Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Polisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Polisi. Tampilkan semua postingan

Tahanan Kabur Tulungagung Terancam Tembak di Tempat

Kamis, 17 Desember 2015 | 02.46.00 | 1 komentar

Tulungagung - Aparat Kepolisian Resor Tulungagung, Jawa Timur memberlakukan status tembak di tempat bagi dua buron tahanan kasus pencurian sepeda motor yang kabur dari ruang tahanan mapolres, akhir November lalu.

"Kami sudah instruksikan kepada seluruh anggota untuk melakukan tembak di tempat, jika kedua buron tidak segera menyerahkan diri," kata Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Andria D Putra di Tulungagung, Rabu.

Andria mengatakan, untuk saat ini ada tiga tim yang diterjunkan guna melakukan pengejaran terhadap kedua pelaku.

Ketiga tim dimaksud diterjunkan di wilayah Blitar dan perbatasan antara Kabupaten Blitar dengan Kabupaten Malang.

"Ada tiga tim yang diterjunkan. Petugas siap melakukan tindakan tegas kalau perlu tembak ditempat," tegasnya.

Andria menjelaskan, petugas juga sudah melakukan pendekatan melalui keluarga kedua buron tahanan kabur, agar mereka bersikap kooperatif dan mau menyerahkan diri.

Namun, hingga hampir tiga pekan sejak pelarian, kedua buron atas nama Andik Triono (26) warga Desa Batuaji Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri dan Ony Supriandoko (31) warga Desa Bendogerit Kecamatan Sanan Wetan Kabupaten Blitar, belum ada tanda-tanda bakal menyerahkan diri ke polisi.

"Kami menduga keduanya dibantu orang lain untuk bersembunyi. Mereka sangat mungkin mempunyai banyak jaringan sehingga mempersulit pengejaran," ujarnya.

Kendati rumit, Andria mengisyaratkan saat ini petugas sudah mebgidentifikasi beberapa titik tempat yang diduga menjadi lokasi persembunyian mereka.

"Sekarang tinggal menunggu waktu untuk melakukan penggerebekan," ucapnya.

Insiden tahanan kabur dari ruang tahanan Mapolres Tulungagung terjadi pada Senin (30/12), sekitar pukul 03.00 WIB.

Ada empat tahanan yang saat itu dipastikan kabur dengan cara menjebol plafon ruang penjagaan yang ditinggal petugas.

Keempat tahanan itu diidentifikasi bernama Ony Supriandoko (31) dan Andik Triono (26), serta dua lainnya kasus pencabulan atas nama Rohmad Faizal (31) dan Rendy Pratama (21).

Dua nama yang disebut terakhir sudah berhasil ditangkap kembali, namun untuk dua pelaku kriminal pencurian sepeda motor sampai saat ini belum terendus keberadaannya, ataupun menyerahkan diri.

Aksi para tahanan saat kabur melalui plafon ruang penjagaan tersebut sempat terekam kamera "CCTV" (close circuit television) yang terpasang di ruang sudut-sudut lorong selasar tahanan maupun di depan ruang Satrekoba Polres Tulungagung.

Kamis, 17 Desember 2015 | 1 komentar

Biadab! Polisi Gadungan Setubuhi Gadis Bawah Umur

Rabu, 02 Desember 2015 | 18.54.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Riki Ardiansyah, warga Desa Sumberagung, Kecamatan Rejotangan, tampaknya, punya waktu lama untuk menyesali perbuatannya. Menyaru sebagai anggota Brigade Mobil (Brimob), laki-laki 24 tahun itu mencabuli gadis di bawah umur. Kemarin (1/12) dia divonis enam tahun oleh majelis hakim di Pengadilan Negeri Tulungagung. Hukuman tersebut tiga tahun lebih ringan dari tuntutan jaksa.

Terdakwa juga diharuskan membayar denda Rp 500 juta. Jika dia tidak membayar, hukuman bertambah tiga bulan. Hakim beranggapan bahwa terdakwa telah merusak masa depan korban. Tindakan terdakwa juga membuat nama baik keluarga tercoreng.

Sementara itu, terdakwa terlihat masih bingung dengan putusan hakim. ''Belum tahu Mas, banding atau tidak, lihat saja nanti,'' terang terdakwa ketika dikonfirmasi sebelum masuk ke sel ruang tunggu.

Riki Ardiansyah ditangkap anggota Buru Sergap (Buser) Tulungagung karena menyaru sebagai anggota Brimob pada Sabtu (1/8). Dia dilaporkan telah menyetubuhi gadis di bawah umur dengan inisial NL, 17, warga Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar.

Dalam kurun waktu dua bulan perkenalan, pelaku menyetubuhi korban 10 kali di rumah nenek pelaku di Desa Buntaran, Kecamatan Rejotangan. Modus pelaku adalah mengaku sebagai anggota Brimob agar bisa menaklukkan hati NL sehingga bisa disetubuhi. (din/ris/c17/any)

Sumber: jpnn.com
Rabu, 02 Desember 2015 | 0 komentar

Seorang Tahanan Dibekuk saat Akan Kabur ke Jakarta

TULUNGAGUNG - Rendy Pratama Bustomi (19), satu dari empat orang tahanan kabur asal Desa Ketanon, Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung berhasil ditangkap.

Rendy dibekuk di jalan raya wilayah Desa/Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar. Saat diringkus tersangka kasus persetubuhan anak di bawah umur itu hendak kabur ke Jakarta.

"Pelaku ditangkap di pinggir jalan sekira pukul 13.30 WIB," ujar Kasubag Humas Polres Tulungagung, AKP Saeroji kepada wartawan, Selasa (1/12/2015).

Rendy bersama tiga orang tahanan Mapolres Tulungagung berhasil kabur dengan membobol plafon ruang tahanan Senin 30 November 2015.

Rendy, Andik Triono (26), warga Desa Batuaji, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri, Ony Supriandoko (31) warga Desa Bendogerit, Kecamatan Sanan Wetan, Kabupaten Blitar, dan Rohmad Faisal (21), warga Desa/Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung berhasil memanfaatkan keteledoran empat orang petugas jaga.

Para penjaga diduga tidak berada di tempat saat keempat tersangka kasus curanmor dan asusila itu melancarkan aksinya. Menurut Saeroji, dari penangkapan Rendy petugas mengembangkan perburuan kepada tiga orang buronan lainya.

Polisi telah menyiapkan sanksi tambahan untuk keempat tahanan kabur. "Namun kita akan pastikan siapa otak dari rencana kabur itu," ujar Saeroji.

Sementara untuk empat penjaga yang dinilai lalai menjalankan prosedur jaga masih menunggu hasil penyidikan petugas propam.

Kapolres Tulungagung AKBP FX Birawa Braja Paksa sebelumnya mensinyalir adanya prosedur penjagaan (SOP) yang telah dilanggar. Selain meninggalkan tugas, penjaga memberi kelonggaran para tahanan leluasa tidak menempati ruang selnya.

Keempat buronan dan tahanan lain bebas di ruangan tempat petugas berjaga. Selain empat petugas penjaga, propam juga memeriksa seorang perwira penanggung jawab.

"Semuanya (petugas penjaga) kita serahkan pada propam. Tapi kalau mau saya dipecat saja," ujarnya.(Ari)

Sumber: okezone.com
| 1 komentar

Bobol Plafon, Empat Tahanan Polres Tulungagung Kabur

Selasa, 01 Desember 2015 | 20.18.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Empat tahanan kasus pencurian kendaraan bermotor (curanmor) dan pencabulan Polres Tulungagung kabur.

Kapolres Tulungagung AKBP FX Birawa Braja Paksa langsung mengerahkan anggota untuk memburu keempatnya. "Keempatnya kabur dengan memanfaatkan kelengahan petugas penjaga," ujar Birawa kepada wartawan Senin 30 November 2015.

Insiden kaburnya tahanan ini terjadi pada Senin (30/11/2015) pukul 03.00 WIB. Keempat buronan itu adalah Andik Triono (26) warga Desa Batuaji Kecamatan Ringinrejo Kabupaten Kediri, Ony Supriandoko (31) warga Desa Bendogerit Kecamatan Sanan Wetan, Kabupaten Blitar.

Kemudian Rohmad Faisal (21) warga Desa/Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung dan Rendy Pratama Bustomi (19) warga Desa Ketanon Kecamatan Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung.

Andik dan Ony tersangka kasus pencurian sepeda motor. Sedangkan Rohmad dan Rendy terjerat kasus persetubuhan anak dibawah umur.

Mereka membobol plafon ruang tahanan. Aksi mereka sempat terekam kamera CCTV yang terpasang di sudut ruangan.

Birawa mengakui ada unsur keteledoran anak buahnya. Hasil penyelidikan sementara keempat pelaku tidak berada di dalam kamar selnya. Mereka berada di ruangan yang menjadi satu dengan ruang televisi dan tempat jaga petugas.

Lokasi ini berupa lorong yang disekat dengan pintu besi setinggi 2,5 meter dengan lebar 1,25 meter. Kendati masih satu komplek dengan tahanan, kelonggaran yang diberikan empat penjaga piket ditengarai menyalahi prosedur penjagaan (SOP).

Ada dugaan unsur kesengajaan, Apalagi saat insiden terjadi keempat penjaga diduga meninggalkan tugas.

"Sepertinya ada prosedur yang dilanggar. Kita serahkan masalah ini ke propam. Tapi kalau mau saya dipecat saja," tegas Birawa.

Tidak hanya keempat petugas piket. Propam juga memeriksa petugas lain yang malam itu berada di Polres. Termasuk juga seorang perwira yang dianggap sebagai penanggung jawab penjagaan.

Informasi yang dihimpun, beberapa tahanan lain juga dimintai keterangan. Total ada sebanyak 50 orang tahanan (termasuk empat buronan) yang menghuni tahanan polres Tulungagung.

Sebagian besar berada di dalam empat unit sel berukuran 3X2,5 meter. Idealnya setiap sel diisi maksimal lima orang. Beberapa tahanan yang ikut diperiksa diduga mengetahui detik-detik pelarian para buronan.

Selain memperketat penjagaan, Polres Tulungagung mengerahkan jajaran Intelijen keamanan, Satreskrim, dan Satnarkoba untuk melakukan perburuan tanpa batas waktu.

Birawa menegaskan bahwa jika terbukti membantu pelarian keempat petugas terancam pidana dan pemecatan. "Peristiwa ini telah mencoreng institusi kepolisian," tegasnya.

Imam Ma’ruf salah seorang aktivis pemuda Tulungagung menilai penjagaan para tahanan di Polres Tulungagung terkesan longgar. Para penjaga diduga sengaja memberi perlakuan beda kepada tahanan yang dinilai dekat secara emosional.

"Tak ubahnya para tahanan di lembaga pemasyarakatan. Ada istilah tamping untuk tahanan yang sudah dipercaya petugas atau sipir tahanan. Seharusnya hal hal seperti ini dihapuskan saja," pungkasnya.(nag)

Selasa, 01 Desember 2015 | 0 komentar

Bolos Sekolah, Sepasang Pelajar Mesum di Bioskop

Kamis, 29 Januari 2015 | 01.43.00 | 1 komentar

TULUNGAGUNG - Petugas kepolisian menangkap sepasang pelajar yang diduga sedang berbuat mesum di dalam ruangan persewaan film di Jalan Hasanudin Tulungagung. Dari kedua pelajar itu petugas menemukan tiga bungkus kondom yang sudah digunakan untuk berhubungan intim.

Kedua pelajar yang ditangkap tersebut berinisial EL (17), siswi SMK kelas I di Boyonglangu; dan AS (18), siswa SMA swasta di Tulungagung. Keduanya ditangkap saat melakukan perbuatan mesum. Read More
Sumber: okezone.com | 28 Januari 2015
Kamis, 29 Januari 2015 | 1 komentar

Polres Tulungagung Wajibkan Anggota Kenakan Peci

Tulungagung - Kepolisian Resor Tulungagung, Jawa Timur mewajibkan seluruh anggotanya yang beragama Islam mengenakan peci, khusus pada hari Jumat.

Wacana itu muncul dalam dialog silaturahmi ulama dan umaro se-Tulungagung yang digelar di Hotel Crown Victoria, Tulungagung, Senin pagi.

"Usulan ini baik, dan akan segera kami tindak lanjuti dalam waktu dekat," kata Kapolres Tulungagung, AKBP Bastoni Purnama.Read More

Menurut Bastoni, dengan mengenakan peci setiap hari Jumat, bisa membuat image polisi menjadi lebih humanis dan agamis.

Tidak hanya itu, kata Bastoni, pengenaan peci bagi polisi muslim bisa membantu mengubah kesan polisi yang "keras" menjadi lebih halus.

"Jadi fungsi polisi sebagai pengayom masyarakat bisa lebih terasa," tuturnya.

Khusus untuk Polwan, lanjut dia, pihaknya belum bisa mewajibkan untuk mengenakan jilbab.

Hal ini dikarenakan penggunaan jilbab bagi polwan masih berlaku di kawasan Nangroe Aceh Darussalam (NAD).

"Untuk peci sepertinya masih bisa karena hari Jumat polisi diperkenankan mengenakan batik," imbuhnya.

Terkait pelaksanaan teknisnya, Bastoni akan melakukan konsultasi dengan Polda Jatim maupun Polri sebagai organisasi induk.

Hal ini dikarenakan seragam dinas polisi sudah diatur termasuk atributnya.

"Apakah semua polisi yang berdinas atau hanya staff saja yang akan mengenakan peci akan kami konsultasikan terlebih dahulu," pungkasnya.
Sumber: antarajatim.com | Senin, 26 Januari 2015
| 0 komentar

Tambang Ilegal di Tulungagung Ditutup

Senin, 29 September 2014 | 23.52.00 | 0 komentar

Lantaran tidak memiliki izin eksploitasi, tambang marmer ilegal yang beroperasi di Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur, ditutup paksa oleh Satreskrim Polres Tulungagung.

Tambang liar milik PT Mulia Marmer Indonesia ditutup oleh polisi karena surat izin yang dimiliki tak sesuai dengan izin penambangan. Tambang liar milik PT Mulia Marmer Indonesia ini telah melakukan pengajuan izin ke pemerintah daerah Tulungagung untuk melakukan eksplorasi, namun semenjak tahun 2012 silam PT Mulia Marmer Indonesia telah melakukan eksploitasi besar-besaran di gunung marmer ini. Read More

Sumber: Sindo TV | Senin, 29 September 2014
Senin, 29 September 2014 | 0 komentar

Polantas Tulungagung Tangkap Kurir Narkoba saat Razia

Kamis, 18 September 2014 | 01.01.00 | 0 komentar

Tulungagung - Satuan Polisi Lalu-lintas Polres Tulungagung, Jawa Timur, menangkap seorang pemuda yang diduga kurir narkoba saat menggelar razia kendaraan bermotor di salah satu jalan protokol kota setempat, Rabu.

"Petugas kami melakukan penggeledahan terhadap pelaku karena gerak-geriknya saat terjaring razia mencurigakan," kata Kasat Lantas Polres Tulungagung, AKP Rini Pamungkas. Read More

Sumber: antarajatim.com | 17 Sept 2014
Kamis, 18 September 2014 | 0 komentar

Polisi Sita Ratusan Botol Minuman Keras di Tulungagung

Sabtu, 31 Mei 2014 | 02.28.00 | 1 komentar

Tulungagung - Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tulungagung, Jawa Timur menyita lebih dari dua ratus botol minuman keras berbagai merek, diduga sebagian merupakan produk palsu hasil oplosan.

Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP Lahuri, Jumat, belum bersedia menyimpulkan hasil pemeriksaan sementara yang telah dilakukan tim penyidik anggotanya. Read More
Sumber: Antara Jatim | 30 Mei 2014
Sabtu, 31 Mei 2014 | 1 komentar

Polisi Gagalkan Peredaran Jamu Ilegal di Tulungagung

Selasa, 04 Februari 2014 | 19.16.00 | 1 komentar

Tulungagung - Satuan Reserse Narkoba Polres Tulungagung, Jawa Timur, menggagalkan peredaran ratusan botol jamu diduga ilegal merek "Angger Waras" di wilayah tersebut, dan diangkut dari pabriknya di wilayah Sidoarjo, Minggu (2/2) petang.

Kasubbag Humas Polres Tulungagung AKP Dwi Hartaya, Senin, mengatakan peredaran jamu yang diduga tidak memiliki izin edar dari Kemenkes RI itu terbongkar setelah polisi mengidentifikasi keberadaan mobil Mitsubushi Exstrada nopol W 99 ON asal Sidoarjo yang dikendarai Suprayitno. Read More



Sumber: Antara Jatim | 03 Peb 2014
Selasa, 04 Februari 2014 | 1 komentar

Terima tombokan togel, PNS dibui

Selasa, 24 Desember 2013 | 01.03.00 | 2 komentar

Tulungagung - Muji (45) mengaku hanya mendapat keuntungan seribu perak dari uang penombok yang dititipkan kepadanya.


Namun aparat telah menjadikan PNS staf Disparbudpora Kabupaten Tulungagung asal Desa Ngrendeng, Kecamatan Gondang tersebut sebagai target operasi.

Muji ditangkap di sebuah warung kopi. Polisi menggeledah dan menyita bukti perjudian toto gelap (togel) yang dimilikinya.

"Setelah dilakukan pemeriksaan yang bersangkutan langsung diamankan, "ujar Kasatreskrim Polres Tulungagung Ajun Komisaris Polisi Lahuri kepada wartawan, Senin (23/12/2013).

Hobi berjudi togel itu sudah lama dilakukan. Meski telah berstatus sebagai PNS sejak tahun 1992, kegemaran bertaruh itu tak juga berhenti.

Selain bertaruh untuk dirinya sendiri, kata Lahuri, yang bersangkutan juga menyediakan diri menjadi perantara penombok yang lain.

Penyelidikan berawal dari terungkapnya pelaku judi togel yang mengarah kepada pelaku.

"Saat kita geledah dan cek kotak pesan ponselnya, terbukti ada komunikasi untuk taruhan," terangnya.

Sementara di depan penyidik Muji mengakui semua perbuatanya. Namun ia membantah disamakan dengan pengepul. Sebab dirinya hanya menerima titipan petaruh lain.

"Untuk nilai tombokan Rp10 ribu misalnya, saya mendapat uang "terima kasih" sebesar seribu perak," ujarnya kepada petugas.

Dalam kasus ini yang bersangkutan akan dijerat pasal 303 KUHP dengan ancaman hukuman maksimal 5 tahun penjara.


(lns)

Sumber: Sindonews.com | Senin, 23 Desember 2013
Selasa, 24 Desember 2013 | 2 komentar

7 siswa SD dilaporkan cabuli teman sekelasnya

Selasa, 10 Desember 2013 | 01.46.00 | 0 komentar

Tulungagung - Tujuh siswa Sekolah Dasar Negeri wilayah Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, dilaporkan telah melakukan perbuatan asusila terhadap Bunga (nama samaran), teman sekelasnya.

Saat ini pihak Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Tulungagung tengah melakukan visum medis terhadap pelapor yang diketahui berusia 12 tahun.

"Kita juga meminta keterangan kepada sejumlah saksi," ujar Kasubag Humas Polres Tulungagung, Ajun Komisaris Polisi Dwi Hartaya, kepada wartawan, Senin (9/12/2013).

Dari data yang dihimpun, peristiwa asusila tersebut terjadi pada Rabu (20/11) lalu, di dalam ruang kelas tempat pelapor dan terlapor belajar.

Bunga digerayangi kehormatannya secara bergantian oleh tujuh temannya itu. Tidak diketahui pasti apakah yang bersangkutan mencoba melawan, atau memilih diam karena di bawah ancaman. Belum diketahui pasti juga apakah saat pencabulan berlangsung terdapat pelajar yang lain.

Yang bisa dipastikan, saat perbuatan tidak senonoh dijalankan, pengajar (guru) tidak berada di dalam kelas. "Terlapor datang ke mapolres didampingi keluarganya," jelas Hartaya.

Peristiwa amoral tersebut terungkap secara tidak sengaja melalui pesan singkat (SMS) keluarga pelapor. Dikatakan bahwa Bunga telah dicabuli teman-temannya. Dan ketika diinterogasi, Bunga tidak membenarkan.

Menurut Hartaya, dalam waktu dekat pihaknya akan memanggil tujuh orang terlapor. Lantaran yang bersangkutan berstatus pelajar, polisi akan meminta bantuan dinas pendidikan setempat untuk menyelesaikan kasus ini.

"Karena semuanya berstatus pelajar, kita berhati hati menangani kasus ini, "pungkasnya.

Sementara itu pihak dinas pendidikan setempat belum bisa dikonfirmasi.(rsa)

Sumber: Sindonews.com | Senin, 9 Desember 2013
Selasa, 10 Desember 2013 | 0 komentar

Tujuh Pelajar SD di Tulungagung Cabuli Siswi Sekelas

Tulungagung - Tujuh pelajar kelas VI salah satu SD negeri di Desa Kromasan, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, diduga telah mencabuli seorang siswi teman sekelas mereka sendiri di dalam ruang kelas, usai jam pelajaran sekolah.

Tindak asusila yang dilakukan beramai-ramai oleh anak-anak di bawah umur tersebut terungkap setelah korban berinisial Rk (12), didampingi kakaknya, melaporkan kejadian tersebut ke Kepolisian Tulungagung, Senin.

"Kasus ini sedang kami selidiki. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) sudah mengumpulkan beberapa barang bukti serta hasil visum korban," terang Kasubbag Humas Polres Tulungagung, AKP Dwi Hartaya.

Belum ada satupun pelaku pencabulan ditangkap. Polisi melalui unit PPA berencana segera melayangkan surat pemeriksaan kepada orang tua masing-masing siswa pelaku pencabulan serta pihak sekolah.

Namun Dwi belum menjelaskan teknis pemeriksaan dimaksud, apakah dilakukan di rumah masing-masing siswa atau di tempat lain non-kantor kepolisian, mengingat para pihak terlapor masih di bawah umur.

"Sementara ini kami telah memeriksa beberapa saksi terkait kasus ini dan secepatnya memeriksa ketujuh terlapor yang umurnya masih anak-anak tersebut. Teknisnya menyesuaikan dengan kebutuhan serta ketentuan yang berlaku," ujarnya.

Informasi dari sumber kepolisian, korban Rk datang ke Polres Tulungagung didampingi kakak kandungnya, Agus Rudiyanto.

Peristiwa pencabulan terjadi pada Rabu (20/11) di ruang kelas VI, usai jam pelajaran sekolah.

Saat itu, korban Rk mengaku sempat mendapat perlakuan tidak senonoh dari rekan-rekannya tersebut.

Kasus penistaan itu awalnya tidak diketahui siapapun, termasuk keluarga Rk, hingga akhirnya salah seorang saudaranya menerima pesan singkat (sms) dari seorang rekannya yang menyebut siswi kelas VI SD tersebut mengalami trauma lantaran dicabuli tujuh teman kelasnya secara beramai-ramai di dalam kelas.

Dari informasi pesan singkat itulah, pihak keluarga mengklarifikasi pada Rk mengenai kronoilogi Dengan adanya kejadian tersebut akhirnya kakak korban beserta korban melaporkan kejadian ini ke Polisi.
"Secepatnya kami akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan dinas pendidikan untuk menindaklanjuti kasus ini," tandas Dwi Hartaya. (Ant)

Sumber: Antara JAtim | 09 Des 2013
| 0 komentar

Polisi Gadungan Bawa Kabur Sepeda Motor Irma di Alun-alun Tulungagung

Minggu, 17 November 2013 | 00.55.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Seorang polisi gadungan di Tulungagung, berhasil menipu dan membawa kabur satu unit sepeda motor yang dikendarai Ilma Ayu Lestari (17).

Warga Desa/Kecamatan Boyolangu yang melapor ke Polres Tulungagung itu mengatakan, motornya dibawa kabur polisi gadungan di Alun-alun, Rabu (13/11/2013).

"Dia terlebih duluh mendatangi saya, dan mengajak berkenalan. Dia mengaku bernama Andik dan usianya 27 tahun," terang Ilma dalam laporannya ke polisi.

Perkenalan itu, berlanjut pada perbincangan lama di sudut Alun-alun. Saat itu, Ilma membawa sepeda motor Honda Vario AG 2464 QO milik orangtuanya. Setelah lama berbincang, Andik beralasan ingin menemui temannya di Polres Tulungagung.

Menurut Ilma, Andik mengaku tak membawa sepeda motor dari Surabaya. Padahal, ada keperluan penting meski sebentar di Polres Tulungagung. Andik lantas meminjam motor Honda Vario dan Ilma percaya begitu saja.

Bukan tanpa alasan kuat Irma memercayai Andik. Pasalnya, markas polisi itu berjarak tempuh kira-kira hanya 5 menit dari Alun-alun.

Seusai menyerahkan kunci motornya, Ilma menunggu di tempat duduknya. Ia berharap Andik kembali, tetapi sampai sejam kemudian tak juga datang. Ilma lantas resah, sehingga mengabarkan kepada orangtuanya ihwal kehadian tersebut. Setelah merasa yakin tertipu, Ilma melapor ke kantor polisi.

"Saya yakin itu bukan polisi, dia hanya penipu yang mengaku polisi," kata Kapolres Ajun Komisaris Besar Whisnu Hermawan Februanto.

Polisi berjanji memburu pemuda berambut cepak yang membuat Ilma rugi belasan juta rupiah itu. "Hati-hati menghadapi orang yang baru kenal," pesannya.

Sumber: TRIBUNNEWS.COM | Kamis, 14 November 2013
Minggu, 17 November 2013 | 0 komentar

Polisi Investigasi Peredaran Foto Biduan Dangdut Tulungagung

Minggu, 10 November 2013 | 00.30.00 | 1 komentar

Tulungagung - Polisi mulai menginvestigasi kasus peredaran foto-foto seronok (porno) seorang biduan dangdut asal Tulungagung, Jawa Timur, di media jejaring sosial facebook dengan nama akun ASIKK, selama dua hari terakhir.

Kapolres Tulungagung, AKBP Whisnu Hermawan Februanto, Sabtu memastikan, pihaknya telah berkoordinasi dengan ahli IT Polda Jatim untuk menyelidiki lokasi pertama foto tersebut diunggah serta mengidentifikasi pelaku penyebaran.

Belum ada satupun tersangka dalam kasus pornografi tersebut. Namun Whisnu menegaskan kasus tersebut akan diusut tuntas, dimulai dengan memeriksa saksi korban RD yang diketahui beralamat di Desa Padangan, Kecamatan Ngantru, Tulungagung.

"Kasus ini masih diselidiki. Fokus polisi pada siapa yang mengunggah foto-foto porno tersebut, karena secara logika tidak mungkin pemeran sendiri yang mengunggahnya (di galeri facebook)," kata Whisnu Hermawan Februanto.

Selain foto-foto pada galeri foto juga terpampang berbagai dokumen gambar kegiatan Ratna Dewi saat menyanyi di atas panggung ataupun aktivitas lain di luar pekerjaannya sebagai biduan dangdut.

"Pada tampilan gambar pertama galeri foto tersebut, ada terpampang KTP korban yang sepertinya sengaja dipotret dan diunggah pelaku sehingga memudahkan siapa saja yang membuka akun tersebut mengetahui identitas RD dengan jelas," kata Fendi Herlambang, salah seorang facebooker Tulungagung.

Sumber: Antara Jatim | 09 Nov 2013
Minggu, 10 November 2013 | 1 komentar

KERUSUHAN PESILAT DI TULUNGAGUNG - NU Ragukan Keseriusan Polisi

Sabtu, 09 November 2013 | 03.49.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG – Keseriusan aparat kepolisian Tulungagung mengusut kasus perusakan disertai penganiayaan yang melibatkan sejumlah anggota perguruan silat diragukan oleh Ormas Nahdlatul Ulama (NU).

Sebab, dalam menyelesaikan kasus serupa sebelumnya, polisi dinilai tidak pernah tuntas. Sebagai bukti kesungguhan, Ketua Tanfidziah PCNU KabupatenTulungagungHakimMustofa mendesak Polres Tulungagung mengungkap kembali kasus kekerasan yang terjadi sebelumnya.” Sebab, yang terjadi sebelumnya juga belum tuntas. Karenanya, polisi harus menunjukkan sikap tegas. Dalam hal ini masyarakat mengharapkan terciptanya rasa aman dan nyaman,” ungkapnya kepada wartawan.

Sekadar mengingatkan, bentrokan yang terjadi antara pesilat dengan warga Selasa (5/11), pernah terjadi pada tahun 2012 lalu. Sejumlah orang yang berasal dari Perguruan Silat Setia Hati Teratai (PSHT) melukai dua orang anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Tulungagung. Tidak hanya itu, pelaku juga merusak papan nama Kantor Ranting NU Kecamatan Gondang. Ulah pelaku sempat membuat warga Nahdliyin di Jawa Timur marah.

Selain sempat muncul gejala main hakim oleh badan otonom (banom) dengan merazia perguruan silat, PWNU Jawa Timur juga membentuk tim investigasi kasus. Polisi menjawab reaksi massa NU dengan menangkap beberapa orang yang diidentifikasi sebagai pelaku. Namun, otak intelektual di balik aksi perusakan papan nama Kantor Ranting NU Gondang hingga kini masih belum tertangkap. Menurut Mustofa, NU menilai sangat perlu kasus lama dibuka kembali. Sebab, itu menjadi parameter keseriusan termasuk komitmen aparat kepolisian memberikan tindakan tegas pada pelaku anarkis yang berasal dari perguruan silat.

”Jika tidak ada tindakan tegas, kasus serupa bisa dengan mudah terulang,” ujarnya. Sementara diketahui, belum tuntas kasus lama, kerusuhan yang melibatkan para pendekar silat kembali terjadi di Desa/Kecamatan Bandung. Tidak hanya melukai dua orang warga, para pelaku yang mengenakan seragam dan atribut perguruan silat juga merusak belasan rumah warga, termasuk berani menyerang mobil patroli polisi. Kapolres Tulungagung AKBP Wisnu Hermawan Februanto menegaskan, kasus penganiayaan dua orang anggota banser dan perusakan papan nama Kantor Ranting NU Gondang masih terus berjalan.

”Kasus tersebut hingga kini masih terus berjalan. Tidak ada yang berhenti,” ucapnya. Dalam kasus itu, polisi telah menetapkan lima orang sebagai tersangka. Dua orang telah ditangkap, dan tiga lainnya termasuk otak intelektual masih dalam pengejaran. ”Mereka telah ditetapkan sebagai DPO, dan informasinya ketiganya melarikan diri ke wilayah Kalimantan Barat,” ujarnya.

Wisnu juga membenarkan bahwa sayembara berhadiah uang tunai Rp 10 juta bagi siapa saja yang berhasil meringkus pelaku pembacok banser dan perusakan Kantor NU masih berlaku. ”Siapa pun yang berhasil menangkap pelaku, akan mendapat hadiah dari polres,” tandasnya. solichan arif

Sumber: koran-sindo.com | Jumat 08 November 2013
Sabtu, 09 November 2013 | 0 komentar

5 Pesilat Masih Buron

TULUNGAGUNG – Polisi Tulungagung meringkus 1 penganiaya pesilat berinisial L terkait penyerangan 18 rumah penduduk di Dusun Centong dan Dusun Genengan, Desa/Kecamatan Bandung, Jumat (8/11/2013).

Polisi juga masih memburu 5 penganiaya lain berinisial U, D, K, K, L yang semuanya warga Desa/Kecamatan Besuki. Penyerangan Selasa (15/11/2013) dini hari lalu, bukan hanya diwarnai penganiayaan tetapi juga perusakan terhadap sedikitnya 18 rumah penduduk. Massa pesilat bahkan merusak motor dan mobil polisi.

Seorang perusak mobil polisi berinisial P sudah ditahan sedangkan ratusan perusak rumah penduduk, baru dua orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Keduanya berinisial F dan T, warga Desa/Kecamatan Besuki.

Penangkapan ini berkat penyisiran ketat di titik-titik rawan konflik di wilayah Dusun Centong dan Genengan. Situasi yang semula mencekam, kini berangsur-angsur normal namun polisi tetap rutin berpatroli di wilayah dusun itu.

“Sebagian anggota Polres dan Polda Jatim kami tarik tetapi patroli tetap kami lakukan," ujar Kapolres AKBP Whisnu Hermawan Februanto.

Seperti diberitakan, kebrutalan para pesilat berseragam serba hitam itu bermula dari Suran Agung, acara tahunan perguruan silat yang dihadiri ratusan anggotanya. Usai acara, mereka berkonvoi dan dikawal belasan polisi.


Sumber: SURYA Online | Jumat, 8 November 2013
| 0 komentar

Perwira Polisi Ini Digerebek Istri Sendiri

Rabu, 17 Juli 2013 | 04.39.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Kepala Bagian Operasional Polres Tulungagung Kompol Subagio digerebek istrinya, Siti Nur Fatimah dan anak perempuannya, saat berada Diyah Salon, Desa Kepuh, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, Senin (15/7/2013) dini hari.

Menurut Rojali (bukan nama sebenarnya, tetangga Diyah Salon), pemilik salon itu bernama Badriyah. Kejadiannya sekitar pukul 01.00 WIB. Saat itu, Rojali mendengar suara kaca Diyah Salon pecah dan juga suara orang berteriak-teriak.

Rojali lantas keluar rumah dan melihat seorang perempuan bersama anaknya memaki-maki Badriyah. "Tetapi saat itu, Subagio memang sudah tidak ada di lokasi kejadian," katanya.

Rojali menyebutkan, selama ini Badrriyah diduga sebagai selingkuhan Subagio. Perwira polisi ini memang sering mengapeli Badriyah hingga larut malam namun warga sekitar tidak berani menegur karena tahu Subagio seorang petinggi Polres Tulungagung.

Menurut Rojali, hingga kini warga sekitar juga tidak ada yang berani ikut campur.

Senin dini hari itu, Rojali menduga, orang yang memecah kaca salon adalah anak perempuan Subagio. Rojali selama ini juga tahu, Subagio punya istri yang berprofesi sebagai bidan desa. "Bu Bidan dan anaknya yang malam itu mendatangi langsung rumah Badriyah," katanya.

Terpisah, Kepala Desa Kepuh, Slamet, membenarkan kejadian tersebut. Setelah mendengar laporan dari warganya, Slamet langsung ke rumah Badriyah tetapi saat itu Subagio sudah tidak ada.

Slamet mengakui, selama ini istri Subagio sebenarnya juga mengabdi di desanya sebagai bidan desa. "Saya sungkan karena istrinya bidan desa yang juga tinggal di rumah dinas desa, dekat Balai Desa Kepuh," katanya.

Sementara, Siti Nur Fatimah ketika ditelepon wartawan tidak bersedia berbicara lebih lanjut. "Sebentar, sebentar," katanya lantas mematikan sambunggan telepon selulernya.

Kepala Polres AKBP Whisnu Hermawan Februanto membenarkan kejadian tersebut. Kasus ini, katanya, sudah ditangani Propam dan selanjutnya dilimpahkan ke Polda Jawa Timur.

"Sudah kami turunkan Propam terkait masalah ini dan nantinya akan segera kami laporkan ke Polda," tegasnya. (Yuli Ahmada)

Sumber: TRIBUNNEWS.COM | Selasa, 16 Juli 2013
Rabu, 17 Juli 2013 | 0 komentar

Kabagops Polres Tulungagung Digerebek Istri di Salon Selingkuhan

TULUNGAGUNG - Sebagai Kepala Kepala bagian Operasional Polres Tulungagung, Komisaris Polisi Subagio pasti sudah banyak melakukan penggerebekan. Baik menggerebek kawanan pencuri, narkoba, juga pasangan mesum.

Tapi pada Senin (15/07/2013) dini hari, justru Kompol Subagio yang digerebek. Subagio digerebek sang istri, Siti Nur Fatihan dan juga anak perempuannya, ketika berada di Diyah Salon, Desa Kepuh, Kecamatan Boyolangu.

Menurut Rojali, seorang saksi mata, menuturkan peristiwa tersebut terjadi, Senin sekitar pukul 01.00 WIB. Ketika itu, Rojali mendengar suara kaca Diyah Salon milik Badriyah yang diduga merupakan teman selingkuhan Subagio itu pecah, dan juga suara orang berteriak.

"Saya lantas keluar rumah, dan melihat seorang perempuan bersama anaknya memaki-maki Badriyah. Tetapi saat itu, Subagio sudah tidak ada di lokasi kejadian," kata Rojali, Senin siang.

Ia menduga, orang yang memecah kaca salon adalah anak perempuan Subagio. "Saya juga tahu, Rojali memunyai istri yang berprofesi sebagai bidan desa ini. Ibu bidan dan anaknya itu yang langsung mendatangi rumah Badriyah," imbuhnya.

Rojali mengungkapkan, Subagio memang sering mendatangani Badriyah di salonnya, hingga larut malam. Warga sekitar, tak berani menegur lantaran tahu Subgaio adalah petinggi polres setempat.
Sampai penggerebekan itu terjadi pun, warga tidak berani ikut campur.

Kepala Desa Kepuh, Slamet, membenarkan kejadian tersebut. Setelah mendengar laporan dari warganya, Slamet langsung ke rumah Badriyah tetapi saat itu Subagio sudah tidak ada.

"Saya sungkan, (melaporkan Subagio seringkali datang ke salon Badriyah hingga larut malam) karena istrinya bidan desa yang juga tinggal di rumah dinas desa, dekat Balai Desa Kepuh," katanya.

Siti Nur Fatimah, ketika ditelepon wartawan masih belum bersedia mengungkapkan aksinya tersebut. "Sebentar, sebentar," katanya, lantas mematikan sambunggan telepon selulernya.

Kepala Polres AKBP Whisnu Hermawan Februanto, membenarkan kejadian tersebut. Kasus ini, katanya, sudah ditangani Propam dan selanjutnya dilimpahkan ke Polda Jawa Timur. "Sudah kami turunkan Propam terkait masalah ini, dan nantinya akan segera kami laporkan ke Polda," tegasnya.

Sumber: TRIBUNNEWS.COM | Senin, 15 Juli 2013
| 0 komentar

Waspadai Air Mineral Dalam Kemasan Berisi Arak Ciu

Sabtu, 13 Juli 2013 | 15.04.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Warga Kabupaten Tulungagung kini harus hati-hati saat membeli air mineral dalam kemasan. Pasalnya, banyak kemasan air mineral tersebut digunakan untuk menjual Ciu, arak tradisional.

Bahkan, anggota Polres Tulungagung sempat terkecoh dengan penambilan arak ciu tersebut. Hal itu, terjadi ketika aparat menggelar razia di sejumlah kafe dan tempat hiburan malam, Jumat (12/7/2013) malam sampai Sabtu (12/7/2013) dini hari.

"Namun berkat kejelian anggota tim, kami menemukan minuman keras tradisional atau biasa disebut Ciu. Untuk mengelabuhi petugas, Ciu itu dikemas dalam botol air mineral berbagai merek," kata Ipda Sumaji, anggota Polres Tulungagung, saat merazia kafe Freedom di Jl Abdul Fattah.

Menurut Sumaji, arak tersebut bisa mebahayakan orang yang mengonsumsinya. "Ini yang berbahaya. Ciu tidak ada daftarnya dan siapa pembuatnya. Karena itu, kami langsung menyitanya," tandasnya.

Sumber: TRIBUNNNEWS.COM | Sabtu, 13 Juli 2013
Sabtu, 13 Juli 2013 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan