Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Gaji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Gaji. Tampilkan semua postingan

Dewan Pendidikan Duga ada Oknum Guru Manipulasi Jam Mengajar

Selasa, 16 September 2014 | 01.29.00 | 1 komentar

Tulungagung - Dewan Pendidikan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur menduga ada sejumlah oknum guru yang mengindikasikan secara sengaja memanipulasi jam mengajar demi memenuhi syarat minimal 24 jam per pekan, untuk mendapat hak tunjangan prestasi pendidik (TPP). Read More
Sumber: antarajatim.com | 14 Sept 2014
Selasa, 16 September 2014 | 1 komentar

Tunjangan Raib, Ribuan Guru Tulungagung Unjuk Rasa

Senin, 29 April 2013 | 23.05.00 | 1 komentar

Tulungagung- Ribuan guru di Kabupaten Tulungagung mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Senin 29 April 2013. Mereka mempertanyakan tunjangan sertifikasi sebesar Rp 30 miliar yang diduga raib.

Para pendidik ini meluruk kantor DPRD dengan mengendarai sepeda motor dan satu mobil pengeras suara. Begitu memasuki halaman DPRD yang dijaga ketat aparat kepolisian, mereka merangsek ke dalam gedung sambil berorasi. "Kami menuntut hak dari negara," kata Suharno, ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Tulungagung dalam orasinya,.

Sebanyak 5.000 lebih guru mulai jenjang Taman Kanak-kanak hingga SLTA di Tulungagung, menurut Suharno belum menerima gaji sertifikasi selama dua bulan pada tahun 2012. Diperkirakan dana sebesar Rp 30 miliar itu sengaja diendapkan untuk memperoleh bunga bank. Pendapatan bunga itu diduga masuk ke kantong pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung.

Selain sertifikasi, mereka juga mempermasalahkan rekruitmen kepala sekolah yang tidak transparan. Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung Eko Asistono dituding memanfaatkan rekruitmen itu untuk mencari untung pribadi. Selain dugaan pungli, Dinas Pendidikan juga mengabaikan tes uji dan kelayakan serta tidak transparan saat memaparkan hasil rekruitmen.

Meski perwakilan mereka ditemui Komisi A Bidang Pendidikan DPRD Tulungagung, namun emosi para guru tak terbendung saat proses dialog berjalan lama. Para guru yang kecapekan usai mengajar di sekolah berteriak-teriak memanggil teman-temannya yang sedang berdialog keluar. Mereka menganggap pembicaraan itu tidak efektif karena Dewan tak mampu menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan. "Keluar saja, percuma," teriak mereka sambil berbondong-bendong memasuki ruangan.

Beruntung polisi mampu membujuk mereka agar tidak merangsek masuk dan menunggu di teras. Sementara perwakilan mereka turun diiringi sejumlah anggota Komisi A. "Kami mohon maaf karena Kepala Diknas tak bisa kami hadirkan," tutur Suwito, ketua Komisi A.

Dia hanya bisa menjanjikan akan menggelar pertemuan pekan depan dengan meminta pertanggungjawaban Eko. Pada prinsipnya Dewan meminta pemerintah menjelaskan uang Rp 30 Miliar itu dan menyerahkannya kepada guru penerima sertifikasi.

Pernyataan itupun direaksi negatif para guru yang menganggap Dewan tak berwibawa. Mereka masih berharap Dewan bisa menghadirkan Eko untuk menjelaskan sikapnya. "Kepala Diknas sudah tidak sefaham dengan PGRI," kata Suharno.

Namun dia memastikan aksi ini tidak akan menghambat pelaksanaan ujian nasional SD mendatang.

HARI TRI WASONO

Sumber: TEMPO.CO | Senin, 29 April 2013
Senin, 29 April 2013 | 1 komentar

Diknas Tulungagung Selidiki Pemotongan Gaji Guru

Kamis, 05 April 2012 | 12.33.00 | 1 komentar

Tulungagung - Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung, Bambang Setyo Sukardjono berjanji akan menyelidiki dugaan pemotongan rapelan gaji guru SD setempat, selama kurun sebulan terakhir.

"Saya tidak tahu-menahu soal itu, nanti akan kami selidiki dulu," jawabnya saat dikonfirmasi wartawan terkait munculnya sejumlah keluhan dari kalangan guru SD yang merasa jatah rapelan mereka "disunat", Rabu.

Kepada wartawan, Bambang menegaskan bahwa kebijakan tersebut, kalaupun benar adanya, bukanlah instruksi darinya. Ia juga menampik kabar yang menyebut dirinya mengetahui dan bahkan memerintahkan seluruh jajaran kepala SD untuk melakukan pemotongan rapelan kenaikan gaji sebesar 2,5 persen.

"Saya justru berterima kasih atas infonya. Kami akan cek silang dulu dengan fakta di lapangan, yang pasti tidak ada pungutan seperti itu," ujarnya.

Rumor pemotongan rapelan gaji guru SD merebak pertama kali di wilayah Kecamatan Boyolangu, selama dua pekan terakhir. Kabar itu kemudian mencuat dan menjadi pergunjingan masyarakat setelah salah seorang guru yang tidak mau menyebut namanya, menyampaikan uneg-uneg (keluhan) dalam sebuah acara siar di radio swasta setempat.

Menurut keterangan dia, tekhnis pemotongan rapelan gaji sebesar 2,5 persen itu dilakukan oleh masing-masing kepala sekolah untuk disetorkan sebagai "upeti" ke unit pelaksana teknis daerah (UPTD) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di tingkat kecamatan.

"Jika guru golongan 3B menerima rapelan tiga bulan sebesar Rp609 ribu, maka pemotongannya 2,5 persen dari jumlah tersebut, yaitu sekitar Rp15 ribu," ungkapnya memberi gambaran.

Padahal, di wilayah Kecamatan Boyolangu saja ada sebanyak 38 lembaga SD dengan jumlah tenaga pendidik sebanyak 351 guru. "Kami tidak pernah tahu alasan pasti pemotongan tersebut, katanya untuk upeti ke dinas," sambungnya.

Diluar pemotongan 2,5 persen, setiap guru SD di Kabupaten Tulungagung informasinya juga masih diwajibkan menyisihkan uang sebesar Rp5 ribu dari gaji yang diterimanya. Kebijakan pemotongan tersebut juga berlaku bagi kepala sekolah, di mana setiap orang dikenai sebesar Rp10 ribu.

Pemotongan yang terakhir ini konon dilakukan untuk mengganti dana kas milik dinas pendidikan sebesar Rp109 juta yang sebelumnya digasak perammpok pada 5 Maret 2012.

Mengingat dana yang terkumpul tidak sampai memenuhi dana yang hilang, pungutan terhadap 8.689 guru se Tulungagung kemungkinan masih akan terus berlangsung. "Untuk pungutan yang ini kepala sekolah sendiri yang mendatangi guru-guru. Uang yang terkumpul juga disetorkan ke UPTD," ungkapnya.

Ditemui secara terpisah, Kepala UPTD Boyolangu Banuharjo mengaku tidak pernah memerintahkan kepala sekolah untuk melakukan pemotongan rapelan gaji guru.
Selain itu, ia juga menyatakan tidak pernah menerima setoran dari para kasek tersebut. "Yang pasti saya tidak tahu menahu dengan hal itu," ujarnya. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 04 Apr 2012
Kamis, 05 April 2012 | 1 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan