Seputar Tulungagung™  ~   Berita Tulungagung Hari Ini 
Tampilkan postingan dengan label Laut. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laut. Tampilkan semua postingan

8 Imigran Asal Iran Tiga Jam Terkatung di Lautan Tulungagung

Rabu, 17 Juli 2013 | 04.47.00 | 1 komentar

TULUNGAGUNG - Delapan orang warga negara asing asal Iran ditemukan terapung di atas kapal nelayan di perairan pantai selatan Sine, Kecamatan Kalidawir, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, dini hari tadi. Mereka terombang ambing di tengah lautan setelah ditinggal oleh awak kapal yang merupakan warga Indonesia.

"Pertama kali ditemukan oleh nelayan dan dilaporka ke petugas. Setelah dicek, ternyata benar warga asing asal Iran," ujar Kapolres Tulungagung, Ajun Komisaris Besar Polisi Wisnu Hermawan Februanto, kepada wartawan, Selasa (16/7/2013).

Kedelapan orang tersebut merupakan gabungan dua keluarga. Ada dua laki-laki dewasa, tiga anak-anak, dan tiga wanita yang salah satunya tengah mengandung. Saat ditemukan, kondisi mereka cukup memprihatikankan, karena mesin kapal nelayan yang ditumpangi mati, dan bocor. Menurut penuturan salah satu imigran, mereka terkatung-katung selama tiga jam.

Sementara tiga awak kapal (ABK) yang bertanggung jawab atas perjalanan tersebut, diduga sengaja melarikan diri dengan kapal lain. Mereka kabur saat para imigran tertidur pulas. "Tiga orang awak yang kini ditengarai kabur ke arah Tanggunggunung adalah warga Madura. Saat ini kita tengah melakukan pengejaran, termasuk mengamankan kapal yang digunakan," terang Wisnu.

Mereka tiba di Mapolres Tulungagung sekira pukul 10.00 WIB dan dua di antaranya langsung dilarikan ke rumah sakit karena kondisinya lemas lantaran mengandung. Pemeriksaan dokumen kenegaraan sempat terganjal masalah komunikasi bahasa. Selain hanya menguasai bahasa Arab, kemampuan bahasa Inggris mereka relatif pasif.

Sementara itu Hada Lavatse (30), salah seorang WNA Iran, mengaku, berangkat dari Iran dengan berbekal dokumen resmi. Namun semuanya lenyap dibawa oleh ABK yang melarikan diri. Ibu dari si kembar Taha (4) dan Yasin (4) itu mengaku ditipu.

Sebelum sampai ke Indonesia, mereka lebih dulu singgah ke Malaysia baru menyelinap ke Indonesia. Sejak 1 Mei 2013, dua keluarga tersebut tinggal di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Menurutnya mereka tidak ingin pergi ke Australia seperti imigran timur tengah kebanyakan, melainkan ke posko United Nation Organization (PBB). (Koran SI / Solichan Arif / ris)

Sumber: okezone.com | Selasa, 16 Juli 2013
Rabu, 17 Juli 2013 | 1 komentar

SUBSIDI BERAS BAGI NELAYAN 3 KECAMATAN, CAIR

Rabu, 22 Februari 2012 | 12.47.00 | 0 komentar

Tulungagung - Sepi tangkapan ikan nelayan di 3 kecamatan yang ada di Tulungagung mendapat subsidi 8,4 ton beras.

Subsidi beras yang diberikan oleh pemerintah kabupaten ini kata kepala DKP Tulungagung – Hendry Setiawan diberikan kepada 1.510 jiwa penduduk di kecamatan Kalidawir, Campurdarat dan Besuki yang bermata pencaharian sebagai nelayan.

Kata Hendry. bantuan yang diberikan rata – rata 28 kilogram beras per KK itu bertujuan membantu kebutuhan pokok nelayan selama 14 hari selagi hasil melaut masih belum normal.

Sumber: liiur.com | 21 February 2012
Rabu, 22 Februari 2012 | 0 komentar

Lima prajurit tersangka tenggelamnya imigran terancam dipecat

Selasa, 14 Februari 2012 | 19.27.00 | 0 komentar

Surabaya - Lima prajurit Kodam V/Brawijaya serta seorang PNS Kodim Tulungagung yang menjadi tersangka tenggelamnya sejumlah imigran gelap asal Timur Tengah di Pantai Prigi, Trenggalek, Jawa Timur, 17 Desember 2011, terancam dipecat.

"Kalau proses peradilan militer sudah selesai, maka sanksi administrasi pasti ada sampai pemecatan bila pidana yang diterima mencapai 3-4 bulan ke atas," kata Panglima Kodam V/Brawijaya Mayjen TNI Murdjito dalam silaturahim dengan Insan Pers Jatim di Makodam V/Brawijaya, Surabaya, Selasa.

Didampingi sejumlah asisten, Danpondam V/Brawijaya, dan Ketua PWI Jatim Drs H Akhmad Munir, ia menjelaskan penetapan tersangka dan penahanan kelima prajurit itu setelah dirinya menindaklanjuti surat dari Dandim 0807/Tulungagung pada 22 Desember 2011.

"Surat pelimpahan perkara penyelundupan manusia terkait tenggelamnya kapal bermuatan imigran gelap dari Dandim Tulungagung itu menyebut tiga oknum yang terindikasi terlibat dalam tenggelamnya imigran itu," katanya di hadapan 105 wartawan dan pimpinan redaksi dari 59 media massa di Jatim.

Ketiga oknum adalah Peltu Susiali (BP Koramil 0807/12 Besuki, Kodim 0807/Tulungagung), Serka Khoirul Anam (Babinsa Koramil 0807/12 Besuki, Kodim 0807/Tulungagung), dan Kopka Karyadi (Babinsa Koramil 0807/12 Besuki, Kodim 0807/Tulungagung).

"Dari hasil pemeriksaan ketiga tersangka itu, maka Pomdam V/Brawijaya melakukan pengembangan hingga akhirnya bertambah dua tersangka. Jadi, prajurit itu tidak bisa seenaknya, siapa yang bersalah akan ditindak," katanya.

Kedua tersangka baru adalah Serda Kornelius (Babinsa Koramil 0817/04 Bluto, Kodim 0827/Sumenep) dan Serda Ilmun Abdul Said (Babinsa Koramil 0828/08 Sokabanah, Kodim 0828/Sampang).

"Kelimanya sudah ditetapkan sebagai tersangka pada 31 Desember 2011 dan sejak itu ditahan di Denpom V-4 Surabaya. Insya-Allah, mereka akan diperiksa sebagai tersangka dengan didampingi penasehat hukum mulai 25 Januari 2012," katanya.

Untuk oknum PNS dari Kodim Tulungagung Budi Santoso, katanya, sudah dilimpahkan ke Polda Jatim, karena Kodam V/Brawijaya tidak menangani kalangan sipil, meski kalangan sipil itu berasal dari internal Kodam V/Brawijaya sendiri.

"Yang jelas, kasus itu mengejutkan kami dan akan memberi pelajaran kepada kami bahwa pengawasan dan pembinaan prajurit perlu ditingkatkan agar mereka tidak bertindak di luar bidangnya," katanya.


Ancaman pidana 5-15 Tahun

Dalam kesempatan itu, Pangdam V/Brawijaya menegaskan bahwa kelima prajuritnya itu terancam pidana paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun, sehingga kelimanya akan mulai diperiksa sebagai tersangka dengan didampingi penasehat hukum mulai 25 Januari 2012.

"Setelah itu, penyidik akan melakukan pemberkasan untuk segera diserahkan kepada Kaotmil III-13 Madiun guna dibuatkan Berita Acara Pendapat Oditur dan Saran Pendapat Hukum kepada Papera atau saya, lalu saya buatkan Skep Penyerahan Perkara," katanya.

Dari Skep itu, Oditur akan membuat surat dakwaan guna dilimpahkan ke Pengadilan Militer untuk diadili. "Berkas Perkara Peltu Susiali dkk (tiga prajurit) akan dilimpahkankan ke Otmil III-13 Madiun dalam pekan ini," katanya.

Untuk Berkas Perkara Serda Ilmun Abdul Said masih menunggu hasil bantuan pemeriksaan dari Pomdam IX/Udayana terhadap saksi Aziz Abd Said yang beralamat di Kupang. "Informasinya, hasil pemeriksaan itu dikirimkan dalam bulan ini," katanya.

Menurut Pangdam, perkara pengiriman imigran gelap yang melibatkan kelima oknum prajurit Kodam V/Brawijaya itu sudah memenuhi unsur pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 120 (1) UU 6/2011 tentang Keimigrasian dan/atau Pasal 126 KUHPM.

"Kami sudah melakukan koordinasi dengan pusat untuk mengantisipasi kasus itu melalui jalur lain di Kalimantan, Sulawesi, dan sebagainya, terutama indikasi pengiriman imigran gelap dari arah barat. Kami juga sudah berkoordinasi dengan Imigrasi," katanya.

Namun, katanya, pihaknya juga akan meningkatkan antisipasi pada sejumlah "jalur", di antaranya di perairan Situbondo, Trenggalek, dan sebagainya.

Ditanya tentang sanksi kepada pimpinan Kodim dan Korem setempat, Pangdam V/Brawijaya mengatakan pihaknya akan memberikan penilaian. "Penilaian itu terkait sejauh mana dia melakukan pengawasan dan pembinaan anak buahnya," katanya.

Dalam pertemuan dengan para wartawan dari media cetak dan elektronika itu, Pangdam V/Brawijaya berjanji akan terbuka dan mengupayakan kebersamaan dengan insan pers di Jatim, baik melalui silaturahim, olahraga bersama, maupun kegiatan sosial.

Sumber: antaranews.com | Selasa, 14 Februari 2012
Selasa, 14 Februari 2012 | 0 komentar

Imigran Gelap Tewas di Trenggalek Dikubur 1 Lubang 1 Orang

Selasa, 27 Desember 2011 | 22.46.00 | 0 komentar

Jakarta - 103 Orang ditemukan tewas akibat kapal tenggelam di Trenggalek, Jawa Timur. Para korban yang merupakan imigran gelap dari Timur Tengah ini akan segera dimakamkan, satu lubang satu jenazah.

"Kita juga sempat memikirkan untuk menyimpan mayat dalam kontainer yang khusus tempat menyimpan mayat, tapi ini risikonya terlalu besar. Kita berencana menguburkan 1 orang 1 lubang," kata Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Saud Usman Nasution, di kantornya, Jl Trunojoyo, Jakarta, Selasa (27/12/2011).

Menurut dia, penanganan para korban kapal ini harus sesuai aturan internasional. Sehingga Polri akan menanyakan ke negara asal korban akan diapakan jenazah korban itu. Dengan dikuburkan satu lubang satu orang, maka bagi keluarga korban yang berniat menggali kubur kembali dipersilakan.

"Kita juga sudah mengecek DNA keluarga korban dari 3 negara Iran, Afghanistan dan Pakistan," terang Saud.

Dia menjelaskan para imigran tersebut adalah bagian dari perdagangan manusia. Sebanyak 215 orang menumpang kapal dari Pantai Popoh, Tulungagung, Jawa Timur dan akan bertolak ke Australia.

"Telah ditemukan 103 mayat dari 215 orang yang berangkat dari Pantai Popoh, Tulungagung yang sudah bisa dilaksanakan autopsi sebanyak 93 orang. Dari 93 mayat itu 84 jenazah di RS Bhayangkara Polri Surabaya dan 19 di RS Sanglah Bali," tutur Saud.

Bagaimana keterlibatan anggota TNI dalam kasus ini? "Kita menunggu hasil dari Polisi Militer (Pom)," ucap Saud.

Kapal berisi 215 imigran gelap tersebut tenggelam pada Sabtu (17/12/2011). Dari 215 penumpang, 33 orang selamat. Sebagian korban selamat mengalami luka robek di tangan atau kaki akibat terlalu lama mengapung di dalam air.

(vit/nrl)


Sumber: detikNews | Selasa, 27/12/2011
Selasa, 27 Desember 2011 | 0 komentar

Tiga Oknum TNI Diduga Terlibat Penyelundupan Imigran Gelap Dicopot

Sabtu, 24 Desember 2011 | 23.06.00 | 0 komentar

Surabaya - Tiga oknum TNI AD yang berdinas di Koramil Besuki Kodim Tulungagung dicopot dari jabatannya sebagai bintara pembina desa (Babinsa) di wilayah tersebut.

Ketiga oknum Peltu S, Praka KA dan Praka K itu saat ini 'pindah' ke Kodam di Surabaya untuk konsentrasi menjalani pemeriksaan di Pomdam V Brawijaya.

"Bukan Danramil, tapi Babinsa ini Babinsa ya," ujar Pangdam V Brawijaya Brigjen TNI Murdjito usai menghadiri acara di gedung negara Grahadi Jalan Gubernur Suryo Surabaya, Jumat (23/12/2011).

Murdjito mengatakan, ketiga oknum prajurit itu diduga terlibat kasus penyelundupan imigran gelap asal Timur Tengah yang tujuannya ke Pulau Natal Australia. Untuk menguatkan keterlibatan mereka, ketiganya dicopot dari jabatannya sebagai Babinsa di wilayah Besuki Tulungagung.

"Yang bersangkutan ada indikasi, langsung kita tarik. Saya sudah memerintahkan danrem dandim untuk segera menyiapkan penggantinya," terangnya.

Ia menegaskan, prajurit yang melakukan kesalahan dan sudah keluar dari aturan yang berlaku, itu adalah pelanggaran. Terkait sanksi bagi ketiga oknum tersebut, pangdam mengatakan, sanksi terberat adalah pemecatan.

"Kalau memang terbukti, bisa saja ke arah itu," tuturnya.

"Salahnya sampai sejauh mana, sementara ini masih kita selidiki, kita dalami sehingga tahu persis, supaya kita dalam memutuskannnya nanti tidak salah.

Pangdam menegaskan, untuk seluruh prajurit yang berada dibawah Kodam V Brawijaya, agar benar-benar melaksanakan tugasnya dan tidak melakukan pelanggaran.

"Pengalaman ini (pelanggaran ketiga oknum) kita sosialisasikan bahwa, itu sudah tidak sesuai dengan aturan. Begitu ada permasalahan hukum, keluar dari aturan itu, langsung kita sebarluaskan ke anggota, ini loh, ini loh salah," jelasnya.

(roi/fat)

Sumber: detikSurabaya | Jumat, 23/12/2011
Sabtu, 24 Desember 2011 | 0 komentar

Kru Kapal Diupah Rp 25 Juta untuk Mengantar Imigran Gelap

Jumat, 23 Desember 2011 | 02.00.00 | 0 komentar

Surabaya - Kru kapal yang ditumpangi rombongan imigran gelap dengan tujuan Australia mengaku diupah Rp 25 juta jika berhasil mengantar hingga tujuan. Ada 6 orang kru kapal yang bekerja mengendalikan kapal.

Pengakuan itu dilontarkan oleh dua ABK, Ronald (26) dan Rivan Sudirma (24) saat menjalani pemeriksaan di Mako Polair Polda Jatim.

"Mereka akan diupah Rp 25 juta jika berhasil mengantarkan para imigran itu ke tujuan," kata Dirpolair Polda Jatim, Kombespol Frederik Kalalembang, kepada wartawan, Kamis (22/12/2011).

Frederik mengatakan bahwa Kapal Barokah yang dikendalikan 6 orang tersebut berangkat dari Bau-bau menuju Pantai Popoh, Tulungagung. Dari pantai itulah kapal tersebut mengangkut 215 imigran yang akhirnya kapalnya pecah setelah terhempas ombak di pantai Prigi, Trenggalek.

"Menurut pengakuan kedua ABK, mereka tidak saling kenal dengan ABK lain karena direkrut dari daerah lain," lanjut Frederik.

Oleh seseorang, keenam ABK itu diberangkatkan dari Nusa Tenggara Timur menuju Makassar menggunakan pesawat. Dari Makassar mereka diberangkatkan ke Bau-bau untuk seterusnya menuju Tulungagung.

"Kami akan selidiki siapa orang yang memberangkatkan mereka," tandas Frederik.

(bdh/bdh)

Sumber: detikSurabaya | Kamis, 22/12/2011
Jumat, 23 Desember 2011 | 0 komentar

Dua anggota TNI diduga terlibat penyelundupan imigran

Dua anggota TNI yang tidak disebutkan nama dan asal kesatuannya diduga kuat terlibat dalam jaringan penyelundupan pencari suaka di Jawa Timur menuju Australia dan telah diserahkan kepada Detasemen Polisi Militer Brawijaya.

Nama kedua anggota TNI ini muncul hanya berselang tiga hari setelah penemuan pertama korban akibat kapal tenggelam di perairan Prigi, Trenggalek hari Minggu (18/12).
Berita terkait

Informasi yang didapat polisi menyebutkan ratusan imigran dibawa dengan kapal melalui pantai Popoh, di Kabupaten Tulung Agung, Jawa Timur. Informasi ini berdasarkan keterangan seorang nelayan setempat yang mengaku dihubungi dua anggota TNI untuk mengangkut puluhan pencari suaka ke tengah laut.

Nelayan beserta tiga orang pembantunya mendapat imbalan Rp10 juta.

"Jadi peran dua anggota ini adalah sebagai pengorder kapal untuk para imigran," kata Kombes Pol Rachmat Mulyana, juru bicara Kepolisian Jawa Timur.

Terungkap dalam pemeriksaan di Polres Tulung Agung bahwa kedua tentara tersebut menerima imbalan antara US$4.000 hingga US$6.000 per orang untuk tiap pemberangkatan.

"Pakai dolar malah dia. Jadi indikasinya kuat sekali bahwa memang dia tahu melakukan hal itu, tahu melanggar tapi tetap mencari nelayan yang siap membantu menggeser para imigran itu ke tengah laut," tambah Rachmat kepada BBC Indonesia.

Para imigran diantar sampai ke tengah laut dimana sebuah kapal yang lebih besar telah menunggu mereka.

Dalam pengakuan kepada polisi, kedua anggota TNI juga mengatakan upaya ini merupakan pemberangkatan keempat yang mereka tangani.

Kesaksian ini, menurut juru bicara Kepolisian Daerah Jawa Timur Kombes Pol Rachmat Mulyana, membuat polisi menyerahkan kedua anggota TNI tersebut ke Denpom Brawijaya.

"Karena kan kita tidak punya wewenang memeriksa anggota TNI."

ABK ditemukan

Titik terang pengungkapan kasus penyelundupan imigran yang berakhir tragis di perairan Trenggalek ini juga muncul setelah dua WNI yang ditemukan terapung di laut dekat perairan Malang dan diselamatkan nelayan Senin lalu.

Keduanya sempat mengaku hanya merupakan nelayan yang menjadi korban ombak tinggi di Samudera Hindia.

Setelah penyelidikan regu penolong dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah Malang serta aparat polisi setempat, keduanya diduga kuat adalah anak buah kapal yang karam Minggu lalu.

"Mulanya mereka tidak mau difoto, tapi diam-diam kita foto seluruh wajah. Kita kirim ke kawan-kawan SAR di Prigi dan imigrasi di Blitar untuk dicocokkan dengan kesaksian para korban pencari suaka," kata Kepala Bidang Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Malang, Bagyo Soetono.

Sebagian korban kapal tenggelam, menurut Bagyo, mengidentifikasi dua ABK bernama Rivan dan Ronald itu sebagai awak kapal yang membawa mereka lalu meninggalkan penumpang begitu kapal terbelah diterjang ombak.

"Setelah identikasi kita dapat, kita serahkan lah mereka pada aparat untuk diproses selajutnya," tambah Bagyo.

Dia menambahkan penyelidikan kini berada di tangan Polisi Air Jawa Timur.

Dalam perrkembangan terakhir hingga Rabu petang (21/12), terdapat 59 warga Iran, Afghanistan dan Pakistan yang berhasil ditemukan selamat.

Sementara lebih dari 50 orang imigran diketahui tewas setelah ditemukan puluhan jenazah di perairan dekat Nusa Barong, Jember dan Banyuwangi.

Tim pencari mengerahkan dua kapal perang, satu kapal pencari milik Basarnas, dua pesawat helikopter dan satu pesawat pencari milik TNI yang disiagakan untuk memperluas wilayah pencarian korban. (Dewi Safitri)


Sumber: BBC Indonesia | 21 Desember 2011
| 0 komentar

Nelayan Diduga Penyelundup Imigran Gelap Tertangkap

Senin, 19 Desember 2011 | 22.28.00 | 0 komentar

Tulunganggung: Dugaan penyelundupan imigran gelap warga Timur Tengah melalui Pantai Indah Popoh, Kecamatan Besuki, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur yang tenggelam di perairan Trenggalek mulai terungkap.

Awak kapal yang juga merupakan nelayan Pantai Popoh, Joko (20) dan Roni (34), ditangkap aparat Polres Tulungagung karena diduga terlibat penyelundupan imigran gelap dari Pantai Popoh. Sementara dua nelayan lain yang diduga terlibat belum ditangkap, karena tidak berada di tempat saat rekannya ditangkap polisi.

Roni mengatakan Sabtu (17/12) dinihari, ia diperintahkan pemilik kapal barokah untuk mengangkut ratusan imigran gelap. Tapi, Roni mengaku tidak mengetahui identitas penumpang yang akan dibawa ke tengah laut.

Di tengah laut para imigran dipindahkan ke kapal besar. Roni mengaku membawa imigran ke tengah laut sebanyak dua kali, dengan imbalan Rp50 ribu dari pemilik kapal.(DNI)

Sumber: Metrotvnews.com | Senin, 19 Desember 2011
Senin, 19 Desember 2011 | 0 komentar

Pembawa Imigran Timur Tengah Kabur Naik Sekoci

Trenggalek - Kepolisian Daerah Jawa Timur masih memburu keberadaan anak buah kapal (ABK) yang membawa ratusan imigran asal Timur Tengah yang tenggelam di perairan Trenggalek. Mereka diduga melarikan diri menggunakan sekoci saat kapal hendak karam.

Wakil Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Brigadir Jenderal Eddi Sumantri mengatakan hingga kini rute keberangkatan rombongan imigran ke Australia itu masih gelap. Para imigran tidak mengetahui persis lokasi pemberangkatan kapal yang mereka tumpangi di Pulau Jawa. "Kami masih mencari ABK yang hilang," kata Eddi di Trenggalek, Senin 19 Desember 2011.

Berdasarkan keterangan imigran kepada polisi, enam ABK berkewarganegaraan Indonesia itu menyelamatkan diri menggunakan sekoci. Diperkirakan mereka tidak ingin bertanggung jawab atas kecelakaan kapal yang dialami. Bahkan mereka juga membawa enam jaket pelampung dan menyisakan 19 lainnya di kapal, yang selanjutnya diperebutkan para penumpang.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Kabupaten Tulungagung, Mariani, membantah bahwa para imigran gelap itu berangkat dari Pantai Popoh, Tulungagung. Penegasan itu membantah kabar adanya nelayan yang menyaksikan rombongan orang asing yang turun dari bus dan naik ke kapal di Pantai Popoh. "Sampai saat ini tidak ada laporan itu," katanya.

Meski akses menuju pantai Popoh cukup longgar, di mana semua jenis kendaraan bisa masuk dan melewati pintu penjagaan kawasan wisata, kemungkinan imigran naik dari tempat itu sangat kecil. Sebab selama ini pantai itu hanya dipergunakan lalu lalang perahu nelayan dan bukan kapal besar.

Sebelumnya sejumlah imigran mengaku datang ke Indonesia menggunakan pesawat terbang. Setelah tiba di Pulau Jawa, mereka naik kendaraan sejenis minibus selama hampir 24 jam. Selanjutnya para imigran dari berbagai negara ini naik ke atas kapal laut. "Saat kami naik kapal sudah tengah malam," kata Esmad, 24 tahun, imigran asal Afganistan yang kehilangan orang tua, adik, dan saudaranya dalam musibah tersebut.

HARI TRI WASONO


Sumber: tempo.co | Senin, 19 Desember 2011
| 0 komentar

13 imigran ditemukan terdampar di Nusa Barong

Trenggalek - Basarnas Jatim mengonfirmasikan bahwa pihaknya telah menerima informasi dari sebuah kapal tongkang pengangkut batu bara yang menemukan 13 imigran korban kapal tenggelam di Perairan Prigi, Trenggalek, terdampar di Pulau Nusa Barong, Jember, Senin pagi.

"Kepastian akan informasi ini masih dicek ke lapangan. Kami sudah berkoordinasi dengan tim Basarnas yang ada di wilayah Jember untuk melakukan pengecekan sekaligus penjemputan ke lokasi penemuan," kata Kepala Basarnas Jatim, Sutrisno.

Dijelaskan Sutrisno, kabar penemuan 13 warga Timur Tengah yang menjadi korban tenggelamnya kapal pengangkut imigran gelap tujuan Pulau Krismas, Australia, itu dia terima sekitar pukul 08.00 WIB.

Lokasi penemuan disebutkan berada di Pulau Barong, salah satu pulau terluar di wilayah Kabupaten Jember, atau sekitar 100 mil dari lokasi tenggelamnya kapal di Perairan Prigi, Kabupaten Trenggalek.

"Informasinya para korban ini memang terdampar di Pulau Barong, Jember. Posisi mereka diketahui pertama kali oleh sebuah kapal tongkang bermuatan batu bara yang berangkat dari Banjarmasin menuju Cilacap," katanya menerangkan.

Meski mengisyaratkan adanya tanda-tanda penemuan korban di Perairan Jember, Sutrisno berulang kali menandaskan bahwa pihaknya belum bisa memastikan apakah ketiga belas imigran yang terdeteksi terdampar di Pulau Barong itu dalam kondisi hidup atau sudah tidak bernyawa.

Selain penemuan 13 orang di wilayah Perairan Jember, Sutrisno juga mengonfirmasikan kepada wartawan adanya laporan terbaru pada pukul 10.00 WIB mengenai adanya penemuan dua orang lagi di sekitar Pantai Sendang Biru, Kabupaten Malang.

Disebutkannya, satu orang korban dipastikan dalam kondisi selamat, sementara satu korban lainnya tidak sadarkan diri. Namun, informasi tambahan ini pada kelanjutannya masih simpang siur, apakah kedua orang yang ditemukan terdampar di Pantai Sendang Biru tersebut merupakan bagian dari korban tenggelamnya kapal yang memuat ratusan imigran di Perairan Prigi, Trenggalek, ataukah warga/nelayan lokal.

"Ya, dua orang yang disebut terakhir hasil cek silang kami di lapangan, memang bukan kelompok imigran. Tetapi apakah keduanya dari kelompok ABK (anak buah kapal) yang disebut-sebut kabur saat kapal mulai tenggelam ataukan memang warga lokal, kami masih melakukan penyelidikan melalui tim kami yang ada di lapangan," ujarnya.

Sementara itu, pihak Basarnas pagi tadi kembali mengerahkan dua kapal dan dua helikopter untuk melakukan penyisiran di sepanjang kawasan pesisir pantai di Kabupaten Trenggalek, Tulungagung, serta Blitar.

Berbeda dengan upaya pencarian sehari sebelumnya yang menyasar daerah-daerah yang ada di tengah laut, terutama sekitar titik tenggelamnya kapal, penyisiran kali ini dikonsentrasikan di kawasan pesisir atau radius 20 kilometer dari bibir pantai.

"Kami lebih mengonsentrasikan pencarian di daerah pinggir untuk mengantisipasi bila ada korban yang sudah mulai terdampar, terutama yang yang sudah meninggal karena bila sudah satu hari biasanya jenazah yang tenggelam biasanya timbul ke permukaan setelah melewati satu hari satu malam," katanya menjelaskan.

Tragedi tenggelamnya kapal pengangkut lebih dari 200 imigran gelap asal Timur Tengah terjadi pada hari Sabtu (17/12) pagi sekitar pukul 09.00 WIB.

Diduga, kapal tenggelam karena kelebihan muatan. Seharusnya, kapal yang boleh memuat penumpang maksimal 100 orang, namun pada praktiknya pihak nakhoda memaksakan mengangkut lebih dari 200 orang imigran sehingga terjadi ketidakseimbangan pada kapal saat memasuki kawasan Perairan Prigi yang dikenal memiliki ombak ganas.(PSO-130/C004)

Sumber:ANTARA News | Senin, 19 Desember 2011
| 0 komentar

Lanud Abd Saleh Bantu Pencarian Korban Kapal Tenggelam

Malang - Pangkalan Udara TNI AU Abdurachman Saleh, Kabupaten Malang membantu pencarian korban kapal tenggelam di Perairan Watu Limo-Prigi, Trenggalek, Jatim.

Pencarian itu, langsung dibawah kendali Komandan Lanud Abdurachman Saleh, Marsma TNI A Dwi Putranto atas perintah Panglima Komando Operasi (Pangkoops) II dengan menggunakan pesawat Hercules A-1305 milik Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.

"Kita bantu pencarian korban kapal tenggelam selama tiga hari, yakni mulai Minggu (18/12) hingga Selasa (20/12), atau tergantung situasi," kata Marsma TNI Dwi Putranto, Senin.

Dwi mengatakan, pada pencarian hari pertama Minggu (18/12), Hercules A-1305 yang dipiloti Mayor (P) Suban dan Copilot Lettu P Andang melakukan penerbangan di atas perairan selama dua jam, tepatnya di atas Laut Selatan, Pantai Prigi.

"Hasilnya, ternyata kita belum menemukan apa-apa kecuali beberapa perahu nelayan ataupun Kapal Cargo yang melintas di laut selatan Jawa Timur," paparnya.

Ia menjelaskan, dalam pencarian korban para imigran asal Timur Tengah itu, pihaknya melakukan penyisiran sejauh 50 mil arah selatan pantai Prigi, yakni selepas Pulau Kecil Babadan dan 30 mil arah barat Pulau Kalungan serta Timur Pulau Tomengan.

"Dalam penerbangan itu, sekali-kali Hercules kami terbang rendah dengan ketinggian 1.500 'feet' (kaki), dan turun lagi hingga 200 hingga 400 feet, sehingga bisa terlihat ada benda yang mencurigakan atau tidak," katanya.

Dijelaskannya, apabila ada yang membutuhkan pertolongan, awak Hercules telah menyiapkan dengan menurunkan dua perahu karet serta pelampung dari udara.

Sebelumnya, sebuah kapal yang mengangkut ratusan penumpang yang diduga imigran gelap asal Timur Tengah dengan tujuan Australia, tenggelam di kawasan Perairan Prigi, Trenggalek, Jatim, pada Sabtu (17/12).

Kapal yang terbuat dari fiber itu, berangkat dari wilayah Jawa Barat atau Jakarta diduga kelebihan muatan ,sehingga mengalami musibah akibat diempas ombak besar di kawasan Prigi yang masuk wilayah laut selatan.

Akibat peristiwa itu, seluruh penumpang tumpah ke laut. Sebagian penumpang tenggelam dan sebagian lagi terus terapung hingga akhirnya datang kapal nelayan Prigi melakukan pertolongan.(Abdul Malik)

Sumber: antarajatim.com | 19 Des 2011
| 0 komentar

Tumpukan Manusia Dikira Jin Laut

Trenggalek - Ahmad Jambenur, nelayan Prigi, Trenggalek, Jatim, tidak pernah menyangka hidupnya menjadi penuh warna ketika melaut Sabtu (17/12) lalu. Dia menemukan perahu terbalik dengan tumpukan orang yang berusaha menyelamatkan diri dari ganasnya Laut Selatan. Tetapi, hanya sebagian kecil yang dapat dia tolong. KARDONO SETYORAKHMADI, Trenggalek

FEELING Jambe –panggilan Ahmad Jambenur– ketika melaut Sabtu siang (17/12) sudah agak aneh. Ketika mau berangkat merumpon (memancing ikan tuna dan tongkol selama 4–5 hari di laut), baling-baling kapalnya ngadat karena sebuah tas kresek nyangkut. Selain itu, ketika melaju ke arah rumpon (tempat tinggal buatan untuk ikan) yang dituju, kapalnya tidak bisa melaju sesuai dengan garis yang terpantau lewat GPS-nya. ’’Tidak tahu kok selalu melenceng. Seolah-olah kapalnya hendak ke arah barat saja,’’ kata pria kelahiran Pulau Raas, Madura, tersebut. Setelah sampai pada 23 nautica mile (sekitar 50 km dari pantai), tiba-tiba di kejauhan terlihat benda seperti tumpukan sampah laut.

Setelah didekati, benda tersebut terlihat bergerak-gerak. Melihat itu, Safari dan Asep, dua teman Jambe, langsung takut. ’’Itu jin, itu jin,’’ kata Safari yang dibenarkan Asep, seraya meminta Jambe yang memegang kemudi untuk berbalik arah. Apalagi saat itu cuaca tengah buruk. Ombak sedang tinggi-tingginya, langit gelap, suara petir bersahutan, dan hujan turun deras. Meski deg-degan, Jambe memutuskan terus mendekat. Ternyata, tumpukan yang dikira jin laut tersebut adalah sebuah kapal yang sudah terbalik dan dipenuhi orang-orang yang berusaha menyelamatkan diri. Rupanya, itu adalah kapal karam imigran gelap yang ingin pergi ke Christmas Island, Australia. Jambe memutuskan untuk menolongnya.

Namun, begitu kapalnya mendekat dari sisi utara, para korban kapal karam itu langsung terjun dan berenang ke arah kapalnya. Takut kapalnya ikut tenggelam, Jambe langsung memundurkan kapal dan memutuskan untuk mengitari kapal penuh tumpukan manusia tersebut. Tujuannya, berkomunikasi dan memutuskan menolong dengan cara yang terbaik. ’’Karena kapal saya tidak mungkin mampu menyelamatkan semuanya,’’ ujar Jambe. Apalagi, saat itu Jambe juga melihat ada anak-anak dan perempuan yang menjadi korban. Dia melihat seorang perempuan dan seorang anak yang mengenakan pelampung sedang terombang-ambing dipermainkan ombak. Tetapi, mereka sudah tewas. ’’Tidak bergerak dan kulitnya sudah memucat,’’ terangnya.

Akhirnya, dia memutuskan untuk mendekat dari arah timur karena angin dan arus mengarah ke Timur. Sampai di sisi timur kapal korban, mendadak mesin kapal Jambe mati. Maka, ketika puluhan orang yang tengah menanti nasib di laut tersebut berebut terjun dan naik kapalnya, Jambe tidak bisa berbuat apa-apa. ’’Sampai nyaris kapal saya mau tenggelam karena mereka berebut naik,’’ tuturnya. Padahal, sebelumnya dia berniat hendak mengatur bantuan, bahwa yang lebih dulu diselamatkan adalah perempuan dan anak-anak. Tetapi, karena berebut, Jambe tidak bisa lagi mengontrol siapa yang harus diselamatkan lebih dulu. Lebih-lebih karena mesin kapalnya mati. Jadi, dia lebih sibuk untuk mengatur korban yang naik untuk berdiri di sisi timur supaya kapalnya tidak ikut tenggelam. ’’Sudah miring sekali ketika rombongan pertama datang dan naik secara berebut,’’ tuturnya.

Akhirnya, ketika total penumpang sudah mencapai 34 orang, Jambe memutuskan tidak menambahnya lagi. ’’Padahal, es yang saya siapkan untuk ikan sudah saya buang semua ke laut. Termasuk sebagian solar biar muat lebih banyak,’’ terangnya. Namun, suasananya jadi memilukan. Di dalam kapal, seorang ayah dan anak berangkulan sambil menangis keras-keras. Juga ada seorang imigran, yang belakangan diketahui Esmad, menangis sambil membentur-benturkan kepalanya ke tiang kapal. Rupanya, 20 keluarganya termasuk yang tidak terselamatkan (Saat sampai di darat, sepanjang Sabtu malam hingga Minggu pagi kemarin, Esmad langsung berlari bila ada kapal nelayan yang datang ke pantai). Dia mengira, nelayan itu menyelamatkan keluarganya yang lain.

Juga terjadi sebuah peristiwa yang menyayat hati Jambe. Yakni, ketika ada dua orang Indonesia yang diduga merupakan juru mudi kapal nahas tersebut berusaha naik. Karena kapalnya sudah tidak mampu lagi memuat orang, Jambe terpaksa menepiskan tangan dua orang yang hendak memanjat naik itu. Mereka tidak menyerah, kemudian mencoba naik ke sisi lain perahu. Kembali Jambe harus menepis tangan mereka supaya tidak bisa naik.

Akhirnya, setelah sekitar setengah jam berusaha, dua orang tersebut menyerah. Mereka kemudian berenang kembali ke arah kapal yang sudah terbalik, bergabung bersama orang-orang yang gagal naik ke perahu. Dua orang tersebut menatap Jambe. Menurut Jambe, mereka tidak terlihat marah. Terlihat kecewa, tetapi mereka mengerti. ’’Bahwa lebih penting menyelamatkan yang sudah ada, ketimbang ikut tenggelam semua,’’ tutur Jambe. Jambe kemudian menyalakan mesin, kemudian mengunci koordinat lokasi kapal karam tersebut dan meluncur ke pantai. Terakhir, dia memandang ke arah orang-orang yang masih bertahan di kapal karam tersebut. Yang membuat terenyuh bukan hanya melihat kedua juru mudi yang gagal naik tersebut. Tetapi, juga melihat dua perempuan setengah baya dan dua anak yang masih tertinggal. ’’Perkiraan saya, ada sekitar 30 sampai 40-an orang yang bertahan di lunas kapal itu,’’ katanya.

Pria kurus tersebut kemudian bergegas melajukan kapalnya kembali ke pantai. Sekitar sepuluh mil laut dari bibir pantai, dia mendapat sinyal. Dia segera menghubungi Musaim, pamannya, untuk segera meminta bantuan kapal lain. Musaim sendiri bergegas lapor ke pol air. Tetapi, karena keterbatasan alat (speedboat patroli mereka hanya mampu paling jauh ke jarak tujuh hingga delapan mil laut), pol air tidak bisa berbuat apa-apa.

Hingga sampai Jambe tiba di pelabuhan, belum ada satu pun kapal yang berangkat menyusul melakukan evakuasi. Karena belum berpengalaman, upaya mencari kapal evakuasi untuk membantu para korban terhambat. Ini fatal. Sebab, jarak 23 mil laut itu ditempuh sekitar tiga hingga empat jam, sebuah rentang waktu yang sangat lama bagi para korban untuk bertahan. Kapal bantuan untuk mencari korban yang tersisa pun baru berangkat sekitar pukul 18.00 Sabu petang. Yang naik tentu saja Jambe, dua petugas pol air, dan beberapa anggota tim SAR. Mereka tiba di lokasi kapal karam sekitar pukul 21.30 atau sekitar delapan sejak pertama Jambe menemukan mereka.

Namun, di gelapnya laut, mereka sudah tidak melihat apa-apa lagi. Orang yang tersisa berikut bangkai kapal sudah tidak ada. Seolah ditelan gelapnya malam Laut Selatan. Tim penyelamat tidak berhenti mencari. Mereka terus mencari, mengelilingi sekitar radius hingga 20 mil laut dari lokasi kecelakaan, tetapi tetap tidak menemukan apa-apa. ’’Arus laut yang kencang dan ombak yang sedang tinggi-tingginya bulan ini memang bisa menyeret mereka jauh,’’ katanya, sedih. Mereka baru kembali ke pantai sekitar pukul 05.00 dini hari kemarin dengan tangan hampa. Di darat, seorang korban yang terus-menerus berzikir sempat meminta Jambe dan istrinya untuk kembali lagi mencari. ’’Tolonglah, masih ada sekitar lima puluh orang lagi yang tadi masih hidup,’’ katanya. Namun, hingga tadi malam, tim SAR belum juga berhasil menemukan mereka yang tersisa.Kendati berhasil menyelamatkan 34 nyawa, Jambe mengaku tetap tidak bisa melupakan tatapan orang-orang yang tertinggal di laut lepas itu. ’’Seandainya saya bawa kapal yang lebih besar, mungkin selamat semua,’’ ucapnya, sedih.(nw)


Sumber: pontianakpost.com | Senin, 19 Desember 2011
| 0 komentar

Pencarian Korban Kapal Tenggelam Dihentikan Sementara

Minggu, 18 Desember 2011 | 21.29.00 | 0 komentar

Trenggalek - Basarnas Jatim menghentikan sementara pencarian ratusan korban tenggelamnya kapal berpenumpang ratusan imigran gelap asal Timur Tengah di Perairan Trenggalek, karena cuaca di tengah laut kembali memburuk.

"Proses pencarian akan dilanjutkan besok pagi dengan menyisir seluruh kawasan perairan di Pantai Selatan Jawa Timur," ujar Kepala Satpolair Prigi, Iptu Ali Mudzakir, Minggu.

Ia tidak secara tegas menyatakan bahwa pencarian korban kapal tenggelam yang diperkirakan berjumlah 200 orang lebih, dihentikan sama sekali.

Namun, Ali secara eksplisit membenarkan bahwa tim evakuasi yang melakukan penyisiran ke arah timur, mulai dari titik tenggelamnya kapal, mulai ditarik kembali ke pelabuhan karena hari semakin larut dan faktor cuaca ekstrem yang terjadi di tengah laut.

"Kalaupun dipaksakan melakukan pencarian malam hari, hasilnya tentu tidak akan maksimal karena pandangan pasti berkurang," ujarnya.

Ali mengungkapkan, upaya pencarian korban tenggelamnya kapal bermuatan ratusan imigran gelap asal Afghanistan, Turki, Iran dan Arab Saudi sejauh belum membuahkan hasil.

Dua unit kapal nelayan yang mengangkut tim gabungan dari Basarnas Jatim dan Polair Prigi, diinformasikan telah menyisir seluruh perairan Prigi hingga selatan Kabupaten Blitar yang berjarak sekitar 10 mil dari titik tenggelamnya kapal.

Namun, hingga saat ini belum satupun korban berhasil ditemukan. "Kalau melihat kuatnya arus laut, tingginya gelombang, serta batas ketahanan manusia untuk bertahan terombang-ambing di tengah laut, kecil kemungkinan mereka ditemukan dalam kondisi selamat," ujar Ali Mudzakir.(Destyan)

Sumber: antarajatim.com | 18 Des 2011
Minggu, 18 Desember 2011 | 0 komentar

Pencarian 182 Korban Kapal Tenggelam Masih Nihil

SURABAYA - Hingga kini, upaya pencarian korban kapal tenggelam yang membawa imigran gelap di Trenggalek, Jawa Timur, belum membuahkan hasil. Korban yang berhasil diselamatkan 33 orang dari 218 penumpang. Sisanya masih dinyatakan hilang.

Padahal sudah 12 kapal penyelamat sudah dikerahkan untuk menyisir keberadaan para korban. Namun karena ombak dan arus yang deras, para korban sudah terpisah jauh dari titik awal ditemukan.

“Pencarian sudah diperluas ke wilayah perairan Tulungagung, Jember dan bahkan Banyuwangi. Di titik-titik ini petugas mencoba mencari dan mencegat keberadaan para korban itu,” kata Siswanto, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Jawa Timur, Minggu (18/12/2011).

Ketinggian ombak dan arus yang deras, kata Siswanto, memang menjadi kendala tersendiri dalam proses pencarian korban ini. Para korban ini sudah terbawa arus menjauhi lokasi pertama kali di ditemukan. Dari 12 kapal penyelamat, sudah disebar di beberapa titik. Namun kenyataannya hingga kini belum membuahkan hasil.

Kata Siswanto, Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan sekuat tenaga menyelamatkan para korban. Meskipun mereka bukan warga negara Indonesia. "Ini persoalan kemanusiaan. Tidak memandang dia dari negara mana," ujar Siswanto.

Upaya pencarian korban ini sendiri kata Siswanto, BNPD Jawa Timur belum menetapkan tenggat waktu, kapan pencarian ini akan terus dilakukan. Ini disebabkan karena masih harus menunggu perkembangannya kemudian. "Kita melihat perkembangannya seperti apa? Kalau memang diperkirakan masih dapat ditemukan, akan terus kita cari," ujar Siswanto.

Sedangkan untuk korban selamat sendiri, kata Siswanto hingga kini masih ditempatkan di puskesmas setempat. Pemerintah Provinsi Jawa Timur belum berpikiran untuk memindahkan mereka ke tempat lain. "Untuk memudahkan jika ada korban selamat lain yang ditemukan. Apalagi persoalan imigran pemerintah pusat. Kami masih menunggu keputusan pusat," ungkap Siswanto.

Sementara itu, Komando Armada Timur TNI AL mengirimkan bantuan KRI Untung Suropati untuk membantu pencarian korban hilang. "KRI Untung Suropati RI 872 beserta 50 pasukan sudah berangkat untuk membantu mencari korban hilang," kata Letkol (Laut) Yayan Sugiyana Kadispen Armatim.

Seperti diketahui, sebuah kapal pengangkut imigran gelap tenggelam di perairan Prigi, Watu Limo, Trenggalek, Jawa Timur, pada hari Sabtu pukul 15.00 WIB. Kapal ini membawa 218 imigran gelap warga negara Afghanistan, Iran dan Turki. Dari total jumlah penumpang itu, baru 33 orang yang berhasil ditemukan selamat. Sementara sisanya dinyatakan hilang. Diperkirakan mereka berangkat dari Jakarta atau Jawa Barat. Meraka rencananya akan menyeberang ke Australia untuk mencari suaka.

Belum diketahui secara pasti penyebab tenggelamnya kapal tersebut. Namun diperkirakan kapal yang terbuat dari fiberglass ini overload ditambah lagi dengan ombak besar yang menghantam kapal ini hingga karam. Kapal ini seharusnya hanya mampu memuat 100orang. Namun dipaksakan untuk mengangkut 200 orang.

"Masih susah untuk mendapatkan keterangan dari para korban. Karena mereka tidak bisa berbahasa Inggris," ujar Siswanto.(lam)

Sumber: okezone.com | Minggu, 18 Desember 2011
| 0 komentar

34 Imigran Bertolak Ke Blitar

TRENGGALEK - Sebanyak 34 imigran korban kapal tenggelam yang ditemukan selamat di Pantai Prigi, Trenggalek, Jawa Timur, diberangkatkan ke Blitar. Rencananya mereka akan ditempatkan di Kantor Imigrasi Blitar untuk sementara waktu sampai proses hukum terhadap imigran asal sejumlah negara di Timur Tengah ini selesai.

"Total yang berangkat naik bus tadi 32 orang. Sedangkan yang dua orang masih di rawat di RS Bhayangkara Tulungagung. Mereka akan menyusul tergantung hasil rekomendasi medisnya," ujar Kepala Polres Trenggalek Ajun Komisaris Besar Totok Suharyanto, Minggu (18/12/2011) di lokasi.

Rombongan imigran berangkat menggunakan bus Harapan Baru sekitar pukul 16.00. Sebelumnya para imigran ini ditampung di Balai Pertemuan Pelabuhan Perikanan Nusantara Prigi. Mereka mendapat perawatan darurat setelah terombang-ambing di laut.

Sebanyak 34 imigran yang kebanyakan laki-laki ini ditolong oleh nelayan pencari ikan saat kapal motor yang mereka tumpangi terbalik dan tenggela m di laut lepas sekitar 26 mil dari Pantai Prigi. Terbatasnya daya tampung kapal nelayan mengakibatkan banyak imigran lain penumpang kapal tidak terangkut.

Sumber: KOMPAS.com | Minggu, 18 Desember 2011
| 0 komentar

Hundreds of victims scrambled for 19 life jackets: Rescue team

Trenggalek - The ship carrying hundreds of migrant workers that sank in waters off Prigi, East Java, on Saturday, lacked safety equipment, resulting in a mad scramble for just 19 available life vests on board, the head of the search and rescue team dispatched the accident said on Sunday.

The Surabaya Search and Rescue (SAR) team said the doomed ship had 25 life jackets on board, but six of them taken by the ship's crew, leaving the hundreds of panicking passengers to fight amongst themselves for the remaining 19 life jackets.

According to Surabaya SAR III office chief Sutrisno, the lack of safety equipment on board the ship made it difficult for the victims to survive the accident. He said the passengers had held onto the sinking remains of the, he said.

"They did not have much safety equipment," he said on Sunday, as quoted by tempo.com.

He said that the accident, which was initially thought to have been caused by rough seas, might have also been caused by the fact that the ship had too many passengers aboard.

A spokesman of the Trenggalek administration, East Java, confirmed that the ship’s maximum capacity was 100 passengers, but that the subk ship had around 250 people on board.

East Java Police deputy chief General Brigadier Eddi Sumantri said earlier that the ship sunk after being struck by a huge wave 20 miles off the Prigi shore on Saturday morning.

“They [the bodies of the victims] were found by fishermen after six hours floating in the sea,” he said.

A rescue team from Trenggalek said that it had so far found 33 dead bodies floating in the sea, consisting of 31 men, 1 woman and 2 children.

Survivors are currently being treated at the Watulimo clinic in Trenggalek and Bhayangkara Hospital in Tulungagung.

A preliminary police investigation revealed that the immigrants were from Afghanistan, Iran and Turkey, and were headed for Australia in search of work.

Sumber: The Jakarta Post | Sun, 12/18/2011
| 0 komentar

Iklan

Terkini

Pendidikan