Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Razia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Razia. Tampilkan semua postingan

Satpol PP Tulungagung Razia Pelajar Bolos

Kamis, 22 Maret 2012 | 04.35.00 | 0 komentar

Tulungagung, - Satuan Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menggelar razia pelajar bolos di sejumlah warung kopi maupun kafe remang-remang yang ada di sekitar wilayah kota setempat, Rabu.

Kepala Satpol PP Tulungagung Soeroto mengatakan, razia yang mereka gelar mulai pukul 10.00 WIB hingga 13.00 WIB tersebut setidaknya berhasil menemukan tujuh pelajar bolos yang semuanya masih mengenakan seragam sekolah.
"Ketujuh siswa ini lantas kami bawa ke kantor Satpol PP untuk selanjutnya diberi pembinaan sekaligus peringatan," katanya.

Dikatakannya, saat terjaring razia petugas, ketujuh pelajar itu diketahui sedang asyik bermalas-malasan sambil minum kopi dan rokokan di warung kopi Kelurahan Bago, sementara sebagian lainnya bermain game online di sebuah warnet yang ada di jalan Antasari, Kota Tulungagung.

"Setelah dilakukan pendataan dan sedikit arahan untuk pembinaan, mereka kemudian kami kembalikan ke sekolah masing-masing dengan cara dijemput oleh pihak sekolah," terang Soeroto.

Penertiban terhadap siswa bolos di wilayah Kabupaten Tulungagung selama ini memang acapkali digelar Satpol PP dan kepolisian setempat. Tujuannya, selain untuk penertiban dan kedisiplinan, operasi yang digelar polisi biasanya dimaksudkan untuk mengantisipasi kenakalan remaja, narkoba, maupun potensi tindak pidana lainnya.

Tidak hanya di kalangan pelajar, budaya bolos ditengarai juga mewabah di kalangan pegawai negeri sipil (PNS) setempat. Indikasi ini menguat seiring budaya ngopi dan "nyethe" (menghisap rokok yang telah diolesi ampas minuman kopi) yang kian menjamur di ratusan warung-warung setempat.

Satpol PP selama ini telah bekerja keras dalam segala potensi ketidakdisiplinan siswa maupun pegawai di lingkungan daerah setempat. Namun keterbatasan personel serta anggaran untuk operasional, upaya penertiban sejauh ini masih jauh dari maksimal.

"Jika memang ingin menertibkan, sebaiknya serius. Jangan asal kejar target, itu tidak mendidik dan tidak akan menyelesaikan akar persoalan," ujar M Ichwan, salah seorang remaja setempat yang juga seorang aktivis lingkungan. (*)

Sumber: antarajatim.com | 21 Mar 2012
Kamis, 22 Maret 2012 | 0 komentar

Perekam Pungli Polantas Tulungagung Mulai "Ketakutan"

Kamis, 16 Februari 2012 | 03.13.00 | 4 komentar

Tulungagung - Andik Setiawan (19), pemuda yang merekam aksi "pungli" (pungutan liar) sejumlah oknum Polisi Lalu Lintas (Polantas) Tulungagung saat menggelar razia surat-surat kendaraan, mengaku mulai dicekam ketakutan karena sempat mendapat teror dari pihak-pihak tertentu.

"Kalau dulu saya memang berani saja karena memang tidak salah, tapi kalau perkembangannya seperti ini, bagaimanapun takut juga," kata Andik usai memenuhi panggilan tim Propam Polres Tulungagung, Rabu.

Sejak insiden perampasan ponsel dan tendangan terarah yang dilakukan oknum anggota unit Laka Lantas Polres Tulungagung, beberapa waktu lalu setelah ia kedapatan merekam adegan pungli oknum polisi, Andik sebenarnya tidak pernah lagi menerima teror atau ancaman fisik secara langsung.

Namun, pemeriksaan yang dilakukan tim gabungan Propam Polda Jatim dan Propam Polres Tulungagung, sehari sebelumnya sudah cukup membuat Andik merasa tidak nyaman.

Apalagi, kata Andik kepada sejumlah wartawan, saat pemeriksaan yang berlangsung selama kurang lebih lima jam di rumahnya di daerah Desa Aryojeding, Kecamatan Rejotengan, dirinya sempat diminta salah satu oknum propam agar menghapus seluruh file atau dokumen pungli yang pernah dia rekam.

"Saya juga ditanya apakah file (pungli) tersebut sudah disebarluaskan ke orang lain atau belum, saya jawab digandakan oleh beberapa rekan wartawan dan ponsel yang digunakan merekam juga sudah saya jual," ungkapnya.

Rasa was-was semakin Andik rasakan karena saat pemeriksaan tidak hanya dirinya seorang yang dicecar pertanyaan tim propam, tetapi juga lima kerabatnya yang saat kejadian pungli ikut terkena razia kelengkapan surat berkendara oleh jajaran Satlantas Polres Tulungagung di daerah Kecamatan Ngunut.

"Tapi ya sudahlah, saya sudah niat untuk membongkar praktik kotor mereka, apapun yang terjadi. Kalaupun karena ini saya harus masuk penjara, saya tetap akan lawan ketidakbenaran tersebut," tandasnya.

Disampaikan Andik, dalam pemeriksaan tersebut, materi pertanyaan seputar kronologis kejadian hingga proses perekaman. Tim propam Polda Jatim juga meminta keterangan seputar keberadaan ponsel yang dipakai merekam, dan siapa saja yang menerima video tersebut.

Rabu pagi, Andik datang ke ruang Propam Polres Tulungagung untuk menandatangani berita acara pemeriksaan. Dalam kesempatan tersebut, petugas propam memintanya membaca dengan detail ini BAP, sebelum kemudian menandatanganinya.

Dalam ruangan tersebut, Andik juga menceritakan, bertemu dengan dua polisi lalu lntas yang melakukan pungli, namun berada di meja berbeda. Mereka sempat beradu pandang tanpa muncul kata sepatah pun. "Sepertinya mereka marah dan tidak suka dengan yang saya lakukan," ujarnya.

Sementara Kasubbag Humas Polres Tulungagung, AKP Dwi Hartaya mengatakan, pihak Propam Polres Tulungagung telah memeriksa dua polisi lalu lintas yang diduga sebagai pelaku pungli.

Keduanya diketahui berasal dari satuan lalu lintas, dengan pangkat brigadir. Namun pemeriksaan terus berkembang dan tidak menutup kemungkinan akan ada anggota yang menjadi terperiksa.

"Pemeriksaan tim propam bersifat independen dan tidak bisa dicampuri siapa pun, kita lihat saja nanti hasilnya bagaimana," kata Dwi Hartaya. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 15 Peb 2012
Kamis, 16 Februari 2012 | 4 komentar

Perekam Video Polisi Minta Uang Diperiksa

Tulungagung: Andik Setiawan korban sekaligus perekam video polisi pungutan liar, menjalani pemeriksaan tertutup di Mapolres Tulungagung, Jawa Timur. Ia diperiksa selama satu jam.

Andik mengatakan tidak ada tekanan dalam pemeriksaannya. Polisi hanya meminta keterangan tentang kronologis kejadian. Dua oknum polisi yang terlihat di dalam video pungli juga telah diperiksa Propam Polres Tulungagung.

Sebelumnya beredar video dimana aAdik dimintai uang oleh oknum polisi saat razia kendaraan bermotor. Oknum polisi ini meminta seratus ribu hingga Rp200 ribu dengan dalih sebagai uang titipan sidang. Korban sengaja merekam dengan ponsel karena kesal dengan aksi pungutan liar.(DNI)

Sumber: metrotvnews.com | Kamis, 16 Februari 2012
| 0 komentar

Polisi Nakal Meminta Uang Terekam Kamera Ponsel

Selasa, 14 Februari 2012 | 19.29.00 | 0 komentar

Tulungagung: Seorang warga merekam polisi lalu-lintas nakal yang melakukan praktik pungutan liar di jalan raya di Tulungagung, Jawa Timur. Dalam rekaman terdengar jelas suara polisi meminta denda pada para pelanggar lalu-lintas.

Warga merekam kegiatan razia dengan sebuah kamera telepon seluler (ponsel). Jelas sekali seorang polisi menentukan besaran denda pada pelanggar lalu-lintas sebesar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu untuk setiap mobil yang terjaring razia.

Rekaman berdurasi lima menit itu memperlihatkan anggota polisi yang tak segan menakut-nakuti pelanggar lalu-lintas bila tak memenuhi 'denda' itu. Polisi bahkan mengancam pelanggar menjalani peradilan.

Polres Tulungagung telah menerima laporan rekaman tersebut. Polres Tulungagung berjanji menindaklanjuti laporan dan memberi sanksi pada anggota yang meminta uang pada pelanggar lalu-lintas.(RRN)

Sumber: Metrotvnews.com | Selasa, 14 Februari 2012
Selasa, 14 Februari 2012 | 0 komentar

Satpol PP Tulungagung Razia Puluhan "Gepeng"

Jumat, 16 Desember 2011 | 22.12.00 | 0 komentar

Tulungagung - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Tulungagung, Jawa Timur, Jumat merazia puluhan gelandangan dan pengemis ("gepeng") musiman di sejumlah titik pertokoan karena dianggap sudah meresahkan masyarakat setempat.

"Penertiban ini digelar sebagai upaya antisipasi meningkatnya jumlah 'gepeng' menjelang Natal dan tahun baru," kata Kepala Satpol PP Tulungagung, Soeroto, Jumat.

Razia yang berlangsung kurang lebih tiga jam, mulai pukul 11.00 WIB hingga 14.00 WIB itu berlangsung lancar. Pasukan Satpol PP bergerak secara serentak menggunakan dua mobil dan langsung menyisir sejumlah kawasan pertokoan, pasar, serta sejumlah fasilitas umum yang selama ini menjadi konsentrasi gelandangan dan pengemis.

Hasilnya, sedikitnya 30 gepeng berhasil dijaring. Mereka kemudian dibawa menuju kantor Satpol PP Tulungagung untuk kemudian dilakukan pendataan sekaligus identifikasi.

"Setelah kami lakukan pendataan tadi diketahui bahwa sebagian besar dari gepeng yang ada di Tulungagung selama ini berasal dari luar kota. Fenomena ini bisa semakin runyam jika tidak sedari awal dilakukan penertiban, seperti kami lakukan saat ini," ujarnya.

Soeroto menegaskan, operasi penertiban akan terus mereka lakukan, bahkan hingga detik-detik menjelang akhir tahun 2011 yang tinggal menyisakan beberapa hari lagi.

Menurut dia, tindakan tegas tersebut perlu dilakukan sebagai upaya meningkatkan
ketertiban umum. "Bagaimanapun keberadaan para pengemis dan gelandangan musiman ini sudah meresahkan, bahkan mengganggu ketertiban umum," tandasnya.

Kebijakan maupun tindakan lebih lanjut terhadap para gepeng yang terjaring razia kemudian diserahkan pihak dinas sosial setempat. Meski tidak terlibat langsung dalam upaya maupun tindakan pascapenertiban, Soeroto mengisyaratkan bahwa para gepeng yang berasal dari luar Tulungagung akan dipulangkan ke daerah asalnya.

"Lazimnya begitu, tapi yang asal-usulnya dari Tulungagung biasanya mendapat pelatihan ketrampilan ataupun jenis pembinaan lainnya agar mereka lebih berdaya dan produktif," jelasnya.

Jumlah pengemis di Kabupaten Tulungagung selama ini memang cukup banyak. Informasi dari sejumlah warga di sejumlah kawasan perumahan, jumlah pengemis biasanya meningkat ketika memasuki hari libur, seperti Sabtu dan Minggu.

Sebagian dari mereka bahkan menjadi dua hari libur keluarga tersebut sebagai jadwal rutin untuk meminta-minta ke beberapa komplek perumahan maupun perkampungan, sementara pada hari lainnya mengemis ke luar kota. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 16 Des 2011
Jumat, 16 Desember 2011 | 0 komentar

Polres Tulungagung Razia "Ponsel Mesum" pelajar

Minggu, 24 Juli 2011 | 10.01.00 | 0 komentar

Tulungagung - Jajaran Kepolisian Resort (Polres) Tulungagung, Jawa Timur, selama beberapa hari terakhir gencar menggelar razia ke sejumlah sekolah setempat, dengan sasaran ponsel dan barang bawaan pelajar untuk mengantisipasi peredaran video porno/mesum maupun narkoba.

Sebagaimana diungkapkan KBO Reskrim Polres Tulungagung, Iptu Siswanto, Sabtu, operasi gabungan tersebut selain digelar dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan juga ditujukan untuk mencegah terjadinya kenakalan remaja yang cenderung meningkat.

"Atensi kami ke sana (mencegah kenakalan remaja). Kalau spesifiknya ya mengantisipasi peredaran narkoba, kekerasan seksual, maupun praktik prostitusi terselubung di kalangan pelajar," terangnya.

Ia menjelaskan, sejauh ini sudah dua lembaga sekolah setingkat SMA/SMK yang mereka razia. Kedua sekolah dimaksud antara lain adalah SMA Diponegoro serta SMK PGRI Tulungagung.

Rencananya, sidak atau razia akan dilanjutkan ke sejumlah sekolah lain, tidak terkecuali ke SMK 1 Tulungagung, SMK 2 Tulungagung, SMA 1 Boyolangu, maupun SMA 1 Kedungwaru.

Meski sejauh ini belum ada hasil siginifikan terkait pelanggaran pidana maupun temuan ponsel yang menyimpan video mesum, Iptu Siswanto menegaskan razia tetap dilanjutkan secara periodik. Apalagi, saat ini sudah menjelang pelaksanaan ibadan puasa ramadan bagi umat Islam.

Dalam setiap menggelar inspeksi atau operasi ke sekolah, jajaran Polres Tulungagung menurunkan sedikitnya 45 personel yang dibagi menjadi dua tim.

Mereka kemudian bergerak secara terpisah dengan sasaran yang ditentukan secara acak pada saat itu. Masing-masing tim ini kemudian diskenario memasuki ruang-ruang kelas di sekolah bersangkutan dan meminta para pelajar mengeluarkan ponsel untuk diperiksa file video mesum yang mungkin tersimpan dalam memori.
Sumber: Antara
Minggu, 24 Juli 2011 | 0 komentar

Bawa 20 Ribu Double L, Dua Pemuda Dibui

Selasa, 28 September 2010 | 15.21.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Dua pemuda dibekuk polisi pada Minggu (26/9) lalu dengan tuduhan menyimpan dan mengedarkan narkoba. Mereka adalah Jaenal Arifin, 27, warga Desa Jabon, Kecamatan Kalidawir; dan Fathurohman, 27, warga Desa Joho kecamatan Kalidawir.

Dari tangan kedua pelaku, polisi mengamankan sedikitnya 20.000 butir pil double L putih yang dibungkus tas plastik putih. Akibat perbuatannya, kedua pelaku beserta barang bukti berupa 1 HP merek Nokia, 20 ribu pil double dan satu unit sepeda motor merek Honda Supra X saat ini diamankan di Polres Tulungagung untuk penyelidikan.

Kapolres Tulungagung AKBP Heri Wahono melalui Kasatnarkoba AKP Sugiharjo membenarkan adanya kejadian tersebut. Perwira dengan tanda pangkat tiga balok di pundak ini mengatakan, kedua pelaku ditangkap berdasarkan pengembangan penyelidikan Satreskoba Polres Tulungagung.

"Berdasarkan hasil pengembangan, kami mengendus transaksi yang akan dilakukan kedua pelaku pada hari Minggu sekitar pukul 22.00 di kawasan hutan sekitar Desa Banyuurip, Kecamatan Kalidawir," ujarnya.

Mendapat informasi itu, AKP Sugiharo melanjutkan, pihaknya segera menuju kawasan yang rencananya dijadikan transaksi pil jenis double L kedua pelaku. "Saat kami tangkap di lokasi kejadian, kedua pelaku awalnya berkilah. Bahwa, mereka tidak melakukan transaksi apa pun. Setelah anggota kami menemukan bungkusan plastik yang disimpan di semak-semak dekat TKP, mereka tidak bisa mengelak," paparnya.

AKP Sugiharjo menambahkan, kedua pelaku digiring ke Polres Tulungagung untuk penyelidikan lebih lanjut. "Dari hasil penyelidikan sementara, barang haram diperoleh pelaku dari seseorang asal Kediri yang saat ini masih dalam pengejaran kami," ungkapnya.

Kasatnarkoba Polres Tulungagung menegaskan, akibat dari perbuatannya, kedua bakal diancam pidana setidaknya 4 tahun penjara. Pasalnya, kedua pelaku ditengarai melanggar pasal 197 Undang-Undang Kesehatan nomor 36 tahun 2009. "Untuk itu, bagi warga yang lain, jangan coba-coba bermain-main atau menggeluti bisnis maupun usaha yang sekiranya melanggar hukum, jika tidak ingin bernasib seperti kedua pelaku ini," pungkasnya. (tri/her)
Sumber: jawapos.com
Selasa, 28 September 2010 | 0 komentar

Tutup Sementara Kafe Manohara, Juga Razia Tempat Mesum dan Toko Swalayan

Jumat, 27 Agustus 2010 | 02.06.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Dalam sehari kemarin, setidaknya terdapat dua razia penertiban yang dilakukan aparat dari Pemkab Tulungagung. Yakni, razia penertiban sejumlah toko dan swalayan yang diduga menjual makanan dan minuman (mamin) kedaluwarsa, serta razia penertiban kafe dan prostitusi liar.

Kepala Bidang Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian dan Perdagangan Tulungagung, Eka Prihadi mengatakan, razia penertiban toko dan swalayan ini merupakan upaya Pemkab Tulungagung dalam melindungi konsumen. Pasalnya, jelang Hari Raya Idul Fitri penjualan barang-barang kebutuhan ditengarai meningkat. "Kami tidak ingin peningkatan nilai penjualan ini merugikan konsumen. Yakni, indikasi barang kedaluwarsa, maupun yang diduga mengandung bahan dasar melamin. Oleh sebab itu, kami segera lakukan razia penertiban. Kali ini, wilayah timur besok giliran kota," ujarnya kepada RaTu.

Eka Prihadi melanjutkan, dalam razia penertiban yang digelar mulai pukul 08.00 kemarin, diawali dari pertokoan yang berada di kawasan Rejotangan, Ngunut hingga Sumbergempol. "Dalam razia kali ini, kami berhasil menemukan beberapa produk yang ditengarai kurang layak. Yakni, kaleng minuman yang rusak, melembung serta berkarat. Dan juga makanan kedaluwarsa," katanya.

Dari hasil temuan itu, Eka Prihadi mengatakan, pihaknya mendesak kepada setiap pemilik swalayan dan toko, terkait hasil temuan beberapa produk minuman kaleng yang diduga kalengnya mengalami kerusakan, piring yang berbahan dasar melamin untuk diamankan. "Kami tidak punya hak untuk menyita, tapi hanya sebuah penyuluhan. Makanya, kami meminta kepada pemilik toko agar produk itu diamankan, dan kemudian dikembalikan kepada masing-masing distributior," paparnya.

Sementara itu, selang beberapa jam kemudian, tepatnya pukul 15.00, giliran Satpol PP Tulungagung yang menggelar aksi serupa. Kali ini sasarannya adalah sejumlah kafe yang diduga beroperasi di luar waktu yang ditentukan pemerintah selama Ramadan. Yakni, pukul 20.00 hingga pukul 24.00. Selain itu, dalam razia kemarin petugas juga menertibkan sejumlah kawasan yang diduga sebagai prostitusi liar. "Dari hasil razia ini, kami telah menutup sementara Kafe Manohara yang berada di Desa Bono, Kecamatan Boyolangu,"kata Kabid Pembinaan dan Pengembangan Kapasitas Satpol PP Tulungagung, Wahyu Irawan.

Menurut dia, pihaknya terpaksa menutup kafe tersebut, karena telah melanggar kesepakatan yang telah ditentukan sebelumnya dengan warga sekitar. Bahkan, sebelum melaporkan kepada kami, warga berniat untuk menggeruduk lokasi itu. Akhirnya, pada Sabtu kemarin, pemilik kafe menyatakan tidak beroperasi di luar ketentuan yang berlaku. Tapi, kenyataannya surat pemberlakuan itu tidak diindahkan. "Sebelum kami tertibkan, kami sudah lakukan himbauan, tapi tidak diindahkan. Sehingga, kami lakukan penutupan," tegasnya.

Selain merazia kafe, Satpol PP kemarin juga merazia beberapa kawasan di Desa Doroampel, Kecamatan Sumbergempol, yang diduga sebagai tempat prostitusi liar. Yakni, di rumah milik Jali dan Pingi. "Di kedua tempat itu memang nihil. Namun, beberapa hari lagi kami akan kembali merazia tempat itu lagi, "terangnya. (tri/ris)

Sumber : Jawa Pos
Jumat, 27 Agustus 2010 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan