Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Pengusaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengusaha. Tampilkan semua postingan

Juragan Warkop Kaget Dipajaki 10 Persen

Jumat, 10 Mei 2013 | 01.10.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Rencana Pemkab Tulungagung memajaki warung kopi berkaraoke dikeluhkan sejumlah juragan warkop. Gunawan, juragan warkop Banyu Biru di Boyolangu, misalnya, mengaku kaget ada rencana tersebut.

"Wah, itu pasti berat bagi saya. Terlalu besar kalau pajak sampai 10 persen," ujar Gunawan menjawab Surya.co.id, Kamis (9/5/2013).

Ia membayangkan, pajak yang menurutnya tinggi itu tentu akan memengaruhi harga barang dan jasa di warkopnya. "Kalau dinaikkan, konsumen tentu juga akan keberatan dan dampaknya warkop saya juga sepi," keluhnya.

Padahal, katanya, selama ini pelanggan warkopnya juga fluktuatif, kadang banyak tetapi kadang juga sepi. Kendati demikian, dia mengakui pendapatan di warkopnya mencapai Rp 150.000 per hari sehingga masuk kategori warkop yang akan dipajaki pemerintah.

Gunawan juga merasa belum pernah menerima sosialisasi ihwal penarikan pajak tersebut. Ia mengakui, sekitar 2 bulan lalu ada petugas dari Dinas Pendapatan, Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT), Satpol PP, dan pihak kecamatan ke warkopnya. "Tapi saat itu tidak ada pemberitahuan soal rencana penarikan pajak," ungkapnya.

Sumber: SURYA | Kamis, 9 Mei 2013
Jumat, 10 Mei 2013 | 0 komentar

Kue Valentine dari Tulungagung

Kamis, 14 Februari 2013 | 06.57.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Hari Valentine atau Kasih Sayang tidak hanya identik dengan cokelat, tapi juga kue. Peluang ini dimanfaatkan warga di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, untuk membuat cup cake menarik bermodel manusia dengan berbagai tulisan ungkapan kasih sayang.

Laksmi Suandita, pembuat cup cake, Rabu (13/2/2013), mengatakan, bisnis kue tematik Valentine sudah dia jalani sejak tahun 2000. Untuk membuat satu set berisi sembilan atau 12 cup cake, perempuan yang akrab disapa Dita itu membutuhkan waktu sekira enam jam.

Berbagai tulisan menghiasi cup cake, seperti I Love U, be Mine, for My Dear, dan Happy Valentine. Untuk menambah meriah dan daya tarik patung manusia di atasnya.

Jangan anggap tulisan dan patung itu hanya hiasan, melainkan bisa juga dimakan. Patung terbuat dari vondan dan menggunakan pewarna makanan, sehingga aman dikonsumsi.

Perempuan berusia 35 tahun itu mengaku mendapat banyak pesanan menjelang Valentine. Saat ini saja, dia mendapat pesanan 50 set cup cake. Satu set berisi sembilan cup cake, Dita mematok harga Rp175 ribu. Sedangkan yang berisi 12, dijual Rp200 ribu.

Jenis kue yang paling laris, kata ibu dua anak itu, yakni figurin atau model manusia yang mengabarkan dua sejoli yang sedang kasmaran di Hari Valentine.

Pemesannya, mulai dari dalam kota hingga luar kota, seperti Kediri, Blitar, Malang, dan Surabaya.
(Sindo TV / Robby Ridwan / ton)

Sumber: okezone.com | Rabu, 13 Februari 2013
Kamis, 14 Februari 2013 | 0 komentar

Komsatun,Pemilik Duta Usaha ONYX-Meraup Omzet Ratusan Juta dari Bisnis Batu Onyx

Rabu, 14 Maret 2012 | 17.00.00 | 0 komentar

Komsatun menunjukkan produk kerajinan yang dihasilkannya saat mengikuti pameran Adikriya Indonesia 2012 yang digelar Bank Rakyat Indonesia (BANK BRI) di Jakarta Convention Center (JCC) belum lama ini.

Keunikan produk kerajinan dari batu onyx dan marmer telah membawa Komsatun berpromosi hingga Timur Tengah.Produk kreatif dari batu alam ini dikagumi lantaran unik dan jenisnya variatif.

Wirausaha telah menjadi pilihanKomsatunselamapuluhan tahun.Semula,wanita yang berdomisili di Tulungagung, Jawa Timur, ini menjalankan bisnis angkutan umum bersama suaminya, Nurudin.Namun, krisis moneter pada 1990-an melambungkan harga-harga komoditas, termasuk ban mobil dan suku cadang kendaraan lainnya. “Sejak itu, kami memutuskan banting setir ke wirausaha kerajinan batu alam.Kami memulai dari nol,”ujar Komsatun kepada SINDO saat mengikuti pameran Adikriya Indonesia 2012 yang digelar Bank Rakyat Indonesia (BANK BRI) di Jakarta Convention Center (JCC),7–11 Maret 2012 lalu.

Saat itu sebagai pemain baru dalam bisnis kerajinan batu alam,Komsatun dan suami tidak serta-merta memproduksi kerajinan batu alam. Mereka terlebih dahulu mengamati dan mempelajari proses pembuatannya di desa tetangga yang merupakan lokasi produksi kerajinan batu alam dengan bahan baku utama batu onyx dan marmer. Sembari belajar, Komsatun membeli beberapa produk kerajinan dari batu onyx dan marmer untuk dijual kembali di toko kecil-kecilan di rumahnya.“Ternyata peminatnya banyak.Akhirnya terpikir ingin memproduksi sendiri,” ucap wanita berjilbab itu.

Setahun berbisnis jual-beli kerajinan batu onyx dan marmer, Komsatun mulai mencoba memproduksi sendiri produk sejenis di bawah bendera usaha “Duta Usaha Onyx” yang berlokasi di Desa Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur. Bahan baku batu onyx didatangkan dari Bawean, sedangkan marmer didapat dari wilayah terdekat seperti Bojonegoro, Pacitan,danTrenggalek. Untuk membantu proses produksi, Komsatun mempekerjakan puluhan karyawan dan pekerja terampil di bidang memahat dan mematung.Satu per satu produk kerajinan dari batu onyx dan marmer pun tercipta.

“ Produk perdana kami jenisnya meja-meja batu onyx dan vas,”sebutnya. Proses pembuatan produk kerajinanbatuonyxcukuplama. Awalnya,bongkahan besar batu onyx dengan berat sekitar 5 ton dipotong-potong sesuai pesanan. Selanjutnya,potongan batu dibubut,lalu dibentuk.Setelah berbentuk, misalnya bentuk meja,dilakukanpemolesanatau pengampelasan sampai lima kalihinggateksturbatumenjadi halus dan berkilap. Hasil akhirnya adalah meja batu onyx yang artistik.

“Selain meja dan vas,kami terus menambah variasi jenis dan model produk kerajinan batu onyx dan marmer hingga mencapai seratusan,”bebernya. Untuk batu onyx, produknya antara lain meja, vas bunga, aneka patung, pilar, gentong, toples, gelas,tempat abu, dan telur imitasi. Keunikan lain dari batu onyx adalah tembus cahaya sehingga bisa dipakai untuk lampu.Warna cahaya yang keluar menyesuaikan dengan warna bola lampu yang dipasang di dalamnya,tapi mampu membangun nuansa lebih artistik.Modelnya pun macammacam, di antaranya lampu jamur, lampu monalisa, lampu bokor, lampu tiang baskom, lampu telur,lampu model guci.

Adapun batu marmer lazim dipakai untuk produk wastafel dan lantai.Namun, variasi produknya tak kalah dari batu onyx. Mulai yang berukuran besar seperti pilar dan air mancur hingga yang kecil seperti piring, piala,catur, book holder, patung wisuda, piring, tempat tumbuk obat,tempat lilin.Marmer warna krem paling sering digunakan, kecuali untuk air mancur dekoratif memakai marmer hitam.Lainnya adalah marmer merah dan marmer abu-abu. Harga produk kerajinan batu onyx dan marmer tersebut bervariasi,mulai Rp6.000 untuk telur imitasi hingga yang termahal meja seharga Rp6 juta.

Dengan produk yang beragam itu,Komsatun dan suaminya mulai aktif berpromosi dan mengikuti berbagai pameran. Selain di Jakarta dan Bali,Komsatun juga berkesempatan mengikuti pameran di Dubai dan Malaysia pada awal 2000. “Pengunjung pameran banyak yang berminat,sampaisampai vas dan meja yang sedikit retak saja dibeli saking senangnya,” tuturnya. Dalam memasarkan produk, Komsatun memberi keleluasaan kepada konsumen atau calon pembeli.Konsumen bisa membeli langsung secara eceran maupun grosir atau melakukan pemesanan lewat telepon dan e-mail dengan bentuk dan ukuran produk yang dikehendaki.

Sejak 2006 Komsatun memasang foto-foto produk dan deskripsinya di website. Menurut Komsatun, pelanggan yang paling sering memesan produk umumnya berasal dari Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta. Sesekali ia juga menerima pesanan dari luar Pulau Jawa seperti Palembang, Pekanbaru,Bali.Tak hanya berkisar secara lokal,kesempatan ekspor pun pernah dicicipinya pada periode 2005–2008. Saat itu, ia mengirim sejumlah produk ke Australia dan Jerman atas pesanan warga setempat yang tengah bekerja di Indonesia.

“ Sayangnya setelah krisis 2008, pesanan dari luar negeri ikut terhenti. Sekarang saya ingin untuk ekspor lagi,” ucapnya. Krisis juga diakui Komsatun menyebabkan menyusutnya pemesanan produk. Dulu sebelum krisis 2008, showroom “Duta Usaha Onyx” bisa didatangi 3–4 turis asing per minggu. Mereka biasanya diantar pemandu lokal dan terkadang langsung memborong beberapa produk untuk minta dikirim ke kota tertentu seperti Semarang dan Bali.

Namun, pascakrisis 2008, nyaris tak ada lagi turis yang datang.Praktis Komsatun pun mengandalkan pembeli dan pemesan lokal. “Satu-satunya jalan untuk menjangkau lebih banyak konsumen lagi ya dengan mengikuti pameran seperti Adikriya Indonesia 2012 ini. Istilahnya jemput bola. Kalau enggak diajak pameran,yasudah palingpaling kami di rumah saja menunggu bola datang,”tuturnya.

Komsatun merasa beruntung telah difasilitasi BANK BRI untuk mengikuti pameran yang berlangsung selama lima hari tersebut.Fasilitas pameran seperti stan dan akomodasi diberikan secara cuma-cuma bagi para pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang menjadi nasabah dan mitra binaan BANK BRI.“Suami saya kebetulan sudah menjadi nasabah BANK BRI sejak 1980,sebelum kami menikah,”bebernya. Menurut Komsatun, ajang pameran sangat bermanfaat untuk menjaring calon-calon pelanggan dan menggenjot omzet.

Sebelum krisis 2008, ungkapnya, omzet rata-rata mencapai Rp350 juta per bulan. Saat ini, omzet cenderung fluktuatif, tergantung pada ada atau tidaknya pemesanan. “Kadang-kadang dalam seminggu ada order Rp35 juta, tapi kadang tidak ada sama sekali. Jadi omzet tidak tentu,antara Rp20 juta hingga 350 juta per bulan,”sebutnya. inda susanti

Sumber: seputar-indonesia.com | Wednesday, 14 March 2012
Rabu, 14 Maret 2012 | 0 komentar

Eks Karyawan Rokok Reco Pentung Berunjuk Rasa

Senin, 05 Maret 2012 | 20.03.00 | 0 komentar

Tulungagung - Ratusan eks karyawan pabrik rokok Reco Pentung, Tulungagung, Jawa Timur, berunjuk rasa mendatangi salah satu pewaris perusahaan, Mulyadi, di Kelurahan Bago, Kecamatan Tulungagung, Ahad (4/3).

Aksi itu dilakukan untuk mempertanyakan kembali hak karyawan sejak perusahaan dinyatakan bangkrut pada 2004. Para eks karyawan itu berjalan kaki sambil mengusung kendaraan dan poster tuntutan.

Massa yang mayoritas perempuan ini menuntut segera mendapatkan kejelasan nasib mereka. Sebab mereka belum mendapat pesangon sejak pabrik bangkrut.

Massa menuding ahli waris sengaja menggantung nasib mereka. Akibatnya, nasib sekitar 850 karyawan tidak jelas.

Menurut koordinator aksi, penyelesaian masalah ini berlarut-larut. Terlebih, adanya konflik yang terjadi pada ahli waris sehingga proses penjualan aset menggantung. (Wrt3)

Sumber: Metrotvnews.com | Senin, 5 Maret 2012
Senin, 05 Maret 2012 | 0 komentar

Industri Keset di Tulungagung Naik di Musim Hujan

Senin, 06 Februari 2012 | 18.40.00 | 0 komentar

Tulungagung - Industri rumah tangga keset di Tulungagung naik selama musim hujan.

Nur Rohman pengrajin sekaligus pengepul keset berbahan dasar serabut kelapa asal Desa Dero Ampel Sumber Gempol seperti dilaporkan Bagas dari Radio Liur Tulungagung, Senin (6/2/2012), mengatakan, permintaan naik hingga 100%.

Kata Nur, selama musim penghujan permintaan keset mencapai 3000 per bulan. Sedangkan selama musim kemarau order keset mencapai 1500 unit.

Kenaikan hingga 100% itu, kata Nur, dipicu cuaca hujan dan hidup bersih masyarakat Tulungagung. Apalagi bahan keset dari sabut kelapa mudah didapat, harganya murah dan kualitasnya bagus. (tin)

Sumber: suarasurabaya.net | 06 Februari 2012
Senin, 06 Februari 2012 | 0 komentar

Abon Ikan Lele Dari Gondosuli - Gondang Tembus Pasar Ekspor

Sabtu, 04 Februari 2012 | 17.13.00 | 1 komentar

Tulungagung - Sektor industri kecil telah mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Tulungagung. Salah satunya adalah industri makanan olahan yang di-inovasi dan dikembangkan oleh Rusli Winardi warga desa Gondosuli Kecamatan Gondang Kabupaten Tulungagung. Sejak 2 tahun ini Rusli memproduksi abon dengan bahan baku ikan lele, patin dan tuna. Saat ini produksi abon dari Desa Gondosuli ini menjadi komoditas ekspor ke negara Qatar.

Abon yang dibuat dari bahan baku ikan lele, tuna, dan patin ini mempunyai cita rasa yang lezat dan mampu bertahan 14 hari tanpa bahan pengawet. Setelah mendapatkan pembinaan dan permodalan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan kabupaten Rusli telah mampu membuat abon 40 Kg per hari. Kegiatan UMKM ini akhirnya menginspirasi warga sekitar untuk ikut mengembangkan produksi abon dari bahan baku ikan lele dan patin sehingga diharapkan mampu menyingkap kesempatan kerja baru di Tulungagung.

Untuk pemberdayaannya kepala dinas koperasi dan UMKM Tulungagung – Edy Suyanto bilang, siap memfasilitasi bantuan permodalan kepada para pengusaha kecil.

Sumber: liiur.com | 04 February 2012
Sabtu, 04 Februari 2012 | 1 komentar

Batik Bekisar Ijah dari Tulungagung

Sabtu, 31 Desember 2011 | 15.31.00 | 0 komentar

Corak batik tulis buatan Sriana juga menjadi incaran konsumen luar negeri.

Seruan memakai busana batik di hari tertentu di semua instansi ikut mendorong perubahan besar usaha batik milik Sriana. Wanita paruh baya ini menggeluti pembuatan kain baik sejak tahun 1982 silam.

Sriana mengaku, sejak pencanangan mengenakan batik, produksi batik usahanya melejit pesat. Order atau pesanan pun terus mengalir diterima wanita asal warga Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur ini. Untuk mengerjakan itu, Sriana terus menambah pekerjanya hingga 45 orang. Dan semua pegawainya itu merupakan warga desa setempat.

"Dari jumlah itu, mereka tidak hanya mengerjakan di sini. Tapi juga bisa dibawa pulang, dikerjakan di rumah masing-masing," kata Sriana.

Dari sejumlah corak batik buatannya, beberapa corak menduduki nominasi tertinggi karena banyak diminati. Diantaranya diberi nama 'Bekisar Ijah', burung Bekisar jantan yang mencumbu pasangannya dengan latar dasar bercorak bunga serta motif lainnya bernama 'Satrio Manah' yang didominasi warna pekat dengan bahan sutra dan katun yang cukup halus.

Selain itu ada sejumlah corak batik lainnya, seperti Barong Gong, Gajah Mada dan lainnya. Disebutkan, untuk motif Bekisar Ijah sebulan lalu dalam lomba karya batik unggulan di Jakarta menduduki posisi nominasi final. "Motif ini, hasil kreasi paduan Tulungagung dan Trenggalek," jelasnya.

Untuk mengerjakan satu kain batik bercorak Bekisar, urai Sriana, membutuhkan waktu 20 hari. Hal itu disebabkan karena pembuatannya berbeda dengan desain batik cetak yang hanya dikerjakan satu hari. Dan yang membuat corak ini semakin terkesan istimewa, yang mengerjakan kain ini pun hanya satu orang. Tujuannya untuk memberikan corak dan hasil yang sempurna.

"Kalau dikerjakan satu orang, pola yang dihasilkan akan seirama tidak menyimpang dari pakem. Berbeda kalau dikerjakan banyak orang. Makanya, harga jual batik ini juga mahal sampai jutaan rupiah," tegasnya.

Batik yang dihasilkan Sriana tidak dikerjakan dengan mesin. Dan oleh karena itu melibatkan banyak pekerja. Usaha yang dilakoninya semula hanya membuat kain 'jarik' sederhana untuk dipasarkan di sekitar lokasi tempat tinggalnya.

Seiring dengan berjalannya waktu, perubahan terus terjadi hingga kemudian ia memperbesar garapannya dengan memproduksi kain batik sebagai bahan baju dan kebaya untuk laki-laki dan perempuan. Seiring itu, nama batik Bekisar Ijah dan Satrio Manah terus digemari masyarakat umum.

Dikisahkan, salah satu yang membuat jenis buatannya beda dengan pengrajin batik lainnya adalah, karena hingga saat ini tetap bertahan dengan hanya menerima pesanan batik tulis. Ia tidak membuat batik cetak atau printing yang mulai dikerjakan banyak pengrajin batik. Proses pembuatannya juga manual, dengan tangan-tangan terampil pegawai asuhannya.

Menurutnya, itu untuk menjaga dan mempertahankan nilai tradisional kain khas yang dipakai nenek moyang di Tanah Jawa sejak dahulu.
"Itu karena untuk tetap bertahan pada nilai tradisional. Yang dilakukan nenek moyang kita kan seperti itu," ucapnya.

Sriana menjelaskan, perusahaan yang berawal jenis Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) tersebut terus diminati. Tidak hanya di dalam negeri seperti Jakarta, Surabaya dan sejumlah kota di Sumatera. Konsumen asal luar negeri juga terus berdatangan ke desa kecil di Tulungagung itu untuk memesan batik dengan berbagai corak.

"Luar negeri diantaranya dari Singapura, Malaysia, Hong Kong dan Belanda," sebutnya.

Laporan : Tudji Martudji | Surabaya

Sumber: VIVAnews | Senin, 3 Oktober 2011
Sabtu, 31 Desember 2011 | 0 komentar

Diterjang Sintetis China, Perajin Bambu Lokal Kian Merana

Selasa, 27 Desember 2011 | 09.24.00 | 0 komentar

Surabaya - Masuknya barang kerajinan housewares (peralatan rumah tangga) anyaman sintetis dari Vietnam dan China, membuat para pengrajin bambu lokal bertumbangan alias gulung tikar.

Berdasarkan data Asosiasi Perajin Jatim, jumlah perajin bambu untuk houseware pada 2001 di sentra pengrajin mambu di Banyuwangi berjumlah ratusan atau sekitar 200-an perajin. Saat ini jumlahnya hanya tinggal puluhan saja.

"Jumlah perajin bambu turun drastis, ini karena serbuan produk impor sejenis, namun berbahan sintetis dari Vietnam dan China," kata Ketua Asosiasi Pengrajin Jatim, Lilik Noer, akhir pekan kemarin.

Lilik bilang, para perajin bambu dalam beberapa tahun terakhir memang diterjang cobaan yang luar biasa berat, pasalnya perajin bambu jelas kalah kualitas. "Bahan sistetis sangat mudah dibersihkan dan lebih tahan lama, sementara perajin bambu kita murni dari bambu alam. Apalagi produk sintetis harganya jauh lebih murah dibandingkan dengan produk kerajinan bambu lokal," ujarnya.

Apalagi ironisnya, beberapa perajin bambu yang pada tahun 1999-2001 rajin mengekspor produknya ke Jepang, sejak 2002 sudah tidak lagi mengekspor, pasalnya kalah bersaing dengan produk sintetis asal Vietnam dan China yang dari segi produk, bisa diproduksi secara massal sehingga jauh lebih murah.

Menurut Lilik, tidak hanya perajin bambu saja yang banyak gulung tikar, perajin batu Onix dari Pacitan, Tulungagung pun bernasib sama. "Serbuan produk batu Onix dari China dan Pakistan membuat omset perajin terus turun dan akhirnya kolaps," imbuh Lilik.

Namun menurut Lilik, tidak hanya peran pemerintah saja yang terus aktif sosialisasi cinta produk dalam negeri, tetapi yang paling utama adalah pemilik tempat, supermarket, department store, pusat perbelanjaan jangan memanjakan produk impor.

"Kami sering menjumpai produk kerajinan impor yang mendapat tempat yang 'istimewa' di stand pusat perbelanjaan, ini kan terbalik, seharusnya produk kerajinan lokal yang diistimewakan," tukas Lilik. dtf

Sumber: surabayapost.co.id | Senin, 26/12/2011
Selasa, 27 Desember 2011 | 0 komentar

Perusahaan Rokok di Tulungagung-Trenggalek Terancam Tutup

Selasa, 06 Desember 2011 | 19.54.00 | 0 komentar

Tulungagung - Puluhan perusahaan rokok di Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek diyakini akan tutup karena tidak sanggup memenuhi ketentuan luas minimal area pabrik yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 200/PMK.04/2008, yaitu 200 meter persegi.

Menurut Kepala Kantor Bea dan Cukai Tulungagung yang membawahi Kabupaten Tulungagung dan Trenggalek Bambang Sukartono, Senin peraturan tersebut sudah ditetapkan sejak tahun 2008 namun ada toleransi hingga tiga tahun.

"Sebenarnya sudah sejak tahun 2008 silam PMK ini dikeluarkan. Namun karena ada aspirasi dari perusahaan-perusahaan rokok kecil, maka ada toleransi hingga selama tiga tahun PMK tersebut belum dilaksanakan," terangnya.

Pemberlakuan PMK ini diakui Bambang mempunyai dampak langsung kepada pengusaha, sebab setiap perusahaan rokok yang tidak sanggup memenuhi ketentuan minimal luas pabrik rokok sebagaimana disebutkan dalam PMK tersebut, harus berhenti beroperasi.

Di Kabupaten Tulungagung dan Kabupaten Trenggalek, berdasar data yang ada hingga saat ini terdapat 76 perusahaan rokok golongan III, dengan kapasitas produksi 300 ribu batang rokok per tahun.

"Sebanyak 76 pabrik rokok yang ada di Tulungagung dan Trenggalek semuanya perusahaan golongan III. Total perusahaan inilah yang harus mengajukan permohonan baru untuk beroperasi, berdasar PMK yang sudah diberlakukan," katanya.

Dari 76 perusahaan yang ada, 47 perusahaan di antaranya sudah memasukan pengajuan dan diverifikasi telah sesuai dengan ketentuan PMK. Sedangkan 29 perusahaan sisanya belum diketahui kepastiannya, sebab belum ada pengajuan baru yang masuk ke Kantor Bea dan Cukai Tulungagung.

Setiap perusahaan rokok yang tidak memasukan pengajuan baru hingga tenggat waktu 10 Desember mendatang, secara otomatis akan dilakukan pemblokiran pita cukai, sehingga tidka bisa berproduksi lagi secara legal.

"Sistem aplikasi saat ini sudah berlaku online, terkoneksi dengan kantor pusat Bea dan Cukai Jakarta. Sehingga perusahaan yang tidak memenuhi ketentuan akan dilakukan blokir pita cukai dan harus berhenti berproduksi," tegasnya.

Lanjut Bambang, diyakini ada puluhan perusahaan rokok yang tutup akibat penerapan PMK ini. Namun Bambang yakin, kebijakan ini tidak akan berpengaruh terhadap target penerimaan cukai tahun 2012 mendang.

Sebab seiring kebijakan penerapan PMK, cukai rokok tahun 2012 akan dinaikan. Untuk golongan III akan dinaikan sebesar Rp 10, dari Rp 65 per batang saat ini, menjadi Rp 75 perbatang atau naik 15,4 persen.

Dengan kenaikan ini, setiap perusahaan rokok yang lolos verifikasi diyakini akan sanggup menggenjot penjualan, mengisi pasar yang ditinggalkan perusahaan yang tutup. Dengan demikian cukai yang harus dibayarkan ke negara tidak akan berubah secara drastis.

"Ada perusahaan yang tutup, namun perusahaan yang bertahan akan dikenakan tarif cukai yang lebih mahal. Dengan demikian diharapkan jumlah penerimaan cukai dari perusahaan rokok yang mampu bertahan tidak akan meleset dari target," imbuhnya. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 05 Des 2011
Selasa, 06 Desember 2011 | 0 komentar

Pengusaha Rokok Tulungagung Pasrah Pemberlakuan "PMK"

Tulungagung - Sejumlah pengusaha yang tergabung dalam Gabungan Perusahaan Rokok Tulungagung (Gaperta) mengaku pasrah dengan pemberlakukan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor: 200/PMK.04/2008 per tanggal 10 Desember 2011 mendatang, meski dianggap memberatkan kepentingan bisnis mereka.

"Sebelumnya syarat minimal 50 meter persegi, sehingga bisa dibuat dalam sebuah industri rumahan. Tapi jika ketentuannya minimal 200 meter persegi, banyak anggota kami yang tidak sanggup memenuhinya," ujar Ketua Gaperta, Agus Mustaqim, Senin.

Menurutnya, ketentuan luas minimal 200 meter persegi sebagaimana diatur dalam PMK sangat memberatkan bagi perusahaan anggota Gaperta, yang mayoritas adalah golongan III atau industri rumahan.

Dari 76 perusahaan yang ada di Kabupaten Trenggalek dan Tulungagung, Agus memperkirakan 39 perusahaan hampir bisa dipastikan lolos verifikasi, 10 dalam proses pengajuan dan diyakini juga akan lolos, sehingga total akan ada 49 perusahaan yang bajak terus berproduksi. Sisanya yang sebanyak 27 perusahaan diyakini akan tutup karena tidak lagi punya kemampuan untuk membuat pabrik dengan ketentuan luas minimal.

Dari 27 perusahaan rokok tersebut menurut catatan Gaperta, mereka mempunyai karyawan sebanyak 580 orang. Dengan ditutupnya 27 perusahaan rokok tersebut, secara otomatis akan menciptakan pengangguran sebanyak jumlah karyawan tersebut.

"Kami meyakini sebanyak 27 perusahaan tidak bisa memenuhi ketentuan batas minimal luas pabrik rokok, sehingga harus berhenti berproduksi. Secara otomatis sebanyak 580 karyawan perusahaan yang tutup tersebut berhenti bekerja dan menjadi pengangguran," katanya.

Sementara, beberapa perusahaan yang dinyatakan lolos verifikasi masih harus menyulap rumah tempat tinggal mereka menjadi pabrik. Mereka harus rela memindahkan anggota keluarganya ke rumah kontrakan dan mengajukan izin rumah mereka menjadi pabrik rokok.

"Beberapa anggota kami mengajukan izin untuk merubah rumahnya menjadi pabrik rokok demi memenuhi ketentuan minimal luas parik 200 meter persegi. Karena ada ketentuan pabrik harus terpisah dari tempat tinggal, terpaksa anggota keuarganya harus diungsikan ke rumah kontrakan," imbuhnya.

Masalahnya, harga-harga bahan baku saat ini turut membuat perusahaan rokok kian tidak berpihak bagi pengusaha. Diungkapkan Agus, harga cengkeh yang tahun lalu berkisar 65 ribu per kilogram, kini menembus harga 200 ribu hingga 250 ribu.

Sedangkan harga tembakau yang tadinya 35 ribu per kilogram, kini menembus harga 40 ribu hingga 100 ribu per kilogram.

Kondisi kian menyulitkan bagi perusahaan rokok, sebab tahun depan pemerintah dipastikan menaikan harga cukai sebesar Rp 10 per batang dari Rp 65 menjadi Rp 75 per batang. Kondisi ini diyakini akan membuat semakin banyak perusahaan rokok yang gulung tikar.

"Dari sisi bahan baku terjadi kenaikan harga yang luar biasa dan melambungkan biaya produksi, sementara pemerintah juga menaikan cukai hingga Rp10 per batang. Ke depan, sepertinya akan semakin banyak perusahaan rokok yang akan bangkrut dan berhenti produksi," pungkas Agus. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 05 Des 2011
| 0 komentar

Kunjungan Paguyuban Pecinta Batik Indonesia Sekar Jagad

Selasa, 22 November 2011 | 18.16.00 | 0 komentar

Tulungagung - Paguyuban Pecinta Batik Indonesia (PPBI) “Sekar Jagad” Yogyakarta yang mempunyai visi melestarikan dan mengembangkan Batik Indonesia yang bertujuan meningkatkan kecintaan dan promosi batik untuk berbagai fungsi dan keperluan, mengunjungi perajin batik Tulungagung dalam rangka penelusuran keberadaan aneka corak motif batik.

Rombongan diterima di galeri Batik Barong Gung oleh perajin Batik Tulungagung didampingi Dra. Nina Umi Hani’in, Kabid Industri Logam Aneka Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Tulungagung. Setelah melihat langsung proses pembuatan batik, rombongan PPBI melihat koleksi dan berbelanja Batik Tulungagung.

Obyek kedua yang dikunjungi PPBI adalah Batik Gajah Mada, diterima langsung oleh pemiliknya, Ny. Danu Mulya. Rombongan menerima penjelasan secara detail tentang motif dan corak khas Batik Tulungagung, yang diteruskan dengan belanja Batik Tulungagung yang nantinya akan dipakai dan dibawa kunjungan dan wisata batik ke berbagai daerah di Indonesia bahkan di luar negeri, sehingga Batik Tulungagung akan lebih dikenal dan meningkatkan promosi batik, yang pada akhirnya menjadikan batik sebagai wahana untuk mensejahterakan masyarakat khususnya perajin batik.

Diakhir kunjungan ketua rombongan Prof. Dr. Ir. Murdijati Gardjito menyerahkan buku Teknik dan Ragam Hias Batik kepada Dinas Perindustrian dan perdagangan, Batik Barong Gung, Gajah Mada, Sigit Batik, Kalang kusuma, Satrio Manah dan batik Majan.

Sumber: tulungagung.go.id | Selasa, 22 November 2011
Selasa, 22 November 2011 | 0 komentar

Upah Minimum Kabupaten Jawa Timur Ditetapkan

Jumat, 18 November 2011 | 21.48.00 | 0 komentar

Surabaya - Upah Minimum Kabupaten dan Kota tahun 2012 untuk seluruh daerah di Jawa Timur, Jumat, 18 November 2011, ditetapkan. Untuk Kota Surabaya dan Kabupaten Gresik merupakan yang tertinggi, yakni Rp 1.257.000. Sedangkan terendah Kabupaten Ponorogo Rp 745.000.

Penetapan dilakukan setelah Gubernur Jawa Timur Soekarwo melakukan pertemuan dengan seluruh bupati dan wali kota di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, siang ini.

Namun, penetapan tersebut diprotes utusan Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) Kota Surabaya, Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Mojokerto. Alasannya, acuan standar kebutuhan hidup layak (KHL) yang digunakan untuk menetapkan UMK berbeda dengan dengan hasil survei APINDO. "Tetap kami putuskan meski APINDO menolak. Kami berpatokan pada survei BPS,” kata Soekarwo.

Meski sudah ditetapkan, UMK seluruh kabupaten dan kota itu baru akan ditandatangani oleh gubernur pada Senin, 21 November 2011. Sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor 17 Tahun 2005, penandatanganan UMK dilakukan maksimal 40 hari sebelum penerapannya, yakni 1 Januari 2012.

Nilai UMK seluruh daerah di Jawa Timur mencapai rata-rata Rp Rp 863 ribu, tetap lebih rendah dibandingkan UMK 33 provinsi lainnya di Indonesia yang mencapai Rp 988 ribu. Padahal, secara nasional pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur lebih tinggi dibanding provinsi lainnya. "Memang secara rata-rata lebih rendah secara nasional. Tapi penetapan UMK itu tidak ada korelasinya dengan pertumbuhan ekonomi. UMK didasarkan pada ongkos hidup dan sudah didukung hasil survei yang akurat," ujar Soekarwo.

Di tempat yang sama, Ketua Dewan Pengupahan Jawa Timur Edi Purwinarto menjelaskan, bahwa meski telah ditetapkan, Serikat Pekerja maupun APINDO masih diberi kesempatan untuk menggugatnya. "Kalau tidak puas silakan menempuh gugatan. APINDO juga bisa mengirimkan penangguhan pelaksanaan UMK," paparnya.

Namun, karena telah disepakati semua pihak, termasuk Serikat Pekerja dan mayoritas APINDO daerah, Edi berharap penerapan UMK bisa diberlakukan per 1 Januari 2012.

Berikut ini nilai UMK berbagai daerah di Jawa Timur:

Kota Surabaya: UMK Rp 1.257.000. dari KHL Rp 1.257.000
Kabupaten Gresik: UMK Rp 1.257.000. dari KHL Rp 1.257.000
Kabupaten Sidoarjo: UMK Rp 1.252.000. dari KHL Rp 1.249.978
Kabupaten Mojokerto: UMK Rp 1.234.000. dari KHL Rp 1.234.000
Kabupaten Pasuruan: UMK Rp 1.252.000. dari KHL Rp 1.242.394
Kota Malang: UMK Rp 1.132.254. dari KHL Rp 1.092.066
Kabupaten Malang: UMK Rp 1.130.500. dari KHL Rp 1.089.295
Kota Mojokerto: UMK Rp 875.000. dari KHL Rp 918.036
Kabupaten Probolinggo: UMK Rp 888.500. dari KHL Rp 974.320
Kabupaten Pasuruan: UMK Rp 975.000. dari KHL Rp 975.000
Kabupaten Batu: UMK Rp 1.100.251. dari KHL Rp 1.100.215
Kota Kediri: UMK Rp 1.037.500 dari KHL Rp 1.037.000
Kabupaten Tuban: UMK Rp 970.000 dari KHL Rp 1.252.389
Kabupaten Kediri: UMK Rp 999.000 dari KHL Rp 1.000.500
Kota Pasuruan: UMK Rp 975.000 dari KHL Rp 975.000
Kabupaten Pamekasan: UMK Rp 975.000 dari KHL Rp 1.112.980
Kabupaten Lamongan: UMK Rp 950.000 dari KHL Rp 950.000
Kabupaten Jember: UMK Rp 920.000 dari KHL Rp 920.947
Kabupaten Bojonegoro: UMK Rp 930.000 dari KHL Rp 940.500
Kabupaten Jombang: UMK Rp 978.200 dari KHL Rp 1.022.259
Kabupaten Banyuwangi: UMK Rp 915.000 dari KHL Rp 948.000
Kabupaten Bangkalan: UMK Rp 885.000 dari KHL Rp 882.470
Kota Mojokerto: UMK Rp 875.000 dari KHL Rp 918.036
Kota Probolinggo:UMK Rp 885.000 dari KHL Rp 967.181
Kabupaten Sumenep: UMK Rp 825.000 dari KHL Rp 894.231
Kabupaten Blitar: UMK Rp 820.000 dari KHL Rp 855.083
Kota Madiun: UMK Rp 812.500 dari KHL Rp 892.804
Kabupaten Lumajang: UMK Rp 825.391 dari KHL Rp 907.023
Kota Blitar: UMK Rp 815.000 dari KHL Rp 850.000
Kabupaten Bondowoso: UMK Rp 800.000 dari KHL Rp 806.692
Kabupaten Situbondo: UMK Rp 802.500 dari KHL Rp 874.914
Kabupaten Ngawi: UMK Rp 780.000 dari KHL Rp 799.960
Kabupaten Sampang: UMK Rp 800.000 dari KHL Rp 1.031.809
Kabupaten Tulungagung: UMK Rp 815.000 dari KHL Rp 871.132
Kabupaten Madiun: UMK Rp 775.000 dari KHL Rp 791.714
Kabupaten Trenggalek: UMK Rp 760.000 dari KHL Rp 778.426
Kabupaten Nganjuk: UMK Rp 785.000 dari KHL Rp 824.703
Kabupaten Pacitan: UMK Rp 750.000 dari KHL Rp 771.324
Kabupaten Magetan: UMK Rp 750.000 dari KHL Rp 765.135
Kabupaten Ponorogo: UMK Rp 745.000 dari KHL Rp 762.514

FATKHURROHMAN TAUFIQ

Sumber: TEMPO Interaktif | Jum'at, 18 November 2011
Jumat, 18 November 2011 | 0 komentar

19. 460 Investor Tertipu Miliaran

SLEMAN – Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mengungkap kasus penipuan ratusan miliar berkedok investasi atau penanaman modal.

Kasus yang melibatkan ribuan investor ini masih akan dikembangkan penyelidikannya ke arah pencucian uang. “Kasus penipuan ini baru kami tangani. Nilai investasinya mencapai ratusan miliar,” ujar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda DIY Kombes Pol Joko Lelono kemarin.

Joko menuturkan, penyelidikan kasus ini berawal dari laporanArioAdhi Nugroho,salah seorang korban,pada 2 November 2011 lalu. Pelapor merasa tertipu karena bunga 20% dari investasi yang ditanamkan sebesar Rp50 juta pada PT Cahaya Forex yang dijanjikan untuk setiap bulannya tidak pernah diterima.

“Setelah kami telusuri ternyata memang ada indikasi penipuan. Selain karena tidak menepati janji kontrak investasi yang dilakukan untuk memberikan bunga tiap bulannya, ternyata legalitas perusahaan sebagai perusahaan penanaman modal juga tidak ada,”imbuhnya.

Menurut Joko,investasi melalui internet tersebut membuat antara investor dengan pengelola perusahaan tidak saling kenal.Mereka bekerja hanya dengan saling percaya. Tersangka utama dalam kasus ini berinisial NSC, 35, warga Piyungan Kabupaten Bantul. Dia ditangkap pada Jumat (11/11) di daerah Bantul.

Kasus penipuan investasi ini termasuk bombastis. Pelaku memiliki kantor pusat di Kota Yogyakarta, tepatnya di Jalan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan. PT Cahaya Forex juga memiliki 12 kantor cabang lainnya tersebar di Indonesia, di antaranya Lampung, Bogor, Bandung, Purwokerto, Purworejo, Solo,TulungAgung,Tuban, Bali,Palangkaraya.

“Cara kerja mereka dalam perjanjian. Para investor diajak menanamkan modal dengan masa investasi 18 bulan dengan bunga 20% tiap bulannya. Jika masa investasi selesai, perusahaan menjanjikan akan mengembalikan modal awal,”jelas Joko.

Dalam perjanjian investasi juga dijelaskan, investor tidak bisa lagi menarik modal awalnya jika masa investasi telah lebih dari empat bulan.Paling tidak investor bisa menarik modal awal pada dua bulan sebelum masa investasi berakhir, tetapi hanya akan menerima 50% dari modal awal.

Saat ini, PT Cahaya Forex yang berdiri sejak pertengahan 2010 lalu telah memiliki investor sebanyak 19.460 orang dengan total investasi sebanyak Rp194 miliar dan profit Rp41 miliar. Bersamaan dengan penangkapan tersangka utama,Polda DIY telah menyita uang tunai Rp3 juta, 3 CPU, 2 laptop, 1 mobil Toyota Yaris, 1 pucuk senjata angin jenis FN,2 ponsel, 7 buku BPKB, 2 sertifikat tanah,dan 5 buku tabungan.

Kepala Bidang Humas Polda DIY AKBP Anny Pudjiastuti berharap, dengan diungkapnya kasus ini, investor yang menjadi korban di 12 cabang lainnya tidak melakukan tindakan main hakim sendiri.

Selain itu, diharapkan masyarakat luas lebih berhati-hati melakukan transaksi penanaman modal dan tidak mudah terbujuk pada janji-janji investasi melalui internet.“Komoditas berjangka seperti ini memang menggiurkan sehingga bisa membuat masyarakat tergerak untuk menanamkan modal sebagai upaya penambahan pendapatan,” ujarnya.

Sosiolog Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta Sulistyoningsih mengatakan, terjadinya modus penipuan seperti ini karena sikap masyarakat yang ingin mendapatkan keuntungan besar dalam waktu yang cepat sehingga dengan adanya tawaran yang mengiurkan, mereka tertarik dan terbujuk untuk mengikuti program tersebut.

Selain itu, masyarakat juga tidak pernah mengecek legalitas dan menanyakan keberadaan lembaga yang menawarkan berbagai produk investasi ke instansi yang berwenang. “Ini merupakan bentuk konspirasi baru dalam kriminalitas, yaitu tidak dengan gendam, melainkan menarik korban dengan bentuk investasi dengan janji yang mengiurkan.

Harusnya masyarakat tidak langsung percaya dan curiga mengingat keuntungan yang luar biasa itu,”katanya. Di samping itu, masih lemahnya pengawasan dari pemerintah. Terutama soal izin dan kegiatan serta sanksi bagi lembaga yang menyelenggarakan penanaman modal juga menjadi penyebabnya.Terbukti pemerintah baru mengetahui bahwa ada aktivitas penanam modal bodong setelah ada nasabah yang melaporkan lembaga itu ke pihak berwajib.

“Selain dengan pengetatan,mestinya harus ada sinergi antara pemerintah dan masyarakat serta pihak terkait agar kasus ini tidak terulang.Terutama soal legalitas dan kegiatan lembaga tersebut sehingga bila ada yang menyimpang segera diketahui,” tandasnya. ratih keswara/ priyo setyawan

Sumber: seputar-indonesia.com | Friday, 18 November 2011
| 0 komentar

Direktur Utama PT Cahaya Forex Ditangkap

YOGYAKARTA - Polda DIY menangkap Nur Sigit Cahyo, Direktur Utama PT Cahaya Forex , yang berkantor di Yogyakarta.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda DIY Kombes Djoko Lelono, Kamis (17/11), mengatakan penangkapan itu dilakukan setelah sebelumnya mendapat laporan dari salah satu nasabah yang mengaku menjadi korban, Ario Adhi Nugroho.

Menurut Djoko Lelono, perusahaan ini beroperasi tidak dilengkapi dengan perizinan usaha bidang keuangan (investasi). Perusahaan ini memiliki kantor cabang di 12 kota antara lain Bogor, Lampung, Bandung, Purworejo, Purwokerto, Temanggung, Solo, Tulungagung, Bali, Palangkaraya dan Tuban.

Perusahaan ini menawarkan kepada masyarakat untuk berinvestasi. Masa investasi yang ditawarkan, adalah 18 bulan dengan keuntungan setiap bulannya sebesar 20% dari nilai investasi. "Kalau selesai masa investasi, uang yang diinvestasikan itu akan dikembalikan utuh," kata Djoko.

Hingga ditangkapnya Direktur Utama PT Cahaya Forex pada Jumat (11/11) lalu, imbuhnya, perusahaan ini telah memiliki investor sebanyak 19.460 orang dengan nilai yang diinvestasikan mencapai Rp194.378.400.000. Pelapor, Ario Adhi Nugroho, kata Djoko Lelono, mengaku tidak mendapat keuntungan seperti yang telah dijanjikan.

Bahkan, pelapor tidak bisa menarik kembali dana yang sudah diinvestasikan yang mencapai Rp50 juta ke perusahaan itu. (OL-11)

Sumber: MICOM | Jumat, 18 November 2011
| 0 komentar

Pengusaha Konveksi Antisipasi Produk Busana Muslim China

Sabtu, 16 Juli 2011 | 17.20.00 | 0 komentar

Tulungagung - Sejumlah pelaku usaha konveksi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mulai mengantisipasi membanjirnya produk busana muslim asal China di pasaran dalam negeri.

Menurut salah satu pengusaha konveksi di sentra koveksi Kelurahan Botoran, Kecamatan Tulungagung, Andrianto (38), masuknya produk busana muslim asal China ke Indonesia menjadi ancaman serius bagi kelangsungan usaha mereka.

Sebab, harga jual produk asal negeri tirai bambu tersebut cenderung lebih murah sehingga dikhawatirkan merusak produk sejenis dari industri lokal.

"Selama ini ancaman pengusaha konveksi di Indonesia hanyalah produk asal China. Jika mereka mulai memproduksi busana muslim, maka pengusaha kita dalam ancaman besar," ujarnya.

Dikisahkan Andrianto, sebelumnya para pengusaha konveksi di lingkungan Kelurahan Botoran mayoritas memproduksi pakaian umum. Namun masuknya produk pakaian jadi asal China membuat produk mereka kalah bersaing di pasaran lokal. Akibatnya, banyak pengusaha konveksi gulung tikar.

Beberapa pengusaha yang mencoba bertahan dengan mengalihkan usahanya ke membuat produk pakaian muslim. Strategi tersebut cukup berhasil, karena produsen China tidak memproduksi busana muslim.

"Rata-rata yang saat ini bertahan beralih memproduksi busana muslim, karena tidak ada saingan dari produk China. Dengan memproduksi busana muslim itulah kami bertahan," katanya.

Produk asal China patut diwaspadai karena terkenal mempunyai kwalitas bagus dengan harga yang jauh lebih murah dan mereka juga lebih progresif menembus pasar di seluruh dunia.

Andri mengisahkan, sekitar setahun lalu dirinya pernah melakukan perjalanan umroh ke Arab Saudi dan membeli busana muslim asal China. Sepulang dari Arab, Andri yang melakukan survei pasar menemukan produk serupa di pasar grosir di Jakarta dan Surabaya.

"Bisa dibayangkan produk mereka (produsen China), bisa menjual produk mereka di Arab Saudi dan di Indonesia dalam waktu yang bersamaan. Kalau sudah ada pasar grosir Jakarta dan Surabaya, sebentar lagi pasti akan tersebar ke seluruh Indonesia," ujarnya.

Namun diakui Andri, sejauh ini masuknya produk busana muslim ke pasar Indonesia belum mempengaruhi pemasaran produk lokal, sebab produk China terlalu umum dan belum menyerap motif-motif budaya lokal.

Sebagai strategi menghadapai persaingan, Andri menekankan agar produsen lokal lebih banyak menyerap motif-motif lokal sehingga lebih diminati konsumen lokal.

"Menurut saya produk China belum bisa diterima karena motif mereka masih sangat umum dan belum bisa menyerap motif-motif lokal Indonesia. Karenanya, cara ini yang kita pakai untuk menguasai pasar lokal kita," tegasnya.
Sumber: Antara
Sabtu, 16 Juli 2011 | 0 komentar

Wirausahawan, Terbanyak HIV/AIDS

Jumat, 17 Juni 2011 | 11.12.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Temuan mengejutkan diungkapkan Kabid PMKes Dinkes Tulungagung Triswati. Pengidap HIV/AIDS terbanyak ternyata bukan pekerja seks, melainkan wirausahawan. Data tersebut mengungkapkan bahwa 106 pemilik usaha terinfeksi virus mematikan itu. Posisi kedua baru penjaja seks (88 orang). Ibu rumah tangga berada di urutan ketiga dengan 71 orang.

Hal ini terlihat dari data penderita HIV/AIDS Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung berdasar profesi pada 2006-2011. Ada beberapa kemungkinan mereka terkena virus tersebut. Misalnya, tertular saat menjajakan seks, terkena suntikan jarum, dan transfusi darah.

”Fenomena HIV/AIDS tidak hanya terjadi pada penjaja seks. Ada beberapa profesi yang mengidap HIV, bahkan yang belum terdeteksi,” katanya.

Dari data itu juga diketahui bahwa tiga PNS mengidap virus HIV/AIDS. Selain itu, tiga siswa/mahasiswa tertular virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia tersebut.

Angka ODHA sendiri meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2006 terdapat 35 penderita, 2007 menjadi 42 penderita. Pada tahun berikutnya, 2008, jumlahnya bertambah menjadi 62 penderita, 2009 sebanyak 96 penderita, 2010 sebanyak 103. Kemudian, per 8 Juni 2011 jumlahnya mencapai 57. Bahkan, dalam bulan ini sudah ada 19 penderita baru.

Dari 19 penderita pada Juni ini, terdiri atas perempuan penjaja seks 10 orang, wirausaha (1 orang), dan PNS (2 orang). Sedangkan enam orang masih menunggu data untuk diserahkan ke dinkes. Rata-rata mereka berada pada usia produktif, sekitar 21–45 tahun.

Pada 2006-2011 ODHA yang meninggal mencapai 128 orang. Pada bulan ini, ditemukan 1 ODHA meninggal. ”Baru dua minggu lalu, ada ODHA yang meninggal di RSUD dr Iskak,” katanya.

Triswati mengatakan, untuk mencegah HIV agar tidak semakin merajalela, dinkes sudah melakukan beberapa upaya. Misalnya, penapisan di lokalisasi, kondomisasi, program IMS, sosialisasi ke masyarakat melalui brosur, poster dan lain-lain. Juga dilakukan sosialisasi lewat media elektronik, dan VCT mobile. Selain itu, dilakukan pengobatan presumtif berkala melalui preventif IMS, PMTCT (preventition mother to child transmition), PITC (provider inisiated test and conseling). ”Sampai sekarang program tersebut masih berjalan dan terus digerakkan,” katanya. (jpnn)

Sumber: radarjogja.co.id
Jumat, 17 Juni 2011 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan