Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibu. Tampilkan semua postingan

Ibu Pembunuh Dua Anak Diduga Derita Gangguan Jiwa

Rabu, 18 April 2012 | 15.14.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG — Petugas Polres Tulungagung, Jawa Timur, hingga Selasa (17/4/2012) masih melakukan evaluasi psikologis untuk mengetahui kondisi kejiwaan Yahmi (31).

Yahmi adalah seorang ibu tanpa suami, yang kini telah ditetapkan menjadi tersangka pembunuhan dua anak kandungnya sendiri dengan menggunakan senjata tajam.

Kedua korban, masing-masing bernama Arina (5) dan Ayin (3), dibunuh pada Senin (16/4/2012). Pada Selasa (17/4/2012) ini, jasad keduanya sudah dimakamkan ke pekuburan Desa Nglurup, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung. Di desa itu pula pembunuhan berlangsung.

Kepala Urusan Pembinaan Operasi (Kaurbinops) Polres Tulungagung Iptu Iswanto, mewakili Kepala Kepolisian Resor Tulungagung Ajun Komisaris Besar Wisnu Hermawan, saat dihubungi Selasa ini, menjelaskan, pemakaman kedua bocah tak dihadiri oleh ibunya karena kini ditahan sebagai tersangka.

Kedua korban dimakamkan keluarganya karena masih ada nenek dan pamannya. Ayah korban dikabarkan kini tinggal di Kabupaten Nganjuk.

Tragedi ibu membunuh anak ini menggemparkan kesunyian Desa Nglurup, Kecamatan Sendang, kawasan yang agak sulit dijangkau dengan transportasi biasa karena berada di lereng Gunung Wilis.

Tersangka Yahmi belum bisa ditemui wartawan karena polisi masih memerlukan waktu untuk memutuskan apakah tersangka cukup sehat jiwanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jika menurut pengamatan awal, tampaknya tersangka terganggu kesehatan jiwanya.

"Kami saat ini sedang menunggu hasil evaluasi yang akan dimintakan bantuan kepada dokter RSJ Lawang di Kabupaten Malang," tambah Iswanto.

Menurut Iswanto, sejauh yang dapat diamati dari komunikasi dengan tersangka, tersangka tidak tampak merasa bersalah. Ia tidak tampak terpukul oleh kematian anaknya. "Seperti tidak terjadi apa-apa," katanya

Di lokasi pemakaman, Ny Sumini (57), nenek korban dan ibu kandung tersangka, menjelaskan, pembunuhan terjadi di rumah pada siang hari, ketika seisi penghuni rumah meninggalkan rumah untuk bekerja.

Yadi (60), suami Sumini atau kakek korban dan ayah tersangka, sedang berada di kantor kecamatan karena sedang mengikuti pemotretan E-KTP. Sementara Sumini saat kejadian sedang pergi ke hutan desa untuk mencari kayu. Peristiwa pembunuhan berlangsung sekitar pukul 12.30.

Sumini membenarkan bahwa sudah beberapa lama anaknya mengalami gangguan jiwa, yang antara lain menyebabkan suami tersangka meninggalkan keluarganya.

Beberapa hari yang lalu suaminya datang, dan setelah itu Yahmi sikapnya menjadi makin aneh, termenung sendirian, hingga kemudian dia membunuh dua anak kandungnya sendiri.

"Sekitar setahun lalu, Yahmi pernah bekerja sebagai TKW di Singapura, tetapi lalu pulang karena mungkin gangguan jiwa itu," kata Sumini.

Sumber: KOMPAS.com | Selasa, 17 April 2012
Rabu, 18 April 2012 | 0 komentar

Depresi, Ibu Tebas Leher Dua Anaknya

Selasa, 17 April 2012 | 00.58.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Seorang ibu di Tulungagung, Jawa Timur, nekat menghabisi dua nyawa buah hatinya yang masih balita. Diduga, aksi nekat wanita 31 tahun itu lantaran depresi setelah pisah ranjang dengan suaminya.

Suyahmi, warga desa Desa Nglurup, Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung, tampak tidak menyesali perbuatannya saat digelandang petugas ke Mapolres Tulungagung. Dia diamankan setelah menebas leher dua buah hatinya, Arina (5) dan Ayen (3), hingga nyaris putus dengan sebilah sabit.

Kepala Bantuan Operasi Reskrim Polres Tulungagung, Iptu Siswanto memaparkan, pelaku memiliki latar belakang sebagai pasein gangguan jiwa, yang baru 18 hari keluar dari RS Jiwa Porong.

"Pelaku sudah kita amankan, sedangkan dua anaknya masih berada di RSUD dr Iskak Tulungagung. Pelaku punya latar belakang gangguan jiwa," ujar Iptu Siswanto di kantornya, Senin (16/4/2012).

Sementara itu, ibu pelaku, Sumini, mengatakan dirinya tak menyangka anaknya tega menghabisi nyawa dua cucu kandungnya. Apalagi, semenjak kepulangannya dari rumah sakit jiwa, Suyahmi tidak menununjukkan perilaku aneh.

"Saya ketika pulang mencari kayu langsung kaget melihat darah dimana-mana. Dia (Suyahmi) duduk di ruang keluarga bareng dua cucu saya yang sudah meninggal," ucapnya terbata.

Diakuinya, anaknya sempat mengalami gangguan jiwa lantaran pernikahannya dengan Ali Masrudin (31), warga Kabupaten Nganjuk, berantakan. "Mereka memang belum cerai, tapi udah tidak bersama lagi," terangnya.

Pelaku yang kini mendekam di tahanan Mapolres Tulungagung, belum bisa dimintai keterangan. Polisi juga mengaku akan melakukan test kejiwaan terhadap ibu dua anak itu. (ris)
(Solichan Arif (Koran Sindo)/Koran SI/ton)

Sumber: okezone | Senin, 16 April 2012
Selasa, 17 April 2012 | 0 komentar

Ibu Rumah Tangga Selundupkan 920 Pil Koplo ke Lapas

Sabtu, 04 Februari 2012 | 17.03.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG- Lia Ambarwati (24) terlihat cemas ketika petugas Lembaga Pemasyarakatan Klas II B Tulungagung memeriksa barang bawaannya yang ditujukan kepada Very Setiawan (27) penghuni lapas asal Desa Pakel, Kabupaten Tulungagung.

Perempuan asal Desa Karanganom, Kecamatan Kauman itu tidak bisa berkata apa-apa ketika di dalam botol hand body dan sampo, petugas lapas menemukan sebanyak 920 butir pil koplo jenis dobel L. Narkoba kelas rendah itu diduga sengaja hendak diselundupkan ke dalam lapas.

"Saat ini yang bersangkutan beserta barang bukti sudah diamankan petugas polsek setempat," ujar Kanit Reskrim Polsek Kedungwaru Ajun Inspektur Satu Suharno kepada wartawan, Kamis (2/2/2012).

Sejak awal, sipir penjara yang bernama Manaf sudah curiga. Sebab Lia yang berstatus sebagai ibu rumah tangga itu terlihat bingung dan panik saat Manaf menyatakan memeriksa barang bawaan.

Pemeriksaan terhadap setiap barang bawaan pembesuk penghuni lapas sudah menjadi prosedur yang berlaku. Very merupakan teman suami Lia. Ia dihukum atas perkara pencurian dengan pemberatan.

"Secara fisik barang yang dibawa terlihat penuh sesak. Dan itu sudah membuat curiga," terang Suharno.

Kepada petugas, Lia mengatakan hanya menjalankan apa yang diminta Veri melalui pesan pendek (sms). Bahwa ada barang yang harus dibawanya. Selebihnya ia mengaku tidak tahu menahu dengan isi di dalam botol hand body dan sampo.

"Keberadaan barang ada di orangtua Veri. Lia tinggal mengambil dan membawanya," papar Suharno.

Saat ini polisi mencoba mengembangkan penyelidikan dengan memanggil orangtua Veri. Apakah memang terlibat dalam aksi penyelundupan ini atau tidak?. "Sebab sangat mungkin selama ini terjadi peredaran narkoba di dalam lapas," katanya.

Jika memang terbukti melanggar hukum, Lia bisa dijerat dengan pasal 197 UU RI No 23 Tahun 2009 tentang kesehatan dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
(Solichan Arif/Koran SI/ugo)

Sumber: okezone.com | Kamis, 2 Februari 2012
Sabtu, 04 Februari 2012 | 0 komentar

Keluarga Tahanan Anak yang Tewas Lapor Polda Jatim

Kamis, 19 Januari 2012 | 00.30.00 | 0 komentar

Surabaya - Keluarga tahanan anak Hisam Dayu Firmansyah (15) asal Bolorejo Tulungagung yang tewas di Lapas Klas IIB Tulungagung pada 13 Januari lalu, Rabu, melapor ke Polda Jatim.

Dayu adalah tahanan anak dalam kasus kepemilikan narkoba yang dititipkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Tulungagung di Lapas Tulungagung pada 12 Januari lalu.

Tiba-tiba, keesokan harinya dilaporkan oleh pihak Lapas telah tewas karena terjatuh di kamar mandi, namun keluarganya tidak percaya, karena ada luka lebam di tubuhnya, lalu mereka mengadu ke Polsek setempat.

Ternyata, pihak Polsek menyarankan untuk menghadap ke Polres Tulungagung yang menangani kasus itu.

"Saat kami datang ke Polres, kami juga tidak digubris, sehingga kami tidak mendapatkan laporan ataupun informasi terkait perkembangan kasus yang menimpa keponakan saya," ujar paman korban, Nanang Dwi Utomo.

Didampingi ibunda korban, Ny Eko Puji Ningsih, pihaknya melapor ke Polda Jatim, karena kecewa dengan kinerja Polres setempat.

Senada dengan itu, kuasa hukum keluarga korban, Suhadi, menyatakan, selama ini banyak kasus-kasus yang ditangani oleh Polres Tulungagung terbengkalai.

"Atas dasar itulah, kami memutuskan untuk melaporkan kasus tersebut ke Polda Jatim. Dengan harapan, jika kasus tersebut ditangani oleh instansi yang lebih tinggi, maka akan cepat terungkap, siapa yang bertanggung jawab atas kasus itu dan penganiaya Dayu juga segera diadili," katanya.

Menurut Suhadi, Polda menyatakan menyerahkan penanganan kasus itu ke kewilayahan saja, karena kasus itu sudah ditangani Polres setempat.

"Tapi, pihak Polda Jatim berjanji akan melakukan pengawasan khusus terkait dkasus tersebut," katanya.

Sementara itu, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (KemkumHAM) akan membentuk tim khusus untuk memeriksa petugas Lapas setempat, termasuk kepala Lapas yang merupakan penanggung jawab atas setiap kejadian di dalam lapas yang dipimpinnya. (*)

Sumber: antarajatim.com | 18 Jan 2012
Kamis, 19 Januari 2012 | 0 komentar

Penderita AIDS di Jatim Sebagian Besar Ibu Rumah Tangga

Jumat, 02 Desember 2011 | 01.29.00 | 0 komentar

Sebanyak 10 persen penderita AIDS di Jawa Timur ibu rumah tangga. Sampai September 2011 lalu terdapat 11 ribu lebih pengidap HIV di Jatim. Sedangkan 5.000 lebih kena AIDS.

Mujib Affan Kepala Dinas Kesehatan Jatim pada Martha reporter Suara Surabaya, Kamis (1/12/2011) mengatakan, dari 5.000 lebih penderita AIDS, 10% diantaranya sekitar 600 orang adalah ibu rumah tangga. Sedangkan kalangan PSK hanya 5%.

Ini menunjukkan penyebaran HIV bukan hanya pada kalangan beresiko tinggi, tapi sudah menyebar pada kalangan beresiko rendah tertular HIV.

Jawa Timur merupakan provinsi ke 4 dengan pengidap HIV/AIDS terbanyak. Sebanyak 11 kabupaten/kota di Jatim ditetapkan sebagai zona merah, karena penyebaran HIV/AIDS yang cukup tinggi.

Diantaranya Surabaya, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Jember, Banyuwangi, Kediri, Nganjuk, dan Tulungagung.

Untuk mengendalikan penyebaran HIV/AIDS, Dinas Kesehatan Jatim meningkatkan upaya preventif dengan penemuan dini suspect HIV.

Untuk menanggulangi HIV/AIDS di Jatim dilakukan 4 strategi yakni penyuluhan pencegahan penularan HIV/AIDS, peningkakan cakupan penemuan dini, peningkatan perawatan untuk ODHA, dan kemudahan akses pelayanan yang berkualitas.(mar/ipg)

Sumber: suarasurabaya.net | 01 Desember 2011
Jumat, 02 Desember 2011 | 0 komentar

Kepergok Mencuri, 2 Ibu Rumah Tangga Nyaris Dihakimi Warga

Kamis, 11 Agustus 2011 | 20.27.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG- Kedua wanita yang berprofesi sebagai ibu rumah tangga, Nanik (38) dan Sri Setyowati (40) nyaris dihakimi warga lantaran tertangkap mencuri pakaian di sebuah toko pakaian di Tuluangagung, Jawa Timur.

Keduanya menyembunyikan barang curiannya tersebut dibalik celana dalam yang mereka kenakan.

Nanik warga Desa Kaliwungu, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung dan Sri Setyowati, warga Desa Sanggrahan, Kecamatan Sumbergempol ini bahkan sempat mengelabui penjaga dan petugas keamanan toko.

"Saat diperiksa, kedua pelaku sempat mengatakan sedang datang bulan," ujar Kasubag Humas Polres Tulungagung Ajun Komisaris Polisi Bambang Sutikno kepada wartawan, Rabu (10/8/2011).

Melihat adanya tonjolan tidak wajar pada bagian alat vital kedua pelaku, penjaga toko lantas merasa curiga. Kecurigaan berujung pada perang mulut pihak toko dan kedua pelaku.

"Ketika digeledah itulah, kedua pelaku tak bisa mengelak lagi," kata Bambang.

Selain menyembunyikan barang curian dibalik celana dalam, keduanya juga menyembunyikan barang curian didalam bra yang dikenakannya. Petugas keamanan dan warga sekitar yang marah nyaris menghakimi kedua pelaku.

Beruntung, petugas kepolisian segera datang mengamankan pelaku dari amukan massa. Kepada petugas, Sri masih sempat menyangkal. Dia mengaku datang ke toko tersebut dengan tujuan berbelanja.

"Namun dari pemeriksaan, kami menemukan belasan baju lain yang diduga juga hasil kejahatan," jelas Bambang.

Diduga, sebelumnya pelaku juga beraksi di toko lain. Keduanya selalu memilih toko pakaian yang tidak memiliki perangkat CCTV.

"Dalam kasus ini pelaku akan dijerat dengan pasal 363 dengan ancaman maksimal hukuman 7 tahun penjara," pungkasnya. (put)
(Solichan Arif/Koran SI/hri)

Source: okezone.com | Kamis, 11 Agustus 2011
Kamis, 11 Agustus 2011 | 0 komentar

Lembaga Perlindungan Anak Sayangkan Lambannya Respon RSUD

Sabtu, 07 Mei 2011 | 14.32.00 | 0 komentar

Tulungagung - Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung Winny Isnaini menyayangkan lambannya respon pihak RSUD dr Iskak dalam melaporkan kasus percobaan pembunuhan terhadap dua anak kandung oleh ibunya sendiri di Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru.

Padahal, kata Winny, standar operasional prosedur (SOP) dalam kasus kekerasan sebagaimana dialami Andikan (9) serta Intan (1,5) sebenarnya telah dituangkan melalui peraturan bupati (perbup) dan telah disosialisasikan ke seluruh jajaran tenaga kesehatan di rumah sakit maupun puskesmas.

"Ini bukan berarti polisi pasti akan mempidanakan Jumiati, si ibu yang menjadi pelaku percobaan pembunuhan dua anak tadi. Namun untuk menelusuri permasalahan secara lebih mendalam dan mencari akar permasalahannya," kata Winny, Sabtu.

Aktivis senior yang telah lama malang-melintang dalam dunia perlindungan anak ini memiliki analisa lain dari fakta yang muncul dari kejadian tersebut.

Menurut dia, tindak kekerasan yang mengarah pada percobaan pembunuhan dua anak kandung oleh ibu sendiri tersebut bisa jadi dipengaruhi karakter suami dalam keseharian.

Artinya, perilaku ekstrem Jumiati sangat mungkin muncul akibat perlakuan keras dan cenderung mengintimidasi yang dialaminya dari sang suami. "Berdasar pengalaman kami sebelumnya memang seperti itu. Soal bagaimana sebenarnya, kami kira perlu dilakukan penelusuran masalah lebih lanjut," terangnya.

Dengan logika psikologi seperti itu, Jumiati tidak bisa serta-merta dinyatakan sebagai pelaku. Sebaliknya, ia juga menjadi korban. Depresi yang terus berkelanjutan menyebabkan ibu muda yang baru berusia 29 tahun inipun memilih berbuat nekat untuk menghindari ancaman kekerasan dari suaminya.

"Biasanya perubahan sikap ibu, karena kerap menerima kekerasan dari suaminya," tandas Winny.

Winniy menandaskan, pihak LPA sudah diminta oleh rumah sakit untuk menyelesaikan masalah ini. Sebagai langkah awal, LPA akan memisahkan Jumiati dengan kedua anaknya.

Pemisahan ini agar keduanya bisa mendapatkan rehabilitasi sesuai dengan porsinya masing-masing. Jumiati harus mendapatkan terapi dan dicarikan solusi dari akar permasalahan yang membuatnya berubah keji.

Sementara itu, Andika dan Intan akan dititipkan dalam pengasuhan kerabat yang lain sembari diterapi dari trauma atas peristiwa tersebut.

Diberitakan, seorang ibu muda bernama Jumiati (29) yang tinggal di Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jumat pagi nekat mencoba membunuh dua anak kandungnya sendiri yang masih kecil-kecil sebelum kemudian berusaha bunuh diri dengan cara menghantamkan palu ke arah kepala.

Tindakan nekat yang diduga dilatarbelakangi rasa depresi karena menderita penyakit hipertensi berat itu berhasil digagalkan warga. Namun, kondisi kedua bocah berikut sang ibu terlanjur mengalami luka parah sehingga harus dilarikan ke instalasi rawat darurat RSUD dr Iskak, Tulungagung.

Percobaan pembunuhan tersebut terjadi pada Jumat pagi ketika Budiono keluar membeli sarapan untuk kedua anaknya serta Jumiati.

Sepulang membeli sarapan, penjual kaset VCD keliling itu mengaku terkejut karena banyak warga yang berkerumun di depan rumahnya menolong kedua anaknya yang berlumuran darah dan menangis sesenggukan.

Sumber: Antara
Sabtu, 07 Mei 2011 | 0 komentar

Ibu Tega Pukuli Kepala Dua Anaknya dengan Martil

Tulungagung - Jumiati (29), warga Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mencoba melakukan pembunuhan terhadap dua darah dagingnya sendiri.

Saat tertidur pulas, dihantamnya bagian kepala Andika (9) dan Intan yang berusia (1,5 tahun) dengan sebuah martil. Andika yang merasa kesakitan sontak terbangun. Dengan kepala berlumuran darah, siswa kelas dua sekolah dasar itu berteriak meminta pertolongan.

Kehadiran tetangga tidak membuat surut niat keji Jumiati. Dipukulnya kepala anak bungsunya yang belum juga terbangun. Setelah itu di hadapan mata para tetangga, ia hantamkan martil yang ada di genggaman tangan ke arah kepalanya sendiri.

“Untungnya beberapa tetangga berhasil merebut palu (martil). Kalau tidak tentu apa yang terjadi lebih buruk lagi, “tutur Budiono, suami Jumiati yang saat kejadian sedang keluar rumah untuk membeli makanan.

Tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Baik Jumiati dan kedua anaknya langsung dilarikan ke ruang Instalasi Rawat Darurat RSUD dr Iskak Tulungagung. Andika mengalami luka robek pada bagian kepala sebelah kanan, atas dan belakang.

Diduga kuat ia menderita gegar otak ringan. Sebab setiba di rumah sakit, bocah bernasib malang itu langsung mengeluh mual dan ingin muntah. Sedangkan kondisi Intan terlihat lebih baik, meski kepalanya juga terdapat luka. Bocah yang sepertinya belum tahu apa yang terjadi pada ibunya. Ia terlihat tenang berada di dalam gendongan Budiono.

Sementara jiwa Jumiati terlihat begitu terguncang. Keadaan tersebut yang mendorong perawat rumah sakit menempatkan Jumiati pada ruang tersendiri. Sebab ibu dua anak itu terus berteriak histeris meminta kedua anaknya di dekatkan kepadanya. “Saya tidak tahu kenapa kondisi kejiwaan istri saya menjadi seperti ini, “terang Budiono.

Informasi yang dihimpun, Jumiati dikenal sebagai perempuan yang memiliki pembawaan keras dan galak. Tidak sedikit tetangga yang melihat, ia begitu ringan tangan terhadap anaknya yang telah melakukan kesalahan kecil.

Sebelum malapetaka percobaan pembunuhan itu terjadi, Jumiati baru pulang dari perawatan di RS Bhayangkara Tulungagung. Setelah 7 hari menjalani opname karena tekanan darahnya mencapai 200 dan ancaman stroke, ia diperbolehkan pulang.

Selama hari pertama berada di rumah, Budiono melihat perangai istrinya yang berubah. Ia tampak tidak nyaman dan sering marah tanpa alasan. “Namun saya mencoba memaklumi mungkin saja kondisi psikis orang yang baru saja sakit, “terang Budiono.

Karenanya, Budiono tidak mengira jika sepeninggal dirinya keluar rumah untuk membeli makanan, Jumiati akan berbuat seperti orang yang tidak waras. Berdasarkan, penuturan beberapa tetangga, Jumiati sempat membawa linggis sebelum akhirnya memilih martil sebagai alat untuk percobaan pembunuhan.

Beberapa hari sebelum peristiwa itu terjadi, Jumiati pernah mencoba bunuh diri dengan cara membakar diri bersama kedua anaknya. Bahkan, perempuan tersebut sudah sempat membeli sebotol bensin. “Untungnya perbuatan nekat itu berhasil saya gagalkan. Sampai hari ini saya tidak tahu apa yang melandasi perbuatan nekatnya, “paparnya.

Budiono berharap semua permasalahan yang menimpa keluarganya bisa segera berlalu. Dokter jaga IRD RSUD dr Iskak Tulungagung Andi Prasetyo, dari ketiga pasien, Andika yang paling parah. Sementara Intan juga mengalami luka robek sekitar 2 cm pada kepala bagian atas dan belakang.

Sementara Jumiati mengalami luka robek pada kepala bagian depan dan harus dijahit. “Meski sepintas tidak mengkahwatirkan, ketiga pasien tetap akan menjalani observasi. Sebab, akibat dari kekerasan itu akan diketahui dari observasi, “ujarnya.
(Solichan Arif/Koran SI/ful)

Sumber: okezone.com
| 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan