Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan

Lagi Belajar Nyetir Mobil, Guru Tabrak Rombongan Siswa SD

Kamis, 29 Januari 2015 | 01.47.00 | 1 komentar

Tulungagung - Seorang guru MTs di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, yang sedang belajar mengemudikan mobil Toyota Kijang di jalan Desa Pulosari, Kecamatan Ngunut, menabrak serombongan siswa SD yang hendak ke lapangan mengikuti pelajaran olah raga.

Tidak ada korban jiwa dalam insiden yang dilaporkan terjadi Rabu pagi tersebut, namun 10 siswa dikabarkan mengalami luka-luka sehingga harus menjalani perawatan di puskesmas dan rumah sakit setempat. Read More
Sumber: harianterbit.com | 28 Januari 2015
Kamis, 29 Januari 2015 | 1 komentar

Bolos Sekolah, Sepasang Pelajar Mesum di Bioskop

TULUNGAGUNG - Petugas kepolisian menangkap sepasang pelajar yang diduga sedang berbuat mesum di dalam ruangan persewaan film di Jalan Hasanudin Tulungagung. Dari kedua pelajar itu petugas menemukan tiga bungkus kondom yang sudah digunakan untuk berhubungan intim.

Kedua pelajar yang ditangkap tersebut berinisial EL (17), siswi SMK kelas I di Boyonglangu; dan AS (18), siswa SMA swasta di Tulungagung. Keduanya ditangkap saat melakukan perbuatan mesum. Read More
Sumber: okezone.com | 28 Januari 2015
| 1 komentar

Dewan Pendidikan Duga ada Oknum Guru Manipulasi Jam Mengajar

Selasa, 16 September 2014 | 01.29.00 | 1 komentar

Tulungagung - Dewan Pendidikan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur menduga ada sejumlah oknum guru yang mengindikasikan secara sengaja memanipulasi jam mengajar demi memenuhi syarat minimal 24 jam per pekan, untuk mendapat hak tunjangan prestasi pendidik (TPP). Read More
Sumber: antarajatim.com | 14 Sept 2014
Selasa, 16 September 2014 | 1 komentar

Siswa SMA Tulungagung Tuntut Kepala Sekolah Mundur

Senin, 06 Januari 2014 | 19.13.00 | 1 komentar

Tulungagung - Sekitar seribu siswa SMA Negeri 1 Ngunut, Tulungagung, Jawa Timur, melakukan aksi mogok belajar menuntut kepala sekolah dan jajarannya mundur dari jabatan mereka karena dinilai tidak transparan dalam mengelola bantuan operasional sekolah (BOS), Senin.

Aksi mogok belajar tersebut sebagai bentuk mosi tidak percaya kalangan dewan guru dan siswa terhadap kinerja Kepala Sekolah Purwanto Al-Setya, Wakasek Anik Sulistyani, bendahara Ika Yuliatin serta bendahara rutin Dian Widiarti.

Keempat pejabat struktural sekolah ini dinilai tidak transparan dalam pengelolaan dana BOS.

Siswa dalam orasi yang dilakukan di halaman sekolah mengecam kebijakan kepala sekolah yang akan menaikkan tarif SPP (sumbangan pembinaan pendidikan), dari sebelumnya Rp160 ribu per bulan menjadi Rp175 ribu per bulan.

"SPP di SMA kami tidak standar karena lebih tinggi dibanding sekolah sekolah yang lain. Bahkan infonya Januari ini akan dinaikkan lagi sehingga semakin memberatkan siswa dan orang tua siswa," kata Aisyah Trisna Windari, salah satu pengurus OSIS SMAN 1 Ngunut.

Koordinator aksi civitas akademika SMAN 1 Ngunut, Nico Prasetya menegaskan, aksi mogok akan terus mereka lakukan hingga seluruh tuntutan siswa dan dewan guru dipenuhi oleh kepala sekolah.

Para siswa yang sejak pagi memilih aksi duduk di halaman SMAN 1 Ngunut bahkan melakukan "penyitaan" mobil Toyota Yaris warna hitam milik kepala sekolah yang diparkir di sisi lapangan bola basket.

Menanggapi gejolak di sekolahnya, Kepala SMAN 1 Ngunut, Purwanto Al-Setya langsung menggelar rapat tertutup dengan seluruh anggota dewan guru setempat.

Namun rapat yang berlangsung kurang lebih sejam tersebut hanya mengabulkan sebagian tuntutan siswa dan guru.

Sejumlah pejabat struktural sekolah, seperti Wakasek Kesiswaan, Wakasek Humas, Bendahara Insidental dan Bendahara Rutin diputuskan diganti saat itu juga, sebagaimana keputusan rapat dewan guru.

Sementara jabatan kepala sekolah yang dipegang Purwanto maupun masalah tarif SPP yang dinilai memberatkan sama sekali tidak disinggung.

"Selama prosedural saya tidak masalah jika diminta untuk mundur," kata Purwanto dalam jumpa wartawan.

Penjelasan mengenai hasil rapat dewan guru kemudian diserahkan kepada salah satu guru senior, Mulyono dan Samsul Huda.

"Semua tuntutan siswa dipenuhi. Tadi dewan guru bersama kepala sekolah juga langsung melakukan pemilihan terbuka untuk mengisi posisi wakasek dan bendahara yang diminta diganti," kata Mulyono.

Terkait SPP, Samsul Huda berdalih tarif yang dipatok pihak sekolah masih lebih rendah dari ambang batas/ketentuan dinas pendidikan, yakni tidak boleh lebih dari Rp200 ribu per bulan.

Sumber: Antara | 06 Jan 2014
Senin, 06 Januari 2014 | 1 komentar

7 siswa SD dilaporkan cabuli teman sekelasnya

Selasa, 10 Desember 2013 | 01.46.00 | 0 komentar

Tulungagung - Tujuh siswa Sekolah Dasar Negeri wilayah Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, dilaporkan telah melakukan perbuatan asusila terhadap Bunga (nama samaran), teman sekelasnya.

Saat ini pihak Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Polres Tulungagung tengah melakukan visum medis terhadap pelapor yang diketahui berusia 12 tahun.

"Kita juga meminta keterangan kepada sejumlah saksi," ujar Kasubag Humas Polres Tulungagung, Ajun Komisaris Polisi Dwi Hartaya, kepada wartawan, Senin (9/12/2013).

Dari data yang dihimpun, peristiwa asusila tersebut terjadi pada Rabu (20/11) lalu, di dalam ruang kelas tempat pelapor dan terlapor belajar.

Bunga digerayangi kehormatannya secara bergantian oleh tujuh temannya itu. Tidak diketahui pasti apakah yang bersangkutan mencoba melawan, atau memilih diam karena di bawah ancaman. Belum diketahui pasti juga apakah saat pencabulan berlangsung terdapat pelajar yang lain.

Yang bisa dipastikan, saat perbuatan tidak senonoh dijalankan, pengajar (guru) tidak berada di dalam kelas. "Terlapor datang ke mapolres didampingi keluarganya," jelas Hartaya.

Peristiwa amoral tersebut terungkap secara tidak sengaja melalui pesan singkat (SMS) keluarga pelapor. Dikatakan bahwa Bunga telah dicabuli teman-temannya. Dan ketika diinterogasi, Bunga tidak membenarkan.

Menurut Hartaya, dalam waktu dekat pihaknya akan memanggil tujuh orang terlapor. Lantaran yang bersangkutan berstatus pelajar, polisi akan meminta bantuan dinas pendidikan setempat untuk menyelesaikan kasus ini.

"Karena semuanya berstatus pelajar, kita berhati hati menangani kasus ini, "pungkasnya.

Sementara itu pihak dinas pendidikan setempat belum bisa dikonfirmasi.(rsa)

Sumber: Sindonews.com | Senin, 9 Desember 2013
Selasa, 10 Desember 2013 | 0 komentar

Tujuh Pelajar SD di Tulungagung Cabuli Siswi Sekelas

Tulungagung - Tujuh pelajar kelas VI salah satu SD negeri di Desa Kromasan, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, diduga telah mencabuli seorang siswi teman sekelas mereka sendiri di dalam ruang kelas, usai jam pelajaran sekolah.

Tindak asusila yang dilakukan beramai-ramai oleh anak-anak di bawah umur tersebut terungkap setelah korban berinisial Rk (12), didampingi kakaknya, melaporkan kejadian tersebut ke Kepolisian Tulungagung, Senin.

"Kasus ini sedang kami selidiki. Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) sudah mengumpulkan beberapa barang bukti serta hasil visum korban," terang Kasubbag Humas Polres Tulungagung, AKP Dwi Hartaya.

Belum ada satupun pelaku pencabulan ditangkap. Polisi melalui unit PPA berencana segera melayangkan surat pemeriksaan kepada orang tua masing-masing siswa pelaku pencabulan serta pihak sekolah.

Namun Dwi belum menjelaskan teknis pemeriksaan dimaksud, apakah dilakukan di rumah masing-masing siswa atau di tempat lain non-kantor kepolisian, mengingat para pihak terlapor masih di bawah umur.

"Sementara ini kami telah memeriksa beberapa saksi terkait kasus ini dan secepatnya memeriksa ketujuh terlapor yang umurnya masih anak-anak tersebut. Teknisnya menyesuaikan dengan kebutuhan serta ketentuan yang berlaku," ujarnya.

Informasi dari sumber kepolisian, korban Rk datang ke Polres Tulungagung didampingi kakak kandungnya, Agus Rudiyanto.

Peristiwa pencabulan terjadi pada Rabu (20/11) di ruang kelas VI, usai jam pelajaran sekolah.

Saat itu, korban Rk mengaku sempat mendapat perlakuan tidak senonoh dari rekan-rekannya tersebut.

Kasus penistaan itu awalnya tidak diketahui siapapun, termasuk keluarga Rk, hingga akhirnya salah seorang saudaranya menerima pesan singkat (sms) dari seorang rekannya yang menyebut siswi kelas VI SD tersebut mengalami trauma lantaran dicabuli tujuh teman kelasnya secara beramai-ramai di dalam kelas.

Dari informasi pesan singkat itulah, pihak keluarga mengklarifikasi pada Rk mengenai kronoilogi Dengan adanya kejadian tersebut akhirnya kakak korban beserta korban melaporkan kejadian ini ke Polisi.
"Secepatnya kami akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan dinas pendidikan untuk menindaklanjuti kasus ini," tandas Dwi Hartaya. (Ant)

Sumber: Antara JAtim | 09 Des 2013
| 0 komentar

Guru SD di Tulungagung Pukul Siswa hingga Memar

Minggu, 17 November 2013 | 01.03.00 | 0 komentar

Tulungagung - Seorang guru SD di Tulungagung melakukan pemukulan terhadap seorang siswanya menggunakan penggaris kayu hingga korban mengalami luka memar di bagian kaki.

Koresponden Antara di Tulungagung, Jumat, melaporkan meski kasus itu tidak sampai berlanjut ke ranah hukum, namun insiden pemukulan terhadap siswa yang merupakan anak salah satu pejabat pemkab setempat itu disesalkan oleh wali murid.

Suyanto, orang tua siswa kelas tiga yang juga Kabag Kesra Pemkab Tulungagung, mengatakan pihaknya telah menerima permohonan maaf dari guru yang melakukan pemukulan tersebut.

"Gurunya sudah minta maaf dan menyadari kesalahannya. Kami juga tidak ingin memperpanjang urusan ini," jawab Suyanto yang mengaku kecewa dengan tindakan oknum pendidik bernama Saiful Aziz tersebut.

Menurut ia, tindakan pemukulan terhadap siswa, sekalipun berulah nakal atau melakukan pelanggaran adalah berlebihan. "Jangan sampai yang seperti ini terulang lagi," tandasnya.

Peristiwa pemukulan menggunakan alat penggaris kayu sepanjang satu meter itu terjadi pada saat jam pelajaran menggambar, Rabu (13/11). Saat itu, putri Suyanto sedang mengumpulkan buku gambar di meja guru, tiba-tiba gurunya memukulkan penggaris kayu ke arah kaki saat berjalan kembali ke bangkunya.

"Saya sudah bertemu dengan orang tuanya dan menyampaikan permohonan maaf. Saya khilaf," ujar Saiful Aziz.

Sekretaris Dinas pendidikdan dan Kebudayaan Tulungagung, Bambang Triono mengatakan pihaknya akan melakukan investigasi atas insiden pemukulan tersebut. "Dispendik tetap akan melakukan evaluasi dan klarifikasi. Jangan sampai kasus ini kembali terulang," paparnya.

Sumber: Antara Jatim | 15 Nov 2013
Minggu, 17 November 2013 | 0 komentar

14 Kepala Sekolah Gugat Bupati Tulungagung

Minggu, 16 Juni 2013 | 01.30.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG- Sebanyak 14 kepala SMP dan SMA menggugat Bupati Tulungagung melalui Pengadilan Tata Usaha Negara di Medaeng, Sidoarjo.

Mereka dicopot dari jabatannya sebagai kepala sekolah menjadi guru biasa oleh Bupati Tulungagung semasa Heru Tjahjono. Kini, Bupati Tulungagung dijabat oleh Syahri Mulyo.

"Bupati yang sekarang tidak bersedia mengoreksi keputusan bupati sebelumnya," ujar Heru Mujiono, satu dari 14 kepala sekolah yang menggugat itu, kepada SURYA Online, Jumat (14/6/2013).

Heru, yang menolak dipotret, bersama 13 kepala sekolah lainnya menunjuk advokat Eddy Suwito dan rekan dari Kediri untuk menjadi kuasa hukumnya. "Menurut Pak Eddy, kemungkinan sidangnya pekan depan," katanya.

Heru Mujiono semula adalah Kepala SMP Negeri 2 Tulungagung tetapi dimutasi menjadi guru biasa di sekolah lain. "Sampai sekarang, saya masih di SMPN 2 karena di sekolah lain itu tidak ada jam mengajar untuk saya," terangnya.

Ia merinci, dari 14 penggugat itu, 8 orang adalah kepala SMP, 2 kepala SMA dan 4 orang sisanya dimutasi tetap sebagai kepala sekolah tetapi di lokasi lain.

Eddy ketika dikonfirmasi SURYA Online menyebutkan, obyek gugatan ini adalah Surat Keputusan Bupati tentang Penugasan Guru PNS yang Diberi Tugas Tambahan sebagai Kepala Sekolah, tertanggal 22 April 2013.

"Surat tersebut juga merupakan surat pengangkatan kepada 10 guru menjadi kepala sekolah," kata Eddy.

Eddy menilai, 10 guru tersebut belum memenuhi persyaratan dan bukan kepala sekolah yang disiapkan atau diusulkan. "Mereka juga tidak pernah mengikuti pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah di lembaga yang terakreditasi, sebagaimana diatur Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 28 Tahun 2010," katanya.

Eddy menuntut majelis hakim PTUN memerintahkan Bupati Tulungagung agar mencabut Surat Keputusan tertanggal 22 April 2013 sebelum ada keputusan pokok perkara ini.

Terpisah, Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Pemkab Tulungagung, Santoso, menyatakan, pihaknya sudah mendengar ihwal gugatan tersebut tetapi belum menyiapkan kuasa hukum.

Santoso menyebutkan, masalah ini memang lebih baik diselesaikan melalui jalur hukum. "Lebih baik begitu, sehingga nanti putusan dari PTUN bisa dijadikan dasar bersama," ujarnya.

14 kepala sekolah penggugat bupati:
1. Heru Mujiono, Kepala SMPN 2
2. Mochtarom, Kepala SMPN 1 Boyolangu
3. Fifin Suwaji, Kepala SMPN 1 Kalidawir
4. Suharto, Kepala SMPN 2 Ngunut
5. Moh Suryadi, Kepala SMPN 1 Besuki
6. Mujiono, Kepala SMPN 1 Kauman
7. Suyatno, Kepala SMPN 6 Tulungagung
8. Hari Subagijo, Kepala SMPN 1 Sumbergempol
9. Eko Purnomo, Kepala SMPN 2 Sumbergempol
10. Yon Wedriono, Kepala SMPN 3 Tulungagung
11. Subandi, Kepala SMA Boyolangu
12. Rusmadi, Kepala SMA Rejotangan
13. Mujib, Kepala SMPN 1 Rejotangan
14. Tri Purnomo, Kepala SMPN 1 Campurdarat.

Sumber: SURYA Online | Jumat, 14 Juni 2013
Minggu, 16 Juni 2013 | 0 komentar

Direka Ulang, Pembunuh ABG di Tulungagung Pingsan

Kamis, 13 Juni 2013 | 01.16.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Proses reka ulang (rekonstruksi) kasus pembunuhan Fitri Hani Mukti (14), pelajar dengan jasad membusuk di pekarangan kosong Kelurahan Sembung, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung dihentikan.

Diduga akibat tekanan piskologis IF (15), yang merupakan kekasih sekaligus teman sekolah korban, tidak sadarkan diri.

"Saya rasa sudah cukup. Pelaku sepertinya tidak mampu melanjutkan,“ ujar Wakapolres Tulungagung, Kompol Indra Lutrianto Amstono, Selasa (11/6/2013).

Tim penyidik Polres Tulungagung awalnya merencanakan 40 adegan. Semua diperankan langsung oleh IF. Mulai dari siswa kelas VIII SMP Negeri 5 Tulungagung itu mengakhiri nyawa Fitri Hani Mukti dibeber satu per satu.

Adegan pertama hingga ke-29 berhasil diperagakan. IF yang mengenakan baju tahanan warna kuning dengan selubung kepala untuk menyembunyikan wajahnya. Di hadapan petugas dan disaksikan ratusan warga Kelurahan Sembung yang juga tetangganya sendiri, dia menunjukkan aksi sadisnya.

IF panik saat mendengar pengakuan Fitri bahwa dirinya telah berbadan dua. Rasa khawatir yang berlebihan itu menjelma menjadi murka begitu mendengar jawaban Fitri yang menolak saran aborsinya.

Di dapur rumahnya yang saat itu dalam kondisi sepi, leher siswi warga Desa Wajaklor, Kecamatan Boyolangu, itu dijerat dengan seutas tali. “Sesuai pengakuan pelaku jeratan itu dilakukan sebanyak dua kali hingga tewas,“ jelas Indra.

Jeratan kuat itu membuat Fitri terjatuh dan kepalanya membentur tungku masak. Dengan sadis, IM menyeret tubuh yang sudah ditinggalkan nyawa itu melewati beberapa undakan tangga beton. Akibatnya, saat ditemukan bagian wajah dan kepala korban terlihat lebam serta terluka.

Dengan sebuah cangkul, IF menggali tanah di pekarangan lokasi pembuangan sampah yang berjarak sekira lima meter dari belakang rumahnya. Selesai menggali, IF mengumpulkan material potongan batu bata serta sampah untuk menutup jasad Fitri.

Menginjak adegan ke 30 itulah IF mendadak lemas. Bocah pembunuh itu tak sadarkan diri. “Jika memang nanti Jaksa Penuntut Umum menyatakan kurang, maka kekurangan adegan itu akan kita tambahkan,“ terang Indra.

Di antara ratusan warga yang berjubel menonton, tampak Suyitno ayah IF. Lelaki paruh baya itu hanya bisa pasrah menyaksikan kekejaman anaknya.

Sementara Mujaro, ayah kandung korban, memilih banyak diam melihat bagaimana anaknya dibunuh dan dikebumikan di antara tumpukan sampah. “Saya menyerahkan sepenuhnya kasus ini ke Kepolisian. Saya berharap pelaku dihukum seberat-beratnya,“ tuturnya sedih.

Dalam kasus pembunuhan itu, IF dijerat pasal UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Sumber: okezone.com | Selasa, 11 Juni 2013
Kamis, 13 Juni 2013 | 0 komentar

Pembunuhan Siswi SMP di Tulungagung Terungkap

Kamis, 06 Juni 2013 | 20.01.00 | 0 komentar

Tulungagung: Kasus pembunuhan siswi SMP yang dibunuh dan dikubur dengan batu bata di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (5/6), akhirnya terungkap. Pelaku tak lain adalah pacar korban.

Polisi menangkap Imam Fauzi tidak jauh dari tempat kejadian perkara di Kelurahan Sembung. Ia merupakan pacar dan kakak kelas Fitri Hani Sahputri di SMPN 5 Tulungagung.

Dari tangan tersangka, diamankan barang bukti berupa dua telepon genggam, tali, cangkul dan dompet. Tersangka mengaku terpaksa membunuh karena takut saat korban mengaku hamil.

Sumber: Metrotvnews.com | Kamis, 06 Juni 2013
Kamis, 06 Juni 2013 | 0 komentar

Fitriani hilang sejak 3 hari lalu

Rabu, 05 Juni 2013 | 00.40.00 | 0 komentar

Tulungagung - Penemuan mayat ABG yang diduga dibunuh dengan sadis membuat gempar warga Kelurahan Sembung, Tulungagung, jawa Timur.

Kegemparan tersebut sampai ke telinga Herman warga warga Wajak Lor yang kehilangan keponakannya sejak Sabtu 1 Juni 2013 lalu. Begitu memastikan mayat tersebut keponakannya, Herman langsung semaput.

“Saya mendengar kabar penemuan mayat dan langsung kesini untuk memastikan. Jika Fitriani adalah keponakan saya,“ ujarnya terbata-bata usai siuman, di TKP, Selasa (4/6/2013).

Informasi yang dihimpun Koran Sindo Jatim, korban diduga dalam keadaan hamil muda. Kehamilanya tersebut yang diduga menjadi penyebab nyawanya dihilangkan.

Sementara dikonfirmasi di lokasi kejadian Wakapolres Tulungagung Komisaris Polisi Indra Lutrianto mengatakan masih melakukan penyelidikan. Pihaknya masih memintai keterangan saksi serta mengumpulkan alat bukti.

“Dugaan awal korban pembunuhan. Itu dilihat dari ciri fisik korban. Namun sampai saat ini kita masih meminta keterangan saksi dan mengumpulkan alat bukti,“ ujarnya singkat.

Sumber: Sindonews.com | Selasa, 4 Juni 2013
Rabu, 05 Juni 2013 | 0 komentar

Siswi SMP Ditemukan Terkubur Setengah Bugil di Pekarangan Warga

TULUNGAGUNG - Warga Kelurahan Sembung, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung, Selasa (4/06/2013) gempar gara-gara, ada mayat yang dikubur setengah bugil di pekarangan warga.

Mayat perempuan itu diyakini merupakan korban pembunuhan. Anggota Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tulungagung sudah mengevakuasi mayat tersebut, Selasa sore (4/06/2013).

Hasil penelusuran polisi, identitas korban adalah Fitri Hani Saputri (14), warga Desa Wajak Lor, Kecamatan Boyolangu, siswa kelas SMP Negeri 5 kelas 1 D Tulungagung.

Jenazah siswi itu semula masih berseragam Pramuka. Pada badge-nya, tertulis nama lengkapnya. Tak jauh dari kuburannya, ditemukan tas dan sepatu milik Fitri.

Selama proses evakuasi, polisi memasang police line untuk mencegah rusaknya jejak-jejak pembunuhan di tempat kejadian perkara (TKP).

Jenazah Fitri terlihat hanya mengenakan bra dan celana pendek berbalut rok sekolah. Ia juga masih mengenakan sabuk sekolahnya.

Jenazah itu mula-mula diketahui Aris, warga sekitar TKP, saat membuang sampah. Ia melihat tumpukan batu bata yang tidak wajar. Sesaat kemudian dia melihat tangan manusia. Aris kaget bukan main dan langsung memanggil tetangganya, Suyitno, pemilik pekarangan itu. Mereka lantas melapor ke perangkat kelurahan dan pihak kepolisian.

"Saat saya singkirkan sebagian batu batanya, ternyata ada tangan manusia," katanya.

Adapun Suyitno mengaku tidak tahu ada peristiwa aneh saat jenazah itu dikuburkan. "Saya jualan di Pasar, jarang pulang," katanya.

Kepala Polres Tulungagung AKBP Whisnu Hermawan Februanto melalui Wakil Kepala Polres Kompol Indra Lutrianto Amstono, menargetkan, kasus ini dapat diungkap dalam tempo 1 kali 24 jam. Ia belum dapat memastikan apakah korban diperkosa lebih dulu sebelum dibunuh.

Polisi membawa jenazah Fitri ke RSUD Dr Iskak untuk diotopsi. Polisi mencatat, terdapat luka pada leher, dan wajahnya nyaris tidak bisa dikenali karena semua jasadnya bengkak.

Usai evakuasi, kerabat korban bernama Sindu, warga Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru datang ke lokasi.

Ia menyebut Fitri keponakannya, masih kelas satu SMP. Menurut dia, Fitri pergi dari rumah sejak Sabtu lalu tanpa alasan. Keluarganya sudah mencari ke mana-mana, baik di sekolah maupun rumah karibnya.

Sumber: SURYA Online | Selasa, 4 Juni 2013
| 0 komentar

Hamil, siswi SMP dibunuh dengan sadis

Tulungagung - Seorang pelajar SMP di Tulungagung dikejutkan dengan penemuan mayat seorang remaja putri. Belakangan diketahui, jenasah tersebut merupakan pelajar SMP yang sedang hamil.

Sebelumnya, keluarga mengaku kehilangan korban sejak Sabtu 1 Juni 2013. Korban ditemukan diantara rumpun bambu di kelurahan Sembung, Kecamatan/Kota Tulungagung, Selasa (4/6/2013).

Suliyati (37) warga setempat yang pertama kali menemukan mayat tersebut mengaku mencium aroma busuk sejak semalam. Ia mengira hanya bangkai tikus atau ayam mati yang biasa ditemukan di pekarangan kosong milik Ayung, yang oleh warga setempat menjadi tempat pembuangan sampah.

Namun saat diperiksa, ternyata terdapat mayat perempuan dengan kondisi mengenaskan dengan kondisi tangannya terikat kawat. SUliyati langsung melaporkan temuannya itu ke polisi.

Petugas kepolisian Tulungagung langsung melakukan olah TKP. Dari jarak sekitar tiga meter penemuan jenazah, petugas menemukan tas sekolah berisi buku catatan harian (diari).

Didekat tas berserak sepasang sepatu wanita, dan seragam pramuka dengan emblem nama Fitriani Saputri kelas 7 D SMP Negeri 5 Kedungsuko Kecamatan Tulungagung. Hasil konfirmasi petugas ke pihak sekolah membenarkan jika anak didiknya. Fitriani tercatat sebagai warga Desa Wajak Lor, Kecamatan Boyolangu.

(ysw)

Sumber: Sindonews.com | Selasa, 4 Juni 2013
| 0 komentar

Juara 1 Unas SMA se-Tulungagung Jadi Buruh Toko Pakan Burung

TULUNGAGUNG- Metta Andriani, juara 1 nilai Ujian Nasional SMA jurusan IPA se-Tulungagung terpaksa jadi buruh toko pakan burung. Siswi SMAN 1 Kedungwaru itu meraih nilai 56,45 tetapi kini tak punya biaya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

"Ayah saya tukang batu, ibu menjahit di rumah, ngambil orderan dari perusahaan konveksi," kata Metta kepada SURYA.co.id di tempat kerjanya, toko pakan burung Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru, Selasa (28/5/2013).

Metta lantas melanjutkan pekerjaannya, menimbang pakan burung ocehan untuk pelanggan toko milik Parlan itu.

Gadis kelahiran 2 Maret 1995 itu sebetulnya punya angan-angan jadi guru Matematika. Nilai Matematikanya bagus dibanding Biologi, Fisika dan Kimia. Itu sebabnya, ia ingin kuliah IImu Pendidikan Matematika. "Pinginnya di Universitas Negeri Malang," ujarnya.

Tetapi Metta kini menghadapi kenyataan lain. Saat teman-temannya sibuk bersiap menghadapi ujian masuk perguruan tinggi, Metta harus menghafal harga kroto, sangkar burung, jangkrik dan aneka keperluan lain terkait ternak burung.

Anak pertama pasangan Santosa dan Emi Supangatin, Warga Desa Ngujang, Kedungwaru, itu sebenarnya juga sudah diberitahu pihak sekolahnya ihwal Bidik Misi, program pemerintah pusat membantu calon mahasiswa berprestasi tetapi kurang mampu.

Sayangnya, kata Metta, waktu ujian Bidik Misi dan Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) akan bersamaan. Padahal, setahu dia, agar mudah lolos Bidik Misi idealnya juga lolos SNPMTN. "Kalau diterima kedua-duanya akan lebih mudah," katanya.

Kalaupun lolos Bidik Misi, Metta juga dihantui kekhawatiran orangtuanya tak mampu membiayai kebutuhan hidupnya. "Kalau biaya kuliah sudah ringan, mungkin biaya hidup sehari-hari yang mahal bagi kami," katanya.

Apalagi, Metta masih punya adik yang belum beres sekolahnya. Pilihan praktis pun dijalani Metta. Sejak selesai Ujian Nasional SMA pada April lalu, Metta tiap hari bekerja di toko pakan burung sejauh kira-kira 1 Km dari rumahnya. "Tiap hari antar jemput, kadang oleh ayah, kadang ibu," ujarnya.

Pelajar berprestasi itu mendapat upah Rp 400.000 per bulan. Waktu kerjanya mulai pukul 13.30 sampai 21.00. Ia hanya menggeleng ketika ditanya apakah ingin tetap bekerja demikian.

Sumber: SURYA Online | Selasa, 28 Mei 2013
| 0 komentar

Tunjangan Prestasi Pendidik 30 Miliar Ngendap

Selasa, 30 April 2013 | 17.14.00 | 0 komentar

Tulungagung: Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Tulungagung, Jawa Timur mempertanyakan Tunjangan Prestasi Pendidik (TPP) yang belum cair di daerah itu selama dua bulan pada 2012 sebesar sekitar Rp30 miliar.

Jumlah tersebut merupakan jatah untuk 5.000 guru di daerah itu yang sudah berhak atas TPP tersebut.

Ketua PGRI Tulungagung Suharno kepada wartawan menuturkan keheranan para guru. "Sebab, tahun sudah berganti, kenapa jatah dua bulan TPP tahun lalu masih tertahan," ujarnya, Selasa (30/4).

Pihaknya sudah berkali-kali menanyakan masalah ini pada Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) setempat, namun jawabnya yang diterima selalu sama yakni tunjungan tersebut belum dicairkan pemerintah pusat.

Pihaknya, kata Suharno, juga sudah mengadukan masalah ini ke Komisi A DPRD Tulungagung dan dijanjikan akan memanggil kepala Kepala Dinas Pendidikan setempat untuk menjelaskan masalah ini.

Berdasarkan data yang dihimpun, 2012 pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp179 miliar untuk membayar TPP di daerah ini. Angka tersebut naik menjadi Rp281 miliar pada 2013 ini. (Edy Saputra)

Sumber: Metrotvnews.com | Selasa, 30 April 2013
Selasa, 30 April 2013 | 0 komentar

Ratusan Guru Duga Jabatan Kepsek di Tulungagung Dijualbelikan

Tulungagung: Persatuan Guru RI (PGRI) berunjuk rasa di depan kantor DPRD Tulungagung, Jawa Timur. Mereka menuntut transparansi pengangkatan kepala sekolah (kepsek) di kabupaten tersebut.

Ratusan guru yang bergabung dalam organisasi itu membentangkan spanduk dan poster di depan kantor DPRD. Mereka menduga pejabat Dinas Pendidikan Tulungagung menyelewengkan wewenang pengangkatan kepsek. Mereka menduga jabatan itu dijualbelikan.

Para guru pun menuntut pencopotan kepala dinas pendidikan setempat. Pasalnya, menurut mereka, kepala dinas arogan mengambil kebijakan. Mereka pun mendesak pemberian uang tunjangan profesi guru.

Tak berapa lama kemudian, anggota DRPD Tulungagung menerima para pengunjuk rasa. Setelah menyampaikan aspirasi, para guru pun bubar. Namun mereka mengancam akan kembali beraksi bila pemerintah tak memenuhi tuntutan para guru.

Sumber: Metrotvnews.com | Selasa, 30 April 2013
| 0 komentar

Tunjangan Raib, Ribuan Guru Tulungagung Unjuk Rasa

Senin, 29 April 2013 | 23.05.00 | 1 komentar

Tulungagung- Ribuan guru di Kabupaten Tulungagung mendatangi kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD), Senin 29 April 2013. Mereka mempertanyakan tunjangan sertifikasi sebesar Rp 30 miliar yang diduga raib.

Para pendidik ini meluruk kantor DPRD dengan mengendarai sepeda motor dan satu mobil pengeras suara. Begitu memasuki halaman DPRD yang dijaga ketat aparat kepolisian, mereka merangsek ke dalam gedung sambil berorasi. "Kami menuntut hak dari negara," kata Suharno, ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Tulungagung dalam orasinya,.

Sebanyak 5.000 lebih guru mulai jenjang Taman Kanak-kanak hingga SLTA di Tulungagung, menurut Suharno belum menerima gaji sertifikasi selama dua bulan pada tahun 2012. Diperkirakan dana sebesar Rp 30 miliar itu sengaja diendapkan untuk memperoleh bunga bank. Pendapatan bunga itu diduga masuk ke kantong pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung.

Selain sertifikasi, mereka juga mempermasalahkan rekruitmen kepala sekolah yang tidak transparan. Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung Eko Asistono dituding memanfaatkan rekruitmen itu untuk mencari untung pribadi. Selain dugaan pungli, Dinas Pendidikan juga mengabaikan tes uji dan kelayakan serta tidak transparan saat memaparkan hasil rekruitmen.

Meski perwakilan mereka ditemui Komisi A Bidang Pendidikan DPRD Tulungagung, namun emosi para guru tak terbendung saat proses dialog berjalan lama. Para guru yang kecapekan usai mengajar di sekolah berteriak-teriak memanggil teman-temannya yang sedang berdialog keluar. Mereka menganggap pembicaraan itu tidak efektif karena Dewan tak mampu menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan. "Keluar saja, percuma," teriak mereka sambil berbondong-bendong memasuki ruangan.

Beruntung polisi mampu membujuk mereka agar tidak merangsek masuk dan menunggu di teras. Sementara perwakilan mereka turun diiringi sejumlah anggota Komisi A. "Kami mohon maaf karena Kepala Diknas tak bisa kami hadirkan," tutur Suwito, ketua Komisi A.

Dia hanya bisa menjanjikan akan menggelar pertemuan pekan depan dengan meminta pertanggungjawaban Eko. Pada prinsipnya Dewan meminta pemerintah menjelaskan uang Rp 30 Miliar itu dan menyerahkannya kepada guru penerima sertifikasi.

Pernyataan itupun direaksi negatif para guru yang menganggap Dewan tak berwibawa. Mereka masih berharap Dewan bisa menghadirkan Eko untuk menjelaskan sikapnya. "Kepala Diknas sudah tidak sefaham dengan PGRI," kata Suharno.

Namun dia memastikan aksi ini tidak akan menghambat pelaksanaan ujian nasional SD mendatang.

HARI TRI WASONO

Sumber: TEMPO.CO | Senin, 29 April 2013
Senin, 29 April 2013 | 1 komentar

47 Siswa Peserta UN di Tulungagung Dikarantina

Jumat, 19 April 2013 | 02.00.00 | 0 komentar

Tulungagung: Madrasah Aliyah Al Muslihun Tunggangri, Tulungagung, Jawa Timur, mengarantina 47 siswa peserta Ujian Nasional Tahun Ajaran 2012-2013. Tujuannya agar para siswa lulus UN dengan nilai yang memuaskan.

Guru tak mengizinkan siswa dua jurusan, IPA dan IPS, pulang dan harus bermalam di sekolah selama pelaksanaan UN. Malam harinya, guru memberikan latihan soal dan materi.

Para siswa mengaku senang dengan kebijakan itu. Mereka juga tak mengkhawatirkan soal makan karena orangtua mengirimkan makanan kepada para siswa setiap hari.

Selain itu, kegiatan tersebut memacu semangat belajar mereka ketimbang belajar sendirian di rumah. Sehingga mereka merasa lebih mantap menjawab soal-soal UN.

Sumber: Metrotvnews.com | Rabu, 17 April 2013
Jumat, 19 April 2013 | 0 komentar

Polres Tulungagung Tangkap Penjual Siswi SMP

Selasa, 12 Februari 2013 | 20.26.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Seorang perempuan berusia 25 tahun ditangkap Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Tulungagung.

Pelaku berinisial K ini telah menculik dan menjual seorang siswi SMP.

Enam bulan lalu seorang siswi SMPN 1 Campurdarat diketahui hilang setelah berhubungan dengan seorang perempuan.

Perempuan tersebut mengaku sebagai temannya dan mengajak untuk jalan-jalan.

Namun korban tidak kembali ke rumah. Orang tua korban lalu melaporkan kejadian tersebut ke Polres Tulungagung.

Rabu (6/2/2013) polisi berhasil menangkap pelaku di tempat tinggalnya, Desa Ngujang, Kecamatan Kedungwaru.

K adalah orang yang menghubungi korban lewat SMS, kemudian menculiknya.

Selama enam bulan, korban yang masih berusia 14 tahun disekap. Selama itu pula korban dijual kepada lelaki hidung belang.

Menurut Kasat Reskrim Polres Tulungagung, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Lahuri, kasus ini dalam pengembangan.

Timnya masih memburu pelaku yang telah menyetubuhi korban.

"Saya belum bisa ungkap sekarang, karena ada pelaku lain yang masih kabur. Nanti kalau sudah tertangkap semua, kami buka di depan media," ujarnya.

Sumber: TRIBUNNEWS.COM | Kamis, 7 Februari 2013
Selasa, 12 Februari 2013 | 0 komentar

Kejari Tulungagung Tetapkan Status Penyidikan Korupsi Sekolah

Rabu, 24 Oktober 2012 | 00.49.00 | 0 komentar

Tulungagung - Kejaksaan Negeri Tulungagung menetapkan status penyidikan terhadap dugaan korupsi dana block grant Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2012 senilai Rp100 juta di SMPN 2 Bandung, Kabupaten Tulungagung.

"Dana tersebut merupakan bagian dari program nasional rehabilitasi ruang belajar SMP se-Indonesia. Dana tersebut diterima pada bulan Maret 2012 lalu dan proyek dilaksanakan selama 90 hari setelah dana tersebut diterima," terang Kasi Intelijen Kejari Tulungagung, Agus Rujito, Senin.

Ia menjelaskan, SMPN 2 Bandung pada tahun anggaran 2012 mengajukan dana block grant ke Kemendikbud untuk merehabilitasi tiga ruang kelas yang rusak dan disetujui sebesar Rp450 juta.

Namun berdasar temuan tim intelijen dari Kejari Tulungagung, ditemukan ada penggunaan dana yang menyalahi panduan pelaksanaan teknis dari Kemendikbud. Tim kejaksaan lalu melakukan pemeriksaan langsung ke lapangan.

"Sekitar bulan September lalu kami memeriksa langsung ke lapangan dan kami menangkap tangan pihak sekolah yang sedang menyusun laporan pertanggungjawaban (LPJ)," terangnya.

Tim dari Kejari ini juga menemukan sejumlah kuitansi yang dipalsukan dan di-mark up (digelembungkan). Diduga, selisih uang hasil rekayasa laporan keuangan itu digunakan untuk kepentingan pribadi oknum di SMPN 2 Bandung.

Agus mengemukakan kuitansi-kuitansi tersebut juga telah dilakukan konfirmasi ke sejumlah toko bangunan yang dicatut, dan rata-rata mereka membantah serta mengakui ada penggelembungan harga.

"Dari konfirmasi sejumlah kuitansi pembelian bahan bangunan, beberapa diketahui fiktif, dan ada pula yang digelembungkan jumlahnya. Dari perhitungan kami setidaknya ada Rp100 juta yang penggunaannya tidak bisa dipertanggungjawabkan," ungkapnya.

Untuk melakukan penyidikan korupsi SMPN 2 Bandung ini, Kajari telah menunjuk tujuh jaksa penyidik. Sejumlah nama telah ditetapkan pemanggilannya, antara lain pimpinan proyek (pimpro), serta sejumlah guru dan kepala sekolah.

"Kepala Kejaksaan Negeri Tulungagung telah menunjuk tujuh orang jaksa penyidik. Pimpro yang dalam tahap penyelidikan lalu sudah kami mintai keterangan, akan kami panggil lagi," kata Agus.

Sumber: antarajatim.com | 22 Okt 2012
Rabu, 24 Oktober 2012 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan