Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label JLS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JLS. Tampilkan semua postingan

Jalur Lintas Selatan Mangkrak

Senin, 09 April 2012 | 13.25.00 | 0 komentar

Pemerintah tak serius, dana APBN baru 10% mengucur, kini proyek JLS terancam terkatung

Surabaya – Percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah selatan Jawa Timur dipastikan stagnan, mengingat infrastruktur jalan sebagai akses pembuka tak kunjung selesai dibangun. Dana APBN baru mengucur 10% dari target yang dialokasikan. Jalur Lintas Selatan (JLS) yang dibangun sejak 2002 dan telah menghabiskan anggaran Rp 7,5 triliun menghubungkan Kab. Banyuwangi hingga Kab. Pacitan itu, belum mampu menyelesaikan 50%-nya. Padahal targetnya tuntas 2014. Kondisi ini yang diprediksi menyimpan risiko pembengkakan anggaran hingga Rp 30 triliun.

Kendala utama dari proyek prestisius ini, adalah anggaran dari pemerintah pusat yang selalu tidak sesuai target anggaran yang harus dipenuhi setiap tahun. Pemerintah pusat dinilai tidak serius untuk menuntaskan proyek tersebut, dan memberikan beban pemerintah Jawa Timur atas berbagai persoalan yang muncul sebagai side effect dari proyek tersebut.

Irwan Setiawan, anggota komisi D (Pembangunan) DPRD Jawa Timur, menyebut pembangunan JLS lambat “Pengaspalan baru 12%, badan jalan baru diselesaikan 52%, jembatan 32%, alokasi dana baru 14%,” katanya.

Irwan menambahkan, jika pembangunan JLS molor sampai 2031, maka estimasinya membawa risiko pembengkakan anggaran hingga Rp 30 triliun. “Jika tidak segera diselesaikan, maka pada tahun 2021 anggaran yang dibutuhkan sekitar Rp 15 trilyun, dan pada tahun 2031 membengkak hingga Rp 30 trilyun,” imbuhnya.

Proyek JLS memang dimaksudkan sebagai infrastuktur jalan dan aset penunjang pergerakan perekonomian di Jatim. Proyek JLS diharapkan dapat memacu pertumbuhan perekonomian Jatim di wilayah selatan. Pasalnya, selama ini jalur ekonomi Jatim masih didominasi di wilayah Pantura. Sehingga JLS diharapkan dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar di wilayah selatan Jatim.

Secara keseluruhan JLS memiliki panjang 634.11 km. Total kebutuhan lahan proyek JLS seluas 13.515.288,00 m2. Rinciannya, kepemilikan lahan meliputi lahan Perhutani 5.609.420 m2, perkebunan 1.284.240 m2, penduduk sekitar proyek 3.671.908 m2, dan lain-lain seluas 3.156.120 m2. Pembangunan JLS dimulai sejak era Gubernur Jatim Imam Utomo pada 2002. Delapan daerah yang dilewati JLS adalah Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi.

Menurut Irwan, mestinya ada penjelasan dari Pemerintah Pusat terkait bagaimana penyelesaian JLS di Jawa Timur. Dengan alokasi anggaran yang linier hingga tahun 2011 ini, maka akan sangat sulit JLS bisa selesai dalam waktu cepat.

Pemerintah Pusat harus mengalokasikan anggaran lebih besar lagi. Komitmen tersebut harus diberikan oleh pemerintah Pusat, karena pemerintah pusat baru mengalokasikan anggaran sebesar 10% sejak tahun 2002 hingga tahun 2012 dari total anggaran yang dibutuhkan.

Bahkan di tahun 2007 tidak ada anggaran APBN yang turun untuk pembangunan JLS. Hal tersebut membuat pembangunan jalan maupun jembatan di daerah menjadi terhambat. Di kabupaten Blitar misalnya, badan jalan baru terselesaikan 25,96 meter, pembangunan jembatan baru 175 meter dari total 1.080 m yang direncanakan, bahkan pengaspalan belum sama sekali dilakukan.

Irwan Setiawan yang juga anggota Badan Legislatif DPRD Provinsi Jatim ini menambahkan, pemerintah daerah harus turut mendorong Pusat, untuk segera menuntaskan proyek JLS ini. Pemerintah daerah juga harus turut berpartisipasi untuk melakukan pembebasan lahan, baik untuk kawasan hutan maupuan kawasan penduduk.

Wakil Gubernur Jawa Timur, Saifullah Yusuf, saat dikonfirmasi Surabaya Post, mengakui proyek JLS ini diharapkan dapat mempercepat pembangunan dan perkembangan ekonomi masyarakat Jawa Timur di wilayah lingkar selatan. Disamping juga meningkatkan pendapatan dan mempermudah akses masyarakat. “Dengan pembangunan JLS ini maka akan menarik banyak bidang, apakah bidang ekonomi maupun mobilitas sosial," kata Gus Ipul, melalui handphonenya, Minggu (8/4).

Gus Ipul membenarkan adanya beberapa kendala yang ditemui di lapangan, antara lain rute yang dilewati JLS sebagian besar merupakan lahan Perhutani, sehingga prosesnya sulit. Selain itu jalan dan jembatan yang baru selesai dibangun rusak lagi akibat dilewati alat berat.

“Kalau lahan milik warga semua sudah beres. Untuk lahan Perhutani saya ingin ada semacam peraturan yang memudahkan, setidaknya hanya untuk Jalur Lintas Selatan dengan kriteria yang ketat,” pungkasnya.

Imam Ghozaly Aro, Wakil Ketua Komisi D DPRD Jatim, mengaku tidak habis pikir mengapa pembangunan JLS ini bisa sampai mangkrak. “Setidaknya bisa dilihat dengan jelas dalam rencana angaran APBD 2010. “Dalam Perubahan APBD 2010, anggaran JLS malah dikurangi. Sungguh, saya tidak habis pikir, mengapa bisa seperti ini,” kata Imam Ghozaly Aro

Oleh karena itu, dirinya menghimbau untuk lebih mempercepat pembangunan JLS. “Untuk kepentingan rakyat, hendaknya Komisi D dan semua fraksi memperjuangkan percepatan pembangunan JLS. Anggaran untuk JLS di PABD tidak perlu dikurangi, bahkan kalau bisa, ditambah. Mestinya pemerintah lebih mampu menyelesaikan pembangunan JLS sepanjang 618 Km dengan rencana anggaran sekitar Rp 7 trilliun,” tegasnya. m2

Sumber: surabayapost.co.id | Minggu, 08/04/2012
Senin, 09 April 2012 | 0 komentar

Amankan Dana, Gubernur Dekati Legislator

Selasa, 22 November 2011 | 18.20.00 | 0 komentar

SURABAYA – Sempat simpang siurnya alokasi dana APBN 2012 untuk pembangunan Jalan Lintas Selatan (JLS) membuat Gubernur Jatim Soekarwo ketar-ketir. Kendatipun sudah pasti dikucuri dana Rp 115 miliar dari APBN 2012, Pakde Karwo (sapaan akrab Soekarwo) mendekati legislator di Senayan asal daerah pemilihan (dapil) Jatim. Hal ini bertujuan untuk mengamankan pengalokasian APBN untuk JLS tahun-tahun nerikutnya.

“Saya rencanakan bertemu pada Desember mendatang untuk meminta dukungan agar pembangunan JLS ini secepatnya bisa terealisasi,” kata Soekarwo, Senin (25/11).

Pakde Karwo, sapaan akrabnya mengatakan dukungan dari para legislator yang duduk di Senayan penting. Sehingga JLS mendapatkan prioritas dalam pembangunan yang dilakukan oleh Kementrian Pekerjaan Umum (PU). “Kita minta dukungan, bagaimana pun JLS ini harus secepatnya selesai karena sangat penting untuk wilayah Selatan Jatim,” katanya.

Pembangunan JLS, kata dia, dianggap sangat penting untuk menekan disparitas wilayah selatan Jatim. Pembangunan JLS juga diharapkan mampu menekan biaya angkut dan menghidupkan sektor ekonomi di wilayah selatan Jatim. Muaranya, adalah penurunan angka kemiskinan di wilayah selatan Jatim.

“Tentu kita berharap bisa selesai pada 2014 mendatang. Tentunya ini akan bisa terlaksana jika pusat terus memberikan alokasi anggaran untuk pembangunan JLS,” paparnya.

Pemprov Jatim sendiri dalam APBD 2012 mengucurkan Rp 51 miliar untuk mendukung pembangunan JLS. Anggaran sebesar itu nantinya akan digunakan untuk pembangunan jembatan di kawasan Kaligede Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Blitar dan Sananrejo Kabupaten Jember. Sementara, anggaran dari Pusat akan lebih banyak dialihkan untuk wilayah Malang ke sisi timur.

Pusat sendiri pada tahun 2011 memberikan anggaran untuk JLS sebesar Rp 82 miliar. Peningkatan jumlah anggaran pada tahun depan diharapkan mampu mencegah pembangunan JLS molor.

Kepala Dinas PU Bina Marga Jatim Dachlan Karim mengatakan pembangunan JLS membutuhkan dana sekitar Rp 2 hingga 4 miliar tiap kilometernya. Padahal, panjang JLS mencapai 660 kilometer. Artinya untuk pembangunan jalan saja membutuhkan setidaknya Rp 2,6 triliun. yop

Sumber: surabayapost.co.id | Selasa, 22/11/2011
Selasa, 22 November 2011 | 0 komentar

Mustahil, JLS Selesai 2014

Sabtu, 22 Oktober 2011 | 22.53.00 | 0 komentar

Kebutuhan anggara Rp 5 triliun, tetapi alokasi APBD Jatim tiap tahunnya hanya Rp 50 miliar

SURABAYA - Keseriusan pembangunan jalan lintas selatan (JLS) dipertanyakan oleh sejumlah anggota DPRD Jatim. Apalagi dukungan anggaran untuk pembangunan JLS sangat tidak memadai. Sehingga prediksi penyelesaian JLS pada 2014 mendatang mustahil.

Anggota Fraksi Kebangkitan Nasional Ulama (FKNU) DPRD Jatim HM Imam Ghozaly Aro menilai pembangunan JLS tak kunjung menunjukkan progress-nya. Pihaknya meminta ketegasan eksekutif tentang target waktu penyelesaian JLS. “FKNU meminta ketegasan eksekuif terkait target penyelesaiannya, termasuk mekanisme pendanaan pembangunan JLS,” ujar Imam, Sabtu (22/10).

Imam menuturkan kelanjutan pembangunan JLS akan terkatung-katung. Apalagi jika mekanisme pendanaan dan sharing yang direncanakan pemerintah pusat dan provinsi untuk membangun JLS masih belum serius. Pihaknya mendesak, agar JLS menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam hal kelanjutan pembangunannya. “Jika hal ini tidak tak kunjung dapat penjelasan, maka FKNU meminta agar dibentuk pansus untuk membahas kelanjutan dan penyelesaian proyeks JLS ini,” katanya.

Sementara itu, anggota Fraksi PDIP DPRD Jatim Suharti mengatakan pembangunan JLS akan menurunkan disparitas wilayah di Jatim. Selama ini, wilayah tapal kuda dan sepanjang JLS wilayah barat menjadi daerah terbawah dalam hal pertumbuhan ekonomi.

Pihaknya menganggap penyelesaian proyek JLS akan menjadi langkah strategis untuk menekan angka disparitas antara daerah tengah dan selatan Jatim. Namun,FPDIP masih belum mengetahui berapa panjang JLS yang akan tergarap tahun depan. “Kami menilai JLS langkah strategis untuk menekan disparitas, kami minta penjelasan berapa kilometer JLS yang akan dibangun pada 2012 mendatang,” katanya.

JLS sendiri merupakan pembangunan jalan baru yang membentang sepanjang pesisir pantai selatan Jawa Timur mulai dari Kabupaten Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi.

Terpisah, Kepala Dinas PU Bina Marga Jatim Dachlan Karim mengatakan pembangunan JLS membutuhkan dana sekitar Rp 2 hingga 4 miliar tiap kilometernya. Padahal, panjang JLS mencapai 660 kilometer. Artinya untuk pembangunan jalan saja membutuhkan setidaknya Rp 2,6 triliun. Padahal sokongan APBD Jatim untuk pembangunan JLS hanya Rp 50 miliar per tahun. Secara keseluruhan, kebutuhan pembangunan JLS diasumsikan mencapai Rp 5 triliun.

Dachlan menjelaskan, pembangunan fisik JLS dialokasikan dari APBN. Sedangkan untuk membuka lahan menggunakan dana dari APBD Jatim. Sementara untuk pembebasan tanah dari anggaran APBD kabupaten/kota yang dilalui oleh JLS.

“Penganggaran dari dana APBN diharapkan dapat dialokasikan lebih besar. JLS dianggapnya sebagai jalur penting yang dapat menjadi alternatif mengurai kemacetan yang kerap terjadi di jalur tengah dan pantai utara,” katanya.

JLS nantinya akan menjadi infrastuktur jalan dan aset penunjang pergerakan perekonomian di Jatim. Proyek JLS, diharapkan dapat mengembangan perekonomian Jatim di wilayah selatan. Selama ini, jalur ekonomi Jatim masih didominasi di Pantura. Sehingga JLS diharapkan, dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar di wilayah selatan Jatim. yop

Sumber: surabaya post | Sabtu, 22/10/2011
Sabtu, 22 Oktober 2011 | 0 komentar

PROYEK INFRASTRUKTUR | Jalur Lintas Selatan Jatim Terkendala

Kamis, 18 Agustus 2011 | 00.48.00 | 0 komentar

SURABAYA - Proyek infrastruktur jalur listasn selatan Jawa Timur masih terkendala. Gubernur Jawa Timur, Soekarwo pun telah melakukan pertemuan dengan anggota DPR dari provinsi ini agar proyek dipercepat dengan alokasi khusus.

Menurut Soekarwo yang ditemui di Surabaya, Selasa (16/8/2011), percepatan dilakukan khususnya di kawasan Pacitan menuju Malang, dan minimal mencapai jalur ini perlu penyelesaian tahap pertama yakni Pacitan - Tulungagung.

Dia mengakui proyek itu terkendala menyangkut pencairan anggaran dari pemerintah pusat. "Memang tidak lancar karena anggaran belum cair dari pemerintah pusat, tetapi proyek tetap berjalan," katanya.

Proyek JLS hingga selesai secara total, membutuhkan anggaran dana sekitar Rp 5 triliun, dengan panj ang jalan sekitar 660 kilometer, dengan lebar 24 meter, 16 jembatan, hutan masyarakat seluas 115, 14 hektar, hutan milik perhutani seluas 148,14 hektar, dan yang hingga kini belum bebas sepanjang 61,3 km, sementara jalan yang sudah beraspal hotmix sepanjang 15 kilometer.

Sementara APBD Jatim hanya mampu mengucurkan anggaran tidak lebih dari Rp 50 miliar per tahun. Maka dibutuhkan kebijakan revolusi dari pemerintah pusat, provinsi dan pemerintah daerah agar proyek tuntas sesuai rencana.

Anggota Komisi D DPRD Jatim, Irwan Setiawan mengatakan, total APBD Jatim 2011 sebesar Rp 10,6 triliun dan sekitar 60 persen terserap untuk gaji pegawai. Sebab pembangunan pembangunan satu tahap JLS sepanjang 70,68 kilometersudah membutuhkan anggaran sekitar Rp 178 miliar.

Sebab anggaran pembangunan JLS tersebut per kilomiter antara Rp 2 miliar hingga Rp 4 miliar. "Jika hanya mengandalkan APBD Jatim,sulit untuk mewujudkan proyek itu hingga 2014," katanya.

Source: KOMPAS.com | Rabu, 17 Agustus 2011
Kamis, 18 Agustus 2011 | 0 komentar

JLS Jatim Ditarget Tuntas 2014

Kamis, 26 Mei 2011 | 01.18.00 | 0 komentar

SURABAYA – Penyelesaian proyek Jalur Lintas Selatan (JLS) di wilayah Jatim diprediksi tuntas pada 2014 mendatang. Kementerian PU mendesak kepada Pemda sesegera mungkin membantu dalam proses pembebasan lahan. Pembebasan lahan terhambat membuat penyerapan anggaran yang tidak maksimal.

Selain pembebasan lahan, kondisi geografis yang cukup berat berupa pegunungan, jurang, sungai yang lebar juga menjadi faktor lambatnya proyek. “Pengalaman 2010 karena pembebasan lahan yang mengalami kendala dari jalur Pacitan-Trenggalek sepanjang 2 kilometer jadi menghambat,” kata Agoes Widjanarko, Sekjen Kementrian Pekerjaan Umum di sela Rembuk Infrastruktur Jatim, Senin (24/5).

Agoes menyebutkan, lamanya pembebasan lahan yang tak terlalu panjang itu akhirnya berimbas pada penyerapan anggaran yang tak maksimal. Selain itu kondisi geografis yang sulit di Kabupaten Pacitan, Trenggalek, Malang, Jember, dan Banyuwangi menjadi faktor yang cukup menghambat dalam pembanguan JLS. Selama ini, pembangunan JLS seringkali melakukan pemotongan tebing pegunungan dan pembukaan lahan hutan. Hal ini merupakan kegiatan yang sifatnya mengubah keseimbangan alam.

Pembangunan JLS Jatim merupakan pembangunan jalan baru yang membentang sepanjang pesisir pantai selatan Jawa Timur mulai dari Kabupaten Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, hingga Banyuwangi.

Secara keseluruhan JLS nantinya akan memiliki panjang 634.11 km. Dalam pembangunan JLS, total kebutuhan lahan proyek JLS seluas 13.515.288,00 m2. Rinciannya, kepemilikan lahan meliputi, lahan Perhutani 5.609.420 m2, perkebunan 1.284.240 m2, penduduk sekitar proyek 3.671.908 m2, dan lain-lain seluas 3.156.120 m2. Ia meminta tahun 2011 pelaksanaan pembangunan JLS bisa lebih maksimal dan tak ada lagi kendala pembebasan lahan seperti 2010.“Karena pembebesan lahan yang tak lama, anggaran yang tak terserap mencapai Rp 50 miliar dan itu dengan terpaksa harus dikembalikan,” tuturnya.

JLS nantinya akan menjadi infrastuktur jalan dan aset penunjang pergerakan perekonomian di Jatim. Proyek JLS, diharapkan dapat mengembangan perekonomian Jatim di wilayah selatan. Selama ini, jalur ekonomi Jatim masih didominasi di Pantura. Sehingga JLS diharapkan, dapat menggerakkan pertumbuhan ekonomi yang lebih besar di wilayah selatan Jatim. JLS sendiri dibangun semenjak 2002 dan diharapkan bisa selesai tepat waktu pada 2014 mendatang.“Jika Pemprov dan Pemkab bisa mengamankan tanahnya untuk pembangunan JLS bisa lancar, maka proses pembangunan bisa terus berlanjut dan penyelesaian bisa lebih cepat. Kami tetap yakin bisa selesai 2014 mendatang,” katanya.

Biaya pembangunan di area itu, lanjut dia, setidaknya dibutuhkan dana sebesar Rp 2 hingga Rp 4 miliar per kilometer. Dana itu didapatkan dari APBN. Asumsi saat ini, kebutuhan pembangunan JLS yang panjangnya sekitar 660 km ini mencapai Rp 5 triliun.

“Kami tetap optimis target itu bisa tercapai, karena itu kami minta kepada Pemda setempat untuk membantu dalam menyelesaikan pembebasan lahan,” katanya. yop

Sumber: surabayapost.co.id
Kamis, 26 Mei 2011 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan