Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label HIV/AIDS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIV/AIDS. Tampilkan semua postingan

Belasan PNS Tulungagung Positif Tertular HIV/AIDS

Rabu, 02 Desember 2015 | 10.45.00 | 1 komentar

Tulungagung - Belasan pegawai negeri sipil di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, dipastikan tertular virus HIV/AIDS akibat perilaku seks bebas maupun hubungan perselingkuhan dengan sesama PNS maupun pasangan lain di luar nikah.

"Data yang berhasil kami identifikasi sejak 2006 hingga sekarang, tercatat ada 18 dari total 1.244 ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yang telah memeriksakan diri," ujar Pengelola Program Komisi Perlindungan AIDS Kabupaten Tulungagung, Ifada, usai aksi pembagian kondom gratis di Terminal Gayatri, Tulungagung, Selasa.

Semakin banyaknya PNS yang tertular virus HIV/AIDS tersebut menjadi perhatian khusus KPA Tulungagung.

Apalagi, lanjut Ifada, dari 18 PNS yang telah teridentifikasi berstatus ODHA itu, mayoritas berlatar belakang guru.

Ifada tidak menyebut spesifik jumlah kasus ODHA berlatar belakang PNS dalam setahun terakhir, namun ia memastikan beberapa temuan kasus HIV/AIDS terakhir juga berlatar belakang guru.

Kendati tidak serta-merta memastikan penyebab penularan akibat perilaku seks bebas, Ifada menyatakan hampir semua temuan kasus HIV/AIDS, terutama di kalangan PNS atau guru, adalah akibat transmisi seksual dengan pasangan di luar nikah.

Pernyataan Ifada merujuk pada kasus-kasus perselingkuhan antara sesama PNS ataupun dengan pasangan non-PNS sehingga mereka menjadi rentan tertular HIV/AIDS.

"Memang ada yang masuk kelompok risiko tinggi karena perilaku seks bebas dengan berganti-ganti pasangan, namun sebagian lain karena hubungan dengan pasangan di luar nikah yang menjadi teman kencannya (selingkuh)," ungkap Ifada.

Menurut data KPA, jumlah temuan kasus HIV/AIDS di Tulungagung sejak lembaga penanggulangan AIDS terbentuk pada 2006 hingga saat ini tercatat sebanyak 1.244 kasus.

Tenaga nonprofesional atau karyawan mendominasi sebaran kasus HIV/AIDS dengan jumlah mencapai 328 ODHA, disusul kelompok ibu rumah tangga sebanyak 270 ODHA, kalangan pekerja seks sebanyak 210 ODHA, TKI/TKW sebanyak 108 ODHA, wiraswasta sebanyak 82 ODHA, sopir sebanyak 39 ODHA, dan anak-anak di bawah 10 tahun sebanyak 26 ODHA.

Kalangan PNS sendiri menempati urutan 10 besar dari total 15 kategori yang dikelompokkan KPA Tulungagung berdasar latar belakang pekerjaan.

Wakil Bupati Tulungagung, Maryoto Bhirowo mengaku prihatin atas besarnya angka kasus HIV/AIDS di Tulungagung.

Ia bahkan menyatakan Tulungagung saat ini berstatus siaga HIV/AIDS sehingga perlu penanganan menyeluruh, baik dari tingkat KPA, dinas kesehatan, maupun kalangan komunitas sebaya ODHA.

"Pemerintah Kabupaten Tulungagung memiliki komitmen untuk mendukung upaya penanggulangan HIV/AIDS secara menyeluruh karena saat ini jumlah ODHA Tulungagung menempati urutan kelima terbesar di Jatim," ujarnya.

Secara khusus, Maryoto mengimbau pada masyarakat Tulungagung, terutama kelompok berisiko tinggi, untuk membuka diri dan proaktif memeriksakan diri ke klinik-klinik VCT yang ada di RSUD dr Iskak, maupun 12 puskesmas tingkat kecamatan yang telah dilengkapi prasarana serta laboratorium pemeriksaan HIV/AIDS atau VCT. (Ant)
Rabu, 02 Desember 2015 | 1 komentar

Lakukan Seks Bebas, 10 Mahasiswa di Tulungagung Tertular HIV/AIDS

Minggu, 29 November 2015 | 18.30.00 | 2 komentar

TULUNGAGUNG - Sebanyak 26 bocah berusia di bawah 10 tahun, di Kabupaten Tulungagung, terjangkit virus HIV/AIDS. Penyakit yang menggerogoti sistem kekebalan tubuh itu juga ditemukan pada 10 orang pelajar dan mahasiswa.

"Untuk kasus yang ditemukan di kelompok anak-anak tertular dari ibunya. Sedangkan ibunya terinfeksi dari suaminya," ujar Ifada selaku pengelola program Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Tulungagung, Jumat (27/11/2015). Read More
Minggu, 29 November 2015 | 2 komentar

Malam Renungan AIDS di Tulungagung

Minggu, 02 Juni 2013 | 00.00.00 | 0 komentar

Tulungagung: Puluhan aktivis peduli HIV/AIDS di Tulungagung, Jawa Timur, menggelar Malam Renungan AIDS Nusantara, Kamis (30/5). Acara untuk mendoakan mereka yang telah "pergi" akibat penyakit mematikan ini serta memberikan dukungan semangat bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Malam renungan dihelat di halaman kantor Pemkab Tulungagung. Hanya diterangi cahaya lilin, puluhan aktivis larut dalam keharuan. Apalagi saat seorang penggiat penanggulangan AIDS membawakan puisi-puisi akan arti penting sebuah hidup tanpa terinfeksi HIV.

Kegiatan ini diharapkan bisa menyentuh masyarakat agar peduli kepada ODHA. Masyarakat tidak membangun stigma dan melakukan diskriminasi bagi ODHA. Tujuannya agar ODHA bisa mandiri dan produktif.

Ifada, aktivis, menyebutkan, penderita HIV/AIDS di Tulungagung cukup banyak: 643 orang. Itu data per Mei 2013. Korban meninggal mencapai 173 orang.(Dwi Wianto)

Sumber: Metrotvnews.com | Kamis, 30 Mei 2013
Minggu, 02 Juni 2013 | 0 komentar

KPA Tulungagung Gelar Sosialisasi Tanggulangi AIDS

Minggu, 22 April 2012 | 11.44.00 | 0 komentar

Tulungagung - Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Tulungagung menggelar sosialisasi pencegahan dan penanggulangan dini terhadap risiko penularan HIV/Aids, dengan sasaran para pramusaji kafe, warung kopi, score girl, serta pemandu lagu.

"Mereka ini masuk kategori kalangan risiko rendah penularan HIV/Aids, namun mengingat populasinya yang tinggi, upaya pencegahan dengan cara memberi pemahaman seperti ini perlu dilakukan," kata Kasi Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinas Kesehatan Tulungagung, Didik Eka, Jumat.

Kegiatan sosialisasi yang diikuti sekitar 160 perempuan muda dan berlangsung sejak pagi, pukul 09.30 tersebut sempat berlangsung gayeng. Hal itu tak lepas dari kreatifitas tim penyuluh dalam menyampaikan materi sosialisasi tentang salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia tersebut sembari menyelipkan candaan segar sehingga membuat suasana terasa gayeng.

Gelak tawa bahkan sempat terdengar memecah kekakuan acara ketika petugas kesehatan memperagakan tata cara memasang kondom yang benar di hadapan peserta yang kebanyakan masih muda tersebut. "Biar gak terlalu tegang, harus diselingi guyon asal materi juga tetap bisa masuk," ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Bupati Mohamad Atiyah selaku Ketua Umum KPA Tulungagung berharap agar semua pihak ikut membantu meningkatkan kerja sama kemitraan dalam upaya menanggulangi ledakan kasus Aids di Kota Marmer.

Kerjasama kemitraan dimaksud, kata Wabup, tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang terinfeksi ataupun terdampak HIV/Aids (ODHA), tetapi juga kepada semua stakeholder, terutama pemerintah di semua tingkat, komunitas lintas agama, media masa, lembaga penelitian dan akademisi serta sektor swasta.

"Semua harus bersinergi dengan penyedia layanan kesehatan agar target ' getting to zero': tidak ada kasus kematian, infeksi, stigma, maupun diskriminasi yang diakibatkan virus HIV,"
cetusnya.

Wabub dalam kesempatan tersebut juga berharap agar melalui sosialisasi tentang epidemi aids bisa berjalan sesuai rencana. Ia bahkan berharap melalui program sosialisasi berkelanjutan akan terbangun kesadaran masyarakat peduli HIV dan Aids.

Sebagaimana data resmi yang tercatat di Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Tulungagung, total kasus HIV/AIDS yang telah berhasil mereka identifikasi sejak klinik VCT berdiri hingga sekarang (Oktober 2011) adalah sebanyak 424 orang/ODHA. Dari jumlah itu, 131 ODHA di antaranya meninggal dunia.

Mayoritas kasus penularan HIV/AIDS di Tulungagung terjadi karena perilaku seks bebas dengan persentase mencapai 93 persen. Selebihnya merupakan kombinasi faktor penularan melalui pengguna narkotika jarum suntik (penasun), perinatal (penularan dari ibu ke anak), serta faktor eksternal lain. (Destyan)


Sumber: antarajatim.com | 21 Apr 2012
Minggu, 22 April 2012 | 0 komentar

PSK Sulit Dilepas dari Kegiatan Prostitusi

Sabtu, 25 Februari 2012 | 00.14.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Sulit bagi sekitar 200 pekerja seks komersial (PSK) lokalisasi Kaliwungu di Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, lepas dari kegiatan prostitusi, meski Pemkab Tulungagung telah menyiapkan serangkaian tahapan proses adaptasi sosial.

Hal itu dikemukakan Ketua Pusat Studi Gender Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Tulungagung Zulfatun Ni'mah berdasarkan pengamatan kualitatif. "Pemkab membuat seri proses selama sekitar enam bulan, dimulai dengan sosialisasi, pendampingan, pemberian modal kerja dan sarana kerja, disusul pendampingan lagi untuk pindah profesi lain. Pertanyaannya, apakah mental wirusaha bisa dengan mudah ditumbuhkan," tutur Zulfatan, Kamis (23/2/2012).

Mereka juga merupakan bagian dari jejaring ekonomi mucikari dan ekonomi prostitusi yang tidak kecil jumlahnya. "Kesulitan kami, hampir mustahil melakukan dialog terbuka tentang aspirasi mereka tanpa pengawasan dari mucikari," katanya.

Pemkab Tulungagung sudah memutuskan unuk membubarkan kegiatan prostitusi di wilayah itu, yang juga merupakan kebijakan Pemprov Jatim. "Berdasar survei LSM Cesmid tahun 2011, ada sekitar 600 PSK di Tulungagung tersebar di sejumlah konsentrasi," kata staf Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Ifada Nurahmania.

Sumber: KOMPAS.com | Kamis, 23 Februari 2012
Sabtu, 25 Februari 2012 | 0 komentar

248 Warga Tulungagung Terinfeksi HIV

Sabtu, 03 Desember 2011 | 19.05.00 | 0 komentar

Tulungagung - Berkenaan hari AIDS sedunia,ada 248 warga Tulungagung yang terinfeksi HIV. Dari sudut pandang profesi, urutan pertama yang terkena adalah profesi sebagai wirausaha dan pemilik usaha.

Dari jumlah 248 orang yang terkena HIV tersebut menurut data ODHA berdasarkan gender terbagi atas 106 orang berjenis kelamin laki-laki dan yang berjenis kelamin perempuan jumlahnya sebesar 142 orang. Sedangkan yang terjangkit AIDS sebanyak 139 orang.

Sedangkan data yang berdasarkan umur, yang paling banyak terkena penyakit HIV/AIDS adalah usia antara 21-30 tahun terdapat 81 orang dan usia antara 30-40 tahun 87 orang. Usia ini adalah usia produktif. Sedangkan untuk usia di bawah 10 tahun yang terkena sebanyak 11 anak.

“Urutanya adalah Wirausaha dan pemilik usaha, Pekerja Seks komersial (PSK), ibu rumah Tangga,Tenaga Kerja Indonesia (TKI),” kata Kasi Pengendalian penyakit menular Dinkes Tulungagung, Didik Eka.

Lanjut katanya, untuk Pekerja Seks Komersial itu sendiri masih dibagi lagi. Yaitu PSK langsung. Dalam hal ini PSK yang berada di lokalisasi 30% yang terjangkit. Kemudian PSK tidak langsung. Seperti SPG, Purel (pemandu lagu) yang berada di tempat hiburan malam, yang terjangkit sebesar 70 %.

Dengan kenyataan tersebut Didik Eka menghimbau kepada seluruh masyarakat Tulungagung untuk menghindari perbuatan seks bebas atau penggunaan Narkoba. Karena disinyalir yang paling terkena penyakit ini karena melakukan kegiatan tersebut.

Untuk mengantisipasi berkembangnya penyakit HIV/AIDS di Kabupaten Tulungagung, pihak Dinkes Tulungagung dari tahun ke tahun dan di setiap ada momen terus melakukan sosialisasi terhadap masyarakat. Pelaksanaan kegiatan ini difokuskan di tempat hiburan malam yang tumbuh menjamur di kabupaten Tulungagung.Cip

Sumber: surabayapagi.com | Sabtu, 3 Desember 2011
Sabtu, 03 Desember 2011 | 0 komentar

12 Pelajar Tulungagung Idap HIV/AIDS

Jumat, 02 Desember 2011 | 01.34.00 | 0 komentar

Tulungagung - Sedikitnya 12 pelajar setingkat SMA di Kabupaten Tulungagung positif teridentifikasi menderita HIV/AIDS yang diduga menular akibat perilaku seks bebas serta penggunaan narkoba.

"Jumlah sebenarnya tidak pasti, tapi kira-kira ada sekitar 12-an yang terdiri dari kalangan pelajar setingkat SMA dan mahasiswa," kata Koordinator Program Komite Penanggulangan Aids (KPA) Tulungagung, Ifada Nur Rokhmaniah, Kamis.

Ifada tidak menjelaskan lebih rinci soal keberadaan para pelajar maupun mahasiswa yang masih aktif di lembaga pendidikan masing-masing.

Namun, ia memastikan bahwa perkembangan kasus yang menimpa ke-12 remaja yang masih aktif bersekolah itu tetap terpantau.

Lebih lanjut Ifada menjelaskan, kasus yang menimpa belasan pelajar dan mahasiswa itu telah terdeteksi sejak tahun 2008 setelah masing-masing melakukan pemeriksaan di klinik VCT (Voluntary, Counseling and Testing) Seruni di RSUD dr Iskak.

Hasilnya, berdasarkan evaluasi yang dilakukan KPA Tulungagung, mayoritas penularan HIV/AIDS yang menimpa sejumlah pelajar tersebut karena perilaku seks bebas di kalangan remaja setempat.

"Tren ini (pergeseran) terjadi sejak tahun 2008, dan dari tahun ke tahun kecenderunganya semakin kuat," ujarnya. Pergeseran pola dan sasaran penularan dari kelompok risiko tinggi ke kelompok risiko rendah atau tidak langsung inilah yang kini menjadi perhatian serius KPA.

Menurut dia, angka kasus pada kelompok risiko rendah semakin meningkat. Selama kurun bulan November saja, kata Ifada, KPA mengidentifikasi sebanyak tujuh orang penderita baru.

Ifada yang juga Humas Panitia Gabungan Hari AIDS se-Dunia di Tulungagung ini mengungkapkan, jumlah kasus HIV/AIDS di Tulungagung tercatat telah mencapai 436 kasus, dengan 142 di antaranya meninggal dunia.

Ia mengisyaratkan, kasus HIV/AIDS yang terdeteksi di Klinik Seruni RSUD dr Iskak hingga saat ini memiliki kecenderungan terus meningkat.

Ifada berharap penanganan kasus HIV/AIDS tidak lagi berkutat pada kelompok-kelompok risiko tinggi, tetapi sudah waktunya intervensi penanganan dilakukan pada kelompok yang sebelumnya dipandang berisiko rendah seperti halnya kalangan pelajar dan ibu rumah tangga.

"Mari kita kawal Perda Penanggulangan HIV/AIDS Nomor 25 Tahun 2010 agar bisa menjadi payung hukum yang yang aplikatif dan efektif," pungkasnya. (Destyan)


Sumber: antarajatim.com | 01 Des 2011
Jumat, 02 Desember 2011 | 0 komentar

Komunitas Aids Tulungagung Tolak Penutupan Lokalisasi

Tulungagung - Komunitas peduli HIV/AIDS di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mengisyaratkan penolakan mereka terhadap wacana penutupan dua lokalisasi setempat yang saat ini tengah digodok di tingkat Pansus DPRD.

"Penutupan itu justru akan kontraproduktif dalam upaya kita semua dalam menekan risiko penularan HIV/AIDS. Kami dalam waktu dekat akan meminta waktu ke DPRD untuk melakukan dengar-pendapat soal ini," ujar salah seorang penggiat HIV/AIDS Tulungagung, M Khoirudin, Kamis.

Ia mendaku (klaim), sikap itu menjadi suara bersama komunitas peduli AIDS se-Tulungagung. Beberapa elemen yang telah menyatakan kesediaan untuk mengikuti rapat dengar-pendapat dengan DPRD antara lain Ikatan Gaya Tulungagung (Igata).

Selain itu, Apresiasi Waria Kota Tulungagung (Aprikot), komunitas WTS Kaliwungu dan Ngunut, paguyupan warung hiburan Tulungagung (Pawahita) serta komunitas pemandu lagu (purel) se-Tulungagung.

Dukungan juga datang dari kalangan pegiat HIV/AIDS lain seperti halnya Global Fund, Pusat Studi Perempuan Tulungagung (Puspita), Kelompok Dukungan Sebaya (KDS), kalangan mahasiswa STKIP Tulungagung, serta Forum Solidaritas Kemanusiaan Tulungagung.

"Prinsipnya kami akan menolak kebijakan itu. Kalaupun akhirnya memang harus ditutup, kami mendesak pemerintah daerah agar mempersiapkan terlebih dahulu program yang riil dan konstruktif agar teman-teman PSK yang kehilangan pekerjaan mendapat tempat beraktivitas baru yang lebih positif dan mandiri," tandasnya.

Pernyataan serupa dilontarkan pengelola program Komite Penanggulangan Aids (KPA) Tulungagung Ifada Nur Rokhmaniah.

Menurut dia, permasalahan AIDS akan semakin sulit ditanggulangi apabila dua lokalisasi pelacuran yang menjadi sentra transaksi seksual ditutup sama sekali.

"Permasalahan AIDS perlu mendapat perhatian dan dukungan semua pihak, sebab penyakit ini sudah tidak lagi menjangkit kalangan risiko tinggi seperti halnya WTS dan kalangan swasta/profesional, tetapi sudah merambah di kelompok risiko tidak langsung seperti ibu rumah tangga dan anak-anak," ujarnya.

Ifada yang juga Humas Panitia Gabungan Hari AIDS se-Dunia di Tulungagung ini mengungkapkan, jumlah kasus HIV/AIDS di Tulungagung tercatat telah mencapai 436 kasus, dengan 142 di antaranya meninggal dunia.

Ia mengisyaratkan, kasus HIV/AIDS yang terdeteksi di Klinik Seruni RSUD dr Iskak hingga saat ini memiliki kecenderungan terus meningkat.

"Lebih dari itu semua, melalui aksi simpati ini kami ingin mengkampanyekan agar jangan ada lagi diskriminasi maupun stigma merugikan bagi siapa saja yang menderita HIV/AIDS sehingga mereka tidak lagi memiliki persamaan hak dan kesempatan dalam dunia kerja," kata Ifada.

Wacana penutupan lokalisasi di Tulungagung saat ini semakin mengemuka seiring desakan dari sejumlah elemen masyarakat seperti MUI dan sejumlah ormas Islam yang menginginkan penghapusan segala bentuk prostitusi di daerah tersebut.

Hasilnya, wacana penutupan lokalisasi kini telah masuk ranah poloitik dan sedang dibahas di tingkat DPRD setempat dan menunggu tahap sosialisasi. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 01 Des 2011
| 0 komentar

Penderita AIDS di Jatim Sebagian Besar Ibu Rumah Tangga

Sebanyak 10 persen penderita AIDS di Jawa Timur ibu rumah tangga. Sampai September 2011 lalu terdapat 11 ribu lebih pengidap HIV di Jatim. Sedangkan 5.000 lebih kena AIDS.

Mujib Affan Kepala Dinas Kesehatan Jatim pada Martha reporter Suara Surabaya, Kamis (1/12/2011) mengatakan, dari 5.000 lebih penderita AIDS, 10% diantaranya sekitar 600 orang adalah ibu rumah tangga. Sedangkan kalangan PSK hanya 5%.

Ini menunjukkan penyebaran HIV bukan hanya pada kalangan beresiko tinggi, tapi sudah menyebar pada kalangan beresiko rendah tertular HIV.

Jawa Timur merupakan provinsi ke 4 dengan pengidap HIV/AIDS terbanyak. Sebanyak 11 kabupaten/kota di Jatim ditetapkan sebagai zona merah, karena penyebaran HIV/AIDS yang cukup tinggi.

Diantaranya Surabaya, Sidoarjo, Malang, Pasuruan, Jember, Banyuwangi, Kediri, Nganjuk, dan Tulungagung.

Untuk mengendalikan penyebaran HIV/AIDS, Dinas Kesehatan Jatim meningkatkan upaya preventif dengan penemuan dini suspect HIV.

Untuk menanggulangi HIV/AIDS di Jatim dilakukan 4 strategi yakni penyuluhan pencegahan penularan HIV/AIDS, peningkakan cakupan penemuan dini, peningkatan perawatan untuk ODHA, dan kemudahan akses pelayanan yang berkualitas.(mar/ipg)

Sumber: suarasurabaya.net | 01 Desember 2011
| 0 komentar

Pengidap HIV/AIDS di Tulungagung Terus Bertambah

Selasa, 22 November 2011 | 18.18.00 | 0 komentar

Tulungagung - Sungguh mengerikan, di bulan Oktober dan Nopember 2011, jumlah penderita HIV/AIDS bertambah 15 orang. Parahnya, jumlah tersebut kemungkinan besar akan terus bertambah ke depanya.

Jumlah penderita tersebut sebenarnya fluktuatif. Hal ini bisa dilihat dari data yang tertera di RS. Iskak Tulungagung. Yang mana total penderita penyakit ini 415 per Agustus 2011 dan pada bulan Oktober ada tambahan jumlah penderita 12 orang dan bulan NBopember ada tambahan 3 penderita.

Jadi untuk total jumlah penderita penyakit HIV/AIDS bisa dilaporkan sebanyak 430 orang. Dari jumlah ini, yang meninggal dunia ada tambahan sebanyak 3 orang. Jadi total yang meninggal dunia per i sebesar 130 orang.

Dengan melihat jumlah perkembangan penularan penyakit ini, dapat dikataan bahwa di Kabupaten Tulungagung, tingkat penularanya sangat tinggi, bahkan diketengarahi jumlahnya dari tahun ke tahun akan terus meningkat.

Tren ini muncul terutama setelah klinik VCT (Voluntary,Conseling and Testing) di RSUD dr.Iskak ini mulai difungsikan dari tahun 2006 sampai sekarang. Humas RSUD dr.Iskak Tulungagung Sujianto mengatakan, dari kasus penularan HIV/AIDS di Tulungagung terjadi karena perilaku seks bebas. “:Selebihnya merupakan kombinasi antara faktor penularan melalui jarum suntik, penularan dari ibu ke anak,serta faktor eksternal lainya,” katanya.

Faktor faktor eksternal tersebut salah satunya adalah yang utama peran orang tua dalam mengawasi pergaulan anak-anaknya dan juga pengawasan terhadap keberadaan café café yang tumbuh subur di Kabupaten Tulungagung. Serta perlu di ketahui bahwa penderita penyakit HIV/Aids di kota marmer ini umumnya masih dalam usia produktif. cip

Sumber: surabayapagi.com | Selasa, 22 November 2011
Selasa, 22 November 2011 | 0 komentar

Tiga Penderita HIV/AIDS Tulungagung Meninggal

Jumat, 11 November 2011 | 00.15.00 | 0 komentar

Tulungagung - Sedikitnya tiga orang penderita HIV/AIDS di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, meninggal dunia, hanya dalam kurun waktu sebulan terakhir karena komplikasi penyakit yang dialami.

"Memang sudah ada tiga ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yang meninggal karena kondisinya yang sudah parah sehingga memicu komplikasi penyakit sebagai akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh penderita," kata Kasi Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Tulungagung, Didik Eka, Kamis.

Tanpa menyebut nama, tempat, maupun waktu meninggalnya secara eksplisit, ia mengatakan ketiga ODHA dimaksud meninggal dunia dalam kurun waktu sebulan terakhir, yakni sejak Oktober hingga awal November ini.

"Satu di antaranya adalah anak-anak yang mungkin tertular HIV dari ibunya yang telah mengidap penyakit yang sama terlebih dulu," ujar Didik.

Pengakuan serupa disampaikan petugas di klinik VCT ("Voluntary Consulting and Testing") di ruang Seruni RSUD Dr Iskak Tulungagung.

Ia mengungkapkan, selama kurun bulan Oktober hingga awal November ini, ada sekitar 12 pasien baru yang dinyatakan positif mengidap HIV/AIDS.

Jumlah tersebut bahkan lebih tinggi bila dibandingkan dengan hasil pendataan bulan sebelumnya yang hanya teridentifikasi sebanyak sembilan orang pasien.

"Fluktuatif, tapi kecenderungannya adalah meningkat. Awal bulan November ini saja sudah tiga ODHA baru teridentifikasi," ujarnya.

Menurut dia, ODHA baru yang ditemukan saat melakukan bimbingan konseling dan testing itu mayoritas berlatar belakang sebagai tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri.

"Peringkat dua terbanyak berlatar belakang WTS dan selebihnya dari berbagai latar belakang profesi, seperti pengusaha, ibu rumah tangga, mahasiswa,PNS, bahkan tukang becak," katanya.

Tren tingginya penularan HIV/AIDS di kalangan TKW ini tidak disinggung secara rinci, namun ia memastikan 107 WTS Tulungagung telah mengidap penyakit mematikan tersebut.

Pihak Dinkes saat itu bahkan hanya menempatkan kelompok TKW pada urutan di luar "lima besar" berdasar kelompok profesinya.

Sebagaimana disampaikan Didik, angka kasus HIV/AIDS pada kelompok WTS di Kabupaten Tulungagung tergolong paling tinggi dibandingkan dengan kelompok rentan lain.

Posisinya bahkan hanya satu tingkat di bawah kelompok wiraswasta atau kelompok laki-laki dari kalangan kelas menengah dan profesional yang jumlahnya tercatat mencapai 116 orang. (Destyan)

Sumber: Antara | 10 Nov 2011
Jumat, 11 November 2011 | 0 komentar

Tempat Dugem Sarang HIV/AIDS

Minggu, 23 Oktober 2011 | 23.47.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG – Sejumlah tempat hiburan malam di Kota Tulungagung rawan menjadi sarang penularan HIV/AIDS. Pasalnya, dunia gemerlap (dugem) seperti karaoke,kafe,dan diskotek, di Kota mermer ini tidak terjamah tangan petugas medis.

Kepala Seksi Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung Didik Eka mengaku kesulitan memasuki ranah hiburan malam.Petugas kesehatan tidak pernah sukses mendeteksi dini penularan HIV/AIDS di lingkup hiburan malam. “Sepertinya perlu cara lain untuk masuk ke sana.

Semacam pendekatan khusus,”kata Didik Eka kepada wartawan,kemarin. Untuk diketahui, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Tulungagung sejak 2004- 2011 sebanyak 380 orang. Dari jumlah tersebut,160 jiwa di antaranya tercatat sebagai warga Tulungagung. Sedangkan sisanya berasal dari luar kota.

Data yang dimiliki dinkes, 107 penderita berasal dari komunitas pekerja seks komersial (PSK). Sebanyak 70% dari 107 penderita tersebut berada pada kelompok PSK terselubung, yakni seperti para pemandu lagu (purel), pekerja kafe atau warung remang-remang, dan wanita panggilan.

Didik tak menjelaskan rinci kendala yang menyulitkanya.Ia hanya mengatakan bahwa para konselor HIV yang dikirim bersama tim medis ke tempat hiburan mendapat resistensi (perlawanan) cukup tinggi. Penolakan paling kentara terjadi saat petugas Komisi Penanggulangan Aids (KPA) hendak mengambil sampel darah para karyawan dan pemandu lagu di tempat hiburan malam Radja di Jalan Pahlawan Kota Tulungagung.

“Tentunya kami tidak bisa memaksa mengingat kegiatan ini bersifat sukarela,“ terang Didik. Sementara untuk kegiatan pemeriksaan kelompok pekerja di warung kopi remang justru disambut baik.

Menurut Piyun, pemilik warung kopi di Tulungagung, dengan deteksi medis tersebut,semua pihak yang berada di dalam kelompok yang sama akan menjadi lebih berhati- hati.“Karena pada dasarnya semua beresiko.Hanya kadar risikonya yang berbeda,“ ujarnya. solichan arif

Sumber: seputar-indonesia.com | Sunday, 23 October 2011
Minggu, 23 Oktober 2011 | 0 komentar

SPG dan Pemandu Lagu Rawan Tularkan AIDS

Tulung Agung - Sebanyak 107 wanita pekerja seks komersial (PSK) di Kabupaten Tulungagung dinyatakan mengidap penyakit HIV/AIDS. Sales promotion girl (SPG), pemandu lagu, dan pekerja cafe termasuk di dalamnya karena melakukan bisnis seks terselubung.

Kepala Seksi Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Tulungagung, Didik Eka, mengatakan para pekerja cafe dan SPG menyumbang kontribusi besar dalam penularan penyakit mematikan ini.

Mereka diketahui melakukan aktivitas prostitusi terselubung di luar pekerjaan sehari-hari. "Mereka menyumbang 70 persen dalam kelompok rawan penyebar AIDS," kata Eka, Minggu (23/10).

Banyaknya pelaku seks terselubung atau tidak langsung ini membuat Dinas Kesehatan cemas. Sebab, mereka justru sangat susah dipantau karena profesinya yang bukan terang-terangan sebagai PSK. Belum lagi sikap pemilik usaha toko, cafe, dan tempat karaoke yang menolak dilakukan pemeriksaan kesehatan terhadap pekerja mereka karena alasan bisnis.

Beberapa kali upaya pemeriksaan yang dilakukan di tempat karaoke Tulungagung, seperti Radja Karaoke, Yess Karaoke, Dinasty Karaoke, Bharata Karaoke, dan Hotel Narita mendapat penolakan dari pengelola. Mereka berdalih kegiatan itu akan mengancam kredibilitas usaha. "Kami juga tak bisa memaksa," kata Eka.

Kondisi ini, menurut Eka, sangat membahayakan masyarakat, sebab intensitas kunjungan pada tempat karaoke dan interaksi dengan SPG cukup tinggi. Hal ini membuka penularan HIV/AIDS secara besar-besaran jika terjadi praktek prostitusi.

Kekhawatiran ini setidaknya cukup terbukti dengan tingginya jumlah masyarakat pengidap HIV/AIDS dari kalangan hidung belang. Kelompok wiraswasta dari kalangan kelas menengah dan profesional pengidap AIDS saat ini mencapai 116 orang.

Dari penelitian Dinkes, intensitas kegiatan seks mereka dengan PSK cukup tinggi. Bahkan dalam semalam seorang PSK bisa melayani 4-5 pelanggan. Angka yang sama juga dilakukan para PSK terselubung. "Kami imbau gunakan kondom," kata Eka.

Bunga, salah satu PSK mengaku enggan menggunakan kondom karena kurang disukai pelanggan. Alat ini dianggap bisa mengurangi kenikmatan berhubungan yang berdampak penurunan pendapatan. "Saya sih sudah menyarankan, tapi mereka tak mau," katanya.

HARI TRI WASONO

Sumber: TEMPO Interaktif | Minggu, 23 Oktober 2011
| 0 komentar

Dinkes Kesulitan Deteksi Aids Tempat Hiburan Malam

Tulungagung - Dinas Kesehatan (Dinkes) maupun Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur kesulitan melakukan deteksi dini persebaran HIV/Aids di sejumlah tempat hiburan malam daerah tersebut.

"Memang tidak mudah untuk bisa masuk ke sana, kami perlu pendekatan khusus," ujar Kasi Penanggulangan Penyakit Menular Dinkes Trenggalek, Didik Eka, Sabtu (22/10).

Ia tidak serta-merta menyatakan ada penolakan dari kalangan pengelola/pengusaha tempat hiburan malam di daerahnya.

Namun, secara eksplisit dia mengakui sejauh ini para konselor HIV bersama tim medis yang mereka kirim ke tempat-tempat hiburan malam maupun rumah karaoke, mengalami resistensi cukup tinggi.

Salah satu kasus yang paling menyolok adalah saat tim medis dari KPA dan dinkes bermaksud melakukan pengambilan sampel darah para pemandu lagu maupun karyawan rumah kafe/karaoke Radja di jalan Pahlawan, Kota Tulungagung.

Saat itu, tim medis yang sudah bersiap menuju rumah karaoke Radja urung berangkat lantaran pihak pengelola menolak bekerja sama.

"Kegiatan ini bersifat sukarela, bukan memaksa. Jadi kalau pihak mereka (pengelola maupun kelompok sasaran) tidak bersedia diambil sampel darahnya, tentu kami juga tidak bisa berbuat apa-apa," kata Didik sembari menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukanlah semacam operasi penggerebekan yang memiliki sifat represif.

Menurut Didik, kesulitan serupa juga mereka alami di sejumlah tempat hiburan lain, sepertidi Yess Karaoke, Dinasty Karaoke, Bharata Karaoke, Hotel Narita, maupun sarana "dugem" (dunia gemerlap) lain.

Ada beberapa hal yang menurut Didik menjadi alasan resistensi para pemilik tempat hiburan malam tersebut, di antaranya, kesadaran yang belum muncul, ketakutan dari pihak kelompok sasaran (pemandu lagu maupun karyawan) yang berlebihan, hingga alasan kepentingan bisnis.

Alasan yang disebut terakhir ini diduga menjadi faktor dominan ketidakbersediaan para pengelola/pengusaha tempat hiburan malam untuk bekerja sama dalam upaya pendeteksian secara dini persebaran HIV/Aids di kalangan pemandu lagu maupun pekerja seks terselubung.

"Ada semacam kekhawatiran yang sangat besar apabila hasil pemeriksaan menyatakan positif (HIV/Aids). Mereka mungkin khawatir dampak pemeriksaan bisa mempengaruhi volume maupun frekwensi kunjungan dari pelanggan mereka," kata Didik menganalisa.

Karena itulah, lanjut dia, pihaknya bersikap ekstrahati-hati. "Suasananya harus dibuat bahwa pemeriksaan ini yang butuh mereka, bukan kami," tandasnya.

Kondisi sebaliknya terjadi pada kelompok pekerja warung kopi atau kafe remang-remang yang tersebar di berbagai tempat di Kabupaten Tulungagung.

Meski tidak semua tercakup dalam kegiatan yang diprakarsai KPA dan dinkes ini, pihak pengelola yang tergabung dalam Paguyupan Warung dan Hiburan Tulungagung (Pawahita) jauh lebih kooperatif. Mereka menjadi sasaran utama pengambilan sampel darah dalam upaya pendeteksian secara dini persebaran HIV/Aids karena dianggap memiliki kelompok rentan yang paling tinggi.

Menurut data yang dipublikasikan pihak Dinkes Tulungagung, saat ini tercatat ada 107 pekerja seks komersil (PSK) yang dinyatakan positif HIV/Aids.

Dari jumlah itu, mayoritas atau sekitar 70 persennya berasal dari kelompok PSK terselubung atau tidak langsung, seperti pemandu lagu, "sales promotion girl" (SPG), pekerja kafe/warung remang-remang, dan wanita panggilan lain yang tidak terlokalisir di satu lokalisasi tertentu. (Destyan)

Sumber: Antara | 23 Okt 2011
| 0 komentar

Ratusan WTS di Tulungagung Idap HIV/AIDS

Minggu, 16 Oktober 2011 | 21.22.00 | 0 komentar

Tulungagung - Ratusan wanita tuna susila (WTS) yang beroperasi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, ditengarai mengidap HIV/AIDS.

"Totalnya hingga saat ini ada sekitar 107 WTS yang telah dinyatakan positif tertular sekaligus mengidap HIV/AIDS," kata Kepala Seksi Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Tulungagung, Didik Eka, Minggu.

Menurut Didik, angka kasus HIV/AIDS pada kelompok WTS di Kabupaten Tulungagung tergolong paling tinggi dibandingkan dengan kelompok rentan lain.

Posisinya bahkan hanya satu tingkat di bawah kelompok wiraswasta atau kelompok laki-laki dari kalangan kelas menengah dan profesional yang jumlahnya tercatat mencapai 116 orang.

Banyaknya kelompok WTS yang terjangkit virus yang belum ditemukan obatnya itu, tentu sangat mengkhawatirkan.

Menurut estimasi Didik, seorang WTS, baik di lokalisasi umum maupun yang terselubung, dalam sehari bisa melayani empat hingga lima pelanggan sekaligus.

"Jika mereka sampai melakukan hubungan seks tidak aman (tidak menggunakan kondom/alat kontrasepsi), maka tingkat persebaran HIV/AIDS di sini bisa mengalami percepatan hingga dua sampai tiga kali lipat dibandingkan dengan periode waktu sebelumnya," katanya.

Masalahnya, dari 107 WTS yang telah teridentifikasi positif mengidap HIV/AIDS itu hanya 30-an orang yang berasal dari kelompok WTS langsung (mangkal di lokalisasi).

Didik mengungkap fakta penting yang selama ini tidak banyak diketahui publik setempat bahwa kebanyakan WTS dengan HIV/AIDS itu justru berasal dari kelompok WTS tidak langsung atau mereka yang beraktivitas menjajakan layanan esek-esek secara terselubung.

Kelompok WTS tidak langsung/terselubung dimaksud antara lain berasal dari kelompok profesi "abu-abu", seperti pemandu lagu, "sales promotion girl" (SPG), pelayan kafe atau warung remang-remang, hingga kalangan pelajar.

Mereka masuk kelompok risiko tinggi (risti) tertular maupun menularkan HIV/AIDS, karena sebagian kelompok profesi/status "abu-abu" ini banyak yang menjalani peran ganda, yakni dengan menjadi wanita panggilan.

"Kalau mengacu pada perbandingan jumlahnya, kelompok WTS tidak langsung ini jumlahnya jauh lebih banyak ketimbang WTS langsung yang telah terlokalisir di lokalisasi Ngujang, Kecamatan Ngantru serta lokalisasi Kaliwungu, Kecamatan Ngunut. Perbandingannya berkisar antara 70:30," papar Didik.

Masalah lain yang tak kalah serius, jumlah pasti WTS tidak langsung tersebut hingga saat ini belum diketahui.

Pihak dinas kesehatan maupun komisi penanggulangan AIDS (KPA) Tulungagung hanya memperkirakan bahwa jumlah mereka sekitar dua hingga tiga kali lipat dibandingkan dengan jumlah WTS langsung yang saat ini tercatat sekitar 345 orang.

"Dari estimasi itu, mungkin hanya 25 persen dari total WTS tidak langsung yang bisa kami akses. Selebihnya tidak terpantau," ujarnya.

Saat ini, rasio penemuan kasus HIV/AIDS di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur tergolong tinggi. Bagaimana tidak, dalam sebulan 8-9 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) baru ditemukan.

Estimasi ini mengacu data keseluruhan selama kurun sepuluh bulan terakhir, yakni antara periode Januari hingga Oktober 2011 yang mencapai 90 ODHA.

Selama dua minggu terakhir ini saja, dinas kesehatan mencatat sudah ada delapan ODHA baru ditemukan. Jumlah tersebut diperkirakan masih akan terus bertambah hingga dua pekan mendatang (akhir Oktober).

Sebagaimana data resmi yang tercatat di Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Tulungagung, total kasus HIV/AIDS yang telah berhasil mereka identifikasi sejak klinik VCT berdiri hingga sekarang (Oktober 2011) adalah sebanyak 424 orang/ODHA. Dari jumlah itu, 131 ODHA di antaranya meninggal dunia.

Mayoritas kasus penularan HIV/AIDS di Tulungagung terjadi karena perilaku seks bebas dengan persentase mencapai 93 persen. Selebihnya merupakan kombinasi faktor penularan melalui pengguna narkotika jarum suntik (penasun), perinatal (penularan dari ibu ke anak), serta faktor eksternal lain. (Destyan)

Sumber: Antara | 16 Okt 2011
Minggu, 16 Oktober 2011 | 0 komentar

Rumah Pria Diduga Penderita HIV Nyaris Dibakar Warga

Sabtu, 10 September 2011 | 00.21.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG- Seorang pria warga Desa Besole, Kecamatan Besuki Kabupaten Tulungagung meninggal dunia.

Diduga kematiannya disebabkan infeksi HIV/AIDS. Tak ada satupun warga yang bersedia memandikan jenazahnya. Bahkan saking khawatir akan tertular, sejumlah orang berniat membakar rumah korban. Untung saja, tindakan anarkis tersebut berhasil dicegah.

“Warga beranggapan HIV bisa menular melalui benda yang pernah disentuh penderita. Karenanya mereka berusaha membakar rumah dan barang-barang yang ditinggalkan, “ujar Asrofi, salah seorang perangkat Desa Besole kepada wartawan, Jumat (9/9/2011)

Informasi yang dihimpun, korban baru saja pulang pada akhir Juli 2011 lalu. Sebelumnya yang bersangkutan bekerja di Kalimantan. Karena mengeluh sakit kepala, oleh keluarganya korban dirawat ke puskesmas terdekat. Oleh puskesmas di rujuk ke RSUD dr Iskak Tulungagung.

Dia menjalani rawat inap di sana dengan diagnosa menderita typus. Pada hari keempat opname, pihak keluarga membawanya pulang dengan alasan kekurangan biaya. Sesampai di rumah, kondisinya tidak kunjung membaik, bahkan semakin parah.

Sabtu 27 Agustus 2011, korban yang masih berusia 30 tahun itu meninggal dunia. Kabarpun menyebar jika penyebab meninggalnya korban karena penyakit HIV/AIDS.

“Kami tidak tahu siapa yang menyebarkan kabar HIV/AIDS ini, “terang Asrofi.

Diduga ada oknum petugas kesehatan yang sengaja membocorkan riwayat sesungguhnya penyakit korban. Saking takutnya warga untuk mendekat jenazah korban sempat terlantar. Karena sampai siang tak ada yang berani pihak perangkat desa kemudian mengambil keputusan mendatangkan petugas RSUD dr Iskak.

Oleh petugas jenazah di bawa ke rumah sakit dan dimandikan di sana. Untuk permintaan bantuan ini, pihak desa harus membayar sebesar Rp1,73 juta. “Karena memang tidak ada yang berani mendekat. Keluarganya juga tidak berani, “paparnya.

Hingga saat ini suasana di desa masih mencekam. Warga masih merasa resah takut terjangkiti penyakit hingga kini belum ada obatnya tersebut.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung Chidmadiyanto membenarkan telah terjadi peristiwa tersebut. Pihaknya juga sudah menerima laporan.

Menurut dia, jika memang ada oknum petugas yang sengaja membocorkan informasi pasien, pihaknya siap menjatuhkan sanksi. “Sebab etikanya tidak boleh demikian, “ujarnya.

Kasi Pengendalian Penyakit Menular Didik Eka menambahkan, pihaknya akan segera melakukan penyuluhan. Sejauh ini pihaknya belum menemukan indikasi keterlibatan petugas medis yang membocorkan informasi ke tengah masyarakat. “Kami nilai itu semua bermula dari sikap keluarga korban yang melarang warga mendekat. Hal itu yang mendorong masyarakat menyimpulkan korban menderita HIV/AIDS, “ujarnya.
(Solichan Arif/Koran SI/ugo)

Source: okezone.com | Jum'at, 9 September 2011
Sabtu, 10 September 2011 | 0 komentar

Wirausahawan, Terbanyak HIV/AIDS

Jumat, 17 Juni 2011 | 11.12.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Temuan mengejutkan diungkapkan Kabid PMKes Dinkes Tulungagung Triswati. Pengidap HIV/AIDS terbanyak ternyata bukan pekerja seks, melainkan wirausahawan. Data tersebut mengungkapkan bahwa 106 pemilik usaha terinfeksi virus mematikan itu. Posisi kedua baru penjaja seks (88 orang). Ibu rumah tangga berada di urutan ketiga dengan 71 orang.

Hal ini terlihat dari data penderita HIV/AIDS Dinas Kesehatan (Dinkes) Tulungagung berdasar profesi pada 2006-2011. Ada beberapa kemungkinan mereka terkena virus tersebut. Misalnya, tertular saat menjajakan seks, terkena suntikan jarum, dan transfusi darah.

”Fenomena HIV/AIDS tidak hanya terjadi pada penjaja seks. Ada beberapa profesi yang mengidap HIV, bahkan yang belum terdeteksi,” katanya.

Dari data itu juga diketahui bahwa tiga PNS mengidap virus HIV/AIDS. Selain itu, tiga siswa/mahasiswa tertular virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia tersebut.

Angka ODHA sendiri meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2006 terdapat 35 penderita, 2007 menjadi 42 penderita. Pada tahun berikutnya, 2008, jumlahnya bertambah menjadi 62 penderita, 2009 sebanyak 96 penderita, 2010 sebanyak 103. Kemudian, per 8 Juni 2011 jumlahnya mencapai 57. Bahkan, dalam bulan ini sudah ada 19 penderita baru.

Dari 19 penderita pada Juni ini, terdiri atas perempuan penjaja seks 10 orang, wirausaha (1 orang), dan PNS (2 orang). Sedangkan enam orang masih menunggu data untuk diserahkan ke dinkes. Rata-rata mereka berada pada usia produktif, sekitar 21–45 tahun.

Pada 2006-2011 ODHA yang meninggal mencapai 128 orang. Pada bulan ini, ditemukan 1 ODHA meninggal. ”Baru dua minggu lalu, ada ODHA yang meninggal di RSUD dr Iskak,” katanya.

Triswati mengatakan, untuk mencegah HIV agar tidak semakin merajalela, dinkes sudah melakukan beberapa upaya. Misalnya, penapisan di lokalisasi, kondomisasi, program IMS, sosialisasi ke masyarakat melalui brosur, poster dan lain-lain. Juga dilakukan sosialisasi lewat media elektronik, dan VCT mobile. Selain itu, dilakukan pengobatan presumtif berkala melalui preventif IMS, PMTCT (preventition mother to child transmition), PITC (provider inisiated test and conseling). ”Sampai sekarang program tersebut masih berjalan dan terus digerakkan,” katanya. (jpnn)

Sumber: radarjogja.co.id
Jumat, 17 Juni 2011 | 0 komentar

Aktivis AIDS Tulungagung Gelar Malam Renungan

Kamis, 26 Mei 2011 | 01.17.00 | 0 komentar

Tulungagung - Puluhan aktivis peduli HIV/AIDS menggelar malam renungan di alun-alun Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Selasa (24/5) malam. Aksi digelar karena aktivis menilai pemerintah kurang serius menanggulangi kasus HIV/AIDS.

Massa berjalan kaki menuju pendopo Kabupaten Tulungagung menyerahkan replika bola keprihatinan terhadap masalah HIV/AIDS kepada Bupati Tulungagung. Bola itu merupakan simbol banyaknya permasalahan HIV/AIDS yang membutuhkan tindakan cepat dari pemerintah.

Usai menyerahkan bola keprihatinan, para aktivis melanjutkannya dengan aksi malam renungan AIDS Nusantara. Sepanjang perjalanan mengelilingi alun-alun, para aktivis juga membawa payung warna-warni sambil menggelindingkan replika bola AIDS.

Payung menyimbolkan banyaknya masyarakat yang terinfeksi HIV/AIDS. Dalam renungan malam itu, mereka mengajak masyarakat menumbuhkan semangat hidup bagi penderita HIV/AIDS.

Sekadar informasi, hingga April 2011, kasus HIV/AIDS di Tulungagung tercatat sebanyak 341 kasus. Dari kasus tersebut, 115 orang meninggal.(RAS)

Sumber: metrotvnews.com
Kamis, 26 Mei 2011 | 0 komentar

Repotnya Persalinan Perempuan Itu...

Kamis, 14 April 2011 | 22.24.00 | 0 komentar

Pertemuan kami dengan ibu muda berusia 26 tahun ini berlangsung seperti kencan buta. Terjadi sebelum ia menjalani persalinan yang berisiko. Harap maklum, dalam konteks kesehatan masyarakat, ia tergolong ODHA alias orang dengan HIV/AIDS.

Dia enggan menyebutkan alamatnya, termasuk kepada Zainur Rahman, petugas konseling. Zainur adalah Manajer Kasus Klinik VCT (Voluntary Consulting and Testing, pemeriksaan dan konsultasi sukarela) ”Seruni” di bawah Rumah Sakit Umum Daerah dr Iskak, Tulungagung, Jawa Timur.

Waktu itu, menjelang persalinannya, ia ditemani suaminya. Beberapa hari kemudian, akhirnya persalinan itu terjadi pada awal April 2011 di RSUD dr Iskak. Bayinya laki-laki berbobot 3,4 kilogram.

Pasca-melahirkan, timbul rentetan masalah. Pertama, dokter yang menolong persalinan melarang pemberian air susu ibu (ASI) buat si bayi demi mencegah penularan HIV/AIDS.

Masalah kedua, sang suami yang belakangan baru tahu istrinya mengidap HIV/AIDS kecewa dan berniat meninggalkannya.

”Sebelum persalinan, suaminya hanya mengetahui kehamilan istrinya bermasalah sehingga harus menjalani konsultasi untuk mendapat prosedur persalinan dengan sectio caesar (bedah caesar). Baru saat ini suami tahu, ada HIV/AIDS. Suami mana pun tentu amat berat mendapati kenyataan seperti ini,” kisah Zainur.

Inilah sisi lain dari dinamika sosial di Tulungagung, daerah berpenduduk 1 juta jiwa ini yang dihidupi antara lain oleh ”ekspor” tenaga kerja wanita (TKW).

Asosiasi Pengerah Jasa Tenaga Kerja Indonesia mencatat, sekitar 1.000 perempuan dalam sebulan diberangkatkan ke luar negeri. Namun, hanya sepertiga di antaranya yang legal.

Dulu Tulungagung dikenal sebagai salah satu sentra industri rokok keretek, seperti daerah kota lain sepanjang lembah Brantas. Namun, industri rokok keretek sudah mati 10 tahun silam. Garmen yang sempat mencuat era 1990-an terlindas serbuan produk asal China.

Bisa jadi, fenomena TKW adalah pintu masuk HIV/AIDS di daerah ini. Masalahnya, penatalaksanaan penyakit ini, termasuk bagi para korban, harus berhadapan dengan pola sosial-budaya yang cenderung statis.

Akibatnya, menyandang status sebagai perempuan ODHA hamil seperti sebuah ketidakberdayaan yang komplet. Bagi sang pengidap, dalam realitas sudah cukup beruntung jika bisa kembali hidup ”normal” berumah tangga, dan mendapat suami yang mengayomi ekonominya. Alangkah fatalnya jika pasangan hidup, atau suaminya, mengetahui status ODHA. Bisa-bisa rumah tangga terancam bubar. Maka, masuk akal jika pernikahan dengan ODHA tidak diawali dengan keterusterangan sang perempuan akan status HIV-nya.

Si ibu hamil yang dikisahkan di awal tulisan ini bukanlah bekas TKW, melainkan bekas tenaga yang menemani tamu menyanyi di kafe. Di Temanggung, jumlah perempuan yang bekerja seperti ini mencapai sekitar 400. Karena desakan ekonomi, tak jarang mereka melayani ajakan kencan pengunjung kafe.

Menurut aktivis anti-HIV/ AIDS, Ifada Nurahmania, kampanye anti-HIV/AIDS sudah gencar dilakukan di kafe-kafe lagu. Ifada adalah pendiri dan pemimpin Pusat Studi Perempuan Tulungagung (Puspita) yang mengelola kampanye anti- HIV/AIDS di Tulungagung.

Bedah ”caesar”

Menurut protokol kesehatan, perempuan yang melahirkan dalam status pengidap HIV/AIDS harus melalui operasi bedah caesar. Tindakan medis itu bisa mengurangi risiko bayi tertular virus HIV saat ibunya mengalami pendarahan.

Namun, dalam suasana psikologi tertekan, seraya harus merahasiakan status HIV-nya, sulitlah bagi perempuan untuk meminta layanan caesar pada birokrasi puskesmas, rumah sakit, dan dinas kesehatan.

Sejauh ini, tercatat 13 persalinan ODHA di Tulungagung. Namun, hanya tiga di antaranya yang melewati caesar. Terungkap bahwa selama ini dokter punya cara untuk mengakali jadwal demi menghindarkan kewajiban caesar. Modusnya, dengan mengundurkan jadwal caesar sehingga si ibu sudah keburu melahirkan di rumah atau melalui jasa bidan. Cara itu bisa meniadakan operasi caesar yang berbiaya Rp 7 juta.

Menurut Zainur dan Ifada, tak ada pihak yang melindungi ODHA, apalagi ODHA hamil, kecuali relawan yang tenaga dan biayanya amat terbatas.

Berkat desakan terus-menerus dari lembaga nirlaba, akhirnya persalinan ODHA hamil di awal kisah ini berlangsung dengan caesar. Kepala Dinas Kesehatan Tulungagung dr Gatot D Purwanto menegaskan, secara normatif asal sudah terdaftar di puskesmas, ODHA hamil bisa mendapat layanan caesar.

Namun, dr Oni Dwi Irianto yang membantu persalinan itu menyatakan tak ada jaminan ODHA hamil lainnya otomatis menikmati layanan caesar.

Alangkah ”ribetnya ” persalinan bagi perempuan berstatus ODHA. (DODY WISNU PRIBADI)
Sumber: kompas.com
Kamis, 14 April 2011 | 0 komentar

Susahnya ODHA Hamil Dapat Jaminan Caesar

Senin, 11 April 2011 | 21.39.00 | 0 komentar

Tulungagung - Perlindungan terhadap ibu hamil pengidap HIV/AIDS kini masih menjadi masalah. Idealnya, ODHA hamil menjalani persalinan dengan bedah caesar (sectio caesar/SC) guna menekan risiko penularan HIV/AIDS. Tetapi karena faktor biaya dan stigma yang masih kuat, tidak semua ODHA hamil menjalani prosedur persalinan ini.

Persalinan seorang ibu hamil pengidap HIV-AIDS belum lama ini terjadi di Rumah Sakit Dr Iskak, kota Tulungagung Jawa Timur. Manajer kasus pada klinik VCT (voluntary consulting and testing ) Seruni Rumah Sakit Dr Iskak, Tulungagung, Zainur Rahman yang menangani perkembangan kehamilan ibu tersebut menyatakan, persalinan dengan SC akhirnya dapat dilaksanakan setelah semula sempat dicemaskan.

Zainur menjelaskan Minggu (10/4/2011) , identitas nama, lokasi, jadwal persalinan tak bisa diungkapkan, demi melindungi nama ibu ODHA yang melahirkan dan juga demi kebaikan si bayi dan masa depannya kelak.

Sejauh yang dapat dilakukan, metode persalinan caesar dapat mengurangi risiko penularan HIV/AIDS dari ibu kepada bayi. "Terhadap bayi baru nanti setelah usianya sekian tahun bisa dilaksanakan uji HIV/AIDS, apakah tertular atau tidak," katanya.

Aktivis perlindungan ODHA di Tulungagung, Ifada Nurahmania menjelaskan di Tulungagung, Selasa (30/3), sampai sekarang perlindungan terhadap ODHA hamil dan secara umum ODHA, menyangkut pemenuhan hak-hak asasinya masih merupakan masalah.

"Situasi stigmatik juga masih kuat, sehingga ODHA juga kian bersikap enggan untuk bekerjasama dengan kalangan medis dan perlindungan ODHA," katanya.

Semula sempat digelisahkan, apakah RS dr Iskak akan melakukan tindakan caesar atau tidak terhadap ibu hamil ODHA tersebut. Protokol medisnya menyatakan, seharusnya atau idealnya ODHA hamil melahirkan dengan SC, demi menghindari kerawanan penularan pada petugas persalinan dan bayi yang dilahirkan.

Namun ada sejumlah kasus, sebelum ini dengan alasan biaya, sejumlah ODHA melahirkan tanpa caesar, yang artinya membahayakan bayi terhadap kemungkinan penularan dari ibu.

Menurut catatan Ifada, sejauh ini sudah ada 12 kasus persalinan ODHA. Namun dari sejumlah itu, hanya dua di antaranya yang benar-benar bersalin melalui SC. Persalinan terakhir tersebut persalinan ketiga belas ODHA di Tulungagung, dan persalinan ketiga dengan caesar.

"Masalahnya, kondisi psikologi dan umumnya ekonomi ODHA juga dalam keadaan lemah. Sehingga tidak cukup memiliki usaha untuk meminta layanan caesar," kata Ifada menambahkan.

Zainur Rahman menyatakan, pihaknya sudah terus berusaha mengedukasi ODHA lainnya agar meminta SC, sebab Pemkab Tulungagung melalui Dinas Kesehatan seharusnya mendorong demikian karena telah ada alokasi anggaran untuk biaya SC itu, yang bisa mencapai antara Rp 7 juta hingga Rp 10 juta.

"Beban biaya ini yang seringkali mendorong petugas untuk enggan melakukan tindakan antisipatif serta pro aktif mengajak ODHA hamil ikut SC," katanya.

Meski demikian, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung dr Gatot D Purwanto yang dihubungi akhir bulan lalu menegaskan, sejauh ODHA hamil yang bersangkutan sudah melaporkan dan sudah masuk dalam sistem perawatan rumah sakit yang dirujuk, maka Dinas Kesehatan bisa membantu pembiayaannya. Di Klinik Seruni sendiri tercatat ada 200 ODHA di Tulungagung.

"Sudah ada dana Global Fund untuk membiayai persalinan ODHA hamil melalui SC, jadi seharusnya tak ada masalah," katanya.

Si ibu hamil berhasil dan bersedia ditemui Kompas di kediamannya di Tulungagung. Diperoleh informasi bahwa keluarganyapun tidak benar-benar memahami dan mengetahui kondisi yang bersangkutan sebagai pengidap HIV.

Keluarga hanya mengetahui dan disosialisasikan bahwa kehamilannya bermasalah sehingga perlu tindakan caesar.

"Situasi ini menimbulkan dilema bagi semua pihak yang terlibat, termasuk jika mengungkapkan informasi ini kepada keluarga inti ODHA yang bersangkutan, bahkan suaminya sekalipun," kata Zainur.

Dr Onni Dwi Arianto, dokter yang menolong persalinan ODHA hamil tersebut menyatakan, pihaknya tidak dapat menjamin apakah ODHA hamil berikutnya akan bisa menikmati fasilitas caesar.

ODHA tersebut kini sudah pulang dari rumah sakit dengan pesan dilarang menyusui anaknya, dan harus melaksanakan berbagai pemeriksaan selain juga meminum obat-obat anti virus. Belum diperoleh informasi, apakah ada ODHA hamil lainnya. Sumber: KOMPAS.com
Senin, 11 April 2011 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan