Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Pameran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pameran. Tampilkan semua postingan

Komsatun,Pemilik Duta Usaha ONYX-Meraup Omzet Ratusan Juta dari Bisnis Batu Onyx

Rabu, 14 Maret 2012 | 17.00.00 | 0 komentar

Komsatun menunjukkan produk kerajinan yang dihasilkannya saat mengikuti pameran Adikriya Indonesia 2012 yang digelar Bank Rakyat Indonesia (BANK BRI) di Jakarta Convention Center (JCC) belum lama ini.

Keunikan produk kerajinan dari batu onyx dan marmer telah membawa Komsatun berpromosi hingga Timur Tengah.Produk kreatif dari batu alam ini dikagumi lantaran unik dan jenisnya variatif.

Wirausaha telah menjadi pilihanKomsatunselamapuluhan tahun.Semula,wanita yang berdomisili di Tulungagung, Jawa Timur, ini menjalankan bisnis angkutan umum bersama suaminya, Nurudin.Namun, krisis moneter pada 1990-an melambungkan harga-harga komoditas, termasuk ban mobil dan suku cadang kendaraan lainnya. “Sejak itu, kami memutuskan banting setir ke wirausaha kerajinan batu alam.Kami memulai dari nol,”ujar Komsatun kepada SINDO saat mengikuti pameran Adikriya Indonesia 2012 yang digelar Bank Rakyat Indonesia (BANK BRI) di Jakarta Convention Center (JCC),7–11 Maret 2012 lalu.

Saat itu sebagai pemain baru dalam bisnis kerajinan batu alam,Komsatun dan suami tidak serta-merta memproduksi kerajinan batu alam. Mereka terlebih dahulu mengamati dan mempelajari proses pembuatannya di desa tetangga yang merupakan lokasi produksi kerajinan batu alam dengan bahan baku utama batu onyx dan marmer. Sembari belajar, Komsatun membeli beberapa produk kerajinan dari batu onyx dan marmer untuk dijual kembali di toko kecil-kecilan di rumahnya.“Ternyata peminatnya banyak.Akhirnya terpikir ingin memproduksi sendiri,” ucap wanita berjilbab itu.

Setahun berbisnis jual-beli kerajinan batu onyx dan marmer, Komsatun mulai mencoba memproduksi sendiri produk sejenis di bawah bendera usaha “Duta Usaha Onyx” yang berlokasi di Desa Campurdarat, Tulungagung, Jawa Timur. Bahan baku batu onyx didatangkan dari Bawean, sedangkan marmer didapat dari wilayah terdekat seperti Bojonegoro, Pacitan,danTrenggalek. Untuk membantu proses produksi, Komsatun mempekerjakan puluhan karyawan dan pekerja terampil di bidang memahat dan mematung.Satu per satu produk kerajinan dari batu onyx dan marmer pun tercipta.

“ Produk perdana kami jenisnya meja-meja batu onyx dan vas,”sebutnya. Proses pembuatan produk kerajinanbatuonyxcukuplama. Awalnya,bongkahan besar batu onyx dengan berat sekitar 5 ton dipotong-potong sesuai pesanan. Selanjutnya,potongan batu dibubut,lalu dibentuk.Setelah berbentuk, misalnya bentuk meja,dilakukanpemolesanatau pengampelasan sampai lima kalihinggateksturbatumenjadi halus dan berkilap. Hasil akhirnya adalah meja batu onyx yang artistik.

“Selain meja dan vas,kami terus menambah variasi jenis dan model produk kerajinan batu onyx dan marmer hingga mencapai seratusan,”bebernya. Untuk batu onyx, produknya antara lain meja, vas bunga, aneka patung, pilar, gentong, toples, gelas,tempat abu, dan telur imitasi. Keunikan lain dari batu onyx adalah tembus cahaya sehingga bisa dipakai untuk lampu.Warna cahaya yang keluar menyesuaikan dengan warna bola lampu yang dipasang di dalamnya,tapi mampu membangun nuansa lebih artistik.Modelnya pun macammacam, di antaranya lampu jamur, lampu monalisa, lampu bokor, lampu tiang baskom, lampu telur,lampu model guci.

Adapun batu marmer lazim dipakai untuk produk wastafel dan lantai.Namun, variasi produknya tak kalah dari batu onyx. Mulai yang berukuran besar seperti pilar dan air mancur hingga yang kecil seperti piring, piala,catur, book holder, patung wisuda, piring, tempat tumbuk obat,tempat lilin.Marmer warna krem paling sering digunakan, kecuali untuk air mancur dekoratif memakai marmer hitam.Lainnya adalah marmer merah dan marmer abu-abu. Harga produk kerajinan batu onyx dan marmer tersebut bervariasi,mulai Rp6.000 untuk telur imitasi hingga yang termahal meja seharga Rp6 juta.

Dengan produk yang beragam itu,Komsatun dan suaminya mulai aktif berpromosi dan mengikuti berbagai pameran. Selain di Jakarta dan Bali,Komsatun juga berkesempatan mengikuti pameran di Dubai dan Malaysia pada awal 2000. “Pengunjung pameran banyak yang berminat,sampaisampai vas dan meja yang sedikit retak saja dibeli saking senangnya,” tuturnya. Dalam memasarkan produk, Komsatun memberi keleluasaan kepada konsumen atau calon pembeli.Konsumen bisa membeli langsung secara eceran maupun grosir atau melakukan pemesanan lewat telepon dan e-mail dengan bentuk dan ukuran produk yang dikehendaki.

Sejak 2006 Komsatun memasang foto-foto produk dan deskripsinya di website. Menurut Komsatun, pelanggan yang paling sering memesan produk umumnya berasal dari Jakarta, Semarang, dan Yogyakarta. Sesekali ia juga menerima pesanan dari luar Pulau Jawa seperti Palembang, Pekanbaru,Bali.Tak hanya berkisar secara lokal,kesempatan ekspor pun pernah dicicipinya pada periode 2005–2008. Saat itu, ia mengirim sejumlah produk ke Australia dan Jerman atas pesanan warga setempat yang tengah bekerja di Indonesia.

“ Sayangnya setelah krisis 2008, pesanan dari luar negeri ikut terhenti. Sekarang saya ingin untuk ekspor lagi,” ucapnya. Krisis juga diakui Komsatun menyebabkan menyusutnya pemesanan produk. Dulu sebelum krisis 2008, showroom “Duta Usaha Onyx” bisa didatangi 3–4 turis asing per minggu. Mereka biasanya diantar pemandu lokal dan terkadang langsung memborong beberapa produk untuk minta dikirim ke kota tertentu seperti Semarang dan Bali.

Namun, pascakrisis 2008, nyaris tak ada lagi turis yang datang.Praktis Komsatun pun mengandalkan pembeli dan pemesan lokal. “Satu-satunya jalan untuk menjangkau lebih banyak konsumen lagi ya dengan mengikuti pameran seperti Adikriya Indonesia 2012 ini. Istilahnya jemput bola. Kalau enggak diajak pameran,yasudah palingpaling kami di rumah saja menunggu bola datang,”tuturnya.

Komsatun merasa beruntung telah difasilitasi BANK BRI untuk mengikuti pameran yang berlangsung selama lima hari tersebut.Fasilitas pameran seperti stan dan akomodasi diberikan secara cuma-cuma bagi para pelaku usaha kecil menengah (UKM) yang menjadi nasabah dan mitra binaan BANK BRI.“Suami saya kebetulan sudah menjadi nasabah BANK BRI sejak 1980,sebelum kami menikah,”bebernya. Menurut Komsatun, ajang pameran sangat bermanfaat untuk menjaring calon-calon pelanggan dan menggenjot omzet.

Sebelum krisis 2008, ungkapnya, omzet rata-rata mencapai Rp350 juta per bulan. Saat ini, omzet cenderung fluktuatif, tergantung pada ada atau tidaknya pemesanan. “Kadang-kadang dalam seminggu ada order Rp35 juta, tapi kadang tidak ada sama sekali. Jadi omzet tidak tentu,antara Rp20 juta hingga 350 juta per bulan,”sebutnya. inda susanti

Sumber: seputar-indonesia.com | Wednesday, 14 March 2012
Rabu, 14 Maret 2012 | 0 komentar

Tulungagung Tuan Rumah Pekan KIM VI Jatim

Senin, 14 November 2011 | 23.10.00 | 0 komentar

Tulungagung - Era keterbukaan informasi yang didorong oleh perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), menjadikan dunia seakan tanpa mengenal batas wilayah. Manusia dengan mudah dan cepat dapat mengakses informasi yang dibutuhkan. Kondisi ini, apabila tidak diimbangi dengan kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam memilah dan memilih informasi yang tersedia secara transparan berdampak pada kontra produktif dalam kerangka pembangunan di segala bidang.

Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) memiliki peran strategis dalam upaya menjawab tantangan tersebut, karena KIM sebagai komunitas masyarakat informasi yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

KIM merupakan masyarakat sadar informasi yang diharapkan dapat berperan menjadi fasilitator untuk menjembatani kesenjangan komunikasi dan informasi yang terjadi antara pemerintah dengan masyarakat atau sebaliknya antara masyarakat dan pemerintah.

KIM sebagai agen informasi, berperan aktif mendistribusikan informasi yang perlu diketahui oleh masyarakat, sehingga masyarakat dapat melakukan langkah antisipatif yang bermanfaat untuk menopang aktivitas mereka. Mengingat peran KIM yang sangat penting tersebut, maka KIM patut untuk diberdayakan.

Sebagai bentuk apresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota di Jawa Timur secara periodik menyelenggarakan Pekan KIM yang diikuti oleh KIM Kabupaten/Kota. Hal ini merupakan langkah kongkrit dalam upaya menciptakan komunikasi timbal balik antara pemerintah dengan masyarakat atau antara masyarakat dengan pemerintah.

Pekan KIM merupakan agenda tahunan Pemprov Jatim sebagai bentuk pembinaan yang diadakan mulai tahun 2006 di Mojosari - Kabupaten Mojokerto, 2007 di Kabupaten Jember, 2008 di Kabupaten Lamongan, 2009 di Kota Malang dan 2010 di Kota Probolinggo. Untuk 2011 ini Pekan KIM VI Jawa Timur akan diselenggarakan di Kabupaten Tulungagung.

Pekan KIM Jawa Timur sebagai media aspiratif, informatif dan komunikatif dalam perkembangannya telah memberikan dampak yang luar biasa terhadap promosi potensi Kabupaten/Kota di Jawa Timur khususnya pihak tuan rumah, di samping itu dapat meningkatkan motivasi masyarakat luas tentang pentingnya informasi sebagai salah satu aspek mendasar dalam meningkatkan wawasan dan pemerataan informasi.

Penyelenggaraan Pekan KIM VI tahun 2011 di Tulungagung bertepatan dengan even Peringatan hari jadi Tulungagung ke 806 sehingga dalam pelaksanaannya dilakukan sinergi dengan kegiatan meliputi:

1. Lomba Cerdik Cermat Komunikatif (LCCK),
2. Lomba Stand Pameran Produk unggulan KIM,
3. Festival Pertura,
4. Sarasehan KIM,
5. Workshop TI,
6. Gelar Pelayanan Publik, dan
7. Parade Band Pelajar.

Pelaksanaan Pekan KIM VI Jawa Timur tahun ini mengusung tema: "Penyebarluasan Informasi melalui KIM untuk Mewujudkan Masyarakat Jawa Timur Sejahtera."

Sumber: tulungagung.go.id | Senin, 14 November 2011
Senin, 14 November 2011 | 0 komentar

PEKAN KIM 2011 AKAN DIGELAR DI TULUNGAGUNG

Rabu, 12 Oktober 2011 | 01.20.00 | 0 komentar

Dinas Komunikasi dan Informatika Jawa Timur kembali akan menggelar Pekan Kelompok Informasi Masyarakat (KIM). Rencananya kegiatan ini akan dilaksanakan di Kabupaten Tulungagung, bersamaan digealrnya perayaan Hari Ulang tahun Kabupaten Tulungagung 19 November mendatang.

Kepala Dinas Kominfo Jawa Timur, Drs Sudjono MM saat pembukaan Sosialisasi MPLIK, mengatakan, rencananya Pekan KIM akan dimulai tanggal 15 hingga 19 November di Lapangan Pasar Pahing Tulungagung.

Untuk mengawali kegiatan ini, sebelumnya telah diadakan Lomba Cerdik Cermat Komunikatif (LCCK) di tiap Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) di Jawa Timur. Pemenang di tiap Bakorwil pada lomba ini nanti akan mengikuti lomba final pada pembukaaan Pekan KIM nanti.

Sedangkan pada saat pelaksanaan, kegiatannya antara lain pameran produk unggulan yang diikuti KIM se Jawa Timur, BUMN, BUMD, hingga para provider telekomunikasi.

Selain itu juga akan digelar dialog solutif bersama gubernur terkait permasalahan-permasalahan yang ada di pedesaan. Tidak kalah menarik juga ada Pertunjukan Rakyat (Pertura). Hingga kini Pertura sebagai sarana penyebarluasan informasi masih diminati dan eksis perkembangannya di tengah-tengah masyarakat. Beberapa daerah masih suka menampilkan pertunjukan media tradisional dan sering dipakai pada acara–acara formal yang disuguhkan kepada tamu sebagai penghormatan, seperti acara peresmian, kunjungan kerja, penyambutan tamu

Sementara kini tiap Bakorwil menyeleksi tim Pertura di wilayahnya untuk bisa tampil di Pekan KIM. Pada seleksi itu akan diloloskan tiga tim pertura dari tiap Bakorwil.(sti)

Sumber: kominfojatim | Selasa, 11 Oktober 2011
Rabu, 12 Oktober 2011 | 0 komentar

Perlawanan Moelyono Lewat Bendungan

Kamis, 25 Agustus 2011 | 01.33.00 | 0 komentar

Yogyakarta - Ruang pamer Rumah Seni Cemeti, Yogyakarta, berubah menjadi bendungan besar. Tiang utama di bagian tengah ruangan berubah menjadi parameter air. Angka-angka penunjuk ketinggian air dicetak dengan warna merah di atas selembar papan dan ditempelkan berurutan pada permukaan tiang. Dari 181.50, 182.00, 184.500, hingga 185.00 melengkapi garis-garis penanda dengan warna senada.

Memasuki ruang pamer galeri itu, kita seakan dilontarkan ke sebuah masa ketika bendungan dibangun. Moelyono, 54 tahun, perupa asal Tulungagung, Jawa Timur, yang membuat karya itu, sengaja menambahkan garis-garis lurus yang membelah ruangan. Garis itu dibuat Moelyono dari benang putih, seperti penanda bagi tukang bangunan yang hendak memasang bata. Pada pertengahan garis, benang-benang yang sama digantungkan bersilangan dengan pendulum pemberat terikat di bawahnya.

Itulah karya instalasi Moelyono untuk memperkuat aroma pameran tunggalnya, "Retak Wajah Anak-anak Bendungan", yang berlangsung di galeri itu pada 5-26 Agustus 2011. Karya instalasi itu sederhana, tapi sarat pesan. "Instalasinya minimalis," kata Nindityo Purnomo, pemilik Rumah Seni Cemeti.

Ya, boleh dibilang karya-karya Moelyono yang disuguhkan dalam pameran itu memang minimalis dan sarat pesan. Coba simak karya berjudul Titip Tanah Sawah. Empat rak besi yang berderet menempel pada dinding ruang pamer. Dalam susunan itu, Moelyono menempatkan tabung-tabung berukuran jempol orang dewasa pada permukaan rak dua tingkat tersebut. Di dalam tabung terdapat tanah kering yang dibawanya dari Wonorejo, sebuah desa di Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung. Adapun pada permukaan rak bagian atas, sebuah fosil tulang geraham dan gigi ternak diletakkan terkubur tanah.

Moelyono mengaku sengaja menggunakan idiom tanah milik petani sebagai simbol jiwa mereka yang tergadai. Sejak pemerintah membangun bendungan di desa itu, 520 hektare sawah milik petani berubah menjadi danau buatan. Permukiman, sekolah, dan tempat ibadah, yang entah berapa jumlahnya, juga terendam. "Jiwa mereka adalah bertani," ujarnya.

Dam yang membendung dua anak Kali Brantas di desa itu, Kali Gondang dan Wangi, sengaja dibangun untuk keperluan pembangkit listrik tenaga air dan sumber air minum bagi warga Surabaya. Pameran itu menjadi ekspresi kegetiran Moelyono melihat peristiwa tersebut.

Selain tanah, Moelyono menggunakan idiom benih tanaman, air, ramuan jamu, dan tetesan darah untuk mengungkapkan ekspresinya. Dalam karya berjudul Titip Benih Petani, misalnya, Moelyono mengisi tabung-tabungnya dengan benih padi, jagung, serta kacang-kacangan dan meletakkannya di atas rak berukuran sama.

Atau karya berjudul Titip Jamu yang berisi gumpalan ramuan jamu sebesar kelereng di dalam tabung. Lalu Titip Darah Tani, berupa tabung berisi tetesan darah. Semua idiom yang digunakan Moelyono dalam instalasinya merupakan cermin alat produksi petani.

Akibat tak lagi punya "senjata" untuk bertani, korban penggusuran pembangunan bendungan kehilangan pekerjaan. Mereka beralih pekerjaan, dari bertani yang digeluti bertahun-tahun, berubah menjadi buruh-buruh pabrik di kota besar. Mereka termiskinkan.

Moelyono berkisah akibat kehilangan pekerjaan utama itu, dari 38 anak di desa itu, hanya tiga yang kini melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, yakni sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas. "Yang lain paling-paling hanya lulus SD," ujarnya.

Keprihatinan itu ia sampaikan melalui berbagai lukisan karyanya. Misalnya, Oleh-oleh Ibu dari Kota, berupa gambar wajah anak yang terbedaki lumpur kering. Wajah itu terlihat sangat mendominasi ukuran kanvas. Di sekitar wajah, sejumlah gambar obyek lain ditambahkan, dari sebungkus makanan ringan, telepon seluler, kelereng, kepala sapi, hingga peniti. Bentuk-bentuk wajah serupa terlihat dari lukisannya yang lain, seperti Aku dan Simbah di Atas Sawah Retak #1 dan #2, yang menampilkan wajah bocah terbedaki lumpur kering.

Menurut Nindityo Purnomo, cara minimalis Moelyono dalam karya instalasinya sekaligus menjadi kritik pemikiran atas merebaknya materialisasi hedonistik yang berkembang pada karya-karya yang hanya berorientasi pasar. Material karya instalasi Moelyono sederhana, murah, dan mudah didapatkan.

Nindityo menambahkan, sebagai seorang seniman sekaligus aktivis, Moelyono intens mendampingi para korban pembangunan Bendungan Wonorejo. "Jadi, dia tak sekadar mereportase," katanya.

Sejak 1990-an, Moelyono aktif dalam lembaga yang mendampingi para korban. Melalui aktivitas seni rupa, dia melakukan perlawanan dan protes sekaligus menyadarkan warga, yang kebanyakan petani. Beberapa tahun lalu, Moelyono menggelar performance art di Cemeti dengan mengajak para petani sebagai pemainnya. Dia juga membuka komunitas anak korban, yang kegiatannya antara lain menggambar dan kesenian tradisional kuda lumping.

Upaya itulah yang disebut Moelyono sebagai seni rupa penyadaran. Bagi dia, seni rupa adalah medium yang digunakan untuk mencapai tujuan sosial yang dia impikan.

ANANG ZAKARIA

Source: TEMPO Interaktif | Rabu, 24 Agustus 2011
Kamis, 25 Agustus 2011 | 0 komentar

Polisi Tulungagung Tangkap Puluhan Anggota Geng Motor

Minggu, 03 Juli 2011 | 13.21.00 | 1 komentar

Tulungagung - Jajaran Kepolisian Resort (Polres) Tulungagung, Jawa Timur menangkap puluhan anggota geng motor yang bergerombol dan membuat keonaran di sekitar lokasi pameran dagang dan industri di pasar Pahing, Kota Tulungagung, Sabtu (2/7) malam.

Para pemuda yang rata-rata masih "ABG" (anak baru gede) itu kemudian digelandang menuju Mapolres untuk menjalani serangkaian pemeriksaan dan baru dipulangkan pada Minggu dinihari.

"Prinsipnya para anggota geng motor ini kami beri pembinaan sekaligus surat peringatan. Tapi khusus untuk yang diketahui membawa benda terlarang/sajam, mereka langsung ditangani oleh unit reskrim terkait," kata Wakapolres Tulungagung, Kompol Wiyogo Pamungkas, Minggu pagi.

Kompol Wiyogo Pamungkas menyebutkan ada 57 pemuda yang sempat diamankan dan dilakukan pembinaan di Mapolres. Mereka disebut-sebut terdiri atas tiga kelompok geng motor yang cukup disegani di Kota Marmer, yakni Geng Baruklinthing, Kembang Sore, serta Kerajaan Jin.

Dari tiga kelompok ini, empat pemuda sampai saat ini masih harus berurusan dengan polisi. Mereka belum diijinkan pulang sebagaimana rekan-rekannya yang lain karena dianggap melakukan pelanggaran pidana serius sehingga mendapat penanganan khusus.

"Empat anggota geng motor yang masih menjalani pemeriksaan itu yang satu karena membawa narkoba sementara tiga lainnya karena membawa sajam (senjata tajam)," terang Wakapolres.

Selain melakukan pembinaan terhadap para anggota geng motor, polisi juga menyita puluhan motor mereka karena saat digelarnya operasi penggerebekan, para ABG ini tidak memiliki kelengkapan kendaraan, seperti STNK, helm, maupun SIM.

Namun bukan itu saja yang mendorong polisi melakukan razia besar-besaran. Menurut keterangan Wakapolres, keberadaan para anggota geng motor di sekitar lokasi pameran sering membuat resah pengunjung pameran dagang dan industri yang digelar pemkab setempat dalam rangka memperingati HUT RI tersebut.

Apalagi, beberapa saat sebelum kejadian informasinya sempat terjadi keributan antargeng motor. Situasi yang mengarah tidak kondusif itulah yang kemudian segera direspon polisi dengan menggelar razia besar-besaran.

Namun operasi penggerebekan itu sendiri sebenarnya tidak sepenuhnya berjalan mulus. Hal itu karena para anggota geng motor ini sempat semburat melarikan diri dengan mengendari sepeda motor masing-masing untuk menghindari razia petugas.

Hasilnya, 57 anggota geng motor berhasil ditangkap. Dari jumlah itu, sebagian diamankan saat bergerombol di belakang stadion pasar Pahing dan sebagian lagi ditangkap di jalan umum Desa Karangwaru atau saat ketiga geng motor ini mengalami kres kendaraan yang nyaris memicu terjadinya tawuran masal.

Sumber: Antara
Minggu, 03 Juli 2011 | 1 komentar

Tulungagung di Eco Creative Fiesta

Senin, 06 Juni 2011 | 22.14.00 | 0 komentar

Tulungagung - Memperingati Hari Lingkungan Hidup Se-Dunia, Kementerian Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia menggelar Pekan Lingkungan Indonesia yang di dalamnya terdapat kegiatan Eco Creative Fiesta yang berlangsung mulai tanggal 1 s/d 5 Juni 2011 bertempat di Parkir Timur Senayan Jakarta.

Dalam kegiatan tersebut Kabupaten Tulungagung turut berpartisipasi dengan menampilkan produk ramah lingkungan skala home industri berupa sapu ijuk, sapu lidi, keset sabut kelapa, batik berpewarna alami hasil karya Omah Batik Sendang dan karya seni berbahan barang bekas/limbah berupa baju berbahan limbah, lukisan daun, kerajinan berbahan koran bekas dan pernak-pernik lainnya yang merupakan hasil karya SMKN 2 Boyolangu dan Hary Dasar serta Ketut.

Pada kegiatan yang diikuti oleh Pemerintah Kabupaten/Kota se-Indonesia tersebut, Menteri Negara Lingkungan Hidup berkenan singgah di stand Kabupaten Tulungagung. Pada kesempatan tersebut beliau memberikan apresiasi dan menyatakan kekagumannya terhadap karya-karya yang dipamerkan terutama karya baju berbahan barang bekas/limbah.

Sumber: tulungagung.go.id
Senin, 06 Juni 2011 | 0 komentar

Puluhan Seniman Tulungagung Gelar Pameran Lukisan

Tulungagung - Sejumlah seniman Kabupaten Tulungagung menggelar pameran lukisan serta aneka produk seni lainnya di gedung Balai Rakyat, Tulungagung.

Acara yang telah digelar sejak Rabu (1/6) hingga Minggu (5/6) malam itu mendapat sambutan hangat masyarakat, terutama kalangan pecinta seni.

"Pameran ini lebih dimaksudkan untuk memetakan potensi kekuatan dan kekurangan yang dimiliki para seniman daerah dalam bersaing dengan komunitas seniman lain di tingkat nasional maupun internasional," ujar salah seorang kurator asal Tulungagung, Mulyono, Senin.

Meski berskala lokal, penggiat seni yang telah puluhan tahun berkutat dengan dunia seni lukis kontemporer tersebut.

Pameran itu sendiri terlihat lebih menarik karena selain memajang berbagai macam produk lukisan tangan, panitia juga memajang sejumlah benda seni seperti angklung, patung, serta aneka guci bergambar.

Dalam pelaksanaannya, lanjut Mulyono, para seniman Tulungagung yang tergabung dalam komunitas "Banyu Bening" berencana mengagendakan proses pembelajaran dalam lima agenda pameran selama kurun tahun 2011-2012.

Mereka juga akan menghadirkan kurator bergantian untuk studi bersama, mulai dari pross dialog, workshop, pemilihan tema, serta pemilihan lokasi pameran.

Komunitas Banyu Bening merupakan kumpulan para seniman dengan berbagai latar belakang pekerjaan.

Anggota komunitas ini kebanyakan mengekspresikan diri dengan media seni rupa.

Diungkapkan Moelyono, berangkat dari sini seorang kurator diharapkan mampu memetakan potensi setiap seniman agar bisa lebih mengekpresikan diri sesuai dengan bakat maupun keahlian yang dimiliki.

Mereka dengan begitu diharapkan mampu mengekspresikan diri dengan media seni rupa yang tidak melulu berbentuk seni lukis saja tetapi juga bisa dalam bentuk lain sehingga di kemudian hari mereka menjadi seniman yang profesional di bidangnya.

"Alangkah baiknya bila seniman ini bisa berprofesi sebagai seniman yang benar-benar profesional dengan mengutamakan jati dirinya tanpa meninggalkan latar belakang pekerjaannya," cetusnya spontan.

Terakhir Moelyono juga berharap agar para seniman yang tergabung dalam komunitas Banyu Bening dengan didasari sifat kreatif serta eksplorasi kecerdasannya bisa membuat rumusan ilmiah dan menghasilkan sebuah karya seni segar tanpa meninggalkan jati diri masing-masing.

Sumber: antarajatim.com
| 1 komentar

15 Museum Pamerkan Koleksi Benda Purbakala di Malang

Jumat, 27 Mei 2011 | 15.24.00 | 0 komentar

Malang - Sebanyak 15 museum kota/kabupaten di Jawa Timur mengikuti pameran koleksi unggulan museum daerah di Taman Krida Budaya, Kota Malang, Kamis (26/5).

Kepala Seksi Museum Parso Adianto kepada Media Indonesia mengatakan pameran ini untuk menyukseskan gerakan cinta museum sebagai momentum mengubah citra dan wajah agar lebih menarik. Sehingga bisa meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.

Selain itu untuk melestarikan budaya bangsa. Bahwa Indonesia merupakan negara besar memiliki peninggalan budaya dan peradaban tinggi dunia. Hal itu sangat membanggakan dan harus dimaknai secara postif.

"Pameran ini sekaligus untuk mengubah paradigma bahwa sudah saatnya museum hadir di masyarakat. Sehingga tidak menunggu dikunjungi, tapi museum yang mengunjungi masyarakat," tegasnya.

Ia menjelaskan kedepan Pemerintah Provinsi Jatim mendorong pengelola museum agar memamerkan koleksi benda purbakala di mall, sekolah, dan pusat perbelanjaan. Sehingga masyarakat semakin mengetahui arti dan makna museum.

Sedangkan pameran di Taman Krida Budaya, Kota Malang, ini diikuti 15 museum berbagai daerah yakni museum Mpu Tantular Sidoarjo, museum Sepuluh Nopember Surabaya, museum Blambangan Banyuwangi, museum Buwono Keling Pacitan, museum Kambang Putih Tuban.

Kemudian, museum Brawijaya Malang, museum Trinil Ngawi, museum Sunan Drajad Lamongan, museum umum Pamekasan, museum Rajekwesi Bojonegoro, museum Penataran Blitar, museum Tulungagung, museum Anjuk Ladang Nganjuk, dan museum Airlangga Kediri.

Selama pameran ratusan siswa berbagai jenjang pendidikan sangat antusias mengunjungi stand koleksi unggulan museum daerah.

Kegiatan yang dilakukan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Pemerintah Provinsi Jatim ini digelar pada 25-29 Mei 2011 bersama rangkaian pameran budaya dan makanan tradisional.

Sejak siang hari pada awal pembukaan pameran, para siswa memadati stand museum sambil mencatat berbagai peninggalan bersejarah mulai koleksi zaman prasejarah, sejarah klasik, hingga sejarah modern.

Mereka antusias mengamati sambil mencatat keterangan di bawah arca zaman Kerajaan Mataram Kuno, Kerajaan Kediri, Kerajaan Singhasari, dan Kerajaan Majapahit.

Bahkan peninggalan purbakalan zaman prasejarah seperti gading gajah purba di museum Rajekwesi Bojonegoro juga ditanyakan kepada juru pelihara museum setempat secara mendetail.

Mereka juga berkesempatan mendengarkan pidoto Bung Tomo dalam membakar semangat pejuang di museum Sepuluh Nopember Surabaya.

Kegembiraan yang ditunjukkan para siswa dengan melihat langsung peninggalan budaya nenek moyang tersebut sangat menggembirakan dan membanggakan.

Sebab melalui pameran ini maka minat siswa dalam mengunjungi museum menjadi lebih bergairah.

Eka Cahyani, siswa kelas 8 SMPN 13 Kota Malang, mengaku mendapatkan tugas dari guru sejarah untuk membuat laporan tentang hasil pengamatan benda bersejarah di museum yang dikunjungi.

"Saya sangat gembira karena bisa melihat langsung benda bersejarah semua museum di Jawa Timur," tegasnya.

Bagi pengelola museum, pameran ini merupakan ajang untuk sosialisasi koleksi. Sebab selama ini tingkat kunjungan sangat rendah.

Pemandu dan Pengelola museum Rajekwesi Bojonegoro Agus Sunaryo mengatakan rata-rata tingkat kunjungan ke museum setempat selama ini sangat minim hanya 10 orang per hari.

"Tingkat kunjungan sangat sedikit. Mungkin penyebabnya karena kurang sosialisasi," katanya.

Demikian pula dengan tingkat kunjungan di museum di Nganjuk yang sepi pengunjung.

"Jumlah kunjungan hanya 200 orang per bulan," tegas juru pelihara museum Anjuk Ladang Nganjuk Kasir.

Tetapi sepi kunjungan itu tidak terjadi di semua museum. Pasalnya di museum Sepuluh Nopemberr Surabaya justru dipadati pengunjung mencapai ribuan orang per minggu.

"Rata-rata jumlah kunjungan mencapai 1.500 orang per minggu," tegas staf konservasi museum Sepuluh Nopember Surabaya Moch
Abdulloh.

Dengan tingginya animo masyarakat dalam mengunjungi pameran koleksi unggulan museum di Kota Malang ini menjadikan momentum bagi Pemprov Jatim dalam menyosialisasikan fungsi museum lebih luas kepada masyarakat. (OL-12)

Sumber: mediaindonesia.com
Jumat, 27 Mei 2011 | 0 komentar

"Kanopi" Pamerkan Foto Dampak Letusan Merapi

Senin, 21 Maret 2011 | 20.08.00 | 0 komentar

Kediri - Komunitas Ngopi-ngopi (Kanopi) memamerkan sekitar 50 foto dampak letusan Gunung Merapi (2.968 mdpl) 26 Oktober 2010 dalam kegiatan fotografi di Kediri, Jawa Timur, sebagai upaya memberi kesadaran akan bahaya dan keselamatan diri bagi fotografer saat pengambilan gambar di daerah bencana.

"Pameran ini sebagai diskusi bersama tentang pengambilan sudut yang baik dalam fotografi. Tetapi, juga disadarkan akan keselamatan diri saat pengambilan objek foto," kata Arief Priono, penggagas pameran itu ditemui saat kegiatan di Kediri, Minggu (21/3) malam.

Arief yang juga fotografer di LKBN Antara itu mengatakan, pengambilan sudut sebagai bahan fotografi harus diambil sisi yang menarik. Namun, berbagai pelengkap untuk keselamatan diri saat peliputan di daerah bencana juga harus diutamakan.

Fotografer The Associated Press (AP) Trisnadi Marjan yang didaulat menjadi pembicara dalam kegiatan diskusi itu mengatakan, insting seorang fotografer haruslah peka dan tinggi. Seluruh objek apapun, layak untuk dijadikan objek.

Ia mengungkapkan, saat peliputan bencana letusan pada 26 Oktober 2010 lalu, memerlukan teknik yang tepat. Berbagai trik juga harus dilakukan, agar mendapatkan gambar terbaik, juga keselamatan diri.

Ia menceritakan, dalam pengambilan gambar, seorang fotografer seharusnya tidak sendiri dan selalu membawa perlengkapan seperti HT (handy Talky), sepatu khusus tahan panas, masker, dan beberapa perlengkapan penunjang keselamatan lainnya.

"Yang penting, kunci kendaraan jangan dilepas, dan selalu menghadap ke jalan. Jika sewaktu-waktu ada letusan langsung meninggalkan lokasi," katanya.

Yudi Kusumo Mulyo, nara sumber lainnya mengatakan totalitas seorang fotografer sangat diperlukan. Selain mental yang memang harus kuat, juga harus mempunyai kepekaan dalam pengambilan objek menarik.

Ia mengaku prihatin dengan banyaknya peninggalan sejarah yang justru tidak dipedulikan. Bahkan, ada beberapa bangunan bersejarah yang kini hanya tinggal fotonya saja, karena bangunan yang ada sudah hancur.

Kegiatan pameran yang disertai diskusi itu diikuti beberapa komunitas penikmat fotografi, di antaranya Community Lens in Kediri (CLIK), komunitas foto Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kediri (Foster), Fotografer Kediri Raya, serta Fotografi Tulungagung.

Karya fotografi milik Fotografer The Associated Press (AP) Trisnadi Marjan yang dipamerkan dalam kegiatan itu, tidak dicetak maupun ditempelkan di dinding, melainkan ditampilkan lewat gambar "slide show", menggunakan layar lebar dan disorot seperti film layar tancap.

Wartawan senior Tempo, Dwijo Utomo Maksum menilai kegiatan seperti ini penting dilakukan. Selain sebagai ajang diskusi, hal ini juga sebagai media mengasah keterampilan akan fotografi. "Kegiatan ini penting untuk melatih keterampilan," kata Dwijo. [Sumber: Antara Jatim]
Senin, 21 Maret 2011 | 0 komentar

Pameran dan Workshop Fotografi

Tulungagung - Bagi penggemar foto yang berada di Kabupaten Tulungagung untuk saat ini merasa lega lantaran di Gedung Balai Rakyat Kabupaten Tulungagung digelar Pameran Fotografi yang dibuka oleh Bupati Tulungagung diwakili Asisten Administrasi Umum Drs. Eko Handayanto, Sabtu, 19/3/2011. Di tempat ini bukan hanya digelar Pameran Fotografi saja tetapi juga workshop tentang fotografi, sehingga berlangsung mulai Sabtu 19/3/2011 sampai dengan Rabu, 23/3/2011.

Foto memiliki kandungan makna yang sangat besar dan adanya pameran foto yang menyuguhkan tentang budaya dan pariwisata yang ada di Kabupaten Tulungagung maka pengunjung dapat tahu dan dapat menikmati alam panorama dan tempat wisata serta bangunan bersejarah yang ada di kota marmer. Demikian antara lain sambutan Bupati Tulungagung yang dibacakan oleh Drs. Eko Handayanto dan selanjutnya mendatangani prasasti serta melihat-lihat foto yang dipamerkan/dipajang di tempat tersebut.

Ketua panitia penyelenggara Pameran Fotografi Kabupaten Tulungagung Triwidiono Agus Basuki atau Okky Agusta melaporkan jumlah peserta pameran foto 50 orang dan karya yang dipamerkan sebanyak 100 foto budaya, pariwisata dan humas interest. Tujuannya untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata melalui foto, sekaligus untuk mewadahi fotografer yang ada di Kabupaten Tulungagung baik yang profesional, amatir maupun otodidak.

Panitia Pameran dan Workshop Fotografi 2011 menurut Okky, juga merasa peduli terhadap penderita kanker, sehingga diwujudkannya dengan memberi bantuan kepada Yanca Nicholas Zahra Sugandi anak dari Joko warga Desa Ngubalan Kecamatan Kalidawir, Tulungagung.

Workshop dibagi menjadi empat tahap, pertama Sabtu, 19 Maret, tentang Kamera Lubang Jarum, kedua Minggu, 20 Maret, tentang Teknik Dasar Fotografi dan tahap ketiga tentang Fotografi Jurnalistik sedangkan tahap terakhir Senin, 21 Maret, tentang Fotografi Lighting Secret. (Humas/Her) [Sumber: Tulungagung]
| 2 komentar

Kediri Gelar Pameran Foto Layar Tancap Merapi

Kamis, 17 Maret 2011 | 16.24.00 | 0 komentar

Kediri – Kreatifitas para fotografer di Kediri, Jawa Timur mulai menggeliat. Hasil karya mereka merekam berbagai peristiwa seputar meletusnya Gunung Merapi tak lagi hanya menghiasi halaman media massa dan jejaring sosial dunia mata semata, tapi akan hadir di hadapan masyarakat secara langsung. Detik-detik menjelang erupsi hingga kepanikan warga Yogyakarta dan sekitarnya terekam dalam pameran foto bencana yang diselenggarakan "Komunitas Ngopi-ngopi" (Kanopi) Kediri, Ahad (20/3) lusa.

Arief Priyono, penggagas Kanopi menjelaskan, kegiatan ini merupakan upaya menyalurkan kegelisahan para fotografer di Kediri. Mengambil tema "Insting Foto Jurnalis di Tengah Bencana", Kanopi akan memamerkan tangkapan kamera fotografer The Associated Press (AP) Trisnadi Marjan. "Foto-foto ini diambil ketika dia meliput letusan Merapi," kata Arief yang sehari-hari menjadi juru foto Lembaga Kantor Berita Antara, Kamis (17/3).

Kanopi Foto Forum itu akan digelar di Larizzo Cafe Jalan Airlangga, Kota Kediri Minggu (20/3) sejak pukul 19.00 WIB. Sebanyak 60 fotografer dan club fotografi di Kediri dan sekitarnya akan menghadiri pameran ini. Diantaranya Community Lens in Kediri (CLIK), komunitas foto Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kediri (Foster), Fotografer Kediri Raya, serta Fotografi Tulungagung.

Berbeda dengan pameran foto pada umumnya yang dicetak dan ditempelkan di dinding, pameran ini akan menampilkan gambar lewat slide show. Menggunakan layar lebar yang disorot seperti film layar tancap, penggalan letusan Gunung Merapi ditampilkan dengan ukuran besar. Konsep ini diselaraskan dengan ruang pamer. Pameran juga dirancang sebagai media kritik buat para komunitas fotografi yang sering mengabaikan kualitas karya.

Pesatnya perkembangan teknologi fotografi mempengaruhi perilaku masyarakat menjadi suka memotret. Dengan kamera poket atau telepon seluler, siapa saja bisa mengabadikan peristiwa. "Itu adalah karya foto," kata Arif. "Dengan pemahaman teknik fotografi yang baik, tentu akan menghasilakn karya lebih baik."

Arief memaparkan kondisi terkini perkembangan fotografi di kotanya. Teknik yang seharusnya perlu ketekunan belajar diabaikan. Fotografer cenderung bangga dengan predikat fotografer. Hanya dengan berbekal kamera canggih dan mahal, mereka berani menamakan diri sebagai fotografer. "Padahal pemahaman dan kemampuan teknisnya jauh di bawah standar," kata Arie. Menurut dia, fotografer tak sekedar merekam peristiwa atau obyek yang menarik, tapi juga harus memahami teknik pencahayaan, komposisi, spektrum, sehingga pesan yang ingin disampaikan pada publik lebih akurat.

Para fotografer di Jakarta mengapresiasi positif pameran foto di Kediri. Menurut Redaktur Foto Majalah Tempo, Bismo Agung, banyak karya fotografer daerah menjadi foto monumental dan bersejarah. Lewat pameran yang digelar Kanopi Kediri, secara otomatis kesadaran belajar dan meningkatkan kemampuan teknik akan terbangun. "Foto-foto dari seluruh pelosok negeri ini telah tersebar dan berhasil menyandera mata dunia," kata Bismo.

Oscar Motuloh, kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara mengatakan, pada abad visual seperti sekarang ini, konten memori otak kecil tiap insan harus terasah. Dengan begitu bisa bersaing dalam peradaban informasi. "JAngan takut belajar. Mainkan kameramu seperti engkau memetik hari-harimu," kata Oscar. HARI TRI WASONO, DUM (Sumber: TEMPO Interaktif)
Kamis, 17 Maret 2011 | 0 komentar

Tunjukkan Eksistensi Dengan Gelar Karya

Selasa, 15 Maret 2011 | 18.50.00 | 0 komentar

Komunitas Fotografi Tulungagung unjuk gigi. Pada tanggal 19-23 Maret mendatang, kelompok yang diketuai M. Zulkarnain ini akan memamerkan lebih dari 100 karya mereka di Gedung Balai Rakyat Tulungagung. Komunitas yang awalnya dibentuk dari jejaring sosial fotografitulungagung.com ini, beranggotakan hampir 2000 orang, baik sebagai anggota aktif maupun pasif dengan mayoritas berasal dari Kabupaten Tulungagung.

Dengan anggota yang berlatar belakang fotografer profesional, amatir ataupun sekedar hobi ini, komunitas Fotografer Tulungagung sering mengadakan hunting bareng, baik dengan sesi pemotretan model, landscape, maupun budaya khususnya di Tulungagung.

“Pameran ini bertujuan memberikan ruang bagi anggota kita, untuk menunjukkan eksistensi dan keberadaan mereka, kepada masyarakat Tulungagung dan sekitar pada umumnya,” jelas Sopir, julukan untuk Ketua Fotografer Tulungagung. Pria berputra satu ini menjelaskan, selain pameran hasil karya para anggota Fotografi Tulungagung, akan ada pula workshop tentang fotografi.

Tidak tanggung tanggung, Nain, panggilan akrabnya mengatakan, Fotografi Tulungagung (FT), akan mendatangkan pakar fotografer kelas nasional dari Jakarta dan Surabaya. Diantaranya Hubbert yang juga dosen di beberapa perguruan tinggi, Anton dan juga Sujianto yang punya keahlian sendiri-sendiri di bidangnya.

Sementara itu Ketua Panitia pameran Triwidyono Agus Basuki mengungkapkan, selain ingin menunjukkan potensi Budaya, Pariwisata dan Human Interest Kabupaten Tulungagung lewat fotografi, pameran ini ingin pula memberikan pembelajaran bagi fotografer pemula ataupun mereka yang ingin mendalami fotografi.”

Selain yang sudah disampaikan oleh ketua FT, workshop juga akan melibatkan beberapa wartawan Nasional, diantaranya Trisnadi Fotografer AP, Arief Priyono dari Antara dan juga Choirur Rozaq dari Radar Tulungagung,” terang pria berbadan subur ini.

Panitia Pameran dan Workshop Fotografi Tulungagung, mengajak masyarakat baik pelajar maupun umum untuk menyaksikan sekaligus mengikuti rangkaian kegiatan yang akan diadakan. ”Oh ya jangan dilupakan di acara tersebut kami juga akan menggelar lomba foto dan juga aksi sosial untuk membantu saudara kita yang kebetulan terkena kanker. Beberapa kelompok seniman juga akan meramaikan acara kami tersebut. Jadi rugi kalau ndak hadir,” kata Triwidyono menutup pembicaraan. (Okky FT) (sumber: tulungagung
Selasa, 15 Maret 2011 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan