah mendapatkan pembinaan dan permodalan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Rusli telah mampu membuat abon 40 Kg per hari. Kegiatan UMKM ini akhirnya menginspirasi warga sekitar untuk ikut mengembangkan produksi abon dari bahan baku ikan lele dan patin sehingga diharapkan mampu menyingkap kesempatan kerja baru di Tulungagung.

Untuk pemberdayaannya kepala dinas koperasi dan UMKM Tulungagung – Edy Suyanto bilang, siap memfasilitasi bantuan permodalan kepada para pengusaha kecil.

Sumber: liiur.com | 04 February 2012
Sabtu, 04 Februari 2012 | 1 komentar

Batik Bekisar Ijah dari Tulungagung

Sabtu, 31 Desember 2011 | 15.31.00 | 0 komentar

Corak batik tulis buatan Sriana juga menjadi incaran konsumen luar negeri.

Seruan memakai busana batik di hari tertentu di semua instansi ikut mendorong perubahan besar usaha batik milik Sriana. Wanita paruh baya ini menggeluti pembuatan kain baik sejak tahun 1982 silam.

Sriana mengaku, sejak pencanangan mengenakan batik, produksi batik usahanya melejit pesat. Order atau pesanan pun terus mengalir diterima wanita asal warga Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ini. Untuk mengerjakan itu, Sriana terus menambah pekerjanya hingga 45 orang. Dan semua pegawainya itu merupakan warga desa setempat.

"Dari jumlah itu, mereka tidak hanya mengerjakan di sini. Tapi juga bisa dibawa pulang, dikerjakan di rumah masing-masing," kata Sriana.

Dari sejumlah corak batik buatannya, beberapa corak menduduki nominasi tertinggi karena banyak diminati. Diantaranya diberi nama 'Bekisar Ijah', burung Bekisar jantan yang mencumbu pasangannya dengan latar dasar bercorak bunga serta motif lainnya bernama 'Satrio Manah' yang didominasi warna pekat dengan bahan sutra dan katun yang cukup halus.

Selain itu ada sejumlah corak batik lainnya, seperti Barong Gong, Gajah Mada dan lainnya. Disebutkan, untuk motif Bekisar Ijah sebulan lalu dalam lomba karya batik unggulan di Jakarta menduduki posisi nominasi final. "Motif ini, hasil kreasi paduan Tulungagung dan Trenggalek," jelasnya.

Untuk mengerjakan satu kain batik bercorak Bekisar, urai Sriana, membutuhkan waktu 20 hari. Hal itu disebabkan karena pembuatannya berbeda dengan desain batik cetak yang hanya dikerjakan satu hari. Dan yang membuat corak ini semakin terkesan istimewa, yang mengerjakan kain ini pun hanya satu orang. Tujuannya untuk memberikan corak dan hasil yang sempurna.

"Kalau dikerjakan satu orang, pola yang dihasilkan akan seirama tidak menyimpang dari pakem. Berbeda kalau dikerjakan banyak orang. Makanya, harga jual batik ini juga mahal sampai jutaan rupiah," tegasnya.

Batik yang dihasilkan Sriana tidak dikerjakan dengan mesin. Dan oleh karena itu melibatkan banyak pekerja. Usaha yang dilakoninya semula hanya membuat kain 'jarik' sederhana untuk dipasarkan di sekitar lokasi tempat tinggalnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan terus terjadi hingga kemudian ia memperbesar garapannya dengan memproduksi kain batik sebagai bahan baju dan kebaya untuk laki-laki dan perempuan. Seiring itu, nama batik Bekisar Ijah dan Satrio Manah terus digemari masyarakat umum.

Dikisahkan, salah satu yang membuat jenis buatannya beda dengan pengrajin batik lainnya adalah, karena hingga saat ini tetap bertahan dengan hanya menerima pesanan batik tulis. Ia tidak membuat batik cetak atau printing yang mulai dikerjakan banyak pengrajin batik. Proses pembuatannya juga manual, dengan tangan-tangan terampil pegawai asuhannya.

Menurutnya, itu untuk menjaga dan mempertahankan nilai tradisional kain khas yang dipakai nenek moyang di Tanah Jawa sejak dahulu.
"Itu karena untuk tetap bertahan pada nilai tradisional. Yang dilakukan nenek moyang kita kan seperti itu," ucapnya.

Sriana menjelaskan, perusahaan yang berawal jenis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tersebut terus diminati. Tidak hanya di dalam negeri seperti Jakarta, Surabaya dan sejumlah kota di Sumatera. Konsumen asal luar negeri juga terus berdatangan ke desa kecil di Tulungagung itu untuk memesan batik dengan berbagai corak.

"Luar negeri diantaranya dari Singapura, Malaysia, Hong Kong dan Belanda," sebutnya.

Laporan : Tudji Martudji | Surabaya

Sumber: VIVAnews | Senin, 3 Oktober 2011
Sabtu, 31 Desember 2011 | 0 komentar

Diterjang Sintetis China, Perajin Bambu Lokal Kian Merana

Selasa, 27 Desember 2011 | 09.24.00 | 0 komentar

Surabaya - Masuknya barang kerajinan housewares (peralatan rumah tangga) anyaman sintetis dari Vietnam dan China, membuat para pengrajin bambu lokal bertumbangan alias gulung tikar.

Berdasarkan data Asosiasi Perajin Jatim, jumlah perajin bambu untuk houseware pada 2001 di sentra pengrajin mambu di Banyuwangi berjumlah ratusan atau sekitar 200-an perajin. Saat ini jumlahnya hanya tinggal puluhan saja.

"Jumlah perajin bambu turun drastis, ini karena serbuan produk impor sejenis, namun berbahan sintetis dari Vietnam dan China," kata Ketua Asosiasi Pengrajin Jatim, Lilik Noer, akhir pekan kemarin.

Lilik bilang, para perajin bambu dalam beberapa tahun terakhir memang diterjang cobaan yang luar biasa berat, pasalnya perajin bambu jelas kalah kualitas. "Bahan sistetis sangat mudah dibersihkan dan lebih tahan lama, sementara perajin bambu kita murni dari bambu alam. Apalagi produk sintetis harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan produk kerajinan bambu lokal," ujarnya.

Apalagi ironisnya, beberapa perajin bambu yang pada tahun 1999-2001 rajin mengekspor produknya ke Jepang, sejak 2002 sudah tidak lagi mengekspor, pasalnya kalah bersaing dengan produk sintetis asal Vietnam dan China yang dari segi produk, bisa diproduksi secara massal sehingga jauh lebih murah.

Menurut Lilik, tidak hanya perajin bambu saja yang banyak gulung tikar, perajin batu Onix dari Pacitan, Tulungagung pun bernasib sama. "Serbuan produk batu Onix dari China dan Pakistan membuat omset perajin terus turun dan akhirnya kolaps," imbuh Lilik.

Namun menurut Lilik, tidak hanya peran pemerintah saja yang terus aktif sosialisasi cinta produk dalam negeri, tetapi yang paling utama adalah pemilik tempat, supermarket, department store, pusat perbelanjaan jangan memanjakan produk impor.

"Kami sering menjumpai produk kerajinan impor yang mendapat tempat yang 'istimewa' di stand pusat perbelanjaan, ini kan terbalik, seharusnya produk kerajinan lokal yang diistimewakan," tukas Lilik. dtf

Sumber: surabayapost.co.id | Senin, 26/12/2011
Selasa, 27 Desember 2011 | 0 komentar

Jelang Tahun Baru, Pengrajin Terompet Raih Puluhan Juta

Jumat, 16 Desember 2011 | 22.07.00 | 0 komentar

Tulungagung: Tradisi pergantian tahun baru identik dengan membuyikan terompet. Hal itu rupanya membawa berkah tersendiri bagi pengrajin terompet di daerah.

Seperti banyak diketahui, seluruh dunia tengah bersiap menyambut pergantian tahun baru. Tak terkecuali di Indonesia. Tradisi meniup terompet pada tiap pergantian tahun sudah menjadi kebiasaan masyarakat di Indonesia.

Kebiasaan itu, rupanya membawa rejeki bagi sebagian masyarakat Indonesia yang kreatif. Seperti yang terlihat di Tulungagung, Jawa Timur, Jumat (16/12). Sejumlah pengrajin sudah mempersiakan diri menyambut tahun baru dengan menjajakan terompet buatan mereka sendiri.

Seorang pengrajin, Agus Santoso mengaku telah 15 tahun membuat terompet. Ia memanfaatkan karton bekas yang berasal dari perkantoran dan percetakan, untuk dijadikan berbagai macam bentuk terompet.

Dengan mengolah bahan dasar karton bekas seharga Rp1000-6000 per kilogram, Agus kemudian mengkreasikan bahan tersebut. Hasilnya, berbagai jenis terompet tercipta, seperti naga, gajah, harimau, kuda, dan tokoh serial film kartun Upin-Ipin. Terompet itu kemudian ia jual antara Rp6500 hingga Rp50 ribu, tergantung bentuk dan tingkat kesulitan.

Menjelang pergantian tahun seperti sekarang, Agus mengaku mampu meraih omset hingga puluhan juta rupiah.(****)

Sumber: Metrotvnews.com | Jumat, 16 Desember 2011
Jumat, 16 Desember 2011 | 0 komentar

Puluhan Mitra Raih Telkom CSR Award 2011

Rabu, 07 Desember 2011 | 18.52.00 | 0 komentar

Sedikitnya 20 mitra binaan UMKM dan beberapa lembaga yang menjadi mitra dalam mendukung program Corporate Social Responsibility Telkom mendapatkan Telkom CSR Award 2011.

Penganugerahan penghargaan ini digelar Rabu (7/12/2011) di Hotel Novotel Surabaya. ”Ini adalah ajang untuk memberikan apresiasi kepada mitra binaan Telkom dan institusi yang telah menjadi partner strategis dalam program CSR Telkom,” kata Gatot Rustamadji Senior General Manager Community Development Center Telkom.

Tahun 2011 ini merupakan tahun ketiga digelar Telkom CSR Award. Setelah sebelumnya diadakan di Jogjakarta (2009) dan Bandung (2010). Pada penyelenggaraan ketiga di Surabaya ini ada 3 kriteria penghargaan diberikan kepada mitra dan institusi CSR Telkom oleh Faisal Syam Direktur Human Capital and General Affair Telkom. Yakni penghargaan untuk program kemitraan, program sosial, dan penghargaan khusus.

Kata Faisal Syam, CSR adalah bagian dari etika bisnis Telkom dalam mendukung Good Corporate Citizenship. Dengan program-program CSR, Telkom berkomitmen untuk mendukung pengembangan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan.

Berikut penghargaan untuk katagori bidang ekonomi kemitraan, ada 12 mitra, yaitu Songket Cik Mia Jambi, Promindo Utama Cirebon, Batik Tulis Garut, Batik Rameza Pekalongan, Koperasi Industri Genteng Tulungagung, Abon Kepiting Balikpapan, Amplang Balikpapan, Insun Vera Pontianak, Batu Cantik Denpasar, Kelompok Tani Sinjai Sulawesi Selatan, Berticel Kupang, dan Akusa Jayapura.

Sedangkan Telkom CSR Award 2011 untuk katagori bidang sosial diberikan kepada Infokes Jakarta, Bina Bangsa Pekalongan, dan Tribun Timur Makassar. Untuk bidang bina lingkungan diberikan kepada Kelompok Tani Sangga Buana.

Sementara itu untuk katagori eskternal khusus Telkom CSR Award 2011 diraih oleh Desa Maju Binaan Telkom Brosem Malang (Pemberdayaan kelompok usaha sari apel), Kampung Telkom Sejahtera Kampar Riau (Pemberdayaan masyarakat berbasis ketahanan pangan budidaya ikan patin), dan Jurnal Nasional (Pemberdayaan pelatihan Indigo-preneur UKM), serta Pemerintah Kota Surabaya (Pelestarian lingkungan Taman Bungkul Surabaya). Penghargaan yang diberikan diantaranya berupa surat keputusan, piagam, dan notebook.

Telkom mulai menggulirkan program Corporate Social Responsibility (CSR) di tahun 2001 melalui program utama yakni kemitraan dan bina lingkungan. Hingga 2011 ini total dana digulirkan mencapai Rp1,4 triliun.

Kata Gatot Rustamadji Senior General Manager Community Development Center Telkom, sampai tahun 2011 ini total terdapat 74 ribu mitra UMKM yang menjadi mitra Telkom se Indonesia.(ipg)

Sumber: suarasurabaya.net | 07 Desember 2011
Rabu, 07 Desember 2011 | 0 komentar

Bupati Perhatikan Penjahit Ceplok Piring

Selasa, 08 November 2011 | 23.38.00 | 0 komentar

Tulungagung - Puluhan penjahit di kawasan Ceplok Piring, Jl. Piere Tendean Tulungagung tersenyum lega karena tempat mereka bekerja akan dibantu dibuatkan tenda seragam oleh Pemkab Tulungagung.

Hal tersebut, disampaikan oleh Bupati Tulungagung Ir. Heru Tjahjono, MM bersama kepala dinas instansi terkait saat mengunjungi tempat mereka bekerja, Selasa (8/9/2011).

Bupati Ir. Heru Tjahjono, MM begitu datang di tempat tersebut langsung melakukan wawancara dengan para penjahit dan mengharapkan agar semua pekerja penjahit di sekitar jalan tersebut, untuk selalu menjaga kebersihan agar tempat kerja bersih, nyaman, dan indah. Dengan begitu pelanggan makin banyak dan selalu sehat. Di samping itu, agar semua penjahit berada dalam satu tempat yaitu Jl. Piere Tendean Tulungagung.

Selama ini, para penjahit di Jl. Piere Tendean yang terdiri dari para ibu dan bapak menerima jahitan dari masyarakat. Setiap hari mereka menjahit mulai jam 8 pagi hingga sore hari. Bukan hanya menerima jahitan baju baru tetapi juga berbagai jenis tas, mereka juga menerima permak pakaian lama maupun baru.

Penjahit yang berasal dari berbagai Desa di Kabupaten Tulungagung tersebut, bisa merasakan adanya peningkatan ekonomi, terutama setelah adanya bantuan mesin jahit, yang bisa digunakan memperlancar usaha jahitnya. Seperti yang pernah diberitakan, bahwa Pemkab Tulungagung melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan memberikan bantuan peralatan produksi berupa mesin jahit, dan pelatihan menjahit, pada Selasa, 1 November 2011.

Kegiatan itu diikuti, 57 orang peserta dari 15 desa/kelurahan yaitu desa Tawangsari, Majan, Ketanon, Gendingan, Ngantru, Karangrejo, Mangunsari, Betak, Bolorejo, Kauman, Wonorejo, Kelurahan Kampung Dalem, Panggungrejo, Kepatihan, dan Karangwaru dan dibuka oleh Ir. Supartono, MM, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan. (Udin/Humas)

Sumber: tulungagung.go.id | Selasa, 08 November 2011
Selasa, 08 November 2011 | 0 komentar

Batik Bekisar Ijah dari Tulungagung

Senin, 03 Oktober 2011 | 23.07.00 | 0 komentar

Corak batik tulis buatan Sriana juga menjadi incaran konsumen luar negeri.

Seruan memakai busana batik di hari tertentu di semua instansi ikut mendorong perubahan besar usaha batik milik Sriana. Wanita paruh baya ini menggeluti pembuatan kain baik sejak tahun 1982 silam.

Sriana mengaku, sejak pencanangan mengenakan batik, produksi batik usahanya melejit pesat. Order atau pesanan pun terus mengalir diterima wanita asal warga Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ini. Untuk mengerjakan itu, Sriana terus menambah pekerjanya hingga 45 orang. Dan semua pegawainya itu merupakan warga desa setempat.

"Dari jumlah itu, mereka tidak hanya mengerjakan di sini. Tapi juga bisa dibawa pulang, dikerjakan di rumah masing-masing," kata Sriana.

Dari sejumlah corak batik buatannya, beberapa corak menduduki nominasi tertinggi karena banyak diminati. Diantaranya diberi nama 'Bekisar Ijah', burung Bekisar jantan yang mencumbu pasangannya dengan latar dasar bercorak bunga serta motif lainnya bernama 'Satrio Manah' yang didominasi warna pekat dengan bahan sutra dan katun yang cukup halus.

Selain itu ada sejumlah corak batik lainnya, seperti Barong Gong, Gajah Mada dan lainnya. Disebutkan, untuk motif Bekisar Ijah sebulan lalu dalam lomba karya batik unggulan di Jakarta menduduki posisi nominasi final. "Motif ini, hasil kreasi paduan Tulungagung dan Trenggalek," jelasnya.

Untuk mengerjakan satu kain batik bercorak Bekisar, urai Sriana, membutuhkan waktu 20 hari. Hal itu disebabkan karena pembuatannya berbeda dengan desain batik cetak yang hanya dikerjakan satu hari. Dan yang membuat corak ini semakin terkesan istimewa, yang mengerjakan kain ini pun hanya satu orang. Tujuannya untuk memberikan corak dan hasil yang sempurna.

"Kalau dikerjakan satu orang, pola yang dihasilkan akan seirama tidak menyimpang dari pakem. Berbeda kalau dikerjakan banyak orang. Makanya, harga jual batik ini juga mahal sampai jutaan rupiah," tegasnya.

Batik yang dihasilkan Sriana tidak dikerjakan dengan mesin. Dan oleh karena itu melibatkan banyak pekerja. Usaha yang dilakoninya semula hanya membuat kain 'jarik' sederhana untuk dipasarkan di sekitar lokasi tempat tinggalnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan terus terjadi hingga kemudian ia memperbesar garapannya dengan memproduksi kain batik sebagai bahan baju dan kebaya untuk laki-laki dan perempuan. Seiring itu, nama batik Bekisar Ijah dan Satrio Manah terus digemari masyarakat umum.

Dikisahkan, salah satu yang membuat jenis buatannya beda dengan pengrajin batik lainnya adalah, karena hingga saat ini tetap bertahan dengan hanya menerima pesanan batik tulis. Ia tidak membuat batik cetak atau printing yang mulai dikerjakan banyak pengrajin batik. Proses pembuatannya juga manual, dengan tangan-tangan terampil pegawai asuhannya.

Menurutnya, itu untuk menjaga dan mempertahankan nilai tradisional kain khas yang dipakai nenek moyang di Tanah Jawa sejak dahulu.
"Itu karena untuk tetap bertahan pada nilai tradisional. Yang dilakukan nenek moyang kita kan seperti itu," ucapnya.

Sriana menjelaskan, perusahaan yang berawal jenis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tersebut terus diminati. Tidak hanya di dalam negeri seperti Jakarta, Surabaya dan sejumlah kota di Sumatera. Konsumen asal luar negeri juga terus berdatangan ke desa kecil di Tulungagung itu untuk memesan batik dengan berbagai corak.

"Luar negeri diantaranya dari Singapura, Malaysia, Hong Kong dan Belanda," sebutnya.

Laporan : Tudji Martudji | Surabaya

Sumber: VIVAnews | Senin, 3 Oktober 2011
Senin, 03 Oktober 2011 | 0 komentar

Kegiatan Usaha di Kediri Bergairah

Jumat, 16 September 2011 | 17.42.00 | 0 komentar

KEDIRI - Kegiatan dunia usaha di wilayah eks Karesidenan Kediri, Jawa Timur, pada triwulan kedua tahun 2011 kembali bergairah setelah sebelumnya mengalami kontraksi. Pemimpin Bank Indonesia Kediri Matsisno mengatakan, hal itu tercermin dari hasil survei kegiatan dunia usaha yang dilakukan terhadap sejumlah responden.

"Hasil survei menyatakan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebagai indikator kegiatan dunia usaha mencapai angka 39,99 persen atau lebih baik dibanding triwulan pertama yang minus 0,42 persen," ujarnya, Jumat (16/9/2011).

Wilayah eks Karesidenan Kediri meliputi Kota/Kabupaten Kediri, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Tulungagung, Kota dan Kabupaten Blitar, serta Kabupaten Trenggalek.

Hal yang menyenangkan, kegiatan dunia usaha bergairah pada hampir semua sektor ekonomi seperti perdagangan, hotel dan restoran, sektor industri pengolahan, sektor jasa-jasa dan sektor bangunan. Bergairahnya kegiatan dunia usaha pada triwulan II ini dipicu oleh meningkatnya permintaan karena musim liburan sekolah dan masuk sekolah tahun ajaran baru.

Peningkatan ekspansi usaha ini diikuti pula dengan kenaikan harga jual terutama pada industri pengolahan dan pertanian.

Sumber: KOMPAS.com | Jumat, 16 September 2011
Jumat, 16 September 2011 | 0 komentar

Kembang Goyang Camilan Khas Tulungagung

Minggu, 04 September 2011 | 13.48.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Camilan Kembang Goyang semakin banyak diburu pembeli yang ingin membawa oleh-oleh khas dari Kabupaten Tulungagung.

Tak heran selama Ramadan dan Idul Fitri omzetnya melonjak tajam sehingga membawa berkah bagi pembuat kue-kue jajanan. Tak terkecuali Budi Santoso (43), pembuat Kembang Goyang, warga Desa Sukoanyar, Kecamatan Pakel, Tulungagung.

Kendati baru setahun memulai usaha membuat camilan kembang goyang, namun diluar dugaan, camilan yang dibuatnya banyak mendapat sambutan dari masyarakat. Bahkan permintaan kiriman barang ke luar daerah juga semakin meningkat. Padahalusaha camilan itu awalnya hanya sekedar coba-coba.

“Semula kami hanya sekedar coba-coba saja, ternyata banyak yang suka,” ungkap Budi Santoso.

Camilan Kembang Goyang merupakan adonan yang terbuat dari tepung terigu, tepung tapioka, gula, telur, garam, wijen serta vanili. Perpaduan bahan itu kemudian dicampur dengan komposisi tertentu selanjutnya dicetakdengan digoreng di wajan besar.

Camilan Kembang Goyang biasa dikemas dalam plastik dengan isi 0,25 (seperempat) Kilogram. Namun karena tempat kemasannya hanya dengan kantong plastik memang selalu berisiko kue Kembang Goyang mudah retak.

“Kalau pesanannya setiap hari selalu meningkat, namun karena tenaganya sangat terbatas, produksinya tidak banyak,” tuturnya.

Produksi Kembang Goyang sudah didaftarkan merknya ke Departemen Hukum dan HAM. Sedangkan untuk proses produksinya Budi hanya dibantu istri dan orangtua serta anak-anaknya. Sejauh ini dia masih melibatkan keluarganya karena kapasitas produksinya pada hari normal hanya 10 kg per hari.

Karena produksi masih berskala home industri, Budi mengakui camilan buatannya rentan rusak sehingga memerlukan perlakuan khusus saat pengiriman barang. Apalagi jika camilannya dikirim dengan angkutan umum.

Selain itu, untuk mengembangkan usahanya Budi mengaku juga masih kesulitan permodalan. Meski sudah ada sejumlah tawaran dari lembaga perbankan, namun bunga yang diberikan masih cukup tinggi untuk usaha skala industri rumah tangga. (didik mashudi)

Source: SURYA Online | Sabtu, 3 September 2011
Minggu, 04 September 2011 | 0 komentar

Pemkab Tulungagung Gelar Sosialisasi Kewirausahaan

Rabu, 01 Juni 2011 | 02.27.00 | 0 komentar

Tulungagung - Pemerintah Kabupaten Tulungagung menggelar sosialisasi kewirausahaan kepada sejumlah pelaku usaha ekonomi produktif penerima bantuan program kredit usaha mikro, kecil, menengah, dan koperasi (UMKMK), Selasa.

Acara sosialisasi yang diselenggarakan di ballroom Hotel Istana itu diikuti oleh sedikitnya 75 peserta, terdiri atas tim teknis dana bergulir Kabupaten Tulungagung, kasi pembangunan dan perekonomian kecamatan, seluruh pelaku usaha ekonomi produktif yang telah dinyatakan lulus seleksi.

"Kegiatan ini kami gelar untuk meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap program dana bergulir Provinsi Jawa Timur," kata Ketua Panitia Penyelanggara Sosialisasi Kewirausahaan kepada Pelaku Usaha Ekonomi Produktif Kabuapaten Tulungagung, Hariyanto.

Dengan begitu, lanjut dia, diharapkan UMKMK sebagai usaha ekonomi produktif dapat bergerak lebih maju pada setiap usahanya sehingga berdampak pada perluasan lapangan kerja serta roda perekonomian secara riil

Hal senada disampaikan Sekretaris Daerah Tulungagung Maryoto Birowo. Ia mengatakan, usaha ekonomi produktif merupakan kegiatan usaha yang mampu memperluas lapangan kerja dan memberikan pelayanan ekonomi yang luas pada masyarakat.

"Tumbuhnya ekonomi produktif akan berperan dalam proses pemerataan, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memberi kontribusi terwujudnya stabilitas nasional," ujarnya menyitir kata sambutan Bupati Heru Tjahjono.

Mantan Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung ini menambahkan, salah satu bentuk kepedulian Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemkab Tulungagung terhadap pengembangan usaha ekonomi produktif adalah dengan mengucurkan dana bergulir dengan bunga lunak melalui program UMKMK.

Karena itu, pihaknya banyak berharap agar setiap lembaga perbankan yang telah ditunjuk oleh pemerintah provinsi di Kabupaten Tulungagung ikut mendukung program pembangunan usaha ekonomi produktif usaha mikro, kecil, maupun menengah.

"Peran dunia perbankan dalam menyukseskan program ini tentu sangatlah vital. Perlu upaya bersama untuk menumbuhkan sektor ekonomi produktif masyarakat melalui berbagai program pinjaman lunak yang bisa digulirkan secara terus-menerus dan berkesinambungan," tandas Maryoto Birowo.

Sumber: Antara
Rabu, 01 Juni 2011 | 0 komentar

Untung Gede dari Kaos Gadhe

Kamis, 26 Mei 2011 | 01.22.00 | 0 komentar

Kaos sudah menjadi pakaian yang umum dipakai segala kalangan. Tak mengherankan banyak yang berupaya mencari rupiah dengan menggeluti usaha produksi kaos ini. Agar menarik minat konsumen, perajin bahan sandang ini dituntut kreatif menampilkan ciri khasnya. Salah satunya, kaos dengan motif lanscape sebuah daerah.

Kaos-kaos yang mencerminkan daerah tertentu sudah lama ada. Sebut saja, Dagadu yang merupakan kaos produksi khas dari Jogjakarta, Joger dari Bali, Cakcuk dari Surabaya atau Dadung dari Solo. Keberadaan kaos-kaos ini ternyata menggelitik pria kelahiran Tulungagung, Toto Febri Kurniawan (37), yang tertarik mencoba meraup keberuntungan yang sama.
“Saya sudah lama mengagumi kaos-kaos suvenir. Setiap berkunjung ke berbagai kota, saya selalu mencari kaos-kaos yang mencerminkan daerah setempat. Ini pula yang mendorong saya membuat kaos serupa tetapi mencerminkan kekhasan Tulungagung,” tutur Toto, saat ditemui di showroom-nya di Jalan MT Haryono, Kelurahan Bago, Tulungagung, belum lama ini.
Guna mewujudkan idenya, Toto yang kala itu masih bekerja di bagian sirkulasi Harian Surya, memutuskan untuk pensiun dini, tepatnya di Oktober 2008. Dana pensiun dini itu sengaja disimpan untuk modal usaha mendirikan outlet cinderamata khas Tulungagung. Memasuki 2009, Toto mencoba usahanya dengan melayani pesanan kaos-kaos untuk pemilihan umum.
“Bersyukur tidak lama setelah saya keluar langsung ada pemilihan umum, sehingga tidak terlalu lama menganggur,” ujar anak ketiga dari empat bersaudara ini. Event lima tahunan itu benar-benar dimanfaatkan Toto untuk mencari untung yang akan digunakannya untuk menambah modal usaha.
Selama momentum Pemilu itu pula, ia gencar mengumpulkan materi gambar yang menonjolkan kekhasan kota Tulungagung. Di antaranya Patung Retjo yang melambangkan tahun berdirinya Tulungagung, Jembatan Plengkung yang ada sejak penjajahan Belanda, Pantai Popoh dan Candi Sanggrahan yang merupakan peninggalan zaman Majapahit.
Meski sudah menerima pesanan kaos, Toto baru mewujudkan idenya memproduksi kaos khas pada Maret 2010. Kaos itu diberi merek ‘Gadhe’ kepanjangan dari gegayuhan kang gedhe (cita-cita yang besar). Untuk proses produksi, ia dibantu oleh adiknya, Wawan Yunianto (34) yang sudah mempunyai usaha sablon.
“Sebelum produksi, saya menawarkan dua desain gambar Retjo dan Jembatan Plengkung yang dianggap mempunyai image yang kuat dengan Tulungagung,” kata Toto, yang memanfaatkan jejaring sosial facebook untuk promosi awal rencana produknya.
Diluar dugaan, ternyata respons dari dunia maya ini sangat positif. Terutama dari mereka yang kelahiran asli Tulungagung dan bekerja di luar kota. “Saat saya promosikan akan dicetak, ternyata banyak yang pesan. Jumlahnya sampai 250 orang,” ungkap peraih penghargaan kompetisi bertitel Lelaki Sejati Pengobar Inspirasi 2010 ini.
Kaos-kaos itu dikirim ke berbagai daerah, seperti Jakarta dan Kalimantan, sesuai keberadaan para pemesan. Dalam waktu dua minggu, kaos-kaos Gadhe sudah habis terjual. Dengan harga jual rata-rata Rp 65.000 per kaos, Toto meraih keuntungan sekitar 10 persen, atau Rp 6,5 juta.
Melihat keuntungan awal yang lumayan besar, Toto semakin yakin dengan usaha yang dirintisnya. Apalagi setelah kaos tersebut menyebar, semakin banyak yang dibuat penasaran dan menanyakan kaosnya. Bahkan tidak sedikit yang meminta untuk dicetak ulang.
“Saat permintaan pasar bagus dan terus meningkat, saya pikir inilah saatnya membuat usaha lebih serius,” kata Toto, yang memproduksi sedikitnya 350 buah kaos setiap bulannya, dimana 200 kaos untuk pasar lokal dan selebihnya dijual ke luar kota. Bahkan 3 bulan belakangan, Gadhe melayani pesanan hingga ke luar negeri, terutama dari para TKI asal Tulungagung.
Rata-rata ada 30 buah kaos yang dikirim ke Taiwan dan Hongkong setiap bulannya. Setiap kaos dihargai berdasarkan ukuran. Ukuran S dan L dibanderol Rp 60.000, XL hingga XXXL dihargai Rp 65.000, sedangkan ukuran XXXXL dan XXXXXL dihargai Rp 75.000. Dari seluruh transaksi, total perputaran uang dari Gadhe mencapai Rp 80 juta per bulan. Setelah dipotong biaya produksi dan lain-lain, Toto mampu mengantongi keuntungan bersih 10 persennya.
Dengan usaha yang kian dikenal, ia mulai menyewa sebuah ruko di Jalan MT Haryono, Kelurahan Bago, Tulungagung, sebagai showroom produknya. Untuk cetakan selanjutnya, beberapa desain gambar telah disiapkan, seperti Candi Sanggrahan dan Cethe. Hingga kini, tercatat sudah 20 desain yang dibuat. Setiap desain dicetak hingga 500 buah kaos berbagai ukuran dan warna kain.
“Soal desain, tidak ada kesulitan yang berarti. Karena obyek-obyek yang diinginkan tinggal dipotret dari berbagai sudut. Kesulitannya mungkin hanya saat memilih foto yang akan dipakai. Karena bahasa foto dengan bahasa cetak di kaos sangat berbeda,” jelasnya.
Guna kelancaran usahanya, ia mempekerjakan lima tukang potong sekaligus tukang jahit, serta lima tukang sablon. Mereka bebas mengerjakan pesanan di rumah masing-masing, namun dengan waktu yang ketat. Untuk menjaga kualitas produknya, Toto hanya memilih kain jenis soft cotton 30S.
“Memang lebih mahal, tetapi bahan baku ini sengaja dipilih karena paling nyaman, serta sempurna menyerap keringat. Puas rasanya kalau melihat orang memakai kaos ini dan mereka merasa nyaman,” kata pria lajang yang kini menikmati buah manis dari idenya.
Toto optimistis pasar masih terbuka lebar untuk produk kaos dengan ciri khas daerah, seperti Gadhe ini. “Selama masih ada pengunjung/wisawatan datang ke Tulungagung, pasti masih ada pembeli untuk produk kaosnya,” ujar Toto, yang berharap bisa terus meningkatkan produksinya dan mendapat pinjaman modal dari lembaga keuangan manapun. st37

Sumber: surya.co.id
Kamis, 26 Mei 2011 | 0 komentar

Sujiono, mantan pemain ludruk yang jadi produsen parut listrik

Kamis, 05 Mei 2011 | 16.00.00 | 0 komentar

Tulungagung - Meraih sukses bisa lewat cara apa saja, salah satunya melalui inovasi. Sujiono menggunakan prinsip itu. Meski hanya lulusan SD, pria asal Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur, ini sukses berbisnis parut listrik hingga beromzet miliaran rupiah per tahun.

Dulu, mungkin tak pernah ada orang mengira bahwa kegiatan sederhana kelas rumah tangga ini bisa menjadi sebuah bisnis andalan: memarut kelapa. Tapi kini, jasa memarut kelapa dengan mesin parut telah menjadi salah satu lapak paling laris di pasar-pasar tradisional.

Kalau Anda perhatikan bisnis sederhana ini dari satu lapak ke lapak lain, ada dua jenis mesin parut yang dipakai: mesin parut diesel dan mesin parut listrik. Mesin parut diesel lebih berisik ketimbang mesin parut listrik. Nah, penemu mesin parut listrik tersebut adalah Sujiono.

Pria sederhana asal Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur, ini kemudian menjadikan benda temuannya sebagai sandaran hidup. Dari memproduksi alat parut listrik ini Sujiono berhasil membalikkan kehidupan ekonominya 180 derajat lebih baik.

Sujiono mulai memproduksi parut listrik pada tahun 2001. Dari semula hanya dipasarkan di sekitar Tulungagung, kini alat itu menyebar hingga Surabaya, beberapa kota di Sumatra, Nusa Tenggara, bahkan Papua. Di Jawa, harga parut listrik serbaguna ini Rp 210.000 per unit. Di Sumatra, harganya melonjak menjadi Rp 350.000 per unit.

Sejatinya, parut listrik serbaguna buatan Sujiono hanyalah mesin pemarut biasa yang menggunakan mesin pompa air sebagai penggerak. Pengguna alat ini adalah industri makanan yang harus banyak-banyak memarut kelapa saban hari, seperti katering dan restoran. Namun, ada juga dapur rumahtangga biasa yang memakainya.


Dipacu oleh anak

Dua puluh tahun lalu, Sujiono tak pernah membayangkan bisa sukses seperti sekarang. Maklum, sejak kecil Sujiono sudah akrab dengan kesulitan ekonomi. Umur 13 tahun, Sujiono ditinggal ibunya meninggal dunia. Ia lantas tinggal bersama sang ayah.

Kakak-kakak perempuan Sujiono yang sudah menikah hidup sendiri-sendiri. Karena tak ada biaya, ia hanya bisa menamatkan pendidikan sekolah dasar (SD) dan terpaksa menghidupi diri sendiri. Sang ayah tak mau mengurusnya.

Sujiono kecil biasa mencari uang dengan menjual kayu bakar yang dia kumpulkan dari hutan. Ia menitipkan kayu bakar ke warung nasi dekat rumahnya. Dari situ, ia bisa mendapatkan biaya hidup. Meski tak ada yang merawat, ia bisa bisa makan dua kali sehari.

Untuk mengisi hari-harinya, sejak remaja Sujiono yang kini sudah memiliki satu cucu ini bergabung dengan grup ludruk keliling. Ia mendapat beragam peran, dari pembantu hingga banci. “Apa saja saya lakukan supaya bisa bertahan hidup. Darah seni membuat saya mampu bertahan sebagai seniman,” katanya. Bukan kebetulan, ayah Sujiono memang seniman kuda lumping di desanya.

Meski berstatus seniman, Sujiono tetap tak punya penghasilan cukup. Tahun 1979, ketika menikahi Tati Purwati, bahkan sepeda ontel pun tak mampu ia miliki. Tati yang setia terus menemaninya bermain ludruk sembari menjual karcis pertunjukan. Saat itu upah bermain ludruk hanya cukup untuk belanja 3 kilogram beras per hari.

Setahun kemudian putri pertama pasangan ini lahir. Sujiono mulai mencari pekerjaan lain yang lebih memberi penghasilan tetap. Ia berusaha menanam jeruk di kebun mertua. Tapi, usaha ini tak berjalan lancar. Hasilnya kurang memuaskan. Sujiono juga mencari uang dengan beragam cara, dari berjualan kue sampai membuat kacang atom. Sayang sekali, kedua usaha itu juga gagal total.

Di tahun 1983, anak kedua Sujiono lahir. Mau tak mau, ia dituntut lebih rajin mencari penghasilan yang mampu mencukupi keluarga kecilnya. Sujiono lantas berjualan bekatul pakan ayam. Ia membeli bekatul dari Malang, lalu dijual di Tulungagung. Untung dari usaha ini lumayan. Ia membeli bekatul seharga Rp 5 per kilogram (kg) lalu menjualnya seharga Rp 25 per kg. Dari bisnis ini, ia mulai mendapatkan keuntungan yang cukup buat hidup.

Sayang, belakangan, semakin banyak pemain baru di bisnis bekatul. Alhasil, persaingan membikin bisnis Sujiono redup. Oleh karena itu, pada tahun 1987, dia mulai beralih ke bisnis penggergajian kayu. Dengan modal awal Rp 8 juta, ia membeli gergaji dan mesin diesel. Usaha ini sempat membuat istrinya stres lantaran hasilnya jauh dari perkiraan. Untunglah, lama kelamaan, usaha itu berjalan lancar. Tapi, empat tahun kemudian, usaha mandek.

Di saat bisnisnya menjelang gulung tikar pada 2001 itu, Sujiono mencoba membuat parut listrik. Ia perlu waktu enam bulan sampai menemukan komposisi mesin yang pas. “Awalnya, saya bikin parut ini untuk istri saya di rumah,” ujarnya.

Perlahan namun pasti, orang semakin banyak tahu parut buatan Sujiono ini. Beberapa orang datang untuk memesan. Ia juga aktif mengikuti pameran di kabupaten sampai parutnya diborong bupati. Pesanan dari toko dan penjual ritel berdatangan.

Kini, dengan dibantu puluhan karyawan, Sujiono mampu memproduksi hingga 1.200 unit parut listrik tiap bulan. Dari bisnis ini dia mampu mencatat omzet penjualan sampai 250 juta per bulan.

Sujiono sudah mematenkan temuan ini. Jika Anda mendapati parut listrik bermerek resmi Parut Listrik Serbaguna, ingatlah alat itu temuan pensiunan pemain ludruk ini.

Sumber: kontan


Kamis, 05 Mei 2011 | 0 komentar

Sentra genteng Tulungagung: Hujan datang, produksi genteng bocor (2)

Rabu, 27 April 2011 | 16.49.00 | 0 komentar

Tulungagung - Pesanan genteng yang masuk ke Sumberingin Kulon, kecamatan Ngunut, kabupaten Tulungagung rata-rata 50.000 genteng tiap bulan, bahkan bisa lebih dari dua kali lipat. Namun, pada musim hujan para produsen biasanya hanya memproduksi 60% jumlah tersebut karena minim sinar matahari pengering genteng.

Meski hanya industri rumahan, jumlah produksi genteng di Sumberingin Kulon tak main-main. Satu pebisnis genteng ini bisa memproduksi hingga 50.000 unit genteng sebulan.

Jika 150 kepala keluarga di Sumberingin bisa menghasilkan 50.000 unit genteng saban bulannya, artinya desa kecil ini sanggup menyediakan sekitar 7,5 juta genteng saban bulan. "Kalau musim kemarau bahkan bisa lebih dari itu," kata Sukamto, salah seorang pengusaha genteng di Sumberingin.

Namun, Sukamto dan 149 kepala keluarga lainnya hanya bisa memproduksi maksimal 30.000 genteng ketika musim hujan. "Soalnya genteng yang sudah dicetak lama keringnya baru bisa kami bakar," kata Mahpud.

Pria kelahiran Ngunut tahun 1973 ini menjelaskan, saat musim kemarau, mengeringkan genteng sampai siap dibakar hanya membutuhkan waktu sekitar dua hari. Sementara ketika musim hujan, genteng baru siap dibakar setelah lima sampai enam hari melalui masa pengeringan.

Sejatinya, proses mencetak genteng hanya perlu waktu sehari. Proses pembuatan genteng paling lama adalah pengeringan genteng menjadi setengah matang sebelum genteng siap dibakar dalam tungku sehari penuh.

Genteng yang masih basah setelah dicetak tidak boleh langsung dibakar karena genteng bakal pecah dan tidak tahan lama. Karena itulah, industri genteng di Sumberingin sangat memerlukan sinar matahari.

Makanya, para produsen genteng ini bersusah hati ketika musim hujan. Pasalnya, pesanan genteng sangat tinggi baik dari Tulungagung atau wilayah lain.

Mahpud dan Sukamto mengakui permintaan genteng selalu ada setiap bulan. "Tergantung kami bisa nya berapa, pasar pasti menyerap habis," kata Sukamto. Biasanya permintaan datang dari konsumen yang memang hendak membangun rumah.

Konsumen memerlukan sekitar 3.000 genteng untuk membangun satu rumah sederhana. Sedikitnya empat sampai lima pesanan genteng datang dari konsumen setiap bulan. Sisanya pesanan dari pabrik-pabrik besar.

Selain melayani pesanan retail seperti itu, industri genteng rumahan di Sumberingin juga kerap melayani pesanan untuk gedung-gedung pemerintahan di Tulungagung, Surabaya, Magelang, dan Bali. Tentu saja pesanan gedung ini jauh lebih banyak jumlahnya.

Kualitas genteng yang kuat dengan harga bersaing asal Desa Sumberingin memang sudah terkenal seantero Jawa Timur. Genteng asal Desa Sumberingin terbagi menjadi beberapa macam.

Misalnya saja genteng original alias genteng biasa yang kecil dijual dengan harga
Rp 1.000 per genteng. Ada juga genteng prentul dengan harga Rp 1.300 per genteng. Genteng gelombang yang memiliki dua lengkungan dan lebih besar harganya Rp 1.700 per genteng. Sementara genteng mantili yang datar dan lebar dijual dengan harga Rp 2.600 per unit.

Genteng termahal adalah genteng glasir, yaitu genteng yang dilapisi dengan cat bening nan mengkilap khusus di lapisan atas. Genteng ini harganya mencapai Rp 3.400 per buah. Genteng jenis ini unggul lantaran tak mudah bocor, tak berlumut dan tak mudah retak terkena sinar matahari. Sukamto mengatakan permintaan akan produk-produk gentengnya bervariasi dan merata di setiap jenisnya.

Jika permintaan sedang tinggi, Sukamto dan Mahpud harus lembur hingga pesanan terselesaikan dalam waktu yang sudah ditentukan. "Kadang pesanan genteng bisa mencapai 150.000 buah yang harus selesai dalam waktu dua bulan," kata Mahpud. Jika demikian, Mahpud yang punya 10 karyawan ini harus bekerja keras memproduksi genteng siang dan malam.

Pelaku industri genteng di Sumberingin sudah memiliki truk sendiri untuk mengangkut barang dari Sumberingin ke pemesan. Truk-truk tersebut juga digunakan untuk mengangkut bahan baku mulai dari gunung tanah lempung di Blitar sampai ke Ngunut.(Bersambung)
Sumber: Kontan Online
Rabu, 27 April 2011 | 0 komentar

Sentra genteng Tulungagung: Mencetak tanah menjadi duit (1)

Tulungagung - Tak banyak yang tahu bahwa Desa Sumberingin Kulon, Tulungagung, Jawa Timur, merupakan salah satu daerah penghasil utama genteng di Jawa Timur. Salah satu desa di Kecamatan Ngunut, Tulungagung ini, menghasilkan jutaan genteng sebulan, dan memasok kebutuhan genteng di Surabaya, Malang, dan Bali.

Banyak orang mengenal Tulungagung hanya sebagai penghasil marmer dan batu oniks. Marmer asal kabupaten yang terletak di 154 kilometer barat daya kota Surabaya ini berhasil menembus pasar ekspor hingga Jepang dan Italia. Tulungagung, terutama di Kecamatan Ngunut, pun terkenal sebagai sentra industri kecil.

Kecamatan yang ada di wilayah paling timur Tulungagung ini memiliki luas 37,7 km² dan terdiri dari 18 desa kecil yang kebanyakan merupakan sentra-sentra industri kecil nan produktif.

Purnomo, Kepala Seksi Pembangunan dan Perekonomian Kecamatan Ngunut menjelaskan, Ngunut memiliki minimal empat sentra industri kecil yang sebagian hasil produksinya sudah diekspor ke beberapa negara. "Pasar lokalnya mencakup Surabaya, Semarang, Kalimantan, dan Bali," kata Purnomo.

Sumber Gempol, misalnya, merupakan penghasil produk peralatan rumah tangga seperti gantungan baju, keset, dan parut tradisional. Desa Kaliwungu merupakan penghasil kerajinan logam dan knalpot. Sedangkan Desa Ngunut adalah pusat peralatan dapur seperti penggorengan dan penjepit kue.

Selain desa-desa itu, masih ada Sumberingin Kulon, desa yang terkenal karena gentengnya. Sumberingin Kulon merupakan desa dengan lahan tersempit di Kecamatan Ngunut. Luasnya hanya 1,16 km² dibandingkan dengan desa lain yang memiliki luas wilayah 6 km² sampai 10 km².

Sebanyak 2.419 penduduk menghuni Sumberingin Kulon. Kebanyakan penduduk desa ini bermata pencaharian sebagai petani dan pelaku industri rumahan.

Mengakses Sumberingin Kulon sangat mudah. Dari Stasiun Tulungagung atau terminal bus di Tulungagung, Anda bisa menaiki bus kecil yang melintasi Tulungagung-Blitar.

Jalanan menuju desa-desa di kecamatan Ngunut hanya bisa dilalui kendaraan pribadi baik itu motor atau pun mobil. Maklum, tidak ada angkutan umum yang melintas antardesa.

Sejak dulu Sumberingin Kulon yang berjarak empat kilometer ke pusat kota ini sudah terkenal sebagai penghasil genteng. Sekitar 150 kepala keluarga melakoni usaha rumahan ini.

Sukamto, salah seorang perajin genteng, mengatakan, profesi pembuat genteng memang sudah turun temurun di desa Sumberingin. "Kebanyakan mewarisi pekerjaan orang tuanya sebagai pembuat genteng," kata Sukamto.

Para penduduk Sumberingin Kulon memanfaatkan lahan tanah milik keluarga untuk mengembangkan usaha pembuatan genteng ini. Maklum, tak hanya membutuhkan lahan yang luas, pembuatan genteng juga memerlukan bangunan-bangunan lain sebagai pendukung proses produksi, seperti tungku pembakaran dan bangunan untuk menjemur genteng sebelum genteng dibakar.

Meski pembuatan genteng di Sumberingin Kulon masih sederhana, jumlah produksi genteng dari desa ini tak kalah dengan bikinan pabrik. Bayangkan, satu rumah bisa memproduksi sekitar 50.000 genteng setiap bulan. Dengan hitungan kasar, desa ini mampu memproduksi hingga 7,5 juta genteng saban bulan.(Bersambung)
Sumber: kontan
| 0 komentar

Rintisan Pengolahan Produk Perikanan Khas Tulungagung

Rabu, 13 April 2011 | 22.15.00 | 0 komentar

Tulungagung - Dalam rangka mendukung Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) yang dicanangkan oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan, Dinas kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung berupaya melakukan promosi dan sosialisasi kepada masyarakat Tulungagung khususnya.

Kabupaten Tulungagung selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil ikan terbesar di Provinsi Jawa Timur. Dengan melakukan pembinaan-pembinaan secara intensif ke kelompok pengolah ikan, telah banyak produk-produk hasil perikanan yang dirintis dan mempunyai nilai jual serta bersaing dengan produk-produk perikanan di pasaran di Kabupaten Tulungagung dan sekitarnya.

Produk-produk yang telah dihasilkan di antaranya amplang ikan, abon ikan, stick ikan, ikan kering, terasi udang, brownies ikan.

Karena masih bersifat rintisan produk Kkhas perikanan masih diproduksi di beberapa UKM antara lain di Desa Soko Kecamatan Bandung, Milost Bakery Desa Karangrejo Kecamatan Boyolangu, Kelompok Wanita Mulia Desa Karangrejo Kecamatan Boyolangu, Kelompok Mina Melati Dusun Sidem Desa Besole kecamatan Besuki dan Kelompok Mina Sidodadi Desa Ngranti Kecamatan Boyolangu.

Apabila ada yang berminat bisa langsung di pesan ke Laboratorium Pengolahan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Tulungagung Jalan Ki Mangun Sarkoro No. 04 atau melalui nomor telepon 0355-321869.

Sumber: tulungagung.go.id
Rabu, 13 April 2011 | 0 komentar

15 Tokoh UKM Dapat Penghargaan dari SBY

Senin, 20 Desember 2010 | 17.47.00 | 1 komentar

Seputar Tulungagung - Selain industi berskala besar, sejumlah industri kecil dan menengah (IKM) juga mendapat penghargaan nasional. Termasuk kepada individu yang berperan positif terhadap peningkatan keberhasilan IKM.

Penghargaan juga disampaikan langsung oleh Presiden SBY. Acara berlangsung di Istana Negara, Jalan Veteran, Jakarta, Senin (20/12/2010).

Untuk kategori IKM modern 2010, ada 5 penerimanya. Mereka IKM yang dinilai telah menerapkan teknologi modern dalam proses produksi sehingga lebih efisien dan menghasilkan nilai tambah.

Mereka adalah:

1. PT Sarandi Karya Nugraha, Sukabumi, Jabar.
2. PT Mitrasukses Engineering Indonesia, Pasuruan, Jatim.
3. CV Karya Baru, Lampung Timur, Lampung.
4. PT Mangkupalas Mitra Makmur, Samarinda, Kaltim.
5. PT Wieda Sejahtera, Jakarta Timur.

Untuk penghargaan Kreasi Prima Mutu, ada 4 IKM yang mendapat penghargaan. Ini adalah IKM yang dinilai telah menerapkan system kendali mutu secara konsisten.

Empat IKM penerimanya adalah:

1. CV Mendong K. Craft, Tasikmalaya-Jabar, untuk produk kerajinan anyaman mendong.
2. UD Tri Mulia Onix, Tulungagung-Jatim, untuk produk kerajinan dari batu marmer dan granit.
3. IKM Sanggalea, Wajo-Sulsel, produsen roti.
4. IKM Fetra, Biaro-Sumbar, untuk produk perlengkapan bayi.

Penghargaan berupa Upakarti 2010 di kategori Jasa Pengabdian, diberikan kepada lima individu. Mereka berasal dari dalam dan luar IKM yang dinilai berjasa luar biasa dalam pengembangan IKM di daerah masing-masing.

Mereka adalah:

1. Hj. Syarifah dari Lingga, Riau.
2. I.N. Widiartha dari Kupang, NTT.
3. I Gusti Kade Djaya dari Tabanan, Bali.
4. Pastor Jacques dari Sintang, Kalbar.
5. Sendy Ramania Wurandani dari Bandung, Jabar.

Upakarti jasa kepeloporan, tahun ini diberikan kepada lima orang yang berhasil mengembangkan IKM. Mereka adalah:

1. H. Wardono dari Surakarta, Jateng.
2. Budi Wibowo dari Purbalingga, Jateng.
3. Tentrem Sri dari Bengkulu.
4. H. Ade Hikmat Nugraha dari Sukabumi, Jabar.
5. Habib Saleh Al Mahdali dari Palu, Sulteng.

Upakarti kategori Jasa Pelestarian tahun ini juga ada lima orang yang menerimanya. Mereka yang dinilai berhasil mengembangkan kembali desain industri kecil di tingkat lokal dan nasional itu adalah:

1. Mateus Ala dari Melawi, Kalbar.
2. Uswatun Chasanah dari Tuban, Jatim.
3. M. Rivai Navis dari Senggau, Kalbar.
4. Sandiyo dari Klaten, Jateng.
5. Santoso Hartono dari Rembang, Jateng

(lh/dnl)

Sumber : detikfinance.com
Senin, 20 Desember 2010 | 1 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan