Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label peternakan. Tampilkan semua postingan

Tulungagung Larang Perdagangan Anjing Bali Karena Rabies

Selasa, 16 September 2014 | 01.39.00 | 1 komentar

Tulungagung - Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur melarang perdagangan ataupun peredaran hewan peliharaan jenis anjing dan kucing dari Bali, karena berpotensi terjangkit penyakit rabies.

"Karena di sana daerah endemis, kami tidak mau ambil risiko penyakit itu masuk melalui binatang peliharaan yang dibawa pecinta anjing/kucing dari Bali," kata Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Tulungagung, Mulyanto, Senin. Read More
Sumber: antarajatim.com | 15 Sept 2014
Selasa, 16 September 2014 | 1 komentar

Disnak Tulungagung Temukan Penyakit Mata dan Skabies

Tulungagung - Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur menemukan gejala penyakit mata dan skabies pada sejumlah ternak sapi dan kambing saat melakukan pemantauan hewan kurban di dua pasar hewan setempat, dua pekan terakhir.

"Tidak banyak, tapi memang ada sebagian yang setelah kami periksa, kambing atau sapi itu menderita skabies atau 'belekan' (penyakit mata)," ungkap Kabid Kesehatan Hewan Dinas Peternakan Kabupaten Tulungagung, Mulyanto, Senin. Read More
Sumber: antarajatim.com | 15 Sept 2014
| 1 komentar

Hewan Tak Layak Kurban Disemprot Cat Merah

Kamis, 03 November 2011 | 19.12.00 | 0 komentar

Nganjuk - Dinas Peternakan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, tak memberi ampun kepada pedagang hewan yang "nakal". Hewan yang dianggap tak memenuhi syarat disemprot dengan cat merah supaya tak laku dijual. "Sudah belasan kambing disemprot cat dalam pemeriksaan selama seminggu," kata Kepala Bidang Kesehatan Dinas Peternakan Nganjuk, Roidah, Kamis 3 November 2011.

Hewan yang terdeteksi tak layak dikonsumsi itu di antaranya dijual di pinggir jalan. Langkah ini ditempuh untuk menjaga kualitas hewan kurban. Misalnya, kambing dan sapi yang belum cukup umur atau poel.

Sesuai dengan hukum Islam dalam berkurban, hewan yang hendak dikurbankan haruslah berumur di atas 1,5 tahun. Hal itu dilihat dari ciri-ciri fisik seperti kelengkapan gigi. Identifikasi ini tak banyak masyarakat yang mengetahui, sehingga kerap menjadi korban penipuan.

Tak hanya itu, petugas juga menemukan hewan sakit. Seperti pada kambing, yang menderita penyakit selaput mulut. Hewan tersebut langsung disemprot dengan cat merah pada bagian perut. Beberapa sapi juga diketahui terjangkit penyakit mata merah meski tidak membahayakan untuk dikonsumsi. "Kami berharap pedagang tidak bisa menjual hewan yang dicat," kata Roidah.

Langkah serupa juga dilakukan petugas Dinas Peternakan Tulungagung yang mengkarantina hewan kurban sakit dari pedagang. Sejumlah sapi di pasar hewan Tulungagung diketahui mengidap scabies, mata merah, hingga kelumpuhan, dan tak layak konsumsi. "Kami melarang hewan itu dijual sampai kondisinya membaik," kata Kepala Seksi Pengawasan Obat Ternak Ifana Suhadak.

Beberapa pedagang kambing mengeluhkan turunnya permintaan hewan kurban tahun ini. Anjloknya harga sapi serta naiknya harga kambing menjadi pemicu situasi ini. Saat ini harga kambing kualitas bagus bisa mencapai Rp 1,8 juta. Sementara sapi hanya Rp 4-5 juta. "Jelas orang memilih sapi," kata Sugeng, pedagang kambing di Tulungagung.

HARI TRI WASONO

Sumber: TEMPO Interaktif | Kamis, 03 November 2011
Kamis, 03 November 2011 | 0 komentar

Petani Ikan Pelatihan di 6 Daerah

Senin, 03 Oktober 2011 | 23.12.00 | 0 komentar

SUMEDANG - Sebanyak 40 petani ikan dan 6 panitia dari Dinas Peternakan dan Perikanan Kab. Sumedang, bertolak ke Kab. Banyuwangi, Kediri, Tulungagung, Blitar, Jawa Timur dan Kab. Boyolali serta Klaten, Jawa Tengah, Minggu (2/10).

Keterangan yang dihimpun "GM" mengatakan, rombongan yang mewakili 40 kelompok tani ikan di sejumlah kecamatan ini akan memperdalam pembudidayaan ikan lele dan ikan hias selama 10 hari.

"Mereka yang berangkat sekarang merupakan angkatan kedua dan mewakili sejumlah 40 kelompok tani ikan," kata Kepala Seksi Bina Usaha Dinas Peternakan dan Perikanan, Ir. Ahman.

Menurut Ahman, kegiatan tersebut merupakan rangkaian program yang dibiayai Asia Development Bank (ADB). "Segala keperluan mulai dari persiapan pemberangkatan sampai selama berada di sana, dibiayai program safver," terangnya.

Peserta diharapkan menjalani kegiatan ini dengan serius sehingga dapat mengimplementasikannya di kelompoknya masing-masing.

"Di samping mentransfer ilmu yang didapat untuk anggota kelompoknya. Dengan begitu, kemampuan budi daya ikan lele, ikan hias maupun ikan lainnya ini bisa merata," tandasnya.

Dengan demikian potensi alam dan sumber daya manusia Kab. Sumedang dapat berwasembada ikan, bahkan menjadi pemasok. "Lebih dari itu sebagaimana harapan pemerintah, kehidupan mereka juga dapat lebih maju dan sejahtera," imbuh Ahman. (B.108)

Sumber: klik-galamedia.com | Senin, 03 Oktober 2011
Senin, 03 Oktober 2011 | 0 komentar

Tingkatkan Produksi Susu Sapi, Pemprov Jatim Siap Kucurkan Dana

Selasa, 26 Juli 2011 | 01.11.00 | 0 komentar

Surabaya - Pemerintah Provinsi Jawa Timur siap kucurkan dana berapapun yang dibutuhkan para peternak sapi. Untuk tahap pertama, Pemprov Jatim sudah menyediakan Rp 200an miliar untuk penjaminan kredit daerah.

Saifullah Yusuf Wakil Gubernur Jawa Timur usai membuka Lokakarya “Pengembangan Persusuan yang Berkelanjutan di Indonesia”, Senin (25/7/2011) mengatakan pihaknya tengah mengupayakan peningkatan produksi susu segar khususnya di Jawa Timur. Untuk itu, Pemprov Jatim sudah bekerjasama dengan PT Nestle dalam rangka mempekuat peternak baik dari sisi penambahan ilmu dan pemberian bibit berkualitas.

Biaya investasinya sendiri sudah disiapkan sebesar Rp 1 triliun lebih yang akan diberikan secara bertahap. Tahun ini, program kerjasama tersebut sudah dimulai. “Dana sudah siap, berapapun yang dibutuhkan akan kita siapkan. Secara bertahap akan diberikan,” ujar Gus Ipul panggilan akrabnya kepada wartawan.

Tahap awal, Pemprov Jatim melalui Jamkrida sudah menyiapkan Rp 200an miliar. Dana tersebut akan diutamakan untuk peternak sapi perah yang visible tapi tidak bankable. Sasarannya adalah peternak yang berada di beberapa kawasan seperti Tulungagung, Blitar, Malang, Pasuruan, Probolinggo, Lamongan dan Tuban.

Saat ini, Jawa Timur merupakan daerah pasokan utama susu segar di Indonesia. Produksinya mencapai 1 juta ton per tahun. Sedangkan kebutuhan susu segar sebanyak 2 juta ton per tahun. Di Indonesia kurang labih ada 127.221 KK peternak sapi perah dengan 90 buah koperasi susu. Populasi sapi perah 387 ribu ekor dengan produksi susu 10 liter per ekor. Konsumsi susu per kapita per tahun pada 2009 tercatat 11,6 kg, masih tergolong rendah.

Karena itu Pemprov Jatim bersama PT Nestle menggelar lokakarya untuk mencari cara meningkatkan produktivitas dan kualitas peternakan sapi perah serta mendukung pengembangan persusuan yang berkelanjutan di daerah pedesaan di Indonesia.(git)
Sumber: suarasurabaya.net
Selasa, 26 Juli 2011 | 0 komentar

Wow, Kambing ini Harganya Rp1 Miliar

Rabu, 29 Juni 2011 | 01.40.00 | 0 komentar

Ponorogo - Luar biasa! Harga seekor ternyata mendekati Rp1 miliar. Kambing jenis etawa bernama Joko Bodo itu dimiliki Agus, warga Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur.

Ukuran kambing jauh di atas rata-rata: tingginya hampir dua meter. Bila berdiri, ketinggian kambing mencapai lebih dua meter. Berat badannya 125 kilogram. Sosok kambing lebih menyerupai kuda, karena Joko Bodo bisa ditunggangi.

Harga selangit itu berasal dari tawaran sejumlah orang yang ingin memiliki kambing milik Agus. Joko Bodo banyak diminati karena hampir selalu menjadi juara umum di setiap kontes di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Joko Bodo mendapat predikat bibit unggul. Oleh penggemar kambing etawa, Joko Bodo ditawar antara Rp400 juta hingga Rp750 juta. Namun, Agus tidak melepasnya karena ia mematok kambing itu seharga Rp1 miliar.

Karena sifatnya yang unggul, banyak orang berburu sperma Joko Bodo. Saking banyaknya penggemar, Agus menghargai air sperma Joko Bodo Rp10 juta per mililiter. Saat berita ini ditulis, Joko Bodo tengah ikut kontes kambing etawa di Ponorogo, Jawa Timur. (Ferry Aquarius/DOR)

Sumber: Metrotvnews.com
Rabu, 29 Juni 2011 | 0 komentar

Kambing Berjalan Tegak Jadi Tontonan Warga Tulungagung

Kamis, 19 Mei 2011 | 03.19.00 | 0 komentar

Tulungagung - Seekor anak kambing di Desa Talak Kembang, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, mengejutkan warga setempat. Kambing ini berjalan menyerupai kanguru dengan bertumpu pada kedua kaki belakangnya.

Heru Purbawanto, pemilik kambing, mengatakan binatang aneh ini lahir dari kambing betinanya enam bulan silam. Saat keluar dari rahim induknya, anak kambing ini hanya memiliki dua kaki pada bagian belakang, sedangkan dua kaki depannya tak tampak sama sekali. "Saya juga kaget melihat bentuk badannya," kata Heru, Rabu, 18 Mei 2011.

Kondisi ini menyulitkan si anak kambing untuk beraktivitas, termasuk menyusu pada induknya. Heru pun terpaksa menggendongnya ke dekat sang induk agar bisa menyusu.

Kini, anak kambing yang disebut warga sebagai kambing kanguru karena berjalan tegak ini telah berusia enam bulan. Dia tumbuh sehat seperti kambing seusianya meski harus meloncat dan menjaga keseimbangan tubuh saat berdiri. "Kadang sering jatuh tersungkur, kasihan," kata Heru yang setia merawatnya.

Saking sayangnya Heru pada anak kambingnya, dia memberinya makanan seperti manusia, yakni nasi dan sayur. Sesekali dia mencampurnya dengan daun-daunan yang kerap dikonsumsi kambing.

Menurut petugas kesehatan hewan yang memeriksanya, kondisi kambing kanguru ini dalam keadaan sehat. Hanya saja Heru diminta membantunya saat makan agar tidak kekurangan nutrisi.

Kelahiran kambing kanguru ini tak pelak mengundang kehadiran warga untuk menonton. Setiap hari selalu ada pengunjung yang ingin menyaksikan kambing berjalan tegak itu secara langsung. Meski begitu, Heru menyatakan tak akan menjualnya kepada orang lain walau ada yang berniat membelinya. "Saya sudah sayang padanya," kata Heru sambil mengelus kepala si kambing.

HARI TRI WASONO

Sumber: TEMPO Interaktif
Kamis, 19 Mei 2011 | 0 komentar

2400 Pertenak Sapi Perah Dapat Bantuan

Kamis, 31 Maret 2011 | 19.00.00 | 0 komentar

Surabaya - Sebanyak 2400 peternak sapi perah di Jawa Timur mendapat bantuan alat pengolahan hasil produksi susu. M HADI Kepala Bidang Usaha Koperasi Dinas Koperasi dan UMKM Jawa Timur seperti dilaporkan MARTHA reporter Suara Surabaya, Kamis (31/03), mengatakan setiap peternak mendapat 1 unit ember susu dan penyaring susu.

2400 peternak itu tersebar di Kabupaten Malang, Pasuruan, Gresik, Ponorogo, Tulungagung, Kediri dan Kota Batu. Meski baru sebagian kecil yang dibantu, namun diharapkan bisa meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi susu yang dihasilkan.

Pada tahap awal, Pemprov menganggarkan Rp 2,4 milyar, tahap II dianggarkan pada Perubahan APBD 2011. Populasi sapi perah di Jawa Timur mencapai 212 ribu dengan produksi susu yang dihasilkan 2.450 ton per hari.

Sebanyak 950 ton susu digunakan untuk kebutuhan masyarakat dan 1600 ton lainnya dipasok untuk industri pengolah susu. (tin) Sumber: suarasurabaya.net
Kamis, 31 Maret 2011 | 0 komentar

Perdagangan Sapi Lokal Tergusur Sapi Impor

Kamis, 17 Maret 2011 | 13.35.00 | 0 komentar

Cilacap - Perdagangan sapi lokal di Cilacap, Jawa Tengah lesu menyusul masuknya sapi impor. Di Pasar Hewan Pahonjean, Majenang, Cilacap, perdagangan sapi lokal merosot sampai 50 persen akibat sapi impor.

Kepala Pasar Induk Majenang Ngadimin mengungkapkan, dalam kondisi normal setiap hari pasaran sapi yakni pada Rabu dan Sabtu, biasanya sapi lokal yang terjual sebanyak 20 ekor. "Tetapi saat sekarang telah merosot sampai 50 persen, sehingga setiap pasaran sapi lokal yang diperjualbelikan hanya 10 ekor saja," kata Ngadimin, Rabu (16/3).

Penurunan perdagangan sapi lokal tersebut, lanjut Ngadimin, akibat serbuan sapi impor yang telah dibesarkan di Tulungagung, Jawa Timur. "Pola perdagangan sapi impor juga berbeda dengan sapi lokal. Biasanya, kalau sapi lokal perdagangannya di pasar hewan, tetapi sapi impor langsung ke rumah pemotongan hewan (RPH). Setelah disembelih, dagingnya baru masuk ke pasar-pasar,' ujarnya.

Salah seorang peternak sapi di Cilacap, Suparno, mengatakan dengan masuknya sapi impor ke pasaran membuat harga anjlok. "Biasanya untuk sapi berbobot sekitar 5-6 kuintal harganya bisa sampai Rp13 juta. Tetapi saat sekarang paling hanya sekitar Rp11 juta. Padahal, peternak sudah memelihara selama setahun. Harga yang anjlok ini jelas merugikan peternak," keluhnya. (LD/OL-8) (Sumber: MICOM)
Kamis, 17 Maret 2011 | 0 komentar

Dijagal Saat Mati Misterius, Bangkai Dijual | Awas Daging Kerbau

Minggu, 20 Februari 2011 | 23.11.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Belasan kerbau di Dusun Sanan, Desa Pucangan, Kec Kauman, Tulungagung, mati mendadak secara misterius. Sayangnya, bangkai hewan itu dijagal dan dijual bebas di pasar. Padahal, ada kemungkinan kerbau-kerbau itu mati karena penyakit berbahaya.

Kawasan persawahan Pucangan selama ini menjadi area penggembalaan bagi para peternak kerbau. Ada puluhan hingga ratusan ekor kerbau digembalakan di lahan terbuka, tanpa dikandangkan.

Saat malam tiba, kerbau-kerbau ini tidur di dekat perumahan penduduk yang berpohon rindang. Ada kalanya, jika musim mengolah sawah seperti saat ini, kerbau ini difungsikan untuk membajak sawah.

Hewan pedaging ini sebenarnya milik peternak dari luar desa, yang dititipkan kepada warga setempat dengan sistem bagi hasil. Namun sejak sebulan terakhir, warga mulai resah, sebab belasan kerbau tiba-tiba mati tanpa diketahui sebabnya.

Makruf (47), warga Dusun Sanan, mengatakan, sebelum mati, kebanyakan kerbau-kerbau itu tidak menunjukkan tanda-tanda khusus. Pagi hari dipakai membajak, sore hari tiba-tiba kerbau ambruk lalu mati. Namun beberapa di antaranya sempat bertingkah seperti kerbau gila, berputar-putar tidak karuan lalu ambruk karena lemas dan mati. Sempat muncul dugaan mereka terkena pestisida.

Menurut Makruf, di Dusun Sanan ada 9 kerbau yang mati misterius. Sedangkan di persawahan desa tetangga, kondisi serupa juga kerap terjadi. Kematian terakhir terjadi, Jumat (18/2) sore.

Sayangnya, meski sudah berulang kali kejadian kerbau mati, namun si pemiliknya tak mau rugi. Bangkai kerbau dijual kepada jagal. Tukang jagal langsung memotong-motong bangkai di tengah sawah, lalu diusung ke mobil yang sudah menunggu di tepi jalan.

Biasanya, penjagal menyewa beberapa warga dengan bayaran Rp 30.000 untuk mengusung daging dari tengah sawah. Daging itu lalu dijual secara bebas ke pasaran. “Seharusnya bangkai kerbau itu diteliti di laboratorium, agar tahu apa penyebab kematiannya. Bukannya malah dipotong-potong dan dijual bebas ke masyarakat,” ujarnya.

Jika ada 10 kerbau yang mati dalam 1 bulan terakhir, dan berat per ekor rata-rata 500 kilogram, maka sudah ada 5.000 kilogram daging haram ini tersebar di tengah masyarakat. “Kami melihat sendiri, motongnya tidak di leher layaknya menyembelih hewan. Tapi langsung dipotong-potong dari kaki,” tegas Makruf.

Sekretaris Dinas Peternakan Tulungagung, Tatik Andayani menjelaskan, timnya sudah diturunkan ke lapangan untuk mengecek kerbau-kerbau mati itu. Namun hingga kini belum ada indikasi penyakit penyebab kematian.

Yang terjadi kebanyakan kerbau itu kelelahan dan kurang makan, lalu ambruk dan sekarat. Pemilik kerbau rata-rata mengatakan, hewan dipotong sebelum mati. Meskin demikian, tim Disnak akan meminta keterangan warga. Jika benar kerbau-kerbau itu disembelih dalam keadaan mati, maka baik si penjual maupun jagal yang mengedarkan daging bisa dikenai sanksi. st37

Sumber: surya.co.id
Minggu, 20 Februari 2011 | 0 komentar

Kontes Kambing Etawa Rebut Rp 10 Juta

Minggu, 12 Desember 2010 | 23.26.00 | 0 komentar

Seputar Tulungagung - Sekitar 300 peternak kambing ras Etawa dari berbagai daerah mengikuti kontes kambing Etawa tingkat nasional di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Sabtu (11/12). Kontes ini sekaligus sebagai ajang untuk menaikkan kualitas dan harga jual kambing Etawa.

Para peserta berduyun-duyun datang untuk memperebutkan Piala Bupati Purworejo serta hadiah uang senilai Rp 10 juta. Meski tingkat nasional, peserta cuma berasal dari Pulau Jawa. Sebab populasi kambing Etawa belum berkembang di sejumlah daerah luar Pulau Jawa.

Dalam kontes kali ini dewan juri menggunakan beberapa kategori dalam menentukan juara. Di antaranya keindahan kepala, ukuran telinga, keseimbangan tubuh, kelincahan serta postur tubuh kambing. Dan hampir semua kriteria itu dipenuhi kambing-kambing milik Suparyono. Warga Desa Miri Gambar, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur keluar sebagai juara umum.

Ratusan kambing Etawa yang mengikuti kontes rata rata memiliki nilai jual sangat tinggi. Satu ekor kambing mencapai Rp 30 juta hingga Rp 100 juta.(AIS)

Sumber: Liputan6.com
Minggu, 12 Desember 2010 | 0 komentar

Jeli Melihat Peluang Bisnis Ikan

Seputar Tulungagung - BERTAHAN hingga 20 tahun dalam bisnis ikan hias bukanlah waktu yang sebentar.Ketekunan disertai kerja keras dan semangat pantang menyerah menjadi modal terbesar.

Adalah Suryanto, 63, yang mampu bertahan puluhan tahun dalam bisnis ikan hias. Usaha yang ditekuninya memang mengandalkan hobi dari orang lain.Namun semangatnya yang tinggi mengantarkan Suryanto dari seorang penjual ikan eceran menjadi pengusaha ikan untuk partai besar. Sekitar 1982, Suryanto hanyalah seorang pedagang ikan hias pinggir jalan protokol di Lampung. Saat itu, dia hanya menjajakan ikan hias kecil. Namun, tidak diduga, keberuntungan menghampiri Suryanto. Pria kelahiran Kota Bandar Lampung, Lampung, ini justru mendapat keuntungan yang cukup besar.

Dia menceritakan, saat itu untuk menjajakan ikan di pinggir jalan saja dibutuhkan dana yang cukup besar. ”Modal awal saya waktu itu sekitar Rp2 juta. Jualan ikan kecil di emperan depan toko,” ungkap Suryanto saat ditemui harian Seputar Indonesia (SINDO) di rumahnya kawasan Pamulang, Tangerang Selatan,kemarin. Saat memulai usaha, usianya menginjak 28 tahun. Sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk menggeluti bisnis ikan hias hingga puluhan tahun. Keyakinan akan prospek yang bagus dalam usaha ikan disampaikan oleh kakak kandungnya yang sudah terlebih dahulu menggeluti bisnis tersebut.

Secara perlahan namun pasti Suryanto mulai belajar merintis usahanya.Hasilnya, meskipun hanya berjualan di emperan toko, Suryanto mendapat keuntungan cukup besar. ”Empat bulan jualan di pinggir jalan, saya sudah bisa menikah walaupun sedikit dibantu kakak,”kenangnya. Keuntungan yang diperoleh selama lima tahun menjalani usaha menjual ikan di pinggir jalan membuat usahanya semakin besar. Bermodal sekitar Rp18 juta, Suryanto mulai membuka toko kecil di Lampung yang lebih permanen tanpa harus dibayangi ketakutan penggusuran aparat penegak peraturan daerah. Meskipun masih berstatus menyewa seharga Rp35 juta per tahun, toko itu bertahan hingga saat ini. ”Modal itu saya gunakan untuk tambahan membeli ikan dan perlengkapan akuarium yang bisa dijual,”imbuhnya.

Suryanto menceritakan, saat itu keuntungan yang didapat bisa mencapai 100%. Sebab, belum banyak pengusaha ikan hias yang menjadi pesaingnya.Namun belakangan untungnya secara perlahan berkurang lantaran mulai tumbuhnya pengusaha ikan baru. Dia menyebutkan, saat ini keuntungan mungkin hanya berkisar 20%. Meski demikian, Suryanto tidak merasa khawatir. Sebab, sebagai pemain lama dalam usaha ini, dia memiliki banyak pengalaman dan pelanggan.Terlebih, harga yang ditawarkan bisa bersaing dengan pengusaha lain. Ketika sumber daya ikan di sekitar Lampung menipis, Suryanto dituntut berpikir cepat dengan mencari sumber ikan lain untuk mengisi stok di tokonya.

Setidaknya, ada tiga kantong sumber ikan, yakni di Tulungagung (Jawa Timur), Bogor, dan Sukabumi (Jawa Barat), yang saat ini mengisi tokonya di Lampung. Dia juga pernah mengembangkan usahanya dengan mengekspor ikan alam ke sejumlah negara melalui bantuan eksportir. Biasanya, ikan alam yang banyak berasal dari daerah Lampung dikirim ke Jepang. Ikan jenis ini biasanya untuk konsumsi. ”Tapi tidak bertahan lama karena sekarang stok atau sumber daya ikan alam sudah habis,”paparnya. Meskipun omzet yang diperoleh tidak sebesar saat pertama kali merintis usahanya,Suryanto sudah merasa berkecukupan.

”Sekarang omzet hanya Rp40 juta per bulan. Itu sudah dikurangi biaya untuk distribusi dari Jakarta ke Lampung (pulang pergi) sebesar Rp1,4 juta setiap minggunya,”kata Suryanto. Hampir setiap akhir pekan, Suryanto mengirimkan ikan-ikan hias segar ke tokonya di Lampung. Jarak tempuh yang terbilang cukup jauh itu tentu memiliki tingkat risiko yang cukup besar.Tidak jarang pula, ketika waktu tempuh yang dibutuhkan sangat lama,ikan hias menjadi mati lantaran kekurangan oksigen. Dengan demikian, Suryanto harus memastikan ikan hias dalam kondisi sehat ketika memulai perjalanan dari Jakarta menuju Lampung. Meskipun terbilang pemain lama, Suryanto tidak berpikir untuk melakukan budi daya ikan hias untuk menjaga stoknya.

Selama 20 tahun menjalani bisnis ikan hias,Suryanto mengaku tidak menemui hambatan yang besar. Mulai menjamurnya pedagang ikan hias bermodal besar merupakan satu-satunya hambatan yang ditemuinya selama ini. Dia melihat, pada dasarnya prospek besar untuk bisnis ikan hias di Lampung cukup besar dibandingkan dengan di Jakarta.Namun, lantaran persaingan di Lampung sudah sangat ketat, keuntungan bisnis ikan hias di Jakarta menjadi semakin besar. ”Di Jakarta banyak juga yang hobi ikan. Hobi tidak ada matinya dan selalu saja ada orang-orang baru,” tandasnya. Dalam menjalankan usahanya, Suryanto mengaku tidak bisa melakukannya seorang diri mengingat usianya yang sudah tidak muda lagi.

Saat ini,dia dibantu oleh anak-anaknya dan dua karyawan. Kedua karyawan bertugas mendistribusikan ikan hias dari Jakarta menuju Lampung. Tokonya yang berada di kawasan strategis di Lampung menjadi salah satu kekuatan bisnis yang digelutinya tetap bertahan. Suryanto memang pernah punya niat untuk beralih ke jenis usaha lain.Namun,dia menyadari,ketika seseorang tidak mendalami dan mengetahui seluk-beluk usaha yang akan digeluti,suatu saat akan mengalami keterpurukan, sehingga dia tetap memilih menjalankan usahanya saat ini.

”Usaha ini sudah jadi mata pencaharian. Anak saya lulus sarjana dan S-2 juga karena hasil atau keuntungan dari usaha ini,”katanya. (wisnoe moerti)

Sumber: seputar-indonesia.com

| 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan