Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label SURYA Online. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SURYA Online. Tampilkan semua postingan

Ratusan Pendekar PSHT Ngeluruk Polsek

Minggu, 27 Maret 2011 | 14.46.00 | 0 komentar

Tulungagung - Ratusan anggota Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT), Sabtu (26/3) pukul 09.30 WIB, mendatangi Polsek Bandung, Tulungagung. Para pendekar yang rata-rata berusia muda ini ingin menanyakan penanganan kasus teman mereka yang dibacok orang tak dikenal. Mereka menduga, polisi sengaja melepas pelaku yang sudah ditangkap.

Saat tiba dengan mengendarai puluhan sepeda motor, mereka disambut aparat Polres Tulungagung. Aksi dipimpin langsung Ketua Ranting PSHT Bandung, Slamet ini spontanitas, sebagai solidaritas terhadap Asrofi (25) yang dibacok orang.

Mereka prihatin, sebab hingga sekarang Polsek Bandung tidak pernah menangkap pelakunya. Bahkan, seorang pelaku yang ditangkap dilepas lagi tanpa alasan jelas. “Tak ada tawar menawar lagi, Kapolsek dan Kanit Reskrim harus pindah dari (Polsek) Bandung. Kami tidak mau ada yang bermain di balik kasus semacam ini,” ujarnya.

Kabag Ops Polres Tulungagung, Kompol Subagyo mengatakan, akan menampung aspirasi warga. “Sebagai aparat penegak hukum, kami tampung aspirasi ini. Yang terpenting, kami akan gali akar permasalahan dan coba menyelesaikan,” tegasnya.

Usai mendengar penjelasan polisi, massa membubarkan diri dengan tertib menuju rumah Asrofi di Desa Suruhan Kidul RT2/RW2, Kec Bandung. Saat menerima rekan-rekannya, Asrofi hanya bisa duduk di ruang tamu. Luka belum pulih. Lengan kiri dijahit. Menurut anak ke-2 dari 3 bersaudara ini, pembacokan terjadi, Senin (21/3) malam, sekitar pukul 21.00 WIB. st37 (Sumber: SURYA Online)
Minggu, 27 Maret 2011 | 0 komentar

Dewi Sartika Lolos Empat Besar

Kamis, 24 Maret 2011 | 18.09.00 | 0 komentar

Lamongan - Kelompok Komunikasi Masyarakat (KKM) Dewi Sartika Desa Keben Kecamatan Turi, berhasil lolos masuk empat besar Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) terbaik se Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) II Bojonegoro. Selanjutnya mereka mengikuti seleksi pada 29 Maret. Selanjutnya, pemenangnya akan mewakili Bakorwil Bojonegoro mengikuti Lomba Cerdik Komunikasi se Jatim dalam Pekan KIM yang akan dipusatkan di Kabupaten Tulungagung, Juli mendatang.

“Tiga tim lainnya yang lolos adalah KIM Batik Madrim dari Bojonegoro, KIM ASA Kabupaten Kediri dan KIM Mojopahit dari Kota Mojokerto. Tentunya akan menjadi kebanggan tersendiri jika KKM Dewi Sartika mampu menjadi wakil Bakorwil Bojonegoro di tingkat Jatim, “ ujar Kabag Humas dan Infokom Anang Taufik, Rabu (23/3).

Keberhasilan KKM Dewi Sartika, setelah lolos seleksi administrasi dan kemampuan Teknologi Informasi (TI) oleh panel juri yang diketuai Isrowi Farida dari Diskominfo Jatim. Terkait kemampuan TI tersebut, KKM Dewi Sartika diharuskan menyajikan aktifitasnya dalam media web log atau yang umum dikenal dengan blog.

KKM Dewi Sartika beranggotakan Romlah, Suhartini Fitri Y, Sumarwan dan Prima Agung. Selama ini, mereka berperan melakukan pembinaan pada sejumlah industri rumah tangga di Kecamatan Turi. Termasuk sebagai pelopor KKM yang memberikan penyuluhan di bidang pertanian. [Sumber: SURYA Online]
Kamis, 24 Maret 2011 | 0 komentar

Rp 1 Miliar Hanya Berumur 3 Bulan

Senin, 21 Maret 2011 | 10.00.00 | 0 komentar

Tulungagung - Embung atau bendungan kecil yang dibangun untuk menampung air dari Gunung Budheg, Dusun Glodokan, Desa Pucung Kidul, Kecamatan Boyolangu, baru 3 bulan difungsikan, sudah bocor di beberapa bagian.

Embung ini difungsikan untuk mengaliri sawah di Pucung Kidul dan sekitarnya. Embung dibangun dengan biaya APBN tahun 2010 Rp 1.141.283.000 dan dikerjakan Balai Besar Wilayah Sungai Brantas.

Proyek ini dikerjakan dalam waktu tiga bulan, dengan panjang bendungan kurang lebih 50 meter. Bagian tanggul paling bawah selebar 6 meter dan bagian permukaan tanggul selebar 4 meter.

Menurut warga setempat, Sardi (46), sekitar tiga minggu tanggul embung jebol ketika turun hujan lebat, sehingga embung penuh dengan air. Saat itulah tanggul bagian barat pintu air tak kuat dan jebol.

Saat dikonfirmasi, Pejabat Pembuat Komitmen Daerah Aliran Sungai Brantas Tulungagung, Bonari mengaku tidak terlibat proyek tersebut. Meski berada dalam satu lembaga, Embung Godokan dikerjakan oleh Pemberdayaan dan Konservasi Sumber Daya Air (PKSA) Balai Besar Brantas, yang berkedudukan di Kediri.

Bonari mengaku sudah menerima laporan adanya kebocoran di embung yang baru selesai dikerjakan tersebut. “Ini bukan kewenangan saya. Proyek langsung dikerjakan oleh PKSA Kediri,” ujarnya. Pihak PKSA gagal dihubungi wartawan melalui telepon. Sumber: SURYA
Senin, 21 Maret 2011 | 0 komentar

Obati Stroke Ibu, Atlet Lari Tulungagung Pindah ke Bantul

Minggu, 20 Maret 2011 | 19.21.00 | 0 komentar

Tulungagung - Tri Lutfiati Khasanah (27) adalah atlet lari berprestasi asal Tulungagung. Merasa tak diperhatikan, Tri memilih pindah menjadi atlet di Bantul, Jogjakarta. Alasannya, Tri butuh biaya lebih untuk mengobatkan ibunya yang kena stroke.

Nama Tri Lutfiati Khasanah tak bisa dilepaskan dari ajang olahraga Jatim Open. Sejak 2005, putri ke-3 pasangan Katijan (65) dan Ny Rubiyatin (60) ini selalu ikut even lari, mewakili Tulungagung. Pada 2005, ia menyabet perunggu untuk lari gawang 100 meter. Pada 2006, meraih perunggu di nomor yang sama. Setelah vakum pada 2007 karena tipus, pada 2008 ia meraih perunggu untuk nomor 400 meter gawang. Tri juga sempat ikut serta di Kejurnas atletik, meski gagal meraih prestasi.

Sembilan bulan silam Tri memilih pindah ke Bantul. Ibunya sakit stroke. Ia butuh dana untuk mengobatkan sang ibu. Apalagi, ayahnya hanya bekerja sebagai tukang angkut sampah. “Ibu saya sempat harus menjalani perawatan hingga 3 kali di RS,” ceritanya, Sabtu (19/3).

Saat Tri terjepit masalah, datang tawaran dari KONI Bantul. Ia diajak bergabung. Pihak KONI Bantul juga siap membantu biaya perawatan ibunya. Berkat bantuan itu, Ny Rubiyatin sembuh. Meski tubuh bagian kiri masih sulit digerakan, namun sudah beraktivitas seperti semula.

Tri mulai menekuni lari sejak kelas IV SD, diasuh pelatih atletik Dwitoyo. Ia sempat berlatih bersama Yongki Aribowo, striker timnas sepakbola dan Arema Indonesia. Namun, Yongki beralih menekuni sepakbola.

Di Bantul, Tri menjadi anggota Bantul Athletic Club (BAC) yang khusus menggembleng atlet dengan agenda terprogram. “Saya tengah bersiap menghadapi kejurnas. Ini even besar pertama setelah saya ke Bantul,” pungkas Tri.st37 Sumber: SURYA Online
Minggu, 20 Maret 2011 | 0 komentar

Ipul Dikerumuni 75 Bidan

Tulungagung - Wagub Saifullah Yusuf yang akrab disapa Gus Ipul, Sabtu (19/3), menemui 75 bidan di Tulungagung terkait pencanangan program sertifikasi bidan.

Menurut Gus Ipul, bidan adalah ujung tombak pembangunan kesehatan di desa-desa. “Sudah selayaknya kita dukung sertifikasi untuk meningkatkan kemampuan dan kesejahteraan bidan,” ujar Gus Ipul disambut tepuk tangan hadirin.

Gus Ipul menunjuk Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Tulungagung Triswati Wibowo sebagai penyusun draf yang akan dipakai mengajak bidan dari Trenggalek, Blitar dan Kediri melakukan gerakan massal menuntut adanya sertifikasi bidan.

Ditargetkan, 24 Juni 2011, bersamaan hari bidan, para bidan dari 4 kota ini siap meluncurkan program sertifikasi. Tulungagung ditetapkan sebagai leading sector dan akan menular ke kabupaten lain di Jatim.

Di luar program sertifikasi, Triswati Wibowo selaku ketua IBI Tulungagung juga mengeluhkan program pemerintah pusat jaminan persalinan (jampersal). Program ini menanggung biaya persalinan seluruh ibu hamil, tanpa terkecuali. Hanya saja, biaya yang ditetapkan per persalinan hanya Rp 350.000, baik persalinan normal maupun dengan operasi. Jampersal juga melarang adanya pungutan dalam bentuk apapun, di luar klaim Rp 350.000.

Padahal, untuk persalinan normal diperlukan biaya setidaknya Rp 600.000. Kondisi ini dikeluhkan para bidan lantaran tidak ada sumber dana lain untuk menutup kekurangan biaya persalinan.

Gus Ipul mengaku belum paham program jampersal. Namun ia berjanji akan mencarikan solusi terbaik, agar para bidan tidak dirugikan. Salah satunya dengan menjajaki kemungkinan sharing dana pemprov untuk menutup kekurangan itu.st37 Sumber: SURYA Online
| 0 komentar

Di Blitar, Ibu Ajak Balitanya Bunuh Diri | Suami Terjun ke Laut di Depan Istri & Anaknya

Sabtu, 19 Maret 2011 | 12.57.00 | 0 komentar

SUMENEP - Jawa Timur seperti tiada hari tanpa aksi bunuh diri. Hanya sehari terjadi dua peristiwa bunuh diri menelan tiga korban jiwa. Di Sumenep, seorang lelaki menerjunkan diri ke laut. Tragisnya, aksi itu dilakukan di depan istri dan anak-anaknya. Sedangkan di Blitar, seorang ibu mengajak balitanya bunuh diri terjun ke Kali Brantas.

Peristiwa di Sumenep dilakukan oleh Saing (51), warga Desa Sakala, Kecamatan Sapeken. Diduga frustrasi akibat penyakitnya tak kunjung sembuh, Saing nekat mengakhiri hidup dengan terjun ke laut sewaktu dalam pelayaran, Kamis (17/3). Tubuh Saing pun hilang ditelan ombak, dan hingga Jumat (18/3) malam belum ditemukan.

Tragisnya, korban terjun ke laut melalui jendela kapal yang ditumpanginya, disaksikan istrinya, Sumiati (45) dan ketiga anaknya.

Berdasarkan informasi dari nakhoda kapal, Mulyadi (40), Kamis (17/3) sekitar pukul 14.00 WIB korban bersama istri dan tiga anaknya menumpang Kapal Motor (KM) Monika Indah dari Pelabuhan Kalianget Sumenep tujuan Kecamatan Sapeken, Sumenep. Korban yang sedang sakit menyewa kamar kapal dengan didampingi istrinya. Sedangkan anaknya di dek kapal.

Pukul 16.00 WIB KM Monika Indah lepas jangkar menuju Sapeken. Saing hanya berbaring di kamar didampingi istrinya, Sumiati. Setelah menempuh perjalanan sekitar 8 jam, kapal telah melintasi Pulau Raas, Kecamatan Raas, Sumenep. Dinginnya malam membuat para penumpang rebahan di tempatnya, termasuk istri dan anak-anak Saing. Posisi beberapa anak buah kapal (ABK) menyebar di dek dan buritan kapal.

Rupanya saat keluarganya dan para penumpang sudah cukup penat menempuh perjalanan, Saing merencanakan aksi nekatnya. “Pada saat istri dan anak-anaknya sedang rebahan itulah, korban melompat ke laut melalui jendela kapal,” kata Mulyadi.

Sumiati pun terkaget-kaget. Ia menjerit sekencang-kencangnya, sontak membuat tiga anaknya segera masuk kamar. Namun, mereka tak mampu berbuat apa-apa. Sumiati dan anak-anaknya hanya sempat melihat kaki Saing menapak di jendela sebelum terjun dan lenyap ditelan ombak.

Mengetahui itu, jeritan Sumiati makin keras, sehingga membuat beberapa ABK mendekat. Kapal sempat berhenti, beberapa ABK kemudian mencari tubuh korban di lautan, namun nihil. “Sepertinya tubuh korban digulung ombak. Apalagi saat kejadian, ombak mencapai 2 hingga 3 meter,” kata Mulyadi.

Mulyadi lalu menghubungi Polsek Raas sebagai polsek terdekat. Namun, karena cuaca laut membahayakan, bantuan dari daratan terdekat tak kunjung datang. Sejumlah perahu nelayan yang ikut membantu mencari korban juga tidak berhasil.

Jumat (18/3) pagi, beberapa petugas Polsek Raas bersama beberapa kapal nelayan melakukan pencarian. Namun hingga Jumat malam, tubuh korban tak ditemukan. ”Kemungkinan korban sudah terseret ombak,” ujar Kapolsek Raas, Iptu Sudjito.

Begitu juga Kapolsek Sapeken AKP Turmudzi yang datang ke lokasi kejadian mengatakan belum ada tanda-tanda tubuh korban bisa ditemukan. “Apalagi proses pencarian sering terhalang ombak tinggi,” ujar Turmudzi.

Pihaknya akan terus mencari bersama petugas Polsek Raas. Ia berharap masyarakat dan nelayan yang menemukan korban, segera lapor ke polsek terdekat.

Keponakan korban, Mohammad Ali, mengungkapkan pamannya itu lama mengidap penyakit tak kunjung sembuh. Kendati telah beberapa kali diobati melalui medis, tabib hingga paranormal, penyakitnya tak kunjung sembuh. “Kata dokter ia mengidap penyakit empedu yang memerlukan pengobatan agak lama,” kata Ali yang juga anggota DPRD Sumenep, Jumat (18/3).

Dikatakan, sejak satu bulan lalu pamannya berobat ke RSU Dr Soetomo Surabaya. Namun karena tidak ada perkembangan berarti, korban memutuskan pulang dan pindah berobat ke tabib di Kecamatan Seronggi. Karena tak sembuh juga, ia memutuskan pulang ke Sapeken. “Mungkin juga karena sudah banyak biaya dikeluarkan, hingga kondisi rumah tangganya kini sangat memprihatinkan,” pungkasnya.

Karena Stres dan Diusir

Sementara itu, gara-gara diusir suami dan stres kambuh, Rinawati (27), warga Cabean, Kelurahan Plosokerep, Kecamatan Sanan Wetan, Kota Blitar, nekat mengajak anak balitanya, Abidin Kusen (4) bunuh diri terjun ke Kali Brantas yang arusnya cukup deras, Kamis (17/3).

Akibatnya, tubuh ibu dan anak langsung lenyap terbawa arus. Baru Jumat (18/3), jenazah Abidin Kusen ditemukan di Kali Brantas, Desa Bloro Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Sedangkan tubuh ibunya belum ditemukan.

Menurut bibi korban, Karyati, kejadian itu dikarenakan penyakit gangguan jiwa Rinawati yang diderita lima bulan terakhir kambuh. Meski penyakitnya kambuh, Rina tak pernah meninggalkan anak semata wayangnya itu. Kemana pun Rinawati pergi, anaknya selalu dibawa.

“Mungkin karena terlalu cinta pada anaknya itulah hingga dia ajak anaknya bunuh diri terjun ke Kali Brantas,” kata Karyati di rumah duka, Jumat (18/3).

Karyati mengaku tak tahu pemicu awal peristiwa itu. Namun dari anggota keluarga menyebutkan kalau Kamis (17/3) malam Rinawati mengajak anaknya keluar jalan kaki. Ketika sampai di tepi jalan raya, Rina memanggil ojek minta diantar ke rumah saudaranya di Dusun Cangkring, Desa Plosoarang, Kecamatan Sanan Kulon. Dalam perjalanan tiba-tiba Rina minta diturunkan di jembatan Trisula, Kecamatan Kademangan. Tanpa banyak bicara. Rina menuntun anaknya ke bibir jembatan. Tak lama kemudian, dengan menggendong Abidin Kusen, Rina terjun ke Kali Brantas. Arus deras pun menelan tubuh keduanya.

Sejumlah warga yang sedang memancing ikan di sekitar jembatan tak sempat mencegah perbuatan Rina. Mereka langsung memberi tahu pihak keluarga Rina. Sejumlah anggota keluarga, termasuk Kardi (32), suami Rina, mencari tubuh korban dengan menyusuri Kali Brantas.

“Baru Jumat dini hari ada informasi ditemukan jasad anak kecil hanyut di Kali Brantas di Desa Bloro, Tulungagung. Suami dan anggota keluarga langsung ke RSUD dr Iskak Tulungagung untuk memastikan jasad itu Abidin Kusen. Ternyata benar, dan langsung dibawa pulang untuk dimakamkan,” ucap Karyati. Sedangkan tubuh Rina belum ditemukan.

Suami Rinawati, Kardi (32) menyesali perbuatan Rina bersama anak semata wayangnya. Ia tak menyangka istrinya nekat berbuat seperti itu. “Doakan saja istri dan anak saya diterima di sisi Allah dan diampuni segala dosanya,” tutur Kardi.

Dari Kardi diperoleh keterangan, sebelum peristiwa itu terjadi pertengkaran antara dirinya dengan Rinawati. Saat itu keceplosan Kardi mengusir istrinya. Kamis (17/3) pagi, Rinawati pergi keluar dari rumah mengajak Abidin Kusen. Diakui, saat pergi dari rumah, penyakit kejiwaan istrinya juga sedang kambuh.

Pihak Polsek Kedungwaru telah melimpahkan kasus ini ke Polres Blitar. Namun, Kabag Humas Polres Blitar AKP Wisnu Wardhana mengatakan belum ada laporan tentang aksi bunuh diri ibu dan anak di jembatan Trisula, Kecamatan Kademangan, Blitar tersebut.
Sumber: Surya
Sabtu, 19 Maret 2011 | 0 komentar

Bapak Suka Perkosa Anak | Lapor malah Jadi Tersangka

Selasa, 15 Maret 2011 | 13.21.00 | 0 komentar

Tulungagung - Niat Budi Suyitno (40) melaporkan Dicky (18) dengan tuduhan telah menyetubuhi anaknya menjadi bumerang baginya. Warga Desa Gamping, Kecamatan Campurdarat itu justru ditetapkan sebagai tersangka perkosaan anak di bawah umur.

Sebab, berdasar pengakuan anaknya, Lis (17), ayahnya telah memerkosanya sejak masih berusia 12 tahun. Bahkan perbuatan bejat tersebut biasa dilakukan di depan adiknya yang masih kecil.

Budi datang ke Polres Tulungagung, Minggu (13/3) pukul 20.00 WIB, melaporkan Dicky yang disebutnya telah memperkosa Lis dengan terlebih dulu dicekoki minuman keras.

Atas laporan tersebut, Lis diperiksa polisi dan divisum. Dari situlah ketahuan, jika Lis bukan pertama kali disetubuhi. Saat dimintai keterangan polisi, Lis membatah sudah diperkosa oleh Dicky. Kepada polisi, Lis justru mengaku telah diperkosa oleh ayahnya sendiri, Budi Suyitno.

Untuk menguatkan pengakuannya, Lis langsung membuat laporan perkosaan yang dilakukan oleh ayahnya. Bahkan Lis mengaku, sudah diperkosa oleh Budi sejak berumur 12 tahun, saat masih kelas 6 SD. Dua tahun setelah kedua orangtuanya bercerai di tahun 2004, Lis pertama kali diperkosa ayahnya. Sejak saat itu hari-hari Lis menjadi kian muram, sebab setiap saat harus melayani Budi.

Meski peristiwa tersebut tidak diketahui orang, namun membuatnya minder. Saat masuk SMP, rasa malunya pada orang kian memuncak dan membuatnya memilih untuk berhenti sekolah. Namun, pilihannya tersebut justru membuat Budi kian leluasa melampiaskan nafsu setannya. Tak jarang lelaki yang berprofesi sebagai sopir tersebut menyetubuhi Lis di depan kedua adiknya.

Perlakuan Budi yang menjadi pemandangan adik-adiknya itulah yang membuat Iko (16), adik tertua Lis menjadi berlaku cabul. Iko dilaporkan memerkosa teman sekolahnya, dan kini sudah menjadi tersangka serta ditahan di Polres Tulungagung. Sementara Keke (11), yang masih kelas 5 SD menjadi cepat dewasa. Pembawaan Keke sudah layaknya orang dewasa dan fisiknya pun berkembang melebihi anak-anak seusianya.

Kepada wartawan, Lis mengaku sangat lega bisa berada di kantor polisi. Sebab, selama ini Lis mengaku ingin melaporkan bapaknya, namun tidak pernah punya keberanian. Bahkan Lis mengaku sudah tidak merasa malu dan minder dengan masa lalunya. Namun, remaja berkulit hitam manis ini berharap ayahnya dipenjara dan dijauhkan dari dirinya dan adik-adiknya.

Menurut KBO (Kepala Bagian Operasional) Satuan Reserse dan Kriminal Polres Tulungagung, IPTU Siswanto, Budi langsung ditangkap setelah memberikan keterangan atas laporannya. Kini, bapak tiga anak itu sudah ditetapkan jadi tersangka atas laporan Lis. Dari keterangan beberapa saksi dan bukti yang dikumpulkan polisi sudah menguatkan, jika Budi memang melakukan tindakan pencabulan terhadap anaknya.

“Usai melapor, dia (Budi) langsung ditangkap dan disidik atas pengakuan anaknya. Tim kami langsung bergerak mencari bukti dan saksi serta menangkap tersangka,” terang Siswanto. Namun, Dicky yang dilaporkan Budi juga turut diproses, meski belum berstatus tersangka.st37 (Sumber: SURYA Online)
Selasa, 15 Maret 2011 | 0 komentar

Perampok Satroni Juragan Ikan
Uang Masjid Ikut Dirampas

Sabtu, 12 Maret 2011 | 16.17.00 | 0 komentar

Tulungagung - Kawanan perampok bersenjata tajam beraksi di rumah suami istri Malik (48) dan Maria (45), pedagang ikan gurami di Desa Tanjungsari, Kecamatan Boyolangu, Jumat (11/3) pukul 02.00 WIB dini hari.

Kawanan berjumlah 10 orang tersebut menyekap seluruh penghuni. Mereka berhasil menggasak sejumlah uang dan perhiasan, serta barang elektronik dari rumah Malik.

Antara lain Rp 11 juta uang kas masjid, karena Malik bendahara takmir masjid setempat, emas senilai Rp 17 juta, uang Rp 50 juta, empat buah BPKB sepeda motor, dan satu laptop merk Acer senilai 5 juta.

Maria menuturkan, pada saat kejadian dia dan suaminya, serta tiga anak laki-lakinya tengah tertidur. Maria terbangun lantaran mendengar salah satu anaknya menangis. Merasa aneh dengan tangisan tersebut, Maria bangun hendak memeriksa.

Alangkah terkejut Maria, sebab di ruang tengah sudah banyak lelaki memakai penutup wajah dan sebagian menggenggam senjata tajam. Orang-orang tak dikenal tersebut juga sudah menyekap ketiga anaknya serta melakban mulut mereka.

Mereka menodongkan senjata ke arah Maria, lalu nasibnya sama seperti ketiga anaknya. Maria dan Malik lalu diikat dan dilakban mulutnya. Satu keluarga ini lalu dimasukan ke dalam kamar, sementara kawanan pencuri bebas beraksi.

Para perampok kemudian mengobrak-abrik setiap isi lemari, mencari uang dan benda-benda berharga. Setelah lama mengobrak-abrik isi rumah, kawanan perampok berhasil menemukan sejumlah uang dan perhiasan.

Perampok juga menyikat barang elektronik, seperti TV dan peralatan audio. Meski sudah mendapatkan jarahannya, mereka masih sempat menganiaya Malik. Dalam kondisi dilakban mulut dan matanya, Malik dipukul dengan palu hingga kepalanya bocor.

Setelah yakin para perampok sudah pergi, Maria berusaha melepaskan lakban di mulutnya. “Saya sudah ketakutan karena suami saya kepalanya berdarah. Sambil saya gesek-gesekan, akhirnya lakban di mulut saya terbuka dan saya berteriak minta tolong,” katanya.

Mendengar teriakan Maria, warga kemudian datang dan membebaskan keluarga ini. Mereka kemudian meneruskan laporan ke Polres Tulungagung. Polisi yang datang kemudian, segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).

Kapolres Tulungagung, AKBP Heri Wahono yang memimpin olah TKP mengatakan, para pelaku sudah mengamati korban cukup lama. Mereka sangat paham dengan kondisi seluk beluk rumah, dan masuk dengan sangat mudah melalui jendela samping, dengan cara mencongkel. Mereka kemudian menyekap penghuni rumah dan menguras harta bendanya. Pelaku diduga mengendarai mobil.

“Kami sudah mengantongi ciri-ciri pelaku berdasarkan keterangan korban. Kemungkinan para pelaku bukan berasal dari Tulungagung,” terangnya. st37 (Sumber: SURYA Online)
Sabtu, 12 Maret 2011 | 0 komentar

Curi Cabe Tetangga, Dikeroyok Petani di Sawah

Kamis, 10 Maret 2011 | 10.43.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Wasis (23), warga Dusun Rowocubeng, Desa Tanen Kecamatan Rejotangan dihajar beramai-ramai oleh para petani setempat karena ketahuan mencuri cabe, Rabu (9/3) sekitar pukul 11.00 WIB.

Tertangkapnya Wasis bermula dari keluhan Basirin (41) yang tak lain tetangga Wasis, yang kerap kehilangan cabe di sawahnya. Cabe-cabe yang sudah siap panen, tiba-tiba raib dicuri orang. Bersama beberapa warga setempat, Basirin lalu melakukan pengintaian di sawahnya.

Setelah beberapa saat ditunggu, muncul Wasis sambil membawa sebuah tas plastik warna hitam. Dengan mengendap-endap, Wasis lalu memetik cabe rawit hijau yang siap panen. Yakin jika pelakunya selama ini adalah Wasis, Basirin bersama warga segera menyergap Wasis. Penangkapan Wasis mengundang petani-petani lain untuk datang dan ikut menggebuki Wasis.

Bersama 2 kilogram cabe yang baru dipetiknya, Wasis lalu diserahkan ke Polsek Rejotangan. “Sengaja kami tunggu sampai dia memetik cabai agak banyak, untuk barang bukti ke kepolisian,” ujar Basirin.

Di kantor polisi, Wasis tak sanggup mengelak atas perbuatannya. Dengan terus terang, petani satu anak ini mengaku kerap mencuri cabe milik warga, lantaran tergiur harganya yang masih tinggi. Cabe hasil curiannya dijual di toko sembako milik Karim, di Kecamatan Rejotangan. Biasanya dijual dengan harga Rp 85.000 per kilogram.

Hasil penjualannya digunakan untuk keperluan hidup sehari-hari. “Saya memang sering mencuri cabe, tapi baru kali ini saya ketahuan,” akunya.

Kasi Humas Polsek Rejotangan, Aiptu Nampri menjelaskan, Wasis langsung ditahan untuk proses hukum lebih lanjut. Polisi juga menyita 2 kilogram cabe yang dicuri dari sawah Basirin sebagai barang bukti. warga. Polisi kini masih menyelidiki apakah Wasis pelaku tunggal.st37

Sumber: SURYA Online
Kamis, 10 Maret 2011 | 0 komentar

Derita Ely Choiryah di Tanah Kaya Minyak (2-habis)
Jelang Kontrak Habis Ditelantarkan di Tengah Pasar

TULUNGAGUNG - Ely Choiryah (25), tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Kepuhrejo, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, yang bertahun-tahun disiksa majikannya di Arab Saudi tak surut menuntut haknya meski sekarang sudah pulang ke Tanah Air.

Ely tidak mau menyerah. Meski saat ini dia telah kembali ke Indonesia dan berkumpul dengan keluarganya di Dusun Cakruk, Desa Kepohrejo, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Ely mengaku tetap akan menuntut hak gajinya yang tidak dibayarkan selama kurun waktu empat tahun tiga bulan.

Caranya, Ely bakal mengadukan nasibnya ke Dinas Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Sosial (Disnakertransos) Tulungagung, dengan harapan pemerintah daerah melalui Disnakertransos bisa mengupayakan pertanggungjawaban ke PJTKI yang memberangkatkan Ely ke Arab Saudi (PT Alfina Mas Buana, Jakarta).

“Saya sudah melapor ke dinas tenaga kerja dan dijanjikan masalah ini akan diusut tuntas. Katanya Pak Parjono (tekong) yang dulu membantu saya berangkat akan dipanggil terlebih dahulu untuk dimintai keterangan,” kata Ely bersemangat, Selasa (8/3/2011).

Selain itu, proses hukumnya di pengadilan negeri di Jedah, Arab Saudi tersebut juga masih terus berjalan. Namun, Ely mengaku tidak terlalu yakin bisa memenangi gugatan perdatanya terhadap keluarga majikannya yang diidentifikasi bernama Khalil Hayat (majikan laki-laki).

Selain sudah tidak hadir atau berada di lokasi persidangan, munculnya “serangan balik” yang dilancarkan kubu majikan membuat dia pesimis putusan perkara tersebut dimanipulasi untuk memenangkan warga lokal.

“Tapi saya tetap berharap bisa menang. Bukan apa-apa, saya hanya ingin (hak) gaji saya diberikan, itu saja dan tidak lebih,” ujarnya pasrah.
Ely Choiryah sebenarnya memiliki kesempatan untuk melakukan gugatan pidana kepada kedua majikannya. Hal itu tidak lepas dari perlakuan kasar dan berbagai tindakan kekerasan fisik yang kerap diterima Ely dua tahun terakhir mengabdi di keluarga Arab yang memiliki sembilan anak ini.
Ia mengaku, dalam sebulan bisa menerima perlakuan tidak manusiawi antara lima hingga sepuluh kali. Berbagai tindak kekerasan pernah dialaminya, mulai dari pemukulan biasa menggunakan tangan, ditendang, bahkan hingga disiram menggunakan satu termos air panas.

Tidak jelas
Alasan kemarahan sang majikan selalu tidak jelas. Mereka selalu memukul tiap kali merasa pekerjaan Ely tidak benar atau tidak sesuai dengan selera kepuasan hati mereka.
Berbagai tindak kekerasan itu menyisakan luka membekas di sekujur tubuh Ely. Ia bersaksi, kondisi serupa juga dialami pembantu dari Pakistan yang juga bekerja di rumah keluarga Khalil Hayat.

“Tapi kami tidak pernah bisa saling berkomunikasi. Sama majikan dilarang, bahkan kami tidak pernah bisa keluar rumah apalagi memberi kabar ke keluarga di Tanah Air,” terang dia.
Karena tak berani melawan, Ely hanya bisa pasrah, termasuk masalah gajinya yang selalu dijanjikan baru akan diberikan setelah masa kontrak kerja selesai.

Namun janji itu palsu belaka. Begitu kontrak kerjanya di Arab Saudi telah berakhir, sang majikan yang sebelumnya tidak pernah mengizinkan dia keluar rumah tiba-tiba mengajaknya belanja di sebuah pasar. Di tempat asing itulah kemudian Ely mengaku ditinggal sendirian tanpa pernah dijemput kembali.

Dia baru sadar telah “dibuang” setelah seorang sopir taksi berkewarganegaraan Indonesia menghampirinya dan mengatakan dirinya telah ditelantarkan oleh sang majikan.
“Supir taksi yang orang Indonesia ini lalu mengantarkan saya ke KJRI. Kejadiannya sekitar 13 Maret 2010 lalu, saya sempat bertahan dan mengajukan gugatan itu hingga akhirnya ada kebijakan pemutihan bagi TKI di Arab Saudi,” tutur Ely didampingi salah satu bibinya, Situn.

Sumber: SURYA Online
| 0 komentar

Derita Ely Choiryah di Tanah Kaya Minyak (1)
Menuntut Gaji Malah Diminta Ganti Rugi

Rabu, 09 Maret 2011 | 22.40.00 | 2 komentar

Seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Desa Kepuhrejo, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, Ely Choiryah (25), mengaku disiksa bertahun-tahun oleh majikannya di Arab Saudi sebelum akhirnya dibuang ke sebuah pasar tanpa mendapat bayaran sepeserpun.

Ely di Tulungagung, Selasa (8/3/2011), mengaku akhirnya bisa pulang ke Indonesia setelah ada program pemulangan TKI gratis oleh pemerintah melalui Konsulat Jenderal RI di Arab Saudi, sekitar akhir Februari.

“Saya sempat bertahan selama hampir setahun di KJRI untuk memperjuangkan hak gaji saya yang tidak pernah diberikan oleh majikan sejak pertama masuk kerja empat tahun silam,” tutur Ely.

Sayang, usaha itu tak kunjung membuahkan hasil. Ely mengatakan dirinya sempat mengikuti tiga kali sidang di pengadilan tingkat distrik di Kota Jedah dengan didampingi staf KJRI.

Namun, bukannya segera mendapat putusan yang adil, anak tunggal pasangan Mamik-Jaelani ini justru dituntut balik oleh keluarga majikannya dengan tuduhan melanggar kontrak dan bekerja di tempat lain.

“Katanya di hadapan majelis hakim, saya tidak pernah bekerja di keluarga mereka, yang sidang ketiga saya malah dituntut membayar ganti-rugi karena dituduh melarikan diri dan bekerja di tempat lain,” ujarnya.

Sumber: surya.co.id
Rabu, 09 Maret 2011 | 2 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan