Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Sungai Brantas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sungai Brantas. Tampilkan semua postingan

Minibus Masuk Sungai, Tiga Penumpang Hilang

Kamis, 08 November 2012 | 03.04.00 | 0 komentar

Blitar: Sebuah mobil Carry terjungkal ke Sungai Brantas di Srengat, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Rabu (7/11). Tiga penumpang hilang.

Insiden terjadi saat korban satu keluarga pulang dari ziarah haji di Kabupaten Tulungagung. Mobil berisi 9 penumpang itu kemudian naik perahu penyeberangan dari Desa Rejotangan Tulungagung menuju Desa Purwokerto, Kecamatan Srengat.

Di ujung sungai, mobil berusaha naik ke daratan. Namun mendadak mesin mobil mati. Mobil pun mundur dan langsung terjun ke sungai.

Salah satu korban Imam Santoso mengaku dirinya dan 5 penumpang lainnya berhasil keluar setelah pintu mobil berhasil dibuka.

Korban selamat adalah Sutrisno, Eko Suyadi, Karimi, Imam Santoso, Iswanti dan Syifa (1,5). Sedangkan penumpang yang belum ditemukan yakni Purwanti, Miftahudin, dan Dimas. Polisi dan warga terus melakukan pencarian terhadap korban hilang. (Fajar Agastya/****)

Sumber: Metrotvnews.com | Kamis, 8 November 2012
Kamis, 08 November 2012 | 0 komentar

Rumah Warga Tulungagung Roboh Tergerus Air Sungai Brantas

Selasa, 20 Maret 2012 | 20.12.00 | 0 komentar

Tulungagung - Satu unit rumah milik warga Desa Ngunut, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, roboh setelah tergerus air Sungai Brantas.

"Tiga minggu belakangan gerusan air sangat hebat dan merobohkan 14 meter bagian belakang rumah yang saya fungsikan sebagai gudang penyimpanan barang dan bengkel kerja pelat. Sebelumnya tanggul sejauh tujuh meter sudah tergerus lebih dulu, sampai akhirnya sampai ke rumah saya," tutur Supriyanto, pemilik rumah, Selasa.

Ia menyebut, gerusan air terjadi sejak tiga pekan terakhir akibat arus Sungai Brantas yang sangat deras, sehingga merobohkan bagian belakang rumahnya sepanjang 14 meter, masuk ke dalam aliran sungai.

Supriyanto menambahkan, gerusan air tersebut dipicu aktivitas penambangan pasir mekanik di sisi utara Sungai Brantas, yang masuk wilayah Desa Gandekan, Kecamatan Wonodadi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Para penambang ilegal tersebut beroperasi dengan leluasa menggunakan empat hingga enam mesin penyedot pasir, sejak tiga bulan silam seolah tidak tersentuh aparat penegak hukum.

"Karena disedot setiap hari tanpa henti, sungainya jadi dalam dan arusnya kian deras. Akibatnya daratan di sekitarnya juga terus terkikis hingga terjadi abrasi yang parah," katanya.

Beruntung saat rumah tersebut roboh ke dalam aliran sungai, tidak ada orang yang beraktivitas di dalamnya.

Namun kerusakan yang ditimbulakn sangat parah, sehingga kini sisa pondasi rumah Supriyanto tergantung di atas aliran Sungai Brantas setinggi sembilan meter.

"Kalau tidak hati-hati, kami bisa saja terjatuh ke dalam aliran Sungai Brantas. Abrasi juga merusak dua pondasi rumah di kanan dan kiri rumah saya," imbuhnya.

Supriyanto berharap, petugas dari Jasa Tirta, Polres Blitar dan Satpol PP Kabupaten Blitar melakukan razia para penambang mekanik tersebut, agar abrasi tidak terus terjadi.

Sementara untuk mencegah kerusakan semakin meluas, Supriyato dan warga lainnya juga dilakukan pemulihan tanggul yang hilang terbawa arus sungai.

"Para penambang sudah beroperasi dengan sangat leluasa sejak tiga bulan silam. Kalau tidak mau dituding ada beking, seharusnya aparat di Kabupaten Blitar melakukan razia terhadap mereka," sindir Supriyanto.

Kepala Subdivisi Jasa ASA 1 Wlingi, Jasa Tirta I yang membawahi Sungai Brantas wilayah Blitar dan Tulungagung, Agung Nugroho mengaku belum mendapat laporan terkait adanya aktivitas penambang mekanik di Desa Gandekan, Kecamatan Wonodadi, Blitar.

Agung berjanji secepatnya akan melakukan koordinasi dengan Polisi dan Satpol PP Kabupaten Blitar, untuk menindak para penambang ilegal tersebut.

"Sejauh ini kami belum menerima laporan adanya penambang mekanik di Desa Gandekan. Setelah mendapat laporan ini, secepatnya akan kami lakukan razia" ujarnya.

Pihak Jasa Tirta juga akan mengirim tim ke pemukiman warga yang rusak akibat abrasi. Jika diperlukan perbaikan darurat, maka pihak Jasa Tirta bisa melakukan. Namun jika nantinya memerlukan perbaikan yang permanen, akan dikerjakan Balai Besar Sungai Brantas.

"Saya akan kirim dulu tim untuk meninjau lokasi dulu. Selanjutnya baru akan diambil langkah apa yang sekiranya perlu," pungkasnya. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 20 Mar 2012
Selasa, 20 Maret 2012 | 0 komentar

Pasien Leukemia Didominasi dari Warga DAS Brantas

Senin, 12 Maret 2012 | 18.00.00 | 0 komentar

Kasus leukemia atau kanker darah tiap tahunnya terus meningkat di RSU dr Soetomo. Di Jatim pasien yang menderita penyakit mematikan tersebut sebagian besar ternyata berasal dari DAS Brantas. Kenapa?

OLEH:
BAGUS NOVARRIANTO
BUDI PRASETYO

Berdasarkan hasil penelitian salah satu dokter spesialis anak di RSU dr Soetomo, Prof H Bambang Permono, dr, Sp.A(K) menyebutkan, penderita leukemia yang dirawat di rumah sakit rujukan terbesar di Indonesia Timur tersebut sebagian besar berasal dari kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. Penyebabnya, tingkat pencemaran di Sungai Brantas sudah melebih ambang batas.

Dari 104 pasien leukemia yang menjadi sampel penelitian, 70 persennya adalah pasien yang tinggal di DAS Brantas. Ditegaskan Bambang Permono, pasien leukemia terbanyak dari Surabaya yang merupakan hilir dari Sungai Brantas. “Di Surabaya, pasien berasal dari kawasan Wonokromo, Karangpilang, Ngagel, dan Jagir. Daeah-daerah tersebut adalah DAS Brantas” ujar Bambang Permono, Senin (12/3).

Sedangkan data terbaru di RSU dr Soetomo, tambahnya, selama tahun 2011 ada 260 pasien leukemia yang dirawat di rumah sakit milik Pemprov Jatim tersebut, 43 diantaranya meninggal dunia. Dari dari260 pasien tersebut, 26 persen dari DAS Brantas, mereka mulai dari usia balita hingga usia setingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Selama lima tahun terakhir, jumlah pasien leukemia yang dirawat di RSU dr Soetomo bertambah sekitar 60 pasien tiap tahunnya. Sedangkan untuk tahun 2011, 67 pasien yang dirawat berasal dari DAS Brantas,” tandasnya.

Sungai Brantas sendiri bermata air di Desa Sumber Brantas (Kota Batu), lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto. Di Kabupaten Mojokerto sungai ini bercabang dua manjadi Kali Mas (ke arah Surabaya) dan Kali Porong (ke arah Porong, Kabupaten Sidoarjo).

Menurut, Bambang Permono kondisi Sungai Brantas saat ini sudah memprihatinkan. “Kita semua tahu fungsi sungai Brantas sangat besar bagi kehidupan masyarakat, Brantas menjadi penyuplai air minum di Surabaya. Namun tingkat pencemarannya melewati ambang batas, Inilah yang menjadi penyebab tingginya kasus leukemia di DAS Brantas. Leukemia sendiri, salah satu pemicu tersbesarnya adalah pencemaran, sedangkan factor keturunan sangat sedikit kemungkinannya,” tandasnya.

Dijelaskannya, pencemaran di Sungai Brantas kebanyakan berasal dari limbah domestik, pertanian, taman rekreasi, pasar, hotel, rumah sakit, dan limbah industri. Terdapat sekitar 330 ton per hari limbah cair dihasilkan dari aktivitas manusia di sepanjang sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Bengawan Solo tersebut. Dan sekitar 483 industri mempunyai pengaruh secara langsung terhadap Sungai Brantas dengan kontribusi pencemaran hingga 125 ton setiap harinya.

“Semakin majunya industri-industri di Surabaya dan sekitarnya, ternyata menimbulkan efek negatif terhadap para warga yang tinggal di sekitar DAS Brantas. Lingkungan yang tidak sehat, lebih cenderung mempengaruhi banyaknya penderita leukemia di Jawa Timur,” ujar Bambang Permono.

Lebih lanjut Bambang Permono mengungkapkan temuan terbaru, pencemaran yang menyebabkan leukemia, tren kasusnya juga cenderung meningkat di daerah-daerah yang menjadi alur aliran Sungai Brantas seperti Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, dan Nganjuk. “Selain Surabaya, di daerah DAS Brantas hulu juga mulai tinggi kasus leukemianya,” ujarnya.

Menurutnya, memasuki era agrobisnis di Indonesia, juga menjadi salah satu pemicu tingginya penyakit leukiemia. Diduga pengembangan kualitas pupuk-pupuk untuk pertanian juga semakin meningkat dengan beragam bahan kimia, bisa memicu penyakit-penyakit yang berbahaya.

Bahan-bahan kimia yang terkandung dalam insektisida sangat berisiko terhadap anak-anak. “Industri-industri besar yang bergerak di bidang pertanian, diduga juga menjadi masalah baru. Penyebaran insektisida, pupuk urea, dan beragam obat-obatan pertanian yang lain tanpa ada penyuluhan akan efek sampingnya, sama juga membiarkan penyebaran penyakit, jadi saya harap para petani untuk lebih peka terhadap obat-obatan pertanian yang dibelinya,” paparnya.

Sekedar informasi, Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) - Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah pencemaran di Kali Surabaya sudah sangat parah dan mengkhawatirkan. Penelitian sepanjang Juli hingga Agustus 2011 menunjukkan, terjadinya feminisasi ikan-ikan jantan berubah menjadi ikan betina sudah mencapai 84 persen. “Tingginya feminisasi dipicu tingkat pencemaran di Kali Surabaya,” kata Riska Darmawanti, Manager Bidang Penelitian dan Investigasi Ecoton di website resminya (www.ecoton.or.id).

Penyebabnya, karena ikan jantan terpapar oleh limbah urin perempuan yang mengkonsumsi pil kontrasepsi dan bahan-bahan kimia, seperti pestisida, PCB, logam berat, deterjen, plastilizer (bahan pembuat plastik), dan shampoo, serta obat-obatan kimia yang berperilaku menyerupai estrogen, hormon betina.

Ulie Muspar Dewanto, Kepala Divisi Air dan Sumber Air (ASA) III Perum Jasa Tirta I, membenarkan jika tingkat pencemaran aliran Sungai Brantas di bagian hilir sangat tinggi. Hal ini dikarenakan tingginya pembuangan limbah rumah tangga dan industri. Rinciannya, 62% limbah rumah tangga, sisanya limbah industri dan pertanian. Di samping itu, ada limbah dari erosi lahan akibat penebangan hutan di hulu aliran Sungai Brantas. “Di hilir terjadi penumpukan limbah,” tandasnya.

Tapi, tandas Ulie, pihaknya belum bisa memastikan jika pencenaran tersebut menjadi pemicu penyakit leukemia yang dialami warga di DAS Brantas. Karena sampai sekarang pihaknya belum meneliti korelasi antara pencemaran dengan leukemia.*



PROFIL SUNGAI BRANTAS


- Aliran: Sungai Brantas bermata air di Desa Sumber Brantas (Kota Batu), lalu mengalir ke Malang, Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, Mojokerto. Di Kabupaten Mojokerto sungai ini bercabang dua manjadi Kali Mas (ke arah Surabaya) dan Kali Porong (ke arah Porong, Kabupaten Sidoarjo).

- Kali Brantas mempunyai DAS seluas 11.800 kilometer persegi.

- Panjang sungai utama 320 kilometer mengalir melingkari sebuah gunung berapi yang masih aktif yaitu Gunung Kelud.

Sumber: surabayapost.co.id | Senin, 12/03/2012
Senin, 12 Maret 2012 | 0 komentar

20 Kabupaten Kekeringan di Luar DAS Brantas & Bengawan Solo

Jumat, 23 September 2011 | 23.53.00 | 0 komentar

Malang - Kekeringan sudah menimpa 20 kabupaten di Jawa Timur berada di luar Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas serta Bengawan Solo. Hal ini dinyatakan Perum Jasa Tirta I sebagai pengelola dua sungai. Dikarenakan ketersediaan air di waduk masih sesuai pola atau mencukupi kebutuhan sesuai yang direncanakan.

"Kekeringan terjadi di luar DAS Brantas serta Bengawan Solo," kata Tri Hardjono kepada detiksurabaya.com di ruang kerjanya, Jumat (23/9/2011).

Kepala Bagian Humas Perum Jasa Tirta I mengungkapkan, kondisi tinggi permukaan air di seluruh waduk di Jawa Timur dan Jawa Tengah masih terpantau aman selama 20 hari terakhir. "Elevasi atau tinggi air aman," tegasnya.

Ia mengaku, 20 daerah kini tengah mendapatkan bantuan air bersih dari Pemprov Jatim itu berada di luar jangkauan aliran DAS Brantas serta Bengawan Solo, jadi wajar jika mengalami krisis air.

"20 Daerah itu dapat bantuan air bersih." ungkap dia.

Ke-20 daerah yang dimaksud adalah Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Sidoarjo, Nganjuk, Jombang, Lamongan, Malang, Bojonegoro, Blitar, Kediri, Tuban, Sampang, Bangkalan dan Lumajang. Termasuk Situbondo, Bondowoso, Jember, Banyuwangi, dan Pasuruan.

Ia menambahkan, sebagian besar 20 daerah itu berada di bagian selatan Jawa Timur yang tidak terlalui DAS Brantas dan Bengawan Solo. Sehingga wajar dan mendapatkan akses air berlebih.

Sementara pantauan terkini pola elevasi di waduk Sutami, kata dia, mencapai 266,65 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kondisi aktual di waduk itu 267,44 mdpl.

Sedangkan low water level atau batas minimum elevasi Sutami 260 mdpl. "Elevasi artinya diatas pola," katanya.

Demikian juga di waduk Selorejo, sambung dia, pola elevasi 614,45 mdpl, aktual 617,91 mdpl, sedangkan low water level 606 mdpl. Untuk waduk Wonorejo, Tulungagung, pola elevasi 166,75 mdpl, aktual 168,02 mdpl, dan low water level 153 mdpl.

Dan Waduk Bening, Madiun, pola elevasi 98,15 mdpl, aktual 102,58 mdpl dan low water level 96 mdpl. Laporan harian di waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah, juga aman. Pola elevasi 130,45 mdpl, aktual 130,59 mdpl, dan low water level 128 mdpl.

"Kondisi itu menunjukkan ketersediaan air untuk PLTA, pertanian, industri dan PDAM dalam kondisi aman," bebernya.

DAS Brantas yang mengalir seluas 12.000 kilometer (Km) persegi mencakup sebagian besar wilayah Jatim. Sungai utama sepanjang 320 km dan memiliki 39 anak sungai dengan total panjang 1.400 km. Sedangkan potensi sumber air mencapai 11,80 miliar meter kubik per tahun.

Air di DAS Brantas ditampung dalam lima bendungan atau waduk tahunan dan tiga waduk harian dengan total tampungan sekitar 636,60 juta meter kubik. Air sebanyak itu untuk memenuhi kebutuhan irigasi seluas 345 ribu haktare dan menghasilkan listrik 1.160 GWh.

Selain itu untuk memenuhi kebutuhan air di Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) sebesar 300 juta meter kubik, serta memenuhi air untuk industri sebesar 1,87 juta meter kubik.

(fat/fat)

Sumber: detikSurabaya | Jumat, 23/09/2011
Jumat, 23 September 2011 | 0 komentar

Jasa Perahu Penyeberangan Dipadati Warga Hendak Silaturrahim

Jumat, 02 September 2011 | 20.53.00 | 0 komentar

Tulungagung - Jasa perahu penyeberangan yang menghubungkan antara Kabupaten Tulungagung dengan Blitar, Jawa Timur, ramai dipadati warga yang hendak silaturrahmi saat Lebaran 1432 Hijriah.

Surti, salah seorang penumpang, Jumat, mengaku selalu memanfaatkan jasa penambangan ini jika ingin ke Tulungagung.

"Rumah saya Blitar, kalau lewat kota terlalu jauh, jadinya naik perahu ini biar lebih cepat," katanya, mengungkapkan.

Ia menyebut, harus menempuh perjalanan sekitar satu jam jika harus lewat kota ke Tulungagung. Namun, dengan naik perahu itu, perjalanan hanya ditempuh selama 10 menit saja.

Jasa penyeberangan perahu yang melintas lewat Sungai Brantas itu memang banyak dimanfaatkan warga. Selain bisa menghemat waktu, warga juga bisa menghemat pengeluran bahan bakar.

Biasanya, jarak yang ditempuh jika harus lewat Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar lalu masuk kota bisa hingga 30 kilometer menghabiskan bahan bakar seperti premium untuk kendaraan roda dua hingga dua liter, tetapi dengan naik perahu penyeberangan itu, warga hanya menempuh sekitar 500 meter saja.

Untuk ongkos jasa penyeberangan perahu, juga tidak terlalu mahal. Kendaraan roda dua atau sepeda motor ongkos penyeberangannya Rp2.000 per sepeda, sementara untuk mobil Rp8.000 per mobil.

Fasilitas yang diberikan untuk jasa penyeberangan itu memang minim, tidak seperti perahu yang dikelola secara profesional. Hanya ada batang bambu yang sengaja dipasang di tepi perahu, sebagai batas atau sebagai pengaman.

Nana, penumpang lainnya mengaku cukup terbantu dengan adanya jasa penyeberangan ini. Ia terbantu, karena tidak harus capai menempuh perjalanan jauh jika harus ke Blitar.

"Jasa penyeberangan ini juga buka hingga 24 jam, jadinya pulang dari Blitar agak malam pun, tetap berani," ucap Nana yang merupakan warga Tulungagung ini.

Poni, salah seorang pemilik jasa penyeberangan perahu ini mengaku omzetnya naik drastis saat Lebaran seperti ini. Biasanya, ia dengan teman-temannya hanya mendapatkan uang Rp300.000 per hari, tetapi saat Lebaran seperti ini naik bisa hingga Rp1 juta.

"Kalau Lebaran seperti ini, yang naik tambah ramai. Per hari, bisa dapat uang Rp1 juta," ujarnya.

Walaupun uang yang diperolehnya cukup banyak, ia mengaku selalu mengutamakan keselamatan penumpang, di antaranya memantau kondisi kapal, mencegah kebocoran.

Ia juga mengatakan, tingkat keamanan perahu itu terjamin. Satu perahu miliknya bisa mengangkut hingga empat mobil, sementara untuk kendaraan roda dua bisa penuh, sekitar 20 sepeda motor. Ia juga minta, penumpang tidak khawatir dengan keselamatannya, saat naik perahu itu.(Asmaul Chusna)

Source: Antara | 02 Sept 2011
Jumat, 02 September 2011 | 0 komentar

Oknum Satpol PP Bekingi Mafia Penambangan Pasir

Jumat, 10 Juni 2011 | 23.32.00 | 0 komentar

Tulungagung - Dugaan keterlibatan oknum Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dalam pembekingan aktivitas penambangan pasir liar di sepanjang aliran DAS Brantas semakin menguat.

Sinyalemen itu sejak awal telah dikemukakan oleh pihak Perum Jasa Tirta dan kini tengah ditelusuri aparat kepolisian.

"Memang ada seorang oknum Satpol PP Pemprov Jatim yang sempat disebut-sebut oleh beberapa pelaku penambangan pasir yang terjaring dalam razia kemarin (Kamis, 9/6)," kata Kasat Reskrim Polres Tulungagung, AKP I Dewa Gde Juliana, Jumat.

Untuk mengusut adanya keterlibatan oknum perangkat pemerintahan tersebut, lanjut kasat reskrim, pihaknya sementara memilih fokus pada pemeriksaan sejumlah saksi.

Fokusnya terutama ditujukan kepada para pemilik usaha penambangan pasir ilegal yang diduga mengetahui atau bahkan terlibat langsung dalam pemberian "katabelece" kepada oknum satpol PP tersebut.

Identitas pejabat Satpol PP yang terlibat dalam pembekingan itu sendiri saat ini telah dikantongi petugas setelah berkoordinasi dengan pihak Perum Jasa Tirta.

Namun, pemeriksaan terhadap yang bersangkutan sejauh ini belum dilakukan karena masih tahap pengumpulan alat bukti dan saksi.

"Tapi rencananya tetap akan kami panggil untuk dimintai keterangan. Saksi-saksi sudah ada yang menyebut, benar atau tidaknya biar dia yang menjelaskan di hadapan penyidik," tandas Gde Juliana.

Informasi yang beredar, dugaan ketidaknetralan atau adanya oknum di Satpol PP yang terlibat di dalam mata rantai jaringan penambang pasir liar yang beroperasi di sepanjang aliran DAS Brantas sebenarnya telah diendus Perum Jasa Tirta sejak lama.

Kecurigaan tersebut terutama muncul dikarenakan setiap dilakukan operasi penggerebekan oleh tim gabungan Satpol PP, polisi, dan Jasa Tirta selalu tidak membuahkan hasil maksimal.

Belajar dari beberapa kali pengalaman operasi yang gagal maupun tak membuahkan hasil maksimal itulah kemudian razia khusus dilakukan oleh pihak Perum Jasa Tirta dan jajaran kepolisian, tanpa melibatkan satpol PP, Kamis (9/6).

Hasilnya, hampir seluruh pelaku penambangan pasir di sejumlah titik-titik penambangan yang telah diidentifikasi petugas berhasil ditangkap berikut barang bukti.

"Kami sedang menyelidiki peran seorang oknum Satpol PP di Pemprov Jatim berinisial Pt. Apakah dia berdiri sendiri atau berjejaring dengan oknum Satpol PP di daerah," katanya.

Kepala Bagian Operasional Divisi II Perum Jasa Tirta I, Kasmianto mengatakan, di masa yang akan datang razia akan terus dilakukan tanpa melibatkan satpol PP, terutama di daerah-daerah yang diidentifikasi menjadi konsetrasi penambangan mekanik.

Tidak hanya menertibkan, Perum Jasa Tirta bersama aparat keamanan juga akan memburu pemilik tambang pasir tersebut karena dianggap sebagai pihak yang paling bertanggung jawab.

Mereka akan dijerat dengan Undang-undang Mineral dan Batubara nomor 14 tahun 2009, dengan ancaman 10 tahun.

Kepala Operasional Satpol PP Tulungagung, Totok Joko menjelaskan, jika aturan pelarangan tambang pasir mekanik dikeluarkan oleh provinsi, dalam hal ini jasa tirta. Sehingga wewenang aturan penindakan ada di aparat provinsi.

Sementara satpol PP daerah hanya bersifat koordinatif, melaporkan pelanggaran yang ada ke provinsi.

Sumber: Antara

Jumat, 10 Juni 2011 | 0 komentar

Efek Domino Penurunan Dasar Sungai Brantas

Minggu, 24 April 2011 | 19.40.00 | 0 komentar

Tulungagung - Degradasi luar biasa yang terjadi pada penampang dasar Sungai Brantas selama satu dasawarsa terakhir, secara perlahan telah memicu kekhawatiran akan efek domino kerusakan lingkungan mulai dari kawasan hulu hingga hilir.

Laporan resmi maupun pernyataan lisan yang disampaikan Perum Jasa Tirta selaku penanggung jawab pengelolaan air dan sumber air sungai terpanjang di Jatim itu, selama dua tahun terakhir benar-benar mencengangkan publik.

Pada tahun 2004, perusahaan umum milik negara ini menyebut penurunan penampang dasar Sungai Brantas sudah saat itu tercatat baru mencapai kisaran 3-4 meter.

Biang kerok penurunan dasar sungai ini kemudian "diarahkan" ke para penambangan pasir liar yang ada di sepanjang Sungai Brantas mulai dari Blitar, Tulungagung, Kediri, Jombang, hingga Mojokerto.

Beberapa upaya penertiban memang pernah dilakukan oleh masing-masing pemerintah daerah. Namun jumlah pemburu pasir ilegal itu malah bertambah banyak.

Alat atau sarana penambangan yang mereka gunakan juga mengalami modernisasi sejak munculnya beberapa penambang besar yang mengadopsi mesin penyedot pasir bertenaga diesel.

Tren modernisasi ini menular secara cepat dan masif ke kalangan penambang lain yang ada di sepanjang aliran sungai terbesar dan terpanjang di Provinsi Jawa Timur itu maupun di kawasan/daerah aliran sungai (DAS) Brantas.

Akibatnya sungguh mengerikan. Eksploitasi besar-besaran material pasir ini menyebabkan keseimbangan lingkungan di sepanjang aliran sungai terganggu. Penampang dasar sungai yang dulu, sekitar tahun 1991, hanya tercatat sedalam 3-4 meter, kini turun drastis hingga belasan meter.

Tahun 2000 kedalaman sungai di sejumlah titik konsentrasi gerusan pasir disebut-sebut telah mencapai 6-7 meter. Kondisi tersebut semakin parah dari tahun ke tahun, terutama sejak beroperasinya alat tambang mekanik yang menggunakan mesin diesel berkapasitas besar.

Berdasar estimasi yang dilakukan Perum Jasa Tirta, volume pasir yang dikeruk dengan cara manual dan mekanik pertahunnya bisa mencapai kisaran 2 juta meter kubik lebih.

Angka ini jauh melebihi ambang batas toleransi pengambilan pasir di sepanjang aliran Sungai Brantas yang hanya 450 ribu meter kubik/tahun.

"Secara pasti kami tidak bisa menghitung, hanya perkiraan dengan asumsi jumlah penambang pasir mekanik yang mencapai ribuan unit dan tersebar di sepanjang aliran Sungai Brantas," kata Kepala Sub Divisi Jasa ASA II/I Wilayah Tulungagung-Trenggalek, Mariyadi.

Penggerusan dasar sungai pada awalnya hanya terdeteksi di sepanjang aliran Sungai Brantas yang berada antara Kabupaten Kediri hingga Mojokerto.

Namun, seiring kian bertambahnya aktivitas penambangan pasir ilegal di wilayah hilir yang tidak diimbangi ketersediaan pasokan pasir dari wilayah hulu, erosi pada bagian penampang dasar sungai kian parah.

Hasil penelitian yang dilakukan Perum Jasa Tirta Divisi Jasa Air dan Sumber Air (ASA) I/II Tulungagung-Trenggalek menunjukkan, akibat maraknya penambangan pasir di sepanjang aliran sungai, dasar Sungai Brantas turun sampai kisaran 8 meter pada tahun 2006 dan bertambah menjadi 12 meter pada tahun 2009.

Penurunan dasar sungai itu kini hampir merata di sepanjang aliran Sungai Brantas mulai dari Bendungan Lodoyo di Kabupaten Blitar hingga Bendungan Lengkong di Kabupaten Mojokerto.

"Arus sungai yang deras menyebabkan proses penggerusan cenderung merata. Tidak hanya di wilayah yang menjadi titik kosentrasi penambangan tetapi menyeluruh, bahkan hingga kawasan hulu seperti di Blitar dan Tulungagung," terangnya panjang lebar.

Penurunan atau degradasi pada penampang dasar Sungai Brantas memang tidak bisa dilihat secara langsung. Tetapi dampak yang ditimbulkan akibat degradasi tersebut bisa diamati di hampir semua jalur sungai termasuk di kawasan DAS.

Salah satunya bisa dilihat pada jembatan Ngujang yang menjadi sarana penghubung jalan raya provinsi antara Kabupaten Tulungagung dengan Kabupaten Kediri serta Blitar.

Pada kaki jembatan besi yang dibangun sejak zaman penjajahan Belanda ini, rangka fondasi terlihat jelas. "telapak" pada kaki penyangga jembatan legendaris ini kadangkala bahkan tampak menggantung saat debit air menurun.

"Istilah kami, ini dampak penurunan 'river bed' (dasar sungai) yang kemudian menyebabkan puluhan atau bahkan ratusan konstruksi jembatan, plengseng, tanggul, serta beberapa kantor pengamatan kami dalam bahaya karena erosi pada dasar sungai," urai dia.

Gambaran dampak penambangan pasir yang memicu penurunan dasar sungai hingga melebihi batas kewajaran seperti yang disampaikan pihak Perum Jasa Tirta dalam berbagai kesempatan itu tidaklah berlebihan.

Pantauan ANTARA, hampir semua jembatan (lama) yang melintasi aliran sungai kondisinya nyaris menggantung. Fondasi jembatan yang seharusnya berada di dalam air dan tertanam di dasar sungai sebagian mulai muncul di atas permukaan.

Pemandangan ini terlihat di jembatan utama yang ada di Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar; jembatan Ngujang di Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung; dua jembatan utama di Kota maupun Kabupate Kediri.

Sejumlah fasilitas umum yang rusak misalnya adalah jembatan Jeli di Desa Jeli, Kecamatan Karangrejo, Kabupaten Tulungagung (ambruk); Bendungan Waruturi di Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri (paku bangunan bendungan menggantung hingga 4 meter dari lokasi semula); serta kerusakan parah yang terjadi pada jembatan Mrican.

"Jembatan sepanjang 10 meter yang menghubungkan wilayah Kabupaten dan Kota Kediri itu pondasinya sempat amblas hingga tidak lagi bisa dilalui oleh kendaraan bermotor. Perlu satu tahun untuk memperbaiki kerusakan tersebut hingga akhirnya bisa difungsikan kembali," sumber ANTARA di Perum Jasa Tirta II, Kediri.

Dampak Lanjutan
Kerusakan ekologi akibat aktivitas penambangan pasir ternyata tidak hanya terjadi di sepanjang aliran/jalur utama Sungai Brantas, tetapi sudah merambat hingga kawasan DAS yang menjadi sub-aliran (anak sungai).

Konfirmasi mengenai penurunan dasar sungai di kawasan DAS ini tidak hanya disampaikan pihak Perum Jasa Tirta selaku pengelola resmi air dan sumber air Sungai Brantas, tetapi juga dilontarkan sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) pecinta lingkungan.

Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Mangkubumi yang bermarkas di Kabupaten Tulungagung, misalnya, beberapa waktu lalu mempublikasikan hasil penelitian mereka bersama ECOTON yang menemukan adanya penurunan dasar sungai pada kawasan DAS hingga kisaran empat (4) meter.

Degradasi paling parah mereka temukan di kawasan hilir Sungai Ngrowo di Kabupaten Tulungagung yang bermuara ke Sungai Brantas. Beberapa penampang sungai bahkan telah bergeser akibat aliran sungai yang semakin deras serta "hilangnya" material pasir yang sebelumnya berfungsi sebagai penghambat gerakan air.

"Ini namanya kondisi debei air mengalami defisit sedimen sehingga memperparah erosi dasar sungai," kata Pejabat pembuat Komitmen di Balai Besar Wilayah Brantas Tulungagung, Bonari.

Koordinator Gardu Brantas Tulungagung, Mohammad Ichwan Mustofa memperingatkan kepada semua pihak, khususnya masing-masing pemerintah daerah yang berada di jalur perlintasan Sungai Brantas agar mewaspadai fenomena ini.

Sebab, apabila degradasi terus terjadi, kerusakan lingkungan maupun konstruksi bangunan di sepanjang aliran sungai utama serta DAS Brantas akan semakin parah.

Risikonya tentu akan lebih banyak mengancam pemukiman serta area persawahan. Sebab, jika sampai tanggul ataupun plengseng penahan air di sepanjang aliran Sungai Brantas maupun kawasan DAS jebol, banjir bisa melanda area padat penduduk maupun lahan-lahan pertanian.

Selain itu, kerusakan pada infrastruktur sungai juga bisa menyebabkan suplai air untuk persawahan terganggu.

"Ada sembilan (9) juta hektare lebih lahan pertanian yang selama ini bergantung
pada suplai air dari Sungai Brantas. Bisa dibayangkan bila ada jaringan irigasi rusak, produksi pertanian Jawa Timur secara keseluruhan bisa terganggu," kata Koordinator Gardu Brantas, M Ichwan Mustofa.

Tidak hanya "hilangnya" material pasir di dasar Sungai Brantas serta gangguan distribusi/suplai air ke persawahan penduduk yang dikhawatirkan para penggiat lingkungan seperti Ichwan Mustofa dan kawan-kawannya di PSLH Mangkubumi.

Mereka menyebut saat ini populasi biota air tawar di Sungai Brantas terancam punah. Salah satu jenis hewan yang mulai langka itu adalah kura-kura air tawar (bulus) yang dulu banyak bertebaran di sepanjang aliran sungai Brantas maupun kawasan DAS yang ada di bagian hulu.

Hasil riset mereka yang dilakukan menggunakan metode wawancara acak dengan warga di sekitar bantaran Sungai Brantas, selama kurun 5-10 tahun terakhir populasi bulus menurun drastis.

Sebagian besar warga bahkan menyebut sudah tidak pernah lagi mendapati adanya hewan ini menyembul di bantaran sungai. Penyebabnya memang bermacam-macam.

Selain faktor perburuan yang dilakukan manusia, hilangnya material pasir di bantaran sungai maupun dasar sungai membuat binatang ampibi sejenis penyu ini tak lagi memiliki tempat berkembang biak yang aman.

Penggiat lingkungan di Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Mangkubumi Tulungagung ini mengatakan, menurunnya populasi bulu tidak hanya terjadi di Tulungagung, tetapi hampir di sepanjang aliran sungai Brantas yang melintas di Kabupaten Blitar maupun Kediri.

Keberadaan binatang ampibi yang menyerupai penyu tetapi berukuran lebih kecil ini sementara masih terdeteksi di DAS Brantas yang membelah Kabupaten Jombang dan Mojokerto.

Selebihnya, hasil riset acak yang dilakukan dengan cara pengamatan langsung di sejumlah titik konsentrasi perkembangbiakan bulus tak banyak membuahkan hasil.

Selain itu, kerusakan ekosistem sekitar bantaran DAS Brantas ditengarai juga kian mengkhawatirkan. Mengacu hasil kajian PSLH Mangkubumi pada riset terdahulu, keanekaragaman hayati di tepian sungai Brantas saat ini tidak lagi terjaga.

Beberapa tanaman obat tradisional seperti kemiri dan rosela yang biasanya tumbuh bersama semak-belukar di sekitar bantaran sungai nyaris hilang.

Demikian juga dengan vegetasi rumpun-rumpun bambu yang berfungsi melindungi bantaran sungai dari erosi. Jenis tanaman yang disebut terakhir ini secara umum memang masih ada, tetapi bila dibanding 5-10 tahun lalu, vegetasinya sudah berkurang banyak.

Sebagai gantinya, warga lebih suka menanam rumput gajah di sekitar bantaran sungai. "Padahal rumput gajah tidak bisa melindungi tebing sungai dari gerusan air, apalagi saat terjadi banjir," kata Ikhwan.

Jalan Keluar
Upaya reklamasi penampang dasar sungai agar kembali seperti sedia kala (kedalaman normal antara 3-4 meter) sepertinya sulit terwujud. Pihak Perum Jasa Tirta maupun Balai Besar Brantas mengisyaratkan "lempar handuk" untuk melakukan normalisasi "river bed" (dasar) seperti yang telah direncanakan tim teknis mereka.

Alasannya sederhana, butuh jutaan metrik ton pasir untuk mereklamasi dasar sungai Brantas maupun kawasan DAS di sekitarnya yang mengalami degradasi antara 6-12 meter. Apalagi penurunan dasar sungai itu terjadi di hampir sepanjang jalur sungai yang mencapai 70 kilometer lebih mulai dari Bendungan Lodoyo di Kabupaten Blitar hingga Bendungan Lengkong di Kabupaten Mojokerto.

"Elevasi dasar sungai Brantas mungkin baru bisa normal kembali bila terjadi ledakan besar pada Gunung (api) Kelud sehingga memuntahkan pasir yang tidak terbatas," ujarnya.

Kalaupun dipaksakan, kata Mariyadi, biaya atau ongkosnya bisa mencapai triliunan rupiah. Anggaran sebesar itu sepertinya mustahil dikeluarkan hanya untuk melakukan reklamasi buatan.

Satu-satunya jalan keluar yang saat ini bisa dilakukan pemerintah hanyalah memperketat peraturan penambangan bahan galian golongan-C, terutama jenis pasir dan batuan di semua aliran Sungai Brantas maupun kawasan DAS Brantas.

Langkah tegas harus dilakukan oleh semua aparat penegak hukum bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat, tidak hanya sebatas penertiban seperti yang lalu-lalu, tetapi juga menjatuhkan sanksi denda serta hukuman badan agar memberi efek jera.

"Tanpa ada upaya pemberian efek jera, aktivitas penambangan pasir liar ini sulit dihentikan," papar Ichwan.

Mereka hanya berharap agar masing-masing pemerintah daerah bersikap tegas, terutama dalam menindak ataupun mengarahkan masyarakat penambang pasir agar mengalihkan aktivitasnya ke kawasan "sabuk" Kali Lahar di lereng sekitar Gunung Kelud maupun Arjuno.

"Kalau penggalian atau penambangan dilakukan di daerah 'sabuk' (Gunung) Kelud tentunya tidak akan berpengaruh ke Sungai Brantas. Harus ada komitmen dari pemerintah daerah seperti baru-baru ini mulai dilakukan Pemkab Jombang," kata Mariyadi.

Karena itu, PSLH Mangkubumi beserta para penggiat lingkungan yang tergabung dalam jaringan Gardu Brantas Tulungagung saat ini akan mencoba mendesak pemerintah daerah maupun Provinsi Jatim agar secepatnya membuat perda pengelolaan serta pemanfaatan DAS Brantas.

Mereka menengarai hilangnya sejumlah biota sungai serta rusaknya keanekaragaman hayati di sekitar DAS Brantas dipengaruhi oleh aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab, seperti penambangan pasir secara masif dan terus-menerus, pembangunan bendungan-bendungan, maupun akibat perusakan tanaman di sekitar bantaran.

"Sebisa mungkin kerusakan lingkungan serta ekosistem sungai ini harus dicegah, kalau perlu dihentikan sama sekali," ujarnya.

Oleh: Destyan S

Sumber: Antara
Minggu, 24 April 2011 | 0 komentar

Gugatan LBH ke Presiden Didukung Aktifis Lingkungan

Sabtu, 23 April 2011 | 18.58.00 | 0 komentar

Surabaya - Gugatan LBH Surabaya pada presiden karena membiarkan kondisi Kali Brantas rusak dapat dukungan dari para aktifis lingkungan.

PRIGI ARISANDI Direktur Ecoton pada TEGUH reporter Suara Surabaya, Sabtu (23/04) mengatakan, wajar kalau LBH akan menggugat presiden, karena kondisi Kali Brantas sudah rusak akibat pencemaran dan perusakan jenis lainnya.

Menurut PRIGI selama tiga tahun terakhir kondisi Kali Brantas sudah sangat memprihatinkan, karena banyak sumber mata air yang hilang.

Kondisi itu terjadi karena ekploitasi sumber mata air untuk industri air mineral dalam kemasan.

Faktor lain yang juga menyebabkan rusaknya kondisi Kali Brantas banyaknya penambangan pasir liar di sepanjang Mojokerto, Tulungagung dan Kediri.

Sementara untuk menguatkan gugatan pada Presiden, Ecoton secara kelembagaan juga akan menggugat Presiden, karena dinilai lalai dalam mengawasi kondisi Kali Brantas yang jadi satu diantara Sungai Nasional yang pengelolaannya dilakukan Pemerintah Pusat.

Sebelumnya LBH Surabaya memastikan akan menggugat presiden, karena prihatin dengan kondisi Kali Brantas yang rusak.

Bahkan LBH juga minta pada masyarakat Jawa Timur melakukan gugatan class action karena air Kali Brantas, merupakan air baku pembuatan air minum di lima kabupaten/kota yang dilintasi Kali Brantas.(tas/ipg)

Sumber: suarasurabaya.net
Sabtu, 23 April 2011 | 0 komentar

Pemerintah Tidak Serius Hentikan Penambangan Pasir Brantas

Jumat, 08 April 2011 | 13.34.00 | 0 komentar

Surabaya - Pemerintah hingga kini dinilai tidak pernah serius menghentikan kegiatan penambangan pasir ilegal di sepanjang Sungai Brantas di wilayah Jawa Timur, sehingga menyebabkan kerusakan ekosistem dan kualitas air sungai.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah (Ecoton) Prigi Arisandi di Surabaya, Jumat, mengatakan hasil penelitian yang dilakukan lembaganya membuktikan masih adanya aktivitas penambangan pasir ilegal tersebut.

"Hasil investigasi yang kami lakukan hingga 3 April lalu, masih dijumpai penambangan pasir dengan menggunakan ponton di wilayah Tulungagung, Kediri, Jombang, dan Mojokerto. Seharusnya Sungai Brantas steril dari penambangan pasir," ujarnya.

Khusus di wilayah Jombang dan Mojokerto, Ecoton dalam kegiatan susur Sungai Brantas pada Juni 2010 pernah menemukan sedikitnya 212 penambang mekanik yang melakukan penyedotan pasir.

Akibat aktivitas penambangan pasir mekanik yang berlebihan tersebut, lanjut Prigi, banyak lokasi tanggul dan bantaran Sungai Brantas yang longsor.

Selain itu, ekosistem yang terdapat di Sungai Brantas juga rusak dan sejumlah ikan khas Brantas ikut punah.

"Kami pernah merekomendasikan kepada Kementerian Pekerjaan Umum untuk melakukan moratorium penambangan pasir di Sungai Brantas, tapi sampai sekarang tidak pernah ada tindak lanjut," tambahnya.

Prigi Arisandi mengaku pernah mengirimkan somasi kepada Presiden terkait kerusakan Sungai Brantas, namun belum ditanggapi. "Pekan lalu, Ecoton mengirimkan somasi keduanya," ujarnya.

Selain penambangan pasir ilegal, masih tingginya kegiatan pembuangan limbah industri dan rumah tangga juga turut memicu terjadinya pencemaran dan menurunkan kualitas baku air Sungai Brantas.

"Setidaknya ada 21 industri yang kadar pembuangan limbahnya belum memenuhi baku mutu dan berpotensi mencemari Sungai Brantas. Apalagi, pengawasan dari pemerintah juga kurang serius," ujar Prigi.

Dalam surat somasinya kepada Presiden, Ecoton antara lain mendesak pemerintah menetapkan masalah Sungai Brantas sebagai materi ajar pada kurikulum sekolah, melakukan gerakan pemulihan dan penegakan hukum terhadap aktivitas penambangan serta pembuangan limbah. Sumber: antarajatim.com
Jumat, 08 April 2011 | 0 komentar

Rp 1 Miliar Hanya Berumur 3 Bulan

Senin, 21 Maret 2011 | 10.00.00 | 0 komentar

Tulungagung - Embung atau bendungan kecil yang dibangun untuk menampung air dari Gunung Budheg, Dusun Glodokan, Desa Pucung Kidul, Kecamatan Boyolangu, baru 3 bulan difungsikan, sudah bocor di beberapa bagian.

Embung ini difungsikan untuk mengaliri sawah di Pucung Kidul dan sekitarnya. Embung dibangun dengan biaya APBN tahun 2010 Rp 1.141.283.000 dan dikerjakan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas.

Proyek ini dikerjakan dalam waktu tiga bulan, dengan panjang bendungan kurang lebih 50 meter. Bagian tanggul paling bawah selebar 6 meter dan bagian permukaan tanggul selebar 4 meter.

Menurut warga setempat, Sardi (46), sekitar tiga minggu tanggul embung jebol ketika turun hujan lebat, sehingga embung penuh dengan air. Saat itulah tanggul bagian barat pintu air tak kuat dan jebol.

Saat dikonfirmasi, Pejabat Pembuat Komitmen Daerah Aliran Sungai Brantas Tulungagung, Bonari mengaku tidak terlibat proyek tersebut. Meski berada dalam satu lembaga, Embung Godokan dikerjakan oleh Pemberdayaan dan Konservasi Sumber Daya Air (PKSA) Balai Besar Brantas, yang berkedudukan di Kediri.

Bonari mengaku sudah menerima laporan adanya kebocoran di embung yang baru selesai dikerjakan tersebut. “Ini bukan kewenangan saya. Proyek langsung dikerjakan oleh PKSA Kediri,” ujarnya. Pihak PKSA gagal dihubungi wartawan melalui telepon. Sumber: SURYA
Senin, 21 Maret 2011 | 0 komentar

Di Blitar, Ibu Ajak Balitanya Bunuh Diri | Suami Terjun ke Laut di Depan Istri & Anaknya

Sabtu, 19 Maret 2011 | 12.57.00 | 0 komentar

SUMENEP - Jawa Timur seperti tiada hari tanpa aksi bunuh diri. Hanya sehari terjadi dua peristiwa bunuh diri menelan tiga korban jiwa. Di Sumenep, seorang lelaki menerjunkan diri ke laut. Tragisnya, aksi itu dilakukan di depan istri dan anak-anaknya. Sedangkan di Blitar, seorang ibu mengajak balitanya bunuh diri terjun ke Kali Brantas.

Peristiwa di Sumenep dilakukan oleh Saing (51), warga Desa Sakala, Kecamatan Sapeken. Diduga frustrasi akibat penyakitnya tak kunjung sembuh, Saing nekat mengakhiri hidup dengan terjun ke laut sewaktu dalam pelayaran, Kamis (17/3). Tubuh Saing pun hilang ditelan ombak, dan hingga Jumat (18/3) malam belum ditemukan.

Tragisnya, korban terjun ke laut melalui jendela kapal yang ditumpanginya, disaksikan istrinya, Sumiati (45) dan ketiga anaknya.

Berdasarkan informasi dari nakhoda kapal, Mulyadi (40), Kamis (17/3) sekitar pukul 14.00 WIB korban bersama istri dan tiga anaknya menumpang Kapal Motor (KM) Monika Indah dari Pelabuhan Kalianget Sumenep tujuan Kecamatan Sapeken, Sumenep. Korban yang sedang sakit menyewa kamar kapal dengan didampingi istrinya. Sedangkan anaknya di dek kapal.

Pukul 16.00 WIB KM Monika Indah lepas jangkar menuju Sapeken. Saing hanya berbaring di kamar didampingi istrinya, Sumiati. Setelah menempuh perjalanan sekitar 8 jam, kapal telah melintasi Pulau Raas, Kecamatan Raas, Sumenep. Dinginnya malam membuat para penumpang rebahan di tempatnya, termasuk istri dan anak-anak Saing. Posisi beberapa anak buah kapal (ABK) menyebar di dek dan buritan kapal.

Rupanya saat keluarganya dan para penumpang sudah cukup penat menempuh perjalanan, Saing merencanakan aksi nekatnya. “Pada saat istri dan anak-anaknya sedang rebahan itulah, korban melompat ke laut melalui jendela kapal,” kata Mulyadi.

Sumiati pun terkaget-kaget. Ia menjerit sekencang-kencangnya, sontak membuat tiga anaknya segera masuk kamar. Namun, mereka tak mampu berbuat apa-apa. Sumiati dan anak-anaknya hanya sempat melihat kaki Saing menapak di jendela sebelum terjun dan lenyap ditelan ombak.

Mengetahui itu, jeritan Sumiati makin keras, sehingga membuat beberapa ABK mendekat. Kapal sempat berhenti, beberapa ABK kemudian mencari tubuh korban di lautan, namun nihil. “Sepertinya tubuh korban digulung ombak. Apalagi saat kejadian, ombak mencapai 2 hingga 3 meter,” kata Mulyadi.

Mulyadi lalu menghubungi Polsek Raas sebagai polsek terdekat. Namun, karena cuaca laut membahayakan, bantuan dari daratan terdekat tak kunjung datang. Sejumlah perahu nelayan yang ikut membantu mencari korban juga tidak berhasil.

Jumat (18/3) pagi, beberapa petugas Polsek Raas bersama beberapa kapal nelayan melakukan pencarian. Namun hingga Jumat malam, tubuh korban tak ditemukan. ”Kemungkinan korban sudah terseret ombak,” ujar Kapolsek Raas, Iptu Sudjito.

Begitu juga Kapolsek Sapeken AKP Turmudzi yang datang ke lokasi kejadian mengatakan belum ada tanda-tanda tubuh korban bisa ditemukan. “Apalagi proses pencarian sering terhalang ombak tinggi,” ujar Turmudzi.

Pihaknya akan terus mencari bersama petugas Polsek Raas. Ia berharap masyarakat dan nelayan yang menemukan korban, segera lapor ke polsek terdekat.

Keponakan korban, Mohammad Ali, mengungkapkan pamannya itu lama mengidap penyakit tak kunjung sembuh. Kendati telah beberapa kali diobati melalui medis, tabib hingga paranormal, penyakitnya tak kunjung sembuh. “Kata dokter ia mengidap penyakit empedu yang memerlukan pengobatan agak lama,” kata Ali yang juga anggota DPRD Sumenep, Jumat (18/3).

Dikatakan, sejak satu bulan lalu pamannya berobat ke RSU Dr Soetomo Surabaya. Namun karena tidak ada perkembangan berarti, korban memutuskan pulang dan pindah berobat ke tabib di Kecamatan Seronggi. Karena tak sembuh juga, ia memutuskan pulang ke Sapeken. “Mungkin juga karena sudah banyak biaya dikeluarkan, hingga kondisi rumah tangganya kini sangat memprihatinkan,” pungkasnya.

Karena Stres dan Diusir

Sementara itu, gara-gara diusir suami dan stres kambuh, Rinawati (27), warga Cabean, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar, nekat mengajak anak balitanya, Abidin Kusen (4) bunuh diri terjun ke Kali Brantas yang arusnya cukup deras, Kamis (17/3).

Akibatnya, tubuh ibu dan anak langsung lenyap terbawa arus. Baru Jumat (18/3), jenazah Abidin Kusen ditemukan di Kali Brantas, Desa Bloro Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Sedangkan tubuh ibunya belum ditemukan.

Menurut bibi korban, Karyati, kejadian itu dikarenakan penyakit gangguan jiwa Rinawati yang diderita lima bulan terakhir kambuh. Meski penyakitnya kambuh, Rina tak pernah meninggalkan anak semata wayangnya itu. Kemana pun Rinawati pergi, anaknya selalu dibawa.

“Mungkin karena terlalu cinta pada anaknya itulah hingga dia ajak anaknya bunuh diri terjun ke Kali Brantas,” kata Karyati di rumah duka, Jumat (18/3).

Karyati mengaku tak tahu pemicu awal peristiwa itu. Namun dari anggota keluarga menyebutkan kalau Kamis (17/3) malam Rinawati mengajak anaknya keluar jalan kaki. Ketika sampai di tepi jalan raya, Rina memanggil ojek minta diantar ke rumah saudaranya di Dusun Cangkring, Desa Plosoarang, Kecamatan Sanan Kulon. Dalam perjalanan tiba-tiba Rina minta diturunkan di jembatan Trisula, Kecamatan Kademangan. Tanpa banyak bicara. Rina menuntun anaknya ke bibir jembatan. Tak lama kemudian, dengan menggendong Abidin Kusen, Rina terjun ke Kali Brantas. Arus deras pun menelan tubuh keduanya.

Sejumlah warga yang sedang memancing ikan di sekitar jembatan tak sempat mencegah perbuatan Rina. Mereka langsung memberi tahu pihak keluarga Rina. Sejumlah anggota keluarga, termasuk Kardi (32), suami Rina, mencari tubuh korban dengan menyusuri Kali Brantas.

“Baru Jumat dini hari ada informasi ditemukan jasad anak kecil hanyut di Kali Brantas di Desa Bloro, Tulungagung. Suami dan anggota keluarga langsung ke RSUD dr Iskak Tulungagung untuk memastikan jasad itu Abidin Kusen. Ternyata benar, dan langsung dibawa pulang untuk dimakamkan,” ucap Karyati. Sedangkan tubuh Rina belum ditemukan.

Suami Rinawati, Kardi (32) menyesali perbuatan Rina bersama anak semata wayangnya. Ia tak menyangka istrinya nekat berbuat seperti itu. “Doakan saja istri dan anak saya diterima di sisi Allah dan diampuni segala dosanya,” tutur Kardi.

Dari Kardi diperoleh keterangan, sebelum peristiwa itu terjadi pertengkaran antara dirinya dengan Rinawati. Saat itu keceplosan Kardi mengusir istrinya. Kamis (17/3) pagi, Rinawati pergi keluar dari rumah mengajak Abidin Kusen. Diakui, saat pergi dari rumah, penyakit kejiwaan istrinya juga sedang kambuh.

Pihak Polsek Kedungwaru telah melimpahkan kasus ini ke Polres Blitar. Namun, Kabag Humas Polres Blitar AKP Wisnu Wardhana mengatakan belum ada laporan tentang aksi bunuh diri ibu dan anak di jembatan Trisula, Kecamatan Kademangan, Blitar tersebut.
Sumber: Surya
Sabtu, 19 Maret 2011 | 0 komentar

Tambangan, Jejak Peradaban Brantas (2)

Rabu, 16 Maret 2011 | 08.40.00 | 0 komentar

Umumnya perahu penyeberangan yang disebut tambangan itu kecil saja sehingga hanya bisa menyeberangkan orang atau sepeda motor.

Namun ada juga yang berukuran cukup besar, sehingga bisa menyeberangkan mobil seukuran pikap ukuran kecil (Suzuki Carry 1.500 cc) atau Toyota Kijang, termasuk milik Nohan, pengelola tambangan.

Para penyeberang atau penumpang perahu ini adalah warga setempat yang memerlukan perjalanan lebih singkat dari Rejotangan (Tulungagung) ke Srengat (Blitar).

Sebenarnya kedua wilayah dihubungkan jalan raya Blitar Tulungagung, namun bagi pengguna tertentu cukup jauh jarak yang harus ditempuh jika mereka harus menyeberang lewat jembatan.

Sebab posisi jalan di lokasi ini membujur sejajar dengan posisi sungai. Jika orang hendak ke seberang sungai, maka harus berkendaraan menuju titik persinggungan sungai dan jalan berupa jembatan.

Selisih antara melewati jembatan dengan jarak jika naik perahu tambangan ini sampai 12 km. Untuk warga Rejotangan yang bekerja di Srengat di seberang dan menempuh perjalanan setiap hari, jarak itu terlalu jauh.

"Biaya menyeberang dengan tambang Rp 1.000 satu sepeda motor dengan satu pengemudi, atau Rp 1.500 jika ada pembonceng, cukup murah dibanding harus memutar lewat jembatan," tutur Huri (43), pengelola perahu tambang lainnya.

Organisasi kerjanya sederhana saja. Perahu tambang ini kini sepenuhnya merupakan kegiatan ekonomi. Perahu tambang dikelola sebuah kelompok yang bergiliran jaga, atau giliran kerja.

Lantaran banyaknya orang yang memerlukan pekerjaan dan nafkah, di perahu tambangan milik Huri misalnya, setiap orang peserta hanya mendapat giliran kerja tiga hari seminggu, dari tiga shift kerja 24 jam.

Ini agar semua mendapat kesempatan mencicipi rejeki perahu tambangan. Kelompok Nohan, bernama KT (Kelompok Tambangan) Margo Joyo, beranggotakan 11 orang.

Setiap shift ada tiga orang yang bekerja. Seorang mengendalikan dayung, sebagai kendali perahu. Dua orang lainnya, memegang tali, yang disebut tambang dalam Bahasa Jawa, dan menjadi asal nama tambangan itu.

Tali atau tambang inilah yang mengikat perahu, supaya perahu tak akan pernah bergeser dari tempatya. Ada dua tali. Satu yang berada sedikit di at as permukaan air, yang menjulur menyeberang sari sisi sungai satu ke sisi sungai lain. Berfungsi sebagai pegangan dua operator pendorong tenaga.

Satu tambang lainnya berupa kawat baja, yang berfungsi sebagai semacam rel, dengan roda yang terus berjalan b olak-balik sepanjang proses penyeberangan.

Kawat baja lainnya menghubungkan as roda dengan badan perahu. Ini menjadikan perahu tak pernah bergeser lokasinya, sehingga bisa merapat tempat ke lokasi dua dermaga di masing-masing sisi sungai.

Dewasa ini perahu-perahu yang semula dari bahan kayu, telah berganti dengan perahu besi. Badan perahu berlunas tunggal, bertindak sebagai semacam ponton.

Lambungnya dari bahan besi yang lebar, seperti struktur kapal feri roll on roll off (ro-ro). Baru sekitar setahun terakhir perahu ini dibuat, dengan biaya Rp 100 juta, dikerjakan di bengkel setempat.

Menurut Nohan, sebagai pemimpin kelompok, dirinya mewarisi bisnis ini dari ayahnya, yang kini karena sudah tua hanya sesekali ikut bekerja. Ayahnya itu, Pak To, juga mewarisinya dari kakek Nohan.

"Jadi ini turun temurun di keluarga kami. Selain ayah, kakak ipar saya juga bekerja disini. Jadi ini bisa disebut usaha keluarga, ditambah warga desa lainnya," kisahnya.

Artinya, perahu tambangan ini dengan demikian telah membentuk adaptasi teknologi, yang pasti amat berbeda dibanding teknologi tambangan zaman Majapahit. Namun ini tetap budaya yang sama dengan era itu. Adaptasi lainnya tentulah organisasi pengelolanya, yang kini berkembang sebagai usaha ekonomi kelompok warga.

Sungai Brantas yang diyakini sangat penting sebagai pilar dua peradaban di wilayah ini, kerajaan Singosari disusul Majapahit, pasti kegiatan tambangan ini dulunya merupakan alat transportasi utama.

"Ada teori yang mengemukakan perjalanan perahu di Sungai Brantas ini bahkan menyusuri sepanjang alur Brantas dari Blitar hingga Surabaya. Itu antara lain menjelaskan mengapa ada gambar relief perahu di Candi Penataran di Blitar," kata arkeolog Universitas Negeri Malang, Dwi Cahyono.

Tambangan ini seperti menjelaskan tanda tanya, mengapa pada relief candi yang berdiri di kaki Gunung Kelud itu bisa ada gambar perahu. Relief itu bukan sekedar gambaran perahu kecil seperti perahu tambangan ini, namun malah perahu dengan deretan pendayung berjumlah 12 orang berderet di tepian perahu, ditambah gambar layar di atas perahu.

"Jika kita melihat sisa peradaban perahu seperti saat ini, maka bisa jadi dulunya di atas Sungai Brantas ini adalah pelabuhan besar dengan kapal-kapal besar, dengan layar besar, dengan bobot mati hingga puluhan ton," kata Dwi.

Jangan-jangan pula, para keluarga pengelolanya saat ini masih berhubungan dengan orang-orang yang dulu bergelar wwang anambangi di era Majapahit. Tidak itu saja.

Di lokasi tambangan itu mudah dijumpai berbagai benda purbakala seperti lumpang batu yang berada di tepi sungai. Ini bisa membawa tafsir lebih luas, tentang peradaban di tepian Brantas.

Yakni, sebuah masyarakat agraris (lumpang batu, tanda alat pengolahan biji-bijian hasil panen), namun telah melakukan kegiatan produksi yang ditransportasikan hingga ratusan kilometer, boleh jadi sampai ke pesisir utara di pantai Surabaya masa kini. Pertanyaannya, lalu produksi apa yang ditransportasikan zaman itu?

Bila sungai sedang tenang, di siang hari yang terik, di atas air hening dan tenang, sungguh menyenangkan menaiki perahu tambangan ini.

Pengemudinya pasti bekerja sembari menyetel radio transistor yang memperdengarkan gending-gending gamelan Jawa dari siaran radio amatir di Blitar dan Tulungagung.

Mungkin Raja Hayam Wuruk pernah melintasi sungai ini naik perahu seperti yang sedang kita alami. Mungkin Ken Arok juga, bersama istrinya yang terkenal cantik itu, Ken Dedes. (Habis) [Sumber: KOMPAS.com
Rabu, 16 Maret 2011 | 0 komentar

Tambangan, Jejak Peradaban Brantas (1)

Budaya baru terbentuk menggantikan budaya lama. Tetapi di atas permukaan air Sungai Brantas di Kabupaten Blitar dan Tulungagung, Jawa Timur, masyarakat ternyata masih memanfaatkan kebiasaan kuno: menyeberang sungai dengan perahu.

Sungguh menarik mengamati betapa penyeberangan Sungai Brantas mengunakan perahu yang disebut tambangan, diyakini sudah ada sejak zaman Majapahit. Tambangan sebagai sarana transportasi telah melintasi ujian adaptasi sosial dan adaptasi teknologi selama sekian abad.

Musim hujan yang berkepanjangan tahun lalu dan berlanjut hingga sekarang (juga disebut cuaca ekstrim), menjadikan debit air Sungai Brantas kini lebih besar. Warga menyatakannya, banyune kimplêh-kimplêh. Air melimpah.

Arus air deras, meski tak sampai bergelora. Seperti halnya Sungai Bengawan Solo di Jawa, Sungai Brantas hilir di Blitar sudah membentuk dasar sungai yang dangkal melebar seperti piring, bukan berpalung berjurang seperti mangkuk.

Ini terjadi akibat proses aluviasi, terikutnya bahan-bahan sedimen gunung mendangkalkan dasar sungai. Meski deras dan dalam oleh karena debit yang besar, arus air tetap tenang. Air tidak bergolak seperti sungai-sungai semacam Pekalen Sampean di wilayah timur Jawa Timur sehingga bisa dijadikan arena olah raga arung jeram.

Namun, justru berakar pada kondisi struktur fisik sungai semacam inilah, tradisi dan kebudayaan menyeberang sungai dengan perahu tambangan ini bisa terbentuk. Tambangan ini tak mungkin dioperasikan di sungai dengan air yang bergolak-golak.

*** SITUS resmi Pemerintah Kabupaten Tulungagung tidak mengutip sumbernya, menyebutkan, di era Majapahit (abad ke-14 sampai dengan ke-15), peradaban masa itu telah mengelola dan menata kegiatan penyeberangan ini. Para tukang tambang zaman itu, disebut Wwanganambangi, telah diorganisasi dengan rapi.

Tidak itu saja. Salah satu sentra kegiatan tambangan di zaman ini berada di Desa Majang, Kecamatan Tulungagung, kata Suprijanto, di situs Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga, Pemerintah Kabupaten Tulungagung.

Bisa jadi ini berhubungan dengan istilah jenis perahu payangan yang hingga kini merupakan sebutan bagi nama perahu besar penangkap ikan di desa-desa nelayan pantai selatan Jawa.

Ada belasan jasa perahu tambangan masa kini yang masih tersisa namun beroperasi penuh. Di antaranya, di Desa Pundensari, Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung yang dioperasikan Nohan, laki-laki 30-an tahun, pemimpin kegiatan perahu tambangan ini yang dikelola sebuah kumpulan orang, sejenis kerjasama bisnis.

Tempat perahu ini beroperasi bisa ditemukan di ruas jalan raya Rejotangan, ruas jalan Blitar Tulungagung. Pada jarak tertentu di sepanjang jalan akan tampak papan pemberitahuan bergambar perahu, dan bertuliskan tambangan. Bisa ada tambahan tulisan, "24 Jam Roda 2 dan bisa ditambah Roda 4." (Bersambung) [Sumber: KOMPAS.com
| 0 komentar

Sungai Brantas Siaga Merah

Rabu, 28 April 2010 | 20.53.00 | 0 komentar

Kediri - Perusahaan Umum Jasa Tirta menetapkan status siaga merah atas peningkatan debit air Sungai Brantas. Sejak kemarin malam lonjakan debit air ini telah menghanyutkan empat perahu penambang pasir dan tiang penyangga jembatan.

Kepala Sub Divisi Jasa Air dan Sumber Air III/1 Wilayah Kediri Maryadi mengatakan peningkatan debit air Sungai Brantas saat ini cukup mengkhawatirkan. Sejak kemarin malam Perusahaan Umum Jasa Tirta yang membawahi 40 sungai di wilayah Tulungagung hingga Jombang ini menetapkan status siaga merah terhadap Sungai Brantas. “Terjadi peningkatan debit air yang sangat besar akibat curah hujan,” kata Maryadi kepada Tempo, Rabu (28/4).

Status peningkatan debit air itu terbagi dalam tiga kategori, yakni status hijau dengan jumlah debit air 0 – 800 liter per detik, status kuning 800 – 900 liter per detik, dan status merah dengan debit air di atas 1.000 liter per detik. Penetapan status siaga merah itu mulai ditetapkan Jasa Tirta sejak Selasa (27/4) malam.

Untuk mengantisipasi potensi banjir akibat kondisi ini, Jasa Tirta telah menempatkan pengawas piket di sejumlah pintu saluran air. Mereka bertugas mengontrol debit dengan pola alokasi air. Jika debit air sudah sangat mengkhawatirkan, petugas akan membuka pintu air sesuai kebutuhan.

Maryadi mengungkapkan peningkatan debit air ini merupakan dampak dari tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir. Peningkatan debit air itu sendiri telah menghanyutkan satu tiang penyangga jembatan yang menghubungkan kawasan Kota dengan Kabupaten Kediri di Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto. Karena tak mampu menahan batang bambu dan perahu penambang pasir yang hanyut, tiang tersebut terseret arus hingga membuat badan jembatan melengkung. “Empat perahu milik penambang juga hilang,” kata Darsono, 35, salah satu warga setempat.

Akibat kondisi tersebut warga memutuskan menutup jembatan tersebut. Selama ini jembatan tersebut telah menghubungkan kawasan Kelurahan Mrican, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri dengan Desa Jong Biru, Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri.

Perbaikan jembatan itu sendiri diperkirakan tidak bisa dilakukan dalam waktu dekat. Jasa Tirta baru bisa memulai perbaikan setelah musim kemarau tiba. Akibat penutupan jembatan itu seluruh pengguna jalan harus menempuh jalur memutar sejauh 10 kilometer. TEMPO Interaktif
Rabu, 28 April 2010 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan