Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label pertanian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertanian. Tampilkan semua postingan

Petani Tulungagung Uji Coba Padi Organik Jepang

Selasa, 23 September 2014 | 20.35.00 | 1 komentar

Tulungagung - Seorang petani di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, saat ini tengah melakukan uji coba varietas baru padi organik dari Jepang yang diklaim memiliki kualitas lebih baik daripada produk beras organik lokal.

"Percobaan ini kami lakukan atas inisiatif Kedutaan Besar Jepang di Indonesia melalui program pertanian padi organik dari negeri Matahari Terbit tersebut di Tanah Air," ujar penggiat pertanian organik di Kabupaten Tulungagung, Budiono, Selasa. Read More

Sumber: antarajatim.com | 23 Sept 2014
Selasa, 23 September 2014 | 1 komentar

Dinas Pertanian Tulungagung Perluas Areal Tanam Kedelai

Sabtu, 28 Juli 2012 | 20.29.00 | 0 komentar

Tulungagung - Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, terus berupaya memacu produksi kedelai di wilayahnya, di antaranya dengan memperluas areal tanam dari 5.040 hektare pada tahun 2011, menjadi 6.788 hektare pada tahun 2012.

"Perluasan areal tanam kedelai ini terutama kami arahkan melalui pemanfaatan atau pengelolaan lahan hutan bersama masyarakat (PHBM)," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Tatang Suhariyanto, Sabtu.

Dari target luasan lahan tanaman kedelai tahun 2012 tersebut, dia berharap produksi kedelai lokal yang dihasilkan bisa mencapai 11.469 ton.

Tatang optimistis target tersebut tercapai setelah mengevaluasi hasil produksi selama dua periode musim panen kedelai, yakni periode Februari-Maret dan Mei-Juni 2012.

Tatang tak menyebut produktivitas kedelai selama dua kali periode panen tersebut, namun ia memastikan total volume produksi jenis tanaman kacang-kacangan tersebut telah mencapai lebih dari separuh target yang dipatok dinas pertanian, yakni sekitar 6 ribu ton lebih.

"Tahun lalu (2011), dari target produksi kedelai sebesar 9.947 ton tercapai 11.425,35 ton. Hanya tahun 2010 yang (target) meleset jauh, itu karena faktor anomali cuaca," katanya.

Di Kabupaten Tulungagung, perluasan areal tanam komoditas pertanian kedelai terutama diproyeksikan di daerah-daerah nondataran, seperti di Kecamatan Sendang, Pagerwojo, Gondang, serta Karangrejo.

Pemilihan daerah yang meiliki topografi berbukit dan bergunung itu selain faktor keberadaan hutan negara yang memiliki potensi untuk dikelola dengan sistem PHBM, cuaca dan kesuburan tanahnya dinilai sangat mendukung pertanian kedelai.

Pihak dinas pertanian dalam hal ini tidak sekedar 'memprovokasi" masyarakat agar lebih berorientasi menanam komoditi kedelai untuk kepentingan swasembada nasional bahan baku pembuat tempe dan tahu tersebut, tetapi juga dengan memberikan bantuan stimulan berupa benih kedelai secara gratis kepada para petani.

"Kami juga memberikan penyuluhan mengenai tata pertanian kedelai secara tumpang sari di lahan-lahan perhutani," katanya menambahkan. (*)

Sumber: antarajatim.com | 28 Jul 2012
Sabtu, 28 Juli 2012 | 0 komentar

Petani Tulungagung tak menikmati kenaikan harga kedelai

Tulungagung - Sejumlah petani kedelai di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur mengaku tak sempat menikmati kenaikan harga kedelai, sebagaimana terjadi selama dua pekan terakhir, karena musim panen telah berlalu.

"Saat panen harga kedelai masih normal di kisaran Rp5.500-Rp5.600/kilogram. Itu terjadi sebulanan lalu, kalau sekarang masih pertengahan masa tanam sehingga belum sempat menikmati dampak kenaikan harga kedelai nasional," tutur H Mukri, petani kedelai di Kecamatan Sendang, Sabtu.

Ia berharap, saat masa panen ketiga yang diperkirakan jatuh antara akhir Agustus hingga September, harga kedelai masih tetap baik sehingga keuntungan yang mereka peroleh juga tinggi.

Hal senada diungkapkan sejumlah pesanggem (petani ladang hutan) lain saat menanggapi tren kenaikan harga kedelai secara nasional selama beberapa pekan terakhir.

Mereka rata-rata merespon tren kenaikan harga kedelai itu dengan ekspresi dan jawaban datar lantaran tak terdampak langsung dengan fluktuasi nilai dagang bahan baku tempe dan tahu tersebut.

"Harga kedelai memang kerap naik turun, seperti halnya cabe. Kami mungkin belum beruntung karena kenaikan terjadi saat tanaman belum dewasa," ucap Suprihatin, petani kedelai lain di daerah yang sama.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Tatang Suhariyanto mengaku tetap optimistis dengan prospek pasar kedelai.

Menurutnya, kebutuhan kedelai secara nasional sampai saat masih sangat tinggi. Pemerintah bahkan berupaya keras dalam mendorong produktivitas kedelai lokal, sehingga tercapai swasembada kedelai secara nasional.

"Dengan asumsi itu, kami optimistis peluang pasar kedelai nasional sangat bagus. Apalagi kita semua sedang berupaya keras untuk terus mengurangi ketergantungan pada kedelai impor dari Amerika Serikat," ujarnya.

Disampaikan Tatang, produksi pertanian kedelai di Kabupaten Tulungagung dari tahun ke tahun akan terus ditingkatkan. Tahun 2011, paparnya, volume produksi kedelai berhasil melampaui target yang ditetapkan sebelumnya, yakni mencapai 11.425,35 ton.

Jumlah itu jauh di atas target yang dipatok pada awal tahun 2011, yakni sebesar 9.947 ton. Untuk terus memacu produktivitas kedelai dimaksud, lanjut Tatang, pihaknya terus berupaya memperluas areal/lahan tanam kedelai melalui program pengelolaan hutan bersama masyarakat (PHBM),bekerjasama dengan Perum Perhutani setempat.

Sumber: ANTARA News | Sabtu, 28 Juli 2012
| 0 komentar

Tomcat Dibasmi, Puluhan Hektar Sawah di Tulungagung Gagal Panen

Selasa, 27 Maret 2012 | 03.09.00 | 0 komentar

Tulungagung - Serangan ribuan hama wereng akibat pembasmian massal kumbang tomcat dan sejenisnya yang sebenarnya menjadi predator pembasmi hama wereng.

Bagas dari Radio Liur Tulunagung dalam jaring Radio Suara Surabaya, Senin (26/3/2012) melaporkan, Dinas Pertanian Tulungagung melalui Sugeng SP Kasi Pengendalian UPT akan mengimbau untuk melakukan penghentian pembasmian tomcat. Untuk mengatasi serangan tomcat, warga diminta untuk berkonsultasi ke posko pengaduan di Dinas Pertanian.

Sementara itu, Dinas Pertanian akan membantu memberikan benih gratis kepada para petani yang sawahnya mengalami gagal panen. (dwi)

Sumber: suarasurabaya.net | 26 Maret 2012
Selasa, 27 Maret 2012 | 0 komentar

Gubernur Jatim Terjunkan Tim Pemberantas Tomcat

Jumat, 23 Maret 2012 | 01.13.00 | 0 komentar

Surabaya – Gubernur Jawa Timur Soekarwo menerjunkan tim khusus untuk memberantas ancaman serangan serangga jenis tomcat yang melanda sebagian daerah di Jatim.

"Sudah ada tim yang turun ke lapangan untuk membasminya, dan ini menjadi tanggung Jawab Kepala Dinas Pertanian Jatim Wibowo Eko Putro," ujarnya kepada wartawan di Surabaya, Kamis.

Tidak hanya itu saja, pihaknya juga mengaku sudah menyiapkan sejumlah dana untuk membasmi serangga dan berharap penyebarannya bisa diminimalisasi. Sehingga keresahan masyarakat saat ini bisa sedikit terkurangi.

Anggaran tersebut, lanjut dia, nantinya bisa diambilkan dari Dinas Pertanian Jatim. Bahkan jika diperlukan dan sifatnya mendesak, gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo tersebut mengatakan dananya bisa diambil dari anggaran penanggulangan bencana.

Sedangkan, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf menjelaskan bahwa kemunculan serangga "tomcat" ini akibat dari semakin tidak adanya predator atau hewan pemangsa, yakni tokek.

"Tokek sekarang hampir punah karena banyak yang menangkapi. Akibatnya, populasi 'tomcat' meningkat tanpa kontrol lagi hingga ke pemukiman penduduk," kata Gus Ipul, sapaan akrabnya.

Menurut dia, kasus ini menjadi perhatian pemerintah. Ia mengaku sudah berkoordinasi dengan semua kepala daerah di Jatim untuk mencegah dan melakukan antisipasi terhadap serangan "tomcat".

Hal senada disampaikan Ketua Komisi B DPRD Jatim Agus Dono. Menurut dia, banyaknya "tomcat" di pemukiman penduduk karena tidak adanya predator akibat ulah manusia itu sendiri.

"Selain karena pemburu tokek itu manusia sendiri, ekosistem yang ada seperti mangrove juga sudah rusak, sehingga masuk ke lingkungan masyarakat," tutur legislator asal Partai Demokrat tersebut.

Pihaknya juga sepakat dengan usulan Gubernur Jatim Soekarwo yang akan menggunakan dana penanggulangan bencana dalam menangani persoalan ini. Agus Dono berharap Dinas Pertanian Jatim segera mengambil tindakan dengan melakukan penyemprotan pestisida ke daerah yang rawan terserang tomcat.

"Anggaran pemerintah kabupaten atau kota di Jatim sangat terbatas maka peran pemerintah provinsi sangat diperlukan," ucap dia. (Fiqih Arfani)

Sumber: antarajatim.com | 22 Mar 2012
Jumat, 23 Maret 2012 | 0 komentar

Dinas Pertanian Tulungagung Tolak Pembasmian Serangga Tomcat

Tulungagung - Dinas Pertanian Tulungagung menolak pembasmian "paederus fuscipes" atau serangga tomcat secara menyeluruh di wilayahnya karena binatang kecil menyerupai kalajengking ini menjadi predator alami dalam mencegah perkembangbiakan hama wereng dan ulat.

"Kami setuju saja dan siap bekerja sama dengan dinas kesehatan dalam konteks pengendalian serangga yang di sini biasa disebut dengan istilah jlantir ini. Tapi kalau dibasmi sama sekali, sepertinya gagasan itu kurang tepat," kata Koordinator Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Dinas Pertanian Tulungagung, Sugeng ST, Kamis.

Ia beralasan, selama ini keberadaan serangga tomcat justru banyak membantu petani dalam berperan dalam menekan atau bahkan membasmi keberadan hama werang maupun ulat yang kerap mengganggu tanaman penduduk.

Tomcat bahkan dikategorikan sebagai predator alami yang mampu merusak siklus perkembangan kedua jenis hama pertanian tersebut dengan memangsa telur-telur yang keluar dari hama wereng, ulat maupun sejenisnya.

"Keberadaannya hampir sama dengan peran katak. Keberadaan tomcat yang jelas sangat berguna bagi sektor pertanian, sehingga tidak seharusnya dibasmi. Kami selama ini bahkan sangat berhati-hati dalam menggunakan pestisida untuk membasmi hama, agar tidak sampai membunuh predator yang sahabat petani," jelasnya.

Sugeng menyebut, keberadaan serangga tomcat hampir merata di semua wilayah Kabupaten Tulungagung. Masyarakat yang bermukim di sekitar persawahan maupun perkebunan bahkan sudah terbiasa dengan keberadaan hewan kecil yang disebut-sebut memiliki cairan berbisa dengan kadar melebihi racun ular kobra tersebut.

Namun kasus serangan serangga tomcat pada manusia, di Kabupaten Tulungagung sementara ini baru terjadi di wilayah Desa Tunggulsari, Kecamatan Kedungwaru.

"Berdasar catatan yang ada di Dinas Pertanian, serangga ini memiliki siklus sepuluh tahunan. Artinya, populasi tomcat dalam kurun waktu tersebut bisa 'meledak' hingga berlipat-lipat dibanding biasanya sehingga menimbulkan masalah bagi penduduk karena bermigrasi ke pemukiman," terang ahli pengendalian organisme pengganggu tumbuhan tersebut.

Pada tingkatan itu, lanjut Sugeng, pihaknya setuju dilakukan pengendalian terbatas terhadap populasi serangga tomcat. Hal itu dimaksudkan agar keberadaan serangga berbisa yang memiliki nama latin "paederus fuscipes" ini tidak sampai menimbulkan masalah bagi manusia/penduduk, sebagaimana terjadi di Kota Surabaya dan sekitarnya.

Sebelumnya, Dinas Kesehatan Tulungagung menyampaikan bahwa wabah tomcat memang pernah mewabah di daerah tersebut pada medio tahun 2004. Saat itu, wilayah persebaran serangga jenis predator bagi hama wereng serta ulat sawah tersebut sempat meluas di delapan desa dua kecamatan Kabupaten Tulungagung.

Total korban saat itu tercatat mencapai 340 orang, dari berbagai usia. Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Kesehatan kemudian memberlakukan kasus tersebut sebagai kejadian luar biasa, sehingga dilakukan upaya penanggulangan menyeluruh untuk mencegah persebarluasan lebih lanjut hama tomcat karena dianggap sudah mengganggu keselamatan/kesehatan penduduk. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 22 Mar 2012
| 0 komentar

Dinas Pertanian Tulungagung Justru Lindungi Tomcat

Keberadaa tomcat ini justru sebagai sahabat para petani. Dinas Pertanian Tulungagung mengimbau pada masyarakat agar tidak panik terhadap pemberitaan serangga tomcat yang kesannya sangat membahayakan masyarakat.

Bagas dari Radio Liur Tulungagung dalam Jaring Radio Suara Surabaya, Kamis (22/3/2012) melaporkan, Sugeng SB Koordinator Pengendalian UPT Dinas Pertanian Tulungagung mengatakan, alasan tomcat ini dilindungi karena kumbang jenis tomcat ini justru penjadi predator terganas hama wereng. Jenis serangga ini sebenarnya tidak berbahaya dan sudah ada sejak dulu.

Menanggapi persoalan ini, Trispati dari Dinas Kesehatan sudah menegaskan sudah berkoordinasi dengan Disperta untuk menyediakan obat anti biotik dan anti alergi kulit jika ada msyarakat yang terkena cairan tomcat. (dwi/git)

Sumber: suarasurabaya.net | 22 Maret 2012
| 0 komentar

Diserang Tomcat, Kulit 11 Warga Tulungagung Melepuh

Tulungagung: Sedikitnya 11 warga Tulungagung, Jawa Timur, terserang wabah tomcat. Dua di antaranya merupakan balita yang terserang di bagian leher.

Menurut salah seorang warga yang terserang tomcat, Adib Makharim, awalnya kulit terasa panas lalu melepuh seperti tersiram air panas. Bahkan istrinya pun ikut terserang tomcat. Ia menduga tomcat berkembang biak di kebun tebu miliknya dekat rumah.

Menaggapi hal ini, dinas kesehatan setempat telah menginstruksikan warga melalui radio medik agar waspada terhadap tomcat. Bila warga terserang serangga ini, dinkes menyarankan untuk mengobatinya dengan obat antialergi dan antibiotik.

Pada 2004, Tulungagung pun pernah mengalami kejadian luar biasa serangan serangga tomcat. Saat itu, sebanyak 340 kasus tersebar di delapan desa. Tempat terparah adalah Perumahan Sobontoro dan Tulungagung Permai. (Wrt3)


Sumber: Metrotvnews.com | Kamis, 22 Maret 2012
| 0 komentar

Puluhan Hektare Padi di Tulungagung Terendam Banjir

Jumat, 09 Maret 2012 | 01.55.00 | 0 komentar

Tulungagung - Puluhan hektare sawah di dua kecamatan berbeda di Kabupaten Tulungagung selama tiga hari terakhir terus-menerus terendam banjir hingga kedalaman lutut orang dewasa, sehingga menyebabkan tanaman padi milik petani setempat terancam rusak/gagal panen.

"Hujan turun secara terus-menerus dengan intensitas air cukup tinggi sehingga menyebabkan air sungai meluap dan menggenangi sawah-sawah di sekitar sini," kata Muharto (64), salah seorang petani di Dusun Karangsono, Desa Sukowiyono, Kecamatan Karangrejo, Kamis.

Selain merendam tanaman padi di Desa Sukowiyono, luapan air bah juga menggenangi areal persawahan di desa-desa sekitarnya, yakni di Desa Bungur, Kecamatan Karangrejo serta di Desa Simo, Majan, Winong, Tawangsari, serta Mangunsari yang ada di wilayah Kecamatan Kedungwaru.

Total areal sawah yang terendam menurut data sementara yang direkap oleh pihak Dinas Pertanian Tulungagung mencapai 89 hektare.

"Jumlah ini dimungkinkan masih akan terus bertambah. Saat ini petugas kami masih terus melakukan pendataan dan ada beberapa titik area langganan banjir di wilayah Tulungagung bagian timur, tengah, serta selatan sampai saat ini belum menyampaikan hasil pendataanya," kata Kepala Dinas Pertanian Tulungagung, Tatang Suhartono.

Karena data areal persawahan yang terendam belum final, Tatang menyampaikan bahwa kerugian akibat bencana banjir saat ini belum bisa dihitung. Ia hanya memberi gambaran bahwa tanaman pada petak-petak sawah yang terendam kondisinya bervariasi, ada yang tahap disemai, baru tanam, dan ada pula yang sudah berusia dewasa dan menjelang panen.

"Mungkin kerugiannya bisa mencapai puluhan juta rupiah. Tapi sementara ini kami belum bisa menyampaikan estimasi angka resminya, maaf," jawabnya.

Ia berharap, air yang merendam puluhan hektare tanaman padi petani di Kecamatan Kedungwaru, Karangrejo, maupun daerah-daerah lain segera surut. Sebab apabila air terus menggenangi tanaman padi hingga lebih dari lima hari, dampaknya bisa merusak.

"Kalau baru semai atau baru tanam mungkin tidak masalah, karena memang pada usia-usia muda tanaman padi memang membutuhkan banyak air. Tetapi bila kelamaan tentu bisa merusak tanaman, apalagi jika sampai pucuknya ikut terendam dalam waktu lama atau sudah menjelang panen," ujarnya.

Tatang mengaku, pihaknya tidak bisa berbuat banyak dengan fenomena banjir yang kerap terjadi selama musim hujan terakhir. Selain tidak ada alokasi anggaran yang bersumber dari APBD setempat untuk ganti rugi tanaman petani yang rusak, droping bantuan dari pusat ataupun provinsi seringkali "terlambat" datang.

"Kami akan upayakan untuk mendapat bantuan benih dari provinsi, tapi biasanya ya baru tiga atau empat minggu baru turun. Padahal jadwal tanam petani kadang lebih cepat," ujarnya.

Luas areal persawahan yang ditanami padi di Kabupaten Tulungagung disebutkan mencapai 13.557 hektare. Dari luasan itu, areal persawahan yang kerap menjadi langganan banjir diperkirakan mencapai kisaran 5-10 persennya. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 08 Mar 2012
Jumat, 09 Maret 2012 | 0 komentar

Hujan Genangi Tulungagung, Banjir Landa Mandailing

Tulungagung: Hujan deras selama hampir lima jam yang terjadi terus menerus di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur menyebabkan ratusan rumah warga terendam air. Puluhan hektare sawah di dua desa, Serut dan Desa Tanjungsari terendam air hingga menyebabkan tanaman rusak dan gagal panen. Gara-gara banjir dari luapan Sungai Lodogung, produksi batu bata yang merupakan salah satu aktivitas bisnis mereka juga mengalami kegagalan.

Luapan Sungai Lodogung membuat kondisi Desa Serut dan Tanjungsari, Boyolangu hingga Rabu (7/3) malam masih terendam air setinggi lutut orang dewasa.

Di Mandailing, Natal, Sumatera Utara banjir akibat hujan deras menyebabkan banjir bandang dan merusak ratusan rumah warga. Lambannya penanganan Pemda membuat warga kesal dan memblokade jalanan alternatif serta menduduki alat berat milik Pemda setempat. Banjir bandang yang terjadi hari Minggu meluluhlantakkan empat desa di Kecamatan Panyabungan dan memutuskan jembatan penghubung antarprovinsi yang berada di jalur tengah lintas Sumatera

Aksi blokade jalan alternatif itu menyebabkan kemacetan panjang di jalur menuju sejumlah daerah di Mandailing Natal. (Vin)

Sumber: liputan6.com | 08/03/2012
| 0 komentar

Indonesia Kekurangan Tepung Tapioka Karena Petani Malas Tanam Singkong

Rabu, 07 Maret 2012 | 18.05.00 | 0 komentar

Surabaya - Indonesia negara tropis memiliki tanah subur dan sumber daya alam melimpah. Sayang, kebutuhan konsumsi tepung tapioka secara nasional, masih dipasok dari negara asia lainnya seperti Vietnam, Laos dan Thailand sebesar 75 persen.

"Saya nggak hafal jumlahnya. Tapi kebutuhan tepung tapioka secara nasional, baru terpenuhi 25 persen. Sisanya 75 persen dari impor," kata Direktur PT Cassava Buana Wirajatim, Boedi Harahap kepada detiksurabaya.com, Rabu (7/3/2012).

Tepung tapioka dibutuhkan perusahaan yang bergerak di bidang kosmetik, kimia, maupun bumbu masak. Untuk Jawa Timur, satu perusahaan bisa membutuhkan tepung tapioka sebesar 850 ribu ton per tahun.

Sedangkan di Jatim, baru ada 9 perusahaan yang bergerak di bidang produksi tepung tapioka seperti di wilayah Malang, Pasuruan, Kediri, Ponorogo dan Tulungagung.

Ia menerangkan, semenjak 2008, petani di Indonesia termasuk di Jawa Timur, malas menanam singkong. Pasalnya, harga singkkong secara internasional turun drastis yakni sebesar Rp 125 per kilogram, sehingga pendapatannya tak sebanding dengan cost menanamnya.

"Sekarang ini, harga singkong sudah naik kembali," tuturnya.

Menanam singkong hanya membutuhkan waktu sekitar 10-13 bulan. Biaya yang dikeluarkan untuk menanam singkong sekitar Rp 7,5 juta per hektar dan menghasilkan singkong sebanyak 40 ton per hektar. Jika diasumsikan per kg seharga Rp 750, maka keuntungan yang didapat sebanyak Rp 22,5 juta per hektar.

"Mudah-mudahan dengan adanya pabrik baru kami, masyarakat dapat menanam singkong, walaupun di lahan tak produktif," jelasnya.

(roi/fat)


Sumber: detikSurabaya | Rabu, 07/03/2012
Rabu, 07 Maret 2012 | 0 komentar

Penyakit Blas Juga Muncul di Tulungagung

Senin, 05 Maret 2012 | 20.07.00 | 0 komentar

MALANG - Penyakit blas yang diakibatkan cendawan Pyricularia oryzae tidak hanya dilaporkan muncul di Kabupaten Malang dan Batu, namun juga dilaporkan muncul di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Meski demikian, sejauh ini luas areal penularan menunjukkan serangan belum signifikan. Sebelum ini serangan blas juga dilaporkan muncul di satu daerah di Sumatera.

Koordinator Pengamat Hama Kabupaten Tulungagung (aparat Pemprov Jatim di daerah untuk urusan pengamatan hama) Sugeng menjelaskan di Tulungagung, Senin (5/3/2012) total luas serangan penyakit blas di wilayahnya 72 Ha kategori berat, 22 Ha kategori sedang dan 11 Ha kategori ringan, atau total 105 Ha luas areal serangan yang terdistribusi cukup merata.

Jumlah ini tidak signifikan dibanding total luas lahan sawah di Tulungagung sebesar 32.000 Ha, katanya.

Serangan hama lain yang serius adalah tikus, dengan tingkat kerusakan ringan 180 Ha, dan penyakit yang disebabkan Xanthomonas oryzae seluasa kerusakan ringan 71 Ha, kerusakan sedang 0,28 Ha dan kerusakan berat 4 Ha.

"Kerugian ada bagi petani yang bersangkutan, namun tidak akan mengancam keseluruhanproduksi, dengan perkiraan produktivitas di Tulungagung sebesar 6,6 ton per Ha, atau 180 ton gabah kering panen," katanya.

Meski demikian saat kunjungan ke Tulungagung hari Senin (5/3/2012) Dirjen Sarana dan Prasarana Kementerian Pertanian Dr Sumarjo Gatot Irianto meminta kewaspadaan pada serangan hama dilakukan dengan pengamatan dini.

"Jangan melapor setelah ada korban dan kerugian atas serangan hama. Sedini mungkin petugas pengamat hama harus cepat tanggap demi antisipasi yang lebih baik, dalam rangka mempertahankan rencana surplus produksi padi nasional tahun ini 60 juta ton gabah," katanya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung Tatang Suhartono di kesempatan yang sama menambahkan, pihaknya sudah mewaspadai serangan blas dengan meminta petani mengamati dan segera melapor melalui ketua-ketua kelompok taninya jika serangan meluas agar bisa dilakukan pembasmian terkoordinasi. "Kami memantau terus menerus," katanya.

Sumber: kompas.com | Senin, 5 Maret 2012
Senin, 05 Maret 2012 | 0 komentar

Pegadaian Salurkan Kredit Kemitraan Pertanian

Kamis, 15 Desember 2011 | 04.50.00 | 0 komentar

JAKARTA - Perum Pegadaian menggandeng empat BUMN yakni PT Pertani, PT Garam, PT BUMN Hijau Lestari I, dan PT BUMN Hijau Lestari II BUMN untuk mengembangkan Program Kemitraan dan Pegadaian Go Green.

Direktur Utama (Dirut) Perum Pegadaian, Suwhono, mengatakan, program kemitran ini sebagai tindak lanjut dari Inpres no. 5 tahun 201 tentang pengamaan produksi beras nasional dalam menghadapi iklim ekstrim.

"Kementerian BUMN sudah menunjuk 4 BUMN yang bergerak di bidang pertanian sebagai operator dana kemitraan untuk Program Gerakan Peningkatan Produktivitas Pangan Berbasis Korporasi (GP3K) dan kami merealisasikan program tersebut melalui kerja sama ini," kata Suwhono di Kantor Pusat Perum Pegadaian, Rabu (14/12/2011).

Suwhono mengatakan, pihaknya menyalurkan Kredit Kemitraan sebesar Rp23,9 miliar kepada PT Pertani, yang akan disebar kepada petani di Provinsi Nangroe Aceh Darussalam, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, dan Bali.

"Untuk menunjang keberhasilan, petani akan diberikan dana pelatihan dan pendampingan manajemen budidaya pertanian sebesar 8,04 persen dari dana yang dipinjamkan," kata Suwhono.

Sementara itu, Dirut PT Pertani, Dwi Antono, menambahkan, sektor pertanian masih mengalami berbagai persoalan sehingga banyak petani yang alih-profesi, hal ini menyebabkan produktivitas menjadi rendah yang berakibat terancamnya ketahanan pangan nasional, program kemitraan antar-BUMN dalam hal pendampingan kepada petani pangan akan potensial untuk meningkatkan produktivitas padi dari 5 ton/ha menjadi 12 ton/ha.

“Kerja sama dengan Pegadaian akan sangat efektif mengatasi masalah pokok petani yakni dalam hal permodalan, budidaya harus dikelola secara korporasi, petani dikumpulkan dan dibimbing oleh BUMN untuk meningkatkan produktivitasnya," ujar Dwi Antono.

Sementara PT Garam mendapatkan Kredit Kemitraan sebesar Rp 3 Miliar untuk program peningkatan pendapatan petani garam di Madura.

Selain itu, Pegadaian juga mengandeng PT BUMN Hijau Lestari I dan PT BUMN Hijau Lestari II untuk menanam dan memelihara tanaman agroforestry dengan memadukannya dengan kegiatan penanaman tanaman kehutanan dengan pertanian atau perkebunan.

Kedua BUMN tersebut akan memfokuskan program Go Green di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum di Desa Tajungwangi, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, yang meliputi sub DAS Citarik, DAS Bengawan Solo (Kabupaten Wonogiri), dan DAS Brantas (Kabupaten Malang, Kabupaten Tulungagung, dan Kabupaten Kediri).

"Ada semangat untuk memperluas areal penanaman pohon untuk kesejahteraan kita bersamam, kami harapkan melalui Program Go Green ini akan terwujud kelestarian lingkungan, meningkatnya produktivitas lahan rakyat, menciptakan lapangan kerja baru, serta meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar tempat penanaman," papar Direktur Utama PT Hijau Lestari II Syamsul Bahri.

Sumber: TRIBUNNEWS.COM | Rabu, 14 Desember 2011
Kamis, 15 Desember 2011 | 0 komentar

Dinas Pertanian Tulungagung Perketat Alih Fungsi Lahan

Kamis, 27 Oktober 2011 | 01.42.00 | 0 komentar

Tulungagung - Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung memperketat izin alih fungsi lahan pertanian setempat, agar tidak terus menyusut karena tergusur pembangunan pemukiman baru.

"Salah satu upaya untuk mencegah itu adalah dengan membuat ranperda (rancangan peraturan daerah) tentang ketahanan pangan yang tentu akan berimplikasi pada pengetatan ijin fungsi lahan produktif pertanian menjadi pemukiman," ujar Kabid Sanitasi dan Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Yuss Bero, Rabu.

Ia menjelaskan, ranperda yang kini tengah digodok oleh tim perumus dinas pertanian bersama instansi terkait itu merupakan turunan peraturan perundangan yang lebih tinggi, yakni Undang-undang nomor 41 tahun 2009 tentang peralihan lahan pertanian.

Menurut Yuss Bero, konsekuensi hukum atau pidana bagi perseorangan/lembaga/perusahaan yang mengubah fungsi lahan pertanian menjadi pemukiman ataupun areal industri baru tanpa ijin sangatlah berat.

Perseorangan yang membangun rumah di atas areal lahan pertanian produktif, misalnya, bisa dipidana maksimal 5 tahun kurungan atau denda sebesar Rp1 miliar jika yang bersangkutan tidak mengajukan ataupun mendapat izin dari instansi terkait (Dinas Pertanian).

Demikian juga apabila perseorangan/lembaga/swasta tidak menyediakan lahan pengganti yang sama sekali baru (di luar lahan pertanian ditempat berbeda).

Menurut keterangan Yuss Bero, pelanggaran komitmen tersebut bisa berimbas pada hukuman kurungan yang tak kalah besar, yakni hingga 3 tahun kurungan atau denda maksimal Rp3 miliar.

"Aturan perundangan mengenai itu semua sebenarnya sudah diatur dalam UU nomor 5 tahun 2009, tepatnya di pasal 72 ayat 1 dan ayat 2. Namun masalahnya memang penerapan aturan perundangan ini cukup sulit di lapangan," ujarnya.

Karena itulah, ia berharap ranperda tentang ketahanan pangan yang saat ini tengah disusun oleh tim perumus nantinya bisa disahkan di tingkat DPRD setempat.

Sinergi kebijakan tersebut menurutnya penting demi mencegah terus menyusutnya lahan pertanian di Tulungagung yang diprediksi mencapai kisaran 5-10 hektare per tahun.

Luas lahan pertanian di Kabupaten Tulungagung sendiri saat ini tercatat mencapai 27.516 hektare, yakni terdiri dari 24.870 hektare lahan baku, 912 hektare lahan cadangan tidak resmi, serta 1.734 hektare lahan tadah hujan.

Produksi pertanian, khususnya padi di Kota Marmer itu pada tahun 2010 tercatat mencapai 148.000 ton per tahun, sementara kebutuhan pangan sebanyak 1.036.800 jiwa warga Tulungagung mencapai 97.000 ton per tahunnya. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 26 Okt 2011
Kamis, 27 Oktober 2011 | 0 komentar

Lahan Pertanian di Tulungagung Terus Menyusut

Tulungagung - Lahan pertanian di Kabupaten Tulungagung terus mengalami penyusutan, sehingga memicu kekhawatiran akan terjadinya instabilitas ketahanan pangan daerah tersebut.

"Hampir setiap tahun lahan pertanian yang beralih fungsi menjadi permukiman ataupun bangunan pabrik mencapai 5-10 hektare," kata Kabid Sanitasi dan Prasarana Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Yuss Bero, Rabu.

Ia tak memerinci berapa total luas lahan pertanian yang telah beralih fungsi, setidaknya selama kurun waktu 10 tahun terakhir. Alasannya, perubahan atau pengalihfungsian lahan produktif menjadi permukiman biasanya tidak pernah dilaporkan ke Dinas Pertanian.

Tidak adanya prosedur baku yang mengatur proses perubahan fungsi lahan pertanian serta rendahnya kesadaran warga/petani untuk proaktif mengoordinasikan status lahan pertanian mereka itulah yang membuat pemerintah daerah kesulitan melakukan pendataan.

Yuss Bero hanya memberi gambaran atau kisaran angka penyusutan berdasar hasil penelitian secara sampling, sesuai pemantauan lapangan yang dilakukan tim pengawas di sejumlah areal pertanian, terutama di kawasan perkotaan serta permukiman padat lainnya.

"Kalau dibiarkan terus, ini tentu sangat membahayakan karena bisa memengaruhi ketahanan pangan daerah," ujarnya.

Luas lahan pertanian di Kabupaten Tulungagung saat ini tercatat 27.516 hektare, yakni terdiri dari 24.870 hektare lahan baku, 912 hektare lahan cadangan tidak resmi, serta 1.734 hektare lahan tadah hujan.

Untuk mengatasi penyusutan yang terjadi secara terus-menerus, Dinas Pertanian berencana melakukan penambahan lahan baku pertanian sekitar 300 hektare pada tahun anggaran 2012.

"Kami akan menggandeng Dinas Pengairan untuk membantu pembuatan jaringan irigasi ke sejumlah lahan cadangan maupun sawah tadah hujan yang masih bisa ditingkatkan kapasitasnya sehingga menjadi lahan baku pertanian sekitar 100 hektare, dan selebihnya yang 200 hektare akan kami upayakan sendiri," kata Yuss Bero.

Berdasarkan catatan dinas pertanian, produksi pertanian, khususnya padi di Kabupaten Tulungagung mencapai 148.000 ton per tahun, sementara kebutuhan pangan bagi 1.036.800 jiwa warga Tulungagung mencapai 97.000 ton per tahun.

"Secara kuantitas dan kwalitas memang saat ini kita masih surplus, artinya penyusutan lahan belum sampai berakibat pada menurunnya hasil produksi," tuturnya. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 26 Okt 2011
| 0 komentar

Embung Senilai Rp 1,1 Miliar Mangkrak

Senin, 24 Oktober 2011 | 23.01.00 | 0 komentar

Diduga pembangunannya menyalahi bestek, selain itu sejumlah tanggul saat ini sudah bocor

TULUNGAGUNG - Embung di Desa Pucung Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung yang dana pembangunannya menghabiskan anggaran Rp 1,1 miliar lebih terancam mangkrak. Embung yang pembangunannya selesai setahun lalu hingga kini belum dapat difungsikan.

Ditengarai, proyek yang lokasinya sekitar tujuh kilometer arah selatan Kota Tulungagung ini, menyalahi besaran teknik (bestek). Kini embung sepanjang 30 meter dengan ketinggian tanggul sekitar 10 meter serta ketebalan pondasi bawah sekitar enam meter ini dalam kondisi kering kerontang.

Padahal saat kemarau seperti sekarang ini, air dari perbukitan sekitar waduk yang melimpah, mestinya dapat tertampung di embung dan selanjutnya untuk mengairi lahan pertanian. Kades Desa (Kades) Pucung, Sukemi mengatakan, proyek embung itu selesai setahun silam namun hingga kini belum berfungsi. Padahal, warga saat ini sangat membutuhkan tempat penampungan air dari perbukitan yang terus mengalir meski musim kemarau.

Gagasan adanya penampung air, kata Kades, awalnya dari warga yang kemudian disampaikan ke Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Balai Konservasi Alam Sumberdaya Air (BKSDA) Kediri. Saat itu, Desember 2010, Marsono ditunjuk selaku konsultan untuk meyakinkan BKSDA agar membangun embung. Presentasi konsultan yang merupakan orang kepercayaan BKSDA, akhirnya terealisasi dengan dana bersumber dari APBN 2010 sebesar Rp 1,1 miliar lebih. Pembangunan dilakukan rekanan PT Moderna Teknik (MT) dari Blitar dengan jangka waktu sekitar 180 hari.

Selama pengerjaan, proyek sempat terhenti karena Perhutani komplain atas sebagian tanahnya yang terkena proyek embung. Kemudian pihak desa menggeser lokasi waduk namun sempat terjadi ribut, lantaran warga melawan karena lahannya dicaplok proyek. Akhirnya dilakukan proses ganti rugi tanah warga seluas 40 ru (551,7 meter persegi) dengan kesepakatan harga sebesar Rp 600 ribu tiap ru nya.

Saat uji coba Maret 2011, terjadi kebocoran pada bagian tanggul pintu air dan plengsengan banyak yang berlubang. Sehingga air terlihat merembes. “Kebocoran sempat diperbaiki namun hingga kini waduk belum difungsikan,” kata Kades Sukemi, Minggu (23/10).

Pada Oktober ini, Kades mengajukan ke BKSDA dan ada empat poin yang mesti segera diwujudkan agar embung berfungsi. Di antaranya, penambahan daya tampung air, perlu dibangun dam kecil guna membagi air ke area persawahan. Kemudian segera diperbaiki tanggul yang bocor dan pengerjaan talut dalam embung yang kurang pas.

Selain itu, Kades juga tengah usul ke Pemkab terkait saluran ke area persawahan penduduk. Karena hingga kini saluran belum dikerjakan oleh Pemkab Tulungagung. Padahal, saat awal usulan pembangunan embung, ada kesepakatan antara BKSDA dengan Pemkab terkait pembangunan saluran.

Kepala PPK BKSDA Kediri, Ir Siswo, membenarkan jika embung ada pergeseran lokasi. Namun proyek terselesaikan setelah desa membeli tanah warga seluas 40 ru dengan harga sekitar Rp 24 juta. Saat presesntasi awal, konsultan proyek menjamin tidak ada masalah terkait tanah Perhutani namun ternyata tidak beres.

Sementara itu, Direktur PT MT, Embun, sebagai penggarap proyek, mengaku sudah tidak ada tanggung jawab lagi terkait kondisi embung yang rusak pada dinding tanggul atau kaitan pemasangan batu layaknya talut plengsengan pada dinding dalam embung. “Saya sudah lepas. Karena masa perawatan sudah habis dan kini bukan lagi tanggung jawab kami,” katanya. gim

Sumber: Surabaya Post | Senin, 24/10/2011
Senin, 24 Oktober 2011 | 0 komentar

Dinas Pertanian Tulungagung Genjot Panen Padi "SRI"

Selasa, 18 Oktober 2011 | 22.43.00 | 0 komentar

Tulungagung - Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Kabupaten Tulungagung tengah menggalakkan "System Rice of Intensification" (SRI) untuk menggenjot hasil padi petani setempat.

Menurut Kepala Disperta Tulungagung, Tatang Suhartono, Senin, SRI telah dikembangkan sejak dua tahun terakhir dan terbukti mampu menggenjot hasil panen dengan biaya yang sangat efisien.

"Inti dari SRI adalah pengolahan lahan, cara pemeliharaan tanaman dan suplai kebutuhan air di saat diperlukan saja. Cara ini terbukti efektif meningkatkan hasil panen tanaman padi," terangnya.

Tatang menjelaskan, dari penelitian yang dilakukan didapat data bahwa kandungan unsur hara di banyak lahan pertanian di Tulungagung berada di bawah dua persen. Padahal, kondisi ideal untuk pertanian seharusnya minimal lima persen.

Kondisi ini tidak lepas dari perilaku petani yang terus mengandalkan pupuk kimia dalam bercocok tanam.

Untuk memulihkan kondisi ini, SRI menekankan penggunakan pupuk organik, seperti kompos dan pupuk kandang sebelum berocok tanam padi.

"Dalam SRI, pupuk yang dipakai utamanya adalah pupuk organik. Tujuannya mengembalikan unsur hara yang selama ini terkikis akibat penggunaan pupuk-pupuk kimia," katanya.

Lanjut Tatang, perlakukan kedua dari SRI, benih yang biasa disemai pada lahan terbuka selama minimal dua minggu kini cukup disamai di bakul-bakul kecil selama tujuh hari saja. Selain menghemat tempat, cara ini juga sangat menghemat waktu persemaian.

Benih lalu ditanam dengan cara satu lubang diisi satu benih padi yang sudah disemai dengan jarak sekitar 35 centimeter untuk setiap lubang.

Dengan cara ini ternyata benih mampu tumbuh lebih cepat dan mengeluarkan rumpun lebih banyak dibanding dengan persemaian konvensional.

"Dari satu benih tersebut ternyata mampu menghasilkan 40 hingga 60 rumpun padi, lebih banyak dari penyemaian konvensional. Dengan cara ini pula, waktu untuk tumbuh juga lebih cepat, karena pada persemaian konvensional butuh dicabut dulu sebelum ditanam kembali," imbuhnya.

Selain menghemat benih, masa semai, SRI juga terbukti mampu mengangkat hasil tanaman padi yang lebih banyak dari pada sistem konvensional. Jika dalam satu hektar lahan bisa menghasilkan rata-rata delapan ton tanaman padi, dengan SRI bisa menghasilkan sepuluh hingga sebelas ton.

Saat ini, dari total luas lahan pertanian padi yang mencapai sekitar 49.465 hektare, dinas pertanian melakukan percobaan sistem intensifikasi pertanian (SRI) pada area persawahan seluas 25 hektare saja di Desa Wates, Kecamatan Sumbergempol.

Hasilnya, setelah dilakukan panen raya, Senin pagi tadi, Tatang menegaskan bahwa pihaknya akan menjadikan SRI sebagai sistem tanam acuan untuk lahan padi di Kabupaten Tulungagung secara keseluruhan. (Destyan)

Sumber: Antara | 17 Okt 2011
Selasa, 18 Oktober 2011 | 0 komentar

Musim Kemarau Picu Kenaikan Harga Beras

Senin, 03 Oktober 2011 | 23.15.00 | 0 komentar

SURABAYA - Kemarau berkepanjang yang melanda Jawa Timur memicu i nflasi September 2011 karena kenaikan harga beras. Kenaikan harga beras mengakibatkan inflasi 0,44 persen di provinsi . Jika Agustus lalu, harga beras pada kisaran Rp 7.800 per kilogram, pada September justru Rp 8.100 per kilogram.

Kepala BPS Jawa Timur Irlan Indrocahyo di Surabaya, Senin (3/10/2011) mengatakan, kenaikan harga beras disebabkan musim kemarau yang berkepanjangan. Akibatnya, sebagian besar petani padi menyesuaikan pola tanam dari padi ke palawija atau tembakau.

Faktor lain, Pemerintah Provinsi Jatim juga menolak beras impor padahal di sisi lain, Bulog tidak bisa menyerap padi petani karena terjadi persaingan harga dengan tengkulak di pasaran. Kondisi ini pun membuat harga beras melonjak, padahal produksi beras sedang merosot.

Selain itu beras kata Irlan, kenaikan harga dipicu naiknya indeks kelompok sandang 1,36 persen, pendidikan, rekreasi dan olahraga naik 1,22 persen, kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,68 persen. Komoditas emas perhiasan, sebagai sub kelompok sandang ya ng mempengaruhi tingginya inflasi setelah beras.

Walaupun harga emas perhiasan pada minggu ketiga September 2011 turun 5 persen, tapi rata-rata harga emas pada September l ebih tinggi dibanding Agustus 2011. Inflasi juga disumbang sejumlah komoditas lain seperti akademi atau perguruan tinggi, sewa rumah, rokok kretek filter, upah pembantu rumah tangga, angkutan antar kota, kontrak rumah, nasi dan soto.

Dari 10 kota yang didata BPS, inflasi tertinggi terjadi di Surabaya pada September 2011 mencapai 0,60 persen, Kediri 0,54 persen, Jember 0,48 persen, Banyuwangi 0,46 persen, Tuban 0,44 persen, Madiun 0,37 persen, Malang 0,22 persen dan Tulungagung.

Laju inflasi tahun kalender Januari hingga September, mencapai 3,14 persen. Sedangkan inflasi tahun ke tahun September 2011 terhadap September 2010 , Jatim sebesar 4,71 persen.

Sumber: KOMPAS.com | Senin, 3 Oktober 2011
Senin, 03 Oktober 2011 | 0 komentar

2.210 Hektar Kekeringan

TULUNGAGUNG - Lahan seluas 2.210 hektar dari seluruhnya sekitar 10.000 hektar lahan pertanian padi di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, kekeringan. Namun target perolehan produksi tak samai terganggu

Diharapkan pula, pada Oktober hingga November 2011 sebagaimana diramalkan, Indonesia segera memasuki musim hujan.

"Kekurangan air tak menjadi masalah yang megancam produksi pangan, karena hanya terjadi di tiga dari 13 kecamatan," kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan di Pemkab Tulungagung, Tatang Suhartono, didampingi Humas Dinas Pertanian, Tri Widiono Agus Basuki, di Tulungagung, Senin (3/10/2011).

Kekeringan terjadi terutama di daerah yang jauh dari akses sumber air irigasi yakni di Kecamatan Bandung, Kedungwaru, dan Pakel yang berada di lereng Pegunungan Kapur Selatan.

Kekurangan air secara terbatas bisa dikompensasi secara tradisional, dengan pompa air dan sumber-sumber air dari embung alamiah. Petani tak lagi bisa menanam padi, lalu beralih ke tanaman lahan kering lainnya, yakni cabai, jagung dan tembakau.

Sekalipun ada tiga kecamatan mengalami kekeringan, pertanian tanaman pangan di Tulungagung masih memiliki lahan panenan tersisa sebanyak 2.813 hektar.

"Itu membuat target panen padi tahun ini sebanyak 17.000 ton gabah diyakini dapat terpenuhi pada akhir tahun, termasuk awal musim hujan nanti yang diperkirakan datang November Desember 2011," tambahnya.

Menurut Tatang, pada akhir musim tanam padi kedua dan ketiga di wilayahnya saat ini, Kecamatan Karangrejo (622 hektar) dan Kauman (528 hektar) yang masih memiliki sisa panen terbesar. Kedua kecamatan berada pada posisi paling diuntungkan selama ini, sebagai wilayah yang paling dekat dengan sumber-sumber air irigasi.

Kedua kecamatan masih punya sisa panen yang besar, karena sebagai kawasan yang dekat dengan akses sumber air, bisa melakukan penanaman padi hingga tiga kali setahun. Tiga kecamatan yang mengalami kekeringan sudah tidak lagi memiliki sisa panen tanaman padi, sementara kecamatan lain masih punya sisa panen yang akan berlangsung September hingga November 2011 yang akan datang.

Sumber: KOMPAS.com | Senin, 3 Oktober 2011
| 0 komentar

DINAS PERTANIAN TULUNGAGUNG ORBITKAN KOMODITE SAYURAN AGROPOLITAN SENDANG, TEMBUS PASAR MODERN

Minggu, 02 Oktober 2011 | 02.05.00 | 0 komentar

Tulungagung - Potensi alam, dengan hamparan lahan subur di kawasan sejuk kecamatan Sendang, yang menhasilkan komodite sayur sayuran di Tulungagung, menjadi perhatian menarik bagi pemerintah kabupaten untuk dikembangkan pengelolaannya secara professional. Hasil komoditas sayuran dari kawasan agropolitan sendang selama ini cukup dipertimbangkan oleh para pelaku pasar di jawa timur. Namun hingga saat sekarang belum terlihat lonjakan paradigma pengelolaan komodite ini, sehingga taraf hidup masyarakat petani sayuran-pun belum tampak membaik secara signifikan.

Hal ini membakar syahwat dinas Pertanian dan Tanaman Pangan pemkab Tulungagung untuk melakukan terobosan inovatif terhadap kawasan agropolitan sendang. Problematika pemasaran atas komodite sayuran masih menjadi momok bagi para petani sayur di kawasan ini.

Untuk itulah pada akhirnya kepala Dinas Pertanian, Ir. Tatang Suhartono berinisiatif mempertemukan para petani dengan perusahaan besar pembeli sayuran. Dengan harapan agar terjalin kesepahaman dalam bentuk kontrak secara profesional antara pelaku pasar dan petani sayuran, denga melakukan penyusunan sistem mekanisme pemasaran komoditas sayuran yang dihasilkan oleh para petani agropolitan sendang.

Sumber: liiur.com | Sabtu, 01 October 2011
Minggu, 02 Oktober 2011 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan