Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Cuaca. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cuaca. Tampilkan semua postingan

Perekaman E-KTP di Tulungagung masih mencapai 10.79%

Selasa, 20 Maret 2012 | 18.37.00 | 0 komentar

TULUNGAGUNG - Pelaksanaan program E-KTP merupakan program nasional. Kabupaten Tulungagung sendiri wajib melakukan pendataan warganya sebanyak 940.009 orang. Sedangkan laporan per 15 maret masih mencapai 10,79% atau sebesar 101.438 orang.

Konfirmasi dari Kepala dinas Capil kabupaten Tulungagung melalui kabid administrasi kependudukan Nina Hartiani mengatakan, “Halangan yang terjadi selama ini adalah masalah peralatan serta cuaca, sehingga membuat komputer berjalan lambat.”

Oleh sebab itu dalam pelaksanaanya pihak kecamatan selalu intensif berkoordinasi dengan pihak desa. Sehingga diharapkan setiap desa mampu mengatur warganya untuk dapat tepat waktu sesuai jadwal undangan yang telah diterima. Hal ini dilakukan untuk mencegah antrian panjang dan lama dalam proses perekaman. Antrian tentu saja membuat warga tidak nyaman. Sedangkan bagi lansia akan mendapatkan prioritas.

Pelaksanaan program perekaman E-KTP ini setiap hari dibawah pengawasan dinas capil Tulungagung. Pihak dinas juga selalu melaporkan hasilnya kepada Bupati.(Cip)

Sumber: surabayapagi.com | Selasa, 20 Maret 2012
Selasa, 20 Maret 2012 | 0 komentar

SUBSIDI BERAS BAGI NELAYAN 3 KECAMATAN, CAIR

Rabu, 22 Februari 2012 | 12.47.00 | 0 komentar

Tulungagung - Sepi tangkapan ikan nelayan di 3 kecamatan yang ada di Tulungagung mendapat subsidi 8,4 ton beras.

Subsidi beras yang diberikan oleh pemerintah kabupaten ini kata kepala DKP Tulungagung – Hendry Setiawan diberikan kepada 1.510 jiwa penduduk di kecamatan Kalidawir, Campurdarat dan Besuki yang bermata pencaharian sebagai nelayan.

Kata Hendry. bantuan yang diberikan rata – rata 28 kilogram beras per KK itu bertujuan membantu kebutuhan pokok nelayan selama 14 hari selagi hasil melaut masih belum normal.

Sumber: liiur.com | 21 February 2012
Rabu, 22 Februari 2012 | 0 komentar

ANTISIPASI BANJIR DAN LONGSOR, BPBD DIRIKAN 6 POSKO BENCANA

Jumat, 06 Januari 2012 | 03.22.00 | 0 komentar

Tulungagung - Sosialisasi dan pendirian 6 posko pengawasan dan penanggulangan dampak bencana alam bakal segera dirampungkan guna antisipasi dini terhadap bencana alam di Tulungagung.
Demikian kata kabid Logistik dan Kedaruratan BPBD pemkab Tulungagung, Agus P, Kamis pagi.
Agus bilang, langkah ini dianggap efektif untuk memantau potensi banjir dan longsor di kawasan kecamatan Sendang, Kalidawir, Pagerwojo, Tanggung Gunung dan Pucanglaban.
Kegiatan dalam posko yang melibatkan sejumlan unsur lembaga swadaya masyarakat dan kelompok pecinta alam ini kata Agus akan terus berkelanjutan hingga musim penghujan berakhir.

Sumber: liiur.com | 05 January 2012
Jumat, 06 Januari 2012 | 0 komentar

11 Kabupaten/Kota di Jatim Siaga Banjir

Rabu, 04 Januari 2012 | 23.16.00 | 0 komentar

Pacitan - Kepala Badan Koordinator (Bakorwil) Wilayah I Jawa Timur Haryogi meminta 11 kabupaten/kota di provinsi itu siaga bencana. Kesebelas daerah itu adalah Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Nganjuk, Kabupaten Blitar, dan Kota Blitar.

“Semua daerah itu rawan bencana berdasarkan karakteristik dan geografis daerahnya. Kami minta semua siaga bencana,” ucapnya, Rabu, 4 Januari 2012. Haryogi mengatakan di musim penghujan seperti sekarang berbagai bentuk bencana alam mengancam. “Mulai banjir, longsor, dan sebagainya,” katanya.

Ia juga meminta kabupaten/kota segera merampungkan pembentukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Sejumlah daerah masih belum memiliki BPBD dan penanggulangan bencana masih ditangani Satuan Pelaksana (Satlak) Penanggulangan Bencana di bawah Badan Kesatuan Bangsa, Politik, dan Perlindungan Masyarakat (Bakesbanpolinmas). “Kalau melalui Satlak tidak efektif,” ucapnya.

Di Ngawi, ada tujuh kecamatan yang rawan banjir antara lain Kecamatan Mantingan, Widodaren, Kedunggalar, Pangkur, Paron, Ngawi, dan Kwadungan. Wilayah ini dilewati anak sungai Bengawan Solo dan sungai-sungai lainnya. “Kami sedang mempersiapkan pendataan titik-titik rawan, peralatan, dan logistik,” ujar Ketua Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Ngawi, Eko Heru Cahyono.

Untuk logistik menurutnya akan diambil dari BPBD Provinsi Jawa Timur di Surabaya. Sejumlah peralatan juga sedang disiagakan di sejumlah kecamatan rawan banjir. “Seperti karung pasir dan alat-alat evakuasi,” katanya. Karung pasir itu digunakan untuk menahan luapan air di titik-titik aliran sungai yang belum ditanggul.

Hal yang sama dilakukan Pemerintah Kabupaten Magetan. “Tim Tagana dan sejumlah peralatan penanggulangan bencana sudah disiagakan,” kata Bupati Magetan Sumantri. Menurutnya, beberapa wilayah di Magetan khususnya di lereng Gunung Lawu memang rawan longsor.

Di Pacitan, salah satu tiang penyangga Jembatan Borang di Desa Borang, Kecamatan Arjosari, ambles akibat tergerus arus Sungai Grindulu. Akibatnya jembatan sepanjang 100 meter itu miring dan rawan roboh. Jembatan ini salah satu akses penghubung lima desa di dua kecamatan antara lain Desa Borang, Gunungsari, dan Pagotan di Kecamatan Arjosari serta Desa Kalikuning, Kecamatan Tulakan dan Desa Tambakrejo, Kecamatan Pacitan (kota).

“Ambles karena tergerus arus sungai,” ujar Kepala Dinas Bina Marga dan Pengairan Pacitan Budianto. Sungai Grindulu memiliki tipikal meander atau berkelok-kelok, sehingga aliran sungai berubah-ubah dan sulit diprediksi. Pemerintah mengupayakan perbaikan jembatan dan menghimbau agar warga tidak melintas.

ISHOMUDDIN

Sumber: tempo.co | Rabu, 04 Januari 2012
Rabu, 04 Januari 2012 | 0 komentar

Dua anggota TNI diduga terlibat penyelundupan imigran

Jumat, 23 Desember 2011 | 01.40.00 | 0 komentar

Dua anggota TNI yang tidak disebutkan nama dan asal kesatuannya diduga kuat terlibat dalam jaringan penyelundupan pencari suaka di Jawa Timur menuju Australia dan telah diserahkan kepada Detasemen Polisi Militer Brawijaya.

Nama kedua anggota TNI ini muncul hanya berselang tiga hari setelah penemuan pertama korban akibat kapal tenggelam di perairan Prigi, Trenggalek hari Minggu (18/12).
Berita terkait

Informasi yang didapat polisi menyebutkan ratusan imigran dibawa dengan kapal melalui pantai Popoh, di Kabupaten Tulung Agung, Jawa Timur. Informasi ini berdasarkan keterangan seorang nelayan setempat yang mengaku dihubungi dua anggota TNI untuk mengangkut puluhan pencari suaka ke tengah laut.

Nelayan beserta tiga orang pembantunya mendapat imbalan Rp10 juta.

"Jadi peran dua anggota ini adalah sebagai pengorder kapal untuk para imigran," kata Kombes Pol Rachmat Mulyana, juru bicara Kepolisian Jawa Timur.

Terungkap dalam pemeriksaan di Polres Tulung Agung bahwa kedua tentara tersebut menerima imbalan antara US$4.000 hingga US$6.000 per orang untuk tiap pemberangkatan.

"Pakai dolar malah dia. Jadi indikasinya kuat sekali bahwa memang dia tahu melakukan hal itu, tahu melanggar tapi tetap mencari nelayan yang siap membantu menggeser para imigran itu ke tengah laut," tambah Rachmat kepada BBC Indonesia.

Para imigran diantar sampai ke tengah laut dimana sebuah kapal yang lebih besar telah menunggu mereka.

Dalam pengakuan kepada polisi, kedua anggota TNI juga mengatakan upaya ini merupakan pemberangkatan keempat yang mereka tangani.

Kesaksian ini, menurut juru bicara Kepolisian Daerah Jawa Timur Kombes Pol Rachmat Mulyana, membuat polisi menyerahkan kedua anggota TNI tersebut ke Denpom Brawijaya.

"Karena kan kita tidak punya wewenang memeriksa anggota TNI."

ABK ditemukan

Titik terang pengungkapan kasus penyelundupan imigran yang berakhir tragis di perairan Trenggalek ini juga muncul setelah dua WNI yang ditemukan terapung di laut dekat perairan Malang dan diselamatkan nelayan Senin lalu.

Keduanya sempat mengaku hanya merupakan nelayan yang menjadi korban ombak tinggi di Samudera Hindia.

Setelah penyelidikan regu penolong dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Malang serta aparat polisi setempat, keduanya diduga kuat adalah anak buah kapal yang karam Minggu lalu.

"Mulanya mereka tidak mau difoto, tapi diam-diam kita foto seluruh wajah. Kita kirim ke kawan-kawan SAR di Prigi dan imigrasi di Blitar untuk dicocokkan dengan kesaksian para korban pencari suaka," kata Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Malang, Bagyo Soetono.

Sebagian korban kapal tenggelam, menurut Bagyo, mengidentifikasi dua ABK bernama Rivan dan Ronald itu sebagai awak kapal yang membawa mereka lalu meninggalkan penumpang begitu kapal terbelah diterjang ombak.

"Setelah identikasi kita dapat, kita serahkan lah mereka pada aparat untuk diproses selajutnya," tambah Bagyo.

Dia menambahkan penyelidikan kini berada di tangan Polisi Air Jawa Timur.

Dalam perrkembangan terakhir hingga Rabu petang (21/12), terdapat 59 warga Iran, Afghanistan dan Pakistan yang berhasil ditemukan selamat.

Sementara lebih dari 50 orang imigran diketahui tewas setelah ditemukan puluhan jenazah di perairan dekat Nusa Barong, Jember dan Banyuwangi.

Tim pencari mengerahkan dua kapal perang, satu kapal pencari milik Basarnas, dua pesawat helikopter dan satu pesawat pencari milik TNI yang disiagakan untuk memperluas wilayah pencarian korban. (Dewi Safitri)


Sumber: BBC Indonesia | 21 Desember 2011
Jumat, 23 Desember 2011 | 0 komentar

Diduga Terlibat Selundupkan Imigran Gelap, 3 Oknum TNI Diperiksa Denpom

Rabu, 21 Desember 2011 | 16.46.00 | 0 komentar

Surabaya - Penyelundupan ratusan imigran gelap dari Timur Tengah tujuan Australia diduga melibatkan oknum anggota TNI. Ketiga oknum TNI dari Koramil Besuki Kodim Tulungagung ini akan diperiksa petugas Denpom Korem Madiun.

Ketiga oknum TNI yang diduga terlibat itu yakni, Peltu S, Praka KA dan Praka K. Namun, sebelum diserahkan ke Denpom, ketiganya sempat dimintai keterangan dari tim gabungan penyidik dari Mabes Polri dan Polda Jatim. Setelah diketahui ketiganya anggota TNI, Denpom Kodam V/Brawijaya langsung turun tangan dan akan memeriksanya.

"Sekarang dari pihak Denpom sudah menarik ketiganya dan dimintai keterangan di Denpom Madiun. Karena Tulungagung ikut Korem Madiun," ujar Kepala Penerangan Kodam V/Brawijaya (Kapendam) Kolonel Inf Sugiyono, Rabu (21/12/2011).

Ketiga oknum dari Koramil Besuki itu dijemput petugas dari Denpom sekitar pukul 08.00 WIB pagi tadi. Mereka akan diperiksa, terkait dugaan keterlibatanya dalam kasus penyelundupan imigran dari warga Timur Tengah itu.

"Ketiganya akan kita proses lebih lanjut," tuturnya.

Sugiyono yang pernah menjadi dosen di Akademi Militer (Akmil) Magelang ini menerangkan, pihaknya belum bisa menjelaskan tentang dugaan keterlibatan tiga oknum tersebut.

"Kita masih belum mengetahui, apakah melakukan pelanggaran disiplin atau pidana. Sekarang kan masih dalam perjalanan dari Tulungagung ke Madiun. Ya nanti kita tunggu saja hasil pemeriksaannya," ujarnya.

Ia mengatakan, Panglima Kodam V/Brawijaya menegaskan, anggota yang melakukan pelanggaran akan dikenai sanksi.

"Beliau (Pangdam V/Brawijaya) konsekuen dengan aturan yang ada. Kalau ada yang melanggar pasti ditindak," jelasnya.

Dari informasi yang dihimpun, Nuriyanto dan Bambang, pemilik kapal KM Barokah (kapal nelayan pantai Popoh yang mengangkut ratusan imigran Timur Tengah dan tenggelam di perairan Prigi Trenggalek), mengaku mendapatkan order mengangkut imigran tersebut dari ketiga oknum TNI itu dan mendapatkan bayaran sekitar Rp 10 juta.

Nuriyanto dan Bambang tidak hanya sekali ini saja mendapatkan order dari ketiga oknum TNI tersebut. Sekitar sebulan yang lalu, keduannya juga mendapatkan order untuk menyelundupkan sekitar 16 imigran.(roi/bdh)

Sumber: detikSurabaya | Rabu, 21/12/2011
Rabu, 21 Desember 2011 | 0 komentar

Nelayan Diduga Penyelundup Imigran Gelap Tertangkap

Senin, 19 Desember 2011 | 22.28.00 | 0 komentar

Tulunganggung: Dugaan penyelundupan imigran gelap warga Timur Tengah melalui Pantai Indah Popoh, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur yang tenggelam di perairan Trenggalek mulai terungkap.

Awak kapal yang juga merupakan nelayan Pantai Popoh, Joko (20) dan Roni (34), ditangkap aparat Polres Tulungagung karena diduga terlibat penyelundupan imigran gelap dari Pantai Popoh. Sementara dua nelayan lain yang diduga terlibat belum ditangkap, karena tidak berada di tempat saat rekannya ditangkap polisi.

Roni mengatakan Sabtu (17/12) dinihari, ia diperintahkan pemilik kapal barokah untuk mengangkut ratusan imigran gelap. Tapi, Roni mengaku tidak mengetahui identitas penumpang yang akan dibawa ke tengah laut.

Di tengah laut para imigran dipindahkan ke kapal besar. Roni mengaku membawa imigran ke tengah laut sebanyak dua kali, dengan imbalan Rp50 ribu dari pemilik kapal.(DNI)

Sumber: Metrotvnews.com | Senin, 19 Desember 2011
Senin, 19 Desember 2011 | 0 komentar

Pembawa Imigran Timur Tengah Kabur Naik Sekoci

Trenggalek - Kepolisian Daerah Jawa Timur masih memburu keberadaan anak buah kapal (ABK) yang membawa ratusan imigran asal Timur Tengah yang tenggelam di perairan Trenggalek. Mereka diduga melarikan diri menggunakan sekoci saat kapal hendak karam.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Brigadir Jenderal Eddi Sumantri mengatakan hingga kini rute keberangkatan rombongan imigran ke Australia itu masih gelap. Para imigran tidak mengetahui persis lokasi pemberangkatan kapal yang mereka tumpangi di Pulau Jawa. "Kami masih mencari ABK yang hilang," kata Eddi di Trenggalek, Senin 19 Desember 2011.

Berdasarkan keterangan imigran kepada polisi, enam ABK berkewarganegaraan Indonesia itu menyelamatkan diri menggunakan sekoci. Diperkirakan mereka tidak ingin bertanggung jawab atas kecelakaan kapal yang dialami. Bahkan mereka juga membawa enam jaket pelampung dan menyisakan 19 lainnya di kapal, yang selanjutnya diperebutkan para penumpang.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Mariani, membantah bahwa para imigran gelap itu berangkat dari Pantai Popoh, Tulungagung. Penegasan itu membantah kabar adanya nelayan yang menyaksikan rombongan orang asing yang turun dari bus dan naik ke kapal di Pantai Popoh. "Sampai saat ini tidak ada laporan itu," katanya.

Meski akses menuju pantai Popoh cukup longgar, di mana semua jenis kendaraan bisa masuk dan melewati pintu penjagaan kawasan wisata, kemungkinan imigran naik dari tempat itu sangat kecil. Sebab selama ini pantai itu hanya dipergunakan lalu lalang perahu nelayan dan bukan kapal besar.

Sebelumnya sejumlah imigran mengaku datang ke Indonesia menggunakan pesawat terbang. Setelah tiba di Pulau Jawa, mereka naik kendaraan sejenis minibus selama hampir 24 jam. Selanjutnya para imigran dari berbagai negara ini naik ke atas kapal laut. "Saat kami naik kapal sudah tengah malam," kata Esmad, 24 tahun, imigran asal Afganistan yang kehilangan orang tua, adik, dan saudaranya dalam musibah tersebut.

HARI TRI WASONO


Sumber: tempo.co | Senin, 19 Desember 2011
| 0 komentar

Lanud Abd Saleh Bantu Pencarian Korban Kapal Tenggelam

Malang - Pangkalan Udara TNI AU Abdurachman Saleh, Kabupaten Malang membantu pencarian korban kapal tenggelam di Perairan Watu Limo-Prigi, Trenggalek, Jatim.

Pencarian itu, langsung dibawah kendali Komandan Lanud Abdurachman Saleh, Marsma TNI A Dwi Putranto atas perintah Panglima Komando Operasi (Pangkoops) II dengan menggunakan pesawat Hercules A-1305 milik Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.

"Kita bantu pencarian korban kapal tenggelam selama tiga hari, yakni mulai Minggu (18/12) hingga Selasa (20/12), atau tergantung situasi," kata Marsma TNI Dwi Putranto, Senin.

Dwi mengatakan, pada pencarian hari pertama Minggu (18/12), Hercules A-1305 yang dipiloti Mayor (P) Suban dan Copilot Lettu P Andang melakukan penerbangan di atas perairan selama dua jam, tepatnya di atas Laut Selatan, Pantai Prigi.

"Hasilnya, ternyata kita belum menemukan apa-apa kecuali beberapa perahu nelayan ataupun Kapal Cargo yang melintas di laut selatan Jawa Timur," paparnya.

Ia menjelaskan, dalam pencarian korban para imigran asal Timur Tengah itu, pihaknya melakukan penyisiran sejauh 50 mil arah selatan pantai Prigi, yakni selepas Pulau Kecil Babadan dan 30 mil arah barat Pulau Kalungan serta Timur Pulau Tomengan.

"Dalam penerbangan itu, sekali-kali Hercules kami terbang rendah dengan ketinggian 1.500 'feet' (kaki), dan turun lagi hingga 200 hingga 400 feet, sehingga bisa terlihat ada benda yang mencurigakan atau tidak," katanya.

Dijelaskannya, apabila ada yang membutuhkan pertolongan, awak Hercules telah menyiapkan dengan menurunkan dua perahu karet serta pelampung dari udara.

Sebelumnya, sebuah kapal yang mengangkut ratusan penumpang yang diduga imigran gelap asal Timur Tengah dengan tujuan Australia, tenggelam di kawasan Perairan Prigi, Trenggalek, Jatim, pada Sabtu (17/12).

Kapal yang terbuat dari fiber itu, berangkat dari wilayah Jawa Barat atau Jakarta diduga kelebihan muatan ,sehingga mengalami musibah akibat diempas ombak besar di kawasan Prigi yang masuk wilayah laut selatan.

Akibat peristiwa itu, seluruh penumpang tumpah ke laut. Sebagian penumpang tenggelam dan sebagian lagi terus terapung hingga akhirnya datang kapal nelayan Prigi melakukan pertolongan.(Abdul Malik)

Sumber: antarajatim.com | 19 Des 2011
| 0 komentar

Tumpukan Manusia Dikira Jin Laut

Trenggalek - Ahmad Jambenur, nelayan Prigi, Trenggalek, Jatim, tidak pernah menyangka hidupnya menjadi penuh warna ketika melaut Sabtu (17/12) lalu. Dia menemukan perahu terbalik dengan tumpukan orang yang berusaha menyelamatkan diri dari ganasnya Laut Selatan. Tetapi, hanya sebagian kecil yang dapat dia tolong. KARDONO SETYORAKHMADI, Trenggalek

FEELING Jambe –panggilan Ahmad Jambenur– ketika melaut Sabtu siang (17/12) sudah agak aneh. Ketika mau berangkat merumpon (memancing ikan tuna dan tongkol selama 4–5 hari di laut), baling-baling kapalnya ngadat karena sebuah tas kresek nyangkut. Selain itu, ketika melaju ke arah rumpon (tempat tinggal buatan untuk ikan) yang dituju, kapalnya tidak bisa melaju sesuai dengan garis yang terpantau lewat GPS-nya. ’’Tidak tahu kok selalu melenceng. Seolah-olah kapalnya hendak ke arah barat saja,’’ kata pria kelahiran Pulau Raas, Madura, tersebut. Setelah sampai pada 23 nautica mile (sekitar 50 km dari pantai), tiba-tiba di kejauhan terlihat benda seperti tumpukan sampah laut.

Setelah didekati, benda tersebut terlihat bergerak-gerak. Melihat itu, Safari dan Asep, dua teman Jambe, langsung takut. ’’Itu jin, itu jin,’’ kata Safari yang dibenarkan Asep, seraya meminta Jambe yang memegang kemudi untuk berbalik arah. Apalagi saat itu cuaca tengah buruk. Ombak sedang tinggi-tingginya, langit gelap, suara petir bersahutan, dan hujan turun deras. Meski deg-degan, Jambe memutuskan terus mendekat. Ternyata, tumpukan yang dikira jin laut tersebut adalah sebuah kapal yang sudah terbalik dan dipenuhi orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri. Rupanya, itu adalah kapal karam imigran gelap yang ingin pergi ke Christmas Island, Australia. Jambe memutuskan untuk menolongnya.

Namun, begitu kapalnya mendekat dari sisi utara, para korban kapal karam itu langsung terjun dan berenang ke arah kapalnya. Takut kapalnya ikut tenggelam, Jambe langsung memundurkan kapal dan memutuskan untuk mengitari kapal penuh tumpukan manusia tersebut. Tujuannya, berkomunikasi dan memutuskan menolong dengan cara yang terbaik. ’’Karena kapal saya tidak mungkin mampu menyelamatkan semuanya,’’ ujar Jambe. Apalagi, saat itu Jambe juga melihat ada anak-anak dan perempuan yang menjadi korban. Dia melihat seorang perempuan dan seorang anak yang mengenakan pelampung sedang terombang-ambing dipermainkan ombak. Tetapi, mereka sudah tewas. ’’Tidak bergerak dan kulitnya sudah memucat,’’ terangnya.

Akhirnya, dia memutuskan untuk mendekat dari arah timur karena angin dan arus mengarah ke Timur. Sampai di sisi timur kapal korban, mendadak mesin kapal Jambe mati. Maka, ketika puluhan orang yang tengah menanti nasib di laut tersebut berebut terjun dan naik kapalnya, Jambe tidak bisa berbuat apa-apa. ’’Sampai nyaris kapal saya mau tenggelam karena mereka berebut naik,’’ tuturnya. Padahal, sebelumnya dia berniat hendak mengatur bantuan, bahwa yang lebih dulu diselamatkan adalah perempuan dan anak-anak. Tetapi, karena berebut, Jambe tidak bisa lagi mengontrol siapa yang harus diselamatkan lebih dulu. Lebih-lebih karena mesin kapalnya mati. Jadi, dia lebih sibuk untuk mengatur korban yang naik untuk berdiri di sisi timur supaya kapalnya tidak ikut tenggelam. ’’Sudah miring sekali ketika rombongan pertama datang dan naik secara berebut,’’ tuturnya.

Akhirnya, ketika total penumpang sudah mencapai 34 orang, Jambe memutuskan tidak menambahnya lagi. ’’Padahal, es yang saya siapkan untuk ikan sudah saya buang semua ke laut. Termasuk sebagian solar biar muat lebih banyak,’’ terangnya. Namun, suasananya jadi memilukan. Di dalam kapal, seorang ayah dan anak berangkulan sambil menangis keras-keras. Juga ada seorang imigran, yang belakangan diketahui Esmad, menangis sambil membentur-benturkan kepalanya ke tiang kapal. Rupanya, 20 keluarganya termasuk yang tidak terselamatkan (Saat sampai di darat, sepanjang Sabtu malam hingga Minggu pagi kemarin, Esmad langsung berlari bila ada kapal nelayan yang datang ke pantai). Dia mengira, nelayan itu menyelamatkan keluarganya yang lain.

Juga terjadi sebuah peristiwa yang menyayat hati Jambe. Yakni, ketika ada dua orang Indonesia yang diduga merupakan juru mudi kapal nahas tersebut berusaha naik. Karena kapalnya sudah tidak mampu lagi memuat orang, Jambe terpaksa menepiskan tangan dua orang yang hendak memanjat naik itu. Mereka tidak menyerah, kemudian mencoba naik ke sisi lain perahu. Kembali Jambe harus menepis tangan mereka supaya tidak bisa naik.

Akhirnya, setelah sekitar setengah jam berusaha, dua orang tersebut menyerah. Mereka kemudian berenang kembali ke arah kapal yang sudah terbalik, bergabung bersama orang-orang yang gagal naik ke perahu. Dua orang tersebut menatap Jambe. Menurut Jambe, mereka tidak terlihat marah. Terlihat kecewa, tetapi mereka mengerti. ’’Bahwa lebih penting menyelamatkan yang sudah ada, ketimbang ikut tenggelam semua,’’ tutur Jambe. Jambe kemudian menyalakan mesin, kemudian mengunci koordinat lokasi kapal karam tersebut dan meluncur ke pantai. Terakhir, dia memandang ke arah orang-orang yang masih bertahan di kapal karam tersebut. Yang membuat terenyuh bukan hanya melihat kedua juru mudi yang gagal naik tersebut. Tetapi, juga melihat dua perempuan setengah baya dan dua anak yang masih tertinggal. ’’Perkiraan saya, ada sekitar 30 sampai 40-an orang yang bertahan di lunas kapal itu,’’ katanya.

Pria kurus tersebut kemudian bergegas melajukan kapalnya kembali ke pantai. Sekitar sepuluh mil laut dari bibir pantai, dia mendapat sinyal. Dia segera menghubungi Musaim, pamannya, untuk segera meminta bantuan kapal lain. Musaim sendiri bergegas lapor ke pol air. Tetapi, karena keterbatasan alat (speedboat patroli mereka hanya mampu paling jauh ke jarak tujuh hingga delapan mil laut), pol air tidak bisa berbuat apa-apa.

Hingga sampai Jambe tiba di pelabuhan, belum ada satu pun kapal yang berangkat menyusul melakukan evakuasi. Karena belum berpengalaman, upaya mencari kapal evakuasi untuk membantu para korban terhambat. Ini fatal. Sebab, jarak 23 mil laut itu ditempuh sekitar tiga hingga empat jam, sebuah rentang waktu yang sangat lama bagi para korban untuk bertahan. Kapal bantuan untuk mencari korban yang tersisa pun baru berangkat sekitar pukul 18.00 Sabu petang. Yang naik tentu saja Jambe, dua petugas pol air, dan beberapa anggota tim SAR. Mereka tiba di lokasi kapal karam sekitar pukul 21.30 atau sekitar delapan sejak pertama Jambe menemukan mereka.

Namun, di gelapnya laut, mereka sudah tidak melihat apa-apa lagi. Orang yang tersisa berikut bangkai kapal sudah tidak ada. Seolah ditelan gelapnya malam Laut Selatan. Tim penyelamat tidak berhenti mencari. Mereka terus mencari, mengelilingi sekitar radius hingga 20 mil laut dari lokasi kecelakaan, tetapi tetap tidak menemukan apa-apa. ’’Arus laut yang kencang dan ombak yang sedang tinggi-tingginya bulan ini memang bisa menyeret mereka jauh,’’ katanya, sedih. Mereka baru kembali ke pantai sekitar pukul 05.00 dini hari kemarin dengan tangan hampa. Di darat, seorang korban yang terus-menerus berzikir sempat meminta Jambe dan istrinya untuk kembali lagi mencari. ’’Tolonglah, masih ada sekitar lima puluh orang lagi yang tadi masih hidup,’’ katanya. Namun, hingga tadi malam, tim SAR belum juga berhasil menemukan mereka yang tersisa.Kendati berhasil menyelamatkan 34 nyawa, Jambe mengaku tetap tidak bisa melupakan tatapan orang-orang yang tertinggal di laut lepas itu. ’’Seandainya saya bawa kapal yang lebih besar, mungkin selamat semua,’’ ucapnya, sedih.(nw)


Sumber: pontianakpost.com | Senin, 19 Desember 2011
| 0 komentar

Pencarian Korban Kapal Tenggelam Dihentikan Sementara

Minggu, 18 Desember 2011 | 21.29.00 | 0 komentar

Trenggalek - Basarnas Jatim menghentikan sementara pencarian ratusan korban tenggelamnya kapal berpenumpang ratusan imigran gelap asal Timur Tengah di Perairan Trenggalek, karena cuaca di tengah laut kembali memburuk.

"Proses pencarian akan dilanjutkan besok pagi dengan menyisir seluruh kawasan perairan di Pantai Selatan Jawa Timur," ujar Kepala Satpolair Prigi, Iptu Ali Mudzakir, Minggu.

Ia tidak secara tegas menyatakan bahwa pencarian korban kapal tenggelam yang diperkirakan berjumlah 200 orang lebih, dihentikan sama sekali.

Namun, Ali secara eksplisit membenarkan bahwa tim evakuasi yang melakukan penyisiran ke arah timur, mulai dari titik tenggelamnya kapal, mulai ditarik kembali ke pelabuhan karena hari semakin larut dan faktor cuaca ekstrem yang terjadi di tengah laut.

"Kalaupun dipaksakan melakukan pencarian malam hari, hasilnya tentu tidak akan maksimal karena pandangan pasti berkurang," ujarnya.

Ali mengungkapkan, upaya pencarian korban tenggelamnya kapal bermuatan ratusan imigran gelap asal Afghanistan, Turki, Iran dan Arab Saudi sejauh belum membuahkan hasil.

Dua unit kapal nelayan yang mengangkut tim gabungan dari Basarnas Jatim dan Polair Prigi, diinformasikan telah menyisir seluruh perairan Prigi hingga selatan Kabupaten Blitar yang berjarak sekitar 10 mil dari titik tenggelamnya kapal.

Namun, hingga saat ini belum satupun korban berhasil ditemukan. "Kalau melihat kuatnya arus laut, tingginya gelombang, serta batas ketahanan manusia untuk bertahan terombang-ambing di tengah laut, kecil kemungkinan mereka ditemukan dalam kondisi selamat," ujar Ali Mudzakir.(Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 18 Des 2011
Minggu, 18 Desember 2011 | 0 komentar

Pencarian 182 Korban Kapal Tenggelam Masih Nihil

SURABAYA - Hingga kini, upaya pencarian korban kapal tenggelam yang membawa imigran gelap di Trenggalek, Jawa Timur, belum membuahkan hasil. Korban yang berhasil diselamatkan 33 orang dari 218 penumpang. Sisanya masih dinyatakan hilang.

Padahal sudah 12 kapal penyelamat sudah dikerahkan untuk menyisir keberadaan para korban. Namun karena ombak dan arus yang deras, para korban sudah terpisah jauh dari titik awal ditemukan.

“Pencarian sudah diperluas ke wilayah perairan Tulungagung, Jember dan bahkan Banyuwangi. Di titik-titik ini petugas mencoba mencari dan mencegat keberadaan para korban itu,” kata Siswanto, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur, Minggu (18/12/2011).

Ketinggian ombak dan arus yang deras, kata Siswanto, memang menjadi kendala tersendiri dalam proses pencarian korban ini. Para korban ini sudah terbawa arus menjauhi lokasi pertama kali di ditemukan. Dari 12 kapal penyelamat, sudah disebar di beberapa titik. Namun kenyataannya hingga kini belum membuahkan hasil.

Kata Siswanto, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan sekuat tenaga menyelamatkan para korban. Meskipun mereka bukan warga negara Indonesia. "Ini persoalan kemanusiaan. Tidak memandang dia dari negara mana," ujar Siswanto.

Upaya pencarian korban ini sendiri kata Siswanto, BNPD Jawa Timur belum menetapkan tenggat waktu, kapan pencarian ini akan terus dilakukan. Ini disebabkan karena masih harus menunggu perkembangannya kemudian. "Kita melihat perkembangannya seperti apa? Kalau memang diperkirakan masih dapat ditemukan, akan terus kita cari," ujar Siswanto.

Sedangkan untuk korban selamat sendiri, kata Siswanto hingga kini masih ditempatkan di puskesmas setempat. Pemerintah Provinsi Jawa Timur belum berpikiran untuk memindahkan mereka ke tempat lain. "Untuk memudahkan jika ada korban selamat lain yang ditemukan. Apalagi persoalan imigran pemerintah pusat. Kami masih menunggu keputusan pusat," ungkap Siswanto.

Sementara itu, Komando Armada Timur TNI AL mengirimkan bantuan KRI Untung Suropati untuk membantu pencarian korban hilang. "KRI Untung Suropati RI 872 beserta 50 pasukan sudah berangkat untuk membantu mencari korban hilang," kata Letkol (Laut) Yayan Sugiyana Kadispen Armatim.

Seperti diketahui, sebuah kapal pengangkut imigran gelap tenggelam di perairan Prigi, Watu Limo, Trenggalek, Jawa Timur, pada hari Sabtu pukul 15.00 WIB. Kapal ini membawa 218 imigran gelap warga negara Afghanistan, Iran dan Turki. Dari total jumlah penumpang itu, baru 33 orang yang berhasil ditemukan selamat. Sementara sisanya dinyatakan hilang. Diperkirakan mereka berangkat dari Jakarta atau Jawa Barat. Meraka rencananya akan menyeberang ke Australia untuk mencari suaka.

Belum diketahui secara pasti penyebab tenggelamnya kapal tersebut. Namun diperkirakan kapal yang terbuat dari fiberglass ini overload ditambah lagi dengan ombak besar yang menghantam kapal ini hingga karam. Kapal ini seharusnya hanya mampu memuat 100orang. Namun dipaksakan untuk mengangkut 200 orang.

"Masih susah untuk mendapatkan keterangan dari para korban. Karena mereka tidak bisa berbahasa Inggris," ujar Siswanto.(lam)

Sumber: okezone.com | Minggu, 18 Desember 2011
| 0 komentar

34 Imigran Bertolak Ke Blitar

TRENGGALEK - Sebanyak 34 imigran korban kapal tenggelam yang ditemukan selamat di Pantai Prigi, Trenggalek, Jawa Timur, diberangkatkan ke Blitar. Rencananya mereka akan ditempatkan di Kantor Imigrasi Blitar untuk sementara waktu sampai proses hukum terhadap imigran asal sejumlah negara di Timur Tengah ini selesai.

"Total yang berangkat naik bus tadi 32 orang. Sedangkan yang dua orang masih di rawat di RS Bhayangkara Tulungagung. Mereka akan menyusul tergantung hasil rekomendasi medisnya," ujar Kepala Polres Trenggalek Ajun Komisaris Besar Totok Suharyanto, Minggu (18/12/2011) di lokasi.

Rombongan imigran berangkat menggunakan bus Harapan Baru sekitar pukul 16.00. Sebelumnya para imigran ini ditampung di Balai Pertemuan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Mereka mendapat perawatan darurat setelah terombang-ambing di laut.

Sebanyak 34 imigran yang kebanyakan laki-laki ini ditolong oleh nelayan pencari ikan saat kapal motor yang mereka tumpangi terbalik dan tenggela m di laut lepas sekitar 26 mil dari Pantai Prigi. Terbatasnya daya tampung kapal nelayan mengakibatkan banyak imigran lain penumpang kapal tidak terangkut.

Sumber: KOMPAS.com | Minggu, 18 Desember 2011
| 0 komentar

Hundreds of victims scrambled for 19 life jackets: Rescue team

Trenggalek - The ship carrying hundreds of migrant workers that sank in waters off Prigi, East Java, on Saturday, lacked safety equipment, resulting in a mad scramble for just 19 available life vests on board, the head of the search and rescue team dispatched the accident said on Sunday.

The Surabaya Search and Rescue (SAR) team said the doomed ship had 25 life jackets on board, but six of them taken by the ship's crew, leaving the hundreds of panicking passengers to fight amongst themselves for the remaining 19 life jackets.

According to Surabaya SAR III office chief Sutrisno, the lack of safety equipment on board the ship made it difficult for the victims to survive the accident. He said the passengers had held onto the sinking remains of the, he said.

"They did not have much safety equipment," he said on Sunday, as quoted by tempo.com.

He said that the accident, which was initially thought to have been caused by rough seas, might have also been caused by the fact that the ship had too many passengers aboard.

A spokesman of the Trenggalek administration, East Java, confirmed that the ship’s maximum capacity was 100 passengers, but that the subk ship had around 250 people on board.

East Java Police deputy chief General Brigadier Eddi Sumantri said earlier that the ship sunk after being struck by a huge wave 20 miles off the Prigi shore on Saturday morning.

“They [the bodies of the victims] were found by fishermen after six hours floating in the sea,” he said.

A rescue team from Trenggalek said that it had so far found 33 dead bodies floating in the sea, consisting of 31 men, 1 woman and 2 children.

Survivors are currently being treated at the Watulimo clinic in Trenggalek and Bhayangkara Hospital in Tulungagung.

A preliminary police investigation revealed that the immigrants were from Afghanistan, Iran and Turkey, and were headed for Australia in search of work.

Sumber: The Jakarta Post | Sun, 12/18/2011
| 0 komentar

Puting beliung landa 11 daerah di Jatim

Jumat, 25 November 2011 | 19.49.00 | 0 komentar

Pacitan - Bencana puting beliung melanda 11 kabupaten di Jawa Timur dalam kurun dua bulan terakhir dan menyebabkan kerusakan ratusan bangunan, demikian laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur.

"Kalau berdasar laporan yang sudah masuk, saat ini sudah ada 10 daerah yang terkena puting beliung. Namun ada satu daerah lain yang sebenarnya juga mengalami bencana serupa tetapi belum melapor ke kami," kata Koordinator Pusat Informasi Bencana BPBD Jatim, Abdul Hamid, Jumat.

Daerah terakhir yang dimaksud Hamid adalah Kabupaten Blitar. Sementara 10 daerah yang telah melaporkan tingkat kerusakan dan kerugian yang dialami masing-masing adalah Kabupaten Bangkalan, Tulungagung, Mojokerto, Jombang, Ngawi, Malang, Bondowoso, Bojonegoro, Situbondo, serta Kediri.

Tidak ada penjelasan secara spesifik apakah puting beliung maupun angin kencang yang melanda sejumlah wilayah di Jatim tersebut masuk kategori badai yang membahayakan.

Hamid hanya menjelaskan bahwa fenomena tersebut sebagai hal yang biasa terjadi setiap memasuki masa pancaroba. Diperkirakan, bencana semacam itu akan reda setelah musim penghujan tiba. "Fenomena angin kencang terjadi secara periodik karena hanya muncul saat masa pancaroba saja," jelasnya.

Bencana angin puting beliung pada umumnya bersifat "melokal". Maksudnya, hembusan angin dengan kecepatan tinggi yang biasanya membentuk semacam pusaran tersebut terjadi pada beberapa desa yang saling berdekatan dan menimbulkan efek merusak.

Sebagaimana data di BPBD Jatim, kasus puting beliung terparah dalam kurun dua bulan terakhir, terjadi di Kabupaten Bangkalan serta Tulungagung.

Di Bangkalan, misalnya, bencana puting beliung melanda sekitar akhir bulan Oktober lalu dan menyebabkan 166 bangunan rusak. Bencana serupa menimpa Kecamatan Rejotangan, Kabupaten Tulungagung, Minggu (20/11).

Di daerah ini, angin menyapu sedikitnya enam desa, yakni Desa Aryojeding, Tugu, Buntaran, Tenggur, Banjarejo, dan Sukorejo. Kencangnya terjangan angin membuat 437 unit rumah dan tiga sekolah dasar (SD) rusak ringan.

Bencana serupa juga smepat melanda wilayah Kota Madiun dan Trenggalek, namun kerusakan tak separah dua kabupaten lain. Angin kencang yang menerjang kedua daerah yang disebut terakhir itu hanya menyebabkan puluhan pohon di beberapa titik jalan tumbang.

Dia mengungkapkan, di Jatim sendiri ada tiga bencana alam yang cukup dominan terjadi, yakni kekeringan, banjir, dan tanah longsor.(ANT-130)

Sumber: ANTARA News | Jumat, 25 November 2011
Jumat, 25 November 2011 | 0 komentar

BPBD Tulungagung Tak Miliki Data Prakiraan Cuaca

Tulungagung - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tulungagung, Jawa Timur tidak memiliki data-data penting terkait prakiraan cuaca yang biasanya mereka terima dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) secara rutin.

"Kami memang belum memiliki akses dengan BMKG karena masih konsentrasi pada penataan organisasi," kata Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Tulungagung, Kustoyo, Kamis.

Ia berdalih, BPBD Tulungagung masih terlalu "muda" sehingga apabila masih ada kekurangan di sana-sini, menurutnya itu adalah hal yang wajar, termasuk soal ketiadaan input prakriaan cuaca dari BMKG.

Namun, Kustoyo juga mengakui bahwa ketiadaan data prakiraan cuaca menjadi salah satu titik lemah BPBD. Sebab, tanpa prediksi cuaca, terutama yang menyangkut curah hujan serta kecepatan angin, hal itu menyebabkan BPBD tak mampu mendeteksi setiap potensi bencana secara dini.

Bukti nyata dari ketidaksiapan BPBD dalam menghadapi bencana adalah dua kali peristiwa angin kencang puting beliung yang melanda sebagian wilayah Kecamatan Rejotangan dan Kalidawir, beberapa waktu lalu.

Kustoyo mengatakan, yang bisa dilakukan pihaknya dalam situasi bencana hanyalah sebatas menginventarisir.

"Kalau butuh info cuaca, biasanya kami lakukan dengan melihat data prakiraan cuaca yang dirilis BMKG di internet. Itu menjadi solusi alternatif meski hasilnya tentu tidak akan maksimal," imbuhnya.

Sementara, salah seorang sumber di internal BPBD menyebut, hasil prakiraan cuaca dari BMKG sebelumnya kerap ditembuskan ke Pemkab Tulungagung melalui kantor infokom.

Namun, kerjasama itu tidak lagi berlanjut sejak kurun setahun terakhir. Pihak Infokom maupun BPBD tak menjelaskan putusnya koordinasi mereka dengan pihak BMKG selaku lembaga penyedia informasi cuaca.

Beberapa sumber di internal BPBD hanya menyebut tidak adanya lagi tembusan hasil evaluasi prakiraan cuaca dari BMKG lebih dikarenakan adanya peralihan lembaga yang menangani urusan bencana.

Jika sebelumnya masalah cuaca menjadi tanggung jawab Infokom selaku lembaga yang tergabung dalam Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana (Satlak PB), kini semua yang berkaitan dengan bencana dan prediksi cuaca tersentral di BPBD. (Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 24 Nov 2011
| 0 komentar

Kemarau Keringkan Ribuan Hektare Lahan Padi Jatim

Rabu, 14 September 2011 | 17.47.00 | 0 komentar

Musim kemarau telah mengeringkan 1.453 hektare lahan padi di Jawa Timur selama Agustus 2011, karena mayoritas petani masih melakukan pola tanam tak sesuai musim.

"Idealnya kalau musim kemarau seperti sekarang jangan spekulasi menanam padi tetapi palawija, seperti jagung, kedelai, kacang hijau, dan aneka tanaman hortikultura," kata Kepala UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Jatim, Kethut Marsudi, Rabu.

Ketika ditanya terkait dampak musim kemarau terhadap pola tanam petani padi Jatim, ia mengatakan, lahan padi dengan kondisi kekeringan paling besar terjadi di Tulungagung dengan luasan lahan mencapai 953 hektare.

"Ada pula kekeringan di Trenggalek 271 hektare, Pacitan 112 hektare, Sumenep 60 hektare, Mojokerto 21 hektare dan Lamongan 19 hektare," ujarnya seperti dilaporkan Antara.

Untuk itu, pada musim kemarau yang diproyeksi terjadi antara April - September 2011 sejumlah petani yang selama ini menanam padi diharapkan memberlakukan pola tanam sesuai musim terkini.

"Memang menanam padi pada musim kemarau untungnya besar. Akan tetapi, modal dan risikonya juga besar kecuali petani siap sumur pompa tersendiri," katanya.

Khusus di Jatim, ia mengaku, sebagai solusi mengantisipasi dampak kekeringan per 16 Juli 2011 Kepala Dinas Pertanian Jatim sudah mengimbau jajarannya di tingkat kabupaten/kota untuk menyiapkan diri.

"Ada baiknya hentikan siklus tanam padi sampai ada imbauan selanjutnya," katanya.

Mengenai produksi padi, ia menyatakan optimistis, angka produksi padi di Jatim tidak akan mengalami penurunan menyusul dampak kekeringan hanya melanda beberapa daerah.

"Bahkan, luas arealnya tidak mendominasi luas tanam padi di Jatim yang kini mencapai sekitar 1,7 juta hektare," katanya.

Kini di Jatim juga masih ada yang menanam padi yakni di Bojonegoro. Namun, beberapa petani padi di sana berusaha menjalin kerja sama dengan pengusaha sumur pompa sehingga air tetap bisa mengairi sawah mereka.

"Kini, hasil panen padi mereka juga bagus-bagus," katanya.

Untuk tanaman padi, kekeringan sudah terasa sejak Juli 2011, namun angka luasan area yang terdampak hanya mencapai 2.736 hektare. Pada periode tersebut, kekeringan terbesar terjadi di Trenggalek seluas 1.729 hektare.

Pada Juli lalu juga terjadi kekeringan di Tulungagung 811 hektare, Bangkalan 108 hektare, Tuban 50 hektare, Gresik 15 hektare, Jombang 12 hektare, Kediri 10 hektare, dan Sumenep setengah hektare, katanya.(ant/edy)

Sumber: suarasurabaya.net | 14 September 2011
Rabu, 14 September 2011 | 0 komentar

Jatim Masih Bakal Diguyur Hujan

Sabtu, 30 April 2011 | 02.08.00 | 0 komentar

SURABAYA - Hujan masih berpotensi mengguyur wilayah Provinsi Jawa Timur (Jatim) menyusul tingginya kelembaban udara selama beberapa hari ke depan.

Demikian dikatakan prakirawan cuaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Juanda Priyo Utomo di Surabaya, Jumat (29/4).

"Selama tiga hari ke depan sebagian besar wilayah Jatim berpotensi hujan mulai dari intensitas ringan hingga sedang," kata Priyo Utomo.

Menurutnya, Jatim bagian selatan dan selatan tengah, meliputi Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Trenggalek, Tulungagung, dan Pacitan, berpotensi hujan pada sore, malam, atau dini hari dengan intensitas ringan.

Sedangkan Jatim bagian utara dan utara tengah, meliputi Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Probolinggo, Pasuruan, dan Situbondo diperkirakan peluang hujannya berintensitas ringan.

Sementara itu, Jatim bagian tengah, seperti Ngawi, Magetan, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Jombang, dan Mojokerto umumnya berawan dan kemungkinan hujan dengan intensitas ringan sampai sedang.

Demikian halnya untuk wilayah Jatim bagian kepulauan, seperti Madura dan Bawean, cuaca umumnya berawan dan berpeluang hujan dengan intensitas ringan. (Ant/OL-01)

Sumber: MICOM

Sabtu, 30 April 2011 | 0 komentar

Angin Puyuh Terjang Desa Pojok Campurdarat

Minggu, 03 April 2011 | 01.43.00 | 0 komentar

Tulungagung - Hujan deras yang disertai angin kencang, yang berlangsung Jum’at (01/ 04/2011) mengakibatkan kerusakan pada sejumlah bangunan rumah penduduk di Desa Pojok Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung Jawa Timur.

Angin puyuh itu terjadi sekitar pukul 14.30 WIB, walaupun tidak menimbulkan korban jiwa namun 47 rumah warga mengalami kerusakan. Dari rumah yang mengalami kerusakan 42 rumah rusak ringan, rusak sedang 3 rumah dan rusak berat 2 rumah. Dua rumah rusak berat yaitu rumah milik Pak Sukarlan dan rumah Pak Wakit Dusun Pojok RT 04 RW 03 rumah dan dapur roboh.

Atas kejadian tersebut Tim Tanggap Bencana Kabupaten Tulungagung yang terdiri dari Dinas PU, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kesbanglinmaspol, Bagian Humas serta Muspika Campurdarat dan Kepala Desa Pojok beserta perangkatnya langsung melakukan peninjauan ke lokasi guna mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam penanganan bencana tersebut.

Sebagai langkah awal, warga setempat telah melakukan gotong-royong memperbaiki rumah yang rusak ringan, dan Pemerintah Kabupaten Tulungagung telah memberikan bantuan awal sebagai penanganan tanggap darurat berupa sembako dan air mineral. (Udin/Humas)
Sumber:tulungagung.go.id
Minggu, 03 April 2011 | 0 komentar

BMKG: Waspadai Cuaca Ekstrem Jawa Timur

Rabu, 26 Januari 2011 | 00.41.00 | 0 komentar

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Juanda mengimbau warga Jawa Timur terus mewaspadai cuaca ekstrem selama Januari. Untuk dua hari ini hujan intensitas ringan dan sedang terjadi hampir di seluruh Jatim.

"Sebagian besar daerah di Jatim berpotensi hujan. Tentunya peluang terjadinya cuaca ekstrem berupa badai juga terjadi, khususnya Jatim bagian selatan," papar prakirawan Ahmad Rofiul Huda, Selasa (25/1).

Huda menjelaskan potensi hujan dipicu tekanan rendah selatan Jatim Sedangkan distribusi uap air atau kelembapan cukup tinggi, pembentukan awan hujan cukup signifikan.

Berdasarkan data BMKG Juanda, wilayah Madura (Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep) dan Bawean umumnya berawan-hujan. Peluang hujan diperkirakan terjadi siang, sore, malam, maupun dini hari dengan intensitas ringan.

Sementara Utara dan Utara Tengah (Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya, Sidoarjo, Pasuruan, Probolinggo, dan Situbondo) umumnya berawan-hujan. Peluang hujan diperkirakan pada pagi, siang, sore, malam dengan intensitas ringan.

Untuk Jawa Timur wilayah Tengah (Ngawi, Magetan, Ponorogo, Madiun, Nganjuk, Kediri, Jombang, dan Mojokerto, Bondowoso, dan Bojonegoro), cuaca berawan-hujan. Sedangkan Jawa Timur wilayah Selatan dan Selatan Tengah (Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi), umumnya berawan-hujan. (Ant/*****)

Sumber : metrotvnews.com
Rabu, 26 Januari 2011 | 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan