Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Antara Jatim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antara Jatim. Tampilkan semua postingan

Disdik Tulungagung Perketat Pengawasan Siswa Bolos UAS

Selasa, 22 Maret 2011 | 21.41.00 | 0 komentar

Tulungagung - Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung memperketat pengawasan terhadap para pelajar di daerahnya yang membolos di sejumlah warung kopi selama ujian akhir sekolah (UAS) berlangsung.

Penegasan itu disampaikan Kasi Pembinaan Sekolah Menengah di Dinas Pendidikan Tulungagung, Sutrisno, di sela kegiatan penertiban yang mereka lakukan bekerja sama dengan Satuan Polisi Pamong Praja (Sapol PP) setempat di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman, Selasa.

"Razia pelajar akan terus kami lakukan hingga seluruh tahapan ujain SMP dan SMA selesai," tegasnya.

Diakuinya, masalah kedisplinan siswa di Tulungagung memang menjadi perhatian khusus dari pihak dinas pendidikan. Apalagi, saat ini memasuki masa ujian akhir bagi siswa kelas III SMP/MTs, maupun kelas III SMA/SMK/MA.

Sebagian siswa kelas I dan kelas II yang sedang tidak memiliki jadwal ujian dilaporkan kerap membolos dari sekolah dan nongkrong di sejumlah warung kopi "cethe" yang tersebar di Kota Tulungagung dan sekitarnya.

Hal serupa diduga juga dilakukan para siswa senior.Bedanya, kelompok siswa ini tidak membolos dari kewajiban mengikuti UAS, tetapi setelahnya hingga berjam-jam.

Budaya negatif itulah yang kini menjadi target penertiban yang dilakukan jajaran Satpol PP bersama pihak dinas pendidikan sejak Senin (20/3).

Menggunakan dua kendaraan trantib, Selasa pagi, sekitar pukul 09.00 WIB, petugas gabungan melakukan razia ke delapan warung kopi di Desa Bolorejo, Kecamatan Kauman.

Hasilnya, belasan pelajar dengan seragam dan atribut lengkap berhasil ditangkap. Namun mereka tidak di bawa ke kantor Satpol PP maupun dinas pendidikan untuk dilakukan pembinaan, tetapi hanya diberi peringatan dan kemudian disuruh segera pulang ke rumah masing-masing.

"Sebenarnya tetap diberi pembinaan, cuma memang tidak dibawa ke kantor. Hanya dibina di tempat," kata Kepala Satpol PP Tulungagung, Suroto.

Tidak hanya diberi pengarahan singkat, Sutrisno mengatakan pihaknya juga akan mengkoordinasikan hasil penertiban tersebut dengan pihak sekolah maupun orang tua murid.

"Pengawasan dan pembinaan haruslah terpadu antara pihak sekolah (guru), orang tua (keluarga) serta pemerintah," terangnya.

Jumlah warung kopi "cethe" di Tulungagung memang sangat banyak. Di Desa Bolorejo saja, informasinya ada 80 warung kopi yang biasanya dilengkapi dengan beberapa pramusaji seksi yang masih gadis/remaja.

Keberadaan pramusaji cantik dan muda ini membuat sebagian besar warkop yang semula berkonsep "cethe" (istilah untuk ampas/residu minuman kopi yang kemudian digunakan untuk penyedap pada batangan rokok) bergeser menjadi warung remang-remang.

Dampaknya, banyak remaja maupun kalangan pria dewasa, termasuk kalangan pelajar, yang menghabiskan waktu berjam-jam sekedar untuk nongkrong sambil minum kopi dan merokok. [Sumber: Antara Jatim]
Selasa, 22 Maret 2011 | 0 komentar

"Kanopi" Pamerkan Foto Dampak Letusan Merapi

Senin, 21 Maret 2011 | 20.08.00 | 0 komentar

Kediri - Komunitas Ngopi-ngopi (Kanopi) memamerkan sekitar 50 foto dampak letusan Gunung Merapi (2.968 mdpl) 26 Oktober 2010 dalam kegiatan fotografi di Kediri, Jawa Timur, sebagai upaya memberi kesadaran akan bahaya dan keselamatan diri bagi fotografer saat pengambilan gambar di daerah bencana.

"Pameran ini sebagai diskusi bersama tentang pengambilan sudut yang baik dalam fotografi. Tetapi, juga disadarkan akan keselamatan diri saat pengambilan objek foto," kata Arief Priono, penggagas pameran itu ditemui saat kegiatan di Kediri, Minggu (21/3) malam.

Arief yang juga fotografer di LKBN Antara itu mengatakan, pengambilan sudut sebagai bahan fotografi harus diambil sisi yang menarik. Namun, berbagai pelengkap untuk keselamatan diri saat peliputan di daerah bencana juga harus diutamakan.

Fotografer The Associated Press (AP) Trisnadi Marjan yang didaulat menjadi pembicara dalam kegiatan diskusi itu mengatakan, insting seorang fotografer haruslah peka dan tinggi. Seluruh objek apapun, layak untuk dijadikan objek.

Ia mengungkapkan, saat peliputan bencana letusan pada 26 Oktober 2010 lalu, memerlukan teknik yang tepat. Berbagai trik juga harus dilakukan, agar mendapatkan gambar terbaik, juga keselamatan diri.

Ia menceritakan, dalam pengambilan gambar, seorang fotografer seharusnya tidak sendiri dan selalu membawa perlengkapan seperti HT (handy Talky), sepatu khusus tahan panas, masker, dan beberapa perlengkapan penunjang keselamatan lainnya.

"Yang penting, kunci kendaraan jangan dilepas, dan selalu menghadap ke jalan. Jika sewaktu-waktu ada letusan langsung meninggalkan lokasi," katanya.

Yudi Kusumo Mulyo, nara sumber lainnya mengatakan totalitas seorang fotografer sangat diperlukan. Selain mental yang memang harus kuat, juga harus mempunyai kepekaan dalam pengambilan objek menarik.

Ia mengaku prihatin dengan banyaknya peninggalan sejarah yang justru tidak dipedulikan. Bahkan, ada beberapa bangunan bersejarah yang kini hanya tinggal fotonya saja, karena bangunan yang ada sudah hancur.

Kegiatan pameran yang disertai diskusi itu diikuti beberapa komunitas penikmat fotografi, di antaranya Community Lens in Kediri (CLIK), komunitas foto Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Kediri (Foster), Fotografer Kediri Raya, serta Fotografi Tulungagung.

Karya fotografi milik Fotografer The Associated Press (AP) Trisnadi Marjan yang dipamerkan dalam kegiatan itu, tidak dicetak maupun ditempelkan di dinding, melainkan ditampilkan lewat gambar "slide show", menggunakan layar lebar dan disorot seperti film layar tancap.

Wartawan senior Tempo, Dwijo Utomo Maksum menilai kegiatan seperti ini penting dilakukan. Selain sebagai ajang diskusi, hal ini juga sebagai media mengasah keterampilan akan fotografi. "Kegiatan ini penting untuk melatih keterampilan," kata Dwijo. [Sumber: Antara Jatim]
Senin, 21 Maret 2011 | 0 komentar

DPRD Tulungagung Dirikan Posko Pengaduan DAK Pendidikan

Tulungagung - Komisi I DPRD Tulungagung berencana mendirikan posko pengaduan program Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2010 dan 2011 untuk mengantisipasi molornya pengerjaan proyek maupun pencairan dana ke sekolah-sekolah.

"Yang terpenting untuk diawasi adalah bagaimana proyek-proyek itu bisa selesai tepat waktu," kata Ketua Komisi I DPRD Tulungagung, Suwito, Senin.

Dijelaskannya, inisiatif pendirian posko pengaduan tersebut berangkat dari pengalaman-pengalaman tahun lalu. Banyak proyek yang selesai di luar batas waktu yang telah direncanakan. Padahal, molornya proyek jelas akan mengganggu kegiatan belajar-mengajar.

Lebih lanjut ia menjelaskan, posko tersebut juga dipersiapkan untuk menerima aduan jika ada penyimpangan dalam pengerjakan proyek DAK.

Karena itu dalam waktu dekat Komisi I akan meminta salinan petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis (juklak dan juknis) DAK ke dinas pendidikan. Apabila proyek tersebut memang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku, setiap temuan penyimpangan akan segera ditindaklanjuti ke ranah hukum.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Pendidikan Tulungagung, Bambang Kardjono melalui juru bicaranya, Siswo mengatakan, molornya pengerjakan DAK disebabkan karena ada perubahan aturan dari sewa kelola (hibah) menjadi belanja modal atau harus dilelang.

"Petunjuk teknisnya baru turun dari pusat akhir Desember 2010, jadi wajar jika terlambat," ujarnya.

Menurut Siswo, DAK pendidikan hanya digunakan untuk membangun gedung perpustakaan,
mebeler, serta pengadaan buku khusus sekolah dasar negeri (SDN) dan sekolah dasar luar biasa (SDNLB).

Jumlah SDN yang mendapatkan kucuran dana DAK khusus pembangunan gedung dan pengadaan buku berjumlah 124 lembagas, sedangkan khusus penerima DAK untuk pengadaan buku hanya 108 lembaga.

"Sebagian hanya menerima DAK untuk pengadaan buku karena mereka sudah memiliki gedung perpustakaan yang representatif," terangnya.

Senada dengan Siswo, Kasi SDN Dinas Pendidikan Bagio Wahyudi menjelaskan, anggaran untuk paket gedung perpustakaan dan mebeler sebesar Rp78 juta, rinciannya untuk fisik sebesar Rp72 Juta dan mebeler Rp8 juta.

Sementara, satu paket pengadaan buku perpustakaan nilainya sebesar Rp108 juta. Jika dihitung secara keseluruhan, anggaran DAK untuk pengadaan buku di semua sekolah dasar negeri di Tulungagung nilainya ditaksir mencapai Rp22 miliar sementara untuk pembangunan fisik serta mebeler sebesar Rp2,8 miliar.

Total Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2010 dan 2011 menurut keterangan Siswo maupun Bagio Wahyudi mencapai Rp70 miliar, perinciannya DAK 2010 sebesar Rp28,1 miliar sedangkan DAK 2011 sebesar Rp 40,1 miliar. [Sumber: Antara Jatim]
| 0 komentar

Mantan Anggota DPRD Trenggalek Jadi Tersangka Penipuan

Jumat, 18 Maret 2011 | 16.50.00 | 0 komentar

Trenggalek - Mantan anggota DPRD Kabupaten Trenggalek periode 2004-2009, Sudarto, Kamis, ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penipuan berkedok penerimaan calon pegawai negeri sipil (CPNS).

Pria asal Desa Kendalrejo, Kecamatan Durenan itu tidak langsung ditahan, namun sempat menjalani pemeriksaan polisi selama sekitar lima jam.

"Dia kami periksa atas dasar pengaduan yang kami terima dari korban atas nama Ihwanudin. Bukti-bukti awalnya sudah cukup sehingga statusnya kemudian kami naikkan dari saksi menjadi tersangka," kata Kasat Reskrim Polres Trenggalek, AKP Saiful Rahman.

Dalam pemeriksaan tersebut, mantan anggota dewan dari PDIP itu dicecar sedikitnya dua puluh lima pertanyaan dan dikonfrontir dengan empat bukti kuitansi yang dibubuhi tanda tangan atas namanya.

Bukti kuitansi itu diduga menjadi sarana transaksi tersangka saat menjanjikan jatah kursi CPNS bagi kedua anak korban.

Saiful menambahkan kendati sudah ditetapkan sebagai tersangka, pihaknya untuk sementara belum melakukan penahanan karena penyidik masih membutuhkan keterangan tambahan dari beberapa terlapor lain yang diduga juga menjadi korban penipuan.

"Kami masih melakukan upaya pengembangan penyelidikan untuk mengetahui jaringannya, apakah hanya 'bermain' di tingkat lokal atau memiliki struktur hingga ke pusat," ujarnya.

Usai memeriksa Sudarto, penyidik kemudian mengagendakan pemanggilan beberapa terlapor lainnya dalam kasus tersebut. Salah satunya adalah Riyanah (42), warga Desa Kendalbulur, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung yang diduga menjadi salah satu jaringan tersangka Sudarto.

"Untuk Riyanah, pemeriksaan sudah kami agendakan minggu depan," terangnya.

Riyanah yang juga mantan anggota DPRD Tulungagung itu disebut-sebut Ikwanudin ikut andil dalam praktik penipuan yang membuatnya mengalami kerugian sebesar Rp48 juta pada tahun 2010.

"Riyanah juga ikut menjadi pihak terlapor, makanya kami juga perlu meminta keterangannya. Soal apakah statusnya akan dinaikkan menjadi tersangka atau tidak, kami belum bisa memastikan. Tergantung hasil pemeriksaan dan bukti petunjuk yang ada," kata Kasat Reskrim.

Kasus ini mulai mencuat setelah awal Maret lalu, Ikhwanudin yang juga mantan anggota DPRD Trenggalek melaporkan koleganya Sudarto dengan tuduhan penipuan penerimaan CPNS.

Ikhwanduin juga melaporkan Riyanah (40) dan Adi Suminto (45), warga Desa Ngunggahan, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung dengan tuduhan serupa. Ketiganya disinyalir sebagai sindikat penipuan berkedok CPNS di lingkungan Pemkab Tulungagung dan Trenggalek.

Dugaan penipuan CPNS yang dialami korban terjadi sekitar bulan Januari 2010 lalu. Saat itu, Ikhwanudin mengaku dijanjikan Sudarto untuk memasukkan kedua anaknya menjadi CPNS di Pemkab Trenggalek dan Pemkab Tulungagung.

Namun setelah beberapa kali melakukan pembayaran hingga totalnya mencapai Rp48 juta, janji menjadi CPNS tidak pernah terbukti. Merasa tertipu, korban kemudian melaporkan kasus ini ke polisi.
(Sumber: antarajatim)
Jumat, 18 Maret 2011 | 0 komentar

Balap Sepeda Porprov Pindah ke Trenggalek

Surabaya - Perlombaan cabang balap sepeda Pekan Olahraga Provinsi III tahun 2011 dipindahkan ke Kabupaten Trenggalek, terkait belum siapnya akomodasi di Kabupaten Kediri dan Tulungagung yang awalnya menjadi penyelenggara.

Delegasi Teknis Balap Sepeda Porprov Jatim, Vidhi Eka Suwandi, kepada wartawan di Surabaya, Kamis, mengatakan pemindahan lokasi perlombaan itu sudah didiskusikan dengan Pengurus Besar Porprov dan KONI Jatim.

"Akomodasi dan sarana pendukung di Kediri maupun Tulungagung hingga kini belum siap, sementara Pemkab Trenggalek sudah mengajukan kesiapannya sebagai tuan rumah penyelenggara," katanya.

Ia menjelaskan cabang balap sepeda Porprov 2011 melombakan empat nomor baik putra maupun putri, masing-masing jalan raya (road race), kriterium, BMX Cross, dan MTB Cross Country.

Khusus nomor road race putra direncanakan menempuh jarak 91,1 km, sedangkan kelompok putri sejauh 76,2 km.

"Seluruh nomor akan dilombakan di Trenggalek dan kami sudah menentukan jarak serta rute untuk ketiga nomor yang dilombakan, kecuali kriterium yang masih menunggu persetujuan Pengprov ISSI Jatim," tambah Vidhi.

Dikonfirmasi terpisah, Sekretaris Umum Pengprov ISSI Jatim Harijanto Tjondrokusumo membenarkan adanya pemindahan lokasi lomba balap sepeda Porprov 2011 ke Kabupaten Trenggalek.

"Kami sudah diskusikan masalah ini dengan KONI Kota Kediri selaku tuan rumah Porprov 2011, KONI Trenggalek dan PB Porprov. Pemindahan itu sudah disepakati," katanya.

Ia menambahkan survei lokasi perlombaan sudah dilakukan tim delegasi teknis dan ISSI Jatim pada dua pekan lalu di Trenggalek.

"Memang untuk lomba nomor kriterium belum diputuskan jarak tempuhnya, tapi perkiraan sejauh 40 km untuk putra dan 30 km untuk putri," ujar Harijanto.

Dengan dipindahkannya balap sepeda ke Trenggalek, berarti Porprov Jatim 2011 yang mempertandingkan 26 cabang olahraga akan berlangsung di tujuh daerah.

Ketujuh daerah itu adalah Kota Kediri (tuan rumah utama), Kabupaten Kediri, Nganjuk, Tulungagung, Trenggalek, dan Kabupaten/Kota Blitar. (Sumber: antarajatim
| 3 komentar

Oknum Dispendukcapil Tulungagung Pungli Atlet Porprov Jatim

Tulungagung - Seorang oknum pegawai di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Tulungagung dijatuhi sanksi ringan setelah ketahuan melakukan pungutan liar (pungli) terhadap 18 atlet karateka setempat yang hendak mengikuti Pekan Olah raga Provinsi Jawa Timur.

Oknum PNS yang tidak disebut namanya itu kini dimutasi ke bagian administrasi (tata usaha) setelah terlebih dahulu mendapat teguran keras dari atasannya.

"Kami sudah melakukan tindakan tegas atas pelanggaran disiplin tingkat menengah ini. Pegawai itu bahkan sudah kami pindah ke bagian lain agar tidak mengurusi legalisir lagi," kata Kepala Dispendukcapil Tulungagung, Eko Sugiono, Kamis.

Eko menegaskan, seluruh layanan administrasi kependudukan diberikan secara gratis. Pemungutan sejumlah uang dengan alasan apa pun tidak bisa dibenarkan karena tidak memiliki payung hukum.

Karena itu jika ada oknum petugas/pegawai yang nekat melakukan pungutan, maka yang bersangkutan akan dijatuhi tindakan tegas.

Kasus yang menimpa belasan atlet Porprov Jatim itu tergolong unik. Mereka awalnya berniat melegalissasi surat-surat keterangan pribadi masing-masing ke Dispendukcapil, seperti salinan kartu keluarga, KTP, dan akte kelahiran.

Hal itu dilakukan untuk memenuhi persyaratan/ketentuan yang diberlakukan panitia Porprov Jatim yang meminta sejumlah validitas atlet.

Namun, proses legalisasi salinan dokumen pribadi tersebut ternyata tidak sepenuhnya berjalan mulus.

Buktinya, meski telah membawa "surat sakti" berupa rekomendasi dari KONI Tulungagung yang menerangkan bahwa legalisir dokumen para atlet itu diperuntukkan bagi kepentingan daerah, oknum pegawai di Dispendukcapil tetap memungut sejumlah uang layanan.

Dari 18 atlet yang melakukan legalisir dokumen kependudukan, total uang yang dimintai sebenarnya hanya Rp90 ribu.

"Kami sudah bawa surat pengantar dari KONI dan menerangkan posisi kami sebaai atlet Tulungagung. Seharusnya difasilitasi, bukan malah dimintai uang," kata salah seorang official tim karate Tulungagung, Suhartono.

Merasa kesal dengan ulah oknum pegawai tersebut, Suhartono kemudian mengadukan hal tersebut ke Kepala Dispenducapil, Eko Sugiono. Kasus itu kemudian bergulir hingga akhirnya turun SK mutasi jabatan bagi oknum pegawai nakal tadi. (Sumber: antarajatim
| 0 komentar

GP Ansor Jatim Konsolidasi Anggota Waspadai Teror

Rabu, 16 Maret 2011 | 21.08.00 | 0 komentar

Tulungagung - Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur menginstruksikan kepada seluruh anggotanya di daerah agar meningkatkan kewaspadaan menghadapi ancaman teror yang ditujukan ke sejumlah tokoh-tokoh Islam liberal dan para aktivis pluralisme lainnya.

"Kami sedang melakukan konsolidasi seluruh anggota GP Ansor di Jawa Timur untuk melakukan kesiagaan menghadapi segala bentuk ancaman teror yang disebar kaum ekstremis dengan mengatasnamakan Islam," kata Ketua GP Ansor Jatim, Alfa Isnaeni, di Tulungagung, Rabu.

Ia tidak memerinci bentuk kesiagaan dan kewaspadaan yang ia maksud. Alfa hanya menyebut bila saat ini dirinya tengah membahas konsolidasi tersebut bersama jajaran pengurus GP Ansor Jatim.

Hasil dari rapat terbatas tersebut rencananya akan disampaikan dalam Musyawarah Kerja Nasional (mukernas) GP Ansor di Jakarta yang rencananya digelar pada Kamis (17/3).

"Besok saya berangkat Mukernas. Salah satu agenda yang akan dibahas, selain konsolidasi internal tentu juga sikap GP Ansor atas serangan terorisme terhadap kelompok minoritas maupun aktivis JIL (Jaringan Islam Liberal) maupun tokoh-tokoh pro-pluralisme lainnya," kata Alfa.

Secara khusus, mantan Ketua DPC PKB Tulungagung periode 2005-2010 ini mengatakan, GP Ansor Jatim mengutuk keras serangkaian aksi teror "bom buku" yang dialamatkan kepada aktivis JIL, Ulil Abshar Abdalla dan sejumlah tokoh pluralisme lainnya.

Ia menengarai aksi teror itu sebagai tindakan biadab. Menurut dia, Islam tidak membenarkan dan menghalalkan segala cara, apalagi menggunakan kekerasan, untuk menyikapi perbedaan keyakinan.

Karena itu perilaku ekstremis yang mengatasnamakan Islam tidak boleh dibiarkan tumbuh di Indonesia karena bisa merusak harmonisasi hubungan antarumat beragama sebagaimana diajarkan oleh tokoh besar NU, Abdurrahman Wahid atau Gusdur.

"Apapun caranya dan siapapun sasarannya, tindakan teror-meneror semacam ini tidak bisa dibenarkan. GP Ansor akan menjadi garda depan dalam melawan gerakan ekstremis yang bisa merusak citra Islam Indonesia," tegasnya.

Selain GP Ansor, kecaman terhadap aksi pengeboman yang ditujukan kepada aktivis JIL, Ulil Abshar Abdala juga disampaikan kalangan muda nahdliyin yang tergabung dalam Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakspesdam) NU di Blitar, Tulunggagung, serta Trenggalek.

Dalam pernyataan sikap mereka, Lakspesdam NU mengutuk keras upaya pengeboman terhadap aktivis JIL di kantor raido KBR68H di kawasan Utan Kayu, Jakarta.

Mereka juga mendesak kepada pihak kepolisian agar segera mengusut tuntas upaya teror yang juga ditujukan ke sejumlah tokoh pluralisme lain karena dianggap mengancam demokrasi serta kampanye penegakan HAM di Indonesia. (Sumber: Antara Jatim)
Rabu, 16 Maret 2011 | 0 komentar

Petani Tulungagung Selatan Hentikan Produksi Jagung

Jumat, 11 Maret 2011 | 06.48.00 | 0 komentar

Tulungagung - Sebagian besar petani di Kabupaten Tulungagung bagian selatan mulai menghentikan produksi tanaman jagung di areal ladang/persawahan mereka karena takut serangan hama bulai dan jamur upas yang saat ini mewabah.

Kenyataan ini sebagaimana terlihat di kawasan pesisir pantai di Kecamatan Pucanglaban yang terletak di ujung sebelah timur Tulungagung hingga Kecamatan Besuki yang ada di ujung barat.

Pantauan ANTARA, Kamis, hanya sedikit petani yang bertahan menanam jagung hingga tumbuh dewasa. Selebihnya, mayoritas petani yang bercocok tanam di ladang tadah hujan maupun areal lahan hutan lebih memilih jenis tanaman "tahan banting" seperti ketela pohon dan ubi-ubian.

"Seluruh tanaman jagung di sini telah habis kami tebang. Serangan penyakit bulai dan jamur upas selama musim tanam ini benar-benar membuat kami di sini merugi dan terpaksa mengganti jenis tanaman dari jagung ke singkong karena lebih tahan hama," kata Karji, perangkat Desa Panggungkalak, Kecamatan Pucanglaban.

Belum ada konfirmasi resmi dari dinas pertanian setempat mengenai kebenaran serangan hama bulai maupun jamur upas yang sangat ditakuti petani di kawasan Tulungagung selatan tersebut.

Namun jika mengacu pengakuan sejumlah petani maupun perangkat desa di Kecamatan Pucanglaban, luas lahan pertanian jagung yang rusak akibat kedua jenis hama tersebut ditaksir mencapai ratusan hektare.

Tiga desa yang sudah dipastikan menghentikan produktivitas jagung antara lain adalah Desa Kaligawe, Desa Kaligentong, serta Desa Rejosari, Kecamatan Pucanglaban.

Desa atau daerah lain di kecamatan yang sama ataupun sekitarnya disinyalir juga mengalami nasib serupa karena persebaran hama bulai dan jamur upas menyebar ke arah barat mengikuti arah angin laut.

"Hampir semua tanaman jagung tidak ada yang tertolong. Kalaupun (masih) ada yang bertahan, petani harus rajin memantau kondisi batang atau daun tanaman apakah sudah ada gejala serangan. Bila ditemukan, harus segera dipotong agar tidak menyebar," ujar Suyono, petani di Desa Sabo.

Pada kasus hama bulai, terang dia, hilangnya hijau daun atau klorofil pada tanaman usia satu bulan membuat jagung tidak bisa berbuah. Berbagai upaya dilakukan untuk membasmi persebaran hama mematikan ini, tetapi tidak satupun upaya membuahkan hasil. Sebaliknya, tanaman jagung menjadi layu dan tidak bisa berbuah seperti diharapkan.

Kondisi lebih parah dialami petani sejak hama jamur upas mewabah. Efek yang ditimbulkan hama jenis ini disebut-sebut lebih parah. Menurut Subandi, salah petani yang lain di Desa Panggungkalak, jamur upas menyebabkan tanaman jagung yang memasuki masa berbunga mendadak layu dan mengering.

Hama ini diduga menyerang akar, sebelum akhirnya merambat ke bagian lebih atas tanaman. Kondisi ini semakin parah akibat musim hujan yang tidak menentu sehingga menyebabkan serangan hama lebih ganas dan meluas.

"Kami sudah melapor ke dinas pertanian tapi sejauh ini tidak ada upaya untuk melakukan penanganan ataupun pencegahan. Mereka justru bilang bahwa cara mengatasi hama tersebut hanya dengan membabat tanaman yang sudah terlanjur diserang," ujar Subandi.*

Sumber: antarajatim.com
Jumat, 11 Maret 2011 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan