Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Pol PP. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pol PP. Tampilkan semua postingan

Satpol PP Tulungagung Antisipasi Penghapusan Linmas

Selasa, 23 September 2014 | 20.32.00 | 1 komentar

Tulungagung - Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, mulai mengantisipasi rencana pemerintah menghapus struktur linmas (perlindungan masyarakat) pascaterbitnya Peraturan Presiden No.88/2014 tentang Penyempurnaan Organisasi Pertahanan Sipil.

"Secara prinsip kami siap, meski belum ada juklak/juknis (petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis) yang bisa menjadi pendoman," kata Kabid Linmas Satpol PP Tulungagung, Bendot Wahyudianto, Senin. Read More

Sumber: beritasatu.com | Selasa, 23 September 2014
Selasa, 23 September 2014 | 1 komentar

LSM: Perizinan Longgar Picu Pertumbuhan Kafe "Remang-Remang"

Kamis, 18 September 2014 | 01.07.00 | 1 komentar

Tulungagung - LSM Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat Tulungagung, Jawa Timur, menuding longgarnya perizinan mendirikan tempat hiburan malam menjadi salah satu pemicu menjamurnya kafe "remang-remang" di daerah setempat dalam beberapa tahun terakhir.

"Dulu izin itu jelas, kafe untuk apa dan ada pembatasan terkait hall, kamar/ruangan, serta hanya digunakan tempat makan. Sekarang batasannya tidak jelas sehingga jumlahnya tidak terkendali," kata Ketua FKDM Tulungagung, Rahardian Abdul Rasyid di Tulungagung, Rabu. Read More

Sumber: antarajatim.com | 17 Sept 2014
Kamis, 18 September 2014 | 1 komentar

Pembekuan Sementara Raja Cafe

Rabu, 20 Maret 2013 | 21.38.00 | 0 komentar

Tulungagung - BPPT bersama Satpl PP dan Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga dalam rangka penertiban kafe-karaoke di Tulungagung melakukan pembekuan sementara izin operasional Raja Cafe yang bertempat di Jalan Jayengkusuma Tulungagung pada hari Selasa tanggal 19 Maret 2012. Surat Pembekuan tersebut berlaku mulai tanggal 19 Maret 2013.

Sebelumnya BPPT telah mengeluarkan surat peringatan sampai tiga kali (SP1, SP2, SP3) terhadap pelanggaran yang dilakukan. Izin usaha kafe-karaoke Raja Cafe telah menyalahi aturan karena pada kenyataannya kafe ini menampilkan live music, disc jockey (DJ), tari striptease, dan menjual miras.

Penertiban tersebut mempunyai dasar hukum yaitu:
- Peraturan Daerah Kabupaten Tulungagung No. 4 Tahun 2011 tentang Pengendalian dan pengawasan peredaran minuman beralkohol di Kabupaten Tulungagung.
- Peraturan Daerah Kabupaten Tulungagung No. 7 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan ketertiban umum.
- Peraturan Daerah Kabupaten Tulungagung Nomor 6 Tahun 2012 tentang Kepariwisataan.
- Peraturan Bupati Kabupaten Tulungagung Nomor 39 Tahun 2012 tentang Petunjuk Teknis Peraturan Daerah Kabupaten Tulungagung Nomor 6 Tahun 2012 tentang kepariwisataan.

Sumber: tulungagung.go.id | 20 Maret 2013
Rabu, 20 Maret 2013 | 0 komentar

Tiga Karaoke di Tulungagung Terancam Ditutup

Kamis, 14 Februari 2013 | 18.14.00 | 0 komentar

Tulungagung - Tiga unit usaha rumah karaoke di Kabupaten Tulungagung terancam ditutup oleh Satpol PP karena menggelar pertunjukkan “live music” secara ilegal.

“Satu dari tiga rumah karaoke yang terancam dibekukan izin usahanya adalah Kafe Radja karena sudah mendapat surat peringatan tiga kali,” kata Kasi Informasi Pengaduan dan Penindakan Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BPPT) Kabupaten Tulungagung, Nurkholis, Senin (12/02/2013).

Sementara dua rumah karaoke lain yang mendapat sorotan karena melanggar izin usaha adalah Kafe Yess dan Star Cafe.

Menurut keterangan Nurkholis, dua tempat hiburan khusus untuk orang dewasa ini masih kesempatan lebih panjang dibanding Kafe Radja karena baru mendapat peringatan awal.

Kafe dan Karaoke “Yess” sampai saat ini masih menerima satu kali teguran/surat peringatan (SP), sementara Star Cafe menerima SP-2.

“Seperti juga kepada Kafe Radja, kami hanya memberikan toleransi sampai SP-3. Selanjutnya jika kedapatan masih melanggar aturan izin usaha sepenuhnya akan dibekukan,” tegasnya.

Nurkholis tidak menyebut jadwal inspeksi terakhir akan mereka lakukan ke Kafe Radja maupun dua rumah karaoke lain.

Ia berdalih, selain menunggu koordinasi dengan satpol PP dan dinas pariwisata daerah, jadwal sidak menjadi rahasia internal tim untuk menghindari kebocoran informasi.

“Yang pasti inspeksi akan kami lakukan sewaktu-waktu, dan jika diketahui ada pertunjukkan live music di sana (Kafe Radja), temuan itu akan kami evaluasi bersama tim untuk selanjutnya dikeluarkan surat pembekuan (usaha),” tandasnya.

Pertunjukkan musik langsung dengan menampilkan sejumlah penyanyi atau grup band tertentu selama ini memang kerap digelar sejumlah rumah karaoke di kota Tulungagung.

Di tempat yang oleh kalangan muda dikenal dengan istilah sarana “dugem” atau bersenang-senang itu, selain disediakan belasan pemandu wanita yang cantik-cantik dan berpakaian seksi, juga disediakan aneka minuman keras.

Digunakannya fasilitas live music untuk transaksi seksual dan pesta minuman keras inilah yang pada kelanjutannya banyak mendapat sorotan masyarakat, termasuk BPPT, satpol PP, dan dinas pariwisata daerah setempat.

“Masalahnya di Tulungagung sampai saat ini belum ada perda yang mengatur soal pertunjukkan live music, adanya hanya sebatas pengelolaan kafe dan karaoke,” timpal Anang, petugas perizinan BPPT Tulungagung.@ridwan.licom/ant

Sumber: LENSAINDONESIA.COM | Selasa, 12 Februari 2013
Kamis, 14 Februari 2013 | 0 komentar

Lokalisasi Kaliwungu Dijaga Aparat

Sabtu, 09 Juni 2012 | 01.25.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Polres Tulungagung mulai mengamankan lokalisasi Kaliwungu, Kecamatan Ngunut menjelang rencana penutupan Ramadan mendatang.

Berbeda dengan lokalisasi Ngujang, Kecamatan Kedungwaru, penghuni lokalisasi Kaliwungu paling keras menentang rencana penutupan oleh Pemkab Tulungagung. Bahkan petugas dari Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Tulungagung pun tidak bisa masuk.

Namun menurut Kapolres Tulungagung, AKBP Wishnu Hermawan Februanto, seperti di Lokalisasi Ngujang, dua hari ke depan akan didirikan pos penjagaan. "Kami akan dirikan pos gabungan, untuk menjaga keamanan menjelang penutupan," terangnya.

Wishnu melanjutkan, pos akan diisi 15 orang petugas, terdiri dari 10 polisi, satu TNI, satu polisi militer dan tiga Satpol PP. Petugas gabungan ini akan berjaga selama 24 jam.

Wishnu menegaskan, bukan pihaknya yang melakukan penutupan lokalisasi. Penutupan dilakukan Pemkab Tulungagung, sedangkan pihaknya menjamin prosesnya berjalan aman dan tertib. "Kami tidak dalam kapasitas menutup lokalisasi, melainkan hanya mengamankan saja," tambahnya.

Wishnu berharap, semua pihak bisa merasa aman, termasuk petugas yang selama ini tidak bisa masuk ke lokalisasi. Pos penjagaan tersebut juga bukan untuk membuat takut orang yang akan datang ke lokalisasi.

Sumber: TRIBUNNEWS.COM | Jumat, 8 Juni 2012
Sabtu, 09 Juni 2012 | 0 komentar

Satpol PP Tulungagung Razia Pelajar Bolos

Kamis, 22 Maret 2012 | 04.35.00 | 0 komentar

Tulungagung, - Satuan Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menggelar razia pelajar bolos di sejumlah warung kopi maupun kafe remang-remang yang ada di sekitar wilayah kota setempat, Rabu.

Kepala Satpol PP Tulungagung Soeroto mengatakan, razia yang mereka gelar mulai pukul 10.00 WIB hingga 13.00 WIB tersebut setidaknya berhasil menemukan tujuh pelajar bolos yang semuanya masih mengenakan seragam sekolah.
"Ketujuh siswa ini lantas kami bawa ke kantor Satpol PP untuk selanjutnya diberi pembinaan sekaligus peringatan," katanya.

Dikatakannya, saat terjaring razia petugas, ketujuh pelajar itu diketahui sedang asyik bermalas-malasan sambil minum kopi dan rokokan di warung kopi Kelurahan Bago, sementara sebagian lainnya bermain game online di sebuah warnet yang ada di jalan Antasari, Kota Tulungagung.

"Setelah dilakukan pendataan dan sedikit arahan untuk pembinaan, mereka kemudian kami kembalikan ke sekolah masing-masing dengan cara dijemput oleh pihak sekolah," terang Soeroto.

Penertiban terhadap siswa bolos di wilayah Kabupaten Tulungagung selama ini memang acapkali digelar Satpol PP dan kepolisian setempat. Tujuannya, selain untuk penertiban dan kedisiplinan, operasi yang digelar polisi biasanya dimaksudkan untuk mengantisipasi kenakalan remaja, narkoba, maupun potensi tindak pidana lainnya.

Tidak hanya di kalangan pelajar, budaya bolos ditengarai juga mewabah di kalangan pegawai negeri sipil (PNS) setempat. Indikasi ini menguat seiring budaya ngopi dan "nyethe" (menghisap rokok yang telah diolesi ampas minuman kopi) yang kian menjamur di ratusan warung-warung setempat.

Satpol PP selama ini telah bekerja keras dalam segala potensi ketidakdisiplinan siswa maupun pegawai di lingkungan daerah setempat. Namun keterbatasan personel serta anggaran untuk operasional, upaya penertiban sejauh ini masih jauh dari maksimal.

"Jika memang ingin menertibkan, sebaiknya serius. Jangan asal kejar target, itu tidak mendidik dan tidak akan menyelesaikan akar persoalan," ujar M Ichwan, salah seorang remaja setempat yang juga seorang aktivis lingkungan. (*)

Sumber: antarajatim.com | 21 Mar 2012
Kamis, 22 Maret 2012 | 0 komentar

Satpol PP Tulungagung Razia Puluhan "Gepeng"

Jumat, 16 Desember 2011 | 22.12.00 | 0 komentar

Tulungagung - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Tulungagung, Jawa Timur, Jumat merazia puluhan gelandangan dan pengemis ("gepeng") musiman di sejumlah titik pertokoan karena dianggap sudah meresahkan masyarakat setempat.

"Penertiban ini digelar sebagai upaya antisipasi meningkatnya jumlah 'gepeng' menjelang Natal dan tahun baru," kata Kepala Satpol PP Tulungagung, Soeroto, Jumat.

Razia yang berlangsung kurang lebih tiga jam, mulai pukul 11.00 WIB hingga 14.00 WIB itu berlangsung lancar. Pasukan Satpol PP bergerak secara serentak menggunakan dua mobil dan langsung menyisir sejumlah kawasan pertokoan, pasar, serta sejumlah fasilitas umum yang selama ini menjadi konsentrasi gelandangan dan pengemis.

Hasilnya, sedikitnya 30 gepeng berhasil dijaring. Mereka kemudian dibawa menuju kantor Satpol PP Tulungagung untuk kemudian dilakukan pendataan sekaligus identifikasi.

"Setelah kami lakukan pendataan tadi diketahui bahwa sebagian besar dari gepeng yang ada di Tulungagung selama ini berasal dari luar kota. Fenomena ini bisa semakin runyam jika tidak sedari awal dilakukan penertiban, seperti kami lakukan saat ini," ujarnya.

Soeroto menegaskan, operasi penertiban akan terus mereka lakukan, bahkan hingga detik-detik menjelang akhir tahun 2011 yang tinggal menyisakan beberapa hari lagi.

Menurut dia, tindakan tegas tersebut perlu dilakukan sebagai upaya meningkatkan
ketertiban umum. "Bagaimanapun keberadaan para pengemis dan gelandangan musiman ini sudah meresahkan, bahkan mengganggu ketertiban umum," tandasnya.

Kebijakan maupun tindakan lebih lanjut terhadap para gepeng yang terjaring razia kemudian diserahkan pihak dinas sosial setempat. Meski tidak terlibat langsung dalam upaya maupun tindakan pascapenertiban, Soeroto mengisyaratkan bahwa para gepeng yang berasal dari luar Tulungagung akan dipulangkan ke daerah asalnya.

"Lazimnya begitu, tapi yang asal-usulnya dari Tulungagung biasanya mendapat pelatihan ketrampilan ataupun jenis pembinaan lainnya agar mereka lebih berdaya dan produktif," jelasnya.

Jumlah pengemis di Kabupaten Tulungagung selama ini memang cukup banyak. Informasi dari sejumlah warga di sejumlah kawasan perumahan, jumlah pengemis biasanya meningkat ketika memasuki hari libur, seperti Sabtu dan Minggu.

Sebagian dari mereka bahkan menjadi dua hari libur keluarga tersebut sebagai jadwal rutin untuk meminta-minta ke beberapa komplek perumahan maupun perkampungan, sementara pada hari lainnya mengemis ke luar kota. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 16 Des 2011
Jumat, 16 Desember 2011 | 0 komentar

Satpol PP Tulungagung Razia PSK Gunung Bolo

Kamis, 15 Desember 2011 | 22.16.00 | 0 komentar

Tulungagung - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Tulungagung, Rabu, merazia kompleks pekuburan China di Gunung Bolo, Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, yang selama ini dijadikan lokasi prostitusi liar.

Menurut Kasi operasional, Dwi Hari Subagyo, lokasi prostitusi liar Gunung Bolo sudah kerap dirazia, namun para PSK selalu mencuri kelengahan petugas, dan kembali menjajakan diri.

"Selama ini protitusi Gunung Bolo selalu kami razia secara rutin, namun para PSK tidak ada kapoknya dan terus kembali untuk menjajakan diri secara diam-diam," katanya.

Dwi menambahkan, prostitusi Gunung Bolo sudah ada sejak puluhan tahun silam, namun belakangan dibubarkan pemerintah, dan personel Satpol PP sempat ditempatkan secara rutin di lokasi tersebut.

Namun karena petugas tidak bisa berjaga 24 jam, kompleks pekuburan China tersebut kerap disalahgunakan para PSK untuk balik ke lokasi.

Dalam razia yang digelar Rabu (14/12) sore, terjaring sedikitya lima PSK yang rata-rata sudah berusia di atas 50 tahun, dan hanya satu orang yang paling muda berusia 42 tahun.

"Memang para PSK yang ada di Gunung Bolo rata-rata sudah berusia lanjut, dan tidak laku lagi di dua lokalisasi yang ada di Tulungagung, lokalisasi Ngujang dan Kaliwungu," terangnya.

Para PSK yang tertangkap lalu dibawa ke Kantor Satpol PP Kabupaten Tulungagung untuk didata dan diberi pengarahan, masing-masing dua PSK berasal dari Tulungagung, sedangkan tiga lainnya dari Jombang Malang dan Kediri.

Mereka yang tertangkap merupakan wajah-wajah lama yang sebelumnya pernah tertangkap pada razia sebelumnya. Menurut Dwi, cukup sulit untuk membuat jera pada PSK, karena tidak pernah ada hukuman berat bagi mereka yang dianggap melangar tindak pidana ringan (tipiring).

"Mereka wajah-wajah lama yang sudah pernah kami tangkap sebelumnya. Mereka kami data dan kami lepaskan kembali, sebab sidang dan denda tipiring pun tidak pernah membuat mereka jera. Yang penting pengawasan diperketat agar mereka tidak kembali ke Gunung Bolo," ujarnya.

Meski sudah berusia lanjut, pekerjaan para PSK ini sungguh memprihatinkan. Sp (53) asal Malang mengatakan, setiap harinya dirinya melayani lima hingga delapan orang hidung belang.

Dari setiap orang, Sp hanya meminta bayaran sebesar Rp15 ribu, sehingga setiap hari Sp bisa mendapatkan uang Rp75 ribu hingga Rp120 ribu. Meski tergolong tidak lagi muda, Sp mengaku menggeluti pekerjaan tersebut karena tidak punya pilihan lain.

"Biasanya uang yang didapat dipotong untuk bayar ojek pulang ke rumah dan biaya makan. Sisanya disimpan buat jaga-jaga kalau ada keperluan mendadak lainnya," katanya. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 15 Des 2011
Kamis, 15 Desember 2011 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan